Cerita Sex Anak Tetangga Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Anak Tetangga Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Anak Tetangga Part 15

Kini aku kembali dihadapkan pada tubuh mulus nan seksi dan wajah cantik dengan mata teduh dari seorang gadis bernama Riska. Gadis yang selama ini aku anggap tak ada hubungan spesial denganku.

Namun entah kenapa seperti ada ikatan bathin diantara kami hingga sampai saat ini kami masih bisa saling memuasi satu sama lain. Padahal di tempat itu ada pacarnya Riska dan di sebelahku ada Mita yang kemarin baru saja resmi jadi istriku.

Entahlah, apakah ini kutukan atau cobaan? Tapi yang jelas saat tubuhku sudah menyentuh tubuhnya seakan tak ada pikiran lain, yang ada hanya berusaha saling memberi rasa nikmat saja.

Di pojok ruangan sebelah kiri tempatku duduk kulihat Fajar masih menuangkan minuman pada gelas kosong di depannya secara teratur. Kuat sekali pemuda itu kalau urusan minum-minum. Batang penisnya yang tadi sudah menyemburkan sperma kulihat menggantung lemas, meski begitu kejantanan Fajar masih tetap menunjukkan kalau ukurannya memang lumayan besar.

Di pangkuanku sekarang duduk gadis cantik yang tadi kalah taruhan. Tubuh telanjangnya sungguh menggoda, hingga membuat batang penisku tegang terus menerus. Apalagi sekarang belahan memeknya dia gesekkan pada kepala penisku secara konstan. Pintar sekali gadis itu merangsang lawan jenisnya.

“Ayo dong Om.. jangan malu-malu.. Mita udah kasih ijin tuh…” ucap Riska pelan tepat di depan telingaku. Bisikannya itu seperti memberiku keberanian utuk berbuat lebih lanjut.

“Ahhhhh.. mantab Om… iiihhhh…”

Riska kembali memekik saat mulutku mulai menyasar kedua puting susunya yang lancip dan membusung ke depan itu. Sungguh indah sekali payudara Riska, itulah kenapa Fajar langsung terpancing orgasmenya saat melihat kedua bukit kembar milik Riska.

Mungkin karena aku terlalu fokus mengerjai kedua payudara Riska hingga membuatku tak sadar gadis cantik itu sudah menggoyangkan pinggulnya dan menelan penisku dalam liang senggamanya. Dia langsung bergoyang dan mendorong pinggulnya maju mundur bergantian.

“Uuhhhh…. uuhhhh….. aahhhh..”

Kembali terdengar desahan, namun bukan dari mulut Riska. Kembali aku tak menyadari kondisi sekitarku, tiba-tiba kulihat Riska sudah mencolokkaan tangan kanannya pada celah vagina Mita yang kini duduk mengangkang tanpa busana. Sejak kapan pula Mita menelanjangi dirinya?

“Ahh… terusin Omm.. aahh… enak banget sihh… ahhh…” racau Riska.

Dia terus meracau dan mendesah mengiringi batang penisku yang tenggelam dalam liang memeknya dan mengaduk-aduk isinya. Aku tak banyak bergerak, kupasrahkan saja pada Riska untuk bergerak menikmati penisku yang sedang mengocok liang vaginanya.

Tanganku yang tadi menganggur kembali kugunakan untuk meremas dan mengurut kedua payudara Riska yang menggantung indah tepat di depan mukaku.

“Ahhhhh.. emmm.. emmmmmhhhh… aahhhh…”

Kembali terdengar desahan dari arah sebelah kiriku tempat Mita berada. Mungkin memeknya masih dikocok tangan Riska pikirku, namun aku salah. Aku sempat kaget saat Fajar sudah duduk di atas lantai sambil lidahnya menari-nari di belahan vagina Mita yang masih duduk di sofa panjang sebelahku. Meski aku kaget tapi kubiarkan saja, masih aman kalau hanya sebatas itu saja.

Melihat Mita yang tengah dioral oleh Fajar membuatku semakin bersemangat untuk terus melampiaskan birahiku pada Riska. Sepertinya aku mulai horni juga melihat pasanganku dinikmati oleh orang lain. Aku tak mau terus tinggal diam menikmati goyangan Riska pada batang penisku. Kuturunkan gadis itu dari pangkuanku dan kurebahkan di atas sofa panjang tempatku duduk tadi, lalu kembali kusodok celah memeknya dengan beringas.

“Aahhh.. ahhh.. iya Om.. ahhh.. terus.. aahhh…” jerit Riska.

Plak.. Plak.. Plak.. Plak..

Suara tumbukan antara pangkal pahaku dan bulatan pantat Riska semakin menggema dalam ruangan itu. Aku sudah tak peduli lagi bagaimana perasaan Fajar ataupun Mita. Aku hanya terus menikmati keluar masuknya kejantananku pada liang senggama Riska.

Beberapa menit kemudian tiba-tiba Mita datang mendekatiku. Dia rupanya sudah bisa melepaskan dirinya dari Fajar yang sedari tadi berusaha menikmati lobang memeknya. Mita langsung memberi tanda padaku untuk gantian memasukkan penisku pada celah vaginanya.

“Aahhhhhhhhhh…… “ desah Riska saat kukeluakan batang penisku dari cengkraman lobang kemaluannya

Riska sepertnya tak rela bila aku harus pergi darinya. Tapi aku tak peduli rengekannya. Langsung saja kugenjot memek Mita yang sudah tiduran mengangkang di atas lantai. Apapun yang terjadi dia kini adalah istriku, tak kurelakan bila ada kontol lain yang masuk kedalam memeknya.

Kusetubuhi Mita dengan penuh perasaan. Perasaaan cinta dan kasih antar suami istri. Tak kulakukan genjotan kasar seperti pada Riska tadi. Kunikmati setiap gesekan antara permukaan kelaminku dengan dinding kemaluannya. Sambil kudekap mesra tubuhnya dan kucumbui bibirnya dengan penuh gairah.

“Ahhhh.. ahhhh.. Mita… aahh.. sayang kak Andra..” ujarnya.

“Hemmm… iya.. aku juga sayang kamu” balasku.

Setelah mengucapkan kalimat itu tiba-tiba tubuh Mita bergetar dan ciuman bibirnya pada mulutku jadi sangat erat. Hingga beberapa saat kemudian kurasakan tubuh Mita tampak mengejang, gerakannya semakin liar, serta dari mulutnya keluar pekikan yang cukup keras.

“Euummmphhh….. Mita.. ahh.. keluaarrr…. aaaaaaaggghhhhhhh……”

Mita kembali menjerit saat pagutan mulut kami terlepas. Rupanya dia tengah mengalami orgasmenya. Kudiamkan penisku beberapa saat sambil menikmati jepitan dan remasan dinding vagina Mita. Setelah getaran di tubuh Mita mereda akupun kembali menggenjotnya dengan tempo sedang.

Sambil aku menyetubuhi Mita kulihat sepasang muda-mudi di depanku juga tengah memadu kasih. Riska kini menungging dan Fajar tengah menusukkan penisnya dalam liang senggama pacarnya itu. kulihat aksi mereka sangat menggairahkan, apalagi gerakan-gerakan Riska yang begitu centil dan menggoda membuat Fajar sedikit kualahan dibuatnya.

“Sayang.. aku keluarin yah!?” ujarku pada Mita yang tengah menatapku dengan pandangan sayu.

“Keluarin aja pah.. yang banyak… biar cepet jadi, hihi..” balasnya.

“Lahh.. manggilnya kok jadi papah?”

“Masak ga boleh? Biar mesra kayak kak Ana dong Pah, hihi…”

“Oke deh mamah… hehe..”

Kembali kugoyangkan pinggulku maju mundur seirama dengan tusukan penisku pada liang kewanitaan Mita. Rasanya spermaku mendorong semakin mendekati ujung penisku.

Hanya beberapa menit setelahnya, aku melenguh keras, merasakan nikmatnya orgasme dari persetubuhanku dengan Mita. Bersamaan dengan semburan spermaku ke dalam liang vaginanya.

“Aaaaaahhhh… papa keluar maahhh… aaagghhh… aagghhh.. aaagghhh….”

Crott..crott…croott.. Beberapa kali semburan spermaku mengisi liang rahimnya, hingga aku lemas dan terdiam untuk beberapa saat.

Setelah orgasme yang kami dapati berdua dan masih dalam keadaan bugil, kami kembali duduk di sofa panjang tadi. Kini aku dan Mita memperoleh kesempatan istirahat sekaligus melihat permainan Fajar dan Riska.

Tiba-tiba Mita mengambil smartphone miliknya dan mengarahkannya pada pasangan yang sedang bersetubuh di depan kita. Setelah kuamati ternyata dia merekam apa yang tengah Riska dan Fajar lakukan.

“Pemirsa, sekarang yang memporak-porandakan memek Riska adalah Fajar, dia adalah pacar Riska, tentu saja pacar beneran lho pemirsa…” oceh istriku itu, sementara Riska hanya nyengir sambil terus menerima sodokan penis Fajar pada memeknya.

“Ayo Fajar… hajar yang dahsyat, jangan mau kalah sama Om Andra… kamu harus bisa lebih brutal darinya, yeaaaaa…” ujar Mita memberi semangat kepada Fajar, sementara aku hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.

“Ayo terus… hantam yang kuat.. hajaaaarrr…” ucap Mita lagi, diikuti dengan tangannya yang mulai ikut berinteraksi dengan menjambak rambut Riska dari belakang.

Plok.. Plok.. Plok.. Plok..

Suara berkecipak yang riuh bercampur dengan celoteh Mita menambah ramai suasana di ruangan itu, suasana yang bagiku begitu hangat dan menggairahkan, jauh lebih menggairahkan ketimbang threesome yang pernah kulakukan bersama Riska dan Dewi.

“Hiaaahhhh… hajaaaaaarrrrr…” oceh Mita, sambil terus menekan kepala Riska.

Sepertinya Mita mulai hanyut dan terbawa emosi dengan permainan yang tengah dilakukan oleh Fajar dan Riska itu. Aku dapat melihat dari ekspresi wajahnya yang terlihat seperti orang yang tengah geram, entah apa yang ada di dalam pikirannya itu, bahkan sesekali dia meludahi dengan bengis wajah Riska, jangan-jangan? ah, tapi tidak, yang terpenting adalah Riska sepertinya baik-baik saja, bahkan aku dapat merasakan kalau Riska sepertinya justru menikmati itu semua, sehingga kekawatiranku kalau Mita bermaksud ingin menyakiti Riska sepertinya tak beralasan.

“Oke pemirsa, Fajar masih terus mengentot pacarnya… lihat pemirsa, betapa handalnya teman kami ini membombardir lobang memek pacarnya… ayo terus… hajar terus memek Riska….” oceh Mita yang masih duduk disamping kedua muda-mudi itu, sesekali tangannya ikut mendorong-dorong bokong Fajar dengan maksud agar lebih kuat lagi dia memompakan bokongnya.

“Beres deh… gua bikin lecet nih memeknya Riska… hahahaha…” sesumbar Fajar sambil melihat ke kamera, dia terus melakukan aksinya dengan kedua tangannya memegang kedua bongkahan pantat pacarnya itu.

Sementara Riska sepertinya begitu menikmati hantaman penis pacarnya itu sehingga sama sekali tak menggubris atau menanggapi ocehan-ocehan Mita, selain hanya memejamkan mata sambil mulutnya separuh menganga dengan sesekali terdengar desahan nikmat.

Hampir sepuluh menit lamanya Fajar menyetubuhi Riska dengan posisi doggy seperti itu. Desahan dan erangan nikmat tak berhenti keluar dari bibir manis Riska, juga keringatnya yang ikut keluar membasahi tubuhnya.

Begitupun dengan Fajar, keringat membuatnya tampak berkilat membasahi tubuh atletisnya. Namun gerakannya masih tetap konstan bahkan cenderung semakin mantap dan bertenaga, tak terlihat samasekali rasa letih pada dirinya.

Sedang Mita masih tetap asik dengan smartphone-nya. Komentar dengan kata-kata vulgar masih terus keluar dari mulutnya seolah tak habis ide-ide di kepalanya itu. Komentar-komentar yang terdengar begitu hot dan pastinya menambah nafsu birahi mereka semakin meninggi.

“Aaaaaaaaggghhhhhhhh…. aku sampeeee…. aaaaaaaggghhhhhhh……” pekik Riska, sepertinya dia telah mencapai orgasmenya.

Masih untuk beberapa saat batang penis Fajar masih berpenetrasi di dalam liang senggama Riska, sementara gadis itu hanya pasrah dan terlihat sedikit lunglai menerima hantaman penis pacarnya yang semakin cepat dan bertenaga. Hingga akhirnya terdengar pekikan dari mulut Fajar yang menandakan pemuda itu telah mencapai klimaksnya, diikuti dengan semburan sperma di dalam liang senggama Riska.

Kini setelahnya, Fajar dan Riska hanya tergolek malas setelah menikmati puncak kenikmatan mereka. Dengan posisi batang penis Fajar masih bersarang di dalam liang kewanitaan Riska. Mita terlihat senang sekali dengan keadaan mereka. Kamera Hpnya dia arahkan pada pasangan muda-mudi itu yang kini tengah tergolek lemas di atas lantai dengan posisi miring.

***

Aku dan Mita pulang ke villa sudah jam 2 pagi. Setelah acara di tempat temannya Fajar itu aku dan Mita istirahat karena paginya kami sekeluarga harus pulang ke rumah.

Sengaja pagi itu aku tidur dengan Ana, supaya anakku tidak bertanya-tanya kenapa aku tidur dengan Mita. Mungkin masih perlu adaptasi dan menunggu anakku agak besar untuk memberitahu kalau papanya punya istri dua.

***

Dua bulan setelah kejadian itu Ana mengandung anakku yang ke dua. Tubuhnya tambah berisi, apalagi payudaranya semakin montok dan membusung. Itulah kenapa aku jadi bergairah untuk terus menyetubuhinya.

“Haaahhhh… haahhhhh…. mama jadi mantab banget deh…” pujiku pada Ana yang baru saja mencapai orgasmenya malam itu.

“Huuuuuhh… uuhhhh… masak sih pah.. aahhh… papa kok jadi semangat terus gini yah!?” balasnya, sambil membaringkan tubuh telanjangnya di sebelahku.

“Body mama jadi tambah bahenol… jadi tambah seksi dan… aahhh.. bikin horni”

“Hihi.. masak sih pah… bagus dong kalo gitu”

“Hemm.. iya mah, bikin papa tambah suka.. ahh… ngentot…”

“Ohh gitu ya pahh? Tapi kok papa tadi belum keluar?”

“Iya mah.. gapapa juga kok..”

“Yeee.. jangan gitu dong pah..”

“Trus gimana dong mah?”

“Mita.. Mitaa….. sini gantiin kakak” teriak Ana menghadap pintu kamar.

Sesaat kemudian datanglah seorang gadis cantik dari balik pintu. Tubuhnya sudah tanpa busana. Memperlihatkan setiap jengkal kulit mulusnya dan lekuk tubuhnya. Payudaranya kini semakin besar dan semakin membusung ke depan. Entah kenapa tubuh Mita juga semakin berisi juga?

“Kenapa kak? Bandel yah kontolnya kak Andra?” ucap Mita sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.

“Iyahhh.. lanjutin aja” ujar Ana.

“Ahhh.. siyaappp…”

Mita tanpa banyak komentar langsung mengangkangi pangkal pahaku lalu mulai memasukkan ujung penisku dalam celah vaginanya.

“Ahhhhhkkkk…. masih… tetap.. aahh…. penuhh…” jerit Mita tertahan saat batang penisku amblas semuanya ke dalam liang senggamanya.

“Mita sayang… badan kamu kok tambah berisi juga.. dietnya gagal yah, hehe..” candaku.

“Lhah… masak papa belum tahu??” potong Ana.

“Tahu apa mah??”

“Hihihi… Mita juga udah telat dua bulan….”

“Apaa…!?”

“Alhamdulillah”

***

Begitulah, akhirnya Ana dan Mita sama-sama mengandung anakku. Kami bersyukur pada nikmat dan berkah yang kami terima sekeluarga. Semoga kelak menjadi anak yang baik budi pekertinya, tidak seperti papanya yang gampang sekali tergoda memek lain di luar sana. Haha.

Aku kini sudah naik jabatan, namun tidak di perusahaan tempat kerjaku dulu. Kini aku bekerja di perusahaan milik keluarga Fajar yang bergerak dalam bidang beverages itu. Itulah kenapa aku sangat bersyukur sekali. Di tengah naiknya kebutuhanku karena kedua istriku mengandung semua, ternyata ada rejeki yang datangnya bersamaan.

Mita sudah tak lagi bekerja di Hotel. Dia memilih jadi ibu rumah tangga menemaniku di kota. Tapi kadang dia juga melayani pesanan katering untuk acara hajatan atau prasmanan pesanan kantor. Aku mengijinkannya, bahkan aku dukung kesibukannya itu dengan modal yang cukup.

Ana, istri pertamaku itu kini menjalin kerjasama dengan bu Anik, mamanya Mita. Mereka mendirikan tempat bordir pakaian di kampung. Sampai sekarang pesanannya lumayan banyak, bahkan sering kali harus menolak pesanan karena sudah terlalu banyak.

Dewi, tetanggaku ini sampai saat ini masih rukun-rukun saja rumah tangganya. Meski dia tahu suaminya punya simpanan di area kerjanya, tapi dia tetap berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Kadang kalau lagi suntuk dia pasti datang ke rumahku. Aku sudah tak pernah lagi ngentot dengan Dewi, karena dia sudah sibuk melayani laki-laki lainnya.

Dewi ternyata sekarang sudah jadi perempuan panggilan dengan tarif yang mahal. Tak kusangka kemampuannya yang bisa squirt saat orgasme itu cukup di sukai oleh klien-klien yang memanggilnya. Bahkan dia sudah jadi perempuan panggilan yang High Class. Perubahan nasibnya itu tak lepas dari campur tangan Riska. Ya siapa lagi kalau bukan dia.

Riska baru-baru ini menikah dengan Fajar di salah satu Hotel ternama di kota tempatku bekerja. Aku dan Mita juga sempat datang ke acaranya. Sungguh meriah dan mewah menurutku. Kabarnya juga dia sedang mengandung anak pertamanya. Semoga saja itu benar-benar anak dari Fajar. Hahaha.

TAMAT