Cerita Sex Anak Tetangga Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Dewasa Anak Tetangga Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Anak Tetangga Part 13

Setelah Dewi menyusul Fajar yang memarkirkan mobilnya di halaman rumah, aku kemudian masuk ke dalam kamar untuk menemui Riska. Begitu aku masuk ke dalam kamar aku melihat gadis cantik itu sudah tidur dengan menutupi mukanya. Itu pertanda yang berarti dia sudah tidak mau diajak bicara lagi.

Aku yang melihat gelagat Riska yang sudah tak mau lagi diganggu itu membuatku tidak enak untuk bersamanya di dalam kamar. Aku kemudian keluar lagi untuk menunggu Fajar selesai memarkir mobilnya di halaman rumah Dewi.

Namun entah kenapa lama aku menunggunya tapi dia tak balik lagi ke rumahku. Apa mungkin dia kecantol Dewi di sana? Akupun kembali menutup pintu rumahku tanpa menguncinya, supanya nanti kalau Fajar kembali dia langsung bisa masuk.

Jam di dinding rumahku sudah berada di pukul 2 pagi. Mataku sudah pada titik tak kuat lagi untuk membuka dan ingin segera istirahat. Aku masih bimbang, mau masuk di kamarku tapi ada Riska, mau tidur di luar tapi nanti Riska pasti marah mengira aku tak mau menemaninya. Apalagi ada Fajar di sini, kalau aku menemani Riska di dalam kamar apa yang akan dipikirkannya?

Aku putuskan saja kembali masuk ke dalam kamarku. Meskipun ada Riska di situ, meski kami berdua bukan muhrim juga.

“Dia kemana Om?” tiba-tiba Riska membuka wajahnya dari selimut yang menutupinya.

“Siapa? Pacarmu? Lagi parkir mobil di halam rumah Dewi” jawabku sambil merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.

“Kak Dewi udah balik.. trus sama Fajar di rumahnya?”

“Iya lahh… kenapa emang?”

“Om ga curiga kalo kak Dewi bakal dimainin juga sama Fajar?”

“Hemmm.. gini lho Ris, meskipun Om juga curiga tapi mereka kan udah sama-sama dewasa, kamu juga sama, udah tau lah resikonya…” jawabku sambil mulai memejamkan mata.

“Iya Om.. aku tau kok..” balas Riska kemudian mengubah posisi tidurnya miring ke arahku.

“Trus kenapa kamu sama Fajar ga mau bicara? Ribut kenapa sih kalian ini? baru jadian udah ribut aja”

“Om mau tau??”

“Iya, kenapa?”

“Fajar ngajak aku menikah”

***

Tepat pukul 6 pagi alarm dari jam weker milikku berbunyi nyaring sesuai dengan keinginanku. Tadi malam aku sudah minta ijin pada atasanku untuk datang ke kantor agak telat. Lagipula ini weekend, nanti sore pulang agak cepat karena mau pulang kampung juga.

Aku bangun dari tidur kemudian menegakkan badanku. Rasanya malas sekali mau bangun, memang karena aku mulai tidur sudah jam setengah 3 pagi. Apalagi tadi malam kugunakan tenagaku untuk bermain dengan 2 orang perempuan sekaligus.

Kusadari Riska sudah tak lagi bersamaku, entah dia pergi kemana aku belum tahu. Semoga saja Riska tidak membabibuta ribut dengan Fajar. Malas sekali kalau harus mengurusi orang bertengkar pagi-pagi.

“Baru bangun Om?” tanya Riska begitu aku keluar dari kamarku.

Kulihat dia sudah mandi dan keramas juga, karena Riska sekarang sedang di depanku dengan tubuh tertutupi belitan handuk dan rambut basah terurai.

“Iya.. males banget mau berangkat kerja..” ujarku sambil mengangkat kedua tanganku ke atas.

“Duhh.. yang mau menikah lagi, bawaannya udah ga mau kerja aja.. inget lho Om, harus rajin cari uang.. istrinya dua lho sekarang.. hahaha” ucap Riska tertawa mengejekku. Kedua tangannya tampak menyisiri rambutnya yang basah itu.

“iya.. iya.. bawel juga nih anak.. heran aja si Fajar mau sama kamu…”

“Lhah.. yang penting itu servicenya kan Om, hihi…” balas Riska yang kemudian ngeloyor masuk ke dalam kamar.

Aku pagi itu tak melihat adanya Fajar di rumahku. Sehabis tadi malam dia aku suruh parkir mobilnya di halaman rumah Dewi sampai sekarang belum kembali. Mungkin benar kata Riska kalau Dewi bisa dimakan juga sama Fajar. Aku langsung keluar rumah dan menuju ke rumah Dewi.

“Anjriiitt….!!” kagetku ketika kubuka pintu rumah Dewi yang tak terkunci itu.

Dimana di dalam rumah itu pemiliknya sedang digenjot dari belakang dalam posisi doggy. Dewi kulihat menungging menyusui anaknya, sedangkan dari belakang ada Fajar yang bergerak teratur menggoyangkan pinggulnya maju mundur seirama dengan tusukan penisnya.

“Hehe.. Sorry Om.. lagi nanggung nih… ahh…” ucap si Fajar dengan santai sambil penisnya masih keluar masuk secara teratur pada celah kewanitaan Dewi.

“Hadeuuhhh.. katanya mau damai sama Riska? Kok malah ngentot sama perempuan lain…”

“Iya Om.. kita udah baikan kok tadi, makasih tadi malam udah kasih pegertian sama Riska…” balas Fajar tanpa menghentikan perbuatannya.

“Hemmm.. yaudah.. aku mau mandi dulu.. kalian lanjutin semau kalian dah..”

Aku kemudian keluar dari rumah Dewi dengan muka agak kecewa dan jengah. Aku gak habis pikir apa yang Riska sama Fajar pikirkan dan lakukan. Gimana mau ngajak menikah kalau laki-lakinya masih suka main sama sembarang perempuan, meski wanitanya juga sama. Aku hanya berharap mereka bisa berbahagia pada keputusan mereka, walau hanya sementara.

“Darimana Om?” tanya Riska yang kulihat sedang makan. Rupanya warung langgananku sudah mengirimkan sarapan pesananku.

“Dari rumah Dewi..”

“Udah ketemu Fajar juga kan di situ?”

“Iya..”

“Pasti Fajar masih ngentot sama kak Dewi kan?”

“Lhah.. kamu udah tau juga Ris?”

“Iya dong.. aku kan dari situ juga tadi” jawab Riska datar. Tak ada ekspresi cemburu atau marah pada dirinya.

“Yaudah kalo kamu udah tau.. Om mau mandi dulu yah..

“Oiya Om.. ntar sore kalo Om mau pulang kampung aku ikut yah.. aku sama Fajar bawa mobil sendiri kok..”

“Iya gapapa… kamu sekarang makan aja yang banyak, biar cepet gede..” balasku sambil berjalan menuju kamar mandi.

“Yeey.. udah gede nih Om…” ucap Riska setengah berteriak sambil memegang payudaranya.

***

Pukul 4 sore aku sudah berada di rumah lagi setelah seharian bekerja. Hari ini seperti rencanaku sebelumnya aku akan pulang kampung memenuhi janjiku pada keluarga Mita. Sedangkan Riska dan Fajar seperti janji mereka ikut pergi denganku meski mereka membawa mobil sendiri.

Pukul 7 malam aku sudah sampai di rumahku yang ada di kampung. Kalau dirunut secara detail sebenarnya itu bukan rumahku, tapi rumah mertua. Karena istriku adalah anak tunggal jadinya dia yang harus merawat mertuaku yang tinggal ibu saja.

“Mah.. udah dipikir benerah mah? Mama beneran ikhlas?” tanyaku pada istriku sesaat setelah aku sampai dan kami berdua duduk di kamar.

“Pah.. semoga ini jalan yang terbaik buat Mita, mamah kasihan kalau dia harus berjuang sendirian” balas istriku sambil tersenyum.

“Baiklah ma..” balasku kemudian sambil mengganti pakaian yang melekat di tubuhku dengan baju batik.

Akhirnya malam itu dengan disaksikan oleh keluarga dekat Mita dan istriku, aku menikah dengan Mita sebagai istri keduaku secara sah menurut agama. Untuk surat nikah dari pemerintah rencananya akan aku urus belakangan sambil jalan.

Kulihat malam itu Mita nampak cantik, dengan memakai busana gamis warna peach disertai jilbab yang warnanya serupa. Kulit wajah Mita yang putih bersih semakin memberi pancaran cahaya kecantikan baginya. Meskipun aku sudah sering melihatnya tanpa busana tapi saat dia berpakaian seperti itu aura kecantikan dan keanggunannya semakin berlipat ganda.

Setelah ijab qobul sah, kami berdua duduk bersanding kemudian bersalaman dengan semua yang hadir. Termasuk istri pertamaku yang seakan memberi ijin padaku dan Mita juga menyalamiku dan memeluk Mita dengan penuh kasih sayang.

Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu aku tak tahu. Namun satu hal yang jelas adalah dia dari awal sampai akhir selalu tersenyum dan nampak ceria. Semoga selamanya keluarga besar kita akan selalu bahagia.

“Tante Ana makasih yah..” ucap Mita disampingku sambil memeluk istri pertamaku.

“Eh… jangan panggil tante lagi.. harusnya kak Ana dong..” canda istriku.

“Umm.. iya deh.. Kak Ana” balas Mita sambil tersenyum.

Bahagianya diriku saat posisiku tengah bersama dua bidadari nan cantik jelita disampingku. Rasanya sungguh sempurna kehidupanku sebagai seorang laki-laki.

“Ntar malem papa tidur di rumah Mita aja… gapapa kok” ucap Ana.

“Lhoh, jangan kak… besok-besok aku yang sering sama Om.. eh.. kak Andra, mending istirahat aja dulu di rumah seperti biasa” balas Mita.

“Iya deh, ntar malam aku tidur sama mamah aja..” ucapku sambil memegang tangan Ana, istri pertamaku.

Kami bertiga akirnya tertawa bersama. Kami berhasil menyelesaikan masalah pertama yang timbul setelah aku beristri dua.

“Wahh.. bahagia yah yang udah bisa tidur bersama, hihi…” ucap seorang perempuan yang sangat aku kenal.

“Eh, Riska datang juga ternyata…” ucap Mita sambil menarik telapak tangan sahabatnya itu untuk mendekatinya.

“Selamat ya Om.. moga bahagia selalu” ucap pemuda ganteng di belakang Riska yang tak lain adalah Fajar.

“Iya makasih.. moga kalian bisa segera menyusul..” balasku tersenyum sambil memberi kode kedipan mata pada Riska.

“Apa Om menikah?? Ntar dulu deh..” ucap Riska yang menyambut kode dariku.

“Eh sayang.. jangan gitu dong, katanya udah sepakat..” Fajar buru-buru meyakinkan Riska lagi.

“Iya..iya.. ahh..” ujar Riska sambil mencubit pipi pacarnya. Kalau dari gelagatnya sepertinya Fajar bakal kalah sama Riska yang sikapnya otoriter seperti itu.

“Oiya Om.. aku ada sedikit hadiah buat Om dan keluarga.. nih, tolong di terima” ucap Fajar yang menyodorkan sebuah kunci padaku.

“Apa ini ?” tanyaku.

“Kunci Villa punyaku di pantai Om.. pake aja semau Om deh..” balas Fajar.

“Waahh… kebetulan nih pah.. ada tempat menginap gratis..” timpal istriku yang mulai semangat melihat hadiah itu.

“Hehe.. oke deh.. makasih banyak Fajar…” ucapku kemudian kembali bersalaman dengan pemuda ganteng itu.

***

Sehari setelah acara pernikahanku dengan Mita, kami bertiga ditambah anak pertamaku pergi ke villa milik Fajar yang dipinjamkannya sebagai hadiah. Itung-itung bisa dikatakan bulan madu lah. Perjalanan kami lumayan jauh karena harus menempuh waktu sekitar 2 jam. Namun perjalanan itu kami tempuh dengan gembira, pastinya.

Karena sehabis subuh kami sudah berangkat akhirnya jam 7 pagi kami sudah sampai di depan villa milik Fajar. Sebenarnya sekilas tempat itu seperti rumah pada umumnya, hanya saja lokasinya memang tak jauh dari pantai. Bahkan dari rumah itu kami sudah bisa mendengar suara deburan ombak.

Begitu tiba aku dan Ana langsung membersihkan beberapa tempat di villa milik Fajar itu dari debu dan sarang laba-laba. Harusnya villa itu ada penjaganya, tapi untuk villa milik Fajar ini tak ada yang membersihkannya. Memang katanya hanya ada orang yang disuruh membersihkan kalau Fajar atau keluarganya mau datang ke sini. Sedangkan Mita kulihat bermain-main dengan anakku. Mereka memang akrab sekali, karena dari dulu sering ketemu saat Mita main-main ke rumahku.

Menjelang siang kami belum memutuskan untuk pergi ke pantai karena matahari masih bersinar terang. Kami khawatir sinar matahari yang terlalu panas bisa membakar kulit kami, tentunya aku tak rela jika kulit putih mulus kedua istriku jadi berwarna merah dan gelap.

Untuk itulah kami bertiga hanya bersantai di ruang tengah. Semua ruangan di villa itu punya mesin penyejuk udara, jadi kami bisa menikmati suasana siang itu dengan santai tanpa terganggu rasa gerah.

Beberapa saat kemudian Ana masuk ke dalam kamar untuk menidurkan anak pertamaku, biasanya memang anak dibawah lima tahun siang-siang harus tidur. Tinggallah aku dan Mita duduk berdua di depan televisi yang saat itu sedang menayangkan berita infotainment.

“Sini dong sayang..” panggilku pada Mita untuk mendekat.

“Ahh.. ga enak kalo kak Ana liat..” balasnya.

“Lhoh.. katanya kita sudah jadi suami istri, kok pake malu segala..”

“iya sih Om, eh.. kak….” balasnya sambil tersenyum, Mita masih belum bisa lepas dari kata Om saat dia menyebutku.

“yaudah sini..”

Akhirnya Mita mendekatiku lalu tubuhnya kupeluk mesra dengan tangan kiriku. Kembali kurasakan harum tubuhnya dan wangi rambutnya yang terurai tanpa tertutup jilbab itu.

“Duuhhh.. yang pengantin baru.. bawannya pelukan terus…” ucap Ana yang keluar dari dalam kamar dan duduk bersamaku.

“Hahaha.. iya dong mah.. dulu kan kita juga sama” balasku.

“Hihi.. maaf ya kak Ana”

“Gapapa kok.. ngapain kamu minta maaf Mita.. mas Andra itu juga suami kamu, jadi pastinya kamu juga punya hak” ucap Ana lembut, aku paling suka sekali saat istri pertamaku bicara dengan nada lembut seperti itu.

“Iya kak.. makasih”

“Udah sana, kamu ganti baju dulu.. apa ga gerah pake begituan?” ujar Ana, memang saat itu Mita masih mengenakan baju gamis yang di pakai untuk perjalanan berangkat tadi.

“Eh, iya kak.. tapi enaknya pake baju apa ya kalo di tempat seperti ini?” balas Mita.

“Pake apapun yang penting kamu nyaman Mita.. ga pake apa-apa juga boleh kok” ucap istriku kemudian melihat ke arahku.

“Hemm.. mulai deh.. mama apa-apaan sih?” kataku membalas ucapan Ana tadi.

“Lhah.. bener kan pah.. perempuan itu malah bagus ga pake apa-apa kan? Haha..” tawa Ana kembali terdengar renyah, dia bener-bener suka bicara apa adanya.

Mita kulihat tengah tersenyum mendengar ucapan istri pertamaku tadi. Dia kemudian masuk ke dalam kamar yang ada di sebelah kamar tempat anak pertamaku tidur.

“Mama gimana sih? kalau bicaranya seperti itu ntar Mita bisa minder loh”

“Gapapa kok pah.. tenang aja, aku tau wataknya Mita seperti apa.. lagipula papa udah sering kan lihat Mita ga pake apa-apa?? Hayo ngaku deh..”

Perkataan Ana langsung menekan jantungku. Rasanya dunia ini berhenti berputar dan waktu seakan berhenti berjalan. Aku tengah di todong oleh pertanyaan yang bisa membuat runtuh kejiwaanku dan membuat keringat dingin mulai membasahi dahiku.

“Hemmm… iya mah.. sering” balasku dengan jujur.

“Nahh.. kalo papa liat Mita bugil suka tidak?”

“Iya mah.. suka..”

“Normal pah.. laki-laki suka sama perempuan cantik”

Ana kemudian mendekatiku lalu melepaskan kaos putih yang dipakainya hingga dia tubuh bagian atasnya hanya tertutupi sebuah bra dengan pinggitan berenda warna putih. Seperti seleraku biasanya. Aku ingat bra itu dia beli atas permintaanku juga.

“Ehhh.. mama ngapain sih?” tanyaku yang mulai bingung pada perbuatan istriku itu.

“Papa suka gak kalo aku juga ga pake apa-apa?” tanya Ana balik.

“Iya dong mah.. papa suka banget malah..”

“Yaudah.. nikmati aja pah..”

Istriku itu kemudian mulai melepaskan bra yang dipakainya hingga tubuh bagian atasnya tak tertutupi apa-apa. Kulihat tubuhnya nampak mempesona dan indah dipandang mata. Meski mulai berisi tapi tidak sampai ada timbunan lemak di perutnya. Buah dadanya juga besar, bahkan lebih besar dari ukuran saat aku dulu pertama bertemu dengannya.

Tanganku mengelus-elus perut dan sekitar dadanya, hingga akhirnya usapan tanganku bermuara di salah satu payudara Ana. Perlahan kuremas bulatan empuk itu dan jariku menggesek tonjolan keras di puncak susu Ana.

“Ahhh…Shhhhh!” tak ayal istriku itu mendesah dan mendesis keras menikmati puting susunya yang sedang dirangsang dengan jariku.

Ana kemudian menyodorkan kedua payudaranya padaku. Tanpa basa-basi lagsung kuemut dua puting susu itu bergantian. Kumainkan lidahku di sana, kuputar-putar dan kusentil ujung buah dada itu dengan lidahku sampai mulut Ana mulai mendesah karenanya. Wanita cantik itu perlahan mulai bereaksi, tubuhnya menggelinjang dan menjerit pelan walaupun dia masih bisa menahannya.

“Aahhh.. papah nakal deh.. uuuuhh.. sukanya mainin pentil”

“Mama lebih nakal… emmpphh.. emmphh.. buka pentilnya sembarangan.. uummphh”

Sambil aku terus mengerjai puting susunya, kedua tangan Ana melepaskan kaos yang kupakai hingga kami berdua sama-sama telanjang dada. Aku sudah tak punya pikiran takut atau gimana-gimana, padahal di rumah itu ada Mita juga.

“Mah.. kita pindah aja mah.. ada Mita tuh…” kataku. Aku mendengar suara Mita bicara sendiri di dalam kamar, aku yakin dia tengah menerima telfon di Hpnya.

“Lahh.. bukannya dia istri papah juga sekarang?”

“Oiya yah.. hhaaha..” balasku tertawa.

Kami lalu melanjutkan cumbuan antara bibir kami berdua. Posisi Ana yang kini berada di pangkuanku membuatku bisa meremas payudaranya dengan tanganku, sedangkan bibirku bisa menghisapi bibir Ana dengan penuh nafsu membara.

Sesaat kemudian istriku itu mulai turun dari pangkuanku kemudian jongkok dan menarik celana pendek yang menutupi pangkal pahaku. Setelah celana pendek itu terlepas dari tubuhku, kini tampaklah batang kejantananku yang tegak mengacung dan keras di depan muka istriku.

“Ini nih yang bikin perempuan ketagihan, haha…” ungkap istriku yang di ikuti kuluman mulutnya pada kemaluanku.

Kuamati wajah istriku itu saat mulutnya mengulum penisku. Cantik rupanya masih kulihat dengan jelas dari perempuan yang kunikahi beberapa tahun yang lalu itu. Perempuan yang kuperjuangkan dan kuperebutkan dari beberapa laki-laki sainganku yang sama-sama ingin meminangnya. Itulah yang namanya jodoh tak akan kemana.

“Slruuppphh…” Ana memasukkan penisku ke dalam mulutnya! Dia mengulum penisku! Aah… rasanya sungguh tidak terkatakan. Kembali aku rasakan penisku terkurung di dalam rongga mulut istriku yang cantik ini.

“Ooohhh.. yesss…” erangku. Aku tidak tahan untuk tidak bersuara. Istriku coba merespon eranganku dengan menatap mataku dalam-dalam, bahkan berusaha tersenyum meski mulutnya penuh oleh penisku. Ana-ku yang cantik terlihat semakin cantik dengan wajah berkeringat sambil mengulum penisku itu.

Mata Ana menatap mesum padaku. Aku balas tatapannya dengan senyum bahagia saat kulihat dia mulai berdiri lalu kedua tangannya melepaskan hotpants yang membalut bokong bahenolnya. Rupanya di balik hotpants yang dipakainya itu Ana sudah tak memakai celana dalam. Dalam kondisi telanjang bulat Ana kembali naik keatas pangkuanku. Dia mengarahkan ujung penisku pada sasarannya.

“Blesss….”

Batang penisku amblas masuk ke dalam liang senggamanya. Ana diam memejamkan matanya sambil mukanya meringis seperti menahan sakit.

“Aaduhhh pah… kenapa aku selalu lupa ukuran kontolmu“

“Hehe.. nikmati aja dulu mah“ balasku.

Sejenak Ana mendiamkan tubuhnya, mungkin supaya dinding vaginanya beradaptasi dengan penisku yang menyeruak masuk kedalamnya.

“Lanjut ya pah..” ujarnya.

Perlahan tapi pasti Ana mulai meggoyangkan pinggulnya. Batang penisku rasanya seperti dipijat, ditarik dan dipelintir oleh vaginanya. Tangan Ana melingkar di atas pundakku, sambil sesekali jemarinya membelai lembut rambut belakang kepalaku. Mulutnya masih terus sibuk menciumi bibirku, sesekali kami berpagutan, mengadu lidah kami dalam rongga mulutnya.

“Shhh…. ahhh.. ahhhh.. shhh…” mulut Ana mulai mendesis, kadang meracau.

“Ooohh… Pahhh…. kontolmu enak banget…”

“Aah… masak sih mah?” balasku.

“Enak Pahh… legit… legit banget.. Ahhhh” seraya bicara seperti itu Ana mempercepat hentakan-hentakan pinggulnya. Goyangan tubuh Ana mulai tak tentu arah, kadang maju-mundur, kadang pula kekiri-kekanan tak beraturan.

“Aaaaahhh…. Paahhh… aku mau… aaakhhh !!”

Tubuh istriku kelojotan dan bergetar hebat beberapa kali saat mencapai orgasme. Kedua tangannya memeluk erat tubuhku. Deru nafasnya tak beraturan seakan dia baru saja lari beberapa ratus meter.

Kini aku yang mengambil alih permainan. Kuangkat tubuh istriku lalu kusuruh dia nungging di atas lantai. Dari belakang kulihat bongkahan pantatnya bulat berisi, “Plakkk !!” kutampar pelan bulatan pantat Ana, dia lalu melihatku dengan tatapan pura-pura jengkel tapi muka mesumnya malah kelihatan semakin jelas.

“Buruan ah pah.. jangan dianggurin dong“ kata Ana menoleh kebelakang.

“Iya deh mah…” jawabku sambil menelan ludah melihat vagina tembem milik istriku yang masih kelihatan merah muda itu. Aku langsung memasukkan batang penisku ke dalam lubang kemaluan Ana. Tanpa buang-buang waktu aku langsung memompa tubuhnya dengan kecepatan penuh.

“Owhh..owh pahh…owh…” lenguh Ana dikala menerima tusukan penisku yang langsung mengobrak-abrik pertahanan vaginanya.

“Iyaa… enak gak mah… enak gak kontol papah?”

“Aahhh… ahhh…enak…ba…nget pahh….yeah…terus…terus…”

Tubuh Ana bergoyang maju mundur keras sekali, malah beberapa kali hampir terjatuh kedepan. Celah memeknya bisa kurasakan semakin becek dan basah. Lima menit berselang, tiba-tiba Ana berteriak.

“AAAAHHHhhh..!!”

Rupanya Ana kembali mengalami orgasmenya, cairan kenikmatannya pun merembes makin banyak melumuri penisku. Kudiamkan batang penisku didalam liang senggama Ana. Tubuhnya yang baru saja dilanda orgasme kulihat seperti menggigil kedinginan. Istriku kuhitung sudah dua kali orgasme, tapi birahinya masih terus membara. Semakin kuat dugaanku kalau istriku ini Hyper, tapi biar saja dia begitu, toh aku juga ikut puas.

“Hemmphhhh…..!! “ erangan Ana kembali terdengar namun tertahan. Tanpa aba-aba aku mulai menyodok kembali rahim Ana sedalam-dalamnya.

Kugerakkan pinggulku maju mundur dalam tempo sedang. Kunikmati setiap gesekan batang penisku dengan dinding vagina Ana yang terasa masih seret. Sekuat tenaga aku menahan laju orgasmeku karena aku tak mau permainan ini segera berakhir.

“Ooohhh… ssshhh…” Ana kembali mendesah saat payudaranya jadi sasaran tanganku. Kupelintir puting susunya dengan lembut, sambil sesekali kuremas-remas buah dadanya yang montok itu.

Dua puluh menit berlalu. Kami berdua masih telanjang bulat bercinta di ruangan tengah villa milik Fajar itu. Selama dua puluh menit itu juga Mita entah mengerjakan apa di dalam kamarnya sampai tak menemui kami yang tengah memacu rasa nikmat berdua. Namun kalaupun Mita menemui kami saat seperti itu tak masalah buat kami.

Aku yang sedari tadi menahan laju orgasmeku mulai melepaskan pelan-pelan karena aku ingin segera merasakan nikmat juga. Batang penisku yang tertanam dalam liang senggama Ana semakin berkedut-kedut hebat. Hentakan pinggulku pun semakin kupercepat.

“Mah….ini…aku keluarin ya mah“ kataku pada Ana. Dia hanya tersenyum manis menatap wajahku.

“Moga kali ini jadi lagi ya pahh…“ kata Ana dengan wajah mesumnya.

“Ehh….mah… lho kok.. ahhh.. iya sudah“

Aku tak melanjutkan kata-kataku karena ada sesuatu yang mendesak ingin segera keluar dari batang penisku. Lebih kupercepat lagi laju batang kejantananku keluar masuk liang senggama Ana.

“Ini dia mah…. ini….. aaaaaahhhhhh“ teriakku.

Crott.. crott.. crot..

Penisku menyemburkan maninya, tubuhku bergetar, pandangannku kabur, lalu sendi-sendi ini terasa lemas jadinya. Aku memeluk tubuh Ana yang masih menungging didepanku. Kurasakan tubuh hangat istriku itu begitu menenangkan jiwaku.

“Pahh….”

“Apa mah?”

“Omonganku yang tadi serius lho “ kata istriku manja

“Uummm… iya deh.. aku setuju “

Kucabut batang pesniku dari memek Ana, langsung saja cairan putih kental meleleh keluar membasahi bibir memeknya lalu turun ke arah pangkal pahanya.

“Papa mau lanjut lagi gak?”

“Ya mau dong mah.. tapi istirahat dulu lah..” balasku.

“Hemmm.. yaudah.. sambil istirahat mama kasih hiburan yah”

“Apasih mah? Papa jadi curiga deh..”

“Bentar…. Mita… Mita..” teriak Ana.

“Iya kakk…” sahut Mita dari dalam kamar.

“Sini dong.. kakak mau tanya sesuatu”

***

Bersambung