Cerita Sex Anak Tetangga Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Anak Tetangga Part 11

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku dan Mita sudah selesai membersihkan diri setelah pergumulan kami yang penuh syahwat tadi. Aku tak berani macam-macam lagi karena sebentar lagi pemilik rumah tiba dari bepergiannya.

“Udah belum sayang?” tanyaku pada Mita yang sedang membenahi kerudungnya.

“Iya Om udah.. ayo..” balasnya.

Aku dan Mita kemudian menutup semua pintu rumah itu lalu mematikan lampu yang tidak perlu. Kulajukan mobilku menuju gerbang perumahan dan menemui security yang jaga malam. Kutitipkan kunci rumah sekalian kufoto wajahnya dan kukirimkan lewat chat pada atasanku. Beres, kita pun pulang.

Sepanjang perjalanan kulihat Mita nampak ceria sekali. Wajahnya sering tersenyum dan kadang bersenandung mengikuti lagu yang kuputar di audio mobilku. Ada pancaran wajah bahagia dan lega di wajah gadis cantik yang kadang bengal itu.

Dua puluh menit kemudian kami berdua sudah kembali sampai di rumahku.

***

Hari-hariku bersama Mita semenjak kejadian itu masih tetap biasa-biasa saja. Tak ada yang harus di bahas mendalam dan tak ada penyesalan pada perasaan kami berdua. Tapi kurasakan mulai ada masalah yang terjadi, wajah Mita sekitar dua hari ini nampak murung.

Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang berat. Akupun berusaha menghiburnya tapi dia masih tetap saja memendam perasaannya.

Sebenarnya aku sudah tahu apa penyebab Mita merasa tertekan seperti itu. Beberapa hari yang lalu istriku bercerita kalau papanya Mita sudah mulai parah sakitnya. Bahkan saat dibawa ke rumah sakit juga disana hanya beberapa hari dan diminta pulang lagi.

Aku yang sudah tak tahan melihat Mita yang tertekan perasaannya berinisiatif untuk memintakan ijin pada atasannya agar dia bisa diberi waktu pulang ke rumah. Syukurlah dari pihak atasannya memberi ijin selama dua hari pulang untuk melhat keadaan orang tuanya.

Namun akhirnya kabar buruk pun datang. Selepas adzan Maghrib sore itu, istriku menelfon dari kampung dan mengabarkan kalau papanya Mita meninggal dunia. Aku langsung meminta ijin pada atasanku untuk pergi melayat dan ijin tidak masuk. Meskipun akhirnya dari kantor hanya memberiku waktu sehari tapi itu sangat berarti sekali bagiku.

Pemakamannya sekitar jam 9 pagi. Selama pemakaman itu Mita tak hentinya menangis, sedangkan istriku dengan sabar merangkulnya, menghiburnya dan menemaninya sampai selesai.

Ada beberapa kali kejadian aku dibuat bingung oleh Mita. Tiap kali aku berada di dekatnya pasti dia memelukku erat, meski di sampingku ada istriku tapi dia cuek saja. Sebaliknya istriku kadang melihat kelakuannya itu dengan tersenyum, yang entah itu apa artinya.

Malamnya setelah acara tahlilan selesai, aku dan istriku masih tinggal untuk ngobrol sedikit dengan bu Anik dan Mita serta beberapa orang keluarganya. Isi pembicaraan kami hanya sebatas hal-hal ringan saja, karena perasaan keluarga di situ masih berduka.

Sekitar jam sembilan malam aku dan istriku pun hendak berpamitan tapi bu Anik, mamanya Mita itu meminta kami untuk tinggal sebentar.

“Mbak Ana.. boleh ya saya bicara langsung sama mas Andra?” tanya bu Anik pada istriku.

“Iya bu… silahkan..” balas istriku yang berada di samping kiriku.

“Begini mas Andra.. saya dan mbak Ana sudah beberapa kali membahas ini, makanya saya yakin pada keputusan yang saya ambil”

“Eh..ada apa ya Bu? Kok serius banget ini..” ucapku keheranan.

“Gini mas Andra, sebelum meninggal papanya Mita itu bilang kalau Mita supaya dititipkan sama mas Andra saja..” ungkap Bu Anik.

“Lho, kan selama ini sudah sama saya kan Bu..” balasku. Mendadak aku jadi pusat perhatian orang-orang di sekitarku.

“Iya bener mas.. tapi maksud dititipkan itu biar diambil istri sama mas Andra..”

“Heh..!?” aku hanya bisa bengong mendengar penuturan mamanya Mita itu.

“Saya tahu mas Andra pasti kaget, tapi ini wasiat dari papanya Mita, saya hanya bisa pasrah saja” ucap bu Anik mulai terlihat sedih.

“Hemm.. mungkin ini waktunya kurang tepat bu, masih dalam suasana berduka, apa sebaiknya dipikirkan dulu.. saya sudah punya istri lho..” ucapku yang kemudian melihat ke arah istriku.

“Gapapa kok mas Andra, saya sudah bicara sama mbak Ana dan mbak Ana juga setuju kok..” balas bu Anik lagi.

Aku kemudian menoleh ke arah istriku. Kutatap matanya dan dia membalas dengan senyuman dan mengangguk pelan. Tatapan mata istriku seperti mendorongku untuk melangkah lebih jauh.

“Tapi gimana ya bu… “ kataku ragu.

“Sudahlah mas Andra.. tolong diterima Mita apa adanya..” ucap bu Anik sambil menunduk sedih.

“Hemmm.. baiklah bu… tapi sebentar, alasannya apa kok Mita diserahkan ke saya?”

“Gini.. mas Andra itu kalo saya lihat sayang banget sama Mita, bisa menjaga kelakuan Mita, saya yakin dia anak yang nakal dan sebaliknya Mita juga percaya sama mas Andra..” jelas Bu Anik sambil memegang tangan putri sulungnya itu.

“Sudahlah paa.. aku juga ikut minta tolong supaya permintaan bu Anik diterima.. aku ikhlas kok.. bener-bener ikhlas..” tambah istriku.

“Iya mah.. tapi gimana soal finansial kita mah?” tanyaku sedikit berbisik.

“Hehe.. yakinlah pah.. Tuhan itu adil kok..” ucap istriku menatap mataku dengan mantab.

“Baiklah bu Anik.. saya setuju”

“Alhamdulillah.. nanti setelah peringatan hari ketujuh kita langsungkan saja akad nikahnya ya mas Andra, cuma undang keluarga dan tetangga” ujar bu Anik sambil tersenyum lega.

Sebenarnya ini adalah suatu kejadian yang aneh buatku. Dimana-mana itu laki-laki yang memaksa perempuannya untuk menerima cinta, tapi aku malah dipaksa supaya mau menerima istri kedua. Seorang gadis yang masih muda, cantik pula. Apalagi istriku juga ikutan mendukung supaya aku punya istri lagi, bukannya semua perempuan itu tak mau dimadu? Aku bingung harus bersyukur atau bagaimana menyikapi kejadian ini.

***

Keesokan hari setelah pemakaman papanya Mita akupun kembali ke rumahku di kota. Mengingat dari kantor aku hanya diberi ijin sehari saja. Sementara ini aku di rumah sendirian tanpa kehadiran gadis cantik bernama Mita itu. Dia masih diberikan ijin tidak masuk kerja sampai peringatan tujuh hari meninggalnya orang tuanya itu.

Malam ini aku sendirian di teras depan rumah. Dengan memakai celana pendek boxer dan bertelanjang dada aku menikmati segelas kopi susu yang nikmat. Kepulan asap kebahagiaan juga terus keluar dari mulutku seiring dengan hisapan sebatang rokok kesenanganku. Suasananya memang cocok sekali malam itu dibawa merenung dan berpikir panjang.

Kulihat waktu di Hpku sudah menunjukkan angka 22:40. Suasana di luaran sana semakin sepi dan hening. Hingga aku bisa mendengar suara mesin mobil yang semakin lama semakin mendekati depan rumahku. Aku masih saja santai duduk pada sebuah kursi di teras depan rumahku saat sebuah mobil berhenti tepat di jalan depannku.

“Permisi…” tiba-tiba seorang laki-laki turun dari dalam mobil lalu mengetuk pagar rumahku.

“Iya… siapa ya??” akupun bergegas mendekati orang itu.

“Malam pak… saya sopir taksi online, penumpang saya minta diantar kesini..”

“Oh begitu.. trus mana orangnya..”

“Itu pak.. di dalam… lagi mabuk kayaknya pak…” lanjut sopir taksi online itu.

Akupun segera membuka pagar rumahku lalu kuhampiri mobil yang saat itu ada di depannku.

“Lhah… anak ini bikin masalah apa lagi?” tukasku saat menyadari ternyata penumpang mobil itu adalah Riska.

Dengan bantuan sopir taksi online tadi, kubawa Riska yang kelihatannya dalam pengaruh alkohol itu masuk ke dalam rumah. Kubaringkan saja tubuh gadis cantik itu di kursi panjang ruang tamu.

“Mas.. ongkosnya udah dibayar belum?”

“Ohh.. udah pak… udah kok.. tadi pacarnya yang bayarin saya..” balas sopir taksi online itu sambil berjalan menuju ke mobilnya.

“Eh.. pacar mana lagi nih??” gumamku.

“Udah pak ya.. ga da barang yang ketinggalan lagi yah? Saya pamit dulu..”

“Iya mas.. eh.. bentar..ini buat beli rokok..” langsung saja ku berikan selembar uang dua puluh ribuan pada sopir taksi online tadi. Mungkin itu sebagai rasa terimakasihku untuk mengantar Riska ke sini, apalagi harus menggendongnya masuk ke dalam rumah.

Selepas mobil yang mengantar Riska tadi pergi aku kembali mengunci pagar rumahku. Lalu kubawa masuk gelas dan bungkus rokok yang sedari tadi ada di atas meja. Setelah itu ku tutup pintu rumahku dan menguncinya dari dalam.

“Ehhh.. ada Om Andra.. hihii..” ucap Riska dengan wajah yang sayu dan memerah. Tubuhnya masih tergeletak lemah di atas kursi panjang itu.

“Udahh.. kamu istirahat aja dulu..” balasku sambil berjalan melewatinya dengan membawa gelas kopi susu menuju dapur.

Sesaat sebelum masuk ke dalam kamarku, aku perhatikan kondisi Riska malam itu. Kepalanya sudah tak tertutupi jilbab hingga rambutnya yang lurus panjang itu tergerai acak-acakan. Tubuhnya masih tertutup sempurna dengan balutan kemeja lengan panjang motif kotak-kotak berwana dasar merah maroon dan celana jeans hitam untuk bawahannya.

Meski Riska dalam kondisi seperti itu tapi tak mengurangi aura kecantikannya. Apalagi melihat wajahnya yang sayu dan teduh itu, pasti membuat laki-laki manapun tertarik padanya. Sayangnya semua itu dia gunakan untuk nilai tukar sejumlah uang.

“Ommm… ehhhhh…” panggil Riska padaku yang berdiri mematung di depan pintu kamar.

“Apa??” balasku lalu mendekatinya.

“Bantuin dong…” dia kemudian duduk, tubuhnya masih lemas hingga beberapa kali seperti mau terjatuh. Tangannya memegang kancing bajunya, tapi selalu meleset karena otaknya dalam kondisi setengah sadar.

“iya sini Om bantuin..” akupun mendekatinya lalu membantunya melepas kancing baju. Entah kenapa tak ada bau alkohol sama sekali di tubuhnya, jangan-jangan dia dalam pengaruh obat-obatan?

“Semuanya Om..” ucapnya lagi. Matanya masih setengah terpejam dengan wajah yang tertutupi rambut yang acak-acakan.

Dengan telaten aku lepaskan kancing bajunya satu persatu. Meski aku sudah tahu kalau Riska ingin melepas bajunya tapi toh aku malah membantunya. Setelah semua kancing bajunya terlepas kini giliran kain bajunya yang aku tarik dari tubuh bagian atasnya.

Langsung saja aku mendapati dua bukit kembar yang putih mulus dengan pucuknya yang berwarna merah pucat. Rupanya malam itu Riska dalam kondisi tidak memaki bra.

“Udah yaa… kamu istirahat aja..” kataku lagi. Aku sudah akan beranjak pergi dari dekat Riska.

“Ommm.. sekalian ini dong.. gerah aku rasanya..” Riska menahanku, tangannya menunjuk pada kancing celana jeans yang dipakainya.

“Lahh.. mau ngapain sih kamu ini?” tanyaku ragu. Meski aku sudah pernah melihat tubuhnya yang bugil tapi kalau melihatnya lagi aku khawatir tak bisa menahan diri.

“Hemmm.. ayo dong Om.. panas banget di sini” balas Riska memberi alasan.

Aku kemudian mengikuti kemauannya. Kulepaskan kancing celana jeans hitam yang dia pakai lalu memelorotkannya turus sampai terlepas dari kedua kakinya. Sesaat aku kagum melihat pemandangan di depanku, dimana pangkal paha Riska malam itu terutupi sebuah celana dalam model g-string warna hitam dengan renda-renda di pinggirnya. Damn.. It’s so sexy!!

Riska lalu kembali tidur telentang di kursi ruang tamu. Aku sudah mengajaknya untuk tidur di kamarnya Mita tapi dia tak mau. Katanya panas kalau tidur di dalam kamar. Akupun lalu meninggalkannya dan segera masuk ke dalam kamarku. Aku takut kalau akal sehatku kalah dengan syahwatku.

Malam itu seperti biasa saat akan tidur aku menelanjangi diriku sendiri. Kutinggalkan segala urusan yang terjadi tadi dan ku istirahatkan otakku yang seharian ini berpikir kencang. Belum sempat aku tidur lelap tiba-tiba telingaku mendengar pintu kamarku dibuka.

“Omm… udah tidur?” tanya Riska yang muncul dari balik pintu kamar.

“Belummm… ada apa sih Ris?”

“Anterin ke kamar mandi dong, mau pipis nih..” jawabnya dengan wajah suntuk.

“Hemmm.. iya deh.. ayo Om anterin..” jawabku yang langsung turun dari tempat tidur dan menutupi tubuhku dengan belitan selimut.

Kami berdua lalu berjalan ke belakang, menuju kamar mandi. Kuperhatikan Riska jalannya sudah tak lagi sempoyongan, dia jalan seperti biasa. Mungkin perngaruh obat yang di konsumsinya sudah mulai pudar.

“Om..”

“Apalagi??”

“Bukain dong Om.. hihi..” ujar Riska sambil menunjuk celana dalamnya. Sepertinya dia memang sengaja mengerjaiku.

“Yaudah.. sini…” akupun mengabulkan permintaannya supaya ini cepat berakhir dan aku bisa tidur lagi.

Kubuka kain terakhir yang menempel di tubuhnya itu. Sebuah celana dalam warna hitam model g-string kutarik turun dari pahanya, lalu terus turun hingga lepas dari kedua kakinya. Posisiku yang tengah jongkok di depan Riska membuat indera penciumanku langsung mendapatkan aroma khas vagina perempuan. Bau memek Riska ini wangi, tidak seperti punya Mita yang wanginya alami, tapi bau vagina Riska ini seperti bau bedak atau semacamnya.

“Udah.. sana cepetan..” perintahku pada Riska.

Dia kemudian masuk ke kamar mandi tanpa menutup pintunya. Langsung saja dia jongkok lalu mengeluarkan air kencingnya. Aku yang berada di depan pintu membalikkan badanku karena tak ingi melihatnya. Tidak ada yang spesial bagiku.

“Udah Om…” ucapnya sambil memegang tanganku.

“Udah bersih kan?”

“Yeeee… seperti baru Om.. ahaha..” balasnya tertawa renyah. Pada waktu ini aku tak menyadari kalau Riska tidak memakai apa-apa lagi setelah celana dalamnya kulepas tadi.

Kami berdua lalu masuk kembali ke dalam rumah. Kututup lagi pintu dapur dan kumatikan lampunya. Aku kemudian masuk ke kamarku untuk melanjutkan tidurku. Tiba-tiba Riska menyusulku masuk ke dalam kamar sebelum aku sempat menutup pintunya.

“Omm.. aku ikut tidur sama Om..” ucap Riska

“Iya deh.. iya.. sini” aku sudah tak ambil pusing lagi, aku sudah benar-benar membiarkan apa yang ingin dilakukannya.

Aku kemudian bebaring di atas tempat tidur dan melepas selimut yang tadi kupakai untuk menutupi tubuhku. Diikuti oleh Riska dengan tubuhnya yang polos tanpa busana langsung ikutan baring di sebelahku. Setelah itu tangannya menggapai badanku dan memelukku erat.

“Omm.. aku bahagia banget malam ini..” ujarnya lirih.

“Syukurlah kalo kamu bahagia” balasku yang mulai memejamkan mata kembali.

“Aku tuh sebenernya iri banget sama Mita…”

“Eh.. kenapa kok kamu iri?”

“Umm.. aku iri sama Mita karena bisa hidup bareng sama Om.. disayangi, dicintai dan dilindungi..” ucap Riska pelan.

“Gitu yah…”

“Om tau tidak? laki-laki yang dekat sama aku pasti hanya ingin tubuhku.. ingin memekku juga.. apalagi aku tuh berasal dari rumah tangga yang gagal Om..” Riska kini menyembunyikan wajahnya di bawah ketiakku. Mungkin dia mulai meneteskan air mata.

Aroma rambut Riska yang menyeruak masuk ke dalam penciumanku entah kenapa membuatku jadi horni. Otomatis batang penisku tegak menegang dan keras. Aku berusaha agar Riska tak mengetahuinya, biar tak mengganggu sesi curhatnya padaku malam ini.

“Riska… makanya itu, kamu harus berusaha terus memperbaiki keadaan, tidak selamanya kamu akan cantik.. tidak selamanya juga laki-laki akan tertarik padamu. Semua pasti ada akhirannya” ucapku sok bijak.

“Carilah laki-laki yang memang bener-bener nerima kamu apa adanya, aku yakin pasti dia orang baik. Cepetan mumpung umur kamu masih sedikit, daripada nanti kamu akan menyesal seumur hidup” sambungku.

“Iya Om..” balas Riska lirih.

“Yaudah.. sekarang kita tidur..” ajakku.

“Tapi Om.. sebelum tidur Om mau gak bantuin Riska.. mau gak?”

“Ya pasti mau dong.. bantuin apa sih?” balasku.

“Bantuin garuk memeknya Riska.. gatel nih..”

Tangan Riska tiba-tiba memegang batang penisku yang sedang tegak mengeras. Sentuhan tangannya seperti aliran listrik yang menggetarkan tubuhku. Aku tak lagi ingin melawan, yang ada dalam pikiranku hanya ingin terus menikmatinya. Aku sudah horni, aku sudah gelap mata, mungkin akal sehatku juga sudah mulai sirna.

“Cupphh.. ehhmmmpp.. ehhmmpphh.. emmphh….” suara kecipak cumbuan mulut kami mulai terdengar, mengiringi elusan dan kocokan lembut tangan Riska pada batang kemaluanku.

“Emmmmhh.. besar dan keras.. pantesan Mita suka banget…” ujar Riska memuji batang penisku. Tapi tunggu, dari ucapannya itu aku bisa menduga kalau Mita sudah cerita pada temannya ini.

“Om… langsung dientot aja ya Om… Riska udah gak nahan nih..” sambungnya, kemudian Riska bangun dari tidurnya lalu menarik selimut yang menutupi tubuhku.

Batang penisku yang tegak mengacung kini sudah tak tersembunyi lagi. Riska melangkahkan kakinya dan mengangkangi kedua pahaku. Setelah itu dia lalu meludahi ujung penisku itu. Tanpa menunggu lama, pelan-pelan dia mengarahkan ujung kontol milikku bertemu dengan celah memeknya.

“Kok buru-buru sih Ris? Kamu gak mau mainan sama dede’nya dulu?” tanyaku iseng sambil tersenyum. Kuperhatikan Riska bener-bener sudah horni.

“Nanti aja deh Om… plis Om.. entotin Riska dulu dong, dah gak tahan nih dari tadi”

“Aaahhkkkk…….” pekiknya saat batang besarku amblas ke dalam liang memeknya yang telah basah oleh cairan nafsu. Seketika itu Riska terdiam, sambil tangannya memegang pinggangku.

“Sakit ya sayang?” tanyaku, kawatir kalau terjadi apa-apa dengan dirinya.

“Nggak lah Om… adaptasi dikit lah.. Sekarang malah enak… enak banget nihh..” balas Riska sambil tersenyum lega.

“Ahhh.. kamu memang anak pinter… sekarang goyang yang kenceng ya Ris…”

“Iya Om.. aku goyang nih Om.. Hgghh…hgghh..hgghh……” racaunya, sambil kedua tangannya meremas pinggang dan dadaku, sementara celah memeknya sibuk mengocok penisku.

Kalau boleh membandingkan sih memang vagina Riska sudah tak serapat milik Mita. Tahu lah bedanya antara yang sering dipakai sama yang jarang kepakai. Tapi memang aku akui ada satu kelebihan yang dipunyai Riska, memeknya bisa ngempot.

“Uuhhhh.. memek Riska gatel banget Om..ahhh.. aduhh… aaahh.. mantab nih kontol” ucapan-ucapan vulgar terdengar dari mulut Riska. Rasanya apa yang keluar dari mulutnya itu tak cocok dengan wajahnya yang teduh dan keibuan.

Riska masih terus bergoyang liar di atas tubuhku. Hingga beberapa menit kemudian terdengar lengkingannya yang keras, diikuti dengan remasan tangannya pada pinggangku yang semakin kuat, hingga kurasakan perih karena cakaran kukunya yang sedikit melukai kulitku.

“Haaaaahhhhhh…. aku sampai Ommm…. aaaaahhhggghhhhhh….”

Tiba-tiba tubuh Riska bergetar dan mengejang. Memeknya yang menjepit batang penisku kurasakan mengempot dengan cukup kuat. Rasanya penisku yang tertanam dalam liang vaginanya seperti di remas dan di urut dengan kuat. Kalau gak kontrol mungkin aku akan ikut muncrat juga.

Beberapa saat kemudian Riska masih terus menggoyangkan pinggulnya dalam posisi WOT. Namun gerakannya semakin lama semakin lemah dan akhirnya tubuhnya ambruk ke depan. Mulutnya yang masih mendesah itu kusumbat dengan mulutku dan memagutnya dengan rakus. Hangat kurasakan desahan nafasnya, pertanda memang nafsunya yang sedang tinggi, nafsu yang pada akhirnya tertuntaskan.

Sudah kepalang tanggung. Permainan yang kami mulai ini harus juga di tuntaskan. Kurebahkan tubuh Riska dengan posisi telentang lalu kuganjal bokongnya dengan sebuah guling yang sudah agak tipis. Kutatap sejenak wajah Riska yang terlihat sayu namun tergambar sebuah kepuasan pada dirinya.

Kuangkat keatas kedua pergelangan kakinya, lalu kutekuk hingga kedua dengkulnya nyaris menyentuh wajahnya. Aku menyadari tubuh Riska yang ramping dan lentur memudahkannya untuk diperlakukan seperti itu.

“Ini kok kaki Riska ditekuk-tekuk gini Om… mau posisi apa sih?” herannya.

“Gak apa-apa Ris… biar kalau nanti peju Om keluar bakal tertampung semuanya di dalam rahim kamu, Hehehe…” jawabku dengan alasan sekenanya, walau sebenarnya hanya sekedar menikmati sensasinya saja menyetubuhinya dengan posisi seperti itu.

“Ihh.. ntar kalo Riska hamil gimana Om?” balasnya protes.

“Ga bakalan.. Om yakin kamu pasti rutin minum pil pencegah hamil, ya kan!?” kataku sambil menatap wajah sendunya itu. Riska tak bisa membalasnya.

Dengan posisi seperti itu, segera kutancapkan kembali batang penisku dan kugenjot dengan kuat dan dalam. Tubuh gadis cantik itupun bergoyang-goyang seirama dengan gerakan tusukan penisku pada liang senggamanya.

“Aahhhh… iyaa.. iyaa… ittuuuhh.. ahhh.. mantaabbb…’’ Riska kembali menjerit-jerit saat tusukan penisku semakin cepat menghujam liang memeknya.

“Oougghh… memek enak ini.. ahhh..” desahku saat kurasakan empotan memek Riska kembali megurut dan mencengkeram penisku yang bersarang dalam liang kewanitaannya.

Hanya beberapa menit setelahnya, aku melenguh keras, merasakan nikmatnya orgasme dari persetubuhan terlarang ini, bersamaan dengan semburan sperma kedalam liang vagina Riska.

“Aaaaaahhhh… Om keluar sayaaang… aaagghhh… aagghhh.. aaagghhh….”

Crott..crott…croott.. Beberapa kali semburan spermaku mengisi liang rahimnya, hingga aku lemas dan terdiam untuk beberapa saat.

Tangan Riska kemudian menggapai penisku yang perlahan-lahan mulai kukeluarkan dari liang senggamanya. Dalam posisi kedua kakinya masih terangkat seperti itu kulihat tak ada cairan spermaku yang meleleh keluar.

“Ihhh… kok masih tegang sih Om?? Minta nambah nih..” ujarnya genit. Akupun bingung kenapa penisku masih belum mau tidur. Malah kini semakin berkedut-kedut menggoda perempuan di dekatnya.

“Huhhhh… aaahhh… ga tau nih Ris.. mungkin dia mau dipuasi lagi, ehehehe..” balasku.

“Om…”

“Apa??”

“Om pernah anal seks apa belum?” Lhah, mengapa pula dia menanyakan itu.

“Belum pernah.. emangnya kenapa Ris?” jawabku, lalu dia terdiam sejenak.

“Riska dianal juga dong Om…. mau ya Om?? plis dong Om..” aku diam sejenak. Sebenarnya aku tak tega bila harus menghujamkan batang penisku ini kedalam liang anusnya itu, tapi sepertinya dia begitu berharap.

“Iya deh, kalau memang kamu kepingin banget sih…” setujuku, yang langsung dijawab dengan ciuman pada pipiku.

“Mmuaahh… Om Andra memang baik deh… ayo Om kita mulai..”

“Sekarang…?”

“Enggak, taun depan… ya sekarang lah..!!” balasnya ketus. Padahal maksudku hanya ingin memastikan, sekarang juga atau beberapa menit lagi.

“Nihh.. Riska nungging ya Om? ” ujarnya, seraya memposisikan dirinya menungging di atas ranjang, mempertontonkan bokongnya yang mulus tanpa cacat, yang pada bagian tengahnya terdapat liang yang mengerucut, dengan guratan-guratan garis yang tertumpu pada satu titik pusat.

Kutarik bokongnya ketepi ranjang. Sepertinya lebih baik kalau aku menikmatinya dari bawah ranjang. Seraya aku melompat kebawah dan berdiri diatas lantai kamarku. Pandanganku tertuju pada bulatan pantat Riska yang menantang ditepi ranjang, terutama pada liang kerucutnya yang kemerahan.

Kugerayangi sekujur pantat mulusnya dengan gemas, barulah jariku terkonsentrasi pada liang berkerut itu, yang memberikan reaksi berkedut-kedut saat menerima gelitikan tanganku.

“Aaaaahhhhhhh… sedap Omm… enaaaaakkkkk…..” erangnya, menikmati sapuan jari-jariku pada liang anusnya.

Jariku kemudian mengambil cairan spermaku yang meleleh keluar dari celah vaginanya, lalu mengarahkan cairan putih kental itu untuk melumasi lobang pantatnya. Entahlah, padahal biasanya aku akan merasa jijik, tapi bukan saat itu.

“Aaahhhhh…. “ rintihnya saat kutekan batang penis yang telah kubaluri dengan sedikit air liur untuk pelumasan. Agak seret memang, namun berhasil juga batang kejantananku masuk hingga separuhnya.

“Gimana sayang? Sakit?” tanyaku untuk memastikan.

“Enggak Om.. enggak sakit.. enak malahan… ayo Om… masukin yang lebih dalem lagi” balasnya.

Agak heran juga aku dengan apa yang dikatakannya itu, karena sebagian besar orang saat melakukan anal seks biasanya mereka akan merasa sakit dan perih. Mungkin saja Riska ini sudah sering anusnya dimasuki penis pelanggannya.

Sehingga saat benda memasukinya, otomatis otot-otot itu akan melar dan menyesuaikan diri dengan ukuran benda yang memasukinya itu. Ini dapat kurasakan pada batang penisku yang sepertinya tak terlalu tercekik, bahkan sepertinya mudah saja untuk mempenetrasi dalamnya.

“Genjot yang kuat dong Om…”

“Bener kamu enggak sakit Ris??” kembali aku memastikan.

“Ih, Om nih.. daritadi nanya itu terus… enggak sakit, malah aku enak banget… ayo cepetan genjot yang kuat….” pintanya dengan nada sedikit mengomel.

Apa boleh buat kalau memang itu kemauannya, segera kupacu bokongku dengan kuat, hingga membuatnya terguncang-guncang maju mundur seiring gerakan pinggulku.

Plok..plok..plok..!! Suara benturan pahaku dengan bokongnya terdengar cukup riuh. Bercampur dengan bunyi kecipak dari gesekan antara penisku dan otot-otot anusnya, bahkan sesekali terdengar suara seperti kentut akibat rongga udara di dalamnya yang tertekan.

Namun diantara semuanya itu yang paling ramai justru suara ocehan Riska. Terkadang disertai erangan atau pekikan dalam mengekspresikan rasa nikmat yang dia rasakan.

“Auugghhh… asik Om.. teruss… hajar lebih kuat Om… aduuhh.. nikmaaatt…”

Sepertinya memang dia sungguh menikmati hantaman batang penisku pada lobang pantatnya itu. Padahal aku pernah membaca sebuah artikel yang menyimpulkan kalau sebagian besar wanita tidak menemukan kenikmatannya dalam anal seks. Tapi kesimpulan itu mungkin tak berlaku pada Riska.

Semakin kuat dan bertenaga bokongku bergerak maju mundur, semakin riuh pula erangan dan racauan dari mulutnya, untuk seketika putriku yang imut dan kekanak-kanakan berubah begitu liar dan binal, nafasnya memburu, pipinya yang putih dan licin bak patung lilin kini mulai memerah, kata-katanyapun sudah tak terkendali.

“Ayo Om.. terus… entotin aku Om… entotin lobang Riska Om… Uhhh.. terusss..”

Hanya beberapa menit setelah itu, pecahlah jeritan cukup keras, yang membuatku sedikit kawatir kalau itu akan terdengar oleh orang lain yang berada di luar rumah. Tentu saja aku tak ingin orang lain mengetahui hubungan terlarang kami ini.

“Aaaaaaaaagghhhhhhhhh…. aku sampai Omm…..” sungguh baru kali itu aku menemui wanita yang sedang dianal bisa mengalami orgasme. Akupun sempat ragu kalau jeritan orgasmenya itu jeritan palsu.

Tubuh Riska yang sebelumnya dalam posisi menungging kini ambruk hingga tertelungkup. Saat dirinya tertelungkup seperti itu samasekali tak kuhentikan aksiku, batang penisku masih terus menghujami liang duburnya. Hingga beberapa saat kemudian kurasakan diriku akan mencapai kimaks juga, namun entah mengapa tiba-tiba timbul ide lain dalam pikiranku.

Ploopp..!! kucabut batang penisku dari liang anusnya, lalu dengan cepat kuarahkan pada mulut Riska yang masih dalamposisi telungkup di depanku.

“Ayo sayang…. dimakan pejunya Om ya sayang… buka mulutnya sayang… buka yang lebar… Haaaakkkk” gayung bersambut, Riska segera membuka mulutnya dengan lebar tepat di bawah ujung penisku. Matanya menatap kearahku, seolah tengah mengamati raut mukaku.

Crottt…crottt..crottt…!!

“Aaaaaahhhhhhhh…. terima peju Om nih.. aaaahhhh..aaaahhhh..”

Cukup banyak cairan putih kental yang tertampung di dalam mulutnya, namun masih belum ditelannya. Baru setelah tak ada lagi tetesan sperma yang keluar dari ujung penisku, tiba-tiba mulut yang sebelumnya menganga itu terkatup, disusul dengan gerakan menelan pada lehernya.

Gila.. bener-bener gila permainan Riska ini. Pejuhku yang lumayan banyak itu masuk kedalam kerongkongannya dalam sekali telan. Pantas dia dibayar mahal kalau dia bisa seperti itu.

“Aaaaaaahhhhh…. enak banget pejuh milik Om.. manis gurih, hihi..” ujar Riska yang kini tidur tengkurap setelah menahan tubuhnya agak lama.

“Udah ya Ris.. haahh… jangan bilang siapa-siapa nih ya… huhh…capek nih” ungkapku.

“Beres deh Om.. btw selamat lho Om, bakal jadi suaminya Mita…”

“Lhah.. kamu juga tau?”

“Iya dong Om.. kan Mita yang nyuruh aku kesini”

“Ehh.. jadi dia tahu malam ini kita……??”

“Iya, anda benar Om”

***

Bersambung