Cerita Sex Anak Tetangga Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Anak Tetangga

Setelah acara pijit memijit Dewi selesai dan diakhiri dengan orgasmenya yang hebat itu, aku dan Mita masih bersantai di depan meja makan. Dewi kulihat masih saja terbaring telanjang di atas matras. Kubiarkan dia menikmati getaran di tubuhnya sampai selesai dan kemudian istirahat sebentar.

“Ohh.. jadi teh yang kamu kasih ke Dewi tadi udah dicampur obat perangsang yah?”

“Aku ga tau kalo itu obat perangsang sih Om.. Riska cuma bilang bisa menambah semangat aja sih..” jawab Mita lugu.

“Duhh… makanya Dewi bisa sampe kaya gitu.. coba lain kali kamu yang minum”

”Hahaha.. asyik dong Om…” balas Mita tertawa renyah.

Dia kemudian pergi masuk ke dalam kamarnya, mungkin dia mau melihat keadaan anaknya Dewi yang tengah tertidur. Sedangkan aku masih duduk di depan meja makan sambil membuka chat yang masuk ke Hpku. Setelah duduk beberapa saat lamanya aku bermaksud pergi ke teras depan untuk merokok. Hanya saja langkah kakiku terhenti karena kulihat Dewi sudah kembali tersadar.

“Huaahhh… hemmm..” Dewi meregangkan tubuh telanjangnya yang masih terbaring di atas matras. Gerakannya itu menambah sisi sensual seorang ibu muda dengan tubuh yang menggoda.

“Udah bangun Wi? Terusin aja istirahatnya kalo masih lemes..” kataku yang kini berdiri di sampingnya.

“Udah enakan kok mas… ga terlalu lemes banget sih” ujarnya sambil menggerakkan kepalanya dan punggungnya seperti orang mau senam.

“Mau mandi dulu apa gimana? Di kamar mandi ada pemanas air kok..” tawarku.

“Emm.. enggak deh mas, aku pulang aja.. ntar agak sorean aja mandinya” balas Dewi yang langsung memakai hotpants dan bra miliknya.

“Yaudah Wi.. eh, maafin kalo tadi aku udah lancang sama kamu”

“Ohh, gapapa kok mas Andra, aku yang makasih banget… besok-besok lagi yah!? Hehehe..” balasnya tersenyum, kemudian dia mengenakan lagi kaos yang dipakainya tadi.

“Mitaa… sayang… ini lho tante Dewi udah mau pulang” panggilku pada Mita yang di dalam kamarnya dengan pintu yang tertutup. Bisa saja aku langsung membukanya, tapi karena masih ada Dewi di situ aku urungkan niatku.

“Lohh kok buru-buru tante.. “ ucap Mita begitu pintu kamarnya terbuka.

“Iya.. aku mau istirahat aja di rumah..” balas Dewi yang kemudian meletakkan kembali anaknya di dalam kereta bayi setelah menerimanya dari tangan Mita.

“Kalo ada apa-apa bilang ya Wi..” ucapku saat Dewi mulai keluar dari dalam rumahku.

“Iya mas.. makasih banget loh..” balasnya.

Mita kemudian kembali menutup pintu pagar rumah setelah Dewi melewatinya. Dia pun memastikan Dewi sampai di rumahnya, meski hanya dengan melihatnya saja. Setelah itu Mita kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan.

“Ehh…Om.. tau gak!?”

“Apa?”

“Aku tadi sempat coba kasih putingku ke dedek bayi lho..” ucap Mita serius.

“Lahh.. ada-ada aja kamu ini.. trus gimana rasanya?”

“Ya ga bisa keluar susunya dong, hehe..” balas Mita kocak.

“Hemm.. ya jelas, ntar kalo kamu melahirkan baru keluar air susunya…”

“Tapi rasanya gak geli loh Om.. beda banget kalo Om yang ngemut putingku..” ucapnya polos.

“Hahahahahaa… gitu yah.. hahahaa.. ada-ada aja kamu ini..”

“Yeee… Om ini dikasih tau kok malah mengejek..”

“Haha.. iya deh maafin Om… udah kamu siap-siap sana.. katanya mau ke mall”

“Sekarang!?”

“Iya sekarang… ntar habis dari mall kita singgah dulu ke rumahnya Bos, malam ini orangnya datang”

***

Pukul 15:25 aku dan Mita tiba di mall yang merupakan pusat perbelanjaan di kotaku. Sengaja tadi kubawa mobil karena beberapa hari ini sudah mulai turun hujan. Mall berlantai 6 itu terlihat lumayan ramai, tapi tidak sampai membludak pengunjungnya. Jadi kita masih nyaman kalau mau belanja atau sekedar melihat-lihat barang.

“Mita.. mau makan apa lihat-lihat dulu?” tanyaku yang berjalan beriringan dengan Mita dari area parkir.

“Ummm.. makan aja dulu deh Om… laper nih..”

“Oke..”

Kita lalu berjalan menuju area Food court yang letaknya di lantai 3. Kami sengaja tidak menggunakan lift karena memang ingin jalan-jalan melihat suasana. Begitu tiba di area food court kami langsung memesan beberapa makanan dari counter masakan korea, katanya Mita penasaran gimana rasanya makanan korea.

Sambil menunggu makanan datang, kami mengambil tempat duduk agak di pojokan. Di situ ada sebuah kursi panjang mirip sofa yang nyaman. Sesaat setelah kami duduk tiba-tiba Hpku berbunyi.

“Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam.. gi ngapain pah?” tanya istriku dalam sambungan telefon. Sepertinya dia mungkin merasakan kalau aku lagi jalan berduaan sama Mita dan menyelingkuhinya.

“Lagi di mall mah.. sama Mita jalan-jalan” jawabku jujur, aku tak pernah menyembunyikan apa yang kulakukan pada istriku, kecuali tentang persetubuhanku dengan Mita tentunya.

“Ohh… belanja nihh?”

“Enggak.. cuma jalan aja, bosen di rumah..”

“Nahh.. meski cuma jalan aja, papa jangan lupa beliin apa kek gitu buat Mita..”

“Beliin apa sih mah?” tanyaku bingung juga.

“Seorang perempuan pasti seneng kalo ada laki-laki yang rela beliin dia daleman lho pah..” balas istriku. Aku tak mendengar dia tertawa, berarti dia serius pada ucapannya.

“Hahahaa… mama bisa aja.. apa dia mau? Malah malu mungkin..” ucapku sambil melihat ke arah Mita yang mulai memakan mie ramen di depannya.

“Ehh.. beneran lho pah.. yaudah gini aja, anggap mamah yang titip dibeliin bra sama celana dalam buat Mita…” balas istriku masih ngotot pada kemauannya.

“Oke deh mah.. tapi bentar, sebenernya maksud mama paan sih? kok tiba-tiba minta papa beliin itu?” aku merasa ada udang di balik batu saat posisi seperti ini.

“Hihihi.. yaaa siapa tau setelah dibeliin bra sama celana dalam, besok-besok isinya bakal jadi milik papah….”

“Duhh.. mulai lagi nih mama.. aneh-aneh aja…” balasku merasa dikerjai oleh istriku sendiri.

“Eh, tapi beneran lho pah.. beliin yah…”

“Oke deh sayangku.. cintaku..”

“Ntar telfon lagi yah pa.. ada tamu tuh…”

“Siapa mah tamunya?”

“Bu Anik, mamanya Mita… udah ntar malem aja telfon lagi.. assalamualaikum”

“Waalaikumsalam..”

Kuletakkan kembali Hp milikku di kantong kemejaku. Aku sengaja tak meletakkan Hp itu di atas meja karena rawan ketinggalan kalau kita lupa. Langsung saja aku ikut makan, menyusul Mita yang sudah mau habis duluan.

“Siapa? Tante Ana ya Om?” tanya Mita

“He’emm..” jawabku sambil mengunyah makanan.

Setelah itu Mita tak bertanya lagi. Dia malah sibuk membalas chat yang masuk di Hpnya.

Kembali kita jalan-jalan memutari dalamnya Mall setelah selesai makan. Mita tampak cerah wajahnya, mungkin karena perutnya sudah kenyang. Sesaat mataku melihat counter pakaian dalam khusus wanita, akupun pura-pura iseng mengajak gadis cantik itu kesana.

“Lhoh Om.. kok ngajaknya ke sini sih?”

“Emang kenapa sayang?” balasku.

“Om ga malu apa? Ini kan counter pakaian dalam buat cewe”

“Malu? sebenernya iya juga sih.. cuma kan kita beli, bukan mo jadi maling.. pede aja lagi..” ucapku cuek.

Mau tak mau akhirnya Mita mengikuti langkahku melihat-lihat koleksi pakaian dalam di counter itu. Lumayan banyak modelnya dan bikin tambah bingung mau memilih yang mana.

“Mita.. kamu tau ukuranmu berapa kan?”

“Ya tau dong Om… hihi, mau dibeliin yah!?” kemudian Mita memberitahuku ukuran bra dan lingkar pinggangnya. Maaf info ini khusus buat ane aja, haha.

“Iya Om beliin, buat ganti daleman kamu yang dipinjam Riska” ucapku beralasan.

“Widiihh.. Om baru gajian yah? makasih deh Om..” ujarnya berbasa-basi padaku.

Akupun langsung memilihkannya Bra warna putih dan merah muda, semuanya model berenda-renda. Memang seleraku dari dulu sampai sekarang masih yang berenda pokoknya. Setelah itu aku meminta pada pelayan di situ untuk mencarikan celana dalam yang senada.

“Mbak tolong dong carikan bawahannya..” ucapku mbak-mbak penjaga counter pakaian dalam itu. Dia langsung mengambil bra yang kupegang lalu membawanya pergi.

Beberapa saat kemudian mbak-mbak penjaga counter pakaian tadi akhirnya kembali dengan membawa beberapa model celana dalam yang senada dengan model bra pilihanku tadi.

“Pak, silahkan dipilih, ada beberapa model yang cocok..”

“Iya mbak bentar…” aku lalu menoleh kebelakang mencari keberadaan Mita, tapi ternyata posisinya agak jauh dariku.

“Apa perlu saya panggil istrinya pak?” tawar mbak penjaga counter pakaian dalam itu.

“Eh, dia bukan… ahh sudahlah mbak yang ini aja..” balasku langsung memilih model celana dalam wanita yang biasa saja. Tapi tetap berenda tentunya.

Aku kemudian ke kasir dan membayar barang-barang yang kubeli buat Mita tadi. Entahlah, padahal ukurannya tidak selebar baju atau celana tapi kenapa harganya lebih mahal yah? Apalagi dipakainya buat di dalam, percuma dong kita beli kalau disembunyikan, Haha.

Selesai putar-putar di Mall, kamipun akhirnya pergi ke rumah atasanku. Orangnya tadi siang mengabari kalau malam nanti sudah tiba. Jarak dari Mall ke rumah atasanku itu hanya sekitar 10 menitan, hingga dengan cepat kamipun sudah sampai di depan rumahnya.

Saat aku keluar dari dalam mobil kulihat seorang laki-laki berjalan keluar dari rumah sebelah. Aku bisa memastikan kalau pemuda itulah yang kemarin bermain dengan Riska. Kalau ingat kejadian dengan Riska kemarin aku masih bisa tersenyum sendiri.

Ketika dia tadi melihatku pandangannya dingin, bahkan terlihat angkuh. Biasalah anak orang kaya. Namun saat Mita keluar dari dalam mobil matanya seakan tak mau lepas dari gerakan tubuh gadis cantik itu. Kuperhatikan dia berhenti sebentar saat mau masuk kedalam mobilnya, melihat dengan tatapan yang aneh pada Mita.

“Ayo sayang… kita masuk..” aku langsung menggamit tangan Mita dan kuajak masuk ke dalam rumah. Aku curiga dia pernah melihat Mita saat menjemput Riska di rumahku.

“Eh, ada apa sih Om?”

“Sudah.. ayo ikut saja..”

Kami berdua akhirnya masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya ku kunci pagar depan. Aku masih puya kecurigaan pada pemuda itu tadi, aku yakin dia penasaran pada keberadaan Mita di sini. Tapi aku tenang-tenang saja, kalau ada apa-apa aku tinggal hubungi bang Beny.

“Bosnya Om pulang jam berapa sih?” tanya Mita yang duduk di sebuah kursi depan televisi.

“Katanya sekitar jam 8 malam sih… ini tadi udah chat ngabarin kalo baru nyampe bandara” jawabku sambil melihat layar Hp.

“Ohh.. masih lama dong, ini aja baru jam 5 sore..”

“Iya tapi kita ga nungguin pemiliknya datang.. Om cuma nunggu security giliran jaga malam.. buat nitip kunci rumah” balasku.

“Oke Om.. kalo masih lama sih Mita mau coba barang yang tadi Om belikan.. hihi..” ucapnya genit. Entah kenapa dia jadi begitu yah!?

“Eh… beneran? Di sini?” tanyaku penasaran. Sebenarnya aku memang penasaran bagaimana Mita kalau memakai bra dan celana dalam yang kubelikan tadi.

“Om liat aja deh ya..”

Mita kemudian membalikkan badannya membelakangiku. Kemudian dia mulai melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya satu persatu sampai tak bersisa. Kini tubuh bugil Mita kembali tersaji di hadapanku. Batang penisku langsung bangun dari tidurnya, mengeras dan membesar secara sempurna.

“Jangan liat ya Om..”

“Lah.. kamu tepat di depan Om.. gimana bisa ga kelihatan?” balasku.

“Eh, iya bener, hihihi…” lama-lama cewe cantik satu ini genitnya makin bertambah.

Mita lalu mulai memakai bra dan celana dalam warna putih berenda yang tadi kubelikan, sesuai dengan seleraku pastinya. Walhasil Mita dalam balutan daleman pilihanku itu jadi semakin tampak cantik dan mempesona. Bra dan celana dalam warna putih berenda itu semakin memperlihatkan aura keibuan dan keromantisan dari sosok cewe bengal bernama Mita.

“Udah nih Om.. gimana?” tanya Mita sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Hemmm.. sesuai harapan Om… kamu jadi tambah cantik sayang…”

“Helehh.. Om ngegombal lagi deh..”

“Enggak… beneran lho”

Mita kemudian berjalan mendekati aku yang duduk di kursi yang berseberangan dengan posisinya. Lenggak-lenggok tubuhnya yang hanya terbalut bra dan celana dalam putih itu semakin membuatku horni tingkat dewa. Sungguh ‘sex appeal’ yang dimiliki gadis itu semakin berlipat-lipat saat itu.

“Beneran bagus ya Om?” tanya Mita yang kini berdiri tepat di depanku.

“I-iya beneran sayang… kamu makin cantik dan.. bikin horni” jawabku jujur mengatakan isi pikiranku.

Tiba-tiba kaki Mita melangkah dan mengangkangi kedua pahaku. Dalam sekejap dia sudah dalam posisi berada di pangkuanku. Aku bisa merasakan tubuh gadis ayu ini makin lama makin berisi, terutama bokong dan payudaranya.

“Lepasain dong Om.. kan udah dicoba…” ucap Mita menyodorkan buah dadanya di depan wajahku.

“I-iya.. oke…”

Tanganku perlahan mulai mencari pengait tali bra yang berada di sisi punggung Mita. Tak sulit bagiku karena aku telah berkali-kali melakukannya. Meskipun tanpa melihat aku sudah bisa membuka pengait bra itu.

“Hemmphh.. eemmphhh…. eemppphh…” mulutku langsung menyedot puting susu Mita begitu bra yang dipakainya berhasil kulepas dari tubuhnya.

“Aahhh.. sssshhhhh…. eummphh.. terus Om..” balas Mita merintih diantara rasa gatal, geli dan horni di tubuhnya.

Tangan Mita juga mulai membuka kancing kemeja yang kupakai dan menariknya lepas dari tubuhku. Kini kami berdua bertelanjang dada dengan posisi Mita duduk di atas pangkuanku. Aku terus mengerjai puting susu gadis cantik itu bergantian kiri dan kanan sampai semuanya nampak basah oleh air liurku.

“Terusin Om..ahh.. terusin.. haaahh…” pinta Mita dalam rintihannya. Kedua tangannya mengait leherku supaya wajahku tak pergi menjauh dari dadanya.

“Tunggu Mita.. tunggu.. apa yang kita lakukan ini salah..”

“Iya Om.. memang salah.. tapi kita menikmatinya..” balasnya, lalu kedua tangannya mengarahkan wajahku bertemu dengan wajahnya dan bibirnya yang lembut itu memagut bibirku dengan mesra.

“Emmmphhh.. ahh.. emmmphhh… aahh…” hanya itu yang bisa terdengar dari cumbuan-cumbuan kita berdua. Mita kalau sudah begini dia akan berubah jadi gadis yang liar dan haus kepuasan seksual.

Sambil masih saling berciuman dan saling menghisap lidah Mita kemudian turun dari pangkuanku. Dia kemudian jongkok di depanku lalu membuka ikat pinggang dan kancing celanaku. Hanya dalam sekejap saja celana jeans yang kupakai sudah lepas dari kedua kakiku.

“Waoww.. aku suka banget yang ini Om..” ujar Mita sambil tangannya mengelus batang penisku dari balik celana dalam yang masih menutupinya. Penisku jadi semakin tegak mengeras.

Tangannya lanjut melepaskan celana dalam yang kupakai, hingga akhirnya aku telanjang bulat lebih dulu daripada Mita. Dalam posisi jongkok di depanku itu mulut Mita tepat berada di depan penisku, langsung saja dia mengulum batangku itu.

“Aahhhh… mantab… hemmm..” lenguhku saat batang penisku di kocok cepat dengan memakai mulutnya. Jadi semakin pintar saja rupanya anak ini.

Beberapa saat kemudian batang penisku jadi basah oleh air ludahnya dan mulai berkedut-kedut menerima rangsangan dari mulut hangat milik Mita. Aku mulai tak sabar, kugendong tubuh Mita dan kubawa ke teras belakang rumah. Kulihat di situ ada kursi panjang tanpa sandaran tangan. Langsung saja kubaringkan tubuh Mita di atas kursi panjang tadi.

“Celana dalamnya Om buka ya sayang?” yang dijawabnya dengan senyum dibarengi dengan mengangguk pelan.

Kedua mata Mita yang nampak sayu karena horni itu kini menatapku. Ketika celana dalam warna putih yang baru kubelikan tadi mulai lepas dari pangkal pahanya. Dia tak berkata apa-apa tapi kedua tangannya mulai meremas-remas puting susunya.

Hemm… kini organ kewanitaan Mita kini telah berada di hadapanku. Sepenuhnya terbebas dari benda yang menutupinya dan terbebas pula dari rambu-rambu kenormaan yang merintanginya, sehingga malam ini aku bebas untuk melakukan apa saja.

Kusentuh bibir vaginanya, yang secara reflek kedua pahanya membuka, mempertunjukan belahannya yang berwarna merah jambu. Bulu-bulu yang menumbuhinya masih belum begitu lebat dan hanya tipis saja seperti bulu-bulu halus. Entah kapan terakhir kali dia mencukurnya.

Kuhirup sejenak aroma liang vaginanya yang sedikit menganga, aroma khas vagina wanita kian terasa. Lidahku kini mulai terjulur, menjilat pelan pada keratan daging basah yang berwarna merah jambu pada bagian tengahnya. Kulihat sesaat ekspresinya, yang mendesah pelan saat menerima sentuhan lidahku yang pertama. Kulanjutkan lagi aksiku, kali ini lidahku lebih lincah lagi bergerilya, tanganku mulai kugunakan untuk menyibak bibir vaginanya, praktis belahan vertikalnya itu kini menganga lebar mempertontonkan lapisan daging di baliknya.

“Aaaaaaaaagggghhhhhhhhh….” pekiknya, diikuti dengan gerakan tubuhnya yang menggelinjang saat kusapukan lidahku pada permukaan vaginanya. Semakin lama kusapukan lidahku pada bibir kemaluan Mita, wajahnya jadi mendongak ke atas dan bola matanya hanya nampak putihnya saja.

“Srrruuuupphhh.. !!” kusedot agak kuat daging lembut yang mulai mengeluarkan cairan bening yang sedikit asin itu. Sepertinya dia tadi agak terkejut, ditandai dengan gerakan bokongnya yang menyentak sesaat. Kelentit yang letaknya sedikit agak di ataspun tak luput dari sedotan mulutku dan spontan membuat erangannya semakin keras.

“Uuuggghhhhhhh… sedaaaaaaappppp… jilatin terus Om… uuuugghhhnh…” desah Mita sambil kedua tangannya terus meremasi payudaranya sendiri.

Aku kini bukan sekedar menjilat, bahkan sesekali kusedot dengan kuat liang senggama milik Mita. Otomatis perlakuanku itu semakin membuatnya menggelinjang keenakan. Hingga akhirnya terdengar erangannya yang keras dan kuyakini itu adalah tibanya puncak kenikmatannya.

“Aaaaaaaauuuhhhhh… Ooommmmm…” sebuah pekikan yang panjang, dibarengi dengan bokongnya yang terangkat ke atas sehingga mulutku terbenam di dalam liang kewanitaannya yang semakin basah oleh cairan nikmat itu.

Setelahnya, gadis itu terdiam. Menyisakan nafasnya yang kembang kempis. Aku kemudian merangkak naik di atasnya. Kutatap wajahnya.. wajah yang kini tersenyum bahagia kearahku.

“Fiiuuhhh.. makasih Om.. Eh, sini cium dulu dong… mmmm..” pintanya manja, sambil memonyongkan bibir dan sedikit memejamkan matanya. Kukecup bibirnya dengan lembut, namun tak kusangka justru dibalasnya dengan lidahnya yang menelusup kedalam rongga mulutku, leherku ditarik hingga kami bergumul untuk beberapa saat.

“Siap melangkah lebih jauh?” tanyaku yang menaikkan alisku sebelah. Kini posisi batang penisku telah mengarah pada liang vaginanya yang terlihat rapat di pinggirnya namun menganga di tengahnya.

“Apa Om? Om Andra mau ngentot? yakin nih…” balasnya genit. Entah mengapa perkataan vulgarnya itu terdengar begitu seksi bagiku.

“Ayo deh Om.. cepet entotin Mita Om.. hihi..” Ah, tak kuasa aku mendengar kata-kata yang menggoda itu dan akhirnya secara bernafsu kulesakkan penisku pada liang vaginanya.

“Aduh… Ommm… pelan..!!” pekiknya, seolah menghapus tawa yang beberapa detik lalu masih menghias wajahnya.

Vagina gadis cantik nan manja itu mulai basah, bahkan terasa becek akibat keluarnya cairan pelumas alaminya yang merembes terus menerus. Tapi aku bersyukur juga, keluarnya cairan pelumasnya itu membuat gerakan penisku yang mengocok memeknya semakin lancar dan semakin nikmat pula. Mulutnya Mita sudah tak lagi mengeluh sakit, sekarang malah ganti melenguh nikmat.

“Gimana sayang… enakkan batangnya Om? Sakiittt yah ??” bisikku pada telinga kirinya.

“Aaagghh… nggaaaak kok Om… udah enak…tapi… ahhh… enaaakkkkk…” jeritnya lagi.

“Nggak terasa nikmat ya sayang?” bisikku lagi.

”Aahh.. Terasa kok Om…aahh.. terasa… nikmaat..“ balasnya dengan mendesah. Aku pun menghujamkan penisku semakin dalam pada liang kewanitaannya.

“Aaghh.. ahh.. ahh…” kedua mata Mita terpejam, sementara bibirnya digigit. Tapi ekspresi yang terpancar di wajahnya adalah ekspresi kepuasan.

Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di liang vagina Mita. Diiringi erangan dan desahannya setiap aku menyodokkan penisku, hanya dengan mendengarnya saja membuatku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakanku.

“Ahh… ahh… ayo Oommm… terus..” Mita makin keras teriakannya.

“Iya sayang.. tahan.. yah.. Hoohhh… Hooohh..” ucapku dengan nafas tersengal-sengal.

“Aaduuh… oooohh… ssshh.. Omm… Aku.. ahhh.. aku…ahhh….aku..akh… oohhh”

Kaki Mita bergetar dengan hebat. Keduanya melingkar dengan erat pada pantatku. Dengan mata yang membeliak dan tubuh menghentak-hentak, Mita kembali mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan. Selang sesaat kemudian badan Mita sudah terkulai lemas dengan kedua kakinya masih tetap melingkar pada pantatku.

Dengan tersenyum melihat wajah Mita, aku tetap melakukan goyangan-goyangan memutar dengan lembut. Kali ini aku tidak menekan, karena aku tahu kalo seorang wanita telah orgasme, pasangannya harus mengikuti gerakan pinggul wanita tersebut.

“Ahhh.. Mita.. gantian Om yang keluar nih.. mau dimana?” tanyaku sambil masih terus menggoyang pinggulku.

“Aahhh.. di mulut aja Om.. aku pengen..” balasnya lemah.

Aku pun buru-buru mencabut penisku dari jepitan memek Mita karena kedutan di kontolku itu semakin kuat terasa. Kuarahkan ujung kejantananku itu tepat pada mulut gadis cantik itu, lalu tanpa basa-basi mulai mengocoknya. Hingga akhirnya kurasakan getaran nikmat melanda sendi-sendi tubuhku.

“Aaaaaaaaaaaahhhhhhh…. peju Om keluar sayang…. aaaaaaaaaaaggghhhhh….”

Crottt..croott…croottt… Beberapa kali semburan spermaku akhirnya menyirami rongga mulut Mita, seorang gadis cantik yang di titipkan padaku oleh tetangga samping rumahku.

“Aahhhmm… glekk…ehhm… glek.. emmm…” tanpa kesulitan Mita menelan semua cairan sperma yang kusemburkan dalam mulutnya tadi. Sungguh perlakukan yang seharusnya menjijikkan, tapi entah kenapa saat itu jadi mengagumkan.

Tubuhku yang mulai terasa lemas akhirnya terduduk pada sebuah kursi di samping posisi Mita berbaring. Batang penisku yang masih setengah tegang itu terasa berkedut-kedut dengan lelehan cairan putih kental di ujungnya. Sedangkan badanku serasa mandi keringat, padahal malam itu seharusnya suhu udara terasa dingin.

“Hemm.. rasanya enak lho Om pejuhnya..” ujar Mita yang kini bangun dari posisi tidurnya.

“Hadeehhh… lemes aku sayang… kamu sih mainnya hot banget..”

“Enggak gitu Om.. sebenernya itu karena dari kemaren Om lihatnya perempuan telanjang terus sih..” balas Mita sambil merapikan untaian rambutnya yang acak-acakan.

“Eh.. bentar… kamu bisa nelen pejuh gitu belajar dari mana sih Mita?” tanyaku lagi.

“Hehehe… dari ahlinya dong Om… Riska..”

“Haduuhh.. Riska lagi deh… ada apa sih dengan dia?”

Bersambung