Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 42

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Gwen Milikku Part 42 – BanyakCerita99 – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Bersambung – Cerita Sex Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 41

Love Talk

Setelah pernikahan mereka, Gwen dan Max resmi tinggal di LA. Gwen juga sudah tidak bekerja lagi karena itu permintaan Max, wanita muda itu boleh bekerja lagi jika anak mereka sudah cukup besar dan bisa ditinggal bekerja. Teman-teman kantor Gwen sesekali mengunjunginya begitu juga dengan Tasya -sahabatnya.

Pernikahan ini membawa perasaan Gwen lebih baik, ia merasa bebas dan tidak merasa tertekan dengan keinginan keluarganya lagi. Sekarang ia punya Max yang akan selalu melindunginya dan bayi yang ada didalam kandungannya, buah cinta mereka.

Dan untuk berita kencan yang sempat menjadi hot news selama seminggu, Max sudah memberikan klarifikasi bahwa benar mereka sudah lebih dari beberapa tahun berkencan dan sekarang mereka sudah menikah. Gwen bahkan muak sekali melihat berita-berita entah itu di majalah, televisi, radio ataupun ponsel, ada berita tentang dirinya dan Max yang sudah melangsungkan pernikahan.

Kemarin saja saat Gwen bosan dirumah dan memutuskan untuk pergi ke jalan-jalan ke mall bersama Elleana, mereka bertemu dengan Alexa Smith dan Alli Martinez saat sedang makan. Tentu saja kedua wanita itu langsung menyapa Elleana mengingat wanita paruh baya itu begitu aktif dikalangan kelas atas, mau tidak mau mereka juga menyapa Gwen.

Gwen sendiri dengan hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan, dapat Gwen lihat keterkejutan keduanya saat melihat perutnya yang membuncit. Kedua wanita itu jelas syok meskipun sudah tahu bahwa Gwen dan Max menikah, tetapi tidak ada konfirmasi lanjutan bahwa Gwen tengah hamil besar.

“Aku tidak tahu Gwen sedang hamil sekarang.” Ujar Alexa jujur dengan keterkejutannya.

Elleana tersenyum manis dan menggeleng pelan, “kami sengaja tidak memberitahu media. Gwen benar-benar butuh waktu tenang. Semua orang akan tahu nanti setelah bayinya lahir, aku janji.”

“Baiklah Aunty, dan Gwen selamat untuk kehamilanmu. Kalau begitu kami permisi dulu.” Lalu kedua wanita itu pergi dari padangan sepasangan menantu dan mertua tersebut.

Sekarang usia kehamilan Gwen memasuki delapan bulan. Dan untuk jenis kelaminnya ia dan Max sudah saling tahu tapi tidak memberi tahu keluarga mereka. Max sangat tidak sabar menanti kehadiran buah hati mereka, pria itu bahkan sudah menyiapkan nama dan juga kamar yang sudah dipenuhi keperluan bayi.

“Oh iya, Mommy teringat sesuatu.” Gwen menatap ibu mertuanya seolah menanti kelanjutan perkataan Elleana.

“Mommy pertama kali melihatmu pada saat pesta dikediaman Smith. Tapi sekarang melihat kalian tidak akrab Mommy jadi bingung.”

Gwen terkekeh pelan sebelum menjelaskan hal yang ditanyakan oleh Elleana,

“sebenarnya kami tidak dekat. Alexa waktu itu merasa aku adalah perusak hubungannya dengan Jeff William, padahal tidak sama sekali. Lalu dia menyuruhku datang kepesta dan membuktikan aku tidak menggoda Jeff William.”

Mengikuti Gwen, Elleana sekarang tertawa kecil. “Pemikiran bodoh macam apa itu. Padahal kau sudah berkencan dengan Max kan?” Gwen mengangguk mengiyakan.

“Aku juga berpikir bahwa Jeff William hanya penasaran dengan hubunganku dan Max. Pria itu tidak sengaja pernah melihat Max menjemputku sebelum ada berita atau siapapun yang tahu.”

“Jika dipikir-pikir mungkin Jeff William melakukan itu agar posisinya aman, Alexa tidak bisa kembali dengan Max jika Max sudah punya dirimu Gwen.”

“Benar, dan jika dipikir-pikir lagi sepasang kekasih itu sangat mengawasi semua orang yang berkemungkinan mengusik hubungan mereka.”

“Terdengar sangat masuk akal dan berlebihan.” Elleana dan Gwen tertawa, merasa pembicaraan mereka lucu.

“Sebaiknya kita pulang sekarang.”

Gwen mengangguk menyetujui ajakan ibu mertuanya, mengingat Max akan pulang kerja sebentar lagi. Mereka turun ke basemen dimana mobil sudah menanti. Tetapi saat keluar dari lift, Gwen ditabrak seseorang berbadan besar dengan keras membuat wanita yang tengah hamil itu terjatuh. Membawa keterkejutan, ketakutan dan teriakan.

Secepatnya Gwen dibawa kerumah sakit terdekat. Elleana mencoba menenangkan Gwen yang sedari tadi meringis kesakitan, bahkan darah sudah mengalir dikakinya. Dan sesampainya disana, Gwen segera dibawa keruang darurat untuk diatasi sedangkan Elleana menghubungi anaknya agar menyusul kerumah sakit.

Tidak perlu waktu lama bagi Max sampai disana dengan pakaian berantakan dan wajah yang panik, pucat dan berkeringat.

“Kenapa bisa seperti ini bu?”

Dengan tangisnya Elleana menjelaskan kejadian yang bisa membuat Gwen begini. Max marah sekali mendengar hal itu, istrinya didalam berjuang dengan kesakitan yang bukan waktunya dan itu sangat menyakiti Max.

Ia menghubungi anak buahnya untuk mencari pelaku di mall dan menyuruh pengacaranya membawa hal ini ke jalur hukum dengan memberi sanksi seberat-beratnya.

“Ada yang bernama Max disini?” Saat pintu terbuka, langsung Max mengajukan dirinya dan memakai pakaian khusus masuk ruang operasi.

Dilihatnya Gwen terlihat lemas diatas brankar, Max menggenggam tangan istrinya dan mengecupi wajah Gwen seraya berkata semua akan baik-baik saja meskipun hatinya juga ketakutan.

Dokter bilang ketuban robek dan Gwen harus melahirkan lebih awal dari waktunya. Gwen tidak hentinya menangis sedari tadi dan Max meminta dokter untuk melakukan yang terbaik agar ibu dan anak sama-sama selamat.

Beberapa jam selama proses persalinan Max terus berada disisi Gwen tidak membiarkan wanita itu tertidur meskipun wanita itu merasa mengantuk. Tangisan bayi terdengar memekakkan telinga mereka setelah beberapa jam diruangan itu tidak banyak suara. Max tersenyum menahan tangis dan mengecupi wajah Gwen yang juga merasa lega.

“Terimakasih sayang, terimakasih.”

Bayinya dibersihkan dan Gwen harus diselesaikan jahitannya. Lalu seorang perawat kembali datang dengan bayi digendongnya,

“Selamat Nyonya dan Tuan. Putera kalian lahir dengan sempurna dan sangat tampan.”

Bayi itu diletakkan di dada polos Gwen agar mereka melakukan skin to skin dengan selimut yang menutupi keduanya. Setidaknya diruangan ini hanya Max laki-lakinya jadi Max sedikit lebih tenang.

Dengan tangan gemetar Max mengusap kepala bayi yang bersandar nyenyak diperlukan ibunya. Begitu kecil dan tidak berdosa. Bayi mereka prematur dan masih harus ditaruh di inkubator tak berapa lama setelah skin to skin dirasa cukup. Gwen dan bayinya juga dipindahkan keruang rawat inap, membuat Elleana bisa ikut masuk dan melihat bayi tampan yang berada di kotak transparan itu.

“Terimakasih sudah berjuang Gwen, dan selamat atas kelahiran bayi kalian. Aku senang sekali akhirnya aku bertambah cucu, orangtuamu sudah ku kabari dan mereka dalam perjalanan kemari. Ngomong-ngomong siapa namanya?”

Gwen menatap Max seolah bertanya pasalnya ia juga tidak diberitahu oleh pria itu. Max tersenyum tipis seraya menggenggam tangan Gwen yang bebas infusan.

“Matthew Adam Beauchamp.”

“Matthew?”

“Iya, berarti hadiah dari Tuhan.” Max mengecup punggung tangan Gwen dan menatap wanita itu penuh cinta.

“Hadiah dari Tuhan untuk tetap menyatukan kita. Terimakasih sayang, aku mencintaimu.” Kecupan manis Max sampirkan pada bibir pucat Gwen.

“Aku juga mencintaimu.”

“Aku sangat, lebih lebih lebih lebih mencintaimu.”

TAMAT