Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 41

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Gwen Milikku Part 41 – BanyakCerita99 – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Bersambung – Cerita Sex Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 40

Unexpected 2

Elleana tidak pernah berhenti untuk terus berusaha menjadikan Gwen dan Max bersatu. Ia menuturkan semua sifat baik Max pada Hans dan mengatakan bahwa anaknya sangat layak menjadi menantu keluarga Adam. Masalah budaya yang berbeda tidaklah menjadi sebuah penghalang berarti bagi Elleana jika pasangan satu sama lain bisa saling mengerti dan menerima.

Dan Elleana yakin benar bahwa anaknya bisa menjadi suami, kepala keluarga bahkan ayah yang baik mengingat Max suka sekali dengan anak-anak dan sangat memanjakan para keponakannya. Max sangat bisa memenuhi syarat untuk menjadi pendamping Gwen.

Ibu dari dua orang anak itu juga membuat pertemuannya sendiri dengan Hans juga Anggun tanpa diketahui oleh Max. Elleana mengatakan bahwa mereka tidak bisa melakukan apapun selain memberi support dan restu untuk sepasang sejoli itu.

Bahkan dengan blak-blakan Elleana bilang ia tidak merasa rugi sama sekali jika lamaran anaknya ditolak karena yang akan merasakan itu adalah orangtua pihak perempuan, banyak kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan terjadi jika dua orang yang saling mencintai itu tidak dinikahkan.

Kemungkinan terbesarnya adalah Hans dan Anggun akan kehilangan puteri mereka. Entah itu hilang nyawa, hilang perasaan atau hilang orangnya dibawa kabur kekasihnya yaitu Max anak Elleana sendiri. Memisahkan mereka bukanlah hal yang bijak menurut Elleana yang disetujui oleh Anggun. Kedua wanita itu bahkan meminta Hans agar seluruh keluarga mereka berkumpul dan dipertemukan dengan Max serta keluarganya.

Oleh karena itu juga Max tidak langsung pulang bahkan mereka berempat kembali melakukan pembicaraan. Dan malam itu juga Hans menerima lamaran Max dan akan memberitahu hal ini dengan keluarga besar mereka.

Awalnya Hans mengatakan bahwa ada banyak hal yang perlukan untuk meresmikan hubungan Gwen, diantaranya dua pihak keluarga harus saling bertemu dan mengenal, harus ada juga lamaran secara resmi, pertunangan dan segala rentetannya.

Tetapi saat Max tahu Gwen hamil, pria itu memberitahu ibunya dan ibunya memberitahu keluarga Gwen. Alhasil pernikahan mereka dipercepat, dalam seminggu Gwen sudah melewati hari panjang mengikuti proses pra-nikah khas orang jawa mengingat keluarga pihak ibunya memang orang asli jawa. Acara sungkeman pada orangtua, siraman, bahkan Gwen dan Max melakukan pingitan.

Anggun sejak hari pertama mengerjai Gwen dengan tidak mengatakan siapa calon suaminya, itu karena ibunya kesal padanya bahkan sedikit marah mendengar kabar Gwen hamil. Meskipun tidak menampik rasa bahagia karena akan mendapatkan cucu pertama, tetap saja Anggun dan Hans merasa kecewa dengan salah jalan yang Gwen lalui.

Hingga tiba di hari H, Gwen memakai pakaian khas adat jawa untuk pemberkatan hari ini juga melakukan prosesi pernikahan yang sudah ditentukan. Hans dan Anggun sudah menungguinya tepat didepan pintu utama masuk kedalam Aula Hotel yang sudah menjadi tempat dilaksanakannya pernikahan Max dan Gwen.

Dengan jantung yang berdebar-debar, Gwen menyahutkan tangannya agar melingkar dilengan sang ayah berjalan masuk menuju tempat dimana sudah ada Max menungguinya.

Gwen tidak melepas tatapannya sama sekali dari Max yang terlihat sangat tampan dengan balutan pakaian khas adat jawa yang begitu serasi dengannya.

Dan mereka pun sampai dia hadapan Max dan Hans memberikan putrinya tanpa bicara satu patah katapun. Max dengan senang hati menerima Gwen dan mereka bersumpah dihadapan pendeta, para tamu undangan dan pada Tuhan, berjanji untuk menjadi suami-istri yang akan mencintai sampai akhir hayat.

Selepas acara pemberkatan yang mengesahkan mereka sebagai sepasang suami-istri, acara pernikahan belumlah usai karena Upacara panggih akan dimulai. Berurutan dari Liron kembar mayang atau saling tukar kembar mayang antar pengantin, lalu Gantal yaitu daun sirih digulung kecil diikat benang putih yang saling dilempar oleh masing-masing pengantin, dengan harapan semoga semua godaan akan hilang terkena lemparan itu.

Ada juga Ngidak endhog (menginjak telur) dimana Max menginjak telur ayam sampai pecah. Lalu Gwen mencuci kaki suaminya dengan air bunga setaman. Berlanjut mereka meminum air degan, di-kepyok dengan bunga warna-warni, Sindur

Sindur atau isin mundur, artinya pantang menyerah atau pantang mundur. Maksudnya pengantin siap menghadapi tantangan hidup dengan semangat berani karena benar

Setelah melalui tahap panggih, pengantin diantar duduk di pelaminan. Di sana dilangsungkan tata upacara adat Jawa, yaitu Timbangan, lalu ada kacar-kucur dimana Max mengucurkan penghasilan kepada Gwen berupa uang receh beserta kelengkapannya. Mengandung arti pengantin pria akan bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarganya.1

Sesi selanjutnya adalah Gwen dan Max saling menyuapi. Dan hal paling menguras emosi adalah saat acara Sungkeman. Meskipun Gwen sebelumnya sudah melakukan acara Sungkeman sebelum menikah, tetapi setelah menikah pun rasa bersalahnya masih sama besar. Dalam acara sungkem ini ia mengungkapkan bakti kepada orang tua, serta mohon doa restu, tangis larut dalam acara sungkem ini apalagi ketika Gwen berlutut mencium tangan ayahnya.

Begitupula dengan Elleana dan Max yang sebelumnya tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini. Meskipun tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia, tetapi Elleana dapat merasakan sekali suasana emosional yang melingkupi mereka. Ia mengusap kepala anaknya dan mengucapkan semoga berbahagia dengan hidupnya yang baru.

Gwen dan Max juga melakukan sungkem dengan Kakek Nenek Gwen dari pihak Ibu dan Nenek dari pihak ayah Gwen. Mereka mengucapkan semoga berbahagia dalam menempuh hidup baru dan harus berusaha menerima sifat pasangan kita apapun itu. Semua prosesi itu berlangsung sampai makan siang dan menjadi pemberhentian bagi mereka agar break sejenak.

Semua orang mulai menikmati hidangan sedangkan Max dan Gwen harus berganti pakaian untuk resepsi selepas makan siang. Gwen mengenakan gaun yang sempat ia pilih sembarang kemarin-kemarin dan gaun itu sangat cantik dipakainya.

Sedangkan Max masih sibuk makan dengan sesekali menyuapi Gwen yang sedari tadi sibuk mengulang make up, mengurus rambut dan berpakaian. Tidak lupa Max juga menyuruh Gwen minum susu hamil untuk Gwen, karena pagi tadi ia sudah memastikan orang suruhannya untuk memberikan wanita yang sekarang jadi istrinya beberapa vitamin. Jadi kebutuhan si kecil tidak akan kekurangan.

“Aku cantik gak pakai ini?”

“Kamu selalu cantik dimataku. Pakai apapun kamu cantik, bahkan tidak pakai apapun malah tambah cantik aww-” cubitan berhasil Max dapatkan dari Gwen yang sekarang mendelik kesal padanya.

“Kamu mesum gak tau tempat ih. Malu sama orang.”

“Lagipula kamu kenapa bertanya begitu? Tidak tahu aku sudah berapa kali mengatakan kau sangat cantik hari ini, kenapa masih bertanya?”

Gwen berdecak kesal, sedari awal mereka bertemu di waktu pemberkatan Max terus memujinya cantik sampai tadi make up-nya dihapus. Tapi kan tetap saja penampilan tadi dan yang ini kan berbeda, bisa saja kan kali ini look nya tidak bagus dimata pria itu? harusnya Max berikan komentar tentang itu.

“Iya maaf. Kamu cantik kok pakai itu, sangat cantik. I love you.”