Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 40

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Gwen Milikku Part 40 – BanyakCerita99 – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Bersambung – Cerita Sex Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 39

Unexpected 1

Pagi itu harusnya Gwen pergi ke kantor setelah perdebatan alotnya dengan Max yang melarangnya untuk bekerja. Dan sekarang Gwen memang tidak bisa masuk kerja karena saat ia dan Max akan keluar dari apartemen, ada beberapa orang suruhan ayahnya datang.

Gwen hafal dengan beberapa orang saja yang kemarin mengantarnya ke LA, jadi untuk lebih jelasnya ia menelfon sang ibu. Anggun membenarkan hal itu dan menyuruh anaknya untuk ikut dengan mereka kembali ke Indonesia.

“Max bagaimana ini? Apakah ayahku sudah menemukan pilihannya?”

Max menghela nafas dan menatap Gwen seolah meyakinkan.

“Ikutlah dengan mereka. Aku akan menyuruh beberapa bodyguard-ku ikut denganmu. Kalian akan ke Indonesia dengan pesawat pribadi ku.”

“Dan tentang keputusan ayahmu, apapun yang ia pilih itu tidak akan bisa membuatku berpisah denganmu.” Setelah mengatakan itu Max mengantarnya sampai ia masuk kedalam pesawat.

Butuh waktu 21 jam lebih bagi Gwen untuk sampai di Indonesia lebih tepatnya Jakarta. Gwen sampai lewat tengah malam dan semua orang sudah tertidur, beruntung salah satu pekerja rumahnya ada yang jaga malam jadi ia bisa masuk ke rumahnya.

Gwen masuk kedalam kamarnya dan menghidupkan lampu kamarnya, seketika rasa rindu menguap. Cahaya tumblr yang menghiasi tempat tidurnya hidup bersamaan dengan lampu kamar. Gwen masuk kedalam menutup pintu kamarnya dan memilih untuk berganti baju, lalu mematikan lampu kamar membiarkan tersisa lampu tumblr yang hidup sebelum merebahkan diri diatas kasur empuk yang rasanya sudah lama sekali ia tinggalkan.

Matanya menatap dinding yang berada tepat didepan tempat tidur sekarang terlihat gelap dan sangat cantik jika dilihat di pagi atau siang hari, itu adalah dinding yang berlumur warna yang ia kerjakan sewaktu ia kelas tiga SMP. Dulu melukis adalah hobinya dan menjadi pelukis adalah cita-citanya.

Tak mau banyak berpikir, Gwen memilih untuk istirahat. Penerbangan jauh baru ia lalui disaat ia hamil muda seperti ini. Merasa kelelahan berlebihan tidaklah baik bagi ibu hamil, Gwen tidak mau terjadi apa-apa pada anaknya.

Setidaknya melakukan penerbangan dengan pesawat pribadi sangatlah menyenangkan, jika ingin tidur Gwen bisa tidur. Jika ingin makan, apapun akan disediakan untuknya. Dan jangan lupakan tentang Max yang menyuruh dua orang dokter untuk ikut serta dalam penerbangannya kali ini.

Rasa kantuk mendatanginya dan Gwen memang butuh tidur sekarang meskipun sedari tadi ia kebanyakan tidur.
Disaat kita tertidur waktu berlalu begitu cepat bahkan terasa seperti satu kedipan mata hari esok sudah datang. Suara gorden yang dibuka mengusik tidur Gwen apalagi saat cahaya matahari menerpa dirinya.

“Bangun, sudah pagi. Mandi dan turun kebawah.” Anggun pergi begitu saja setelah memastikan Gwen bangun dan mendengarnya.

Gwen sendiri segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu setelah memakai salah satu pakaiannya yang masih banyak tertinggal disini dan bercermin sebentar untuk menyisir rambut ia turun ke lantai bawah.

Diruang makan sudah ada kakak-kakaknya juga ayah ibunya. Gwen duduk ditempatnya yang dulu yaitu disamping ibunya,

“Pagi.”

Jawabannya masih sama, hanya Anggun yang menjawab sapaannya setelah semua orang hanya mengangguk sekilas. Tanpa peduli Gwen mengambil makanan pagi sendiri dan makan tanpa bicara.

Selesai makan semua orang pergi ke kantor kecuali Gwen dan Anggun yang masih berada diruang makan itu.

“Gwen bersiaplah, nanti kita harus pergi ke butik.”

“Untuk apa?”

“Untuk mengukur pakaian tentu saja.”

“Iya Gwen tahu, tapi mengukur pakaian untuk apa?”

Gwen ingat benar jika keluarganya tidak akan mengadakan acara apapun diwaktu dekat, bahkan pernikahan Hana -kakak perempuannya saja masih satu tahun lagi.

“Untuk gaun pengantinmu. Sudah jangan banyak bertanya lagi, sana bersiap-siap.”

Gwen ingin kembali bertanya lagi tetapi ibunya sudah pergi lebih dulu.
Dengan segala pertanyaan dikepalanya Gwen pergi ke kamarnya dan bersiap-siap. Saat kembali ke bawah, ternyata Anggun sudah menunggunya dimobil.

“Ma, gaun pengantin untuk apa? Jika untukku aku tidak mau. Aku juga tidak tahu dengan siapa Mama akan menikahkan aku.”

Tetapi Anggun tidak membalas perkataannya sama sekali, wanita yang berstatus sebagai ibunya itu malah sibuk dengan ponselnya.

“Ma..”

“Gwen nanti juga kamu akan tahu. Ini kamu pilih yang mana?” Anggun menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan beberapa souvernir. Dengan asal Gwen menunjuk salah satunya.

“Tapi Ma.. bagaimana dengan Max?”

“Bagaimana dengan ini? Kamu suka konsep yang bagaimana?” Gwen kembali menujuk salah satu dekorasi ruangan di ponsel Anggun.

“Undangannya kamu bagus yang mana?”

“Mama.” Gwen benar-benar sudah habis kesabaran. Ibunya sama sekali tidak menggubris pertanyaannya dan itu sangat menyebalkan.

“Gwen, Mama janji ini tidak akan mengecewakan kamu. Jadi ikuti saja permintaan Mama dan pilih sesuai keinginanmu.”

Gwen menggeleng pelan, “aku gak bisa Ma. Aku gak bisa menikah jika bukan Max sebagai pasanganku.”

“Ayo turun. Kita sudah sampai.” Gwen berdecak kesal saat ia mau tidak mau harus turun dan masuk kedalam butik langganan keluarganya.

“Ayo Gwen pilih salah satu gaunnya agar bisa sesuaikan ukurannya nanti. Kita tidak sempat membuat gaun dari awal.”

“Ma..”

“Ayo pilih, kamu suka yang mana.” Gwen menunjuk salah satu gaun yang sedikit menarik perhatiannya. Sedari awal Gwen memilih ini dan itu dengan asal saja karena ia lebih penasaran dengan rencana orangtuanya yang ingin menikahkan dirinya, tanpa ia tahu siapa calon suaminya.

“Pilihan yang bagus.”

Lalu Gwen melakukan pengukuran sebentar setelah mencoba gaun tersebut agar bisa dikira-kira oleh designer-nya.

“Sudah selesai untuk hari ini.” Dengan riangnya Anggun berkata demikian tanpa peduli dengan Gwen yang sedari tadi menanti klarifikasi.

“Kita akan bertemu seseorang setelah ini. Jangan sampai kita terlambat.”

Gwen kembali mengikuti ibunya yang memasuki mobil, sampai mobil yang mereka tumpangi sampai disalah satu cafe yang biasa menjadi tempat pertemuan ibu-ibu sosialita. Gwen sudah tak banyak bertanya atau protes lagi karena ia yakin seratus persen bahwa Anggun tidak akan pernah membuka mulutnya.

Sedari tadi Gwen juga mengirim pesan pada Max tetapi pria itu tidak kunjung membalasnya meskipun Gwen merasa keadaan sekarang sangat genting untuk hubungan mereka.

“Maaf ya kami datang terlambat.” Ucapan sang ibu dalam bahasa Inggris membuat Gwen mengangkat wajahnya, ia terkejut mendapati seorang wanita paruh baya yang kini memeluk pelan ibunya seolah menyambut itu.

“Tidak masalah, aku juga baru sampai.” Kini perhatian wanita itu teralih padanya.

“Gwen apakabar? Senang bisa bertemu denganmu lagi, apalagi sekarang kita akan menjadi keluarga.”

Keluarga? Maksudnya? Otak Gwen masih mencerna semuanya apalagi melihat Elleana berada didepannya dan berkata demikian.

“Apa kalian belum memberitahu Gwen bahwa kalian sudah setuju?”

Bersambung