Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 38

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Gwen Milikku Part 38 – BanyakCerita99 – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Bersambung – Cerita Sex Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 37

Gift 1

Gwen memuntahkan semua yang sedari tadi membuat perutnya bergejolak, ini sudah terhitung dua hari ia seperti ini. Ia juga merasa tidak enak badan dan itu sepertinya datang karena Gwen sempat terkena hujan dijalan saat Cherry mengajaknya berjalan-jalan keliling kota dengan motor. Gwen yakin sebentar lagi ia akan benar-benar jatuh sakit.

“Gwen, kau baik-baik saja?” Cherry memijat tengkuknya pelan. Saat ini mereka sedang berada di apartemen Cherry bersama Mandy dan Rebecca juga.

“Maafkan aku, apa mungkin kau sakit karena hujan-hujanan? Sebaiknya kita periksakan ke dokter.” Gwen menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum tipis.

“Aku tidak apa. Mungkin dengan minum sesuatu yang hangat lalu istirahat, aku jadi lebih baik.”

Cherry membantunya berjalan dan mendudukkan dirinya di kasur. Fyi Gwen juga sudah menginap di apartemen Cherry sejak adegan hujan-hujanan kemarin lusa, dan untuk orang suruhan yang Max katakan waktu itu Gwen juga tidak pernah melihat mereka lebih tepatnya tidak menyadari keberadaan mereka yang menjaganya jadilah Gwen merasa lebih nyaman dalam beraktivitas.

“Aku akan buatkan teh.” Gwen mengangguk dan merebahkan dirinya dikasur, menolehkan wajahnya pada Rebecca dan Mandy yang ikut memperhatikan dirinya mem-pause film yang sedang mereka tonton.

“Maafkan aku mengacaukan acara nonton kita.”

“Ya ampun Gwen jangan berpikir begitu oke, kami tidak masalah sama sekali.” Sambut Rebecca seraya mencomot kentang goreng yang mereka sudah pesan sebelumnya.

“Maaf.” Gwen merungis kecil, meskipun mungkin teman-temannya benar merasa tidak masalah tetapi tetap saja ia merasa tidak enak.1

“Gwen…”

“Apa?” Mandy sedari tadi menatapnya menyipit seolah menyelidiki.

“Apa kau mungkin kau hamil?” Pertanyaan itu membuat syok semua orang termasuk Gwen, bahkan Cherry hampir saja menumpahkan teh di mug yang ia pegang. “Aww-” tepukan dipaha Mandy dapatkan dari Rebecca.

“Astaga, aku hanya menduga.”

Gwen masih terdiam dengan pikiran yang traveling, mengingat kejadian demi kejadian juga kapan terakhir kali ia menstruasi. Tapi mungkinkah secepat ini? Ya meskipun Gwen sudah melepas implannya tapi rasanya begitu cepat sekitar dua bulan lebih, tidak sesuai dengan mitos-mitos yang ia baca tentang susah hamil setelah memakai implan.

“Aku tidak yakin.” Ujar Gwen ragu.

Benarkah ia hamil? Tapi sejak kapan? Apakah karena kejadian di apartemen Max waktu itu? Masalahnya hanya satu kali itu mereka bercinta setelah sampai sekarang tidak pernah lagi, bahkan Max belum juga kembali dari Madrid terhitung dua hari sejak kemarin lusa.

“Tapi tidak ada salahnya diperiksakan ke dokter. Dokter umum saja bilang kau tidak enak badan, jika memang benar hamil baru kau periksa ke dokter kandungan. Ayo aku akan mengantarmu.” Dengan semangat Cherry menaruh mug yang dibawanya lalu mengambil tas miliknya.

“Dengan taksi? Ayolah Cherry, disini yang punya mobil hanya aku.” Sahut Mandy,

“jadi aku yang harus mengantar Gwen periksa kedokter.”

Rebecca memijit kepalanya pelan karena pusing, lalu ia bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya.

“Ayo kita antar bersama. Jangan saling bertengkar, telingaku panas.”

“Itu pilihan bijak.” Sambar Gwen yang ikut bangkit juga dari tempat tidur.

“Kalian jangan ribut lagi.”

Tidak butuh waktu lama mereka pun sampai di salah satu rumahsakit yang dekat dengan gedung apartemen Cherry. Ketiga wanita dewasa itu terus mengikuti kemanapun Gwen pergi meskipun itu ke toilet, hingga nomor antrian mereka tiba. Gwen langsung ke brankar dan diperiksa seraya ditanya beberapa pertanyaan setelah mengatakan keluhannya.

“Anda sedang mengandung, saya sudah cek beberapa kali dan mungkin agar lebih pasti Anda bisa menggunakan testpack atau periksa ke dokter kandungan.”

Meskipun sudah jelas sekali ada kemungkinan besar ia hamil, tetapi saat mendengar pernyataan dokter secara langsung Gwen merasa lebih percaya bahwa ia benar sedang hamil. Teman-temannya masih agak ragu meskipun itu adalah pernyataan dokter, jadilah mereka menyeret Gwen untuk periksa ke dokter kandungan.

Dan benar saja, dokter kandungan membenarkan ia hamil. Terhitung dari terakhir kali ia berhubungan dengan Max yaitu sekitar satu bulan setengah lalu, dan kehamilannya terhitung sejak terakhir menstruasinya empat hari sebelum kejadian itu.

Usia kehamilannya sudah mencapai 6 minggu 2 hari. Gwen juga melakukan USG untuk benar-benar meyakinkannya, ingin melihat apakah benar ada makhluk hidup yang tumbuh dirahimnya. Dan saat melihat betapa kecil dan mungilnya itu, ia tidak bisa menahan tangisnya.

Rasa ingin melindugi dan sayang muncul begitu saja dihatinya, tidak peduli akan seperti apa keputusan orangtuanya juga Max di Madrid yang sampai saat ini tidak ada kabar. Ponselnya berdering ditengah-tengah rasa harunya, disana muncul nama Max setelah pria itu tidak aktif saat ia hubungi. Segera saja ia mengangkat sambungan telfon itu,

“Hallo Max.”

“Gwen, ada apa? Apa kau menangis?”

Gwen menghela nafas dan mencoba menstabilkan perasaannya yang sedang sensitif sekarang.

“Ya, aku sedang menonton dengan teman-temanku. Dan kemana kau dua hari ini?”

“Aku dan ayahmu bicara sangat banyak dan sedikit perselisihan. Belum lagi Ibuku datang menyusul kemari.”

Untuk yang satu itu Gwen sudah tahu, bahkan Elleana sendiri yang memberi tahu dirinya bahwa wanita paruh baya itu akan menyusul anaknya dan memberikan dukungan garis keras agar Max tidak ditolak menjadi menantu keluarga Adam.

Pada saat Gwen mendengar hal itu, Gwen yakin sekali jika ibu kandung Max yang tidak mirip sama sekali dengan anaknya itu memiliki banyak rencana untuk melancarkan semuanya.

“Dimana kau sekarang? Masih di Madrid?”

“Aku akan terbang ke LA sebentar lagi. Aku menghubungimu untuk memberitahu, aku akan pulang dan membawa berita yang kau nantikan.”

“Aku harap itu tidak mengecewakan.” Sambung Gwen seraya menaikkan matanya keatas menahan tangis, ia sangat sensitif sekali sekarang setelah mengetahui ia sedang hamil.

Entah mengapa kisah cintanya serumit ini. Nyatanya menyatukan cinta tidak gampang hanya karena banyak uang atau sama-sama dari keluarga kaya, ada banyak sekali hal-hal yang bisa memisahkan sepasang kekasih misalnya restu orangtua. Sehebat apapun dirimu hidup mandiri tanpa keluarga dan orangtua, tetap saja restu orangtua adalah hal penting.

Gwen sadar benar selama ini ia masih meminta pada orangtuanya bermacam-macam, apapun keinginannya terpenuhi. Tapi ia mengecewakan orangtuanya kemarin dan itu membuat Gwen merasa berdosa sekali jika ia kembali mengecewakan orangtuanya dengan kabur. “Baiklah, aku tunggu di apartemen malam ini. Sampai jumpa.”

“Sampai bertemu nanti, aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.” Dan sambungan terputus.

“Kau tidak memberitahu Big Boss tentang kehamilanmu?” Tanya Mandy disertai tatapan ingin tahu yang lain karena mereka mendengar semua pembicaraan ditelfon.

“Aku akan memberitahukannya, oleh karena itu aku ingin kalian menemaniku membeli sesuatu.”

Bersambung