Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 37

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Gwen Milikku Part 37 – BanyakCerita99 – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Bersambung – Cerita Sex Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 36

Talks 2

Asistennya bekerja dengan baik, pria itu bekerja dengan cekatan juga memuaskan. Sebentar lagi waktunya makan siang dan Max sedang dalam perjalanan menuju tempat pertemuan mereka seperti yang Anggun beritahukan melalui pesan singkat pagi tadi.

Pria itu memakai pakaian semi-formal, kemeja putih dan celana jeans putih.

Setelah dua puluh menit perjalanan, akhirnya Max sampai di sebuah restoran mewah yang sudah di reservasi oleh orangtuan Gwen. Max menyuruh semua anak buahnya untuk tidak mengikutinya masuk kedalam ruang VVIP yang masih kosong, ia sengaja datang lebih awal agar terlihat lebih sopan sebagai yang lebih muda.

Max memainkan ponselnya seraya menunggu kedatangan Hans dan Anggun, pria itu sedang bertukar pesan dengan Gwen yang saat ini baru saja sampai di kantor. Menyadari pintu terbuka dan kedatangan seseorang, Max pun meletakkan ponselnya dan berdiri seakan menyambut kedatangan Anggun dan Hans. Kedua pria beda usia itu langsung berjabatan tangan dan duduk ditempat masing-masing.

“Apakah sudah lama menunggu Mr. Beauchamp?” Tanya Anggun berbasa-basi.

“Saya juga belum terlalu lama disini.”

Anggun mengangguk pelan seraya melirik suaminya yang hanya diam menatapi Max seakan me-scan pria dihadapannya.

“Lebih baik kita makan terlebih dahulu sebelum bicara.” Ajakan Anggun diiyakan oleh Max yang sedari tadi mempertahankan mimik wajahnya yang datar.

Tidak berlangsung lama pesanan makanan datang, sebelumnya memang Anggun sudah memesankan makanan saat diperjalanan agar tidak terlalu lama menunggu makanan sampai. Lalu mereka bertiga makan tanpa bicara.

Max menepuk-nepuk pelan sekitaran bibirnya mengusaikan makan siangnya diikuti Hans dan Anggun. Max meneguk air mineral yang sudah tertuang digelas untuk meredakan serat di tenggorokan juga menyiapkan diri agar bisa berbicara dengan baik nanti.

“Jadi langsung saja Mr. Beauchamp,” tatapannya langsung teralihkan pada Hans yang sudah duduk tenang dan menatapi dingin.

“Benar Anda sedang berkencan dengan puteriku?”

“Itu benar, kami berkencan.”

“Gwen pasti tidak menceritakannya padamu tentang tradisi keluarga kami sebelumnya. Tapi mohon maaf Mr. Beauchamp hubungan kalian tidak bisa dilanjutkan lagi, Gwen akan menikah dengan orang yang sudah keluarga kami pilih.” Hans berkata demikian dengan tegas, bahasa Inggris pria itu terdengar sangat terbiasa.

Ini adalah pertama kalinya Max bertemu dengan Hans, pria paruh baya yang berstatus ayah kandung Gwen itu terlihat tegas dan dingin. Meneliti fisik Hans, Max yakin benar bahwa Gwen banyak sekali mewarisi fisik Hans. Dari Mata dan hidung, sangat mirip dengan Gwen. Max juga berani bertaruh jika semua sifat Gwen menurun dari Hans, sifat berani dan keras kepalanya.

“Mr. Adam saya sudah tahu tentang itu. Tapi aku tidak peduli. Saya dan Gwen, kami saling mencintai.”

“Cinta tidak satu-satunya hal yang diperlukan dalam pernikahan. Lagipula Mr. Beauchamp, saya yakin benar jika Anda hanya ingin berkomitmen dengan anak saya tanpa pernikahan. Saya tidak bisa memberikan putri saya hamil dan memiliki anak diluar pernikahan, itu sangat bertentangan dengan keluarga kami. Budaya kita berbeda dan itu sudah cukup jelas menjadi pembatas.”

“Zaman sekarang banyak orang-orang di negara maju seperti itu. Berkomitmen, memiliki keluarga tanpa pernikahan.”

“Saya ingin menikahi puteri Anda, sejak awal.”

Hans menghela nafasnya pelan, Max tidak mau kalah dan terus menyanggah penolakannya. Ini akan menjadi pertemuan yang alot.

“Apa yang membuat Anda begitu keras kepala? Mr. Beauchamp Anda adalah seorang pembisnis hebat, Anda bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih dewasa dan lebih hebat karirnya dari anak saya yang masih kecil.”

“Anda juga pasti tahu bahwa puteri saya sudah bukan gadis lagi. Dia sedikit nakal, masih perlu banyak arahan dan saya pikir Anda bukanlah orang yang tepat dan sabar untuk membimbing anak saya menjadi pribadi yang lebih baik.” Max menganggukkan kepalanya pelan mendengarkan ucapan Hans sebelum angkat bicara.

“Sebenarnya saya sudah mencari-cari Gwen sejak empat tahun yang lalu. Saya adalah laki-laki pertama untuk Gwen.”

Anggun juga Hans nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Max.

“Lalu tanpa terduga kami bertemu lagi dan berkencan. Sejak awal saya ingin menikahi Gwen, tapi wanita itu selalu mengalihkan pembicaraan dan tidak mau membahas pernikahan atau kalian sama sekali.”

“Dan kali ini adalah kesempatan terbaik saya bisa bertemu dengan kalian. Saya ingin bertanggungjawab, dan menikahi Gwen.”

Masih dalam keterkejutannya, Anggun menatap suaminya yang masih terdiam. Perlahan ia mengusap telapak tangan suaminya. Sebelum ini Anggun sudah menceritakan apa yang terjadi di apartemen Gwen juga pertemuannya dengan Mrs. Beauchamp alias ibunya Max.

Suaminya itu tak banyak bicara sampai kemarin berita tentang hubungan Max dan Gwen terangkat ke publik, Hans menyuruhnya untuk membuat pertemuan antara dirinya dan Maxime Beauchamp di Madrid. Tapi jujur saja, Anggun sendiri cukup terkejut saat tahu bahwa pria yang sudah memperawani puterinya adalah Max.

“Kau tahu tentang hal ini?” Anggun refleks menggeleng saat suaminya berkata demikian padanya.

“Aku baru mendengarnya, Gwen tidak pernah membahas tentang kejadian empat tahun lalu.” Aku Anggun. Nyatanya disetiap apapun yang Gwen ceritakan, Anggun selalu menceritakan kembali pada suaminya.

Meskipun Gwen pikir ayahnya tidak sayang padanya, tidak perhatian atau lainnya maka Gwen salah. Anggun yang paling tahu suaminya, Hans memang tidak banyak bicara dan dingin pada siapapun. Tetapi saat hanya berdua dengan Anggun, pria itu akan menanyakan tentang anak-anaknya.

Anggun sadar betul suaminya bersikap seperti itu karena keluarganya keras saat mendidiknya, jadi suaminya itu begitu sulit menyatakan sayang atau semacamnya.

Setiap malam Anggun menelfon Gwen saat anak remaja itu dulu tidak pulang adalah suruhan Hans yang khawatir puteri bungsunya tidak pulang. Hans sama seperti ayah yang lain, hanya saja ia tidak bisa mengaplikasikan perasaan pada anak-anaknya.

Hans juga merasa sangat kecewa empat tahun lalu pada Gwen, Hans ingin Gwen berhasil dimasa depan oleh karena itu agar tidak salah pergaulan suaminya mengirim Gwen ke Australia. Tidak ada ayah yang ingin merusak hidup puterinya begitupun dengan Hans yang selama ini mencoba memperbaiki kesalahan yang Gwen buat.

“Saya ingin menjadi yang pertama dan terakhir untuk Gwen. Saya mencintai puteri Anda dengan tulus, dengan seluruh perasaan dan hidup yang saya punya.”

“Sebenarnya Mr. Beauchamp sebelum ini keluarga kami sudah melakukan perundingan dengan calon suami Gwen yang sesuai dengan standar keluarga kami.”

“Mr. Adam perlu kau tahu, Gwen sedari tadi menanyakan tentang pembicaraan kita. Dia sangat berharap aku kembali dengan restumu.” Max menyodorkan ponselnya, dimana layar ponselnya memperlihatkan chat berutun Gwen.

“Percayalah Mr. Adam, tidak akan ada pria di muka bumi ini yang mencintai puterimu sebanyak aku mencintai Gwen. Dia adalah pelengkap hidupku.”

Bersambung