Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Gwen Milikku Part 36 – BanyakCerita99 – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Bersambung – Cerita Sex Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 35

Talks 1

Max tersenyum tipis, hatinya berbunga-bunga meskipun tidak cocok pada waktu seperti ini. Gwen membalas ungkapan cintanya dan itu sangatlah luar biasa untuk Max, ucapan wanita muda itu membangkitkan semangat Max untuk memperjuangkan kisah cinta mereka.

Tadi saat dirinya baru saja usai meeting, tiba-tiba asistennya memberitahukan dirinya tentang berita kencan yang baru saja rilis itu. Lalu ponselnya bergetar memunculkan nomor asing disana, segera ia terima panggilan tersebut karena takutnya itu adalah panggilan penting. Dan benar saja, yang menelfon dirinya adalah Anggun Mama Gwen.

Tanpa berbasa-basi wanita itu memintanya untuk datang ke Madrid, tempat dimana Hans dan Anggun berada karena urusan bisnis. Max pun menyanggupinya, karena sedari awal ia berbaikan dengan Gwen ia mencari waktu untuk bisa bertemu dengan orangtua Gwen secara langsung.

Elleana melarangnya dan mengatakan bahwa orangtua Gwen saat ini sedang dalam perjalanan bisnis dan tidak menetap lama dari satu negara ke negara lain, oleh karena itu Max menungggu Hans kembali ke Indonesia atau pada saat pria itu mengunjungi ibunya di Australia.

Butuh waktu kurang lebih tiga belas jam untuk Max sampai dari LA ke Madrid. Max sudah memberitahukan ibunya perihal kepergiannya ke Madrid untuk bertemu dengan orangtua Gwen terutama Hans, dan ibunya itu dengan keras kepala mengatakan akan menyusul puteranya itu. Max tidak bisa membujuk ibunya agar tetap tenang dirumah karena wanita paruh baya itu sangatlah keras kepala, sifat yang diturunkan pada dirinya.

“Tuan kita sudah sampai.”

Pintu mobilnya terbuka dan Max menghela nafasnya sebelum keluar dari mobil dan memasuki hotel, matanya sedikit lelah karena selama perjalan ia mengerjakan pekerjaannya. Setidaknya ia kemari dengan pesawat pribadinya hingga ia tidak terlalu merasa jetlag setelah belasan jam mengudara.

Ia naik lift diikuti asisten beberapa bodyguard seperti biasa, menuju kamar inap Max untuk malam ini sebelum besok ia bertemu dengan orangtua Gwen. Max sampai di lantai paling atas dimana kamar khususnya berada, sebagai pemilik hotel.

Setelah mengganti pakaiannya, Max mendudukkan dirinya dikasur dan mengecek ponselnya. Beberapa pesan singkat ia terima dari Gwen, wanita muda itu mengingatkan untuk makan dan memintanya untuk mengabari Gwen jika ia sudah sampai. Segera saja ia memilih untuk me-video call wanita muda itu. Wajah Gwen yang mengantuk muncul, sekarang di L.A sudah lewat tengah malam. Sedangkan di Madrid matahari akan terbit beberapa puluh menit lagi.

“Hai, aku menganggu tidurmu?”

Terlihat darisana Gwen menggelengkan kepalanya meskipun tidak terlalu ketara.

“Aku baru saja bisa tidur beberapa menit lalu.”

Kening Max mengerut, ia sangat tahu Gwen adalah tipe orang yang bisa tidur cepat jika tidak ada gangguan darinya. Lalu sekarang mengapa wanita muda itu sulit tidur?

“Apa yang membuatmu tidak bisa tidur hmm?”

“Berita itu apalagi. Entah bagaimana semua foto-foto kita tersebar, padahal aku mem-privasi sosial mediaku. Belum lagi tiba-tiba banyak orang yang mengikutiku. Itu menyeramkan.”

“Yang membuat aku kesal setengah mati adalah saat mereka bilang aku terlalu pendek, tidak cocok untukmu. Kita bahkan terlihat seperti ayah dan anak.”

Max tersenyum samar, matanya tidak pernah berhenti menatap Gwen yang saat ini berposisi miring diatas tempat tidur.

“Mereka salah jika berpendapat begitu. Yang benar adalah aku ayahnya dan kau ibunya, anak-anak kita nanti.”

“Max aku sedang serius.”

Gerutuan itu membuat Max gemas, ingin rasanya ia mendatangi Gwen hanya sekedar untuk mengusap kepalanya atau mengecup.

“Lagipula kenapa juga kami tidak hentikan beritanya. Semua orang dikantor menatapku seakan aku seorang teroris. Aku tidak nyaman.”

“Berita itu sudah keluar dan banyak orang yang sudah melihatnya. Ku pikir percuma saja menghentikan berita itu, sedangkan kita bisa menggunakan ini sebagai salah satu ancaman untuk keluargamu.”

“Maksudnya?”

“Ya, itu bisa menjadi sumber kekuatan tanpa kita sadari Gwen. Dengan hal itu tentu mau tidak mau keluargamu akan merestui kita karena semua orang sudah tahu, kau tidak jadi dijodohkan.”

“Meskipun aku tidak yakin keluargaku akan merestui kita, tapi bisa jadi berita ini salah satu hal yang membuat malu keluargaku. Jadi mau tidak mau mereka harus menikahkan kita, mengapa aku tidak berpikir sampai sana ya?”

Max menahan tawanya dan memilih untuk merebahkan diri dikasur, “kau hanya memikirkan komentar tidak benar dari orang lain juga tinggi tubuhmu.”

“Kau benar, aku sensitif dengan itu.”

“Tidak masalah, lagipula bagaimana pun keadaanmu aku tetap mencintaimu.”

Max tidak perduli jika belakangan ini ia terlalu menye-menye terhadap Gwen untuk menyatakan cintanya. Max hanya akan bersikap jika benar-benar diperlukan, dan ia merasa sekarang perlu baginya bersikap manis dan lembut pada Gwen.

“Aaah manis sekali. Terdengar sama dengan apa yang diucapkan para mantan kekasihku.”

Max berdecak kesal, setiap ia berkata manis Gwen selalu saja membalasnya dengan perkataan itu. Padahal Max bicara jujur dan apa adanya, tidak ada rayuan ataupun bujukan.

“Aku tidak mau membahas mantan kekasihmu. Aku hanya ingin membicarakan tentang kita.”

“Apa?”

“Apapun yang terjadi nanti, apapun yang akan dikatakan ayahmu, kita harus tetap bersama.”

Tampak senyum manis Gwen disebrang sana, “tentu kita harus bersama. Dan jam berapa kau akan bertemu orangtuaku?”

“Saat makan siang. Matahari baru saja terbit di Madrid, aku perlu makan pagi dan istirahat sebentar setelah penerbangan belasan jam.”

“Lalu mengapa menelfonku jika kau harus istirahat?”

“Aku ingin mengabarimu jika aku sudah sampai dengan baik-baik saja di Madrid. Kalau begitu ku tutup telfonnya, kau kembalilah tidur.”

“Hmm baiklah, sampai jumpa.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga.”

Dan sambungan terputus, Max menghela nafasnya pelan dengan pikiran menerawang sebelum ia kembali sibuk pada ponselnya untuk mengirimi pesan ke sang ibu bahwa ia sudah sampai di Madrid.

Rasa kantuk mendera Max beberapa saat kemudian hingga pria itu memutuskan untuk tidur sebelum nanti saat makan siang ia bertemu dengan orangtua Gwen.
Sebelum ini Max sudah beberapa kali bertemu dengan orangtua para mantan kekasihnya, karena mereka adalah kolega bisnis.

Tetapi sekarang berbeda, meskipun dirinya juga Hans -ayah Gwen sama-sama seorang pembisnis tetapi dirinya dan Hans tidak ada bersinggungan sebelumnya. Ini akan menjadi pertama kali mereka bertemu. Max akan bertemu dengan orangtua Gwen sebagai seorang pria biasa yang akan meminta untuk menikahi putri mereka bukan Max sebagai seorang pembisnis hebat dari Amerika.

Max harap pertemuannya akan berjalan dengan lancar. Ia sangat ingin memiliki Gwen untuk dirinya sendiri tanpa perlu khawatir dengan pertentangan keluarga Gwen. Memiliki keluarga kecil yang bahagia juga bayi-bayi lucu yang mirip dengannya dan juga Gwen.

Bersambung