Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 34

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Gwen Milikku Part 34 – BanyakCerita99 – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Bersambung – Cerita Sex Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 33

Second Chance 3

Gwen memilih duduk disalah satu kursi yang ada di garden party itu untuk memakan makanan yang sudah ia ambil tadi. Ia memakan makanannya dengan tenang sebelum merasa terganggu dengan kedatangan Max yang tiba-tiba saja duduk dihadapannya.

“Mr. Beauchamp lebih baik Anda pulang. Anda tidak diperlukan disini.”

“Aku akan kembali bersamamu Gwen.”

Menghela nafasnya Gwen mencoba untuk mengatur emosi, ia sudah tidak nafsu lagi makan setelah Max memancing pembicaraan tentang masalah mereka yang bagi Gwen sudah selesai. Tapi mengingat tingkah Max, Gwen yakin seratus persen pria ini tidak akan pergi menjauhi dirinya sebelum mendapatkan apa yang pria itu inginkan.

“Apa maumu?”

“Kau.” Max mengatakannya dengan wajah datar terlampau serius, tetapi balasan Gwen yang malah terkekeh sinis itu berarti Gwen menganggap ucapan Max adalah lelucon.

“Lucu sekali. Tapi aku tidak peduli, dan tidak tertarik bersamamu lagi. Kita sudah selesai, aku sudah meminta maaf atas kesalahanku dan terserah padamu ingin memaafkannya atau tidak. Lagipula akhirnya akan sama saja, kita tidak bisa bersama lagi. Jadi Mr. Beauchamp pulanglah.”

“Apakah tidak ada lagi kesempatan untukku Gwen?”

Gwen memicingkan matanya pada Max,

“kau masih berani meminta hal itu setelah bertindak selayaknya bajingan, menjadikan aku pelacurmu setelah kau bercinta dengan kekasih modelmu? Kau benar-benar tidak tahu malu.” Gwen bangkit dari duduknya, ia sudah muak sekali melihat wajah Max. Muak dengan semua yang terjadi dihidupnya.

Tapi secepatnya Max menggapai lengan Gwen, menahan wanita itu yang ingin pergi menjauhi dirinya. Max menarik tubuh Gwen sehingga wanita itu berada dalam pelukannya, meskipun Gwen membelakanginya. Max mengeratkan pelukannya, tidak perduli Gwen terus berusaha melepas, tidak peduli juga orang-orang melihat mereka.

“Maaf, maafkan aku.” Max berbisik tepat ditelinga Gwen yang seketika itu juga bergeming.

“Maaf atas perbuatanku yang keterlaluan kemarin.”

“Maafkan aku.”

Gwen masih terdiam, bahkan tidak mendorong Max atau melakukan protes saat pria itu menyerukan wajahnya di cerukan leher Gwen. Rahang pria itu yang sudah ditumbuhi janggut membuat Gwen merinding, belum lagi deru nafas pria itu menerpanya.

“Aku tahu seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu, bukannya malah pergi begitu saja.” Kini kecupan-kecupan kecil Gwen dapati.

“Gwen, maafkan aku. Maafkan aku sayang.” Hidung Max yang mancung mengusap pelan rahang Gwen.

Otak dan hati Gwen tidak satu pemikiran, membuat Gwen bingung harus bertindak bagaimana. Belum lagi posisi seperti ini juga ucapan Maaf Max yang terdengar tulus.

“Aku tidak pernah bercinta dengan siapapun sejak aku mengenalmu. Sejak pertama kali kita melakukannya.” Gwen sedikit terkejut saat mendengar pernyataan Max tersebut, karena selama mereka bersama Max tidak pernah mengatakannya.

“Kau memang bukan yang pertama untukku, tapi aku ingin kau yang menjadi terakhir untukku. Aku mencintaimu, sangat.”

Air mata Gwen luruh bahkan bahunya terkulai dalam pelukan Max. Hatinya berdenyut sakit tetapi ia juga merasa bahagia secara bersamaan, cintanya terbalas.

“Aku sudah memaafkanmu untuk kemarin. Tapi kumohon setelah ini jangan menutupi apapun dariku, aku hanya ingin dianggap berarti dan bisa diandalkan untukmu. Katakan jika kau tidak menginginkan apa yang aku inginkan Gwen. Aku tidak akan memaksamu.” Kini Gwen bukan lagi menangis dalam diam, wanita muda itu sekarang menangis terisak dengan satu tangannya yang menutupi wajahnya.

Secara perlahan Max membalikkan tubuh Gwen hingga mereka saling berhadapan. Lalu Max mendekapnya erat,

“maafkan aku. Ayo kita perbaiki semua ini.”

Dalam tangisnya Gwen menggeleng pelan, hatinya ikut menangis tapi juga merasa bahagia berharap jika saja bisa ia bersama dengan Max hidup bahagia. Tetapi otaknya berkata tidak, mengingat bagaimana pria itu memperlakukan seperti kemarin meskipun Max sudah meminta maaf tetap saja itu menjadi trauma sendiri untuknya.

Gwen tidak mau dianggap murahan menerima Max kembali hanya karena pria itu mengatakan cinta juga meminta maaf, tidak ada jaminan Max akan berbuat seperti itu lagi padanya dimasa yang akan datang.

Otaknya juga mendoktrin ia dan Max tidak bisa bersama. Ia akan dijodohkan oleh pria pilihan orangtuanya yang kolot dan banyak mengatur. Perlahan, Gwen mendorong dada Max. Wajahnya yang bersimbah air mata tidak dipedulikannya, ia menatap Max yang balas menatapnya juga.

“Kita tidak bisa. Berapa kali harus aku katakan padamu.”

“Kita bisa.”

Wajah Teguh Max menggetarkan hati Gwen, kedua tangannya yang digenggam erat oleh Max seakan memberi kekuatan untuknya.

“Aku tahu kau akan dijodohkan dengan pria pilihan orangtuamu. Dan aku tidak bisa menerimanya.”

“Aku adalah yang pertama untukmu dan aku juga ingin jadi yang terakhir untukmu. Kau adalah milikku Gwen. Kita bisa jika kita berjuang bersama.” Gwen mengigit bawah bibir, menatap Max dengan tatapan yang tercampur-campur.

“Ayo saling memaafkan, kita perbaiki ini semua. Kita akan bersama, itu janjiku.” Max menarik tangan Gwen untuk ia usapkan ke pipinya, sesekali ia mengecupi tangan mungil Gwen yang tidak sebanding dengan tangan besarnya.

“Aku akan bertemu dengan ayahmu juga keluargamu. Memintamu dengan baik-baik.”

“Dan jika tidak berhasil?” Gwen menyahut dengan pikiran buruknya.

“Ayo kita pergi menjauh, kemanapun asal bisa bersamamu. Kita bisa menikah dan membangun keluarga meskipun diujung dunia sekalipun agar tidak bertemu atau ditemukan keluargamu.” Mata Max memancarkan kesungguhan. Dan itu berhasil meluluhkan hati Gwen yang bahkan tidak banyak bicara sedari tadi.

“Gwen, beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita.” Dimata Gwen, Max sudah menurunkan harga dirinya dengan meminta maaf berkali-kali sedangkan Gwen tahu jelas jika disini awal permasalahan adalah dirinya.

“Tidak Max.”

Gwen menurunkan tangannya, membuat Max menatap teduh wanita muda itu. Hati Max seakan remuk saat Gwen sepertinya akan menolak ajakannya untuk mereka kembali lagi dan berjuang bersama.

“Aku yang salah disini.”

Menghela nafas, Gwen berusaha kuat mengatakan apa yang ada dipikirannya dengan hati lapang mengakui kesalahan.

“Sejak awal aku yang salah dengan menyembunyikan tentang program penunda hamil itu sedangkan kau sangat ingin kita punya anak. Saat itu kupikir kita hanya perlu bersenang-senang dengan hubungan ini tidak ada pandanganku untuk serius karena aku tahu keluargaku tidak akan membiarkan aku begitu saja menikah dengan orang sembarangan.”

“Kau tahu sendiri jika aku sudah sangat bersalah dimata keluargaku karena kehilangan keperawanan. Aku tidak mau aku semakin dicap tidak tahu diri dan mempermalukan keluargaku jika aku hamil diluar nikah.”

“Aku mengerti sekarang. Aku minta maaf atas ketidaktahuanku untuk itu dan tidak mengerti dirimu dengan baik.” Max menaikkan dagu Gwen dengan satu jarinya agar wanita muda yang sedari tadi menunduk itu menatap matanya.

“Maukan memaafkan aku, sayang?”