Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 33

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Gwen Milikku Part 33 – BanyakCerita99 – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Bersambung – Cerita Sex Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 32

Second Chance 2

Max pergi begitu saja dari mansion keluarganya tanpa memperdulikan panggilan ibunya. Max mengendari mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke apartemen Gwen, dalam hati ia berharap masih menemukan Gwen disana. Dalam otaknya, Max mengira Gwen tidak mau mengandung anaknya karena wanita itu tidak mencintainya. Gwen tidak bersikap terbuka padanya karena tidak menganggapnya penting. Gwen tidak pernah mengatakan cinta padanya karena wanita itu memang tidak mencintainya.

Tapi setelah mendengar semua yang dikatakan ibunya, Max sadar bahwa Gwen mencintainya. Mereka saling mencintai dan sekarang masalah sedang menerpa mereka. Max tidak akan rela jika Gwen menikah dengan pria lain selain dirinya, untuk masalah keluarga Gwen maka Max akan mengusahakan semampunya. Tapi kemarin saat ia pikir Gwen memang tidak punya perasaan apapun untuknya, membuatnya kecewa, ia merasa akan menyerah.

Dan tidak untuk sekarang. Ia tahu perasaan Gwen untuknya meskipun terlambat menyadari dan sudah membuat kesalahan besar pada Gwen yang mungkin saja tidak termaafkan oleh wanita itu. Sesampainya di basemen apartemen, Max segera menaiki lift dan menuju ke lantai dimana unit Gwen berada. Ia membuka pintu apartemen Gwen dan masuk begitu saja.

“Gwen…”

Apartemen gelap, seperti tidak ada penghuninya. Untuk menyakinkan dirinya Max menyisir setiap ruangan sambil terus memanggil nama Gwen, tapi tetap tidak ada sahutan. Segera ia mengambil ponselnya dan menghubungi Gwen, panggilannya tak terjawab. Nomor tidak aktif. Max tidak kehabisan akal dengan menghubungi asisten juga orang kepercayaannya untuk mengetahui keberadaan Gwen juga apakah Gwen masih bekerja di perusahaan atau tidak.

Sambil menunggu informasi selanjutnya, Max kembali lagi ke kamar Gwen dan mengecek pakaian wanita muda itu. Berharap wanita muda itu memang tidak benar-benar pergi dari hidupnya. Refleks Max menghela nafas lega saat melihat masih banyak pakaian Gwen disana, ia terduduk ditepi ranjang dengan pikiran berkelana kira-kira kemana Gwen pergi.

Ponselnya bergetar membuatnya cepat-cepat membuka pesan yang dikirimkan anak buahnya. Dari informasi yang Max dapatkan, ternyata Gwen pergi Seattle untuk menghadiri acara pernikahan sahabatnya. Max jadi teringat jika sebelumnya Gwen juga sudah memberitahunya bahkan saat wanita itu akan menghadiri pesta pertunangan sahabatnya pun Max tidak diperbolehkan untuk ikut.

Tidak ingin memperlama masalah diantara mereka, Max memutuskan untuk mendatangi Gwen ke Seattle tentu dengan ia memerintahkan asistennya di mempersiapkan penerbangan dengan pesawat pribadinya.

Beberapa jam kemudian Max akhirnya sampai di Seattle, ia singgah di hotel miliknya yang sangat kebetulan menjadi tempat Gwen menginap. Sesampainya di hotel Max hanya dapat istirahat beberapa jam saja karena ia harus datang ke pesta pernikahan sahabat Gwen.

Mereka akan bertemu disana dan membicarakan semuanya, karena jika sekarang tentu Gwen masih tertidur dan ini bukanlah waktu tepat membicarakan masalah mereka ini waktunya untuk istirahat.

Kepala Max sedikit pusing saat terbangun, mungkin itu adalah efek dari minuman alkohol yang cukup banyak ia minum selama penerbangan. Saat melihat kearah gorden yang tidak tertutup memancarkan cahaya matahari, Max sadar ia sudah kesiangan. Ia segera bangun dan membersihkan diri, lalu memakai pakaian yang sudah asistennya siapkan untuknya. Mungkin Max sudah tertinggal acara pemberkatan, tapi Max tidak peduli dengan itu. Ia datang ke pernikahan itu bukan untuk melihat pengantinnya tetapi untuk bertemu dengan Gwen.

Mobilnya beserta supirnya sudah siap menunggunya didepan lobi, dalam Limosin hitam itu juga sudah tersedia makanan pagi untuknya yang bisa ia santap selama perjalanan.

Kedatangan Max mengundang perhatian para tamu bahkan pengantinnya juga yang sedang berbincang dengan yang lain setelah acara pemberkatan dan dansa. Dengan percaya diri Max turun dari mobil setelah dibukakan pintu oleh salah satu bodyguardnya. Langkah pasti ia mendekati Gwen yang sangat cantik memakai gaun Bridesmaid-nya, menatap kedatangan Max dengan tidak percaya.

Disisi Gwen, Tasya sudah menatap Max tidak percaya sejak pria itu turun dari Limosin-nya. Siapa yang tidak kenal dengan Maxime Beauchamp salah satu pembisnis terkaya di Amerika, pria itu datang ke pesta pernikahannya padahal Tasya tidak pernah bertemu pria itu sebelumnya dan begitupun Theo -suaminya.

“Selamat atas pernikahan kalian maaf aku terlambat datang.”

Theo menyahut tangan Max begitupun dengan Tasya yang masih percaya dan tidak percaya.

“Ah sebelumnya perkenalkan aku Max, kekasih Gwen.” Pernyataan itu mengejutkan semua orang begitu juga Gwen.

Melihat Max datang ke pesta pernikahan sahabatnya dengan tampang tak berdosa, lalu sekarang mengaku sebagai kekasihnya. Gwen masih sakit hati dan benar-benar sudah menyerah dengan hubungan mereka, bukankah Max juga demikian? Lalu untuk apa pria itu kemari?

“Hadiah pernikahannya akan sampai sebentar lagi.”

“Sebelumnya terimakasih atas kedatanganmu Mr. Beauchamp, maaf juga tidak bisa menyambutmu dengan baik. Gwen selama ini tidak pernah bercerita bahwa kalian sepasang kekasih.” Sahut Tasya terus melirik pada Gwen yang sedari tadi diam bergeming.

“Gwen-”

“Kami sudah selesai Tasya. Mr. Beauchamp sebenarnya ada apa Anda kemari?”

Max menghela nafasnya pelan, matanya menatap lurus pada Gwen yang masih menatapnya dengan kekecewaan meskipun berusaha wanita muda itu tutupi.

“Kita belum selesai Gwen, aku kemari ingin menjemputmu.”

Dahi Gwen mengerut lalu menggelengkan kepala pelan seolah tak paham dengan keinginan Max yang menurutnya tidak masuk akal. Setelah pria itu berbuat seperti kemarin, apa belum cukup menjelaskan bahwa mereka sudah selesai?

“Kita sudah selesai, tolong jangan ganggu aku lagi atau kau akan lebih mendapatkan malu.”

Setelah mengatakan itu Gwen membalikkan tubuhnya, ia berjalan menuju ke stand makanan tidak memperdulikan tatapan orang-orang padanya. Jika Max sudah kemari sudah pasti Gwen tidak bisa tenang, melihat pria itu ingin menemuinya Gwen merasa semuanya semakin runyam. Seharusnya Max tetap diam dan tidak memperdulikannya, itu lebih baik meskipun dalam hati Gwen senang Max memperjuangkannya.

Max sendiri hanya bisa melihat punggung Gwen dengan tatapan penyesalannya. Saat bertemu dengan Gwen secara langsung, semua apa yang ingin ia katakan lenyap begitu saja terlupakan dengan rasa bersalahnya saat menatap mata itu juga rasa ingin memeluk Gwen seraya meminta maaf. Mengapa kata maaf sangat sulit untuk ia katakan, padahal hanya kata itu yang bisa membuat Gwen seperti ini padanya.

“Mr. Beauchamp, mungkin kau adalah pria yang selama ini Gwen ceritakan padaku.” Perkataan Tasya mengalihkan tatapannya dari Gwen,

“Aku sebagai sahabat Gwen merasa sangat marah dan kecewa padamu. Tapi aku tidak bisa menghakimi dirimu sedangkan aku tahu bahwa sahabatku juga salah dalam hal ini. Kalian perlu bicara, cobalah untuk memperbaiki semuanya. Mungkin Gwen adalah orang yang keras kepala tapi percayalah jika kau sudah bisa mengalahkan keras kepala dan rasa egoisnya. Kau akan tahu dia gadis yang berhati lembut.”

“Kuharap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dan tidak membuat keributan dipesta pernikahan ku.” Tasya pergi setelah berkata demikian diikuti Theo untuk mendatangi tamu yang lain.

Bersambung