Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 31

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Gwen Milikku Part 31 – BanyakCerita99 – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Bersambung – Cerita Sex Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 30

Unchanged

Max tidak menganggap serius penjelasannya, juga pria itu melecehkannya sangat cukup membuat Gwen sangat sakit hati. Masa bodo dengan tanggapan Max setelah keempat kalinya pria itu mendapatkan pelepasan, Gwen pergi dari sana.

Setelah dari apartemen Max, Gwen memilih untuk menginap di apartemen Cherry beberapa hari. Gwen juga menceritakan permasalahannya akhir-akhir ini meskipun tidak sebut nama Max sama sekali pada teman-temannya juga Tasya melalui telepon. Hal itu setidaknya membuat perasaan Gwen terasa lebih baik.

Teman-temannya menyayangkan apa yang terjadi pada Gwen, sedangkan sedari awal mereka sangat ingin bertemu dengan kekasih Gwen. Tetapi mau bagaimana lagi, dirinya dan Max memang tidak punya masa depan bersama. Sekarang terasa lebih sulit karena tidak ada lagi kepercayaan diantara mereka setelah tidak adanya kejujuran dan keterbukaan.

Ponselnya bergetar memunculkan nama Mamanya disana, tidak perlu berpikir Gwen menolak panggilan tersebut, segera saja ia memblokir nomor ibunya. Ia agak menyesal mengapa tidak dari dulu ia memblokir nomor ibunya. Tapi nomor lain muncul, nomor tidak dikenal. Mau tidak mau Gwen mengangkat panggilan tersebut.

“Hallo.”

“Hallo Gwen, ini Elleana. Apa kau punya waktu selesai bekerja nanti?”

Gwen cukup terkejut mendapati Elleana mengabarinya. Meskipun Gwen kemarin sering bulak-balik ke mansion wanita itu, tetapi mereka tidak pernah saling bertukar nomor ponsel. Dan kali ini kenapa Elleana menghubunginya?

“Elleana.. aku punya waktu luang selesai bekerja nanti. Ada apa?”

“Bisa kita bertemu? Nanti akan aku suruh seseorang untuk menjemputmu di kantor.”

“Tidak, tidak perlu. Beritahu saja dimana tempatnya, aku akan datang.”

“Baiklah, kalau begitu nanti aku kirimkan lokasinya. Sampai jumpa.”

“Bye.”

Gwen menghela nafasnya, ia tidak tahu apa yang ingin dikatakan oleh Elleana padanya. Untuk menduga saja Gwen tidak bisa meraba, ini pasti ada hubungannya dengan Max. Tapi apa? Mungkinkah Max memberitahu ibunya bahwa hubungan mereka benar-benar selesai?

“Gwen tolong antar dokumen ini pada Mr. William.” Agak terkejut sedikit, Gwen segera bangkit dari duduknya dan menerima serahan dokumen tersebut.

“Baiklah.” Ia harus fokus bekerja sekarang, karena tanpa dipikirkan Gwen juga akan tahu apa yang akan Elleana katakan padanya nanti.

Waktu berjalan begitu cepat dan Gwen sudah datang ke restoran tempat dimana Elleana mengajaknya bertemu. Setelah mengatakan akan bertemu dengan siapa, Gwen diantarkan pelayan menuju ke meja Elleana. Wanita paruh baya itu masih sama cantiknya seperti biasa mereka bertemu. “Hai Gwen.”+

“Hai.” Mereka bercipika-cipiki sebentar sebelum Gwen duduk tepat dihadapan Elleana yang selesai memesankan makanan untuk mereka.

“Sebenarnya aku sudah sangat lama ingin membicarakan ini denganmu.”

“Tentang apa?”

“Tentangmu dan juga Max.”

Gwen sudah duga ini, ia menghela nafas pelan lalu tersenyum tipis lebih tepatnya memaksakan senyum.

“Elleana kami sudah berakhir, dan ini yang terbaik.”

“Benarkah? Begitu saja? Apa Max tidak ada menghalangimu atau apapun?”

Bahu Gwen terangkat pelan, “kami memang sudah tidak punya harapan lagi. Max tidak mendengarkan dengan baik penjelasanku dan ya.. mungkin kami memang harus selesai sekarang.”

“Aku tidak tahu masalah apa sebenarnya yang terjadi antara kalian berdua. Melihatmu selalu datang ke apartemen Max dan ke mansion, aku tahu masalah ini cukup rumit. Maafkan aku sebelumnya jika aku sudah lancang mencaritahu tentangmu. Tapi aku sudah menghubungi ibumu sebelumnya.” Pernyataan Elleana cukup membuat Gwen terkejut.

“Kami sempat bertemu dan mengobrol sedikit.” Ucapan Elleana ter-skip karena pesanan mereka datang.

“Ayo kita makan dulu.”

Gwen yang sedari tadi diam menyimak, mengikuti ajakan Elleana. Ia meminum airnya terlebih dahulu karena merasa tenggorokannya serat, otaknya terus berputar tentang Mamanya yang seperti apa menyikapi masalah ini sedangkan waktu itu Mamanya yang menyuruhnya berhenti.

Mereka benar-benar menikmati makanan tanpa pembicaraan serius, hingga makanan penutup datang barulah Elleana melanjutkan perkataannya.

“Dengan bertemu dengan Mamamu, aku jadi tahu masalah sebenarnya. Disisi lain aku juga bisa mengerti kekecewaan Max padamu, sedangkan yang aku tahu Max sangat suka anak-anak meskipun sikapnya pendiam. Dia pasti berharap bisa memiliki anak denganmu.”

“Mrs. Adam juga memberitahu padaku tentang keadaan dirumah keluarga kalian. Mungkin zaman sekarang memang sudah sangat jarang orang atau keluarga yang menganggap keperawanan itu penting, sekarang kebanyakan menganggap bahwa perawan atau tidaknya wanita itu adalah hak wanita itu sendiri. Itu pilihannya, itu hidupnya.” Gwen mengigit bibir bawahnya pelan, entah mengapa ia merasa akan menangis sekarang, ditambah lagi Elleana yang kini menggenggam tangannya.

“Aku tahu posisimu pasti sangat sulit, keluargamu terbiasa dengan tradisi perjodohan dan sangat ketat pada peraturan. Aku juga tidak bisa menutup mata pada kenyataan bahwa kau dan Max saling mencintai.”

Dan benar saja air matanya luruh, dalam hati ia ingin sekali menolak pernyataan bahwa Max masih mencintainya. Pria itu bahkan dengan tega memperlakukannya seperti kemarin.

“Mamamu sangat merasa bersalah dan bersedih karena tidak bisa berbuat apapun. Jangan lagi mengabaikannya.”

“Entahlah,” hanya kata itu yang keluar dari mulut Gwen. Ia tidak bisa berkata apapun lagi. Lagipula ingin mengabaikan ataupun tidak Gwen tetap akan berjalan pada keinginan keluarganya, tidak ada yang berubah.

“Aku akan bertemu dengan Max dan coba menjelaskan dengan anak itu. Kebiasaan buruk Max tidak pernah berubah sama sekali, dia tidak mau mendengar penjelasan orang lain dan itu sangatlah menyebalkan. Jika tahu kau akan menikah dengan pilihan keluargamu dia akan tahu rasa dan menyesal.”

Gwen menggeleng pelan, ia balas menggenggam tangan Elleana disertai senyum tipisnya.

“Elleana terimakasih karena mau berusaha, tapi aku sudah menyerah. Mungkin di kehidupan ini aku dan Max tidak bisa bersama, kami sudah selesai dan tidak punya kesempatan lagi untuk memperbaikinya. Jadi kuharap kau bisa menerima keadaan ini seperti aku yang mencoba untuk menerimanya.”

“Dan terimakasih juga untuk makan malamnya,” Gwen bangkit dari kursinya dan berpelukan sebentar dengan Elleana. “Semoga kita bisa bertemu lagi. Sampai jumpa.”

Secepatnya Gwen pergi dari restoran itu dan memilih untuk kembali ke apartemen Cherry, ia butuh bercerita untuk melegakan perasaannya. Ia tidak bisa ke apartemen disaat seperti ini, membuatnya terus terbayang tentang kebersamaannya dengan Max. Mungkin Gwen akan mencari apartemen baru untuk memulai hidup barunya, sama seperti Max.

Max sudah punya kekasih baru dan itu artinya Gwen memang tidak berarti lagi untuk Max, seharusnya Gwen bisa seperti Max. Membuat Max tidak berarti lagi untuknya dan menghilangkan perasaan menyesakkan yang terus-terusan ia rasakan bahkan sepertinya semakin menyakitkan.

Ponselnya berdering menampilkan nama Tasya, sahabatnya disana. “Hallo.”

“Beib, jangan bilang kau lupa dengan pernikahanku akhir pekan ini.” Gwen baru teringat akan itu, astaga ia bahkan belum menyiapkan kado pernikahan untuk sahabat terbaik nya.

“Tentu tidak.” Tidak salah lagi. Sekarang Gwen harus melupakan kesedihannya dan mencari kado untuk Tasya.

Bersambung