Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Gwen Milikku Part 30 – BanyakCerita99 – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Bersambung – Cerita Sex Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 29

About Us 2

Sudah satu bulan lamanya Gwen bulak-balik pergi ke apartemen Max juga mansion keluarga Beauchamp berharap ia dapat bertemu dengan Max. Dikantor pun ia tidak melihat Max sama sekali dan itu benar-benar membuat Gwen frustasi.

Semua pesannya diabaikan juga panggilan telfonnya. Gwen merasa putus asa, dengan rasa bersalahnya ia juga pergi ke rumah sakit untuk melepas implan yang dipasangnya. Sejak itu Gwen tidak peduli pada Mamanya bahkan tidak membukakan pintu apartemennya sama sekali.

“Minum ini.”

Sebuah cup hot chocolate diberikan padanya. Cherry menghela nafasnya berat, lalu menatap Gwen dan kembali menghela lagi.

Cherry sama sekali tidak tahu Gwen punya masalah apa karena wanita muda itu tidak pernah bercerita padanya, selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan. Make up pun sudah tidak bisa menipu orang lain tentang fakta Gwen memiliki masalah berat dihidupnya, terlihat sekali gurat lelah dan sedih diwajah cantiknya.

“Gwen sudahlah jangan bersedih lagi, apa kau tidak lelah muram terus? Bagaimana bisa kau terlihat cantik oleh pria diluar sana dengan wajah seperti itu? Mungkin itu juga yang membuatmu gagal mendapatkan Mr. Beauchamp, Big Boss kita itu baru saja kembali liburan dengan seorang model cantik asal Rusia.”

Ucapan Cherry membuat Gwen menolehkan wajahnya cepat. “Apa kau bilang? Dia pergi liburan?”

Meskipun merasa aneh Cherry tetap mengangguk dan berkata,

“Aku dengar Big Boss pergi liburan ke pulau pribadinya. Hahh orang kaya memang luar biasa, bisa pergi seenaknya tanpa perlu memikirkan pekerjaan atau apapun.”

Gwen sendiri merasa hatinya semakin sakit dan hampa, rasa putus asa-nya semakin besar. Kenyataan bahwa ia dan Max tidak bisa kembali lagi terpampang jelas dimatanya, tidak ada harapan lagi. Ponselnya bergetar, sebuah notifikasi masuk dan itu dari mamanya.

Gwen meremas ponselnya, ia sangat ingin menangis. Sebelumnya ia pernah diberitahu Mamanya jika ia sudah dijodohkan dengan seseorang dari keluarga yang tinggal Singapura, tetapi perjodohan itu batal karena ia membuat kesalahan. Dan sekarang…

“Gwen, ada apa? Kenapa kau menangis?” Tepukan dibahunya juga tatapan penasaran Mandy dan Cherry menyadarkan Gwen, ia mengusap pipinya dan benar ia menangis.

Tanpa peduli tempatnya lagi, Gwen kembali menangis dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sangat tidak enak jika kau hidup tapi bukan dirimu yang menentukan hidupmu, rasanya menyesakkan.

Butuh beberapa waktu bagi Gwen menenangkan tangisannya, ia tidak bisa terus menangis dengan posisi masih dikantor dengan pekerjaan yang menumpuk.

“Apa pulang ini kau ingin aku menemanimu di apartemen Gwen?”

Gwen menggelengkan kepalanya pelan, otaknya terpikir bahwa ia akan mencoba bertemu dengan Max di apartemen pria itu untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar menyerah. Setelah ini sudah tidak ada lagi yang bisa Gwen pegang sebagai harapan bahagianya selain menerima kemauan keluarga.2

Cherry mengantarkannya ke gedung apartemen mewah tempat tinggal Max tanpa bertanya apapun, teman sekantornya itu hanya memberi tumpangan sampai pelataran gedung dengan kalimat-kalimat penyemangat untuknya selama perjalanan. Ya setidaknya Gwen tidak pernah berpikir untuk mengakhiri hidup.

Gwen menekan bel apartemen Max setelah naik lift dan berjalan sebentar, setelah ketiga kalinya ia menekan bel apartemen akhirnya pintu terbuka memunculkan Max disana bertelanjang dada. Gwen terpaku sebentar saat melihat Max yang memiliki jambang lebih banyak dari terakhir kali mereka bertemu, tidak bisa dipungkiri Gwen merindukan pria dihadapannya ini.

Belum juga ia buka mulutnya, suara seorang wanita mengehentikan Gwen. Disana wanita yang Gwen ketahui model Rusia dalam berita bersama Max, datang dan bertanya siapa yang bertamu. Tidak perlu dijelaskan Gwen tahu apa yang sudah terjadi diantara dua orang dewasa itu.

“Ada apa?” Pertanyaan dingin itu menyambut Gwen, semakin menyakiti hatinya.

Memantapkan hatinya Gwen kembali menatap Max setelah tadi sempat membuang pandangan. “Aku ingin bicara.” Suaranya terdengar lirih seolah tak punya kekuatan.

“Aku tidak punya waktu.”

“Max, aku mohon. Untuk terakhir kalinya. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Gwen menahan pintu yang akan ditutup itu dengan tangannya, harga dirinya ia buang jauh-jauh sekarang hanya demi agar Max mendengar penjelasannya. Gwen hanya berharap setelah ini perasaannya akan lebih baik meskipun ia tidak akan bisa kembali bersama Max lagi.

Max menatapnya sebentar sebelum melirik wanita yang bersamanya seolah menyuruhnya keluar, dan wanita itu pergi setelah mengecup pipi Max meninggalkan mereka hanya berdua dalam keheningan didepan pintu apartemen. Tanpa banyak bicara Max masuk membuat Gwen mengikuti pria itu. Gwen menatap lurus pada punggung tegap Max hingga pria duduk disofa yang ada disana.

“Jadi ada apa?”

Gwen meremas kedua sisi rok kerjanya, dalam hidupnya ia tidak merasa sebingung ini untuk memulai pembicaraan.

“Jika tidak ada, pergilah.”

“Aku ingin menjelaskan semuanya.” Secepat itu Gwen mengatakan kedatangannya.

“Aku mengaku salah aku sudah memasang implan tanpa bicara dulu padamu. Tapi Max aku punya alasanku sendiri untuk itu.”

“Apa? Apa alasanmu? Sedari awal kau memang tidak ingin punya anak dariku. Kau hanya menganggap semua ini lelucon.” Gwen menggeleng dengan simbahan air mata yang tak tahu sejak kapan muncul, ia mendekati Max bahkan duduk dihadapan pria itu.

“Tidak Max, tidak begitu. Meskipun aku mau aku tetap tidak bisa. Meskipun ini hidupku, tetapi aku milik keluargaku. Aku sudah pernah membuat kesalahan dengan hilang kesucian kemarin, aku tidak mau lagi membuat kesalahan lain. Entah apa yang akan keluargaku lakukan jika itu terjadi.”

“Jadi anak yang ku idam-idamkan adalah kesalahan untukmu?” Gwen menggeleng terus, Max salah menanggapinya.

“Bukan begitu Max, hanya saja saat seperti ini tidaklah tepat. Kita belum menikah, keluargaku tidak akan pernah mengampuni kesalahan seperti itu. Peraturan keluargaku sangat kuat, aku tidak berani melanggarnya. Setelah semua ini aku berpikir bahwa tidak ada masa depan untuk kita, tidak ada.”

“Jika keadaannya tidak seperti ini, aku mau memiliki anak denganmu. Tapi aku tidak bisa meskipun aku sudah melepas implannya.”

“Buktikan jika kau memang mau.”

Secepat itu Max menyerang bibirnya bahkan tanpa pemanasan Max langsung memasukinya tanpa melepas pakaian mereka berdua. Celana dalam Gwen bahkan hanya disampirkan saja.

Gwen menahan tangisnya dalam hujaman yang Max berikan menahan perih diintinya. Hingga Max sampai pada pelepasan yang membuang benihnya didalam rahim Gwen, Max terus memompa miliknya hingga beberapa kali pelepasan. Lalu Pria itu selesai begitu saja tanpa terimakasih ataupun kecupan manis seperti biasa mereka selepas bercinta.

Ini terlihat seperti pemerkosaan, Max benar-benar menyakiti Gwen.

Dalam keadaan lemas Gwen bangkit dan mengambil tasnya, “kurasa kita memang hanya sampai disini. Terimakasih atas waktunya.”