Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37

Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 28

Surprise

Gwen menggerutu pelan saat bel apartemennya terus berbunyi. Ia mendongak sedikit melihat jam dinding dikamarnya dan berdecak pelan, baru dua jam ia bisa tertidur sejak Max terus mengerjainya sampai pagi dan setelahnya Gwen izin tidak masuk kerja dengan alasan tidak enak badan. Lalu siapa yang bertamu ke apartemennya sekarang?

Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka Gwen berusaha melepaskan pelukan Max padanya, lalu memakai apa saja yang bisa ia pakai sementa untuk melihat siapa yang bertamu. Langkah gontainya membawa Gwen menuju pintu dan membukanya tanpa perlu mengecek siapa yang datang. Alangkah terkejutnya Gwen saat mendapati ibunya berdiri didepannya.

Gerakan ogah-ogahan, mata yang masih berat juga nyawa yang belum sepenuhnya pulih langsung menuju ke tingkat maksimal bahkan jantung Gwen sekarang berdetak begitu kencang.

“Gwen..” Mata Anggun mendeteksi penampilan anaknya dari atas sampai bawah. “Hari ini masih weekdays, kenapa kamu tidak kerja?”

“Ma- Mama kapan sampai kemari?”

“Mama dan Papa ada urusan bisnis disini dan menginap di sebuah hotel, Mama bosan jadi memilih jalan-jalan dan kemari. Mama baru ingat ini hari kerja setelah menekan bel, tapi kamu tidak kerja hari ini?” Mata ibunya bahkan tidak pernah lari darinya membuat Gwen merasa gugup, ia seketika teringat dengan janjinya pada sang ibu.

“Mama tidak boleh masuk?”

Menelan ludahnya Gwen segera menyingkir dari pintu memberi jalan masuk untuk ibunya.

“Masuk Ma, maaf Gwen lupa.”

Anggun masuk kedalam apartemen Gwen yang alamatnya ia dapatkan dari anak buah suaminya yang kemarin mengantar Gwen kemari. Matanya menyisir secara keseluruhan yang ada pada apartemen itu, dalam hati ia merasa ini cukup untuk Gwen yang tinggal sendirian. Apartemen ini juga rapi, tidak ada yang mencurigakan.

“Duduk Ma, Mama mau minum apa?”

“Air putih saja. Gwen, kamu belum jawab pertanyaan Mama. Kenapa kamu gak kerja hari ini?”

“Gwen gak enak badan hari ini jadi izin sehari, besok masuk kerja kok.” Gwen berkata demikian seraya menuju kedapur dan mengambil air putih biasa pada ibunya yang ternyata mengikuti langkahnya.

Karena Mamanya duduk disalah satu kursi meja makan yang minimalis diruang makan Gwen, mau tidak mau Gwen pun ikut duduk disebrang ibunya.

“Kamu benar sakit? Apa perlu Mama antar periksa ke dokter?”

“Engga usah Ma. Istirahat sebentar juga nanti lebih baik.”

Gwen ikut meminum air yang ia bawa juga untuknya, mencoba untuk tenang. Dan dalam hati berharap Max tidak bangun atau Mamanya tidak akan memeriksa kamarnya.

“Ya kamu memang perlu istirahat. Mata kamu merah, leher kamu juga merah-merah. Mama pun baru tahu ada orang sakit pakai kemeja besar laki-laki dan baunya aneh. Bau orang habis berbuat dosa.”

Gwen menoleh cepat pada ibunya, padahal sebisa mungkin ia tidak menatap mata Anggun secara langsung karena takut ketahuan tapi sekarang hancur sudah.

Segera saja Gwen turun dari kursinya dan bersimpuh didepan ibunya, matanya berkaca-kaca begitu saja.

“Maafin Gwen Ma, Gwen tahu Gwen salah.”

“Kamu tahu itu salah tapi masih mengulangi? Kamu ingat Gwen apa yang membuat kamu tinggal di Australia. Karena hal ini.” Luruh sudah air mata Gwen.

Ia pikir ia akan bisa berkelit dan dengan lincahnya berhubungan dengan Max tanpa diketahui Mamanya, lalu ia akan memutuskan Max tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengan pria itu setelah kontrak kerjanya dengan perusahaan habis. Ia harus pulang dan kembali berpura-pura menjadi anak baik yang penurut.

“Belum puas kamu kecewakan Mama Gwen? Mau kamu itu apa?”

“Maaf Ma, maaf.”

“Mama malu punya anak seperti kamu yang gak bisa belajar dari kesalahan. Setelah ini Papa akan tahu dan Mama gak akan bantu kamu lagi.” Anggun berdiri dari duduknya seraya menahan tangis dan kecewa untuk kesekian kalinya pada Gwen.

“Engga Ma, jangan kasih tahu Papa. Gwen mohon.”

Gwen memeluk kaki ibunya berharap ibunya berhenti dan memaafkannya, ia menangis mengingat sebesar apa kesalahannya kali ini. Ia bahkan tidak peduli jika tangisannya dapat membangunkan Max yang seketika ia lupakan karena Mamanya yang kembali marah dan kecewa ingin memberitahu Papanya.

“Mama maafin Gwen.. Gwen janji gak bakal ulangi lagi.”

“Kamu juga kemarin bilang begitu, Mama sudah coba percaya sama kamu. Tapi apa? Apa yang Mama dapatkan sekarang? Kamu kembali membuat Mama kecewa Gwen. Mama sudah tidak bisa lagi percaya padamu.” Gwen menggeleng terus memeluk erat kaki ibunya tidak memperdulikan Anggun yang memaksanya untuk melepas pelukannya.

“Sayang, ada apa ini?”

Kedua wanita beda usia itu mengalihkan tatapan mereka pada Max yang baru saja keluar dari kamar hanya dengan memakai celana dasarnya. Setidaknya Gwen merasa agak tenang karena Max tidak keluar hanya dengan boxer saja.

Melihat Gwen yang memeluk kaki wanita paruh baya yang untuk pertama kalinya Max jumpai, tentu saja pria itu kebingungan. “Gwen, ada apa ini?”

“Jadi dia partner one night stand kamu Gwen?” Entah sengaja atau tidak, Anggun kali ini angkat bicara dengan bahasa inggris yang bisa dimengerti oleh Max. Ya Anggun tidak tahu jika Max sedikit-sedikit bisa berbahasa Indonesia.

Max menaikkan satu alisnya menatap wanita paruh baya itu lalu melihat Gwen yang wajahnya tidak bisa terbaca karena menahan tangis. “Saya kekasih Gwen. Anda siapa?”

“Kekasih?” Anggun menurunkan pandangannya pada Gwen yang ada dikaki kirinya.

“Dia kekasihmu? Kenapa tidak dikenalkan dengan Mama?”

“Anda Mamanya Gwen?”

Max berdehem sebentar dan merasa canggung saat sadar bagaimana penampilannya.

“Maaf, saya tidak tahu-”

“It’s okay. Lagipula kamu tahu say atau tidak juga tidak penting. Saya harap ini kali terakhir saya melihat kamu di apartemen anak saya. Hubungan kalian cukup berhenti sampai disini.”

“Anda tidak berhak untuk mengatur hubungan kami. Itu tidak adil.” Max jelas menolak hal itu, ia bahkan belum berjuang untuk Gwen dan memperlihatkan kegigihannya.

“Aku tidak peduli sama sekali. Kau tuan pergi dari sini dan jangan pernah hubungi Gwen lagi. Dia sudah punya calon suami.”

“Mama.” Gwen bangkit dari posisinya dan menatap ibunya tidak percaya.

“Mama ini ngomong apa?”

“Diam Gwen. Ini yang terbaik untuk kamu, hentikan ini semua sebelum Papa tahu dan tidak bisa diperbaiki lagi. Kalau sampai kamu hamil, semuanya akan bertambah parah.”

“Aku gak akan hamil Ma, aku pakai kontrasepsi. Lagipula Max benar. Mama gak punya hak untuk atur hubungan kami. Aku akan berhenti sebelum Papa tahu, aku mohon Mama maafkan dan percaya lagi sama aku.” Begitu lancarnya Gwen berbicara sampai lupa rahasianya memakai kontrasepsi diketahui oleh Max.

“Jadi itu alasannya Gwen?” Suara dingin pria itu menghantam Gwen.

“Setelah setengah tahun ini, dan kau merahasiakan itu?”

Bersambung