Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37

Angry bird

Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 27

Gwen tidak bisa menahan tawanya meskipun ia masih merasa kesal dengan Max perihal gaun, tetapi melihat Max mengakui bahwa pria itu tergoda cukup lucu untuknya. “Jadi aku berhasil menggodamu?”

“Tidak usah kau tanyakan lagi.” Max menggeram kesal, bahkan pria itu sama sekali tidak menatapnya dan fokus pada jalan.

“Dasar pemarah.” Gerutu Gwen yang malah semakin mendekatkan dirinya pada Max.

Tiba-tiba saja tangan Gwen tersampir dimilik Max yang sedari tadi menggembung, membuat Max cukup tersentak kaget. Tetapi senyum nakal Gwen menyapa matanya, wanita muda itu bahkan dengan berani mengecupi dan menjilati sisi lehernya yang sedang fokus mengemudi. Sial!

“Apa ini juga marah padaku?” Tanya Gwen dengan suara sensual mengusapi milik Max yang masih terjebak didalam celana.

“Gwen.. kau sedang menstruasi. Aku tidak mau hanya dengan mulutmu saja.”

Tidak perduli ucapan penuh frustasi milik Max, Gwen membuka ikat pinggang dan kaitan celana Max juga resletingnya. Membawa sesuatu yang mengeras itu keluar dari celana dalam yang menyesakkan, menggenggamnya dan tidak peduli mereka sedang berada dimana Gwen mengecupi dan menjilati milik Max dibawah sana. Membuat Max kembali menggeram frustasi.

Gwen dengan lihainya memanjakan milik Max hingga nafas pria itu tampak berat bahkan tersengal-sengal, Rongga mulut Gwen memenuhi Max dengan kehangatan dan benar-benar membuat Max gila. Perjalanan mereka masih cukup jauh menuju ke apartemen Gwen, sedangkan diposisi ini Max tidak bisa lagi mengemudi dengan benar. Jadilah Max mengehentikan mobil disebuah hotel salah satu miliknya.

Pelepasan itu datang, menumpahkan semua laharnya ke wajah Gwen yang terpoles make up. Max sendiri merasa luar biasa lega meskipun sedikit tidak puas karena keluar bukan dirahim Gwen.

“Hotel? Kau membawaku ke hotel?”

Tanya Gwen seraya menyeka wajahnya dari cairan Max dengan tisu yang ada di mobil.

“Kita hanya singgah sebentar, aku tadi tidak bisa fokus mengemudi. Sekarang ayo pulang.” Gwen mengangguk paham lalu menatap Max dengan tatapan mengejeknya.

“Jadi kau tidak fokus mengemudi? Sedangkan tadi kau bilang tidak mau hanya dengan mulutku saja. Lagipula seharusnya kita ke hotel saja melanjutkan yang tadi, aku sudah selesai menstruasi sebenarnya.”

Max menoleh cepat lebih tepatnya melotot marah pada Gwen, dan hal itu membuat Gwen tertawa terbahak merasa puas sudah mengerjai Max.

“Itu tidak lucu sama sekali.” Max melajukan kecepatan mobilnya lebih dari sebelumnya agar cepat sampai di apartemen Gwen.

“Itu sangat lucu.” Gwen bahkan tidak menghentikan sama sekali tawanya membuat Max berkali-kali lipat merasa kesal.

“Kau akan mendapatkan balasan dari kejahilanmu ini.”

“Aku sungguh tidak sabar.” Bukannya merasa takut, Gwen malah semakin mengompori kemarahan Max.

Mereka pun sampai di basemen apartemen Gwen, segera saja Max turun dan dengan cepat membukakan pintu untuk Gwen lalu memanggul wanita itu seperti karung beras dibahu kokohnya. Gwen tertawa dan menepuk-nepuk punggung keras Max seraya minta diturunkan karena malu jika ada yang melihat mereka. Sayangnya Max tidak mendengarkan dirinya bahkan dengan gilanya balas menepuk bokong Gwen juga sesekali meremasnya.

“Max turunkan aku.”

Dengan lincah jari Max menekan serial number keamanan pintu apartemen Gwen, kemudian menguncinya dari dalam masih dengan posisi Gwen dibahunya. Membawa Gwen masuk kedalam kamar dan menaruh tubuh wanita itu diatas kasur.

“Sepertinya kau benar-benar marah padaku.”

Tanpa memperdulikan Gwen yang tidak terlihat takut sama sekali padanya, Max melonggarkan dasinya dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Membuang sembarangan jas miliknya yang melekat ditubuh Gwen, Max juga menepis jarak diantara mereka sehingga mau tidak mau Gwen terdampar diatas tempat tidur.

“Tidak ada lain kali untuk pergi ke pesta diam-diam juga gaun sialan seperti ini.”

“Aku diundang-”

“Ssttt.. aku tidak mau mendengar penjelasan apapun.” Max membungkam mulut Gwen dengan mulutnya dengan agak kasar, tentu saja Gwen segera mengimbangi kekasihnya. Mereka langsung diliputi gairah dan dengan tergesa-gesa saling menelanjangi. Max bahkan merobek gaun sialan seksi milik Gwen tidak memperdulikan Gwen yang mendelik kesal padanya.

“Aku akan belikan banyak lingerie untukmu, hanya didepanku tidak didepan orang lain.”

Kecupan-kecupan, jilatan serta gigitan gemas yang menyisakan bekas ditinggalkan oleh Max persetan besok masih hari kerja.

“Kau akan menyesal karena telah membuatku marah.” Max menggesekkan miliknya dengan milik Gwen, mencoba membuat wanita itu kesal.

Karena kesal Gwen mendorong dada Max hingga menyisakan jarak antara mereka.

“Dasar pemarah.”

Lalu ia memutar keadaan hingga membuat dirinyalah yang ada diatas Max sekarang.

“You should not tease me like that angry bird, kau salah pilih lawan.” Dengan beraninya Gwen menggenggam milik Max dan menyatukan milik mereka.

“Ahh.. like that.”

“What the-” belum juga Max selesai melontarkan umpatannya Gwen sudah lebih dulu menutup mulut Max dengan tangannya, seraya tubuhnya bergerak naik turun.

Gwen sempat mendengar geraman tertahan dari Max sebelum kedua tangan pria itu memeluk tubuhnya sehingga membawa Gwen yang awalnya terduduk diperut bagian bawah Max kini terbaring lengket dengan tubuh pria itu.

Tetapi hal itu tidak menjadi penghalang Gwen untuk terus bergerak menaik-turunkan pinggulnya tidak peduli tangan besar Max terus menepuk bokongnya hingga menimbulkan rasa panas disana.

Max terus membiarkan Gwen melakukan sesukanya, karena Max yakin Gwen tidak akan tahan lama. Dan benar saja setengah jam kemudian Max merasa gerakan Gwen melambat dan itu adalah saatnya bagi Max untuk beraksi. Ia melingkarkan satu lengannya di pinggang ramping Gwen hingga mereka semakin menempel, lalu satu lengannya lagi meremas bongkahan pantat Gwen dengan gemas seraya menggerakkan pinggulnya dari bawah dengan kencang. Membuat Gwen mendesah semakin besar kencang bersamaan dengan pelukan wanita muda itu dilehernya.

“Mmhhh..”

Gerakan Max begitu cepat dan kuat membuat Gwen benar-benar merasa tersentak didalam. Beberapa saat kemudian mereka pun mencapai pelepasan dengan Gwen yang lebih dulu keluar sebelum Max menyemprotkan spermanya didalam Gwen. Nafas mereka berdua terengah dan hal itu tidak sama sekali membuat Max melepaskan pelukannya. Mata Max nyalang menatap langit-langit kamar,

“Aku selalu mengeluarkan spermaku dirahimmu. Kenapa kau tidak hamil juga?”

Tubuh Gwen menegang dan Max dapat merasakan itu, Max tidak bisa melihat wajah Gwen karena wanita itu menyerukan wajahnya diceruk leher Max. Dengan lembut Max mengusap naik turun punggung Gwen,

“apa diantara kita ada yang tidak normal?”

Gwen sendiri cukup terkejut dengan topik yang tiba-tiba dibawa pria itu diluar pertengkaran mereka tadi tentang pesta dan gaun. Jantungnya berdetak begitu kencang dan Max pasti bisa merasakannya, tetapi Gwen tidak bisa jujur mengenai program penunda hamil yang ia lakukan. Max akan murka dan Gwen tidak mau hal itu terjadi.

Dengan gerakan seringan bulu tangan Gwen mengusap dada bidang Max, bersiap untuk berbohong.

“Mungkin kau kurang berusaha. Banyak orang yang sudah bertahun-tahun menikah tapi belum dikaruniai anak Max.”

Bersambung