Cerita Dewasa Gwen Milikku Part 26

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Mission Complete, Maybe?

Cerita Dewasa Gwen Milikku

“Hi.” Alexa langsung menyapa begitu Max benar-benar sampai didepannya, terlihat sekali wanita itu melebarkan senyum mencoba untuk terlihat ramah. Sedangkan Max hanya mengangguk sekali tanpa sekalipun membalas senyuman Alexa, bahkan pria itu hanya melirik sebentar sebelum menatap Jeff William dan lainnya.

Gwen sendiri mencoba untuk tidak tertawa melihatnya. Ini pertama kalinya Gwen melihat interaksi Max pada Alexa juga dengan para mantan kekasih pria itu. Wanita-wanita disana tersenyum dan mencoba mengajak Max bicara, ya setidaknya Max masih menanggapi dengan singkat jadi keadaan jadi tidak terlalu canggung. Alexa melangkah mendekati Gwen dan berdiri disampingnya,

“Max perkenalkan ini Gwen. Dia salah satu karyawanmu, mungkin kau tidak tahu dengannya tapi dia ini bawahan Jeff.”

Dengan santai Gwen mengulur tangannya pada Max.

“Gwen.”

Dan sesuai dugaannya Max membalasnya dan juga menyebutkan nama pria itu. Rasanya sangat lucu sekali mereka berkenalan seperti ini seolah tidak saling mengenal setelah berpacaran cukup lama.

“Gwen sepertinya ingin bicara banyak denganmu Max.”

Alexa menyenggol bahu Gwen cukup kuat hingga Gwen kehilangan keseimbangannya, untung saja Max yang ada didekatnya dengan sigap menangkap tubuhnya. Gwen tidak bisa bayangkan jika ia benar-benar jatuh di pesta ini, pasti akan sangat memalukan.

“Kau tak apa?” Max terlihat khawatir bahkan pria itu langsung mengecek kakinya meskipun Gwen sudah menggelengkan kepala.

“Untunglah tidak sampai terkilir.”

Gwen berdehem pelan, jika Max bersikap seperti ini pasti akan menimbulkan pertanyaan orang-orang disini sedangkan ia sedang membangun sandiwara baru berkenalan supaya bisa memberi pukulan telak untuk Alexa.

“Aku tak apa Mr. Beauchamp sungguh.” Gwen bahkan perlu melangkah sedikit kebelakang agar menghindari Max.

Kini tatapan Max beralih pada Alexa, menatap wanita itu tidak suka.

“Aku tidak menyangka kau bisa sekasar itu Miss Smith.”2

Alexa yang rencananya gagal melihat Max marah karena disentuh oleh Gwen pun merasa panik, ia tidak menduga akan menjadi seperti ini.

“A-aku tidak sengaja. Aku tidak berpikir jika senggolan pelan seperti itu bisa membuat Gwen jatuh.” Alexa berkata demikian dan mencari dukungan tunangannya.

“Maafkan Alexa, Max. Dia pasti tidak sengaja. Gwen juga tidak apa-apa kan.”

“Kurasa kata maaf itu bukan untukku melainkan Gwen.” Max menatap Gwen tepat dimatanya, kini pria terlihat marah setelah sempat me-scane pakaian yang ia kenakan barusan.

“Aku pikir Gwen bukan teman kalian, jadi kalian memperlakukannya seperti tadi.”

“Oh tentu tidak Max. Gwen kemari karena diundang oleh Alexa, Gwen adalah teman Alexa dan sebentar lagi akan menjadi partner kencanku.” Joe tiba-tiba menyahut, pria itu bahkan dengan santai menyampirkan tangannya dibahu terbuka Gwen.

Gwen yang tahu ini akan mempersulitnya segera menyingkirkan tangan Joe dengan gerakan risih. Max bahkan sudah siap mencincang Joe sekarang.

“Aku sudah punya kekasih Mr. Velan.”

“Benarkah? Apa dia setampan aku? Sekaya aku? Bagaimana kalau kau tinggalkan saja dia lalu berkencan denganku hmm?” Gwen menggeleng pelan dan kembali menyingkirkan tangan Joe yang tak henti berusaha untuk menyangkut dibahunya.

Joe menghela pelan, pria itu bahkan tidak memedulikan Max yang sedari tadi terus menatap mereka. Joe fokus menatap wajah cantik Gwen,

“kau sangat cantik dan seksi. Sedangkan aku tampan dan kaya, kita pasti akan menjadi pasangan yang serasi.”

“Sudahlah Joe jangan banyak bicara omong kosong. Aku mengundang Gwen kesini karena Gwen ingin bisa kenal lebih dekat dengan Max.” Alexa menyahut dan memisahkan Joe dari Gwen, wanita itu terlihat kesal karena tidak kesampaian melihat Gwen dipermalukan oleh Max didepannya juga semua orang.

“Kau ingin mengenalku?”

Suara berat itu terdengar mengintimidasi, bahkan tatapan Max terus menusuknya. Gwen sendiri sudah biasa, bahkan suara Max yang paling berat saat mereka menyatu sudah sering Gwen dengar jadi itu tidak berarti apa-apa untuknya.

Bergumam seraya menganggukkan kepala, Gwen melangkah mendekati Max. Hingga jarak mereka hanya tersisa sedikit ruang.

“Apa tidak boleh?”

Gwen menaikkan salah satu alisnya. Melangkah lebih dekat lagi membuat tubuh mereka saling bersentuhan, tanpa ragu Gwen memalingkan wajahnya dan mengecup singkat rahang Max.
Max memejamkan matanya seraya menggeram pelan, Gwen benar-benar kurang ajar karena telah mempermainkannya di tempat umum seperti ini.

Padahal Gwen sendiri yang sedari awal menjaga privasi hubungan mereka, lalu ini apa? Terlihat sekali Gwen hanya mempermainkan dirinya, karena setelah mengecup rahangnya wanita muda itu malah berhenti dan memberikan jarak pada mereka.

Semua orang sudah menanti apa yang akan terjadi selanjutnya, diantara musik klasik yang secara live terus mengalun mereka dapat melihat Max mengetatkan rahang nya dan menahan amarah. “Beraninya kau.”

Alexa sudah meremat lengan tunangannya, matanya sama sekali tidak berkedip menatap adegan didepannya karena takut ketinggalan sesuatu. Di otaknya terus menduga Max akan mencengkeram rahang Gwen dengan kuat hingga wanita itu menangis seraya memberikan ancaman-ancaman atau membentaknya kasar seperti yang pernah ia dapatkan dari Max selama mereka berpacaran.

Gwen sendiri malah terlihat santai melipat kedua tangannya dibawah dada membuat payudaranya yang sudah menonjol semakin ingin keluar. Max sudah tidak tahan dan pria itu segera melepaskan jas yang dipakainya dan membalut tubuh Gwen dengan itu hingga tubuh Gwen tenggelam.

“Berani-beraninya memakai pakaian seperti ini.” Suara Max terdengar sangat mengerikan, pria itu marah sekali dan Gwen yakin Max tidak akan dengar penjelasannya sampai amarah pria itu reda.

Max menarik tubuh Gwen hingga wanita itu jatuh kepelukannya, meskipun Gwen sudah memakai heels yang cukup tinggi tetapi Gwen tetap saja tenggelam dipelukan Max. Kali ini Max menatap Joe,

“jangan pernah bermimpi untuk berkencan dengannya.”

Lalu Max membawa Gwen pergi darisana tanpa berkata apapun meninggalkan seberkas tanya juga dugaan dari mereka semua termasuk Elleana yang sedari tadi menjadi pengamat anaknya. Wanita paruh baya itu terlihat sangat penasaran dengan wanita yang ada dipelukan Max, dan ia berjanji pada dirinya sendiri akan menyelidiki tentang hal ini.

Disisi lain Max sudah membawa Gwen menaiki mobilnya tidak mempedulikan ibunya atau bahkan supir yang mengantarkannya kemari. Ia akan menyuruh seseorang untuk menjemput ibunya nanti, sekarang ia perlu menyelesaikan kemarahannya dengan Gwen.

“Aku-”

“Aku akan bakar semua gaun tidak layak pakai itu.”

“Aku cuma punya satu.”

“Kalau begitu tidak akan ada lagi gaun pesta setelah ini.” Max mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. “Kau memakai pakaian seperti itu untuk menggoda siapa? Berani-beraninya.”

Gwen melipat kedua tangannya didepan, wanita itu juga ikut marah. “Untuk menggodamu tentu saja. Dan satu hal lagi, kau tidak berhak melarangku memakai gaun pesta.”

“Aku akan membakarnya lihat saja nanti. Dan sekarang aku tergoda kau puas?!”