Bu Ratna Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 8

Tatapan Ratna berubah menjadi penuh kemarahan. Rahangnya mengeras. Tangannya yang berada di bawah meja kini terkepal dengan kuat. Dia hampir meledak karena rasa marahnya yang mulai membara.

“Menemuimu, sayang,” jawab pria itu dengan santai. Dia menampilkan senyum khas-nya, atau lebih bisa disebut seringainya. “Ngomong-ngomong, ini ada bunga untukmu.”

Mengabaikan tatapan marah dari mantan istrinya, dia pun meletakkan buket yang sedari tadi di tangannya itu ke atas meja dekat sofa dengan santai sementara matanya menyapu sekeliling ruangan wanita itu. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya.

“Ruanganmu cukup besar dan nyaman, ya? Dan oh-” tatapannya tak sengaja bertemu dengan Reza yang sedari tadi melihatnya dengan tatapan penasaran.

“Siapa ini?” tanya pria yang bernama Reynaldi itu sambil tersenyum lebar.

“Mahasiswamu, ya?” tanyanya lagi, kali ini tatapannya kembali ke Ratna yang masih duduk di bangkunya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Siapa kau?” tanya Reza tiba-tiba.

Dia tahu kalau ada yang tidak beres di antara mereka berdua, terbukti dari tatapan Ratna yang begitu dingin. Tatapan wanita itu memang selalu dingin, tapi kali ini sangat berbeda, penuh dengan kebencian dan ketakutan yang bersatu menjadi satu.

“Kau yang siapa, anak muda?” tanya Reynaldi kembali.

Senyumnya masih belum lepas dari wajahnya. Dia menghampiri Reza dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan pemuda itu.

“Jawab dulu pertanyaan saya, Saudara siapa?” tanya Reza lagi dengan dingin, mengabaikan uluran tangan Reynaldi.

Senyum Reynaldi langsung memudar. Tangannya yang sedari tadi diulurkan kini dilipat di depan dadanya. Tatapannya kini berubah tajam. Harus diakui oleh Reza, pria di hadapannya ini sedikit menakutkan.

Sorot matanya benar-benar gelap dan dingin. Dia terlihat seperti pria yang tidak berperasaan dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

“Saya mantan suaminya Bu Ratna. Sedang apa kau di sini? Diskusi soal mata kuliah?”

Jawaban pria itu berhasil membuat Reza mulai menggeram dalam hati. Jadi, pria ini yang telah menyakiti Ratna dan Fian. Pria ini yang telah membuat Ratna tidak percaya dengan cinta lagi. Pria ini juga yang menyebabkan Fian tumbuh tanpa ada figur seorang ayah di sampingnya. Dan sekarang pria ini datang lagi ke hadapan Ratna. Mau apa dia sebenarnya?

“Untuk apa kau datang lagi?”

Reynaldi sedikit terkejut dan bingung. Dia menoleh ke arah Ratna yang masih belum mengatakan apa-apa.

“Kau tahu saya, anak muda?”

Reza langsung tertawa sangat kencang sampai membuat Reynaldi berpikir kalau pemuda di hadapannya ini agak tidak waras.

‘Tentu saja saya tahu Saudara. Mana mungkin saya lupa dengan seseorang yang berhasil membuat Ratna menderita selama ini.”

“Ratna?” tanya Reynaldi heran.

“Kau memanggil dosenmu sendiri dengan sebutan ‘Ratna’? Mana tata kramamu, anak muda? Dan bagaimana kau bisa tahu saya?”

“Bukan urusan kau, bajingan!” bentak Reza penuh emosi.

Dia menunjuk pria di depannya dengan amarah yang sudah meluap-luap. Dia tahu kalau sepertinya pria ini memiliki niat tersendiri dan karena itu dia harus melindungi Ratna dan Fian dari pria ini.

“Jangan datang dan mengganggu Ratna lagi,” ucapnya dengan penuh ancaman.

Namun, kali ini, Reynaldi lah yang tertawa terbahak-bahak. Dia bahkan sampai memegang perutnya. Perkataan yang baru saja diucapkan oleh pemuda itu benar-benar lucu baginya.

“Kau memang siapa, bocah? Berani-beraninya mengatur saya.”

“Kau-”

Reza hampir memberi pelajaran ke pria yang lebih tua darinya itu kalau Ratna tidak segera mencegahnya.

“Reza, berhenti!” teriak Ratna yang sedari tadi diam saja saat melihat Reza sudah mengepalkan tinjunya dan menghampiri Reynaldi. Dia tidak ingin Reza berkelahi karena dirinya dan membuat keributan di sini. Mereka masih di kampus.

“Pergilah, Reynaldi. Saya mohon,” ujarnya berusaha tenang, tapi bisa terasa ada nada kemarahan di setiap kata yang dia ucapkan.

“Kenapa, Ratna? Tidakkah kau rindu aku?”

Reynaldi mendekati Ratna yang masih duduk, seringainya kembali muncul. Saat sudah sampai di hadapan mantan istrinya, dia mengusap kepala wanita itu dengan lembut.

“Jangan sentuh saya, bajingan.” Tangan Ratna langsung menepis sentuhan dari Reynaldi dan pergi ke arah Reza, yang langsung dirangkul oleh pemuda itu dengan posesif.

“Kalian…?” Tangan Reynaldi menunjuk mereka berdua sambil berusaha mencerna apa yang terjadi. Setelah sadar, dia tersenyum meremehkan.

“Ah, ada hubungan terlarang antara dosen dan mahasiswa, ya?”

Reza tidak bergeming, dia bahkan makin mempererat rengkuhannya agar pria itu tidak berani macam-macam ke Ratna. Kalau pun dia berani macam-macam, dia harus bisa melewati Reza terlebih dahulu.

“Ratna, sekarang kau suka brondong? Mahasiswamu sendiri? Hahaha rendahan sekali seleramu,” sindir Reynaldi. Ditatapnya Reza dengan seksama, dari atas ke bawah, lalu mengangguk-angguk seolah memuji.

“Well, tapi untuk seorang mahasiswa, dia mempunyai fashion yang bagus,” tambahnya lagi.

“Kau tahu kan apa yang akan terjadi kalau aku membeberkan soal ini ke seluruh kampus?”

“Pergilah, Rey, atau saya panggil satpam,” Ratna kembali bersuara lagi. Tangannya sudah menggenggam handphone untuk memanggil satpam.

“Baiklah, baiklah.” Reynaldi akhirnya mengalah. Kedua tangannya diangkat ke atas seolah-olah tidak ingin berdebat lagi.

“Aku akan pergi, tapi bersiaplah Ratna, aku pasti akan datang lagi.”

“Mau apa kau sebenarnya?” tanya Ratna penuh selidik.

“Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya ingin bertemu dengan anakku kembali. Sudah saatnya dia mengenal siapa ayahnya,” jawab Reynaldi dan berhasil membuat Ratna membulatkan matanya.

“Dan aku juga ingin mengambil hatimu kembali, mantan istri- ah bukan, calon istriku. Mudah-mudahan aku berhasil. Hey, anak muda! Lupakan saja Bu Ratna,” tambahnya lalu tersenyum manis.

“Aku pergi.”

Tanpa melihat ke arah Ratna dan Reza lagi, Reynaldi melangkah ke luar ruangan mantan istrinya itu dengan santai sambil tersenyum meremehkan, bahkan sesekali tertawa kecil.

“Dosen dan mahasiswa… Lucu sekali mereka. Ratna, aku jauh lebih hebat ketimbang pemuda itu.”

***

Beberapa menit setelah Reynaldi pergi, Ratna langsung terjatuh ke lantai karena tekanan yang sedari tadi ia rasakan. Dia juga mulai mengeluarkan air matanya yang sudah dia tahan mati-matian sejak Reynaldi muncul di hadapannya.

Hilang sudah Ratna yang dingin dan arogan, kali ini hanya ada Ratna yang terluka. Pikirannya kembali memutar kejadian beberapa tahun silam saat peristiwa itu terjadi.

Dia kembali mengingat perisiwa di mana Nadda dan Reynaldi yang tidak memakai sehelai benang sedikit pun di kamarnya, melakukan hal-hal yang tidak pantas. Dia kembali mengingat bagaimana perjuangannya menghadapi semuanya. Dia kembali mengingat dirinya di masa lalu, naif dan mudah percaya dengan orang.

Mereka berdua lah yang telah membuatnya seperti ini, kaku dan dingin dengan semua orang. Mereka juga yang membuat Ratna begitu sulit untuk menerima Reza.

“Ratna…” panggil Reza lirih.

Dia memeluk wanita itu dengan erat, seolah-olah tidak ingin membiarkan wanita yang dicintainya itu terluka sendirian. Dia ingin memberi kekuatan, meskipun tak tahu harus berbuat apa atau berkata apa, tapi setidaknya dia ingin memberi tahu Ratna secara non verbal bahwa Ratna tidak sendirian, bahwa ada dirinya yang akan selalu menjaganya.

“Mengapa dia balik, Reza…” ucap Ratna di sela-sela tangisannya.

Tangannya langsung merangkul leher pria itu dengan erat sementara wajahnya dibenamkan di pundak pria itu. Reza bisa merasakan pundaknya basah karena air mata wanita yang dicintainya itu, tapi dia tidak peduli, yang dia pikirkan hanya lah dosennya sekarang.

“Dia balik… Dan dia ingin bertemu dengan anakku. Setelah apa yang dia telah lakukan padaku selama ini! Fian itu anakku seorang, Reza! Bukan anaknya! Akulah yang mendapatkan hak asuhnya. Dia juga sudah berjanji tidak akan datang lagi… Dia juga menginginkan aku lagi. Aku takut disiksa lagi. Aku takut, Reza… Aku takut dengan apa yang ada di otaknya. Aku tidak ingin berurusan dengannya lagi. Aku tidak punya siapa-siapa, aku hanya punya Fian dan Linda sekarang…”

Reza semakin merasa sedih saat mendengar tangisan wanita di dekapannya sekarang. Baru kali ini dia merasakan hal ini. Hatinya selama ini sudah beku karena perbuatan orang tuanya, dia bahkan tidak bergeming saat melihat ibunya menangis. Namun, kali ini, wanita ini bisa membuat dia ingin menangis juga. Apakah cinta memang sehebat ini?

“Kamu punya aku, Ratna. Aku akan menjagamu dan Fian dari apapun dan siapapun. Aku akan memastikan bahwa mantan suamimu itu tidak akan mengganggumu lagi. Jangan khawatir, Ratna. Kamu tidak sendirian lagi, kali ini ada aku yang akan menopangmu.”

Reza mengatakan kata-kata itu setengah berbisik, tapi penuh perasaan sehingga Ratna pun bisa merasakan ketulusan hatinya yang selama ini dia ragukan karena kejadian di masa lalunya yang telah membuat dia trauma.

“Jangan tinggalkan aku, Reza…” pintanya pelan.

Ratna menatap Reza dengan penuh pertanyaan. Mengapa Reza masih tetap setia menemaninya di saat dia sudah tidak terlihat sempurna lagi? Mengapa Reza tidak juga lelah dengan dirinya?

“Tidak akan. Ini janjiku padamu. Aku akan selalu berada di sisimu.”

***

“Ayo makan!” ajak Reza setelah melihat Ratna yang sedang duduk di kursi kerjanya sudah merasa baikan. Di tangannya terdapat kantong plastik berisi makanan yang tadi dia beli di kantin kampus.

“Tidak. Aku tidak lapar,” jawab Ratna pelan. Matanya berusaha fokus kembali ke pekerjaannya yang menumpuk meski otaknya sedang kacau balau.

“Kamu belum makan dari tadi. Tubuhmu butuh tenaga! Berhentilah bekerja sebentar, istirahatkan tubuh dan otakmu!” perintah Reza dengan tegas.

“Aku tidak nafsu makan, Reza! Aku bahkan tidak punya tenaga untuk memegang sendok!” balas Ratna frustasi lalu melempar pulpen yang sedari tadi ia berusaha untuk pegang ke meja.

“Aku akan suapi, ayo kita makan.”

“Kita di kampus, kamu gila ya?” tanya Ratna gemas.

“Peduli apa? Toh, tak akan ada yang melihat kita selama jendelamu tertutup gorden dan pintu itu dikunci,” jawab Reza santai.

Ratna masih tidak mengerti dengan kelakuan anak muda di depannya ini. Beberapa saat yang lalu, dia masih begitu romantis dengan kata-katanya yang begitu menyentuh dan begitu melindungi, tapi sekarang dia menjadi begitu menyebalkan dan seenaknya.

“Kita tidak boleh bertingkah sembarangan! Lagian aku ini dosenmu!”

“Anggap saja ini tanda baktiku kepada dosen pembimbingku yang selama ini sudah membantuku mengerjakan skripsi.”

“Dosen pembimbing tidak boleh menerima apapun dari mahasiswa bimbingannya. Itu melanggar undang-undang!”

“Kalau gitu anggap saja aku bukan mahasiswa bimbinganmu, tapi calon pacarmu. Kita tidak akan ditangkap, kan?”

“Reza-” Belum selesai Ratna bicara, sebuah sendok berisi makanan sudah berada di mulutnya. Tentu saja pelakunya adalah siapa lagi kalau bukan pria di depannya.

“Makan. Jangan bicara nanti kamu tersedak,” jawab pria itu saat melihat Ratna yang sudah hampir mengumpat dengan makanan di mulutnya.

Makanlah yang banyak, Ratna sayang. Jangan mengkhawatirkan apapun lagi selama ada aku, bisik Reza dalam hati.

***

Dia datang lagi.

Semenjak kunjungannya waktu itu, Reynaldi tidak pernah absen menemui Ratna di kampus. Semenjak itu juga Reza dan Ratna sering bertengkar karena hal itu membuat Reza mulai sedikit terlupakan. Ratna semakin mengabaikannya semenjak Reynaldi datang. Bahkan, Ratna yang pada awalnya ketakutan dan selalu memasang sikap waspada setiap Reynaldi muncul di hadapannya, kini mulai terlihat baik-baik saja.

Reynaldi benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan wanita seperti Ratna. Ketika Reza sampai sekarang belum bisa mendapatkan hati dan perhatian Ratna seutuhnya, pria yang terlihat sangar itu sudah mendapatkan lebih dari setengah perhatian dari mantan istrinya. Tentu saja itu karena dia memanfaatkan statusnya sebagai ayah dari Fian.

Sayangnya, Reynaldi masih belum bisa menemui anaknya karena Ratna masih belum percaya 100% ke dirinya, tapi mereka sering bertemu untuk membahas kebutuhan dan keperluan anak mereka.

Hari ini, sama seperti hari-hari sebelumnya, Reza harus menerima kenyataan pahit bahwa acara makan siang bersama Ratna setelah pra sidang yang seharusnya hanya dihadiri oleh mereka kini harus ditemani oleh Reynaldi. Padahal itu rencana mereka sejak seminggu yang lalu. Ratna juga sepertinya tidak terlalu peduli dengan hal itu, dia memang tidak pernah peka.

Di depan matanya, Reza bisa melihat gerak-gerik Reynaldi yang sok perhatian ke Ratna, seperti mengambil minuman untuk Ratna atau memberikan tissue dengan cekatan meski Ratna tidak pernah meminta.

Reza merasa gerah dan resah, entah berapa kali dia ingin beranjak dari pemandangan di depannya itu dan meninggalkan mereka berdua, tapi dia juga tidak berniat memberikan kesempatan yang bagus ke rivalnya satu itu.

“Ratna,” panggilnya berusaha mengalihkan perhatian dosen pembimbingnya yang sedari tadi sibuk membahas soal Fian dengan Reynaldi, sementara dia hanya menjadi pajangan saja di antara mereka. Tak dianggap sama sekali.

“Sebentar dulu, Reza. Aku masih membicarakan hal yang penting dengan Rey. Kamu makan dulu saja ya,” balas Ratna tanpa menoleh sedikit pun ke arah Reza.
Reza bisa melihat tatapan mengejek yang samar-samar dari Reynaldi ketika Ratna melihat ke arah lain.

“Aku sudah menunggu kalian selesai bicara dari awal makanan datang sampai makananku sudah habis, tapi masih tidak selesai-selesai juga pembicaraan kalian. Acara makan ini sudah kita rencanakan dari seminggu yang lalu, bukan? Sekarang, kenapa kamu mengabaikanku?” tanya Reza dengan sinis.

Setelah mendengar pertanyaan Reza, akhirnya Ratna mengalihkan perhatiannya ke pria di sampingnya itu dengan tampang malas untuk berdebat.

“Bisa gak kita gak usah berdebat soal ini? Kamu kekanak-kanakan banget sih?”

“Ya aku memang muda, aku belum sematang kamu dan mantan suamimu itu. Aku memang kekanak-kanakan. Ah, sudahlah, sesukamu saja. Sana lanjut lagi pembicaraan kalian, aku gak akan ganggu lagi!”

“Reza-”

Belum selesai Ratna berbicara, Reza sudah beranjak dari kursinya dan meninggalkan Ratna yang merasa kesal karena perilaku Reza dan Reynaldi yang berusaha menyembunyikan senyum kemenangannya dari Ratna.

“Jangan terlalu memikirkan anak muda itu, Ratna,” katanya saat melihat wanita itu berusaha menghubungi Reza berkali-kali.

“S-saya tidak memikirkan dia,” balas Ratna sedikit gugup lalu memasukkan kembali handphone-nya ke dalam tas.

“Saya tahu kamu punya perasaan ke anak bimbingmu sendiri. Bagaimana pun saya pernah hidup satu atap denganmu.”

Ratna menghelakan napasnya kasar, seolah-olah tidak ingin menerima semua perkataan dari Reynaldi. “Saya tidak punya perasaan apa-apa ke dia.”

“Lalu, kenapa kamu berusaha menghubunginya seperti itu? Apa urusanmu kalau Reza lebih memilih pergi duluan?”

Ratna tidak menjawab. Dia hanya diam mematung karena tidak tahu harus memberikan jawaban yang seperti apa di saat dia juga tidak tahu jawabannya.

“Saran saya, Ratna, lebih baik kamu lupakan saja perasaanmu ke dia itu. Kalau kalian tertangkap basah, yang rugi juga kalian berdua. Kamu tahu betul kan resikonya seperti apa?”

“Kamu tidak berhak mengatur hidup saya lagi,” jawab Ratna dengan sinis.

“Bukan mengatur, hanya memberi saran saja. Lebih baik kamu melihat dan mecintai saya lagi. Toh, saya adalah ayah dari anakmu.”

Ratna langsung berdiri dan menatap Reynaldi dengan aura dingin dan kakunya yang selama ini menjadi ciri khas-nya.

“Jangan harap kalau kau bisa mendapatkan saya lagi, Reynaldi. Mungkin kamu memang ayahnya Fian, tapi bukan berarti saya sudi mencintaimu lagi.”

“Lihat saja nanti, Ratna sayang. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.”

Ratna membelalakkan matanya lalu mengambil tasnya dengan kasar dan pergi dari restoran itu.

***

“Kenapa lagi lo, Za?” tanya Gilang saat melihat wajah sahabatnya yang terlihat sedang menahan emosinya. “Dimarahin pas pra sidang?’

“Bukan,” jawab Reza singkat. Matanya masih berusaha konsentrasi dengan game di depannya meski pikirannya kemana-mana.

“Kalau lo mikirin sesuatu ya lo pasti gak akan menang meski lawan komputer sekali pun,” ucap Gilang dengan santai sembari mengadukkan sendok di dua cangkir kopi di hadapannya tersebut.

Benar saja. Dalam sekejap, Reza kalah telak. Wajahnya yang sedari tadi penuh emosi kini lesu, sampai membuat dia langsung menyingkirkan game controller itu dari hadapannya dengan kasar dan memilih untuk menyenderkan tubuhnya ke sofa lalu menutup matanya.

“Nih, kopi,” tawar Gilang sambil menaruh secangkir kopi di atas meja, sementara cangkir yang satunya lagi dia bawa agar bisa langsung ia minum.

Reza membuka mata dan kembali memperbaiki posisi duduknya lalu mengambil cangkir tersebut agar bisa ia cicipi rasanya.

“Thanks, Bro,” katanya setelah menyeruput kopi itu.

“Santai,” sahut sahabatnya dengan senyum simpul di bibirnya.

“Jadi, lo kenapa?”

“Biasalah. Siapa lagi kalau bukan Ratna.” Reza enggan membalas tatapan Gilang jadi dia lebih memilih menatap kopinya.

“Berantem lagi karena Ratna dan Reynaldi?”

Gilang memang tahu soal itu, dia adalah sahabat nomor satunya Reza. Akhir-akhir ini, Reza sering menyampaikan kegelisahannya mengenai Reza dan Reynaldi ke dia. Mungkin Reynaldi memang omnya, tapi tentu saja dia akan tetap membela Reza sampai kapan pun.

“Ya iyalah, siapa lagi yang bisa bikin gua naik darah selain Reynaldi dan Norman,” jawabnya dengan ketus.

“Lo emang gak ada sikap sopannya ya ke Pak Norman dan Om Rey, mereka kan jauh lebih tua daripada lo. Terutama Om Rey, dia Om gue loh.”

“Gak peduli lagi gua. Kapan sih Om lu balik lagi ke Kalimantan? Gua udah males ketemu dia di sekitarannya Ratna.”

“Bapak bilang kalau Om Rey gak berencana pulang ke Kalimantan. Dia berencana menetap di Bandung karena anak dan mantan istrinya juga di sini.”

Reza langsung mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Sialan,” umpatnya tanpa sadar. “Bukannya Reynaldi harusnya udah menikah dengan selingkuhannya waktu itu?”

“Nadda maksudnya?”

“Ya siapa lah itu namanya.”

Gilang berpikir sebentar, berusaha mengingat-ingat tentang Nadda.

“Gue gak tahu banyak soal dia sih, Za. Setelah Om Rey dan Tante Ratna cerai, Nadda dan Om Rey kan pergi ke Kalimantan,” ucapnya dengan hati-hati sambil mengusap-usap dagunya dengan tangannya. “Kabar terakhir yang gue denger dari Bapak tentang mereka sih kalau mereka udah pisah. Gak tahu benar atau bohong.”

“Heran, kok pernikahan jadi kayak mainan?” tanya Reza dengan nada kesal.

Gilang mengangkat alisnya sebelah lalu menyeruput kopinya kembali.

“Bukannya lo sendiri juga gak percaya dengan pernikahan?”

“Semenjak ketemu Ratna gua mulai percaya dengan pernikahan dan cinta. Semua karena perasaan gua ke dia.”

“Terus, kenapa lo malah frustasi kayak gini? Harusnya lo berusaha lagi dong mengambil hatinya.”

“Lu ngomong gampang amat. Sampai sekarang aja gua masih invisible di mata Ratna.”

“Ke mana Reza yang selalu percaya diri kalau udah berurusan dengan wanita? Lo kan Cassanova.”

“Reza yang Cassanova udah hilang, sekarang cuma tinggal Reza yang bucin dan bego.”

“Iya, lo emang bego,” sindir Gilang tanpa aling-aling lalu berdiri dan mengambil dua game controller yang tergeletak begitu saja di lantai. Dia melemparkan salah satunya ke Reza dan langsung ditangkap dengan cekatan oleh pria yang sedang galau tersebut.

“Ayo kita sparing,” jawab Gilang saat melihat Reza memberikan tatapan bertanya.

“Kalau ama gue, gue gak mau lihat lo galau gak jelas gini,” tambahnya lagi.

“Oke,” angguk Reza mantap seperti tak mau kalah. Kadang dia bersyukur mempunyai teman seperti Gilang yang selalu senantiasa menemani dan menghiburnya setiap dia galau dan terpuruk seperti ini.

***

Reza menyalakan handphone-nya kembali setelah seharian mematikannya karena sibuk bermain game bersama sahabatnya. Ada banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan yang belum terbaca di notifikasinya, dan itu hampir semuanya dari Ratna.

Jangan pergi begitu saja. Kamu kekanak-kanakan banget sih! – Ratnaku.

Kamu di mana? Kok gak ke ruanganku? Aku kira kamu nunggu di ruanganku. – Ratnaku.

Jawab teleponku, Reza. – Ratnaku.

Aku khawatir, Za. Jangan pulang larut malam. – Ratnaku.

Reza, kenapa kamarmu masih gelap? Ini sudah jam 11 malam. – Ratnaku.

Reza hanya mengabaikan semua pesan itu dan memilih untuk menyegarkan badan serta pikirannya dengan membersihkan diri. Setelah selesai, dia kembali ke kamarnya, bersiap-siap untuk tidur.
Tiba-tiba, handphone-nya berdering tanda ada telepon masuk. Ternyata itu Ratna.

“Ya, Pratama di sini,” jawab Reza malas-malasan.

“Kau sudah pulang? Kenapa tidak mengangkat teleponku sama sekali? Kau tidak tahu kalau aku khawatir? Kau darimana saja?” tanya Ratna bertubi-tubi dari seberang sana.

“Apa pedulimu?”

“Reza, aku serius!”

“Jangan buang-buang pulsa untuk meneleponku. Telepon saja mantan suamimu itu. Ngobrol dengannya lebih berbobot ketimbang ngobrol denganku, bukan?” tanya Reza dengan sinis.

Reza bisa mendengar suara desahan frustasi Ratna dari seberang sana setelah dia mengucapkan kata-kata tersebut.

“Kamu jangan seperti anak kecil. Bagaimana pun Reynaldi itu ayahnya Fian, jadi aku harus mendiskusikan banyak hal dengannya.”

“Sebelumnya, kamu pernah bilang kalau Fian itu hanya anakmu, bukan anaknya mantan suamimu. Sekarang kenapa berubah?”

Ratna tidak bisa menjawab. Dia juga merasa bingung mengapa dia dengan mudahnya mengakui kalau Reynaldi itu adalah ayah dari anaknya, padahal dia selama ini selalu teguh dengan pendiriannya kalau Reynaldi itu bukan ayah Fian.

“Lihat, kamu tidak bisa jawab. Sudahlah, Bu Ratna. Jangan ganggu saya, saya mau tidur.”

“Reza! Tung-”

Piip. Reza memutuskan panggilan dari Ratna secara sepihak. Setelah melemparkan handphone-nya ke sembarang arah, dia langsung merebahkan dirinya di atas kasur dan memejamkan matanya, masuk ke alam bawah sadar.

***

“Reza,” sapa Ratna saat melihat pria itu sedang duduk di sebuah bangku di taman yang ada di kampus mereka. Kebetulan, tak ada orang di sana kecuali mereka berdua.

Pria itu tidak menoleh dan lebih menyibukkan diri dengan seekor semut di tangannya. Sementara Ratna hanya menghelakan napasnya berusaha mengerti pemuda yang sepertinya masih marah dengan dia itu.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya lagi berusaha membuat Reza bicara dengannya.

Reza langsung menatap Ratna dengan tajam.

“Tidak bisakah kau lihat sendiri?” tanyanya balik dengan nada sinis.

Ratna langsung terdiam dan hanya mengangguk pelan.

“Sedang apa Ibu di sini?” tanya pria itu lagi. Sekarang matanya kembali memperhatikan semut yang berjalan di tangannya.

“Ingin ngobrol denganmu. Kamu mengabaikan saya terus dari kemarin,” jawab Ratna sambil tersenyum manis.

Reza yang tak sengaja melihat itu langsung terkesiap. Ratna memang mempunyai senyuman yang manis. Ketika dia tersenyum, matanya hampir menghilang dan seperti kacang almond.

Sialan, cantik banget sih ini ibu-ibu! Gua nyesel gak sengaja melihat wajahnya, umpatnya dalam hati.

“A-apa?” tanya Ratna dengan gugup. Wajahnya sedikit memerah.

“Hah?”

“Tadi kamu bilang kalau saya cantik.”

“Kapan?”

“Tadi kamu bicara sambil setengah berbisik!”

Bentar, perasaan tadi gua ngomong dalam hati, bisiknya pelan.

“Tapi sayangnya kedengaran oleh saya,” balas Ratna dengan percaya diri seolah-olah rasa malu yang ia rasakan sebelumnya hilang begitu saja.

“Salah dengar kali,” Reza masih mencoba berkilah. Dia langsung berdiri dan berniat pergi dari situ karena merasa malu, dia juga masih merasa kesal setelah apa yang sudah Ratna lakukan padanya akhir-akhir ini.

Namun, sayangnya, sebelum Reza melangkah lebih jauh dari hadapan Ratna, wanita itu sudah menahan tangannya duluan.

“Jangan marah lagi ya?”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat