Bu Ratna Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 7

Akibat pertengkaran itu, Ratna mengajukan surat pengunduran diri dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Hubungannya dengan Reynaldi pun semakin membaik, bahkan Ratna mengandung anaknya Reynaldi. Tak ada lagi kekerasan yang Reynaldi lakukan ke Ratna. Keluarga kecil mereka sangat bahagia.

Ratna tidak menyesal telah melepaskan pekerjaannya demi suaminya kalau bayarannya adalah memiliki keluarga bahagia yang selama ini dia impikan. Dia bahkan rela menelantarkan gelar S3-nya demi keluarga kecilnya.

Toh, ini adalah kewajiban seorang istri, pikirnya.

Tapi kebahagiaan sepertinya tidak selalu berpihak kepada Ratna. Di usia kehamilannya yang ke 6 bulan, dia mengetahui sesuatu yang membuat hatinya hancur lebur. Reynaldi, suaminya, memiliki hubungan terlarang dengan wanita lain. Seorang wanita yang lebih muda dan lebih cantik darinya. Seorang yang Ratna sangat percaya tidak akan mengkhianati dirinya. Dia adalah Nadda, mantan mahasiswanya waktu masih bekerja sebagai dosen dahulu.

Untuk menambah penghasilan, Ratna menjadikan setengah rumahnya sebagai kost-kostan. Kebetulan memang lokasi rumah mereka dekat dengan kampus dan tempat kerja, serta dekat dengan pusat perbelanjaan dan jalan raya. Karena itulah, kost-kostan milik Ratna banyak peminatnya.

Dia bahkan sampai merenovasi rumahnya menjadi dua lantai hanya untuk kost-kostan. Baik mahasiswa maupun pekerja memutuskan untuk memilih kost-kostan milik Ratna sebagai tempat tinggal sementara mereka, salah satunya adalah Nadda.

Saat menemukan kost-kostan milik Ratna, Nadda baru saja mendapatkan pekerjaan yang lokasinya dekat dengan kostannya itu. Dia juga menyukai suasana kost-kostan itu yang dianggapnya sangat nyaman dan sejuk, kondisi kamarnya pun cukup bagus meskipun harganya tidak terlalu mahal. Dan saat dia tahu bahwa pemiliknya adalah Bu Ratna, mantan dosennya saat semester empat yang sudah tidak mengajar lagi, dia makin berminat untuk tinggal di sana.

Bu Ratna merupakan dosen yang sangat ia sukai karena cara mengajarnya yang mudah dimengerti. Selain itu, dia juga kagum dengan ketegasan yang dimiliki Bu Ratna. Menurutnya, Bu Ratna adalah orang paling objektif dengan pemikiran yang luar biasa.

Nadda adalah wanita yang cantik dan ceria. Dia sangat ramah dengan siapa saja. Hanya dalam waktu sebentar, dia sudah akrab dengan anak-anak kostan yang lain. Dia selalu berusaha menyapa Ratna dan mengajaknya berbincang-bincang beberapa kali, entah membicarakan apa saja.

Dia juga berusaha untuk menyapa suaminya Ratna, Reynaldi, dengan sopan ketika Reynaldi sedang ada di rumah. Akhirnya, karena keramahan Nadda, Reynaldi yang kaku dengan siapa pun juga mulai menghangat ketika berhadapan dengan Nadda.

Ratna juga menyambut Nadda dengan hangat saat dia tahu kalau Nadda merupakan mantan mahasiswanya. Dia selalu mendengarkan cerita pemudi itu dan memberikan pendapat-pendapatnya ketika Nadda membutuhkan saran. Ratna juga memberikan perhatian yang lebih ke Nadda layaknya seorang ibu, terutama saat orangtua Nadda meninggal dalam kecelakaan.

Dia tidak bisa melihat Nadda yang biasanya ceria kini merenung dan meratapi kematian orangtuanya. Hubungan mereka menjadi semakin dekat. Ratna bahkan selalu membantunya dengan memberikan uang ketika Nadda kesulitan ekonomi. Dia juga memaklumi ketika Nadda terlambat membayar kostan.

Dia sangat menyayangi Nadda dan mempercayainya lebih dari siapa pun, setidaknya sampai dia tahu bahwa Nadda telah menusuknya dari belakang.

Waktu itu, Ratna baru saja bertengkar hebat dengan Reynaldi. Akhir-akhir ini, Reynaldi memang selalu berpikir yang jelek-jelek tentang Ratna. Dia selalu menuduh Ratna selingkuh dengan tetangga sebelah rumah mereka meski pun kenyataannya tidak, Ratna hanya ingin minta tolong ke tetangga rumah sebelah karena pendingin ruangan di rumahnya rusak.

Kebetulan, tetangganya itu merupakan ahli elektronik. Namun, suaminya salah mengira dan akhirnya pertengkaran itu terjadi. Ratna mendapatkan beberapa pukulan di wajahnya serta memar-memar di tangannya. Dia bahkan sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena janinnya juga kena amukan suaminya yang cemburu buta.

Namun, seperti biasa, setelah itu Reynaldi meminta maaf sambil menangis-nangis dan berjanji tak akan melakukannya lagi. Dia benar-benar merasa menyesal telah memperlakukan Ratna dan bayi di dalam kandungannya dengan tak berperasaan. Awalnya, Ratna memang mengabaikan permintaan maafnya, tapi karena perlakuan Reynaldi yang begitu manis dan penuh perhatian, hati Ratna pun luluh kembali.

Namun, sayangnya, saat Ratna diperbolehkan pulang ke rumah setelah menginap di rumah sakit selama seminggu, dia harus terluka lagi. Dia memang memutuskan untuk pulang sendiri waktu itu karena ingin memberikan kejutan untuk suaminya yang sedang di rumah dan nyatanya dialah yang terkejut.

Suaminya sedang melakukan hal-hal yang tidak pantas dengan seseorang yang dia sudah anggap sebagai anak sendiri, yaitu Nadda. Hatinya mencelos, dia bahkan lupa bagaimana caranya menangis. Dia hanya menatap mereka berdua yang sedang panik setelah melihatnya berdiri di ambang pintu kamar dengan pandangan kosong. Reynaldi langsung memohon-mohon sambil bersujud di kakinya, meminta maaf, sementara Nadda hanya melihat mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Mengapa?” tanyanya sedingin es.

“Ra-Ratna… aku minta maaf. Tolong dengarkan penjelasanku dahulu. Aku tidak bermaksud melakukan itu. A-aku…” jawab Reynaldi terbata-bata.

“Jadi, ini alasan mengapa kamu menuduhku selingkuh? Untuk menutupi perselingkuhanmu padaku?”

“Ratna, a-aku…”

“Jadi, ini alasan kamu memukuliku dan bahkan sampai membahayakan nyawa anak kita? Untuk menutupi kesalahanmu?”

“Ratna, dengarkan aku dahulu!”

“Aku ingin cerai,” tukasnya seolah-olah tak ingin memberikan ampun lagi ke suaminya seperti yang selama ini ia selalu lakukan.

“Ratna! Jangan berkata sembarangan begitu! Anak kita belum lahir!” bentak Reynaldi marah, dia langsung berdiri dan menatap Ratna dengan pandangan tak percaya, tapi sepertinya hal itu sudah tidak mempan lagi untuk Ratna yang hatinya sudah membeku setelah melihat perlakuan suaminya sendiri.

“Apa kamu pernah memikiran anak kita saat kamu melakukannya dengan dia?!” teriak Ratna dengan sengit, matanya berkilat karena kemarahan.

“Ratna, sudah kubilang maafkan aku!”

“Aku akan memaafkanmu kalau kita cerai!”

“Ratna, aku tidak ingin cerai!”

“Lalu, apa yang kamu mau, keparat?!”

“Aku tidak akan melakukan itu lagi. Apa yang kulakukan dengan Nadda adalah kesalahan, aku janji tidak akan melakukannya lagi. Aku akan menjauhi Nadda.”

Belum sempat membalas perkataan Reynaldi, Nadda yang sedari tadi diam saja kini membuka suara. “Tidak bisa begitu, Mas Rey!” teriaknya tak terima. “Kamu sudah berjanji akan menikahiku!”

“Apa?” tanya Ratna benar-benar tak percaya. Kepalanya terasa pusing. Jika dia tidak cukup kuat mungkin dia akan pingsan sedari tadi.

“Suamimu itu, Bu Ratna, sudah mengajak aku menikah! Dia akan menjadikan aku istri kedua! Dia akan bertanggung jawab dengan janin yang sudah empat minggu berada di rahimku ini!”

“Janin?”

“Ra-Ratna, dengarkan aku dahulu! Aku tidak akan menceraikanmu! Kita bisa melakukan poligami, itu diperbolehkan dalam agama.”

Plak!

Ratna akhirnya mengeluarkan semua emosinya melalui tamparan yang baru saja ia berikan ke Reynaldi. Tangannya memang terasa perih karena menyentuh rahang suaminya yang cukup keras, tapi dia sangat puas ketika melihat Reynaldi meringis kesakitan lalu memandangnya dengan sengit.

“Apa-apaan kamu?!” bentak Reynaldi marah.

“Setelah apa yang telah kau perbuat di depanku, kau pikir aku sudi dimadu? Maaf sekali, jawabannya adalah tidak! Aku ingin cerai!” teriak Ratna dengan menggebu-gebu.

“Minggu depan aku akan kirimkan surat gugatan cerai ke kamu yang sudah aku tanda tangani dan kamu harus menandatanganinya. Cukup sudah kau menghinaku, Rey. Selama ini, aku sudah melepaskan segalanya untukmu! Untuk sekarang, aku akan pergi ke Bandung dan tinggal dengan Linda di sana,” tambahnya dengan dingin.

Matanya memerah entah karena menahan tangis atau menahan amarah. Dia langsung pergi dari hadapan Reynaldi dan Nadda lalu mulai membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper. Hidungnya merasa jijik karena mencium bau bekas percintaan suami dan mantan mahasiswanya sendiri.

“Siapa bilang kau boleh meninggalkanku seperti ini, Ratna?!” ancam Reynaldi berusaha menakut-nakuti Ratna. “Aku bisa melakukan apa saja untuk membawamu kembali padaku!”

“Mati saja kau, Rey,” balas Ratna dengan dingin untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, dia meninggalkan rumah mereka sambil menangis dalam diam dan pergi menuju ke kota kelahirannya.

Ratna jarang menangis, bahkan saat kematian ayahnya dia tidak menangis. Dia terlahir menjadi pribadi yang kuat karena hidup bertiga hanya dengan ayah dan adiknya saja. Dia menangis untuk yang terakhir kalinya saat melihat ibunya sudah terbujur kaku dan tak bernyawa ketika dia masih duduk di bangku SMA.

Saat di perjalanan menuju Bandung, Ratna menatap perut buncitnya dengan penuh kesedihan. Sambil mengusap-usapnya pelan, air matanya terus mengalir tanpa henti dari pelupuk matanya. Hatinya terasa hancur.

Untuk pertama kalinya, dia merasakan patah hati yang sedemikian dahsyatnya ini, dan itu karena suaminya. Pernikahan dia hancur. Mengapa dia terlalu naif dulu tidak melihat kelakuan suaminya di belakangnya itu? Mengapa Nadda yang dia sudah anggap sebagai anaknya sendiri malah menyakitinya sedemikian rupa? Mengapa dia bisa kecolongan?

Namun, Ratna sudah bertekad. Apapun yang terjadi, dia tidak akan melepaskan anak yang ada di kandungannya. Dia akan merawatnya sendirian, meski harus jatuh bangun bangkit dari keterpurukan. Dia tidak akan membiarkan anaknya sengsara hanya karena tidak punya figur ayah. Dia akan menjadi ayah dan ibu sekaligus untuk anaknya kelak.

***

3 bulan kemudian…

Ratna dan Reynaldi resmi bercerai. Ratna sudah melahirkan dan hak asuhnya diserahkan sepenuhnya kepadanya. Namun, saat melahirkan, Reynaldilah yang membiayai semua biaya persalinan dan biaya operasionalnya.

Anak itu bernama Fian, atau lebih tepatnya Alfiandi Putra Dirgantara. Dia memakai nama terakhir ayahnya karena itu merupakan permintaan terakhir dari mantan suaminya. Reynaldi mengajukan syarat ke Ratna sebelum bercerai, yaitu membiarkan dirinya memberi nama anak putranya.

Ratna pun juga memberikan syarat ke Reynaldi, yaitu bahwa Reynaldi tidak boleh mengganggu mereka lagi, bahkan meski untuk menengok Fian. Meski awalnya Reynaldi tidak terima, tapi akhirnya pria itu menyetujuinya dengan terpaksa.

Setelah itu, mereka berpisah jalan. Reynaldi kembali ke kampungnya, di Kalimantan, sedangkan Ratna menjual rumah yang penuh kenangan pahit itu dan lebih memilih membeli rumah yang sederhana di daerah Gede Bage, Bandung. Dia memulai semuanya dari nol lagi bersama Fian. Jadi guru tutor, jadi tour guide, bahkan jadi pembantu pun pernah dia lakukan demi menghidupi anaknya.

Setahun kemudian, teman kuliahnya menghubungi dia lagi saat mengetahui bahwa Ratna tidak lagi merantau ke Jakarta dan memilih menetap di Bandung. Mereka bertemu dan bersilaturahmi beberapa kali sampai ke titik di mana dia memberitahu Ratna bahwa prodi PKN di salah satu universitas negeri di Bandung sedang membutuhkan seorang dosen.

Ratna sangat senang mendengar itu karena dengan begitu, dia masih bisa ada kesempatan untuk melanjutkan cita-citanya menjadi dosen yang berkompeten. Dengan dibantu oleh temannya, dia menyiapkan segala hal yang disyaratkan dan mengikuti berbagai rangkaian tes serta wawancara. Pada akhirnya, karena kepintaran dan kompetinsinya, Ratna diterima di universitas itu.

Terima kasih dengan keuletan dan kecerdasannya, karier Ratna semakin meningkat. Meski sedikit terlambat, dia mengikuti Tes CPNS dan lulus dengan nilai yang memuaskan. Dia akhirnya resmi menjadi PNS. Belum lama ini, dia sudah menduduki posisi ketua prodi PKN dan termasuk salah satu dosen yang ditakuti oleh para mahasiswa tapi dihormati oleh para dosen lainnya.

Meski dia begitu dihormati di tempat kerjanya, dia tetap Ratna seorang ibu di rumahnya. Hanya berdua dengan Fian, meski kadang dibantu oleh babysitter dan adiknya, dia berusaha menjadi figur ibu dan figur ayah yang baik untuk Fian, selama 6 tahun lamanya.

***

“Apa?! Jadi lu ini keponakannya Ratna?!” teriak Reza tak percaya. Matanya benar-benar memperlihatkan keterkejutan.

“Iya, Za. Gua udah lama gak denger kabar dia. Ngomong-ngomong, apa kabar dia?” jawab Gilang lalu menyalakan rokoknya dan menghisapnya dengan nikmat. Pikirannya bergerilya ke kenangannya dahulu saat Tante Ratna dan Om Rey masih bersama. Lebih tepatnya tujuh tahun yang lalu, saat dia masih duduk di bangku SMA.

Tante Ratna adalah orang yang sangat baik dan keibuan. Hanya dia yang bersedia menemani Gilang di masa SMA yang selalu kesepian karena tidak punya teman dan orang tuanya selalu sibuk bekerja.

Ayahnya adalah seorang nahkoda, butuh waktu berbulan-bulan untuk pulang ke rumah, sedangkan ibunya adalah seorang TKW yang bekerja di Brunei dan sudah hampir setahun tidak pulang lagi ke Indonesia.

Tante Ratna membiarkan Gilang untuk mengunjungi rumahnya ketika dia tidak ada kegiatan sama sekali di sekolahnya atau saat weekend. Kebetulan, rumah mereka berada di komplek yang sama. Tante Ratna juga yang selalu datang ke sekolah menggantikan ibunya yang sedang di Brunei ketika pembagian rapor dan rapat orang tua meski dalam keadaan sedang hamil.

Tante Ratna juga yang mempertemukan dirinya ke Nadda, wanita yang usianya enam tahun dari dia dan merupakan cinta pertamanya. Dan Tante Ratna yang menjadi satu-satunya orang yang mengetahui perasaan Gilang dan mendukungnya untuk mendapatkan hati Nadda. Namun, harapan itu kandas ketika Nadda memilih untuk bermain api dengan omnya sendiri.

Dia merasa terluka beberapa saat, bahkan sempat masuk ke jalan yang salah, tapi akhirnya dia tersadar setelah memikirkan bagaimana perasaan tantenya. Pasti Tante Ratna jauh lebih terluka dari dirinya.

Ketika Om Rey dan Tante Ratna resmi bercerai, dia sangat sedih sekaligus lega. Dia merasa sedih karena harus kehilangan sesosok tante yang selalu menemani masa mudanya yang selalu sendirian. Apalagi ketika melihat Tante Ratna menjual rumah itu, hatinya benar-benar terasa hampa. Pertemuan terakhir mereka adalah saat Ratna meninggalkan rumah itu.

Dia menemui Gilang untuk terakhir kalinya. Gilang memeluknya dengan erat seperti tidak ingin melepaskan tantenya. Dia bahkan meminta beberapa kali agar tantenya tetap tinggal di rumah itu. Namun, apa daya, Tante Ratna hanya memberikan senyuman terbaiknya dan menepuk-nepuk punggung Gilang dengan pelan seolah-olah berkata, kau lebih kuat dari ini, Gilang. Selamat tinggal.

“Nyet! Lu gak dengar gua?” tanya Reza gemas dan berhasil membuat pikiran Gilang yang sedari tadi terombang-ambing ke sana-kemari kini kembali ke asalnya.

“Eh, apa? Lo ngomong apa?” balas Gilang berusaha untuk memfokuskan lagi pikirannya ke masalah sahabatnya ini.

“Lu mikirin apa sih? Ratna gua? Mikir jorok ya lu?” tanya Reza lagi, kali ini penuh selidik. Tatapannya tajam dan mengancam.

Pria mohawk itu hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Dia tidak habis pikir dengan pikiran sahabatnya itu.
Ya kali gua berpikir yang bukan-bukan ke tantenya sendiri! batinnya.

“Ya lo pikir aja, Reza bodoh. Mana ada gua mikir jorok ke tante gua sendiri dan yang lucunya sekarang gebetan teman gua sendiri. Lucu banget dunia,” sindirnya dengan gemas. Reza hanya terkekeh mendengarnya.

“Ya… Namanya juga takdir, bos.”

“Takdir kepala lo peyang. Pokoknya lo harus bikin gua ketemu sama Tante Ratna ya? Gua kangen dia. Pasti dia gak percaya nih Gilang yang sekarang udah jadi manly abis, terus kaya lagi. Bukan Gilang yang dulu cupu dan gak punya teman,” kata Gilang dengan bangga lalu kembali menghisap rokoknya lagi sambil tersenyum tipis.

Reza menoleh sahabatnya itu sekilas. “Cupu mah tetep, gak berubah.”

“Coba ngaca, Pak Reza. Lo aja gak bisa mengambil hati tante gua.”

“Berantem, yuk?”

“Di sini? Ayo.”

***

Setelah Gilang meninggalkan rumahnya, Reza langsung kembali ke kamarnya, melamun lagi. Dia sedang merasakan sebuah penyakit yang cukup berbahaya dan mungkin mengalahkan malaria, yaitu malarindu. Selain itu, dia juga sedang meriang alias merindukan kasih sayang.

Akhir-akhir ini, Ratna kembali sibuk dengan pekerjaannya dan jarang pulang ke rumah. Bahkan Fian pun dititipkan ke adiknya. Karena itulah, rumahnya selalu gelap dan kosong.

Di mana, Bu Dosen? – Reza.

Ya, seperti hari-hari sebelumnya, dia mencoba untuk menghubungi Ratna agar tahu keadaan dosen pembimbingnya itu. Butuh waktu 10 menit untuk mendapatkan balasan dari wanita itu.
Kampus. Kenapa? – Ratnaku?

Aku rindu. – Reza.

Dada Reza berdegup lebih cepat dari biasanya setelah mengirim pesannya yang terakhir. Dia penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh Ratna, apakah dia akan membalas perkataan rindunya atau mengalihkannya ke hal lain?

Fokus saja dengan penelitianmu. Bagaimana dengan angketnya? Tidak salah lagi kan? – Ratnaku?

Sudah dia duga, mana mungkin Ratna akan merindukannya. Dia lebih memedulikan skripsinya. Ya, mau bagaimana pun Ratna masih dosen pembimbingnya.
Kamu gak kangen aku? – Reza.

Aku lebih rindu Fian ketimbang kamu. Sudahi dulu obrolannya kalau tidak terlalu penting, aku sibuk. – Ratnaku?

Tapi aku masih kangen… 😔 – Reza.

Dan… pada akhirnya ceklis satu, sial! Dia masih rindu dengan wanita itu. Lagu Melly Goeslaw tiba-tiba terdengar dari luar kamarnya. Sepertinya, Bi Darmi menyetel radio keras-keras lagi. Akhir-akhir ini memang dia keranjingan radio lagi sampai membuat orang tuanya merasa kesal ketika mereka sedang ada di rumah.

Semua itu gara-gara radionya yang sudah benar dan dia juga menemukan kaset-kaset jadul di gudang. Kuno memang, masih menggunakan radio untuk mendengarkan lagu padahal sudah ada Spotify dan Joox, tapi mau bagaimana lagi? Handphone Bi Darmi sendiri masih merek Nokia yang jadul.

Tak tahan lagi ingin bertemu, berjuta kata ingin kuucap…

Reza semakin menertawai dirinya saat mendengaran liriknya dengan seksama. Selama 25 tahun hidup dia, rasanya baru kali ini ada seseorang yang berhasil membuat dia hampir mendekati gila dan itu karena cinta. Duh, mengapa cinta sekonyol ini?

Karena sudah ‘tak tahan lagi’ dengan rasa rindu yang terlalu kuat mencengkramnya, dia memutuskan untuk menemui Ratna sekarang. Harus sekarang. Dia cuma ingin melihat wajahnya dan mendengarkan suaranya.

Tidak peduli lagi meski Ratna melarangnya habis-habisan. Tak peduli kalau nanti dia berakhir mendengarkan omelan dari bibir ranum milik Ratna. Dia harus bertemu Ratna hari ini, untuk mengobati rasa rindunya.

***

“Sedang apa kamu di sini, Reza?”

Ratna menatap pria di depannya itu dengan tatapan malas dan mungkin sedikit gemas. Buat apa pria itu ada di sini? Tidak tahukah dia kalau Ratna mati-matian menghindarinya beberapa hari ini? Dia khawatir dengan perasaannya sendiri yang sepertinya semakin lama semakin terlihat jelas kalau dia memiliki perasaan yang lebih ke Reza, mahasiswa bimbingannya sendiri.

“Menemuimu,” jawab Reza santai sambil duduk di sofa yang letaknya tidak jauh dari meja Ratna.

“Ibu tidak usah merasa terganggu dengan kehadiran saya. Saya hanya ingin melihat Ibu,” tambahnya lagi masih dengan nada santai.

Matanya menatap Ratna dengan perasaan lega. Akhirnya, wanita itu ada di depan matanya dan dia baik-baik saja.

“Saya agak bosan melihatmu terus sebenarnya,” sindir Ratna lalu kembali fokus ke pekerjaannya.

Reza tertawa geli mendengar sarkasme dari Ratna, ditatapnya wanita yang lebih tua darinya itu dengan tatapan memuja dan terpesona. Hari ini, Ratna terlihat sangat cantik dengan setelan formal seperti biasanya. Lipstick dan eyeliner-nya juga on point. Well, dia memang selalu cantik dan menarik. Namun, di mata Reza, entah mengapa, wanita itu semakin hari semakin cantik saja. Kapan dia tidak cantiknya, ya?

“Saya tahu saya cantik,” celetuk Ratna tiba-tiba dan membuyarkan pikiran yang sedari tadi bergerilya di otak Reza. Bibirnya membentuk sebuah senyuman simpul saat melihat Reza sedikit tersentak karena ucapannya yang tiba-tiba.

“Kamu harus berhenti memerhatikan saya seperti itu. Saya merasa risih.” Senyuman langsung bersembunyi lagi di balik wajah galaknya. Dia kembali menatap Reza dengan angkuh dan dingin.

“Tidak mau,” tolak Reza dengan tegas.

“Loh, kenapa?”

“Saya suka melihatmu, membuat jantung saya berdegup kencang dan hati saya terasa hangat.”

Ratna sedikit terkesiap mendengar perkataan lelaki yang sedang menatapnya dengan intens di sofa itu. Pemuda itu sungguh terang-terangan dan tidak kenal ampun. Dia tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Jantungnya kembali tidak berfungsi dengan normal. Mungkin pipi dan telinganya mulai memerah meskipun dia mencoba untuk mengendalikannya.

“H-hentikan omong kosongmu itu, Reza. Bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Aku sedang sibuk. Sana pulang,” ujar Ratna sedikit tergagap sambil berusaha menghindar dari tatapan Reza yang seperti sedang memendam sebuah perasaan yang sangat besar ke dirinya.

“Aku?” tanya Reza. Kali ini, dia yang tersenyum jahil.

“Jadi, sekarang kamu mengijinkan kita untuk pakai aku-kamu di kampus?”

“Itu kelepasan!” bantah Ratna setengah berteriak. Wajahnya semakin memerah.

“Berhentilah mengganggu saya dan fokus kembali ke penelitianmu!”

Reza langsung menghampirinya sambil tetap menampilkan seringai jahilnya, membuat wanita itu semakin panik dan lupa bagaimana cara bersikap. Reza merasa senang melihat Ratna yang seperti ini, begitu menggemaskan dan gampang didekati. Dia tidak suka ketika Ratna menampilkan wajah dingin dan angkuhnya, dia merasa jauh ketika wanita itu sudah begitu.

“Sedang apa kau?” tanya Ratna dengan waspada saat pria itu sudah berdiri di hadapannya. Tangannya dilipat di dadanya, berusaha untuk melindungi dirinya dari Reza yang sepertinya akan melakukan sesuatu yang berbahaya.

“Menggodamu.”

“S-sana pergi, bocah!”

Reza langsung mengernyit tidak suka ketika mendengar itu. Wajahnya semakin mendekat ke arah Ratna sampai jarak yang tersisa di antara mereka hanya tinggal 5 cm.

“K-kau mau a-apa?” tanya Ratna makin tergagap-gagap.

Jantungnya berdegup makin kencang. Matanya menatap sekeliling ruangan dan berusaha mati-matian untuk tidak melihat bibir tipis Reza yang entah mengapa begitu menggoda.

Oh, betapa dia merindukan bibir itu!

Reza sepertinya sadar akan hal itu, senyumnya semakin mengembang. Tanpa ragu-ragu dia makin mempersempit jarak di antara mereka dan hanya tersisa 1 cm lagi. Dia bahkan bisa melihat manik-manik mata Ratna yang berwarna coklat di balik kacamatanya itu. Dia juga bisa mendengar jantung Ratna yang berpacu sangat cepat. Hal itu membuatnya senang, dia senang bisa menjadi alasan jantung wanita itu bekerja lebih cepat dari biasanya.

“Kau rindu bibirku, kan?” bisiknya pelan karena jarak mereka sangat dekat. Hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Ratna.

Ratna berusaha memundurkan kepalanya untuk menambah jarak di antara mereka, tapi langsung ditahan oleh tangan kanan Reza.

“Kali ini kau tidak bisa menghindar dariku lagi.”

Setelah itu, bibir mereka kembali bertemu. Reza mengerahkan segala kerinduan dan perasaannya agar wanita itu bisa merasakan perasaannya. Ratna pun juga melakukan hal yang sama, dia berusaha untuk menunjukkan perasaannya yang selama ini ia telah sembunyikan mati-matian.

Wanita itu sudah tidak mampu bersikap jual mahal lagi, kini tangannya melingkari leher pria di depannya itu agar tidak ada lagi jarak di antara mereka, bahkan udara sekali pun. Masih belum puas, dia menghentikan kegiatan mereka sebentar lalu beranjak dari kursinya dan duduk di atas meja kerjanya. Setelah itu, dia kembali menarik Reza ke pelukannya.

Permainan mereka semakin panas. Tangan Reza kini mulai bergerilya ke bagian dada wanita itu dan membuat Ratna kembali mengeluarkan suara-suara yang selama ini Reza rindukan. Hal itu juga berhasil membuka akses masuk untuk Reza agar dia bisa menjelajahi rongga mulut Ratna dan membuat wanita itu makin mendekapnya erat, sesekali mengacak-acak rambut Reza dengan perasaan tak karuan.

Tangan Reza sudah menyentuh kancing atas kemeja Ratna dan bersiap untuk membukanya.

Tok! Tok! Tok!

Tiba-tiba suara ketukan mengganggu aktivitas panas mereka. Ratna terkejut dan tersadar tiba-tiba, dia langsung mendorong Reza agar menjauh sementara Reza menggeram kesal karena merasa diganggu. Untungnya, jendela ruangan Ratna ditutupi oleh gorden sehingga tidak terlihat dari luar. Coba kalau tidak, bisa mati mereka!

Tok! Tok! Tok!

“Sebentar!” teriak Ratna panik.

Dia berusaha merapihkan rambut dan pakaiannya yang sedikit acak-acakan karena perbuatan Reza tadi. Dia juga memoles kembali lipstick-nya yang mungkin sudah agak hilang karena kegiatan mereka tadi. Sementara Reza mengusap bibirnya dengan tissue, itu juga atas perintahnya Ratna karena dia bisa melihat bekas lipstick-nya di bibir tipis Reza.

Setelah merasa kalau dia sudah rapih, dia pun duduk di kursi kerjanya dengan anggun dan penuh wibawa, sedangkan Reza kembali duduk di sofa sambil fokus dengan handphone-nya.

“Masuk!”

Seorang pria dengan badan tegap dan kekar masuk ke ruangannya, tangannya memegang buket mawar berwarna merah. Seorang pria yang berhasil membuat Ratna membulatkan matanya karena terkejut. Seorang pria yang berhasil membuatnya hancur beberapa tahun yang lalu.

“Mau apa kau datang, Reynaldi?”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat