Bu Ratna Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 6

“Kamu sedang apa di sini?” tanya Ratna saat melihat Reza duduk di teras rumahnya, menghisap sebatang rokok.

“Memastikan kalau kamu pulang dengan selamat dan tepat waktu,” jawab Reza sekenanya. Matanya sibuk memerhatikan mobil Pak Norman yang masih berada di luar pagar.

“Pak, pulang saja sana! Bapak sudah tidak dibutuhkan lagi!” teriaknya lancang ke pria yang jauh lebih tua darinya itu.

“Kurang ajar kamu, Za! Awas kamu!”

Tak lama kemudian, mobil Pak Norman berangkat menjauhi rumah Bu Ratna.

“Kurang ajar sekali kamu ke ketua prodimu sendiri!” omel Ratna. Tangannya sibuk mencari kunci.

“Dia terlalu palsu. Sebelum kenal kamu aku juga sudah tidak menyukainya dan sekarang aku makin tidak menyukainya,” jawab Reza sambil sesekali menghisap rokoknya.

“Kenapa kamu merokok? Aku kira kamu bukan perokok karena tidak pernah melihatmu merokok sebelumnya.”

“Aku merokok kalau sedang kesal dan sekarang aku sedang kesal.”

“Kenapa juga kamu kesal? Kan aku sudah bilang, kamu bukan siapa-siapaku!” Mendengar itu, Reza langsung membuang rokoknya ke halaman. Raut wajahnya begitu marah tapi juga sedih.

“Iya, aku tahu! Aku hanya seorang mahasiswa pemalas yang datang ke kehidupanmu dan membuatmu harus menjadi pembimbingku! Dan sekarang aku harus memusingkan kepalamu dengan perasaanku dan mengganggu hubunganmu dengan ketua prodiku!” teriaknya frustasi.

Saat pintu berhasil dibuka, Reza langsung masuk tanpa permisi dahulu. Ratna mencoba untuk tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

“Sial, Ratna. Kenapa sulit sekali mencintaimu itu…” rintihnya pelan sambil menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Matanya tertutup.

“Aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku, Reza. Kan sudah kuperingatkan berkali-kali,” balas Ratna tenang sambil memperhatikan Reza yang terlihat begitu kacau karena dirinya. Dia merasa bersalah dan sedih. Segala macam perasaan berkecamuk di dadanya.

“Halah. Berisik!” bentak Reza sengit.

“Kamu jangan merokok lagi, Reza, itu tidak baik untukmu. Dan sebaiknya kamu pulang, orang tuamu akan mencarimu.” Ratna langsung pergi menuju kamarnya.

“Demi apa pun, Ratna!” teriaknya lagi. Dia menyusul Ratna ke kamarnya. “Jangan memperlakukan aku seperti anakmu! Aku bukan anakmu!”

“Tapi bagiku kau sudah seperti anakku, Reza! Berhentilah mencintaiku, ini salah! Aku ini ibumu!”

“Ibuku sedang bersama selingkuhannya sekarang jadi jangan ngaku-ngaku. Lagian, ibu mana yang mencium anaknya sendiri dengan penuh perasaan? Bahkan ibu kandungku sendiri saja enggan merawatku!”

“Itu kesalahan, Reza! Aku terbuai karena sudah lama tidak berciuman. Sudah kubilang berkali-kali, lupakan saja!”

“Lupakan saja?” Matanya melihat Ratna dengan penuh amarah. Dengan sekejab, dia membawa Ratna ke atas kasur dan merebahkannya.

“Kau sudah membuat seorang pria dewasa tidak bisa tidur setiap malam karena mendambakan ciumanmu lagi dan sekarang kau bilang lupakan saja?”

“Reza, apa yang sedang kau lakukan?!” Dia sangat tahu kalau pria di atasnya ini sedang dikuasai oleh amarah.

Namun, entah mengapa, dia malah menyukainya dan itu membuat dirinya bergairah juga. Ada apa dengan dirinya sebenarnya? Sejak kapan dia menjadi tidak bermoral seperti ini?

“Kalau kau begitu ingin melupakannya, ayo kita lupakan dan buat kenangan yang lebih indah lagi.”

Entah mengapa, suara Reza terdengar begitu berat. Sejak kapan suaranya seberat ini?

Setelah itu, Reza bermain dengan bibir Ratna dengan penuh gairah sampai membuat Ratna kewalahan membalasnya, tapi ciuman itu begitu menggairahkan sehingga membuat Ratna tidak ingin menyudahinya.

Ciuman mereka sudah sampai ke titik di mana Reza mulai menyentuh bagian-bagian sensitif di tubuh Ratna, yang berhasil membuat Ratna makin tak berdaya dan hanya bisa pasrah menerima perlakuan pemuda di atasnya itu. Dia sudah tidak lagi memerdulikan soal usia mereka yang berbeda jauh, dia hanya ingin berada di dekapannya Reza! Biarlah dia egois malam ini. Hanya malam ini.

Bibir Reza turun ke titik terlemahnya Ratna, yaitu lehernya. Sepertinya Reza tahu itu. Dia terus-terusan menyerang bagian itu sehingga membuat Ratna makin tak kuasa menahan gejolak yang dia rasakan dan mulai mengeluarkan suara-suara yang entah sudah berapa lama dia tidak tunjukkan. Tangannya mulai bergerilya di rambutnya Reza dengan gemas.
Hal itulah yang membuat Reza tersadar. Dia kaget dan menghentikan kegiatannya.

“Ya Tuhan, Ratna!” teriaknya dan langsung duduk dengan tegak. Napasnya memburu karena gejolak hasratnya yang sudah menggebu-gebu.

“Maafkan aku, Ratna. Aku tidak bermaksud menodaimu. Aku dibutakan oleh rasa cemburu- aku sangat minta maaf.”

Reza merasa begitu bersalah, dia bahkan mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia sama sekali tak berani menatap Ratna karena takut akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Penampilan Ratna jadi begitu menggoda karena perbuatannya tadi. Sial! Susah sekali mencintainya itu!

“Reza…” Suara Ratna berhasil membuat Reza kembali menatap matanya. Di sana dia bisa melihat apa yang dirasakan Ratna, sebuah cinta yang selama ini mati-matian dia tahan.

“Kali ini saja,” bisiknya pelan. “Kali ini saja, aku ingin berada di dekapanmu.”

“Apa kau serius, Ratna?” tanya Reza dengan hati-hati.

Cintanya ke Ratna begitu besar sampai dia tidak tega jika harus menodai Ratna dan harga dirinya. Untuk Reza, Ratna adalah wanita yang harus dia jaga kehormatannya dari siapa pun, bahkan dari dirinya sendiri.

Ratna mengangguk pelan sambil menatap mata pria di depannya dengan perasaan yang menggebu-gebu.

“Aku serius, Za.”

Dengan itu, tanpa banyak bicara, Reza kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda dan bersama-sama merebut kenikmatan dunia.

***

Setelah kejadian yang sangat panas dua hari lalu, Ratna makin tidak berani melihat Reza. Dia seperti remaja lagi, pipinya selalu merona jika Reza menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh cinta, seolah-olah hanya dia wanita yang dicintainya di dunia ini. Reza pun juga merasakan hal yang sama.

Begitu sulit melihat Ratna tanpa mencium bibir merahnya. Suara-suara menggoda yang kemarin lusa wanita itu tunjukkan tak juga menghilang dari ingatannya. Hatinya makin berdebar-debar dan itu semakin membuat dirinya tersiksa. Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan perasaannya di hadapan Ratna.

Entah sudah berapa kali dia melamun karena terus menatap dalam-dalam bibir ranum milik Ratna dan bagian dadanya sampai membuat wanita itu merasa kesal dan memukul kepalanya dengan tas mahalnya karena dianggap Reza sudah bertindak kurang ajar terhadap dirinya.

Sementara Reza hanya bisa menunduk pasrah dan menerima semua caciannya Ratna karena dia mengakui kalau dia sudah melakukan hal-hal yang tak senonoh.

Berbeda dengan Reza, untungnya Ratna selalu bisa mempertahankan wajah tegas dan angkuhnya seolah-olah seperti tidak ada kejadian apa-apa di antara mereka. Dia bahkan masih tetap mengingatkan jarak usia di antara mereka ketika Reza mulai berulah lagi. Itulah yang membuat Reza tidak suka.

Bayangkan saja, mereka sudah melakukan hal yang sudah seharusnya dilakukan oleh suami istri, tapi Ratna masih saja menolaknya. Apa yang sebenarnya wanita itu inginkan? Mengapa terus saja menolaknya ketika dia sudah menerima semua sentuhannya?

“Saya tidak ingin berpacaran dengan bocah sepertimu,” jawabnya tegas saat Reza memberanikan diri untuk bertanya mengenai status hubungan mereka sekarang ketika mereka sedang bimbingan.

“Kalau saya bocah, kenapa kau menjerit namaku kemarin?” tanya Reza dengan gemas.

Pipi Ratna langsung memerah, tapi dia langsung mengendalikan dirinya. “Bukan berarti saya bersedia jadi pacarmu. Saya ingin menikah, bukan pacaran.”

“Bahkan meski pernikahanmu pernah gagal?”

“Karena itulah saya harus lebih bijaksana dalam memilih.”

“Kalau begitu, ayo kita menikah! Saya bersedia menikah kapan saja, kamu tinggal sebut tanggal,” balas Reza dengan mantap.

“Tidak mau. Saya tidak ingin menikah dengan bocah ingusan yang lebih pantas menjadi kakaknya Fian ketimbang jadi bapaknya Fian. Saya bukan tante-tante girang, Za.”

“Sudah kubilang saya bukan anakmu! Dan lagi pula, siapa yang bilang kamu ini tante girang? Itu kamu dan halusinasimu saja yang terlalu mengkhawatirkan banyak hal!”

“Saya tidak mengatakan kalau kamu anakku tuh?”

“Tapi kau mengatakan seolah saya ini anakmu.”

“Itu mungkin kamu dan halusinasimu saja, Reza,” jawab Ratna cuek.

“Lagi pula, urus dulu tuh skripsimu baru memikirkan pernikahan. Kamu wisuda saja belum sudah berani melamar dosen seperti saya. Mau taruh di mana wajah saya? Apa kata rekan-rekan saya kalau tahu saya menikah dengan anak bimbing saya sendiri? Segala sesuatu harus dipikirkan dahulu konsekuensinya.”

Reza langsung mendengus kasar ketika mendengar jawaban Ratna yang terakhir. Memang benar, memangnya dia bisa memberikan apa? Skripsi saja belum selesai malah berani-beraninya melakukan pendekatan dengan dosennya sendiri? Apa kata orang-orang? Apa kata orang tuanya?

“Tapi Ratna-” Reza masih mencoba untuk berkilah dan langsung dipotong oleh jawaban Ratna yang paling tegas dan tidak bisa dibantah.

“Tidak ada tapi-tapian, Nak Reza, dan panggil saya Ibu. Jaga sopan santun kamu ke saya di kampus. Kamu masih mahasiswa saya dan saya masih dosen kamu, terlepas dari apa pun yang terjadi di antara kita.”

Reza hanya bisa diam lalu mengangguk dengan pasrah dan tidak bersuara lagi setelah itu.

Kesimpulannya, meski mereka berdua sudah melakukan hal-hal yang bersifat dewasa, hubungan mereka tidak terlalu terlihat perubahannya karena Ratna masih menganggap Reza itu anak bimbingnya yang tidak seharusnya dia gauli. Dia juga masih menyalahkan dirinya sendiri karena menginginkan hal itu terjadi.

Namun, Reza yang sepertinya sudah terbutakan oleh cinta, makin sakit hatinya, makin naik juga semangatnya. Dia cuma mau dosen pembimbingnya! Bukan wanita lain.

“Wassup, brother!” Sebuah suara, yang ternyata Gilang, menyapanya yang sedari tadi sibuk melamun di pinggir kolam renang rumahnya.

“Ngapain lu kesini? Tumben…” cibir Reza setengah menyindir.

“Gua kangen gini sama lo jadi gua berkunjung. Ngapain sih lo sekarang? Udah gak pernah main ke kelab malam gua lagi. Sombong lo! Cewek-cewek pada nanyain lo tuh. Anak-anak juga. Balik laaah.”

Sekilas info tentang Gilang, dia adalah pemilik kelab malam yang biasa didatangi Reza. Gaya rambutnya mohawk sementara di tubuhnya terdapat banyak tato. Gilang merupakan teman kecil Reza. Karena dialah, hidup Reza habis dengan minum-minuman keras dan selangkangan wanita.

Mungkin memang pertemanan mereka tidak baik, tapi hanya Gilang yang berada di sisinya saat Reza tidak punya siapa-siapa. Karena Gilang juga, Reza bisa mendapatkan teman-teman terbaiknya selain Gilang itu sendiri, yaitu Rangga, Mike, dan Lingga.

Mereka berlima sudah seperti boyband dengan tampang di atas rata-rata dan memiliki sense of fashion yang sangat bagus serta tajir. Hampir seluruh wanita mendambakan mereka, cuma sayangnya Rangga dan Lingga sudah mempunyai pasangannya masing-masing. Tinggal Gilang, Reza, dan Mike saja yang masih mempertahankan predikatnya sebagai jomblo keren.

Balik lagi ke pembicaraan mereka berdua, Reza hanya diam seolah enggan menanggapi temannya satu itu. Hal itu membuat temannya mengangkat alisnya yang sebelah kanan, lalu duduk di sampingnya.

“Bro, lo kalau ada masalah, cerita aja. Lo kan udah temenan dengan gua lama, masa masih gak terbuka juga sama gua? Jahat lo, Za,” ujar Gilang sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya berusaha menenangkan dia dari apapun yang tengah ia rasakan sekarang.

Reza melihat Gilang sejenak, lalu kemudian mengambil napas dalam-dalam. “Gua galau, Lang,” jawabnya pelan.

“Galau kenapa, Za? Gara-gara orang tua lo lagi?”

“Bukan lah. Gak penting amat mikirin mereka berdua. Gak sudi juga gua kalau harus meluangkan waktu gua buat mikirin mereka berdua doang,” bantah Reza dengan keki.

Gilang semakin penasaran. Selama ini, Reza tidak pernah memerdulikan apapun kecuali orang tuanya. Namun, kali ini, bukan orang tuanya yang membuat dia sampai seperti ini. Jadi, karena apa? Apa yang membuat Reza sampai tidak datang ke klubnya lagi seperti biasanya?

“Lalu, karena apa?”

Reza diam, seolah-olah enggan mengatakannya. Gilang makin gemas saat melihatnya seperti itu.

“Udahlah, bro. Gak usah sok rahasia-rahasiaan gitu sama gua. Sok banget keren lo.”

“Karena cewek, bro,” jawab Reza akhirnya meski temponya mendadak cepat, tapi untungnya Gilang masih bisa menangkap perkataan yang tadi diucapkan oleh Reza.

Pria mohawk itu terdiam sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik. Setelah detik yang kelima, dia langsung tertawa terbahak-bahak.

“HAHAHAHAHAHA!”

“Sialan! Gua serius nih!” Reza menjitak kepala sahabatnya itu supaya sadar dan berhenti tertawa, lebih tepatnya, menertawakan dirinya.

“Sorry sorry, bro. Hahaha, jadi lo galau karena seorang cewek? Kenapa bisa begitu? Biasanya lu yang bikin cewek galau,” balas Gilang sambil berusaha meredakan tawanya dan menghapus air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya karena terlalu banyak tertawa.

“Gak tau gua juga, gua galau dan bingung. Sebenarnya gua ini berarti gak sih buat dia? Sampai kapan dia harus menganggap gua anaknya?” keluh Reza dengan kesal ketika dia mulai membahas seorang wanita yang akhir-akhir ini membuat kepalanya pusing kepala.

Gilang langsung terdiam, berusaha mencerna perkataannya Reza. Anak? Maksudnya?

“Bentar-bentar, kok lo dianggap anak sama dia?”

“Yang bikin gua kayak gini itu seorang janda, bro. Mana lebih parahnya lagi, dia dosen pembimbing gua sendiri. Yang pernah gua ceritain waktu itu, loh. Umur kita beda 12 tahun dan dia sudah punya satu anak!” jawab Reza frustasi.

Apa?! Gila ini bocah. Sekalinya jatuh cinta langsung sama tante-tante? Janda lagi? batin Gilang sambil berusaha menyembunyikan kekejutannya.

“Coba lo jelasin lebih rinci lagi deh biar gua paham posisi lo sekarang ini.”

Reza menghelakan napasnya entah sudah yang keberapa kali. Lalu, dia merebahkan dirinya di pinggir kolam dan matanya langsung bertemu dengan langit yang biru.

“Gua gak tau lah ya kenapa gua bisa segila ini sama ibu-ibu satu itu. Dia memang cantik dan body-nya bikin gua ngiler, tapi bukan itu masalahnya! Gua terenyuh saat melihat interaksinya dengan anaknya dan mendengar masa lalunya. Gua merasa gua harus melindungi dia dari apapun yang melukainya. Gua bahkan berpikir ingin menikahinya, Lang!” Reza mulai bercerita.

“Mungkin… cuma penasaran aja? Lo tahu lah selama ini kehidupan liar lo gak jauh-jauh dari cewek yang lebih muda dan pastinya belum punya anak. Atau… Mungkin dia meingatkan lo dengan mamah lo? Mamah lo kan juga menderita begitu…”

Reza berpikir sejenak saat mendengar kemungkinan-kemungkinan yang baru saja diutarakan sahabatnya. Matanya kembali menerawang.

“Dia gak bisa disamain dengan mamah gua, Lang”, bantahnya dengan yakin. “Dia jauh lebih kuat dari mamah gua. Dia punya nyali untuk meninggalkan suaminya yang bajingan itu dan berjuang mati-matian demi membahagiakan anaknya, gak kayak Mamah.”

“Ya apa lagi itu, gua rasa lo tuh kagum karena dia gak kayak mamah lo. Dia tuh kayak cerminan dari apa yang lo inginkan dari mamah lo. Paham gak?”

“Perkataan lo emang masuk akal tapi bukan juga, sob,” jawabnya pelan.

“Kita udah pernah kissing berkali-kali. Kita juga udah pernah making love. Dan lu tahu apa yang gua rasakan setelah itu? Hati gua semakin berdebar-debar. Gua seperti tidak ada hasrat untuk main dengan wanita lain. Gua cuma mau dia yang ada di dekapan gua, yang duduk di samping gua di bangku pernikahan, yang gua akan temuin setiap gua mau tidur dan bangun tidur, yang gua ingin habiskan waktunya bersama di masa tua nanti.”

Gilang sukses terperangah karena perkataan sahabatnya itu. Dia tidak menyangka seseorang seperti Reza yang selama ini tidak percaya dengan cinta dan pernikahan, kini malah mendambakan hal-hal seperti itu! Selama ini, dia selalu mengkhawatirkan kawan itu yang selalu bilang bahwa dia tidak akan pernah menikah sampai akhir hidupnya. Kini, sahabatnya itu memikirkan hal-hal seperti itu, dia merasa senang dan terharu.

“Lo… Reza kan?” tanyanya hati-hati. Dia tidak tahu harus jawab apa lagi karena terlalu terkejut.

“Iya, Lang. Lu pasti anggap gua udah gila. Gua emang udah jadi budak cintanya cewek itu dan gua rela. Mau dia mempermainkan hati dan perasaan gua gimana pun, gua rela!”

“Bro, siapa dia, kalau boleh tahu?”

“Ratna. Mirza Ratna Yustika. Dosen paling killer di kampus gua. Si Naga Cantik yang berhasil membuat gua jatuh bangun seperti ini.”

“Bentar-bentar, Mirza Ratna Yustika? Gua bener-bener gak asing sama nama itu. Ah! Gua ingat! Jangan bilang dia Tante Ratna! Sialan, dia mantan istri om gua!”

“Apa?!”

***

Seorang pria dengan tubuh tegap dan bulu-bulu tipis di dagunya dan di atas bibirnya berjalan dengan gagah dan yakin di bandara, tatapan matanya tajam. Beberapa wanita yang melihatnya terpesona, tapi yang dilihat tidak memerdulikannya dan tetap berjalan dengan penuh percaya diri.

Langkah kakinya cepat seolah-olah ingin segera sampai ke tempat tujuan. Matanya sibuk kesana-kemari seperti sedang mencari seseorang.

“Hey, Bang Naufal!” teriaknya ketika matanya menangkap seseorang yang dia cari sedari tadi. Pria itu memanggil seseorang yang sedang sibuk dengan handphone-nya sambil bersandar di tembok.

“Bang Naufal, woi!”

Panggilan keduanya berhasil membuat orang yang dipanggilnya itu menoleh ke arahnya lalu tersenyum lebar. Pria itu mendekatinya dan memeluknya dengan hangat.

“Reynaldi, apa kabar?”

***

Jakarta, 23 Desember 2011

Bandara Soekarno Hatta

Seperti biasa, bandara selalu sibuk dan dipenuhi oleh orang-orang yang tak henti-hentinya keluar masuk. Mereka pergi ke tempat tujuannya masing-masing. Terutama di saat-saat liburan akhir tahun seperti ini, pengguna pesawat pasti lebih banyak dari biasanya.

Dari sekian banyak orang-orang yang sedari tadi hilir mudik di sana, terlihat seorang wanita yang usianya mungkin mendekati 30-an keluar dari Terminal 3 sambil membawa koper kecilnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menenteng sebuah tas laptop dan dompet.

Pakaiannya simple tapi terlihat berkelas dan mahal, yaitu kaos polos warna putih dan blazer warna merah serta celana bahan warna hitam. Kakinya dihiasi oleh heels merah yang tidak terlalu tinggi. Rambutnya yang panjang berwarna coklat dan bergelombang digerai begitu saja. Dia memakai kacamata minus dengan frame kotak berwarna coklat.

“Ratna!”

Sebuah panggilan berhasil membuat wanita itu menghentikan langkahnya dan melihat ke arah sumber suara. Terlihat di sana, seorang pria yang sudah kelihatannya jauh lebih tua dari dirinya sedang berdiri sambil melambaikan tangannya. Wanita itu terlihat terkejut lalu tersenyum lebar, setelah itu dia menghampiri pria itu dengan langkah yang lumayan cepat.

“Ayah!” serunya membalas panggilan pria itu yang ternyata adalah ayahnya.

“Ratna, Ayah rindu sekali padamu. Bagaimana Swiss?” tanya pria itu setelah merangkul tubuh mungil anak sulungnya.

“Ratna juga, Ayah. Perjalanan yang menyenangkan ke sana, Ayah juga harus ke sana kapan-kapan. Ngomong-ngomong, Ayah sedang apa di sini? Mau pergi ke mana?”

“Mau jemput kamu lah. Sini, Ayah bawakan kopernya.”

Ratna langsung tertawa saat mendengarnya, lalu menggelengkan kepalanya seolah-olah tak percaya. “Ayah jauh-jauh dari Bandung ke Tangerang hanya untuk jemput Ratna? Gak perlu repot-repot padahal, Ratna bisa naik taksi. Memangnya, Ayah menginap di mana? Rumah Ratna kan kosong.”

“Ayah tidak mau anak perempuan Ayah naik taksi sendirian dan Ayah kebetulan memang ada urusan di Jakarta. Jadi, Ayah pikir, kenapa tidak sekalian menjemputmu?”

“Ey, Ratna sudah bukan anak-anak lagi. Sudah mau kepala tiga!”

“Tetap saja bagi Ayah, kamu itu masih anak-anak.”

“Jadi, maksud Ayah ini, Ratna masih kekanak-kanakan?”

“Bisa jadi! Hahaha…” Mereka pun tertawa bersama sambil berjalan menuju parkiran.

Ratna memang selama empat tahun ini meninggalkan Indonesia karena harus menempuh S3-nya di negara lain, yaitu Swiss. Dia memang ingin kuliah sampai S3 agar bisa mendapat gelar profesor.

Dia bahkan sampai rela melepaskan pekerjaannya sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta yang sudah ia geluti selama dua tahun demi melanjutkan kembali studinya. Karena otak cerdasnya, dia bisa pergi ke Swiss dan belajar di sana secara gratis dengan beasiswa dari pemerintah yang telah ia dapatkan.

Kembali ke Ratna dan ayahnya, selama di perjalanan, bapak dan anak itu tak henti-hentinya berbincang-bincang. Mereka membicarakan politik, olahraga, pekerjaan, bahkan sampai ranah pribadi.

“Setelah ini kamu akan tetap tinggal di Jakarta atau kembali ke Bandung dan tinggal bersama kami lagi, Ratna?” tanya ayahnya Ratna dengan mata masih fokus menatap jalanan di depannya. Mereka baru saja menbicarakan isu-isu yang sedang hangat.

“Ratna akan tetap tinggal di Jakarta, Yah. Ratna sudah mendapatkan tawaran pekerjaan di salah satu universitas swasta yang cukup bagus di sana,” jawab Ratna sopan sambil melihat ke arah ayahnya.

“Kamu mau sampai kapan tinggal sendirian di Jakarta, Ratna? Rumahmu terlalu besar untuk ditempati sendirian.” Kali ini, mata ayahnya Ratna sesekali melirik ke arah anaknya.

“Ratna merasa nyaman dengan rumah itu, Yah. Lagi pula, rumah itu Ratna bisa dapatkan dengan harga yang tidak terlalu mahal padahal rumahnya lumayan besar dan lokasinya juga strategis. Jadi, mungkin Ratna tidak akan pindah-pindah lagi. Mending Ayah dan Linda yang tinggal di rumah Ratna.”

“Kau tahu Ayah tidak bisa, Ratna. Ayah lebih suka tinggal di rumah kita, bersama Linda. Rumah itu menyimpan banyak kenangan bersama ibumu. Linda juga tidak ingin pindah,” tolak ayahnya Ratna sambil memasang wajah sedih karena mendadak mengingat mendiang istrinya.

“Ah, seandainya Ratna tidak bekerja di Jakarta, Yah. Pasti Ratna akan tinggal bersama kalian. Ratna rindu kalian berdua.”

“Kamu… belum menemukan calon, Ratna?” tanya bapak itu hati-hati. Dia memang sedikit khawatir melihat anak sulungnya yang masih tetap setia dengan kesendiriannya. Ratna hanya memikirkan studinya, dia tidak pernah sekali pun membawa laki-laki ke rumah.

“Calon apa? Menantu buat Ayah? Belum, Ratna masih terlalu sibuk untuk memikirkan itu semua.”

Ayahnya Ratna langsung menghelakan napasnya seolah-olah kecewa. “Ayah ingin menjadi walimu saat pernikahan nanti, Sayang.”

“Ayah pasti akan jadi waliku, tenang saja!” hibur Ratna saat melihat ayahnya terlihat kecewa dan sedih seperti itu.

“Ayah cuma takut tidak kesampaian…”

“Ayah… Jangan berkata seperti itu.”

“Karena itu menikahlah!” desak ayahnya kali ini.

“Ratna belum menemukan kandidat yang bagus untuk jadi suami Ratna dan menantu Ayah.”

“Ayah punya kenalan, kamu mau Ayah kenalin?”

Ratna menatap ayahnya sebentar, dia terlihat ragu. Meski usianya sudah terbilang tinggi, nyatanya dia benar-benar belum tertarik menjalin hubungan, apalagi sampai ke pernikahan. Dia masih ingin berkarier. Dia baru saja menyelesaikan S3-nya, buat apa kalau tidak digunakan dengan baik-baik? Namun, dia juga tidak ingin menolak tawaran ayahnya. Dia takut Ayah kecewa. Jadi, dengan berat hati, dia pun mengiyakan tawaran ayahnya.

“Baiklah. Kapan Ayah mau kenalin ke Ratna?”

***

Jakarta, 15 Januari 2012

Tring!

Tiba-tiba handphone Ratna berbunyi, menandakan kalau ada pesan yang baru saja masuk ke handphone-nya. Sekarang, dia tengah sibuk merekap nilai-nilai mahasiswa di mata kuliahnya. UAS sudah selesai, liburan pun sudah tiba, dia harus segera menyelesaikan itu semua agar bisa segera dibagikan ke mahasiswa-mahasiswanya.

Dia mengentikan pekerjaannya sebentar dan mengalihkan perhatiannya ke handphone-nya, berpikir mungkin saja pesan itu merupakan pesan penting. Dan ternyata, itu pesan dari ayahnya.

Ratna, kamu masih ingat dengan kenalan Ayah yang waktu itu Ayah bicarakan? Besok kita ketemuan di restoran yang berada di mall dekat rumahmu ya, saat jam makan siang. Mumpung Ayah sedang ada di Jakarta. – Ayah.

Ratna mendesah pelan. Dia senang ayahnya datang ke Jakarta, tapi dia sudah hampir lupa dengan hal itu. Dia pikir ayahnya juga sudah lupa, lebih tepatnya berharap supaya lupa, tapi ternyata tidak.

Baik, Ayah. – Mirza Ratna Y.

Setelah membalas pesan dari ayahnya, dia pun kembali melanjutkan kegiataannya yang sempat tertunda tadi.

***

Besoknya, Ratna segera datang ke restoran yang dimaksud ayahnya kemarin. Pakaiannya hari ini terlihat feminim, dress selutut warna hitam dengan make up yang sedikit sexy dan fancy. Agar tidak terlalu terbuka, dia juga memakai coat selutut berwarna putih. Kakinya dihiasi dengan high heels ukuran 7 cm warna hitam. Sementara rambutnya dibiarkan tergerai dan dia yang biasanya memakai kacamata minus, kini memakai softlens.

Setelah 15 menit menunggu, ayahnya datang dengan ditemani oleh seorang pria yang umurnya sekitar 35-an. Penampilan pria itu terlihat perlente, kelihatan sekali kalau dia sangat memperhatikan fashion. Tubuhnya tinggi tegap dengan badan yang cukup bagus. Bahunya lebar dan rahangnya keras. Rambutnya seperti rambut tentara dan berwarna hitam.

“Ratna, kamu sudah sampai sejak kapan?” tanya ayahnya saat mereka sudah duduk di bangku masing-masing dan mulai memesan makanan.

“15 menit yang lalu, Ayah.”

“Oh ya, Ayah hampir lupa. Perkenalkan, dia Reynaldi Dirgantara. Orang Kalimantan. Dia teman Ayah, sudah Ayah anggap anak sendiri malah. Masih single dan bukan duda pastinya. Hahahaha…”

Ayah dan pria itu tertawa bersama, sementara Ratna hanya tersenyum kecil, berusaha untuk tetap terlihat elegan.

“Nama kamu siapa, kalau boleh tahu?” tanya pria yang bernama Reynaldi itu. Suaranya berat tapi enak didengar. Sepertinya dia pandai bernyanyi.

“Saya Ratna, Mirza Ratna Yustika. Umur saya mau jalan 30 tahun,” jawab Ratna dengan sopan.

“Dia seorang dosen, Rey. Dosen muda gitu laaah,” ayahnya ikut menimpali.

Reynaldi hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum ke arah Ratna, yang dibalas dengan senyuman anggun oleh Ratna. Reynaldi mulai merasa penasaran dengan wanita di hadapannya.

***

Semenjak perkenalan itu, hubungan Ratna dan Reynaldi semakin dekat. Mereka memiliki banyak kesamaan yang membuat mereka mulai merasa nyaman. Sampai akhirnya, mereka memutuskan untuk bertunangan. Agak terburu-buru memang, tapi mengingat usia mereka yang sudah cukup tinggi, mereka tidak mungkin ada waktu lagi untuk hanya sekadar berpacaran.

Terlebih lagi, ayahnya Ratna mulai sakit parah. Dia divonis oleh dokter bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi. Agar keinginan terakhir ayahnya terpenuhi, yaitu menjadi wali untuk Ratna di pernikahannya, mau tak mau Ratna harus mengurusi pernikahannya secepat mungkin.

Lagi pula, Reynaldi ini adalah calon suami ideal dan tipenya Ratna. Dia tampan, tinggi, mapan, bentuk badannya bagus, mengerti fashion, dan pastinya humoris serta romantis. Tidak mungkin kalau Ratna yang selama ini jarang sekali ada lelaki di kehidupannya kecuali Ayah dan teman-temannya itu tidak jatuh cinta dengan pesona Reynaldi.

Semakin hari, rasa cinta di hatinya semakin kuat sehingga membuat dia menerima pinangannya Reynaldi pada bulan April. Mereka pun akhirnya menikah pada bulan Juli 2012 dengan cukup meriah. Seperti takdir, tidak lama kemudian, ayahnya meninggal dunia dan rumah mereka yang di Bandung dijual.

Ratna dan Reynaldi pun tinggal di rumahnya Ratna yang di Jakarta karena Reynaldi masih belum punya rumah dan Ratna tidak ingin Reynaldi menabung lagi untuk membeli rumah. Toh, rumahnya sudah lebih dari cukup untuk menampung mereka berdua. Sementara adiknya, Linda, memutuskan untuk membeli rumah di Bandung dari hasil warisan mereka dan tinggal sendiri di sana.

Beberapa bulan setelah pernikahan, Reynaldi semakin sibuk dengan pekerjaannya. Dia mulai jarang pulang dan kalaupun pulang, selalu larut malam. Saat ditanya mengapa, dia selalu menjawab kalau dia ada urusan dengan klien. Ya, Reynaldi memang seorang pengusaha baru di bidang interior yang namanya mulai dikenal dimana-mana.

Sebenarnya, Ratna tidak terlalu mempermasalahkannya karena Ratna juga sibuk bekerja. Kariernya sebagai dosen terus menanjak, dia bahkan sering pergi ke luar negeri karena pekerjaannya. Hal itu membuat Reynaldi jengkel, dia ingin Ratna tinggal di rumah dan jadi ibu rumah tangga, bukan jadi wanita karier.

“Kamu masih kerja juga? Kan sudah aku bilang berkali-kali supaya berhenti. Aku ingin anak kita diurus olehmu bukan oleh pembantu.”

Seperti biasanya, pembicaraan mereka tidak jauh-jauh dari soal pekerjaan Ratna.

“Aku kan kerja buat membantu kamu juga, Mas. Aku gak mau kamu mencari uang sendirian. Lagian kita masih belum punya anak, kamu juga jarang ada di rumah. Aku bakal kesepian kalau ditinggal sendirian di sini.”

“Aku jarang ada di rumah karena pekerjaan, buat nyari uang! Itu memang kewajibanku sebagai suami. Sedangkan kamu, kewajibanmu sebagai istri adalah mengurus suami dan semua keperluannya.”

Ratna mendesah pelan, ditatapnya suaminya itu dengan penuh perhatian.

“Kamu lupa? Bahkan sesibuk apapun diriku, aku selalu berusaha buat memperhatikanmu dan melakukan tanggung jawabku sebagai istri.”

Reynaldi mendecak kesal. Tangannya dilipat di depan dadanya.

“Halah, tanggung jawab yang bagaimana contohnya? Kamu selalu lebih memilih pekerjaanmu ketimbang suamimu sendiri. Selingkuh kali kamu dengan ketua prodi itu.”

“Mas!” Tatapan Ratna berubah menjadi marah. “Aku tidak pernah sama sekali kepikiran untuk melakukan hal-hal seperti itu!”

“Sekarang kepikiran, kan?” ejek Reynaldi dengan sinis.

“Astaga, Mas. Kamu kenapa seperti ini sih?”

“Berhenti dulu dari pekerjaanmu baru aku berhenti menuduhmu selingkuh!”

“Kamu tahu aku tidak bisa, Mas! Menjadi dosen adalah mimpiku! Kau juga sudah tahu itu sejak sebelum kita menikah.”

Plak!

Reynaldi baru saja menampar Ratna dengan cukup keras sampai wanita itu meringis kesakitan. “Jangan jadi istri kurang ajar yang suka melawan suaminya,” desis Reynaldi sambil menatap istrinya dengan berapi-api.

Salah satu yang Ratna baru ketahui setelah dia menikah dengan Reynaldi adalah suaminya itu orang yang suka melakukan kekerasan. Dia juga selalu menuduh kalau Ratna selingkuh dengan ketua prodinya, padahal kenyataannya tidak.

Namun, Ratna yang pintar pun bisa menjadi bodoh juga di hadapan Reynaldi. Meski dia sudah beberapa kali dipukul oleh Reynaldi, dia tetap mempertahankan pernikahan mereka karena pada akhirnya, suaminya itu selalu meminta maaf sambil memohon-mohon.

Suaminya juga selalu memperlakukannya dengan manis lagi setelah itu hingga hubungan mereka kembali membaik lagi seperti tak ada pertengkaran sebelumnya. Hal ini layaknya lingkaran setan yang tidak kunjung usai, atau bisa disebut cycle of abuse.

Ratna yang tidak ingin disiksa lebih lanjut oleh suaminya, akhirnya mengalah dengan pasrah. Dia ingin menjadi istri yang baik dan tidak suka membangkang. “Baik, jika itu yang kamu mau.”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat