Bu Ratna Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 5

Jangan mengira kalau Ratna tidak berdebar setiap melihat Reza. Jangan mengira juga kalau Ratna tidak menyukai ciuman dan dekapannya Reza. Dan jangan mengira kalau Ratna tidak merasa pusing setiap kali memikirkan mengapa hubungan mereka bisa sampai serumit ini.

Reza memiliki pesonanya sendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh pria lain, bahkan mantan suaminya. Mungkin karena itulah dia terkenal sebagai playboy kampus yang suka mempermainkan hati perempuan seenaknya. Si Cassanova Bandung Punya, itulah panggilannya di kampus.

Ratna sudah tahu kalau dia akan menjadi dosen pembimbing skripsinya Reza, dia memang sudah diminta secara khusus dari awal oleh Pak Norman dan Pak Ardy, dekan akademik, serta Pak Johan dari bidang kemahasiswaan untuk membimbing Reza dalam menyelesaikan skripsinya karena Reza sudah menjadi mahasiswa abadi cukup lama dan mereka lelah melihatnya. Hal itu juga bisa membuat nama universitas tercoreng.

Namun, mereka tidak bisa mengeluarkan Reza karena ayahnya merupakan orang yang cukup berpengaruh di kampusnya. Ayahnya merupakan direktur di sebuah penerbitan yang terkenal sekaligus menjabat sebagai rektor di kampus tempat anaknya kuliah.

Karena itulah, mereka tidak berani macam-macam dengan Reza. Jalan satu-satunya hanyalah dengan memastikan bahwa dia bisa lulus kuliah secepatnya. Dan mereka percaya dengan kemampuan Ratna yang sudah tidak diragukan lagi.

Ratna sangat keras, dia tidak takut dengan apapun, termasuk dengan penjabat-penjabat kampus yang notabennya merupakan atasannya. Dia juga sangat terkenal dengan sikapnya yang begitu disiplin serta terstruktur.

Semuanya harus berjalan sesuai keinginannya karena menurutnya, apa yang dia rancang itu merupakan hal yang paling sempurna. Dia sudah memikirkannya matang-matang serta memperhitungkan segalanya dengan cermat.

Di kalangan mahasiswa, Ratna dikenal sebagai dosen paling killer. Dia tidak akan segan-segan memberikan mahasiswanya nilai D jika menurutnya mahasiswa tersebut pantas mendapatkannya. Setiap mata kuliah yang ia ajarkan selalu menjadi mata kuliah yang paling banyak jumlah mahasiswa yang gagalnya dan menjadi mata kuliah yang paling sering diulang karena saking banyaknya mahasiswa yang gagal di mata kuliah tersebut.

Itulah mengapa Ratna dipilih menjadi pembimbing skripsinya. Itu juga mereka meminta tolong ke Ratna tanpa sepengetahuan penjabat-penjabat kampus. Pamor Ratna sudah sangat terkenal di kalangan mahasiswa. Si Naga dari Prodi PKN, itulah sebutannya. Karena pamor itu, dia diharapkan bisa membuat si pemalas Reza berhasil menyelesaikan skripsinya dan bisa mengikuti sidang sesegera mungkin.

Kesan pertama saat dia bertemu Reza seperti yang sudah diprediksi olehnya sebelumnya. Gayanya yang modis dan cenderung sesukanya sangat sesuai dengan tingkah lakunya yang masa bodo dan kurang ajar. Dia bahkan masih ingat saat Reza meninggalkan ruangannya begitu saja tanpa salam dan dengan penuh kemarahan karena dihina olehnya.

Dia juga masih ingat bagaimana Reza seenaknya datang menemuinya dengan setelan pakaian yang menurutnya tidak sopan. Dia masih ingat juga bagaimana Reza seenaknya menciumnya, kejadian itu benar-benar membuat Ratna marah dan merasa malu. Karena itulah dia sudah tahu dan sudah siap mental bahwa anak bimbing yang akan dia hadapi ini adalah seseorang yang kurang ajar dan sulit diatur.

Namun, dia tidak menyangka kalau Reza ternyata tidak seburuk yang dia telah perkirakan. Reza mengerjakan semua yang disuruh oleh Ratna tepat waktu. Meski banyak sekali yang harus direvisi, tapi setidaknya dia mengerjakannya tanpa harus membuat Ratna mengejar-ngejar dia dulu. Setidaknya, Reza tidak malas melakukan bimbingan.

Dia juga tidak pernah menyangka kalau hubungan mereka akan sedekat ini. Seharusnya hubungan mereka hanya sebatas dosen dan mahasiswa saja. Namun, takdir meminta mereka untuk menjadi tetangga dan yang lebih buruknya adalah Fian, anaknya, menyukai Reza. Dan sekarang, dia harus menghadapi Reza yang menyukai dia. Hal itu membuat Ratna mau tak mau pusing kepala.

Ratna sangat menyadari umurnya yang sudah tidak muda lagi, sudah hampir kepala empat! Selain itu, dia sudah punya Fian yang harus dia urus. Tak ada waktu lagi untuk mencari pendamping hidup. Baginya, ia dan Fian saja sudah cukup untuknya. Hatinya juga masih trauma dengan pernikahannya yang gagal.

Segalanya begitu mendadak untuknya. Terlebih Reza selalu berusaha mengambil hatinya dengan cara andalannya, cara khas anak muda, cepat dan tidak santai. Dengan seenaknya dia mencium, memeluk, memanggilnya sayang, dan menggodanya. Untuk wanita seumur Ratna, hal itu merupakan sesuatu yang tidak biasa dan membuat hatinya lebih cepat bereaksi dari biasanya.

Ratna juga menyadari bahwa Reza masih muda, masih bocah. Dia lebih pantas dijadikan keponakan ketimbang pasangan hidup. Ratna sudah tidak ada waktu lagi untuk bermain-main. Kalaupun akhirnya dia siap membuka hatinya untuk orang lain, dia ingin langsung dilamar dan menikah.

Dia sudah tidak punya waktu lagi untuk berpacaran. Lagipula, apa kata dunia kalau melihat Ratna berpacaran dengan Reza? Bisa-bisa dunia menghujatnya pedofil! Menjalin hubungan dengan bocah sepertinya hanya akan menambah beban pikirannya karena biasanya pemuda seumuran Reza cenderung masih suka seenaknya dan cepat bosanan.

Namun, semenjak Reza mulai masuk ke kehidupannya dan begitu cepat akrabnya dengan Fian, dia tahu kalau dia tidak bisa selamanya menahan dirinya untuk tidak terpesona. Bagaimana pun kehidupan Ratna hampir tidak dihiasi dengan percintaan, kecuali dengan mantan suaminya, itu juga berakhir membawa luka untuk hatinya.

Saat Reza mengatakan kalau dia menyukainya, dia semakin susah untuk menahan dirinya untuk tidak memeluk pria itu. Saat Reza mencium tangannya dan mengatakan kalau dia ingin menikahinya dan tua dengannya, dia mulai merasa kalau perlawanannya sia-sia. Dan saat Reza menciumnya dengan penuh cinta, dia tahu kalau dia sudah kalah.

Ciuman itu begitu memabukkan!

Reza memang pantas mendapatkan predikat Cassanova!

Bahkan saat Reza menghentikan ciuman mereka, Ratna menciumnya lagi lebih dalam! Sepertinya ada sesuatu yang salah di dirinya, bibir dan otaknya tidak mau bekerja sama.

Apa kata orang-orang kalau tahu seorang dosen yang terhormat berciuman dengan seorang mahasiswa yang terkenal dengan sikapnya yang seenaknya? Mahasiswa bimbingannya lagi! Ini sungguh terlarang tapi Ratna tidak bisa melupakan ciuman itu.

Semenjak hari itu, dia sudah tidak bisa melihat Reza dengan cara yang sama lagi. Tapi dia berusaha menutupinya dengan sikapnya yang tegas dan garang seperti biasanya. Dia tidak akan membiarkan Reza tahu apa yang dia rasakan. Dia harus tetap menjadi Bu Ratna yang ditakuti dan disegani banyak orang. Harga dirinya sudah hancur saat dia membalas ciuman Reza, setidaknya dia harus terlihat masa bodo supaya Reza tidak kegirangan!

“Selamat siang, Bu Ratna!”

Bocah ini! Baru saja dia memikirkannya tadi dan dia sudah di sini. Mau apa lagi sebenarnya dia sekarang?

“Mau apa kamu?” tanya Ratna ketus sambil berusaha mempertahankan tatapan matanya ke komputer dan tidak melihat pria di depannya karena itu akan membuat hatinya tidak berfungsi dengan benar.

“Loh, aku kan mau bimbingan?”

Sial, dia sampai lupa kalau mereka akan melakukan bimbingan! Kenapa mereka harus melakukan bimbingan?! Kenapa dia harus membimbing Reza?!

“Oh ya, saya lupa. Anak bimbing saya bukan cuma kamu. Sini, mana draft-nya? Ngomong-ngomong, jaga sopan santunmu, ya. Saya ini dosen kamu.”

“Kenapa emang? Kita cuma berdua di sini. Lagipula, kita kan sudah ciuman beberapa kali.” Sambil mengatakan itu, bocah ini menunjukkan senyum tak bersalahnya dan kerlingannya jahilnya!

“Diam kamu. Anggap saja yang kemarin itu tidak terjadi!” balas Ratna dengan ketus karena menahan malu yang luar biasa akibat celetukan Reza sebelumnya.

“Apa kamu tidak suka?” Raut wajahnya menjadi kecewa dan berhasil membuat Ratna mau tak mau mendadak merasa bersalah.

“Sudah sudah! Cepat, mana draft-nya!”

“Baik, Bu,” jawab Reza dingin lalu menyerahkan draft-nya dengan setengah hati.

Demi apa pun, mengapa Reza mendadak berubah sikapnya? Anak muda memang tidak pernah bisa ditebak kelakuannya! Dan mengapa dia tidak suka melihat Reza menjadi dingin begitu? Dia merasa sedih, entah mengapa.

“Saya suka,” celetuk Ratna tiba-tiba. Matanya masih mengkoreksi lembaran skripsinya Reza.

“Apa?”

“Tsk… Saya suka dengan yang kemarin. Sudahlah, jangan dibahas lagi!” Kali ini, tatapannya beralih dari lembaran skripsi di tangannya ke matanya Reza. Sementara, kedua pipinya sedikit memerah meski tidak lama.

Raut wajahnya Reza yang tadinya kecewa langsung berubah drastis menjadi sumringah. Seperti tanpa dosa, dia menampilkan senyum terbaiknya ke Ratna, yang berhasil membuat Ratna kembali gagal fokus dan mengutuk dirinya sendiri karena mau saja menuruti kemauan seorang bocah. Sialan bocah ini!

***

“Ratna, ayo kita makan?” tanya Reza setelah bimbingan selesai.

“Bu Ratna. Bukan Ratna, Reza,” keluh Ratna dengan gemas.

“Loh, kita kan sudah sepakat waktu itu?” Reza mencoba untuk berkilah lagi. Memang pemuda itu suka sekali membalas perkataan orang tua.

Sial, dia lupa lagi. Kenapa dia selalu bodoh setiap di depan Reza? Dia harus memikirkan sebuah alasan yang masuk akal!

“Ya, memang benar. Tapi kita masih di wilayah kampus dan kamu anak bimbing saya. Jadi, selama di kampus, jaga perilakumu ke saya.” Oke, sepertinya alasannya cukup masuk akal. Dia beruntung memiliki otak yang cerdas.

“Oh… berarti kalau di luar kampus, aku boleh panggil kamu sayang?”

“Saya bukan sayangmu! Anak jaman sekarang benar-benar kurang ajar.”

“Sebentar lagi kamu akan jadi sayangku, Bu Ratna!” jawab Reza sambil menampilkan senyum penuh arti.

Diam kamu, Reza! Saya tidak ingin makin meleleh karenamu!

***

“Ratna, kamu harus banyak makan. Nanti kamu sakit. Aku yang traktir,” perintah Reza saat mereka sudah berada di sebuah restoran.

“Tidak usah sok-sokan menasihati saya dan urusi tubuhmu sendiri. Tubuh saya lebih kuat dari yang kamu pikirkan. Lagian kamu ‘kan cuma mahasiswa, sombong benar mau traktir saya.”

“Ya, mumpung pakai uang papahku, Sayang. Gak boleh disia-siakan, mubazir.”

Saat Reza bilang sayang ke dia, seluruh mata yang berada di restoran itu meliriknya dengan sinis, seperti menghujatnya sebagai tante-tante girang penyuka brondong ganteng. Itulah yang dia khawatirkan. Dia khawatir dengan pandangan orang tentang mereka, apalagi melihat Reza yang masih sehat dan gagah begitu. Ganteng lagi.

“Aku bukan sayangmu, Reza!” bisiknya geram.

Reza terdiam sejenak, tiba-tiba bibirnya membentuk sebuah senyuman jahil. Ratna tahu kalau sepertinya dia baru saja mengatakan sesuatu yang memalukan, tapi dia tidak tahu apa itu.

“Jadi, kamu sekarang sudah bersedia pakai aku-kamu denganku, hm?” tanyanya sambil terkekeh geli.

Bocah ini! Inilah kenapa dia begitu tidak menyukai Reza karena dia selalu tahu bagaimana cara menyerangnya dan membuatnya terlihat bodoh. Hanya dia yang bisa membalikkan kata-katanya dengan sebuah balasan yang bisa menghancurkan harga dirinya! Bisa-bisa pamor Ratna sebagai Si Naga hancur karena Reza!

***

Semenjak insiden ciuman mereka beberapa waktu yang lalu, hubungan Reza dan Ratna makin intens. Meski Ratna masih bersikap galak ke Reza, tapi setidaknya dia mulai memperlihatkan keperduliaannya. Bahkan, mereka mulai saling terbuka satu sama lain, seperti masa lalunya Ratna dan hubungan Reza dengan orang tuanya.

Ratna bahkan mau menggunakan aku-kamu dengan Reza seperti layaknya orang pacaran. Ya, meski mereka belum pacaran. Sepertinya hubungan mereka untuk sampai ke tahap yang lebih serius masih memerlukan perjalanan yang cukup panjang dan medan yang cukup sulit. Hal itu tentu saja tak lain dan tak bukan disebabkan oleh Ratna, wanita yang menurut Reza paling sulit dimengerti.

Beberapa kali Reza merasa, daripada memperlakukannya seperti lelaki, Ratna lebih sering memperlakukannya seperti seorang anak kecil. Dia merasa perlakuan Ratna ke dia tidak jauh beda dengan perlakuan Ratna ke Fian.

Apa dia tidak bisa melihat bahwa Reza ini pria dewasa? Reza sangat berpengalaman dalam urusan ranjang. Dia tahu bagaimana cara memuaskan wanita karena hidupnya selalu dihabiskan di kelab malam. Meski sekarang tidak lagi. Semenjak pertemuannya dengan Ratna, dia tidak pernah lagi bermain-main dengan wanita, tapi demi apa pun, dia bukan anak kecil lagi!

Tidak bisakah Ratna melihat tubuh atletis Reza yang selama ini dia bentuk mati-matian dengan olahraga? Tidak bisakah Ratna mendengar suara baritonnya setiap kali dia berbicara dengannya?
Namun, Ratna masih saja memperlakukannya seperti seorang bocah, seperti memarahi Reza saat dia ingin menginap di rumahnya. Padahal mereka tetanggaan, tapi Ratna selalu mengatakan kalau dia harus segera pulang karena takut orang tuanya akan mencarinya.

Mereka tidak akan mencari dia! Percaya deh!

Bahkan parahnya, Ratna tidak pernah mengijinkannya untuk menyentuhnya lagi. Dia selalu mengelak saat Reza mencoba mencium keningnya atau sekadar menggenggam tangannya. Padahal mereka sudah pernah berciuman bibir! Masa mencium kening saja tidak bisa?

Seperti hari ini, dia harus menghadapi Ratna yang terlalu memperlakukannya seperti anak kecil.

“Reza? Kamu belum mandi? Rambutmu berantakan gitu! Setidaknya sisir biar terlihat lebih rapih!”

“Belum, aku kesiangan.”

“Kan sudah aku bilang, kamu jangan terus-terusan bergadang main game. Inilah akibatnya. Mending kamu bergadang buat mengerjakan skripsi! Harusnya kamu gak usah paksain diri buat antar aku dan Fian, kita bisa berangkat sendiri!” omel Ratna sambil merapihkan rambut Reza.

Ratna memang tidak adil. Dia bisa menyentuhnya kapan saja tapi tidak memperbolehkan Reza untuk menyentuhnya.

“Gak apa-apa, aku masih bisa mengantar kamu meski belum mandi. Lagian, aku juga gak akan keluar mobil, ‘kan?”

“Tapi tetap saja kamu bergadang! Mana kamu sering minum kopi lagi, gak baik buat tubuhmu! Ini lagi, berantakan sekali sih pakaianmu? Malu-maluin aja.” Kali ini Ratna merapihkan pakaian Reza dengan telaten.

Reza mendesah pelan, entah harus bahagia atau tidak diperhatikan seperti itu oleh wanita pujaannya.

“Iya iya, lain kali gak akan bergadang.” Tangannya meraih tangan Ratna yang masih sibuk merapihkan bajunya, digenggamnya erat seolah-olah tak ingin melepaskannya.

“Kamu sedang apa?” tanya Ratna pelan sambil menatap pria yang lebih tinggi darinya itu, suaranya begitu lembut dan menggoda.

“Aku butuh semangat pagi ini biar gak ngantuk. Kamu gak mau kasih aku semangat? Nanti kita nabrak loh.” Sekarang, Reza tidak hanya menggenggam tangan Ratna tapi juga mengelusnya dengan lembut.

“Ngomong sembarangan saja! Semangat kayak gimana memangnya?”

“Cium aku, misalnya.”

Ratna menghelakan napasnya, matanya melihat ke arah lain seolah enggan melakukan apa yang Reza minta.

“Harus banget emang, ya?”

“Iya lah!” jawab Reza mantap.

Ratna menatapnya lagi, kali ini lebih tajam. Dan Reza tahu kalau tatapannya itu akan berakhir buruk buat dia…

“Jangan harap!” balas Ratna dengan ketus lalu menghempaskan tangannya cukup kuat sampai membuat genggaman Reza yang agak mengendor terlepas begitu saja.

“Sudah, cepat antar kami!” tambahnya lagi lalu pergi meninggalkan Reza.

***

“Kamu bawa draft-nya, Za?” tanya Ratna setelah melihat Reza masuk ke ruangannya, kali ini lebih rapih dan pastinya sudah mandi.

“Iya lah, saya kan datang ke sini buat bimbingan, Bu.”

Sudah jadi perjanjian di antara mereka kalau saat di kampus, mereka tidak akan menggunakan aku-kamu, untuk menghindari gosip yang tidak diperlukan.

“Kamu kan sering lupa. Itulah akibat sering bergadang!” omel Ratna seperti biasanya.

Lama-lama, Reza merasa kalau Ratna ini ibunya. Apa jangan-jangan mereka sebenarnya memiliki hubungan darah? Apa jangan-jangan Ratna sebenarnya adalah ibu kandungnya? Apa jangan-jangan perasaannya selama ini adalah perasaan seorang anak ke ibunya? Ah, pikiran macam apa itu? Konyol sekali. Jelas-jelas dia telah jatuh cinta setengah mati kepada Ratna. Masih berusaha mengelak juga, Za?

“Loh, apa ngaruhnya? Saya masih muda, ingatan saya masih tajam.” Jawaban Reza memang selalu asal bunyi, Ratna sudah terbiasa dengan itu karena dia juga begitu. Mereka sebenarnya memiliki sifat yang hampir sama.

“Ya mumpung kamu masih muda makanya saya kasih tahu. Nanti sudah seumur saya, kamu akan menyesal,” balas Ratna tenang sambil terus fokus dengan berkas di depannya.

“Ibu juga belum tua banget tapi sudah pelupa!” sindir Reza.

“Saya pelupa? Contohnya apa? Seingat saya, saya hampir tidak pernah melupakan apa pun. Jangan asal nuduh kamu!” balas Ratna tak terima.

“Ibu lupa kalau kita pernah ciuman dua ka- bukan, tiga kali! Dan mungkin itu alasan mengapa Ibu gak mau cium saya lagi. Padahal waktu itu tanpa aba-aba dari saya, Ibu langsung menci- mmph!” Belum selesai Reza berbicara, Ratna sudah membungkam mulutnya dengan biskuit.

“Kamu berisik sekali,” jawab Ratna santai saat melihat Reza menatapnya dengan kesal.

Tok tok!

Tiba-tiba suara ketukan pintu mengganggu waktu mereka berdua. Reza memang tidak pernah bisa memiliki Ratna seutuhnya saat di kampus, selalu saja ada yang mengganggu. Dosen pembimbingnya memang sesibuk itu.

“Masuk saja!” teriak Ratna.

Seorang pria, yang tak lain adalah Pak Norman, masuk ke dalam ruangan.

“Permisi, Bu Ratna,” ucapnya sambil memberikan senyuman paling menawannya ke Ratna. Hanya Ratna. Dan itu sedikit membuat hati Reza mendidih.
Ratna mengalihkan perhatiannya ke Pak Norman. Dia langsung tersenyum dengan sopan. Sekali lagi, Reza langsung merasa kesal ketika melihat senyuman yang wanita itu berikan ke ketua prodinya.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

Pak Norman terlihat ragu sebentar, tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak tahu bagaimana cara melakukannya.

“Pak Norman?” tanya Ratna sekali lagi karena yang ditanya masih saja diam seribu bahasa. Ratna tidak suka menunggu terlalu lama.

“Hm… Saya sedang berpikir… apakah Ibu mau pergi bersama saya malam ini? Saya mau mengajak makan malam, sekalian membahas itu…”

“Ah…” respon Bu Ratna. Tanpa sadar, matanya melirik Reza yang sedari tadi menatap mereka berdua dengan tajam.

“Hanya berdua saja?” tanya Reza tiba-tiba, mencoba nimbrung.

“Eh, Nak Reza!” seru Pak Norman sambil memberikan senyum palsunya seperti biasa.

Dia sudah ada di sini sejak tadi dan pria tua ini baru menyadari kehadirannya? Sialan!

“Iya, saya Reza. Saya tanya, apa hanya berdua saja?” tanya Reza lagi, kali ini lebih dingin.

Pak Norman bingung mengapa Reza begitu mempersalahkan hal itu sementara Ratna sedikit khawatir takut Reza akan melakukan sesuatu yang tidak dewasa. Dia tahu kalau Reza sedang cemburu. Meskipun sebenarnya dia tidak tahu mengapa Reza harus cemburu. Mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.

“Reza, coba te-” Namun, sebelum Ratna selesai berbicara, Reza sudah mengangkat tangannya seolah-olah menyuruhnya untuk berhenti berbicara. Pak Norman yang melihatnya makin bingung.

“Kenapa kau mau tahu soal itu, Reza? Kalau pun saya makan berdua saja dengan Bu Ratna, apa urusannya denganmu?” tanya Pak Norman.

Kali ini tangannya dilipat di dadanya, menolak untuk merasa terintimidasi dengan pemuda yang jauh lebih muda darinya itu.

Reza tersenyum mengejek dan kemudian berdiri. Ratna yang melihatnya makin panik.

“Tentu saja itu urusan saya.” Reza mengacak pinggangnya.

“Saya harus memastikan tetangga saya tidak pergi dengan pria sembarangan dan berakhir melakukan sesuatu yang tidak sepatutnya dilakukan. Itu akan menimbulkan gosip di daerah rumah saya. Lagian juga, dia punya anak yang harus dijaga,” tambahnya lagi.

Ratna dan Pak Norman melihatnya tidak percaya, apalagi Ratna. Demi apa pun, mengapa Reza bisa mengatakan hal yang begitu menyakitkan seperti itu? Apakah dia serendah itu di matanya?

“Apa-apaan kamu, Reza?!” Kali ini, Ratna langsung turun tangan dan membentaknya. Bocah ini kadang-kadang memang harus dibentak.

Reza mengalihkan pandangannya ke Ratna, senyum mengejeknya masih menempel di bibirnya.

“Kenapa, Bu Ratna? Ada yang salah?” tanyanya dengan ketus.

“Saya mau pergi berdua atau bertiga atau bersepuluh sekali pun dan dengan siapa pun, itu bukan urusan kamu! Toh, saya ini janda terhormat. Jangan mendiskreditkan seorang janda seperti saya, ya? Tidak sopan sekali! Kamu gak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu! Kamu bukan siapa-siapa saya selain anak bimbing saya! Ingat dan camkan itu!” jawab Ratna dengan lantang.

Reza yang mendengarnya merasa sangat sakit. Anak bimbing, selamanya dia hanya akan menjadi anak bimbingnya? Lalu, kalau misalnya dia sudah berhasil menyelesaikan skripsinya, hubungan dia dan Ratna juga akan selesai begitu saja?

“Maaf kalau sudah lancang,” balasnya setelah beberapa saat terdiam. Tatapannya begitu sulit diartikan. “Kalau begitu saya permisi.”

Dengan itu, dia langsung mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan mereka berdua begitu saja. Niatnya untuk bimbingan hari ini hancur sudah. Pikiran dan hatinya kacau, dia tidak pernah menyangka bahwa mencintai seorang dosen akan sesakit dan serumit ini.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat