Bu Ratna Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 4

Setelah mengantarkan Fian ke sekolah, sekarang hanya tinggal mereka berdua di dalam mobil. Mereka masih terlihat canggung karena kejadian tadi pagi.

“Kamu ngapain sih pakai segala nganterin saya dan Fian? Saya bisa berangkat sendiri,” kata Bu Ratna berusaha mencairkan suasana.

“Karena saya ingin,” jawab Reza santai.

“Kamu ini sebenarnya ngapain sih, Reza? Kenapa terus-terusan masuk ke dalam kehidupan saya? ‘Kan saya bilang kalau saya tidak suka!”

Reza melihat Bu Ratna sekilas, senyum kecil menghiasi wajahnya. “Entahlah, kenapa ya?”

“Reza, dengar, apapun tujuan kamu masuk ke dalam kehidupan saya, lebih baik kamu hentikan!”

“Kenapa begitu?”

“Pertama, kamu itu anak bimbing saya. Saya dosen pembimbing kamu. Tugas saya adalah membantu kamu menyelesaikan skripsimu dan segera wisuda. Kedua, usia kita beda 12 tahun!”

“Cuma beda 12 tahun. Masa Ibu melahirkan saya pas umur 12 tahun? Ibu kan masih SMP waktu itu.”

“Tetap saja, Reza!”

“Kita sarapan dulu, yuk? Ibu belum sarapan tadi,” tawar Reza berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Saya harus ke kampus, Reza.”

“Ngapain ke kampus? Gak ada rapat kan? Ya sudah sarapan aja dulu, nanti gak konsen kerjanya.”

“Kamu mending pikirin skripsimu.”

“Iya, Bu, saya selalu pikirin skripsi saya. Biar saya lulus dan dapat kerja, lalu melamar Ibu.”

“Apa?! Reza!” bentak Bu Ratna marah karena terkejut mendengar lamaran mendadak dari Reza.

“Makan di situ aja yuk, Bu? Kayaknya enak tuh.”

Tanpa menunggu jawaban dari Bu Ratna, Reza segera memarkirkan mobilnya ke rumah makan itu. Setelah selesai, dia langsung mengajak Bu Ratna keluar dari mobil. Bu Ratna hanya bisa pasrah dan menuruti perkataan anak muda satu itu. Karena Reza memang punya kemampuan untuk membuat orang tak bisa menolak perintahnya.

“Makan yang banyak, Bu. Saya traktir,” kata Reza saat mereka sudah berada di dalam rumah makan itu.

“Saya tidak biasa sarapan.”

“Ya, harus dibiasain lah. Sarapan itu baik untuk tubuh. Nih, ayam bakar kayaknya enak nih, Bu.”

“Ya sudah, saya itu aja.”

“Ibu suka ayam bakar?”

“Saya penyuka segala.”

“Omnivora dong?” ledek Reza sambil tersenyum. “Oke kalau begitu!” Dia pun segera memanggil pelayan dan memesan makanan.

“Kapan-kapan saya yang buatin ayam bakar untuk Ibu deh,” kata Reza setelah selesai memesan.

“Ayo kita bicara serius, Reza. Skripsimu sudah sampai mana? Revisian Bab 3 sudah dikerjakan belum? Penelitiannya gimana?”

“Sudah kok, Bu, tenang saja. Meski saya gak tahu kalau Ibu puas dengan revisian saya atau tidak. Ibu kan perfeksionis,” jawab Reza santai.

“Bawa?”

“Tidak, karena saya tidak berniat bimbingan hari ini. Saya ingin ngobrol dengan Ibu.”

Bu Ratna menghelakan napasnya berusaha sabar. ‘Reza… Kamu ini sebenarnya ngapain sih?”

“Ibu nanya saya ngapain mulu. Saya lagi ngobrol sama Ibu nih.”

“Yang serius, Reza!”

Reza melihat wanita itu dengan tatapan serius dan berhasil membuat Bu Ratna sedikit canggung, tapi dia tidak ingin kalah dengan anak muda di depannya ini. Jadi, meski dia gugup, dia masih harus terlihat mengintimidasi seperti biasanya.

Reza menghelakan napasnya sejenak. Matanya melihat ke arah yang lain. “Saya capek panggil Ibu dengan sebutan ‘ibu’, seolah-olah Ibu ini Ibu saya.”

“Ya, karena saya memang Ibu kamu di kampus! Lalu, memang kamu berniat mau panggil saya dengan sebutan apa?”

Reza menatap Bu Ratna kembali dan dia akhirnya mulai mengakui hatinya kalau dia benar-benar sudah jatuh cinta dengan dosen pembimbing di depannya itu. Senyumnya kembali muncul. “Ratna.”

“Apa? Saya ini lebih tua 12 tahun dari kamu! Tak sopan sekali.”

“Ya udah, gimana kalau sayang?”

“Reza!”

“Pilih yang mana, Ratna atau sayang?”

“Tidak dua-duanya.”

“Ya udah, baby kalau gitu.”

“Reza! Kamu itu benar-benar ya!” desis Bu Ratna dengan gemas.

“Atau darling?”

“Honey? Sweetie? Belahan jiwa-” Belum selesai Reza berbicara, Bu Ratna sudah memotong pembicaraannya karena takut dia akan bicara lebih ngawur lagi. “Ratna saja.”

“Oke! Ratna! Ratna sayang!”

“Gak boleh ada kata sayang!”

“Tapi saya sayang Ibu.”

“Saya sayang juga sama kamu, Reza…”

“Kalau gitu ayo kita pacaran, Ratna.”

Bu Ratna kembali terkejut ketika mendengar tawaran dari anak muda di hadapannya itu. Sudah lama tidak ada yang mengungkapkan perasaannya ke dirinya karena sudah terlanjur takut duluan dengan sikap dinginnya yang memang sengaja dia berikan agar tidak ada yang berani masuk ke kehidupannya lagi. Namun, sekalinya ada yang mengajaknya menjalin hubungan, orang itu malah harus si bocah tengil merangkap mahasiswa bimbingannya! Dia tidak suka brondong!

“Jangan bercanda, Nak Reza. Atas dasar apa kamu ingin kita pacaran? Kasihan karena saya mengurus Fian sendirian?”

“Bukan, Ratna. Aku menyukaimu.”

Bu Ratna terdiam, kali ini matanya berusaha mencari kebohongan di matanya Reza. Tapi, tidak ada.

“Reza… Kamu berhak dapat yang lebih baik dari saya…”

“Ratna, dengar ya. Selama aku hidup, aku tidak pernah sekali pun mencintai orang, bahkan orang tuaku, teman-temanku. Aku juga gak punya penyakit psikologis yang di mana pasiennya suka dengan wanita yang lebih tua, entah apa namanya itu. Orang bilang aku ini playboy, Cassanova. Ya, mereka benar. Aku berhubungan dengan wanita hanya sebatas karena nafsu dan iseng, tanpa perasaan sedikit pun. Tapi denganmu, Ratna, aku tulus. Terserah kamu mau percaya atau tidak.”

Bu Ratna menatap Reza dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia masih tidak habis pikir kenapa pria segagah dan setampan Reza malah menyukainya yang seorang janda anak satu dan seorang dosen killer yang ditakuti banyak orang. Dia tidak menyangka kalau hubungan mereka sampai sejauh ini. Dia tidak menyangka kalau Fian menyukai Reza. Dia juga tidak menyangka kalau Reza mempunyai perasaan lebih ke dirinya.

“Reza… Saya tidak tahu harus bagaimana,” jawab Bu Ratna dengan suara pelan.

“Entah apa yang terjadi di kehidupanmu sebelum aku masuk, tapi sudah saatnya kamu membuka hatimu lagi. Bukalah hatimu untuk aku. Biarkan aku masuk, Ratna. Biarkan aku masuk ke hatimu karena aku berniat membahagiakan kamu,” ucap Reza berusaha meyakinkan wanita di depannya.

“Saya tidak bisa percaya denganmu. Kamu masih kecil, masih tinggal dengan orang tuamu. Kamu juga genit ke semua wanita. Sementara saya hidup selama ini sendirian, mati-matian berjuang demi saya dan Fian. Masa lalu sudah menghancurkan saya, Reza. Mantan suami saya sudah membuat saya tidak percaya lagi dengan cinta. Lupakan saja saya, Reza. Kamu berhak yang lebih baik. Saya pamit dulu. Ayam bakarnya biar kamu saja yang makan.”

Setelah berkata seperti itu, Bu Ratna segera pergi meninggalkan Reza sendirian tanpa menunggu balasan dari pemuda itu lagi.

***

Sudah seminggu setelah kejadian Reza dan Bu Ratna di rumah makan. Sudah seminggu setelah Reza mengungkapkan perasaannya ke Bu Ratna namun ditolak dengan mentah-mentah oleh Bu Ratna. Dan sudah seminggu pula Reza uring-uringan tidak jelas karena merindukan dosen pembimbingnya itu.

Mereka belum bisa melakukan bimbingan lagi dikarenakan Bu Ratna sedang sibuk karena suatu hal yang dia tidak ketahui. Dia ingin sekali mengunjungi rumah Bu Ratna yang sekarang menjadi tetangganya, tapi dia terlalu gengsi dan masih tidak terima dengan kenyataan bahwa dia ditolak mentah-mentah oleh wanita yang usianya jauh lebih tua darinya itu.

Seorang Reza ditolak? Mustahil!

Entah sudah berapa kali dia memperhatikan keadaan rumah di sebelahnya dari balik jendela kamarnya. Kebetulan memang letak kamarnya berada di samping rumah Bu Ratna, jadi dia bisa tahu keadaan di sana. Mungkin dia mulai terlihat seperti stalker tapi sumpah demi apa pun, dia rindu sekali dengan wanita itu! Dia merindukan tatapan garangnya, gerak-geriknya, kata-katanya yang pedas, tatapan lembutnya yang ditujukan hanya ke Fian, suaranya, dan semua yang ada pada dirinya.

Setiap dia melihat Bu Ratna keluar dari rumahnya, ada hasrat di dirinya yang juga ingin keluar dan menemuinya, memeluknya kalau perlu meskipun dia pasti akan digampar sesudahnya, tapi dia berusaha tahan, setidaknya sampai hari ini.

Rumah Bu Ratna jarang sekali menerima tamu karena belum banyak yang tahu kalau dia sudah pindah rumah. Sekalinya ada yang datang paling Linda, adiknya, atau Pak RT, itu juga karena ingin memberikan selembaran. Tapi kali ini, Reza melihat seseorang yang sedikit membuat dia merasa tidak nyaman, seseorang yang dia tidak terlalu suka, yaitu Pak Norman, ketua prodi jurusannya.

Entah apa yang dia lakukan di sini, tapi yang pasti Reza tidak suka melihatnya. Apalagi saat melihat Bu Ratna keluar dengan senyuman yang jarang sekali muncul di bibirnya. Dia tidak pernah tersenyum ketika mereka bimbingan atau ketika dia mengunjungi rumahnya Bu Ratna, karena itulah dia merasa kesal. Tanpa berpikir panjang, dia langsung keluar dan menemui mereka berdua.

“Bu Ratna!”

Bu Ratna tahu benar siapa pemilik suara ini. Hanya Reza yang berani memanggilnya seenaknya seperti itu. Senyuman yang sebelumnya menghiasi bibirnya langsung hilang seketika dan digantikan oleh tatapannya yang dingin dan kaku.

“Ya, Nak Reza?” tanyanya datar.

“Saya mau bimbingan!”

Bu Ratna melihatnya dengan tatapan heran, apalagi saat melihat Reza menatapnya dengan tatapan marah. Dia sedikit bingung mengapa Reza tiba-tiba sejutek itu ke dia. Dia juga bingung mengapa Reza mendadak ingin bimbingan, biasanya harus dipaksa dulu.

“Saya sedang ada tamu, Reza,” jawabnya tenang meskipun nada kaku masih terdengar di setiap kata-katanya. Dia harus tetap tenang karena Reza sedang marah kepadanya entah karena apa.

“Saya tidak peduli, saya mau bimbingan.”

Reza tidak menyukai bagaimana Bu Ratna selalu menjawabnya dengan kaku dan dingin, seolah-olah dia alergi dengannya. Seolah-olah dia tidak ingin berbicara lama-lama dengan Reza.

“Reza, harap mengerti, saya-”

“Saya tidak peduli, Bu Ratna! Pentingan mana? Anak bimbing Ibu atau ketua prodi saya?”

Mereka saling beradu pandangan dan membuat Pak Norman, yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka, kini mulai angkat bicara.

“Reza, kamu sedang apa di rumah Bu Ratna? Ingin bimbingan?”

Reza mengalihkan tatapannya ke Pak Norman dan mulai memperlihatkan senyumannya yang sepertinya mengejek.

“Saya tetangganya Bu Ratna, Pak Norman yang hebat. Rumah saya di sebelahnya.”

Pak Norman sedikit terkejut ketika mendengarnya, tapi langsung segera ditutupinya dengan senyuman tipisnya.

“Wah, saya suka dengan semangatmu, Reza. Akhirnya kamu memikirkan skripsimu. Benar ‘kan saya bilang? Kamu kalau dibimbing oleh Bu Ratna pasti ada hasilnya, tapi saya sedang ada urusan dengan Bu Ratna. Mungkin kamu bisa bimbingan lain kali?” tawar Pak Norman dengan hati-hati.

“Saya tidak mau tahu. Saya ingin bimbingan sekarang,” ujar Reza dengan tegas dan tak bisa dibantah lagi. Bu Ratna makin bingung mengapa anak bimbingnya kekeuh ingin bimbingan sekarang juga. Bagus memang, tapi apakah dia tidak bisa memilih waktu yang pas?

“Tapi, Reza-”

Sebelum Bu Ratna menyelesaikan kata-katanya, Reza sudah menarik tangannya dan langsung masuk ke rumah Bu Ratna, meninggalkan Pak Norman yang terkejut tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena pergerakan Reza yang begitu cepat.

“Apa-apaan kamu, Reza?!” teriak Bu Ratna sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Reza yang entah mengapa kencang sekali sampai terasa sedikit perih.

“Pak Norman, lebih baik pulang saja. Urusannya diselesaikan di kampus juga bisa, kan? Hati-hati di jalan, Pak!” Tanpa menghiraukan Bu Ratna, Reza mengusir Pak Norman yang malang dan membanting pintu dengan keras.

“Dasar keparat! Awas lu ya godain Ratna gua!” ancamnya setengah berteriak setelah melihat Pak Norman yang mau tak mau pergi meninggalkan rumah Bu Ratna.

“Apa-apaan kamu ini, Reza?”

Suara Bu Ratna terdengar dingin dan seperti menahan amarah, hal itu berhasil membuat Reza yang mulai reda rasa cemburunya kini merinding dan menoleh ke arah Bu Ratna dengan takut-takut.

“Hm… Anu, Bu…”

Plak!

Bu Ratna menampar Reza lumayan keras. Namun, Reza tidak melawan atau protes, dia tahu dia salah karena sudah cemburu buta. Wajar saja kalau Bu Ratna marah karena sikap kurang ajarnya.

“Kamu ini tidak sopan sekali?! Menarik saya dengan paksa seperti binatang!” teriak Bu Ratna penuh kemarahan.

“Saya ingin berdiskusi masalah pekerjaan dengan Pak Norman! Masalah yang sangat penting! Tapi kamu, karena kamu, jadi batal!”

“Masalah apa emang, Bu?”

“Masalah kamu! Kamu tahu? Kamu sudah hampir di drop out karena tidak lulus-lulus! Bahkan, ayahmu sendiri enggan menyelamatkanmu. Saya dan Pak Norman yang mati-matian menolong kamu! Karena bagaimana pun, saya ini dosen pembimbingmu dan Pak Norman itu ketua prodimu! Kami sampai bergadang hampir setiap malam karena mengurusmu!”

Reza makin merasa bersalah. Dia hanya bisa menunduk pasrah karena tidak berani melihat wanita yang sedang murka di depannya.

“Nanti siang saya harus ke kampus ketika saya harusnya libur, itu semua karena kamu! Apakah rasa sopanmu itu sudah mati?! Sudahlah, saya mau tidur! Kamu pulang sana, jangan lupa tutup pintunya!”

Bu Ratna pun segera menuju ke kamarnya dan menutup pintunya cukup keras, meninggalkan Reza yang sedang berdiri sambil mengusap-usap pipinya yang habis ditampar.

Hah… sejak kapan lu jadi segoblok dan sekonyol ini, Reza? racaunya dalam hati.

***

“Selamat siang, Bu Ratna.”

Bu Ratna sedikit terkejut melihat Reza masih di rumahnya, dengan apron yang melekat di tubuhnya, dan beberapa macam lauk di meja makannya.
Bocah ini masak pas tadi saya tidur? pikirnya bingung.

“Kamu kenapa masih ada di sini?” tanyanya sambil melipatkan tangannya dan menatap pria itu dengan penuh intimidasi.

“Saya habis masak untuk Ibu. Nih, saya bikinin ayam bakar juga seperti janji saya waktu itu. Pasti Ibu belum makan sama sekali kan dari pagi? Ibu kan tidak biasa sarapan,” jawab Reza sambil melepaskan apron yang sedari tadi ia pakai lalu menggantungnya kembali.

“Seingat saya, bukannya tadi saya sudah mengusir kamu?”

“Saya tidak ingin pulang, setidaknya ketika Ibu marah dengan saya. Saya lebih memilih masak untuk Ibu agar kita bisa makan bersama-sama. Ngomong-ngomong, saya lapar. Ayo, duduk dan makan. Fian dimana ya, Bu?”

Bu Ratna mendesah pelan, tanpa banyak bicara dia pun segera duduk di meja makan karena tidak enak melihat Reza yang sudah capek-capek memasak untuknya.

“Fian di rumah adik saya, Linda. Baru pulang besok katanya,” jawab Bu Ratna singkat sambil mengambil nasi ke piring.

“Jadi, Ibu sendirian aja malam ini?”

“Iya.”

“Mau saya temani?”

Bu Ratna menatap Reza dengan tajam dan membuat pria itu terkekeh geli.

“Saya bercanda. Tapi kalau Ibu setuju, dengan senang hati saya akan menemani Ibu malam ini,” ucap Reza sambil mengerlingan matanya dengan jahil. Sepertinya, rasa bersalahnya sudah hilang.

“Saya gak mau. Mimpi dulu kamu sana.”

“Kenapa saya harus mimpi dulu? Toh kita pernah ciuman…”

Bletak!

“Wadaw!” teriak Reza kesakitan lalu mengusap-usap tulang keringnya yang kena tendangan maut Bu Ratna dari bawah meja.

“Diam. Dan. Makan,” ancam Bu Ratna lalu kembali melanjutkan makannya.

“Siap, baik, Bu.”

***

“Ibu benar-benar gak mau diantar saya?” tanya Reza entah sudah keberapa kalinya.

“Iya, Reza. Saya bisa sendiri. Sudah, kamu pulang saja sana! Mengganggu terus!” balas Bu Ratna dengan ketus.

“Tapi-” Reza masih berusaha membantah.

“Reza!”

“Pak Norman menyukai Ibu,” balas Reza mencoba menyampaikan kekhawatirannya.

Bu Ratna menghentikan aktivitasnya sebentar dan menoleh ke arah pemuda yang sedang berdiri di depannya. Dia menatap Reza dengan dalam.

“Sok tahu kamu.”

“Dia ingin Ibu jadi pacarnya, saya tahu itu. Terlihat dari sorot matanya setiap melihat Ibu.”

“Jangan sok tahu. Kalaupun itu benar, terus kenapa? Toh, saya juga tidak peduli.”

Reza mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu mendesah dengan keras.

“Saya tidak suka,” jawab Reza dengan tegas.

“Kamu bukan siapa-siapa saya, Nak Reza. Apa hakmu mengatakan hal seperti itu ke saya?”

Mata Reza kembali menatap bola mata wanita itu dan wanita itu bisa melihat ada kekecewaan yang mendalam di sorot matanya setelah dia mengatakan hal itu.

“Untuk sekarang, memang,” jawab Reza pelan.

“Tapi aku akan terus berusaha agar kamu bisa membuka hatimu dan menerima diriku masuk ke dalam hatimu.”

Bu Ratna tersenyum simpul saat mendengarnya.

“Terima kasih karena sudah mau berusaha untuk saya. Saya tidak akan menertawakan rasa sukamu ke saya, Nak Reza,” balasnya sambil memegang pundak Reza dan membuat Reza sedikit kaku karena hatinya berdebar. Baru kali ini Bu Ratna melakukan skinship dengannya karena dia tidak pernah melakukan hal itu, kecuali saat Bu Ratna memukulnya.

“Tapi kamu harus tahu kalau saya tidak bisa memberikanmu janji apapun. Kamu harus sadar kalau kita berbeda, usia kita terlalu jauh.”

“Kamu berhak mendapatkan seseorang yang lebih cantik dari saya dan pastinya lebih muda juga dari saya. Jangan terlalu fokus dengan seorang janda dan nenek-nenek seperti saya. Kamu hanya penasaran dengan saya, Reza. Kamu hanya penasaran dengan sikap saya yang selalu keras ke kamu serta masa lalu saya yang mungkin bagimu merupakan suatu misteri yang harus terpecahkan. Bagaimana pun kamu masih muda, jadi saya maklum.”

Reza meraih tangan Bu Ratna yang sedari tadi di pundaknya dengan hati-hati. Dipegangnya dengan erat dan dikecupnya dengan hangat, membuat Bu Ratna sedikit terkejut dan berdebar. Sudah lama dia tidak diperlakukan seperti ini.

“Benarkah hanya penasaran?” tanya Reza pelan.

“Kalau begitu, mengapa aku sampai setengah gila begini selama seminggu karena merindukanmu? Padahal kamu sudah menolak aku,” tanyanya lagi.

Matanya menatap Bu Ratna dengan sendu. Bu Ratna yang ditatap seperti itu hanya bisa melihat ke arah lain karena tidak sanggup membalas tatapan Reza. Dia akan terperangkap dan terhanyut dengan sorot matanya yang tajam dan gelap jika menatap mata itu.

“Kalau begitu, mengapa aku harus tak bisa tidur setiap malam hanya karena tidak mendengar kabar darimu dan melihat wajahmu? Lihat aku, aku sudah seperti panda dengan kantong mata yang telah mengurangi pesonaku ini.”

Bu Ratna langsung mendengus malas saat mendengar kata-kata Reza yang terakhir. Bocah ini, mengapa selalu seenaknya dan membanggakan dirinya sendiri? Sepertinya, self-confidence-nya sangat bagus.

“Ratna, lihat aku.” Reza memegang pipi dosen pembimbingnya itu dengan lembut, berhasil membuat Ratna mau tak mau kembali menatapnya.

“Aku mencintaimu, sungguh. Aku tak bohong. Kau pikir aku bercanda? Kau pikir aku hanya penasaran?”

Setelah itu, Reza kembali meletakkan bibirnya di bibir Ratna untuk kedua kalinya. Kali ini, bukan ciuman nakal dan penuh dengan gairah seperti yang pertama kali mereka lakukan, melainkan ciuman penuh cinta. Ciuman yang berhasil membuat Bu Ratna mulai terhanyut dan membalasnya dengan penuh perasaan juga, dadanya berdegup dengan kencang. Namun, sayangnya, tidak lama.

“Reza, kita tidak bisa melakukan ini. Ini bisa jadi skandal.” Bu Ratna berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Reza. Dia masih waras dan sadar akan konsekuensi yang akan terjadi jika membiarkan itu terjadi. Dia merupakan seorang dosen, tidak boleh melakukan hal-hal sembarangan seperti itu, terutama dengan mahasiswa bimbingannya.

“Jangan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu, Ratna,” balas Reza pelan. Tangannya masih tetap di pinggang ramping Bu Ratna.

“Kita tidak merugikan siapapun,” tambahnya lagi, lalu kembali mencium Bu Ratna dengan lembut sampai membuat Bu Ratna mau tak mau kembali terhanyut. Dan tanpa sadar, tangannya merangkul lehernya Reza dan mendekapnya lebih erat.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat