Bu Ratna Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 3

Akhirnya mereka sampai di depan rumah baru Bu Ratna, yang ternyata persis samping rumahnya Reza. Reza yang melihatnya hanya bisa tertawa.

“Bu Ratna!” panggilnya setelah memarkirkan motornya di halaman Bu Ratna dan melepaskan helmnya. “Rumah Ibu sebelah rumah saya!”

“Apa?!” teriak Bu Ratna tidak percaya.

“Itu rumahmu? Rumah Pak Rektor juga?” tanyanya sambil menunjuk ke sebuah rumah yang besar di sebelahnya.

“Iya!” jawab Reza mantap lalu tertawa.

“Ibu kalau ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan saya, apalagi kalau minta diantar ke kantor polisi. Itu tempat langganan saya sejak remaja. Lalu, atasan Ibu sekarang jadi tetangga Ibu, kalau minta dinaikan gaji, langsung demo aja.”

“Berisik kamu! Mending gendong Fian tuh, dia susah dibangunin.”

“Siap!”

Dengan sigap Reza menggendong Fian yang sedang tidur dan membawanya ke dalam rumah.

“Mana kamar Fian, Bu?” tanyanya setengah teriak karena berada di dalam rumah.

“Di samping kamar mandi!”

Dia pun masuk ke dalam kamarnya Fian yang ternyata sudah dirapihkan dan meletakkannya ke kasur dengan hati-hati. Setelah itu dia langsung keluar kembali untuk membantu Bu Ratna mengangkut barang-barangnya.

“Bu, saya harus bantu apa lagi?”

“Buku-buku saya bawa tuh, berat banget. Di dalam box.”

“Oke.”

Bukan main beratnya! Paham sih Bu Ratna ini seorang dosen, ketua prodi malah. Tapi gila aja, ini box atau batu?

Reza mengangkat box yang berisi buku-buku itu ke dalam rumahnya dengan susah payah. Untungnya dia sering latihan fisik. Coba kalau tidak, bisa-bisa K.O!

“Apa lagi, Bu?” tanyanya dengan napas tersengal-sengal. Bu Ratna melihatnya sekilas lalu mencibir, “Payah kamu, gitu aja ngos-ngosan.”

“Yah, Bu, salah siapa punya buku yang beratnya kayak batu. Coba kalau gak ada saya, gak yakin Ibu bakal kuat. Terus tadi Ibu ngangkut ke mobilnya pakai apa?”

“Saya minta tolong dua orang.”

“Tuh kan! Saya termasuk keren berarti ngangkat sendirian!”

“Iya iya, terima kasih. Kamu duduk sana, saya bikinin kopi sebagai tanda terima kasih saya.”

“Gak usah repot-repot, Bu, tapi kalau Ibu maksa gapapa sih. Kopi buatan Ibu enak,” kata Reza sambil terkekeh.

Bu Ratna melihatnya dengan tatapan malas dan langsung pergi ke dapur untuk membuat kopi. Reza hanya bisa tertawa geli melihat tingkah laku dosen pembimbingnya itu dan lalu duduk sambil mengecek handphone-nya yang sedari tadi dia abaikan karena terlalu sibuk dengan Bu Ratna.

10 missed calls from Mamah.

8 unreplied messages from Mamah.

Reza memutar bola matanya malas melihat nama ibunya di handphone-nya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengabaikannya dan lebih memilih main game lagi sambil menunggu tuan rumah selesai membuat kopi.

“Nih, kopinya.” Bu Ratna datang dengan membawa dua cangkir yang berisi teh dan kopi serta piring yang berisi kue. Reza yang melihatnya langsung bersinar-sinar.

Dia berseru, “Wah, kebetulan sekali saya lapar!”

“Kamu belum makan?”

“Belum, saya cuma makan snack-snack aja tadi.”

“Saya capek masak, kita delivery saja ya?”

“Ibu yang bayar?”

“Iya, tenang saja. Hitung-hitung balas budi!”

Reza tersenyum entah yang sudah keberapa kali karena wanita di depannya ini. Bu Ratna mulai melepaskan topeng galaknya yang selama ini menempel di wajahnya. Meskipun masih suka ketus, setidaknya Bu Ratna mulai perhatian.

“Kamu mau apa?” tanya Bu Ratna yang berhasil membuyarkan pikiran Reza.

“Saya mau Pizza!”

Bu Ratna menatapnya galak. “Harus nasi!”

“Tapi saya ngidam Pizza, Bu. Ya sudah, Richeese deh? Sama Pizza.”

Bu Ratna makin melotot. “Dasar ya, mentang-mentang saya bayarin, langsung ngelunjak kamu!”

“Loh, katanya balas budi? Gak boleh ngeluh dong, Bu?”

“Ya mikir aja ini kamu pesan Richeese dan Pizza bersamaan! Emang bakal habis?”

“Iya. Saya rakus loh, Bu,” jawab Reza dengan mantap sambil memperlihatkan sennyum jahilnya yang berhasil membuat Bu Ratna menghelakan napasnya berusaha sabar.

“Ya sudah. Kali ini saja!”

“Yes! Hahahaha…”

Reza tak bisa menahan tawanya karena berhasil mengerjai Bu Ratna dan mendapatkan makanan enak + gratis dari dosen pembimbingnya yang terkenal galak ini.

“Jadi, umur Ibu berapa?” Reza mencoba peruntungannya kali ini demi mendapatkan umurnya Bu Ratna.

“Umur lagi! Kamu penasaran sekali dengan umur saya!” balas Bu Ratna dengan gemas.

“Saya memang penasaran. Jadi umur Ibu berapa?”

“36 tahun,” jawab Bu Ratna singkat sambil masih memesan makanan untuk mereka berdua di Go-Food.

“Wah, cuma beda 12 tahun dengan saya! Ibu masih muda ternyata padahal sudah menjabat menjadi ketua prodi,” puji Reza dengan tulus dan kagum.

Bu Ratna menoleh ke arah Reza dengan kesal.

“12 tahun itu ‘cuma’ buatmu, Nak Reza? Saya tidak semuda itu. Tubuh saya sudah rapuh karena tidak suka olahraga.”

“Loh, kenapa? Olahraga itu menyenangkan!”

“Saya tidak ada waktu dan olahraga itu melelahkan, mending duduk sambil baca buku.”

“Dan nonton sinetron cinta-cintaan?”

“Jangan macam-macam kamu atau saya batalkan pesanannya.”

Reza langsung memberikan senyum tak bersalahnya.

“Pantas aja Ibu sudah minus!”

“Setidaknya saya memiliki ilmu yang jauh lebih banyak ketimbang kamu, anak muda yang tahunya hanya bersenang-senang saja!”

“Hidup itu jangan mau terkukung oleh norma yang dibuat masyarakat, Bu. Hidup bebas lebih menyenangkan!”

Bu Ratna berusaha kembali menghelakan napas panjang. Entah sudah berapa kali ia harus menahan emosi karena takut membangunkan Fian dari tidurnya.

“Anak saya sudah satu, Nak Reza. Saya tidak bisa lagi hidup bebas sepertimu. Kamu pikir jadi single parent itu gampang?”

“Kenapa gak menikah lagi?” tanya Reza penasaran. Dia ingin tahu alasan mengapa dosen pembimbingnya lebih memilih sendiri dan menjadi single parent. Di kampus pun dia jarang melihatnya bercengkrama dengan pria, kecuali Pak Norman.

“Saya pernah menikah lalu gagal dan saya tidak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama.”

“Kalau tidak mencoba gimana bisa tahu?”

“Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dicoba-coba, Reza.”

“Bagaimana kalau Ibu menikah dengan saya saja?” celetuk Reza seenaknya sampai membuat Bu Ratna memberikan geplakan cukup keras di bahunya.

“Ngawur. Apalagi kalau denganmu yang suka main perempuan, saya anti! Alergi!”

“Ceritakanlah soal masa lalumu, Bu…”

“Jangan melebihi batas, Nak Reza. Hal itu bukan urusanmu.”

“Saya bisa dipercaya loh, Bu!” kata Reza berusaha membujuk.

“Tapi saya tidak mempercayaimu,” balas Bu Ratna dingin.

“Ah, Ibu tidak menyenangkan!” gerutu Reza seperti anak kecil.

Bu Ratna hanya menggelengkan kepalanya seolah-olah heran dengan kelakuan anak bimbingnya itu.

“Kamu sendiri kenapa bisa diusir dari rumah?”

“Biasalah, Papah tidak suka dengan kegantengan saya yang bisa menyaingi dia,” jawab Reza seenaknya.

“Saya yakin pasti bukan karena itu,” balas Bu Ratna dengan mantap.

“Saya akan menceritakannya kalau Ibu juga menceritakan masa lalu Ibu.”

“Kalau gitu kamu gak usah cerita. Silahkan nikmati rasanya diusir dari rumah!”

Reza pun langsung tertawa terbahak-bahak, sementara Bu Ratna hanya bisa berusaha menahan emosinya untuk tidak memukul anak bimbing di depannya itu.

***

Sejak kemarin, tepatnya semenjak kepindahan Bu Ratna ke sebelah rumahnya Reza, Reza tidak bisa berhenti tersenyum. Dia terlihat sangat bahagia dan lebih ramah dari biasanya. Bahkan, dia yang biasanya bersikap ketus kepada orang tuanya, kini mulai jarang melawan mereka sehingga membuat ibu dan ayahnya bertanya-tanya.

Seperti hari ini, misalnya. Dia yang biasanya bangun siang kalau tidak ada bimbingan, kini sudah bangun dan berpenampilan rapi. Ini masih pukul lima pagi, tapi dia sudah berdiri di dapur, sambil berjoget-joget kecil dan bernyanyi. Meski suaranya sumbang. Dia membuat nasi goreng untuk sarapan pagi. Sampai Bi Darmi, yang biasanya kesusahan membangunkan Reza dan menyuruhnya sarapan, kini menganga.

“Dek Reza sedang apa?” tanya Bi Darmi.

Khawatir kalau Reza sedang melakukan sesuatu yang berbahaya di dapur kesayangannya, merakit bom misalnya.

“Ya sedang masak dong, Bi. Masa main catur? Apalagi main layangan. Payah nih pertanyaannya.”

Tabiat Reza memang tidak berubah, selalu seenaknya dan jarang serius.

“Mau Bibi bantuin gak, Dek?” tanya Bi Darmi lagi. Tampaknya Bi Darmi masih khawatir dapurnya akan dihancurkan oleh majikan mudanya satu itu.

“Gak usah, Bi. Gini-gini saya bisa masak loh, untungnya pernah kabur dari rumah gini nih!” Reza menoleh ke arah Bi Darmi sambil cengengesan, membuat Bi Darmi makin gemas.

“Sst, Dek Reza! Jangan bahas-bahas itu lagi! Kalau sampai Ibu dan Bapak tahu soal itu, bisa mati Bibi!”

“Hehehe… Sorry deh, Bi. Sorry…”

“Apa yang saya tidak boleh tahu?”

Tiba-tiba, sebuah suara datang dan mengejutkan mereka berdua. Ibunya Reza, Nyonya Pratama, datang dari arah ruang keluarga sambil membawa kucing persia kesayangannya. Matanya menatap selidik ke arah Reza dan Bi Darmi.

Bi Darmi terlihat gugup sementara Reza malah terlihat santai. Reza menyentuh tangannya Bi Darmi seolah-olah mengatakan bahwa dia yang akan mengurusnya, Bibi pergi saja dari sini. Tatapan Reza terlihat yakin sehingga membuat Bi Darmi, mau tak mau, permisi ke mereka berdua.

“Jadi, apa yang Mamah tidak boleh tahu?” tanya Nyonya Pratama lagi.

“Ah, Mamah mau tahu saja. Biasanya dulu gak pernah ingin tahu, sekarang sok-sokan peduli.” Reza menjawabnya dengan santai sambil melanjutkan acara masak-masaknya.

“Mamah selalu peduli, Reza!”

“Kalau gitu, kemana saja selama ini?”

“Mamah sudah bilang, Mamah minta maaf soal itu! Jangan bahas-bahas lagi!”

“Halah, bilang saja Mamah memang tidak ingin disalahkan. Jujur-jujuran aja kita, Mah. Saya open minded kok, gak kayak Mamah dan Papah!” sindir Reza sambil melihat ibunya sekilas.
“Reza!”

“Terserah Mamah sajalah. Sesukanya! Tuh, ketimbang urusin saya mending urusin kucing Persia Mamah, jelek gitu.”

Reza segera mengambil kotak makan dan memasukkan nasi gorengnya yang sudah jadi. Dia sudah kehilangan minat untuk makan di ruang makan, semua karena ibunya yang pakai acara muncul. Lagipula, dia memang berniat untuk memberikan nasi gorengnya untuk seseorang. Setelah selesai, dia segera pergi meninggalkan ibunya tanpa permisi.

“Mau ke mana kamu, Reza?”

“Mau tahu saja!”

***

Mobil Reza sudah mejeng di depan rumahnya Bu Ratna. Iya, dia memang ingin mengantar dosen pembimbingnya ke kampus hari ini, tanpa peduli Bu Ratna mau atau tidak.

“Selamat pagi, Bu Ratna! Spada! Spada!”

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Fian muncul.

“Kak Eja!” panggilnya dengan semangat.

“Yo, Fian!” Fian pun memeluk Reza dengan erat dan membawa atau lebih tepatnya menyeret Reza masuk ke dalam rumahnya.

“Kak Eja duduk dulu! Ian mau mandi, siap-siap mau sekolah di sekolah balu!”

“Siap, Fian!” balas Reza sambil mengacak-ngacak rambutnya Fian. Fian pun segera lari ke kamarnya.

“Siapa yang datang, Fian?” Tiba-tiba Bu Ratna muncul dengan penampilan yang sedikit membuat Reza pusing kepala.

Masalahnya, Bu Ratna ini hanya memakai kemeja untuk menutupi tubuh atasnya. Sementara tubuh bawahnya tidak terbalut apa pun, menampilkan paha dan kakinya yang jenjang. Untungnya kemeja tersebut cukup panjang sehingga tidak menampilkan celana dalamnya. Tangannya sibuk menggosok-gosok handuk di rambutnya yang masih basah. Reza hanya bisa menganga dan menelan ludah melihat pemandangan di depannya.

“Reza! Ngapain kamu di sini?!” teriakan Bu Ratna berhasil membuyarkan pikiran-pikiran mesum yang mulai menggerogoti otaknya. Dia langsung gelagapan dan matanya yang sedari tadi jelalatan ke arah pahanya Bu Ratna kini menatap wanita itu.

Bu Ratna terlihat sangat panik dan berusaha menutupi bagain bawah tubuhnya dengan handuk. Tapi karena kekecilan, jadi percuma saja. Dia pun segera lari ke kamarnya dan membanting pintunya cukup keras.

“Reza! Awas kamu ya!” ancam Bu Ratna dari dalam.

***

Beberapa saat kemudian, Bu Ratna ke luar dengan penampilan yang lebih rapih dan tertutup. Bagian bawahnya sudah ditutupi oleh celana bahan bewarna hitam. Rambutnya dicepol dan make up sudah menghiasi wajahnya. Dia menghampiri Reza, tatapannya sangat tajam dan tangannya terlipat di dadanya.

“Ngapain kamu di sini?”

“Mau nganter Ibu ke kampus…”

“Ngapain? Saya bisa berangkat sendiri!”

“Ya… Ibu kan baru pindahan kemarin, pasti capek.”

“Gak usah nganterin saya! Saya punya mobil sendiri!”

“Tapi saya sudah di sini, Bu.”

“Saya tidak peduli!”

“Saya mau nganterin Ibu pokoknya. Gak pakai penolakan.”

Bu Ratna menghelakan napasnya dengan gemas.

“Siapa yang menyuruh kamu masuk?”

“Fian.” Tak lama kemudian, Fian keluar dari kamarnya dengan riang. Seragamnya sudah melekat di tubuhnya, bahkan rambutnya sudah disisir dengan rapi. Tas Spiderman-nya pun sudah berada di punggungnya.

“Mamah, Kak Eja, Ian udah siap!”

Bu Ratna yang sedari tadi melihat Reza dengan tatapan ingin membunuh, kini mengalihkan perhatiannya ke arah Fian. Sorot matanya melembut dan Reza memperhatikan itu.

“Fian sudah siap? Ayo kita sarapan dulu, oke? Mamah udah siapin susu dan sereal buat Fian. Ayo, duduk dulu di meja makan, lepas dulu tasnya.”

Fian mengangguk dan segera melepaskan tasnya, dia menaruhnya di sofa ruang tamu. Setelah itu, dia langsung mengajak Reza untuk ikut ke ruang makan.

“Ayo, Kak Eja! Kita makan!”

“Tapi, Mamah gak nyiapin sarapan buat Kak Eja, Sayang…” kata Bu Ratna sambil membereskan meja makan.

“Yah, kok Mamah gitu sih? Nanti Kak Eja kelapelan…”

“Tenang aja, Fian. Kak Eja udah bawa nasi goreng!” balas Reza mantap.

“Nasi goleng buatan Kak Eja?” tanya Fian penasaran.

“Iya, lah!”

“Wah, Ian mau nyobain dong masakan Kak Eja!” seru Fian semangat.

“Pasti, Fian. Nanti kakak suapin deh…”

“Yes!”

Bu Ratna memperhatikan mereka sekilas.

“Fian, kamu kan sudah punya sereal dan susu. Jangan mengganggu acara makannya Kak Reza. Itu tidak sopan,” katanya menasihati Fian yang dibalas dengan wajah cemberut oleh anak kecil itu.

“Maaf ya, Kak Eja. Ian gak jadi minta nasi golengnya, nanti Kak Eja kelapelan…”

Reza buru-buru menghibur Fian sambil menatap Bu Ratna dengan jengkel.

“Kak Reza gak masalah, Fian! Jangan khawatir, kamu bisa makan nasi goreng punya Kakak. Lagian, ini nasi goreng memang awalnya untuk Mamah kamu.”

Bu Ratna langsung menatap Reza dengan tajam saat mendengar perkataan dari anak muda itu.

“Mengapa nasi goreng itu jadi untuk saya?!” bentaknya sengit.

“Karena saya mau Ibu sarapan.”

“Saya tidak lapar! Kasih saja ke Fian kalau begitu.”

“Benelan, Mah?” tanya Fian hati-hati.

“Iya, Fian! Sana kamu makan nasi goreng Mamah, habisin juga serealnya jangan lupa.”

“Yeay! Siap! Makasih, Mah!” seru Fian dengan semangat sampai membuat Bu Ratna hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Mereka berdua pun segera duduk di bangkunya masing-masing. Setelah baca doa, mereka langsung sarapan. Namun, nyatanya yang sarapan hanya Fian dan Reza, sementara Bu Ratna sibuk merapihkan penampilannya.

“Mamah! Nasi goleng Kak Eja enak loh. Mamah benelan gak mau nyoba?” tawar Fian dengan mulut penuh oleh nasi goreng.

“Gak, Sayang. Mamah gak biasa sarapan,” jawab Bu Ratna sambil memasang blazer.

“Cobain dulu, Mah!”

“Iya, cobain dulu masakan saya, Bu.” Kali ini Reza berusaha menawarkan hasil karyanya. Bagaimana pun, nasi goreng itu dibuat untuk Bu Ratna.

“Cobain! Cobain!” seru Reza dan Fian kompak.

Bu Ratna melihat mereka dengan tatapan sebal, dia langsung menghampiri mereka berdua dengan gemas.

“Iya, iya! Mana?”

Reza segera menyodorkan sendok yang berisi nasi goreng ke arah mulut Bu Ratna, seolah-olah ingin menyuapinya. Bu Ratna agak terkejut, dia menatap sendok itu sebentar.

“Gak usah acara suap-suapan. Sini, saya bisa ngambil sendiri.” Dia berusaha mengambil sendok yang berada di tangan Reza, yang langsung digagalkan oleh Reza.

“Saya ingin menyuapi Ibu.”

“Apaan kamu ini? Kurang ajar sekali!”

“Kok Mamah galak banget sama Kak Eja sih? Kan Kak Eja niatnya baik…”

“Tuh, Bu Ratna dengerin kata-kata Fian,” kata Reza setengah meledek.

Bu Ratna terdiam menahan emosi sementara Reza dengan kurang ajarnya malah tertawa geli. Akhirnya dia mengalah dan menerima suapan Reza dengan pasrah.

“Enak kan, Mah?”

“Iya… Lumayan…”

Bu Ratna tidak berbohong, nasi goreng buatan Reza memang enak. Dia tidak menyangka anak bimbingnya satu ini bisa masak juga. Dia kira anak itu hanya tahu bermain dan bermalas-malasan saja.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat