Bu Ratna Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 2

Kejadian kemarin berhasil membuat Reza tak bisa tidur. Dia memikirkan tawa dosen pembimbingnya dan anaknya yang bernama Fian itu. Dia juga memikirkan tatapan sendunya saat menceritakan soal anaknya. Dia memikirkan sikap dingin dan juteknya yang selama ini selalu ditunjukkan ke dia. Entah mengapa, dia merasa kalau itu semua untuk menutupi masa lalunya.

Soal Fian, dia merasa kisah anak itu sama dengan dia, ya meski ada beberapa hal yang berbeda. Reza sejak kecil hidup hanya berdua dengan ibunya karena ayahnya terlalu sibuk bekerja. Ayahnya hanya pulang sebulan dua kali, itu pun cuma dua hari.

Entah apa yang dilakukan ayahnya di tempat kerjanya sampai lupa pulang. Beberapa kali dia memergoki ibunya menangis sendirian di kamar entah karena apa.

Semakin beranjak dewasanya dia, ibunya juga mulai jarang tinggal di rumah. Rumah semakin terasa sepi, tidak kalah dengan kuburan di dekat rumahnya. Dia makan dan main sendirian, nonton TV sendirian, paling hanya pembantu dan satpam di rumahnya yang bersedia menemani kesendiriannya.

Beberapa kali dia bertanya ke ibunya, kenapa semakin jarang di rumah? Kenapa sekarang bukan Papah saja yang pergi-pergian? Kenapa Mamah juga ikutan? Tapi jawaban ibunya selalu sama dan seenaknya.

“Papah saja bisa kayak gitu, masa Mamah tidak bisa? Mamah tidak mau hidup dalam kesengsaraan hanya karena melihat papahmu menafkahi gadis lain selain Mamah!”

Dia tahu, ayahnya selingkuh. Dia juga tahu, ibunya bermain-main dengan banyak pria untuk mengusir kesedihan hatinya. Namun, mengapa dia yang harus jadi korban di sini? Mengapa harus dia yang ditinggalkan? Mengapa ibunya tidak memilih cerai saja dengan ayahnya dan memulai kehidupan baru hanya berdua dengannya? Selalu itu yang dipertanyakan olehnya.

Saat mulai masuk dunia kuliah, Reza mulai bertingkah seenaknya juga. Luka hatinya sudah meradang, kelakuan orang tuanya juga makin parah.

Satu-satu cara untuk menghilangkan kesepiannya adalah dengan pergi ke klub malam. Dengan uang dan tampang yang dimilikinya, dia juga mulai hidup seperti ayah dan ibunya. Bermain-main dengan banyak wanita, one-night stand, mabuk-mabukan, semuanya dilakukan olehnya.

Beberapa kali dia pulang dalam keadaan mabuk, bikin pusing pembantu dan satpamnya. Beberapa kali juga dia tidak pulang. Parahnya lagi, beberapa kali dia datang ke kampus dengan kondisi teler dan bau alkohol.

Kadang malah tidak masuk sama sekali. Kuliahnya acak-acakan, jarang masuk, jarang mengerjakan tugas, itulah kenapa dia harus mengulang lagi hampir semua mata kuliahnya selama dua tahun.

Orang tuanya mulai peka dengan keadaan anak satu-satunya yang berantakan dan masuk ke jalan yang salah itu setelah melihat anaknya pulang dengan membawa seorang wanita yang tidak mereka kenal.

Bahkan, ayahnya sampai menamparnya karena kelakuannya. Namun, Reza yang sudah terlanjur sakit hati malah menertawakan mereka seolah-olah meremehkan. Tanpa peduli dengan tatapan tajam ayahnya dan tatapan tak percaya dari ibunya, dia tetap membawa wanita itu ke kamarnya. Dia bahkan tidak peduli ketika mendengar ayah dan ibunya bertengkar hebat karena dia.

“Reza! Kamu sadar tidak apa yang kamu lakukan ini bisa menghancurkan posisi saya di universitas?! Mau sampai kapan mempermalukan saya, hah?!”

“Lihat, Papah saja lebih peduli dengan jabatan Papah, jadi untuk apa saya memedulikan Papah?”

“Reza! Kamu benar-benar anak sial!”

“Saya memang anak sial. Sial betul punya Papah seperti Anda!”

Itulah kenapa dia merasa kasihan dengan Fian karena anak itu harus hidup tanpa merasakan didikan ayahnya. Dia juga sedikit salut dengan Bu Ratna meski sesibuk apapun dia di kampus, dia tetap berusaha melonggarkan waktunya saat weekend untuk anaknya.

Dia berharap Bu Ratna tidak seperti ibunya dulu, menelantarkan anaknya karena memikirkan perasaannya sendiri. Dia berharap Bu Ratna bisa lebih tegar dari ibunya dan dia tidak akan sungkan jika harus menemaninya menjaga Fian.

Eh, maksudnya? Entahlah apa yang dirasakan Reza ini, tapi dia merasakan getaran aneh setelah kejadian di rumah Bu Ratna itu. Bu Ratna selalu berhasil membuat dia menggila dengan kecantikannya, tapi kali ini sepertinya bukan hanya itu. Ada sesuatu di diri Bu Ratna yang membuat dia penasaran, membuat dia ingin mengenalnya lebih jauh.

Mengapa dia menutup hatinya? Mengapa dia selalu memasang tampang galak? Apa karena takut terluka? Bagaimana caranya agar dia tersenyum seperti waktu itu? Namun, bukan karena Fian, dia ingin Bu Ratna tersenyum karena dia.1

Dan mengapa dia memiliki tekad seperti itu? Apa dia menyukai dosen pembimbingnya itu? Ah, mendadak sekali! Dan kalau memang benar, perbedaan umur mereka sepertinya benar-benar jauh! Sebenarnya, dia juga tidak terlalu memikirkan masalah umur, cuma yang dia pikirkan adalah Fian.

Apakah dia mampu menerima Fian sebagai anaknya juga? Dan yang terpenting adalah dengan perilakunya yang berantakan ini, apakah dia mampu meyakini Bu Ratna yang sudah matang? Apakah ini benar-benar cinta atau penasaran saja? Ah, mengapa tiba-tiba berpikir sampai sejauh itu?

Tring!

Sebuah pesan dari WhatsApp masuk ke handphone-nya dan menampilkan sebuah nama yang sedari tadi mengganggu hati dan otaknya. Bu Ratna…

Reza, sebaiknya hari ini kita bimbingan karena selama satu minggu saya tidak akan bisa membimbing Anda. Saya mau pindahan. – Bu Ratna galax

Tapi, Bu, saya belum mengerjakan draft saya… – Reza

Itu salah Anda, saya tidak peduli. Pokoknya, saya tunggu sore ini jam 4 di ruangan saya, bawa draft-nya. Sekian. – Bu Ratna galax

“……”

Bagaimana bisa dia menyukai dosen yang sadis dan tidak terduga seperti Bu Ratna satu itu? Tidak mungkin! Lagian, ini sudah jam sembilan! Dia harus mengerjakan draft-nya jika tidak ingin kena amukan singa lagi.

Mungkin gua tidak menyukainya, pikirnya mencoba meyakinkan dirinya.

Mungkin hanya kagum dan penasaran saja. Apa kata orang kalau tahu gua kesemsem sama dosen pembimbing gua sendiri! Cassanova tidak seharusnya terpikat dengan wanita, apalagi seorang tante-tante!

***

“Anda itu memang parah ya? Seharusnya Anda ini rajin mengerjakan skripsi Anda! Bukan hanya karena saya suruh! Lagian apa ini? Berantakan! Ini semua karena Anda mengerjakannya terburu-buru. Harusnya tanpa disuruh pun Anda sudah harus rajin mengerjakan skripsi Anda. Niat mau lulus tidak?”

Lihat, dia akhirnya disemprot juga kan sama Ibu galak satu ini?

“Yah, Bu. Saya lupa. Saya kira gak akan ada bimbingan hari ini…”

“Banyak alasan Anda ini, sudahlah saya capek berdebat dengan Anda! Nih ya, dengarkan baik-baik. Ini instrumennya salah! Bagaimana Anda mau mulai membagi angket ke responden kalau membuat instrumen saja tidak becus? Anda ini mau pakai metode survei tapi pertanyaan saja tidak benar! Sejak kapan survei ada pertanyaan ‘bagaimana’? Anda ini tidak pernah belajar dari kesalahan Anda sebelumnya! Selalu diulang! Revisi lagi!” bentak Bu Ratna kasar sampai membuat Reza hanya bisa terdiam tak mampu membantah.

Dan selama dua jam, dia harus mendengarkan penjelasan dan omelan dari Bu Ratna tanpa henti.

***

“Ibu!” panggil Reza saat melihat Bu Ratna sudah bersiap-siap pergi.

“Ya?” sahut Bu Ratna tanpa menoleh. Tangannya sibuk membereskan barang-barang yang terletak di meja kerjanya dan memasukkan beberapa ke dalam tasnya yang terlihat mahal.

“Hm… Ibu habis ini mau ke mana?” Demi apa pun, kenapa dia gugup begini? Dia kan Reza, si playboy kampus! Dan yang paling penting dari semua itu adalah mengapa dia penasaran dengan kegiatan dosen pembimbingnya?!

“Saya? Mau makan dengan anak saya. Kenapa?” Kali ini, Bu Ratna melihat ke arah Reza dan memberikan tatapan datar.

“Naik apa?”
“Duh, Anda kok mau tahu saja sih? Mau ngapain Anda ini? Nyegat saya?” balas Bu Ratna dengan gemas.

“Bukan, Bu, tenang aja. Sudahlah, jawab saja pertanyaannya saya.”

“Kurang ajar benar Anda ini. Naik mobil online! Saya tidak bawa mobil hari ini. Mobilnya sedang di bengkel. Sudah ah, saya buru-buru. Keburu anak saya pulang!” Sebelum Bu Ratna melangkah lebih jauh, tangannya sudah ditahan oleh Reza.

“Saya antar ya, Bu?” tawar Reza tiba-tiba sampai membuat pemuda itu merasa terkejut sendiri dengan tawaran yang dia telah berikan ke Bu Ratna.

Tawaran itu juga berhasil membuat wanita di depannya itu mengangkat alisnya sebelah dan memberikan tatapan curiga.

***

“Jadi, beri tahu saya, mengapa Anda mau mengantar saya? Ada maksud apa? Mau culik saya karena tidak terima dengan perlakuan saya ke Anda selama ini?” tanya Bu Ratna penuh selidik setelah terdiam cukup lama, tangannya dilipat di dadanya.

“Yah, saya cuma ingin mengantar saja, Bu. Kok Ibu pertanyaanya begitu amat? Kebetulan saya juga lapar. Kebetulan juga saya rindu dengan Fian,” jawab Reza sambil menyeringai lebar sementara matanya fokus dengan jalanan di depannya.

“Fian tidak merindukanmu,” balas Bu Ratna datar. Berbeda dengan Reza yang fokus dengan jalanan di depannya, Bu Ratna lebih memilih fokus dengan pemandangan yang berupa gedung-gedung di sampingnya.

“Fian merindukan saya, Bu. Kemarin dia video call-an dengan saya.”

“Loh, kok saya tidak tahu?”

“Karena Ibu sibuk nonton sinetron, kata Fian,” jawab Reza mantap.

“Kamu itu benar-benar ya…”

Reza langsung reflek melihat ke arah Bu Ratna saat mendengar balasan darinya. Matanya berseri-seri.

“Loh, Ibu tidak lagi pakai saya-anda dengan saya, Bu? Bagus deh, berarti kemajuan kita. Selangkah lebih dekat…” Reza terkekeh geli. Terlihat sekali dari ekspresi wajahnya kalau dia sangat senang.

“Saya tidak ingin dekat denganmu.”

“Tuh, Ibu pakai kamu lagi! Hahahaha… aduh!” teriak Reza saat Bu Ratna mencubit pinggangnya sampai mau tak mau membuatnya harus mengusap-usap area yang telah dicubit oleh dosen pembimbing satunya itu dengan gemas.

Bukan Bu Ratna namanya kalau tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga.1

***

Setelah menjemput Fian di sekolah, mereka menuju ke restoran keluarga yang terletak di pusat kota. Sepanjang perjalanan, Fian tidak henti-hentinya berbicara soal kegiatannya di sekolah. Dia tampak senang karena bisa bertemu dengan Reza lagi, entah kenapa. Reza juga selalu berusaha mendengarkan dan merespon semua ceritanya meski sambil mengemudi.

Tingkah laku mereka berdua berhasil membuat Bu Ratna mau tak mau fokus dengan mereka. Bahkan sampai di restoran pun, dia terus mengamati mereka berdua. Reza dan Fian terlihat seperti kakak dan adik, dan dia merasa seperti ibu mereka.

“Mamah, Ian mau makan chicken stick, boleh? Ian mau coba lasanya!” pinta Fian saat sudah sampai di dalam restoran.

“Memang kamu bisa makannya?”

“Engga sih, tapi Kak Eja bilang mau suapin Ian!”

Bu Ratna langsung melihat ke arah Reza yang sedang duduk di depannya. Dia terlihat sibuk membaca menu di tangannya. Tatapan matanya begitu serius sampai membuat Fian tak ingin mengganggunya.

“Iya, Bu. Saya yang akan suapin Fian.” Seolah-olah merasa diperhatikan, Reza menyetujui perkataan Fian dengan mata masih melekat ke menu.

“Kamu gak usah repot-repot…” Sebelum Bu Ratna melanjutkan perkataannya, Reza sudah memotongnya dengan sebuah pertanyaan. “Jadi, Ibu mau makan apa?”

Bu Ratna menghelakan napasnya berat, memang susah berdebat dengan anak muda.

“Saya pesan spaghetti dan lemon tea saja kalau begitu.”

“Yakin, Bu? Nanti gak kenyang loh?” tanya Reza lagi berusaha memastikan kalau Bu Ratna tidak salah memilih menu.

“Tidak, Nak Reza. Sudah, jangan banyak tanya,” jawab Bu Ratna singkat lalu merapikan rambut Fian yang terlihat berantakan dengan cekatan.

“Oke kalau begitu. Fian jadi ya chicken stick?” Kali ini Reza bertanya ke Fian.

“Iya! Sama Milkshake lasa coklat!” seru Fian penuh semangat sampai membuat Bu Ratna gemas sendiri karena melihat anaknya yang terlalu banyak gerak di saat dia sedang merapikan rambutnya. Setelah selesai, matanya kembali fokus ke arah Reza.

Reza pun memanggil waitress dan memesan pesanan mereka. Setelah selesai, matanya bertemu kembali dengan Bu Ratna yang tengah memperhatikannya.

“Ibu kenapa menatap saya terus? Naksir?” godanya sambil terkekeh pelan.

“Kamu ngapain sih?” tanya Bu Ratna dingin.

“Maksudnya?”

“Ya kamu ngapain tiba-tiba mengganggu acara makan saya dan anak saya? Orang-orang akan mengira saya punya anak dua!”

Reza yang mendengarnya langsung tergelak. Dia tidak menyangka kalau wanita yang jauh lebih tua darinya itu kadang bisa melawak juga.

“Pertama, saya cuma ingin berterima kasih dengan Ibu karena sudah membimbing saya. Kedua, Fian kangen saya. Iya kan?” tanya Reza ke Fian yang disambut oleh anggukan mantap dari Fian. “Ketiga, saya gak terlihat seperti anak Ibu tuh. Ibu masih cantik, terlihat muda, sedangkan saya sudah bangkotan. Paling orang-orang ngiranya saya ini keponakan Ibu.”

“Tapi, Za… kamu tak perlu-”

“Sst! Sudah ah Bu, tuh pesanannya sudah datang. Mending kita makan!”

Bu Ratna, sekali lagi, mau tak mau harus menahan perdebatannya dengan anak muda satu ini. Dia tidak ingin terlihat galak di depan anaknya. Tampaknya juga Reza sadar akan hal itu dan sedikit memanfaatkannya, terlihat dari senyum puas yang sedari tadi terus menempel di bibirnya.

Bu Ratna yang melihatnya pun mendesah lagi, kali ini lebih keras.

***

Hari Minggu, Reza melewatkan waktu luangnya di rumah. Iya, orang tuanya tidak akan membiarkan Reza pergi ke mana-mana ketika mereka sedang di rumah. Mereka bahkan telah mengancamnya. Jika Reza melanggar, maka kartu kredit dan debetnya akan diblokir. Dan itu adalah kelemahan satu-satunya Reza.

Sudah seharian ini, Reza berdiam diri di kamar saja, tiduran sambil bermain dengan handphone-nya. Dia malas ke luar kamar, malas melihat ayah dan ibunya di luar, malas mendengar obrolan basa-basi dan perhatian palsu dari mereka.

Halah, sial. Harusnya gua bisa hang out bareng temen-temen gua, ini malah gagal. Ngapain sih mereka di rumah segala? Udah telat. Harusnya gak usah pulang sekalian selamanya, gerutunya dalam hati.
Tiba-tiba ibunya memanggilnya dari luar saat Reza sedang asyik main game yang sedang terkenal di kalangan para pecinta game. Mobile Legends, lebih tepatnya.

“Reza! Ke luar! Ayo kita makan!”

“Malas!” jawab Reza seenaknya sementara mata dan jarinya masih fokus dengan handphone-nya.

“Reza! Makan!” Kali ini, ayahnya lah yang memanggilnya.

“Berisik! Ganggu aja sih lu!” umpatnya dengan suara sedikit pelan.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang sudah lumayan tua dengan wajah yang mirip sekali dengan Reza.

“Nak, ayo makan. Ini sudah waktunya makan siang…” tawar wanita itu dengan lembut.

Reza melihat sekilas dari balik handphone siapa yang sudah masuk ke kamarnya tanpa ijin, ternyata ibunya.

Sebenarnya, jika dibandingkan dengan rasa bencinya ke ayahnya, dia tidak akan pernah bisa murka dengan ibunya. Karena dia tahu betapa menderitanya ibunya selama ini, meski pada akhirnya ibunya memutuskan untuk mengobati penderitaannya dengan menelantarkan dirinya. Tapi jika dibandingkan dengan kebrengsekan ayahnya, dia masih bisa memaafkan ibunya.

“Saya tidak lapar,” balasnya singkat. Matanya kembali fokus dengan game-nya.

“Tapi kamu harus makan, Za. Nanti sakit…”

“Kenapa repot-repot memedulikan saya? Dulu Mamah sama sekali tidak pernah memedulikan saya. Mamah lebih memilih mengobati rasa sakit Mamah dengan menjadi seperti Papah, ganti pacar
sana-sini. Ngapain juga Mamah masih bertahan dengan pria tua bangka macam dia? Kita bisa bahagia sejak dulu kalau Mamah mau melepaskan Papah!” bentaknya dengan ketus.

Kali ini Reza tidak menaruh perhatiannya ke game-nya lagi, dia sibuk menatap ibunya dengan amarah dan kekecewaan yang selama ini ditahannya.

“Bukannya gitu, Reza. Percayalah, Mamah juga sebenarnya ingin sekali dari dulu bawa kamu pergi dari rumah ini! Tapi Mamah tidak punya apa-apa! Yang punya uang itu Papah kamu. Lalu, bagaimana bisa Mamah menghidupkanmu? Mamah ingin kamu jadi orang besar, orang yang berpendidikan. Tapi Mamah tidak akan bisa melakukannya kalau kita lepas dari Papah!” jawab ibunya Reza setengah terisak.

Reza mendenguskan napasnya sengit. Tangannya mengacak-ngacak rambutnya dengan gemas sementara handphone yang sedari tadi dipegangnya kini dia lempar ke kasur.

“Halah, bilang gak punya apa-apa tapi bisa menafkahi selingkuhannya yang matre itu. Heran, cowok kok matre! Sudahlah, Mah! Itu hanya bualanmu saja kan? Kalau gitu kenapa Mamah meninggalkan aku sendirian, hah? Aku tidak punya siapa pun selama ini! Orang tuaku bukan kalian tapi Bi Darmi dan Pak Dadang!”

Saat ibunya mencoba menjawab perkataannya, tiba-tiba ayahnya masuk ke kamarnya dengan ekspresi wajah dingin.

“Ada apa ini? Kenapa ribut sekali seperti di pasar? Malu dengan tetangga yang lain!” bentak pria setengah baya itu dengan kasar. “Kamu juga, Reza. Mengapa tidak bisa sehari pun menuruti perkataan orang tuamu, hah? Orang tuamu tuh menyuruh kamu makan, bukan bekerja!”

Reza hanya memutarkan bola matanya bosan, lalu menatap ke arah lain selain ke ayah dan ibunya yang sedang berdiri di depannya.

“Mengapa capek-capek menyuruh saya makan sekarang? Dulu Papah kemana saja saat saya membutuhkan sosok orang tua? Sibuk dengan selingkuhannya masing-masing?” balasnya dingin lalu kembali menatap ayahnya dengan marah.

“Sekarang, tanpa ada kalian pun saya sudah bisa mengurusi diri saya sendiri, jadi berhentilah berpura-pura khawatir. Lebih baik urusi saja pasangannya masing-masing karena saya muak dengan perbuatan palsu kalian!”

“Reza!” teriak ibunya dengan marah.

Plak!

Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di tulang pipi Reza yang tirus. Tamparan itu berasal dari tangan besar ayahnya yang sedang menatapnya dengan penuh kemarahan yang amat dahsyat.
Reza memegang bagian yang kena tamparan dengan memasang raut wajah tak percaya. Sekarang, orang tuanya tidak hanya menelantarkannya seperti tak ada, tapi juga sudah melakukan kekerasan fisik.

“Kamu ini anak yang benar-benar tak tahu diuntung,” desis ayahnya marah. “Sudah saya besarkan dengan susah payah malah seenaknya berbicara seperti itu dengan orang tuanya sendiri. Mana tata kramanya?!”

“Besarkan dengan susah payah?” balas Reza berusaha menahan tawa. “Gak salah? Yang membesarkan saya itu Pak Dadang dan Bi Darmi, kalian mah cuma donatur!”

Plak!

Kali ini, tamparan selanjutnya mendarat di tulang pipinya yang masih bersih. Tamparan itu mungkin terasa lebih perih ketimbang sebelumnya, bisa dilihat dari bagaimana Reza mendesis kesakitan.

“Ke luar kamu! Saya tidak ingin melihatmu hari ini!” Setelah mengucapkan kata-kata itu, ayahnya langsung keluar tanpa basa-basi lagi.

“Oke, saya ke luar! Lagian, itu yang saya mau dari tadi!” balas Reza tak mau kalah.

“Reza…” panggil ibunya lirih sambil berusaha menghampiri anak sematawayangnya.

“Stop, jangan ngomong apa-apa lagi. Saya malas mendengarnya.” Dia pun segera mengambil jaket dan kunci motornya yang tergeletak di meja.

“Mau ke mana, Reza?! Jangan pergi!” teriak ibunya saat melihat Reza ke luar dari kamar.

“Loh, ini kan yang Papah mau? Lagian, saya mau cari udara segar! Di sini panas, kalah neraka juga!” balas Reza sengit lalu pergi dari rumah tanpa menghiraukan lagi teriakan ibunya.

***

Pada akhirnya, Reza memutuskan untuk mampir ke supermarket terdekat dan membeli kopi kesukaannya, serta makanan-makanan ringan.

Dia duduk di bangku depan supermarket, matanya menerawang, memperhatikan orang-orang yang sedang berjalan. Ada yang sambil main handphone, mendengarkan lagu, tertawa dengan temannya, maupun yang sedang buru-buru.

Dia memperhatikan mereka satu per satu sebelum matanya menangkap seseorang yang tidak asing buat dia.
Bu Ratna! Sedang apa dia di dekat rumahnya?

Wanita itu turun dari mobilnya dan merapikan rambutnya di kaca spion, lalu melangkahkan kakinya ke arah supermarket tempat Reza berada. Sepertinya dia terlihat buru-buru, terbukti dari tidak sadarnya dia dengan keberadaan Reza yang sedang duduk dan langsung masuk ke dalam supermarket tanpa menoleh ke sana-sini.

Reza hampir menganga kalau tidak dikagetkan dengan suara kucing berantem. Bu Ratna cantik sekali hari ini. Pakaiannya simpel, kaos yang dipadu dengan rompi dan jeans sebetis. Rambutnya
digerai begitu saja sehingga membuat warnanya yang kecoklatan semakin bersinar saat terkena sinar matahari.

Make up-nya tidak terlihat berlebihan dan memakai kacamata minus frame kotak andalannya. Dia yang biasanya memakai sepatu high heels, kini hanya memakai flat shoes warna coklat, senada dengan rompinya.

Tanpa sadar, dia mengikuti Bu Ratna masuk ke dalam supermarket.

Di sana, tepatnya di bagian minuman dingin, dia melihat Bu Ratna sedang kesusahan mengambil sesuatu yang posisinya lumayan tinggi. Dia tidak bisa tidak terkekeh saat melihat wanita itu mengumpat pelan karena tidak bisa mengambilnya. Setelah memerhatikan beberapa saat, dia pun menghampiri wanita itu dan mengambil barang yang wanita itu inginkan dengan mudahnya.

Ternyata, postur tubuhnya yang tinggi lumayan berguna juga.

“Ini minumannya, Bu,” katanya sambil menyodorkan minuman itu ke Bu Ratna.

Bu Ratna terdiam, bola matanya yang berwarna coklat menatap Reza dengan penuh selidik dan curiga.

“Mau gak? Saya ambil nih…”

“Kamu ngapain di sini?” Akhirnya Bu Ratna mengeluarkan suaranya setelah terdiam beberapa saat. Tangannya dilipat di dadanya seperti biasanya.

“Ya udah, minumannya buat saya aja…” Reza segera berbalik badan dan berniat langsung pergi kalau tidak ditahan oleh Bu Ratna.

“Sini minumannya!” perintah Bu Ratna dengan ketus lalu merebut minuman itu dengan paksa dan langsung segera pergi dari hadapan Reza. Reza yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli dan kemudian segera menyusul wanita itu.

“Kamu ngapain sih? Kita tidak ada bimbingan!” bentaknya gemas.

“Loh, Ibu yang ngapain di dekat rumah saya?”

“Ini daerah tempat tinggal kamu?”

“Iyak, benar! Seratus buat Ibu!”

“Sial benar saya, harus tinggal dekat kamu!”

Reza tertawa. Rasanya melihat Bu Ratna yang sedang menggerutu gini bikin hatinya terasa hangat. Sepertinya dia mempunyai hobi baru yang menyenangkan, yaitu menggoda Bu Ratna.

“Mana Fian, Bu?”

“Di mobil,” jawab Bu Ratna singkat sementara tangannya sibuk memilih makanan ringan di genggamannya.

“Yang ini aja, Bu,” saran Reza sambal menunjukkan salah satu snack yang ada di tangan dosen pembimbingnya. “Fian ngapain di mobil sendirian begitu?”

“Banyak nanya kamu, tidur dia. Makanya saya buru-buru,” jawab Bu Ratna lagi lalu mulai melangkahkan kakinya menuju kasir.

Reza berhenti, tangannya memegang tangan Bu Ratna yang membuat wanita itu mau tak mau menghentikan langkahnya.

“Bentar, tadi Ibu bilang Ibu tinggal dekat saya?”

“Iya, sudah lepaskan. Saya buru-buru!”

“Tapi setahu saya rumah Ibu bukan di sini…”

“Saya pindah. Makanya saya tidak bisa bimbingan kemarin-kemarin karena sibuk mengurusi pindahan saya. Barang-barang saya sebagian besar sudah ada di rumah baru saya, tinggal saya dan Fian serta baju-baju kami berdua dan buku-buku saya saja.”

“Ah… Saya mau berkunjung ke rumah baru Ibu dong!”

“Tidak boleh.”

“Yah… Bu, kenapa? Saya sedang diusir oleh ayah saya. Lagian, emangnya Ibu tidak butuh tenaga saya? Saya kan laki-laki.”

“Oh, kamu laki-laki?” sindir Bu Ratna sambil menatap Reza sekilas.

“Iya, memang Ibu kira apa selama ini?”

“Saya kira kamu gak jelas gendernya.”

Reza kembali tertawa, kali ini lebih kencang, membuat Bu Ratna memutar kedua bola matanya dengan malas dan kembali melanjutkan langkahnya.

“Waria dong saya, Bu!” balas Reza dengan riang. “Pokoknya saya mau berkunjung ke rumah Ibu!”

“Tidak. Mobil saya penuh, gak muat kalau nampung kamu.”

“Saya bawa motor, tenang saja. Saya ikutin dari belakang, macam konvoi itu loh. Yang biasanya suka dilakukan oleh penggemarnya Persib.”

“Saya ngebut nanti, biar kamu kehilangan jejak saya.”

“Percayalah, Ibu gak akan bisa. Saya ini rider hebat.”

Bibirnya menampilkan senyum jahil saat mengatakan kata-kata itu. Bu Ratna yang melihatnya hanya bisa mendengus napasnya dengan gemas.

“Terserahlah!”

“Yes!”

Tanpa ada rasa malu, Reza menari-nari dengan riangnya dan membuat orang-orang di dalam supermarket itu memperhatikannya, bahkan sampai menertawakannya. Bu Ratna pun hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat