Bu Ratna Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 24 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 23

“Karen, kamu hari ini gak apa-apa ‘kan ditinggal sendirian dulu? Aku masih harus bertemu dengan dosen.”

Karen menatap Reza dengan bingung.

“Kenapa lagi kamu, sampai dipanggil dosen?”

“Entahlah,” kata laki-laki itu acuh tak acuh.

“Beliau bilang ingin memperkenalkan aku pada seorang dosen. Beliau memintaku untuk menjadi asisten sekaligus translator-nya karena dosen itu dari Indonesia. Seperti kita. Mr. Watson menilai kalau dengan menggunakan bahasa Indonesia, kesepakatan di antara mereka lebih mudah didapatkan.”

“Oh, rupanya udah jadi kesayangan Mr. Watson, ya, sampai beliau meminta tolong begitu.”

Reza tertawa.

“Dari dulu aku selalu berhasil mendapatkan perhatian semua dosen, entah kenapa.”

“Itu karena kamu dulu seenaknya.”

“Sekarang udah gak lagi.”

“Ya, dan itu semua karena aku. Tanpa aku, kamu gak akan menjadi lebih baik. Bukannya sudah waktunya kita berpacaran?”

“Jangan kepedean,” kata Reza tak terima.

“Orang yang membuatku berubah ya mantanku.”

Karen langsung mendecak malas.

“Mantanmu lagi, mantanmu terus, kapan kamu berhenti menyebut dia dari mulutmu? Padahal ada aku di sini dan kamu pernah bilang kalau aku ini cantik, ‘kan?”

Reza menggeleng lemah.

“Tidak akan bisa, Ren, apalagi setelah kejadian kemarin.”

“Kemarin?”

“Aku bertemu dia kemarin, di perpustakaan yang selalu aku datangi.”

Gelas di tangan Karen langsung jatuh. Untungnya, gelas tersebut bukan gelas beling. Namun, tetap saja, air teh dari gelas tersebut tumpah dan mengotori lantai apartemen Reza.

“Apa-apaan, Karen?” tanya Reza dengan kesal.

Semakin kesini, perhatian Reza dengan kebersihan semakin meningkat. Dia menjadi seseorang yang tidak tahan melihat sesuatu yang kotor dan selalu berusaha membersihkan apartemennya dua kali sehari.

“K-kamu bertemu mantanmu di sana?” tanya Karen terbata-bata.

Reza mengernyitkan dahinya bingung.

“Ya, memang kenapa?”

“Apakah kalian berbicara?”

“Ya, tentu saja.”

“Apa yang kalian bicarakan?”

Reza menatap Karen penuh selidik.

“Mengapa kau begitu ingin tahu, Ren?”

“Tentu aja aku mau tahu!” bentak wanita itu kesal.

“Aku sudah menjadi temanmu sejak lama dan aku masih belum tahu siapa mantanmu. Aku harus tahu wanita seperti apa yang membuatmu gak bisa move on, meski pun ada cewek sepertiku yang selalu ada di sampingmu dan mencintaimu sejak lama.”

Tatapan Reza berubah menjadi bersalah.

“Ah, maafkan aku.”

“Sebenarnya, siapa mantanmu itu?”

“Ratna. Bu Ratna. Dosen pembimbingku waktu skripsi. Ketua prodi PKN.”

Setelah itu, Karen langsung tertawa keras sampai membuat Reza merasa ngeri. Masalahnya, tawanya ini terdengar menyakitkan.

“Sudah aku duga, gosip itu ternyata benar.”

“Jadi, kamu percaya dengan gosip itu.”

“Tentu aja aku percaya, aku selalu melihatmu berdua dengan Bu Ratna. Kamu terlihat jatuh cinta.”

“Aku memang jatuh cinta.”

“Ternyata rumor soal Bu Ratna itu benar, kalau dia adalah seorang pedofil. Dia mengincar brondong-brondong seperti kamu dan menggoda mereka agar bertekut lutut padanya. Seperti kamu sekarang. Hati-hati, Za, mungkin bukan kamu saja yang menjalin hubungan dengannya.”

“Jangan seenaknya kalau bicara,” Reza mendesis tak terima.

“Rumor itu tidak benar. Dia hanya menjalin hubungan denganku. Sebelum berpacaran, dia berkali-kali menolakku. Aku yang memaksa dia dalam hubungan ini. Dia tidak pernah sekali pun menggodaku.”

“Dia sudah berumur, Reza!”

“Itu juga yang selalu keluar dari bibirnya, tapi peduli apa? Aku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya dan tidak berniat melepaskannya.”

“Kalian sudah berakhir!”

“Lalu?” tantang Reza.

“Cinta kami belum berakhir, aku tahu itu. Sekarang, tidak ada lagi yang menghalangiku untuk menikahinya. Aku sadar, dengan pertemuan kami kemarin, dia memang ditakdirkan untukku.”
Karen mendesah tak percaya.

“Kamu menolak cintaku untuk wanita yang jauh lebih tua. Aku ini masih segar, masih muda, masih cantik, menerimamu apa adanya.”

“Kamu masih saja begitu? Sudah aku bilang, jangan menungguku. Aku hanya menganggapmu sebagai adik,” kata Reza tidak suka.

“Aku harus apa supaya kamu sadar?”

“Bahkan meski kita sudah berciuman waktu itu, kamu tetap menganggapku sebagai adik?”

“Secara teknis, kamu yang menciumku. Aku tidak membalasnya. Lagipula, itu tidak akan merubah apa pun. Kamu tetaplah seorang adik, tidak akan pernah berubah. Sadarlah, Karen.”

“Bahkan meski aku melakukan ini, kamu tetap akan menganggapku sebagai adik?”

Setelah itu, Karen melepaskan bajunya di depan Reza tanpa rasa malu.

“Ya Tuhan, Karen!” teriak Reza marah. Dia merasa dilecehkan.

Sementara Karen yang kini telanjang bulat di depan Reza, menghampiri bosnya itu dengan sensual.

“Apa kamu yakin, tidak tergoda sama sekali dengan tubuh adikmu, Kak Reza?” tanyanya dengan suara mendesah.

Jika harus jujur, darah Reza sedikit mendesir. Sudah lama dia tidak melakukannya, kini di depannya ada seorang wanita yang dengan senang hati menginginkannya. Bagaimana pun, Reza hanyalah laki-laki normal dan pernah hidup seperti itu di masa lalunya. Apalagi, Karen memiliki tubuh yang indah.

“Kamu gila, ya?” katanya pada akhirnya.

Dia sudah berjanji untuk tidak begitu lagi sebagai bentuk kesetiaannya pada Ratna. Dia harus mendengar kata-kata Nadda yang pernah menghujatnya dahulu. Dia tidak ingin dua wanita itu kecewa padanya.

“Jangan mempermalukan dirimu lebih jauh lagi, Ren.”

Namun, Karen masih berusaha untuk menggoda Reza agar menginginkannya. Dia sudah bertekad tidak akan pernah menyerah sampai benar-benar mendapatkan hatinya. Dia sudah menunggu terlalu lama, menghadapi segala rintangan agar bisa terus bersama lelaki pujaannya.

“Berhenti, Ren,” kata Reza lagi berusaha tidak emosi.

“Sebelum aku membencimu sedemikian rupa.”

Ekspresi Karen langsung berubah menjadi terluka.

“Bahkan meski aku udah begini, kamu tetap gak bisa lihat aku sebagai wanita dewasa?” tanyanya dengan nada menyayat hati.

“Maaf,” balas Reza dengan dingin.

“Aku harus menemui Mr. Watson.”

Kemudian, dia pergi meninggalkan Karen yang mulai terisak.

***

Reza masih memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di perjalanan menuju kampus untuk bertemu dengan seorang dosen. Dia tidak menyangka kalau Karen akan melakukan hal seperti itu hanya karena ingin mendapatkan hatinya.

Dia merasa bersalah, tentu saja. Karen sudah bersamanya dalam suka mau pun duka. Dia tidak pernah pergi. Dia tidak menuntut apa pun darinya. Namun, ketika wanita itu mengharapkan balasan cinta darinya, Reza tidak bisa memberikannya.

Cinta bukanlah perkara mudah. Kalau saja manusia bisa mengendalikan perasaannya, Reza juga ingin membalas cintanya Karen. Dia tidak bisa menyalahkan Karen atas perasaannya yang sampai nekat mempermalukan dirinya sendiri. Seandainya dia memiliki perasaan yang sama, mungkin semua tidak akan serumit ini.

Hati dia sudah menjadi milik Ratna sejak bertemu dengan wanita itu. Dia tidak bisa menggantikannya, mau bagaimana pun caranya. Kemarin mereka bertemu dan Ratna menjadi semakin cantik sampai membuatnya tertegun. Wanita itu menjadi lebih anggun, mempesona, dan sederhana.

Saat kehilangan Ratna tiga tahun yang lalu, dia berpikir, jika memang takdir mempertemukan mereka kembali suatu saat nanti, mungkin Tuhan memang mentakdirkan mereka untuk bersama. Ratna untuk Reza dan Reza untuk Ratna. Ketika mereka bertemu kemarin, intuisinya semakin kuat. Mungkin Ratna memang untuknya, sehingga mau sejauh apa pun wanita itu pergi, takdir akan selalu mempertemukan mereka berdua.

Dengan pikiran-pikiran itu, Reza tidak sadar kalau dia sudah sampai di kampus. Dia pun langsung keluar dari mobilnya dan berjalan menuju ruangan milik Mr. Watson.

“Good afternoon, Sir,” sapanya setelah tiba di ruangan tersebut.

Mr. Watson yang sedang melihat ke luar jendela menoleh dan tersenyum padanya.

“Good afternoon, Mr. Pratama. You can sit there,” katanya sambil menunjuk salah satu sofa di ruangan tersebut.

“And if you don’t mind, is it okay for you to wait for awhile? She said she’s on her way, I think she’ll arrive in a few minutes.”

“I don’t mind, Sir, don’t worry.”

“Good to hear that.”

Mereka pun berbincang-bincang selama beberapa saat. Rupanya Mr. Watson mengajaknya bekerjasama. Beliau ingin membuat sebuah buku bersama seorang dosen dan ingin menerbitkan bukunya di perusahaan Reza. Reza pun mengatakan kalau ingin menerbitkan buku di perusahaannya lumayan susah, tapi karena Mr. Watson adalah dosen favoritnya, dia pun mengiyakan ajakan beliau.

Kemudian, seseorang masuk ke ruangan di mana mereka berada dan menghentikan pembicaraan mereka berdua.

“Good afternoon, Mr. Watson, I’m sorry for making you wait.”

Mr. Watson tersenyum lebar dan berdiri menghampiri orang tersebut.

“Don’t worry, ma’am. I’m glad you can make it.”

Reza menatap orang tersebut tidak percaya. Dari semua orang di kota ini, dari semua dosen di kota ini, mengapa harus orang itu yang ada di depannya?

“Oh, pardon my mistake. Mr. Pratama, this is Ms. Ratna, my partner. She’s also one of the lecturer here. And Ms. Ratna, this is Mr. Pratama, he’s from Indonesia, just like you. He’s a CEO from Pratama Group and he said he can help us publishing our book.”

Ratna. Di depannya ada Ratna. Mereka bertemu lagi hanya dalam kurun waktu sehari. Dia tidak menyangka kalau mereka akan bertemu lagi secepat ini.

Ratna sendiri, seperti dua hari yang lalu, terkejut bukan main melihat Reza di depannya. Dia tidak berkata apa-apa, tapi matanya tidak lepas dari Reza, seolah bertanya-tanya, mengapa takdir mempertemukan mereka lagi?

Mereka terjebak dalam dunia mereka berdua sebelum kemudian Mr. Watson berdehem, dan mereka kembali menyadari keadaan kalau mereka bertemu lagi di sini. Di kampus. Reza sebagai mahasiswa dan Ratna sebagai dosen. Seperti dulu.

***

Mr. Watson ijin pamit karena harus pergi ke suatu tempat. Beliau sangat senang saat semuanya berjalan lancar seperti yang diinginkannya. Beliau juga memastikan kalau langkah selanjutnya dari projek mereka harus dilaksanakan secepatnya. Setelah itu, mereka keluar dari ruangan tersebut dan berpisah jalan.

Reza dan Ratna berjalan beriringan. Tidak ada kata-kata di antara mereka, masing-masing sibuk dengan pikirannya masing-masing. Suhu London begitu sejuk hari ini, mengingatkan mereka pada perjalanan pertama mereka ke Inggris beberapa tahun yang lalu.

Mereka masih belum bersuara kecuali saat Ratna mendapat panggilan telepon dari Fian, yang mengatakan kalau anak itu tidak pulang hari ini karena harus tidur di rumah temannya demi kerja kelompok. Setelah itu, Ratna juga mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan kalau Ratna lebih baik pulang hari ini, mengingat kondisinya yang sedang tidak sehat.

Saat panggilan tersebut selesai, Reza melihatnya dengan khawatir.

“Kamu kenapa?” tanya dia hati-hati.

“Apa maksudmu?”

“Temanmu bilang kamu lagi gak sehat.”

“Kamu menguping? Lancang sekali, Mr. Pratama.”

“Jawab saja aku, Ms. Ratna. Kita sudah lama tidak bertemu, aku perlu tahu kabarmu bagaimana.”

Ratna menghela napas panjang, kemudian mengajak Reza untuk makan di suatu tempat. Reza pun mengiyakan dan mereka pergi ke kafe dekat kampus.

***

“Jadi, kamu ini kenapa?” tanya Reza setelah mereka sudah selesai menikmati makanan mereka masing-masing.

Dia sengaja bertanya setelah selesai makan karena tidak ingin membuat wanita itu tidak nyaman.

Ratna masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia ingin menghindar dari hadapan Reza, sebenarnya.

“Ratna?” tanya Reza lagi, kali ini lebih memaksa.

“Aku- aku mengalami menapouse dini, Za.”

“Hah?” Reza masih belum bisa mencerna perkataan Ratna.

“Ya, aku udah menapouse. Gak akan lagi bisa punya anak.”

Reza kaget, tentu saja. Setelah sekian lama tidak bertemu, dia baru tahu kalau ternyata Ratna mengalami penderitaan yang berat selama ini. Dulu, Ratna selalu mengatakan kalau dia ingin merasakan yang namanya hamil lagi.

Kali ini tanpa harus bersedih seperti yang dia alami saat Fian masih di kandungan. Dia ingin diberi kesempatan sekali lagi untuk mempunyai anak. Apalagi Fian selalu ingin punya adik kecil.

Reza tidak tahu harus merespon apa sebenarnya. Jadi, dia hanya bisa bertanya alasannya.

“Kenapa? Kok bisa?”

“Setelah kejadian tiga tahun yang lalu, aku mengalami stres berat. Hampir depresi. Aku sampai harus pergi ke psikiater demi menyembuhkan diri sendiri. Semua perasaan itu langsung memengaruhi kondisi fisikku. Terlalu stres membuatku mengalami menapouse.”

Reza menatapnya dengan iba.

“Apa ini karena perbuatan Mamah?”

“Dia tidak sepenuhnya salah,” bantah Ratna begitu baik.

“Wajar kalau dia merasa marah, aku lah yang membuat suaminya masuk penjara. Aku juga yang membuat anak satu-satunya jatuh cinta dengan seorang janda.”

Reza memegang tangan Ratna dengan lembut. Wanita itu sedikit terkejut, tapi tidak melepaskannya.

“Maafkan Mamah. Sekarang dia tidak akan mengganggumu lagi,” dia berhenti sebentar, seperti ragu untuk melanjutkannya.

“Dia tinggal di rumah sakit jiwa.”

Kali ini, Ratna yang terkejut.

“Benarkah? Bagaimana bisa?”

“Masalah Papah membuatnya tidak waras.”

“Oh…” Ratna langsung terdiam. Tangan yang sebelumnya digenggam oleh Reza langsung ia lepaskan.

“Maaf, itu pasti karena aku.”

“Bukan salahmu. Kamu melakukan hal yang benar, Ratna.”

Ratna tidak menjawab, sehingga suasana canggung itu terjadi lagi di antara mereka.

Salju pertama mulai turun di London dan membuat setiap orang yang melihatnya tersenyum riang. Anak-anak kecil menari-nari di bawah turunnya salju.

“Ratna,” panggil Reza pelan. Ratna yang sedang takjub melihat salju mau tak mau mengalihkan perhatiannya ke Reza.

“Ada apa?”

“Apa kamu sudah punya orang lain di hidupmu?”

Ratna menatapnya bingung.

“Belum. Kenapa emang.”

“Sampai kapan kamu mau menolak lamaranku?”

“Reza-”

Reza memotong dengan cepat.

“Aku sudah menunggumu selama ini. Aku juga sudah menjadi apa yang kamu mau, seseorang yang bisa kau banggakan. Kamu percaya takdir? Aku percaya. Mungkin, kita memang ditakdirkan bersama. Kamu sadar gak? Entah berapa kali kita berpisah jalan, kita selalu bertemu lagi pada akhirnya! Ratna, aku percaya kamu itu untukku dan aku ini untukmu.”

“Kamu gak dengar kata-kataku tadi? Aku udah gak bisa hamil lagi. Aku gak bisa kasih kamu anak! Kamu berhak punya istri yang bisa memberikanmu anak. Bukan aku!”

“Ratna,” bantah Reza dengan gemas. Dia mengusap rambutnya ke belakang.

“Kita masih punya Fian. Jangan lupain dia.”

Ratna menatap Reza tidak percaya.

“Dia bukan anakmu!”

“Bagiku, dia itu anakku, Ratna. Jadi, jangan khawatir soal anak. Aku ingin menikahimu bukan karena mengharapkan anak darimu, tapi karena mencintaimu.”

“Reza, aku gak mau kamu menyesal nantinya karena sudah menikahiku yang gak bisa memberikanmu anak ini.”

“Aku mencintaimu, jadi mengapa aku harus menyesal? Fian itu anakku. Memang, dia bukan dari darah dagingku, tapi dia tetap anakku. Aku akan membuatnya bahagia dan memberikannya apa pun yang dia mau. Aku akan mendidiknya layaknya seorang ayah,” kata Reza dengan tegas. Matanya berkaca-kaca.

“Aku mau hidup bertiga denganmu. Menjelajahi dunia bertiga. Merayakan banyak hal bertiga. Aku menginginkan kalian berdua di hidupku.”

Ratna membalikkan badannya dan terisak.

“Reza, kenapa harus aku? Aku sudah membuat Papahmu masuk penjara dan Mamahmu masuk rumah sakit jiwa. Aku sudah membuat hidupmu berantakan, Za. Tidak seharusnya kamu terus-terusan mencintaiku seperti ini.”

“Apa itu perlu alasan?” tanya Reza sambil tersenyum lembut. “Aku mencintaimu ya karena itu kamu. Jadi, apa kamu mau menikah denganku? Aku sudah menunggu terlalu lama, Ratna.”

“Pernikahan bukanlah hal mudah. Bagaimana kalau aku bukanlah apa yang kamu mau?” tanya Ratna balik setelah menatap Reza lagi.

“Ratna, kamu itu satu-satunya yang aku cinta selama ini, setidaknya setelah Kakek meninggal. Mana mungkin aku tidak mau. Kalau menurutmu tidak mudah, maka ayo saling membantu biar terasa lebih ringan. Aku tidak akan meninggalkanmu. Apa aku pernah melanggar janjiku selama ini?”

Ratna tertunduk lesu.

“Aku trauma, Za.”

“Aku tahu perasaanmu karena itu aku terus menunggu. Sekarang, aku mau kamu lebih berani dalam menghadapi rasa takutmu. Pegang tanganku, kamu gak akan pernah aku lepaskan. Sampai maut tiba.”

“Reza-” balas Ratna tertahan. Dia menggenggam kembali tangan besar milik Reza.

“Apa kamu tidak akan meninggalkanku meski aku tidak bisa punya anak?”

“Tidak akan pernah.” Pria itu mengangguk mantap. Ratna mencoba mencari setitik kebohongan di matanya, tapi tidak ada.

“Baik, Reza, aku mau menikah denganmu.”

“Benarkah?” ekspresi Reza langsung sumringah.

Ratna mengangguk malu. Dia masih enggan menatap Reza.

Pria itu tersenyum makin lebar, sangat lebar. Kemudian, dia menarik Ratna mendekat dan menciumnya. Wanita itu awalnya terkejut, sebelum kemudian menikmati permainan bibir mereka berdua. Sudah lama sekali dia tidak merasakannya. Ternyata, semuanya masih sama. Perasaan mereka masih sama.

***

“Aku memberikanmu surat selama ini, tapi kamu tidak pernah balas.”

Reza dan Ratna kembali melanjutkan kencan mereka di apartemen milik Reza setelah sekian lama tidak bertemu. Berhubung Fian tidak pulang ke rumah malam ini, maka Reza membujuk wanita pujaannya itu untuk tidur di pelukannya malam ini, dan langsung dibalas dengan anggukan malu-malu dari Ratna.

“Surat? Surat apa? Aku tidak pernah menerima surat.”

“Benarkah?”

“Iya. Aku pikir kamu sudah melupakanku, jadi aku tidak pernah lagi menghubungimu. Aku tidak mau mengganggu kuliahmu dengan kehadiranku.”

“Tapi aku mengirimmu surat karena nomor lamamu tidak aktif. Kamu juga tidak punya media sosial. Email-mu jarang kau baca.”

“Aku sama sekali gak menerima surat, sumpah! Soal nomor lamaku yang udah gak aktif, aku memang sengaja tidak memberitahumu karena tidak ingin mengganggumu.”

Reza terdiam. Dia berusaha mencerna. Jadi, apakah Karen selama ini tidak mengirimkan suratnya?

Kalau dipikir-pikir lagi, Karen tidak pernah memberikan nomor resi. Dia juga tidak pernah menyampaikan kabar suratnya secara rinci. Dia cuma bilang kalau dia sudah mengirim surat itu, tidak ada penjelasan lebih lanjut setelahnya.

Sial, kalau memang benar, mengapa Karen sampai tega melakukannya? Apa karena cemburu melihatnya yang begitu khawatir soal Ratna?

“Za, kamu kenapa?” tanya Ratna hati-hati. Dia sedikit khawatir melihat ekspresi Reza yang mendadak tegang.

“Kamu tidak menerima suratku sama sekali dan aku sudah mengirimkanmu surat berkali-kali. Berarti, bukan salah agennya, melainkan salah yang mengirimnya.”

“Maksudnya?”

“Ratna, aku meminta sekretarisku, Karen, untuk mengirimkan semua suratku padamu, tapi kamu tidak menerimanya. Bukankah dia berarti sudah melanggar perintahku?”

Ratna makin bingung.

“Mengapa kamu bisa berpikiran begitu?”

“Karen itu menyukaiku. Dia adik tingkatku saat kuliah, mungkin kamu kenal dia. Dia membuntutiku saat S2 dan terus bersamaku sampai sekarang. Dia melakukannya karena memiliki perasaan lebih padaku.”

“Oh…” kata Ratna pelan.

Tiba-tiba, timbul perasaan tidak enak di hatinya setelah mendengar soal itu. Dia merasa insecure. “Mengapa kamu gak pacaran dengannya? Dia lebih muda darimu, sangat setia, pantang menyerah, dan pastinya cantik.”

“Ratna, sudah aku bilang berkali-kali, aku cintanya sama kamu.”

“Tapi kan-”

Ratna langsung terdiam saat Reza menciumnya dalam, seolah-olah mengatakan kalau dia tidak perlu merasa cemas karena seorang cewek. Reza hanya mencintainya. Dia memilihnya.

“Aku sayang kamu. Titik,” katanya tidak bisa dibantah. Mau tak mau, Ratna mulai merasa tenang lagi setelahnya.

“Aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya sadar dan mengerti,” ujar Reza geram.

Dia mencoba bangkit dari tempat tidurnya seolah ingin mendamprat Karen sekarang juga, tapi Ratna langsung menahannya.

“Jangan, Reza!”

“Dia sudah merusak kepercayaanku!”

“Dia mencintaimu, wajar dia melakukan itu.”

“Persetan dengan cinta. Dia seharusnya tidak melakukan itu!”

“Besok,” katanya berusaha menenangkan.

“Besok kita akan bertemu dengannya dan bicara dengan tenang. Sekarang, kamu lupakan sejenak soal itu. Toh, aku ada di sini sekarang. Suratmu memang tidak pernah sampai, tapi pada akhirnya aku tetap pulang ke pelukanmu, bukan? Nothing else matters, only us.”

Reza yang sudah setengah berpakaian, langsung terdiam. Hilang sudah emosinya. Kemudian, dia merebahkan tubuhnya di samping Ratna lagi.

“Aku senang kamu pulang, Ratna.”

“Aku juga senang kamu pulang.”

Tamat

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat