Bu Ratna Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 22

“Ya, Gilang, kenapa lagi?” tanya Reza ketika suatu hari Gilang menghubunginya via video call.

“Gawat, Za, gawat,” kata temannya dengan raut wajah yang panik.

“Ada masalah apa lagi di sana?”

“Ratna-”

“Kenapa, Ratna?!”

Setelah tidak mendengar nama wanita itu dari bibir Gilang sekian lama, tentu saja dia sedikit panik. Apalagi, Gilang terdengar tidak baik-baik saja sekarang.

“Dengar dulu. Your mom, dia menyebar rumor yang tidak-tidak soal Ratna. Coba baca berita.”

Reza langsung membuka beberapa situs berita dan mengetik nama Ratna di pencarian.
Dosen yang Membongkar Kasus Korupsi Atasannya, Ternyata Seorang Pedofil!

Istri dari Adhi Pratama Mengungkapkan Kebenaran Soal Mirza Ratna Yustika

Mirza Ratna Yustika Beberapa Kali Memperkosa Mahasiswanya

Sisi Mirza Ratna Yustika yang Sebenarnya

Mirza Ratna Yustika Dihentikan Secara Paksa dari Universitas X

Reza langsung terdiam setelah membaca berita-berita tersebut. Kasus ini lebih mengguncangkan dirinya ketimbang kasus ayahnya kemarin.

Sejak kapan Ratna jadi pedofil? Mahasiswa yang dia kencani itu adalah gua dan gua sudah bukan di bawah umur lagi! Pedofil dari mananya? pikir Reza murka.
Mengapa ibunya melakukan hal itu? Salah apa Ratna ke ibunya? Apakah karena kasus ayahnya? Dia tidak terima suaminya masuk penjara?

“Udah lihat beritanya?” tanya Gilang tiba-tiba.

Reza hanya mengangguk dan kembali termenung.

Gilang terdiam.

“Za, lo baik-baik aja?”

“Menurut lu gimana, Lang?”

“Gue gak tahu kalau masalahnya sampai seperti ini,” kata temannya itu dengan nada bersalah.

Reza menatapnya dengan nanar.

“Dia sekarang di mana? Kenapa semuanya malah jadi kacau gini? Dia bahkan diberhentikan secara paksa oleh kampus. Gua harus gimana buat bantuin dia, Lang? Kenapa gua ada di sini saat dia membutuhkan gua? Hidupnya jadi kacau balau karena gua.”

“Za…”

Reza langsung menghentikan video call tersebut dan menuju ke kamarnya. Dia mengambil koper di atas lemarinya dan meletakkannya ke kasur. Setelah itu, dia mengambil beberapa baju di lemarinya.

Gua harus ke Indonesia, gimana caranya. Persetan dengan kuliah gua, Ratna sedang menderita, batinnya geram.

Setelah selesai, dia langsung membuka handphone-nya dan memesan tiket pesawat ke Indonesia. Namun, karena akhir tahun dan uangnya yang pas-pasan, dia baru bisa berangkat ke Indonesia tiga hari lagi. Hal itu sangat disesalkan karena dia ingin menemui Ratna secepatnya.

Kemudian, dia menghubungi seseorang di handphone-nya.

“Halo, Karen.”

“Oh, kenapa, Reza? Kalau mau tanya soal surat, udah aku kirimkan. Semoga aja dibalas,” balas Karen dari seberang sana.

“Bukan itu, aku minggu depan akan pergi ke Indonesia.”

Karen diam.

“Untuk apa?”

“Ada yang harus aku lakukan di sana, jadi jagalah diri di sini tanpa aku untuk sementara.”

“Kamu mau menemui wanita itu?”

Reza mengubah posisi duduknya menjadi tiduran.

“Bisa dibilang iya.”

“Gila kamu, Za. Dia itu udah jadi mantan kamu, untuk apa kamu melakukan itu semua?”

“Dia sedang membutuhkanku.”

“Saatnya kamu move on. Berhentilah mengejar dia! Cari cewek baru di Jerman. Aku yakin banyak yang menyukaimu di sini.”

“We don’t get to choose who we love.”

Karen diam lagi.

“Kalau gitu, aku ikut denganmu.”

“Tidak perlu, Ren. Aku bisa berangkat sendiri.”

“Tapi, Za-”

“Sudah dulu, Ren, sampai jumpa,” potong Reza lalu memutuskan panggilannya.

***

Reza menatap seorang wanita di depannya tidak percaya. Sementara, Gilang hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah.

“Saya teh udah bilang dari tadi, ‘kan? Teh Ratna udah gak tinggal di sini lagi. Dia udah pergi bareng Fian.,” kata Linda dengan nada sebal.

“Kenapa?” tanya Reza masih tidak terima.

“Pake nanya lagi. Untuk apa tinggal di sini? Teh Ratna udah gak kerja lagi. Dia udah dipecat karena kamu!”

Gilang mengambil alih pembicaraan tersebut.

“Teman saya di Jerman saat kasus itu terjadi.”

Linda tidak menggubris perkataan Gilang.

“Teh Ratna juga, ngapain sih segala melakukan hal yang gak perlu? Dia yang kena imbasnya sekarang!” omelnya dengan jengkel.

“Pokoknya, saya gak mau ngasih tahu dia ada di mana sekarang. Hidup Teh Ratna berantakan semenjak bertemu denganmu. Biarkan dia menikmati hidupnya sekarang bersama anaknya. Kamu jangan ganggu-ganggu lagi.”

“Bagaimana dengan surat saya? Apa dia membaca surat saya?” tanya Reza penuh harap.

Linda menatapnya bingung.

“Surat naon atuh? Teh Ratna sama sekali gak nerima surat dari kamu. Baginya, kamu udah menghilang dari kehidupannya,” katanya setengah menghardik.

“Udah, jangan datang-datang lagi ke sini. Teh Ratna gak tinggal di sini.”

Setelah itu, Linda menutup pintunya dengan kencang, seolah memberitahu kalau dia ingin mereka lekas pergi dari rumahnya.

Reza makin melengos. Tatapannya benar-benar kosong. Kemana Ratna sekarang? Mengapa dia tidak memberi kabar apa pun? Dia bahkan tidak menerima surat-surat darinya. Apakah Karen benar-benar mengirimkan surat-surat tersebut?

Gilang berusaha mendekati temannya yang sedang merenung tersebut.

“Za, Tante Ratna sama sekali gak ngasih tahu gue apa-apa soal ini. Maafin gue banget, Za, gue bener-bener gak tanggung jawab dengan tugas gue. Padahal, lo minta gue menjaganya.”
Reza hanya mengangguk. Kemudian, dia melangkah ke gerbang rumah Linda dengan gontai.

“Lang, ayo kita pergi. Kita coba cari di tempat lain, mungkin mereka masih ada di Bandung.”

Gilang hanya bisa mengikuti temannya dengan sedih. Dalam hatinya dia yakin kalau Ratna tidak mungkin ada di Bandung. Semua orang sudah mengenalinya. Tantenya itu pasti akan pergi ke tempat yang jauh.

Kenapa Tante senang sekali melarikan diri? batin Gilang sedih. Ini sudah yang kedua kalinya, Tante. Maaf, Gilang masih tidak bisa membantu Tante.

***

Tiga tahun kemudian…

CEO Reza Nikola Pratama. Sebuah jabatan yang sampai sekarang masih tidak terbiasa didengarnya. Semenjak kasus korupsi ayahnya terjadi tiga tahun yang lalu, dia bahkan berniat untuk menutup perusahaan milik ayahnya. Reza pesimis, tentu saja. Petinggi-petinggi perusahaan itu sudah terlibat dalam kasus korupsi bersama ayahnya. Nama perusahaan itu sudah sangat jelek. Jadi, untuk apa dipertahankan?

Sayangnya, Karen tidak memiliki pendapat yang sama. Dia mengatakan kalau masih banyak cara untuk menyelamatkan perusahaan tersebut. Dia bahkan bersedia membantunya dalam membangkitkan lagi apa yang sudah terjatuh. Karen pun diangkat menjadi sekretarisnya dan mereka bersama-sama menyelamatkan kembali perusahaan milik ayahnya.

Meski harus menghentikan beberapa karyawan, meski harus hutang, meski harus dihina oleh banyak pihak. Mereka mengulang kembali dari awal, dan mereka berhasil. Perusahaan itu kembali bangkit. Reza sangat berterimakasih ke Karen karena itu.

Ayahnya masih mendekam di penjara. Reza masih sering mengunjunginya, meski tidak mengatakan apa-apa. Satu-satunya yang ayahnya katakan padanya adalah bahwa dia harus menyelamatkan kembali perusahaannya. Reza adalah pewaris tunggal, katanya. Hal itu sangat menjengkelkan mengingat bagaimana kehidupan Reza dan Ratna menjadi hancur karena ayahnya. Bukannya meminta maaf atau apa, ayahnya hanya mengingat perusahaannya.

Sedangkan ibunya, kondisinya menjadi sangat tidak stabil semenjak Papah masuk penjara. Reza tak habis pikir sampai sekarang, mengapa cinta bisa membutakan hati ibunya? Bahkan, ketika ayahnya sudah menghancurkan keluarganya, Mamah masih setia membelanya.

Dia bahkan sampai tega menghancurkan hidup Ratna karena tidak terima melihat suaminya masuk penjara. Alhasil, karena cinta yang menurut Reza toxic itu, Mamah tinggal di rumah sakit jiwa sekarang.

Entah dosa apa yang sudah ia lakukan di kehidupan masa lalunya, kehidupan cinta dan keluarga Reza hancur hanya dalam jangka waktu pendek. S2-nya tidak sampai selesai karena banyak hal yang harus dia lakukan. Dia mengabaikan kuliahnya selama satu tahun sehingga membuat pihak kampus mengeluarkannya dengan tidak hormat.

Dia hampir saja menjadi gelandangan, kalau bukan karena Gilang yang menyelamatkannya. Dan kalau bukan karena Karen, satu-satunya harta yang dia punya, yaitu perusahaannya, mungkin akan terlantar begitu saja. Rumahnya disita, kartunya diblokir, orang tuanya bermasalah. Mungkin itulah yang dimaksud kehilangan segalanya.

Berbicara tentang Ratna, sudah tiga tahun berlalu semenjak dia pulang ke Indonesia demi mencari wanita itu. Namun, hasilnya nihil. Ratna tidak ditemukan di mana pun, padahal uang dan tabungannya sudah terkuras habis.

Wanita itu menghilang tanpa jejak, yang ditinggalkan olehnya hanyalah kesedihan yang dalam dan penantian yang belum ada ujungnya. Sudah tiga tahun berlalu, rasa itu masih ada untuknya meski tidak pernah lagi melihat wajahnya dan mendengar suaranya.

Demi mengobati rasa sedihnya, Reza menghabiskan waktunya dengan mengurus perusahaan milik ayahnya. Sekarang perusahaan itu kembali mendapatkan spotlight, meski dengan sejarah yang tidak bagus.

Sebagai rasa terimakasih dan bersalahnya kepada Karen yang juga mengikuti jejaknya, yaitu berhenti kuliah di tengah jalan, Reza mengajak wanita itu kembali mengambil S2 yang sempat tidak selesai, kali ini di London. Semua biaya kuliah ditanggung oleh perusahaan.

Untuk membuat Karen tidak merasa bersalah, dia mengatakan kalau ini adalah fasilitas dari perusahaan untuk meningkatkan kualitas pendidikan setiap karyawannya, apalagi Karen adalah sekretaris dari CEO perusahaan.

Karena itulah sekarang mereka di London karena kuliah baru saja dimulai. Perusahaan untuk sementara dipegang orang lain, meski Reza juga masih bekerja via online. Selain itu, alasan dia memilih London juga karena sebuah perusahaan dari Inggris mengajak bekerjasama dengan perusahaannya. Untuk memudahkan banyak hal, akhirnya dia memutuskan untuk kuliah di sana sekaligus mengembangkan usahanya menjadi go-international.

“Reza,” panggil Karen saat mereka sedang menikmati makan siang bersama di sebuah kafe. Mereka berdua mengambil jurusan yang sama, yaitu bisnis, meski kelasnya berbeda.

“Ya, Karen?” tanya Reza yang sedang asyik melihat sibuknya kota London di balik jendela.

Tidak ada jawaban dari Karen, sampai membuat Reza memanggil namanya bingung.

“Kita sudah bersama cukup lama,” kata Karen akhirnya, dengan nada malu-malu.

“Gak nyangka.”

Reza mengangkat alisnya sebelah dan menunjukkan ekspresi bingung, meski akhirnya tersenyum kecil.

“Iya, kamu ada di saat-saat hidupku hancur. Kamu di sana membantuku bangkit. Aku sangat berterimakasih soal itu. Tanpa kamu, hidupku berakhir.”

Senyum Karen melebar. Dia langsung memandang pria di depannya dengan tatapan yang Reza tak mengerti apa artinya. Penuh dengan berbagai emosi.

“Kamu tahu aku gak akan pernah biarin kamu menghadapi semuanya sendirian. Kacau sendirian. Menderita sendirian.”

“Kamu benar-benar seperti adik yang tidak pernah aku punya,” kata Reza lalu mengelus-elus rambut Karen gemas.

“Adik?” tanya wanita itu. Wajahnya yang tadinya bahagia kini berubah menjadi tak percaya. Dia memegang rambutnya yang baru saja Reza elus.

Reza mengangguk kecil.

“Iya, adik. Aku selalu ingin punya adik sejak kecil, tapi Papah dan Mamah bilang kalau itu merepotkan. Papah yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, Mamah yang terobsesi dalam mempertahankan proporsi tubuhnya. Akhirnya, aku tumbuh sendiri tanpa saudara,” katanya santai. Kemudian, dia mencicipi kembali Red Velvet cake di depannya.

“Mau gak?” tawarnya ke Karen dan langsung dibalas dengan gelengan.

“Emang, orangtua kamu tidak punya saudara?”

“Enggak, lucunya. Mungkin keluargaku ditakdirkan untuk punya satu anak saja,” canda Reza sambil terkekeh.

Satu hal yang berubah tentang Reza, yaitu bahwa dia sudah tidak lagi bersikap buruk ketika membicarakan keluarganya. No hard-feelings. Meski kata-katanya masih sedikit nyeleneh, tapi tidak ada lagi celaan ketika membicarakan orangtuanya.

“Oke, jadi, bagimu aku ini adik?”

“Iya, adik perempuanku. Lucu, ya? Kamu harus beruntung. Aku ini sangat selektif dalam memilih orang,” jawab Reza sambil masih mengunyah.

“Kamu bahkan gak melihatku sebagai seorang wanita?”

Cake yang Reza akan lahap ke mulutnya langsung terhenti di tengah jalan.

“Maksudmu?”

Karen mendesah.

“Kamu tahu aku mencintaimu sejak lama ‘kan?”

Pria itu langsung menaruh lagi cake tersebut di piringnya dengan hati-hati.

“Karen?”

“Kamu pikir perasaanku menghilang begitu saja? Justru rasa ini semakin besar! Teman-temanku bilang kalau kita sangat cocok bersama, bukankah sudah saatnya kita menjalin hubungan yang lebih serius?”

Reza diam, tidak mengerti arah pembicaraan yang tiba-tiba berubah ini. Beberapa menit yang lalu mereka masih membicarakan tentang eksistensi alien di alam semesta, kenapa tiba-tiba membahas masalah mereka berdua?

Karen menatapnya tidak percaya.

“Tidak ada jawaban darimu?”

“Karen,” kata Reza berusaha sabar.

“Aku tidak mengerti yang kamu katakan. Apa yang kamu harapkan dariku?”

“Cinta. Aku mengharapkan cinta darimu. Bertahun-tahun aku menemanimu, bukannya sudah saatnya kamu menerima perasaanku?”

Wow, agresif sekali, pikir Reza. Sangat berbeda dengan Ratna.

“Aku mencintaimu, Karen,” jawabnya dan membuat sinar mata Karen berubah. Ada setitik harapan di sana.

“Kalau gitu ki-”

Reza langsung memotongnya.

“Tapi bukan cinta yang seperti itu. Aku mencintaimu sebagai seorang kakak. Itu hal yang indah, bukan?”

“Kakak?” tanya Karen tak terima.

“Kalau gitu, lihat apa kamu masih pantas disebut sebagai kakakku?”

Tiba-tiba, Reza merasakan bibirnya disentuh oleh sesuatu yang lembut dan manis. Sesuatu itu adalah bibir milik Karen. Sontak, Reza tergagap dan mendorong wanita tersebut dengan paksa.

“Apa-apaan, Ren?” tanyanya tidak menyangka.

“How dare you.”

“Kita sudah ciuman. Apa masih pantas disebut sebagai adik kakak?” tanya Karen dengan nada menantang. “Semua orang juga tahu kalau kita lebih pantas menjadi sepasang kekasih.”

Reza melongo selama beberapa saat, kemudian tertawa terbahak-bahak sampai membuat lawan bicara di depannya terlihat geram.

“Sudah aku bilang,” katanya setelah tawanya berhenti. “Kamu ini hanya adikku, Ren.”

“Kenapa begitu? Apa perhatianku kurang selama ini?”

Reza diam lalu menggeleng pelan. Wajahnya langsung menunduk.

“Bukan salahmu,” jawabnya dengan suara tercekat.

“Hanya aku masih belum bisa melupakan masa lalu.”

“Oh, wanita itu? Mantanmu yang bikin kamu gak karuan itu? Kamu masih mencintainya meski dia yang membuat kamu di DO dari kampus?”

“Itu bukan salah dia!”

“Tapi gara-gara mencarinya, kamu lupa dengan kuliahmu!”

Reza hanya bisa mendesah pasrah. “Sudahlah, Ren,” katanya dengan suara parau. “Kamu cantik, banyak yang mau sama kamu. Aku ini gak baik untukmu.”

“Aku maunya kamu!”

“Aku juga maunya dia! Daripada kamu terjebak dalam cinta segitiga menyakitkan ini, bukankah sudah waktunya kamu melepaskan diri dan menerima orang baru?” Reza berusaha memberi pengertian.

“Karena aku gak bisa dan mungkin gak akan bisa. Dia ini cinta pertamaku, pacar pertamaku. She’s the love of my life. Melupakannya hanya akan menghancurkanku.”

Karen menggeleng tidak percaya.

“Kamu benar-benar sakit, Za,” katanya dengan sinis.

“Kamu selalu heran kenapa ibumu masih saja membela ayahmu meski dia cuma bisa menyakitinya. Kamu bilang cinta seperti itu toxic, but there you are, sama aja dengan ibumu.”

Reza tidak menjawab. Dia membiarkan Karen menghujatnya karena dia berhak mendapatkannya. Dari semua bantuan yang diberikan Karen, hanya permasalahan Ratna yang masih belum berhasil. Karen sudah melakukan banyak hal, sudah menghujatnya dengan berbagai kata, dan semua itu belum ada yang berhasil.

Satu-satunya yang bisa Karen lakukan adalah membiarkan Reza tidak terlarut dalam rasa sedihnya. Dia tidak bisa menghilangkan rasa cinta Reza untuk Ratna.

“Aku akan melakukan apa pun,” kata Karen lagi.

“Untuk mendapatkan hatimu. Kali ini, aku tidak akan menahan diri lagi. Sudah cukup kamu gila karenanya selama bertahun-tahun. I’ll make you love me.”

Setelah itu, Karen meninggalkan Reza sendirian, berkutat dengan pikirannya tentang Ratna.

***

“I want to borrow these books,” kata Reza kepada seorang librarian. Librarian tersebut terlihat masih muda, mungkin usianya belum sampai 20 tahun.

“Let me see,” kata librarian tersebut sebelum kemudian mengambil beberapa buku dari tangan Reza dan memeriksanya.

Reza menunggu sambil memerhatikan setiap pengunjung di perpustakaan itu.

Perpustakaan itu tidak begitu besar, tapi mereka menyediakan banyak buku menarik yang belum tentu ada di perpustakaan pada umumnya. Selain itu, suasananya sangat nyaman dan tenang, seolah-olah menunjukan kalau pengunjung yang biasa datang ke sini adalah untuk membaca, bukan untuk hal lain.

“Pardon, Sir,” kata librarian tersebut dan membuat Reza kembali memusatkan perhatiannya ke dia. Librarian itu memegang satu buku.

“Someone asked me to keep this book so I don’t think I can let you borrow it. You got this from New Arrival section, right?”

Reza mengangguk.

“She’s the one who requested this book so I think it’s wiser if you only borrow one book or find something else .”

“Why is it still here, then?”

Librarian tersebut melihat jam di tangannya.

“She will be here in a few min- there she is.”

“Forgive me, Bran, I need to meet my doctor first. You still have the book, right?”

Librarian yang bernama Bran itu tersenyum kecil dan mengangguk.

“You’re so lucky, Ma’am. This guy over here wants to borrow this book but I already said no so don’t worry.”

“Oh, thank God. I owe you one, Bran. You’re the best.”

Wajah Bran langsung memerah setelah mendengar pujian dari wanita di samping Reza.

Reza perhatikan, wanita tersebut memakai pakaian layaknya wanita London pada jaman dulu. Reza tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh topinya yang lebar. Namun, sepertinya bukan orang asli London jika mendengar aksennya.

“I’m sorry, Sir. I hope you find something el-”

Wanita bertopi lebar itu menoleh dan menampilkan seluruh wajahnya yang sebelumnya tertutup oleh topinya. Wajah yang sangat Reza kenal. Wajah yang sudah lama Reza tidak lihat.

“Ratna,” katanya tak percaya. Tubuhnya mendadak kaku melihat sosok di depannya.

“Reza…”

“Ratna,” panggil Reza tak percaya.

Di hadapannya sekarang adalah wanita yang sudah lama ia tidak jumpa, wanita yang dia cintai sedemikian rupa sampai membuatnya setengah gila. Meski tertutup oleh topi lebar di kepalanya, dia sadar bahwa banyak yang berubah dengan wanita itu. Rambutnya yang menjadi pendek sebahu dan bewarna hitam.

Sorot matanya yang tidak lagi menunjukkan keangkuhan dan aura dingin luar biasa. Kali ini, mata bewarna coklat itu terlihat lebih hangat, mereka memberikan kehangatan yang begitu nyaman di tengah dinginnya musim salju di London.

“Reza,” balas wanita itu lirih.

Sepertinya dia bahkan tidak menyadari kalau dia mengatakan itu. Suaranya sangat lirih sampai membuat Reza bisa merasakan nada menyayat hati di balik sapaannya. Penuh dengan kerinduan yang tak terungkapkan. Sudah berapa lama kah mereka tidak bertemu, sampai membuatnya merasa asing dengan suara itu?

“Sudah-”

“Sir, if you really want to borrow that book, I think it’s wiser if you wait for this lady to finish the book first,” Bran, si penjaga perpustakaan, tiba-tiba berbicara, seolah-olah tidak menyadari perubahan atmosfer di antara mereka berdua.

Namun, Reza hanya mengabaikannya dan lebih memilih menatap Ratna yang masih belum tersadar dari kemalut di otaknya. “Sudah lama tidak bertemu, Ratna,” katanya, berusaha untuk membuat wanita itu kembali ke dunia.

Setelahnya, wanita itu tersadar dan langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain seperti berusaha menghindar dari tatapan intensnya Reza.

“Ya,” jawabnya seadanya.

Bran menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua setelah melihat ekspresi di wajah mereka. Setelah memberikan tatapan mengerti, dia pun meninggalkan mereka dan memberi ruang bagi mereka untuk berbicara empat mata.

Diam-diam Reza berterimakasih dengan Bran yang cukup peka dengan sekitarnya dan cukup pengertian sudah memberikan ruang lebih untuk mereka bertukar sapa. Dia akan membelikan sesuatu untuk pemuda tampan itu, sebagai tanda terimakasihnya.

“Kemana aja kamu selama ini? Kenapa tidak ada kabar?” tanya Reza berusaha mencairkan suasana yang semakin beku di antara mereka. Dinding.

Ada dinding di antara mereka sekarang. Beberapa tahun yang lalu, dinding itu berhasil ia robohkan dengan usaha kerasnya. Kali ini, sialnya, dinding itu kembali berdiri. Ratna membangunnya kembali dengan bahan-bahan yang lebih kokoh. Perlu usaha lebih besar lagi untuk merobohkan dinding itu.

Ratna menatapnya sekilas, kemudian menghindarinya lagi.

“Apa urusanmu?”

“Kamu melakukan banyak hal tiga tahun yang lalu dan kemudian menghilang tanpa kabar, membuatku khawatir habis-habisan.”

“Kalau kamu mau saya memohon ampun karena perbuatan saya pada ayahmu tiga tahun yang lalu, maka kamu tidak akan pernah mendapatkannya,” jawab Ratna berusaha angkuh.

Namun, untungnya Reza terlalu mengenal wanita itu dengan baik.

“Saya melakukan hal yang benar. Jika terus dibiarkan, dia akan terus-terusan melakukan korupsi.”

Laki-laki berusia 28 tahun itu menatapnya dengan jenaka sebelum kemudian terkekeh pelan.

“Aku tidak peduli soal itu. Aku sudah tahu sejak lama kalau orang tua itu melakukan penyelewengan dengan kolega-koleganya yang lain. Sejujurnya, aku selalu menunggu saat-saat dia dipenjara karena perbuatannya itu tiba.”

“Dia ayahmu.”

Reza mendecak.

“Ayahku? Secara legal, memang, tapi itu hanya sekadar sebutan. Tidak ada makna lebih di dalamnya. Faktanya, aku merasa kalau selama ini aku tidak punya ayah.”

“Reza-”

“Daripada itu,” potong Reza cepat.

“Mengapa kamu melakukan semuanya tanpa berbicara denganku terlebih dahulu? Lihat akibatnya! Apa kamu tidak tahu kalau Mamah selalu berhasil menghancurkan karir dan martabat seseorang hanya dengan kata-katanya?” omelnya tidak suka. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya. Badannya sedikit menyender ke meja resepsionis tempat Bran biasa bekerja.

“Kamu hanya perlu fokus dengan kuliah S2-mu.”

“Kamu bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk melindungimu!” teriak Reza tak percaya.

Ratna langsung tertawa pelan. “Bukannya selama ini kamu selalu melakukannya melalui anak buahnya Gilang?”

Reza langsung tertegun dengan badan sedikit tegang. “Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Mereka selalu ada di sekitar saya dan Fian, tentu saja saya menyadarinya. Kamu pikir saya ini bodoh? Kamu pikir, dengan perbuatamu yang begitu bisa merubah keadaan menjadi lebih baik?”

“Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja meski tanpa aku.”

“Kamu tahu tidak, kalau itu namanya lancang dan kurang ajar?”

“Loh, darimananya kurang ajar? Gilang itu keponakanmu, bukan? Wajar kalau dia melindungimu.”

“Tetap saja itu mengganggu privasi saya!”

“Ratna,” Reza berusaha bernegoisasi.

“Kamu memutuskan hubungan setelah aku ke luar negeri. Tidak ada kabar sama sekali. Aku hanya bisa tahu keadaanmu dari Gilang.”

“Untuk apa kamu mau tahu keadaan saya? Kita sudah berakhir, ingat ‘kan?”

“Itu maumu!”

“Itu keputusan kita berdua. Jangan pura-pura lupa.”

“Tapi bukan berarti kita harus berakhir begini. Tanpa kabar. Tanpa sapa.”

Ratna hanya menggeleng tidak suka.

“Sudahlah, lelah berdebat denganmu,” katanya akhirnya. Dia sudah tidak bisa lagi berdebat lama-lama, kepalanya langsung pusing. Mungkin karena faktor umur.

Mereka terdiam beberapa saat. Atmosfer di sekeliling mereka yang sebelumnya memanas, kini kembali canggung. Mereka beberapa kali berdehem untuk mengisi kekosongan dan kecanggungan di antara mereka.

Ratna memutuskan untuk membicarakan hal baru karena tidak tahan dengan rasa canggung tersebut.

“Ngomong-ngomong, senang berjumpa denganmu lagi, Reza. Saya lihat, kamu mulai menemukan tujuan hidupmu. Saya bahagia melihatmu yang hidupnya mulai jelas mau kemana.”

Reza kembali menatap wanita itu dengan sendu.

“Tujuan hidupku masih kamu.”

Wanita itu mendengarnya, tentu saja, tapi dia memutuskan untuk tidak merespon. Bukan karena tidak ingin, dia hanya tidak tahu harus merespon apa.

“Kerja apa kamu sekarang?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Aku kuliah.”

Dia melihat Reza dengan bingung.

“Belum selesai?”

“Waktu itu aku di drop out, jadi harus mengulang lagi.”

Ratna langsung mengernyit.

“Loh, kenapa?”

“Aku lebih memilih mencarimu ketimbang memerdulikan kuliahku.”

Sejujurnya, Ratna hampir saja melabraknya setelah Reza mengatakan hal itu, meski ditahannya kembali.

“Oh,” Ratna mengangguk.

“Kau masih saja seenaknya.”

Reza tersenyum getir.

“The things I do for love.”

Ratna diam saja, tidak merespon kata-kata Reza.

“Kamu sendiri ngapain di London?” Reza bertanya kembali karena tidak ingin obrolan mereka terputus begitu saja.

“Mengajar, tentu saja.”

“Masih jadi dosen?”

“Iya. Rupanya mahasiswa-mahasiswa di London lebih rajin ketimbang di Bandung. Gak perlu dimarahi dahulu, mereka sudah mengerjakan semua tugas yang saya berikan. Gak perlu stress lagi saya.”

Reza tertawa mendengarnya.

“Beda dengan mantan anak bimbingmu ya, yang hanya mengerjakan skripsi saat kamu marahi?”

“Siapa? Anak bimbing saya banyak.”

“Yang paling ganteng tentu saja,” ujar laki-laki itu dengan pedenya.

“Tidak ada yang lebih ganteng daripada anak saya.”

Dia tersenyum. Sudah lama ia tidak berjumpa dengan anaknya Ratna.

“Apa kabar si Fian?”

“Baik,” jawab wanita itu singkat.

“Dia semakin bisa diandalkan.”

“Dia selalu bisa diandalkan.”

“Iya.”

Suasana kembali canggung. Mereka sibuk berkutat dengan pikirannya masing-masing. Sementara, perpustakaan itu perlahan mulai kosong. Hari sudah malam dan sudah waktunya manusia beristirahat. Bran dan staff yang lain pun mulai membereskan buku-buku yang berserakan di meja-meja. Sesekali, Bran melirik ke arah Reza dan Ratna lalu mengumpat dalam diam ketika melihat mereka masih saja berbicara di depan mejanya.

“Ratna,” panggil Reza tiba-tiba dan membuat wanita itu mau tak mau merespon panggilannya.

“Kenapa?”

“Jika aku melamarmu sekarang, apa kamu mau menerimaku?”

Ratna tersentak. Dia melihat Reza dengan sengit.

“Apa-apaan, Reza?”

“Aku sudah me-”

“Bran,” Ratna memotong kata-kata Reza dengan memanggil pemuda bernama Bran itu setengah berteriak.

Pemuda itu langsung tergopoh-gopoh menghampiri Ratna sambil membawa dua buku di tangannya.

“Can I help you, my lady?”

“Thank you for the book. Without your help, I won’t get the chance to read it.”

Pipi Bran langsung bersemu merah dan Reza menyadarinya.

“It’s okay, ma’am. I’m so glad to help you.”

“Alright,” Ratna tersenyum hangat melihat Bran yang malu-malu. “It’s time for me to go home. Thank you again, Bran, and see you!”

Kemudian, wanita itu segera pergi tanpa berpamitan dengan Reza terlebih dahulu. Tapi Reza tidak mengejarnya. Dia tidak ingin mengganggu Ratna lebih jauh dengan lamarannya. Jika waktu memberikan kesempatan untuk mereka bertemu kembali, maka dia akan mencoba lagi.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat