Bu Ratna Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 22 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 21

“Semoga di Jerman lo gak jadi bucin lagi ya, Za,” kata Lingga berusaha mencerahkan suasana yang sedikit kelabu karena kepergian Reza yang hanya tinggal 30 menit lagi.

“Gak mungkin, hati gua ‘kan cuma untuk Ratna. mana bisa gua bucin ke orang lain?”

“Ya, kali aja lo ketemu cewek Jerman terus naksir. Mereka cantik-cantik, ‘kan.”

“Secantik-cantiknya cewek Jerman kalau gak galak kayak Ratna ya buat apa.”

“Dasar bucin emang.”

Reza hanya bisa tersenyum tanpa dosa.

“Dia gak akan datang, ya?” tanya Gilang sambil sesekali melihat sekeliling bandara yang sepi.

“Sepi banget ini bandara.”

“Ratna gak akan datang,” jawab Reza sedih.

“Dia udah bilang kalau dia gak mau datang. Aku gak mau menangis di pertemuan terakhir kita, katanya. Lagian dia juga lagi ada urusan di Surabaya.”

“Kalau jodoh pasti akan ketemu lagi, Za,” hibur Gilang.

“Mungkin,” jawab Reza setengah bertanya.

“Tapi Ratna berharap kita tidak usah bertemu lagi. Itu yang terbaik, katanya.”

“Benar. Sekarang, lu harus mikirin kuliah lu, Za. Anjir, kuliah mulu kerjaan lu, gak pengen melakukan hal lain apa?” Mike yang sedari tadi hanya diam saja kini mengeluarkan suaranya. Tampangnya sok disebal-sebalkan, sebelum kemudian tersenyum sedih.

“Gua bakal kangen banget sama lu, Bro.”

“Gua jug-”

“Reza!” teriak seseorang memotong ucapan Reza.

Ternyata itu suara ibunya.

Reza menatapnya dengan pandangan malas dan kesal.

“Mamah,” balasnya malas. “Sudah saya bilang kalau tidak perlu mengantar saya,” katanya dingin.

“Kurang ajar sekali kamu dengan ibumu sendiri,” sahut ayahnya Reza dingin.

“Saya tidak perlu pendapat Anda,” balas Reza tak kalah dinginnya.

“Untuk apa Anda di sini? Mengantar saya pergi? Senang ya, karena semua yang Anda inginkan bisa terwujud? Menjadikan pacar saya sebagai tumbal supaya Anda bisa mengkontrol saya sepenuhnya?”

Plak!

Ayahnya Reza menampar Reza cukup keras sampai membuatnya meringis kesakitan lalu mengusap-usap pelan pipinya.

“Papah! Jangan begitu ke Reza!” bentak ibunya Reza lalu berusaha menggapai anaknya dan langsung ditepis oleh Reza.

“Anak kamu yang kamu bela itu sekurang ajar itu sama kamu. Dia harus tahu betapa kerasnya hidup! Pria tidak seharusnya menjadi budak cinta! Terlebih lagi dengan wanita yang usianya jauh di atasnya dan lebih pantas jadi tantenya. Mungkin sekarang kamu bisa marah dengan Papah, tapi nanti pasti kamu akan menyetujuinya. Mamah dan Papah tidak pernah sudi melihatmu berhubungan dengan wanita itu!” bentak ayahnya Reza dengan keras.

Ibunya Reza mulai bingung.

“Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba membahas hal yang Mamah tidak mengerti? Apa maksudnya menjadikan pacarmu sebagai tumbal? Memangnya, Papah kenal dengan pacarmu? Kenapa Papah tidak suka dengan pacarnya Reza? Bukannya bagus kalau dia punya pacar?”

“Kalau kamu tahu siapa pacarnya, mungkin kamu juga akan setuju dengan saya,” jawab ayahnya Reza kembali tenang.

“Daripada menjalin hubungan dengan wanita itu, mending kamu belajar lagi supaya bisa melanjutkan usaha Papah. Semua Papah lakukan demi masa depanmu.”

Reza menatap ayahnya dengan tak percaya lalu melihat ke arah teman-temannya yang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menahan emosinya melihat Reza ditampar begitu.

“Saya pamit,” katanya lalu pergi tanpa mengucapkan kata selamat tinggal atau sampai jumpa.

Dia pergi begitu saja, meninggalkan semuanya. Meninggalkan kawan-kawannya, meninggalkan keluarganya, dan meninggalkan Ratna.

Dia juga tidak menoleh ke belakang lagi karena orang yang ingin dia lihat terakhir kalinya tidak ada di sana.

“Stuttgart, I’m coming.”

***

“Guten Morgen!”

Reza menoleh ke siapa pun yang baru saja menyapanya. Ternyata itu adalah temannya di Jerman, Audric.

Sekilas tentang Audric, dia merupakan teman kampusnya Reza. Pria ini bisa dibilang cukup tampan untuk ukuran orang Jerman. Ramburnya yang berwarna cokelat dan matanya yang berwarna biru, belum lagi tinggi badannya yang cukup jangkung. Audric adalah idola banyak wanita di kampus.

Reza dan dia menjadi akrab karena terlibat dalam satu projek bersama di semester sebelumnya. Ternyata, ada banyak kesamaan di antara mereka yang membuat pertemanan itu mulai terbentuk. Kini, Audric menjadi salah satu teman dekatnya di Jerman.

Setelah menyapa Reza, dia menghampirinya dengan langkah riang. Mereka sudah beberapa lama tidak bertemu.

“Guten Morgen, Audric!” sapa Reza kembali dengan ramah dan sedikit mendongak. Tinggi badan Reza bisa dibilang lumayan tinggi untuk ukuran orang Indonesia, tapi jika dibandingkan dengan orang Jerman seperti Audric, dia langsung kalah. “Wie geht’s dir?”

“As you can see. So lala. You?” tanya Audric dengan aksen Jermannya yang kental meski berbicara dalam Bahasa Inggris.

“I’m doing fine,” jawab Reza santai.

“It’s been long. I missed you, man,” katanya lagi sambil menepuk pundak kawannya.

“Either am I,” balas Audric sambil tersenyum kecil.

“Where are you going?”

“I’m going home, of course. How about you? Are you planning to study for our mid-test next week? Wait, let me guess first. I guess you’re not!” ledek Reza sebelum akhirnya tertawa renyah dan membuat kawannya juga ikut tertawa.

“You know me well enough, buddy. I hate studying as much as I hate Stuttgart.”

Reza mensipitkan matanya curiga.

“Now that you mention that, I’m still wondering about that. If I may ask, why do you hate this city so much? It’s such a beautiful place with beautiful scenery.”

“It’s easy to say that because you’re a foreign student. Meanwhile me, I’ve been living here for my whole life and I’m getting tired of it. It’s time for me to visit other countries. Maybe USA, since they got girls with nice and sexy body.”

Reza hanya menggeleng kepalanya seolah-olah tidak heran. Karena pernah sering bersama selama beberapa saat, Reza tahu bagaimana kelakuan temannya satu ini. Audric adalah dia versi Jerman. Dia adalah Cassanova yang senang mendekati banyak wanita.

Sayangnya, semenjak pertemuannya dengan Ratna, sifat-sifat Cassanova-nya semakin memudar dan menghilang begitu saja.

Berbicara soal Ratna, wanita itu sudah tidak pernah lagi menghubunginya. Wanita itu juga tidak ada saat wisudanya karena harus pergi ke Surabaya. Mereka terakhir bertukar kabar saat hari wisuda dan kepergian Reza ke Jerman. Tentu saja itu untuk mengucapkan selamat tinggal.

Tentu Reza sedih. Ratna bersikeras mengucapkan kata selamat tinggal, bukan sampai jumpa, seolah-olah dia benar-benar tidak ingin mereka bertemu lagi di masa depan nanti. Percayalah, itu menyakitkan, terutama apabila orang yang paling kita cintai yang mengatakan hal itu.

Namun, tidak adanya pesan dari Ratna, tidak membuat Reza kehilangan informasi soal wanita itu. Dia masih sering bertanya ke Gilang bagaimana kabar Ratna. Beberapa kali bertanya bagaimana kabar teman-temannya yang lain juga. Sejauh ini, ayahnya masih belum melakukan apa-apa ke Ratna, dan semoga saja tidak melakukan apa-apa.

Reza berharap, semoga ayahnya menepati janjinya untuk tidak menganggu Ratna dan keluarganya apabila dia memenuhi keinginan ayahnya untuk kuliah S2 di luar negeri.

“…Verzeihen Sie, but I have to go now. My new girl is waiting for me,” kata Audric tiba-tiba dan langsung membuyarkan pikiran Reza. Dia bahkan tidak mendengar apa yang baru saja kawannya itu ceritakan kepadanya.

“Oh, it’s okay, Audric. We can talk again next time. Go to your girl first because girls are quite scary sometimes,” Reza berusaha bercanda untuk menyembunyikan rasa bersalahnya karena tidak memerhatikan ucapan seorang teman yang sudah lama ia tidak jumpai.

“I know, right?” ucap Audric pasrah. “By the way, I want to ask something, are you still crying over your ex?”

“What do you mean, crying? Hey, I’m not like that!” bantah Reza dengan keki. “But yes, I still love her. It’s hard for me to move on when a half of me always refuses to do that.”

“You still sound so dramatic, Za.” Audric menatapnya dengan tatapan jenaka. “And that’s why I miss you. Reza, I think it’s time for you to let go of your past. I know it won’t be easy but it’ll worth it.”

“You know I’m trying my best. But thank you, Audric.”

“Bitte schön. Alright, I really need to go. It’s nice to meet you here. Bis später!”

“Bis später!”

***

“Entschuldigung!” panggil seseorang ke Reza yang sedang menikmati kopinya di sebuah kafe yang tidak terlalu luas.

“Sprechen Sie Englisch?”

Reza pun mau tak mau menoleh, meski sebenarnya dia sedang tidak ingin berbicara dengan orang, apalagi orang itu dia tidak kenal.

Hari ini sedikit mengesalkan karena Gilang tidak menghubunginya untuk memberitahu kabarnya Ratna. Temannya itu memang sedang sibuk dengan usaha lounge bar-nya dan berniat untuk membuka cabang di Jakarta. Hal itu membuatnya harus tinggal di Jakarta selama beberapa waktu.

Untungnya, Gilang meyakinkan kalau Ratna dan Fian dijaga dengan baik oleh anak buahnya yang paling dia percaya. Hal itu membuat Reza sedikit tenang.

“Can I help yo-”

“Oh, Kang Reza!”

Reza terkejut karena orang asing ini mengenalinya dan bahkan menyebutnya dengan sebutan ‘Kang’. Wajahnya tidak asing, sepertinya mereka pernah bertemu di suatu tempat.

“Ini saya loh, Karen. Kang Reza gak ingat?”

Reza terdiam. Masih berusaha mengingat-ingat seorang wanita bernama Karen di hidupnya. Tunggu, ada banyak Karen di hidupnya. Dia ini Karen yang mana?
Reza menggeleng dengan ragu dan merasa bersalah karena tidak bisa mengingat dengan baik.

“Wah, parah juga. Saya adik tingkat Akang di kampus! Jodoh Kang Reza suatu saat nanti,” jawab wanita itu dengan senyum lebar di pipinya.

Ah! Sekarang dia ingat orang asing ini. Adik tingkat yang sudah mengejarnya selama bertahun-tahun dan berhasil membuatnya risih. Dia bahkan tidak menyerah ketika Reza menolaknya mentah-mentah karena sudah menjalin hubungan dengan Ratna.

“Oh, kamu Karen yang itu, ya?”

“Yang mana hayo…”

“Yang udah ngejar saya bertahun-tahun.”

“Nah, tuh inget!” ucap Karen senang. “Udah lama gak ketemu, ya? Senang rasanya punya teman di Jerman. Saya masih belum bisa bahasa Jerman.”

“Nanti juga bisa. Ngomong-ngomong, kamu lagi apa di Jerman, khususnya di Stuttgart?”

“Saya kuliah di sini karena saya ingat Kang Reza juga kuliah di Jerman. Kali aja bisa ketemu. Eh, benar juga! Kita ketemu di sini! Kita benar-benar jodoh, ya!”

Reza langsung tertawa canggung. “Saya baru ketemu kamu. Kita bukannya lulus bareng?” tanyanya lagi berusaha untuk menghilangkan rasa canggungnya.

“Oh, saya tadinya gak niat buat ngambil S2, makanya saya bekerja selama setahun. Tiba-tiba, Papah bilang ingin membiayai saya kuliah di luar negeri, jadi saya langsung pilih Jerman.”

“Oke…”

“Sebenarnya, saya tadi manggil Kang Reza karena ingin pesan Americano di sini, tapi kayaknya pelayan di sini bukan English speaker,” keluh Karen kesal. “Payah juga pelayanannya. English itu bahasa internasional, masa tidak ada yang bisa. Gimana kalau turis datang ke sini?”

“Saya pesankan aja, ya?” tawar Reza karena tidak ingin mendengar keluhan Karen tentang kafe favorite-nya itu. Untungnya, dia sudah lumayan bisa bicara Bahasa Jerman meski belum jago.

“Wah, terima kasih, Kang Reza!”

Reza menggarukan kepalanya dengan canggung.

“Maaf, Ren, jangan panggil saya dengan sebutan ‘Kang’. Reza saja juga tidak apa-apa.”

“Oh, oke, R-reza.”

“Nah, gitu dong. Tunggu sebentar, ya.”

“Saya pesan satu Americano,” kata Reza dalam bahasa Jerman. “Liesel,” tambahnya dengan senyum mempesonanya.

“Oh, Reza, biasanya kamu beli Espresso atau gak Vanilla Latte. Tumben sekali pesan Americano,” balas wanita Jerman bernama Liesel itu. Dia sangat cantik, tinggi, rambutnya bergelombang dan berwarna blond. Kulitnya putih dengan freckles di daerah pipinya.

“Untuk teman lama,” jawab Reza singkat.

“Teman atau teman?” ledek wanita itu sambil memproses pesanannya Reza.

“Satu Americano,” katanya ke seorang barista yang tengah sibuk membuat kopi.

“Teman saja, kok. Teman lama. Adik tingkat di kampus. Dia baru masuk kuliah.”

“Kita tidak tahu masa depan, ‘kan? Kali aja dia jodohmu. Wanita itu, ya? Cantik, aku lihat.”

“Saya masih setia dengan seseorang.”

“Masih wanita itu? Siapa? Aku lupa.”

“Ratna.”

“Ya, dia!” kata Liesel sambil memberikan secangkir Americano ke Reza.

“Secangkir Americano untuk temanmu. Bilang padanya, selamat menikmati dan jangan lupa datang kembali. Vielen Dank!”

“Oke, terima kasih kembali!” balas Reza lalu kembali ke tempat duduknya.

“Wah, lancar juga Bahasa Jerman-mu!” decak Karen kagum.

“Tentu saja. Saya sudah di sini selama setahun. Masa belum bisa bahasa negara ini,” jawab Reza sambil memberikan Americano tersebut ke Karen. “Selamat menikmati.”

“Terima kasih, Reza! Sepertinya, saya harus terus bersama kamu. Kamu mau ‘kan jadi transalator saya sampai saya bisa Bahasa Jerman?”

“Why not?”

***

“Selamat siang, Bu Ratna, saya Michelle dari Ilmu Komunikasi 2017, ingin memberitahu kalau Ibu ada jadwal mengajar di kelas Ibu sekarang, untuk mata kuliah Statistik,” ujar seorang mahasiswa dengan sangat sopan.

Ratna mengangguk.

“Ya, saya tahu, kamu tidak perlu datang ke ruangan saya segala. Sebentar lagi saya ke sana. Sebelum itu, kalian pelajari dahulu saja itu aplikasi SPSS yang sudah saya perintahkan untuk install.”

“Baik, Bu,” kata mahasiswa itu lalu meninggalkan ruangan Ratna.

“Fian, Mamah ada kelas. Nanti kita makan bareng, oke? Sekarang, kamu jangan nakal di rumah Tante Linda, ya?” kata Ratna sambil memegang handphone-nya. Dia dan Fian sekarang sedang video call-an.

“Oke, Mah!”

Ratna pun menaruh handphone-nya ke dalam tasnya.

Dia sedang mengunci pintu ruangannya saat Bu Lia, salah satu dosen PKN sekaligus teman dekatnya di kampus, datang menghampirinya dengan tergesa-gesa.

“Bu Ratna,” panggilnya dengan suara cemas. “Saya punya berita sangat penting.”

“Ada apa, Bu Lia?” tanya Ratna bingung.

“Benar dugaan Ibu waktu itu,” kata Bu Lia dengan wajah kaku. Seketika, ekspresi Ratna pun langsung berubah setelah mendengarnya.

“Jangan bicara di sini,” katanya dengan dingin. “Saya ada kelas. Nanti Ibu datang saja ke rumah saya saat makan malam.”

“Baik, Bu.”

***

Tring!

Tring!

Tri-

“Ya-ya, gua bangun!” gerutu Reza dengan mata masih tertutup. Dia pun segera beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai, bahkan beberapa kali menabrak barang di depannya.

Apartemen tempatnya tinggal bisa dibilang cukup bagus dan berada di kawasan elite juga. Selain itu, lokasinya yang hanya 6 km dari Stuttgart Airport menambah poin plus tempat ini. Karena apartemen Reza terletak di lantai paling atas, maka dia bisa melihat pemandangan kota Stuttgart dari jendela ruang tamunya.

Saat malam, suasana kota yang terang menderang oleh cahaya lampu di setiap sisi membuat pemandangan itu sangat indah dan tidak boleh dilewati.

Karena itu, Reza selalu berdiri di dekat jendela, dengan secangkir teh di tangannya, sambil melihat pemandangan kota Stuttgart pada malam hari. Terkadang, dia keluar bersama teman-teman kuliahnya, menikmati indahnya suasana Stuttgart pada malam hari.

Selesai mandi, Reza membuat sarapan berupa Mac and Cheese dan segelas susu putih. Hari ini, dia sedikit santai karena kuliahnya dimulai pada jam 10. Sekarang masih jam enam. Dia bisa pergi jogging dulu selesai sarapan.

Tiba-tiba, handphone-nya yang berada di samping televisi itu berbunyi, tapi Reza hanya mengabaikannya dan lebih memilih menikmati sarapan yang dia buat sendiri itu.
Tak lama kemudian, handphone itu berdering lagi. Sekarang masih jam enam, siapa gerangan yang meneleponnya sepagi ini?

Akhirnya, mau tak mau, dia pun mengambil handphone-nya dan melihatnya. Sebuah panggilan internasional dari Gilang.
Dia mengangkatnya dengan senang, mungkin saja ini berita tentang Ratna.

“Halo, Lang, ada apa? Kalau bisa ini penting, ya. Di Stuttgart masih jam enam soalnya.”

“Za,” kata Gilang dari seberang sana. Dia terdengar ragu. “Gue punya berita gila, Za. Ini ada kaitannya sama Ratna.”

Reza mendadak tegang. Ada apa ini? Kenapa Gilang terdengar cemas begini? Apa yang terjadi dengan Ratna?

“Kenapa dengan Ratna?” tanyanya berusaha tenang, meski hatinya sudah mulai kacau.

“Lo lihat berita dulu mending, gue kasih link-nya sekarang.”

Tring! Ada notifikasi WhatsApp masuk ke handphone-nya. Dari Gilang. Dia membuka link tersebut dengan cemas.
Berita Terhangat! Seorang Rektor dari Universitas X Terjerat dalam Kasus KKN!
Apa?

“Udah dibaca, Za?” tanya Gilang dari seberang sana.

Reza terdiam sebentar. “Iya, udah.”

“Itu bokap lo, Za, lo lihat, ‘kan?”

“Iya, nama dan wajah bokap gua ada di situ. Terus apa hubungannya dengan Ratna?”

“Lo gak marah lihat bokap lo kejerat kasus korupsi?”

Reza duduk di kursi ruang tamunya. “Gua udah tahu dari awal kalau dia ini KKN di kampus. Bingung juga kenapa baru ketahuan sekarang, padahal itu udah lama.”

“Dan lo tahu, siapa yang membongkarnya?”

“Siapa?” tanyanya bingung.

“Tante Ratna.”

What the-

“Apa?!”

“Iya, pacar lo itu yang membongkarnya. Gue gak tahu gimana caranya dia melakukan itu. Gue terlalu sibuk dengan urusan gue dan anak buah gak melaporkan apa pun ke gue. Tiba-tiba, gue dikejutkan dengan berita kayak gini. Gue gak tahu harus berbuat apa.”

Reza semakin merasa cemas. Dia tidak peduli dengan keadaan ayahnya yang sedang diselidiki karena kasus korupsi. Dia lebih memikirkan keselamatan Ratna dan siapa pun yang sudah membongkar kasus tersebut. Tidak mungkin wanita itu melakukannya sendirian. Pasti ada beberapa orang yang terlibat di dalamnya.

Teman ayahnya sangat banyak, mungkin karena mereka juga mendapatkan beberapa persen dari uang hasil korupsi tersebut. Di berita, jumlah uang yang dikorupsi ayahnya mencapai angka 300 miliar. Pasti bukan untuk dia sendiri.

Baru ayahnya yang tertangkap, pelaku lain masih belum ketahuan. Dia khawatir, mereka yang belum tertangkap ini akan melakukan sesuatu ke Ratna. Tidak mungkin mereka tidak tahu kalau Ratna lah yang membongkar kasus KKN ini.

Reza tidak berkata apa-apa selama beberapa saat. Hatinya dia masih kacau. Hal yang dia pikirkan sekarang adalah Ratna. Seandainya, dia bisa pulang ke Indonesisemua

“Santai, kawan,” balas Gilang sambil terkekeh.

“Udah dulu, ya, gue harus ketemu Mike.”

“Iya, Lang, terima kasih informasi dan bantuannya.”

“He’eh,” respon kawannya dengan malas.

“Ngomong-ngomong, gue turut menyesal lihat bokap lo kejerat kasus korupsi. Gue tahu sebenarnya lo sedih, meski gak lo tunjukin.”

Reza tertawa getir.

“Kekuasaan membuat dia begitu. Dia udah gak bisa diselamatin kecuali oleh dirinya sendiri.”

“Terus gimana perusahaan bokap lo? Pasti kasus ini bakal ngaruh banget. Lo kan kuliah buat mimpin perusahaan itu, ngegantiin bokap lo.”

“Entahlah,” Reza menatap lurus ke tembok. “Kalau bisa bangkrut aja karena gua gak harus menanggung beban yang berat dan malu yang luar biasa akibat dosa bokap gua.”

“Gue benar-benar turut menyesal, Za.”

“Gak perlu. Jaga aja Ratna dan Fian dengan baik. Oh ya, sama Linda.”

“Iya, gue bakal berusaha sebaik-baiknya di sini.”

“Trims, bro.”

“Sama-sama.”

Piip.

Reza mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya. Dia melakukan itu selama beberapa kali sebelum kemudian mencoba menghubungi Ratna yang sudah lama tidak ia hubungi.
Ternyata nomor perempuan itu sudah tidak aktif.

Reza mencoba menghubunginya via media sosial sebelum kemudian menyadari kalau Ratna tidak menggunakan itu semua karena wanita itu selalu menganggap bahwa media sosial hanya akan membuang-buang waktunya saja. Bahkan, akun Instagram-nya pun sudah dia hapus. Selain itu, meski Ratna pintar dalam segala hal, dia memiliki satu kelemahan di bidang teknologi alias gaptek, layaknya ibu-ibu pada umumnya.

WhatsApp-nya pun terakhir dilihat bulan lalu. Mungkin, Ratna mengganti nomornya dan tidak mengerti bagaimana caranya merubah nomor telepon tanpa harus membuat akun baru di WhatsApp.
Reza mulai putus asa. Bagaimana caranya agar dia bisa menghubungi Ratna? Mengapa sulit sekali menghubungi wanita satu itu?

Ah, bagaimana kalau menghubungi dia via e-mail?

Tiba-tiba, percakapannya dengan Ratna saat awal-awal bimbingan terlintas di otaknya.

“Saya tidak suka e-mail, jadi jangan kirim file draft skripsi yang sudah Anda revisi ke e-mail saya.”

“Loh, kenapa? ‘Kan lebih praktis, Bu. Bisa dibuka di mana aja.”

“Terlalu banyak pesan tidak penting di sana. Sulit bagi saya untuk mencari file-file penting. Pokoknya, jangan kirim ke e-mail.”

“Terus saya harus kirim lewat mana, Bu?”

“Via JNE saja.”

“Lebih ribet ‘kan, Bu. Harus di print dulu. Udah gitu, sampai ke Ibunya lama.”

“Banyak mau Anda. Kalau begitu, Anda datang saja langsung ke rumah saya!”

Tidak, dia tidak bisa menghubunginya via e-mail, karena Ratna tidak akan membalas. Bahkan membukanya pun tidak.

Sial, lalu bagaimana cara menghubungi Ratna?

Apa dia kirim surat saja? Tapi, surat itu tidak bisa langsung sampai, apalagi jarak antara Indonesia dan Jerman itu sangat jauh. Mereka berada di dua benua yang berbeda. Dia tidak mungkin menghubungi Pak Norman dan meminta nomor telepon Ratna yang baru, karena dia tidak punya nomor telepon Pak Norman. Dia juga tidak mungkin bertanya ke Gilang, karena sudah berjanji ke temannya untuk tidak menghubungi Ratna secara pribadi. Lagipula, dia tidak yakin Gilang punya nomor barunya Ratna. Sejak sebulan yang lalu, pria itu sangat sibuk dengan urusannya.

Oke, gua akan kirim surat, pikirnya dalam hati. Dia mengambil beberapa kertas dan pulpen di atas meja belajarnya dan mulai menulis. Beberapa kali dia mengganti kertas baru karena ingin memberi surat yang terbaik untuk Ratna. Baru kali ini dia menulis surat untuk seseorang.

Ting tong!

Reza, yang sedang menulis dengan serius, langsung terlonjak kaget karena suara dari bel pintu apartemennya.

Ting tong!

Mau tak mau, dia berdiri dan menghampiri intercom untuk melihat siapa yang datang. Orang itu ternyata Karen.

“Ada apa, Karen?” tanyanya dengan waspada melalui intercom.

Karen tersenyum lebar.

“Kamu bilang kamu mau jogging. Ayo, kita jogging bareng.”

“Saya bilang gitu?” Reza mengkerutkan dahinya bingung.

Karen mengangguk mantap.

“Iya, gak ingat, ya? Aku boleh masuk, gak? Mau numpang ke kamar mandi.”

“Darimana kamu tahu tempat tinggal saya?”

“Oh, aku gak sengaja lihat kartu mahasiswamu,” jawab perempuan itu dengan wajah bingung.

“Kenapa? Aku kelihatan lancang, ya? Maaf banget, ya. Kartumu jatuh, jadi aku ambil dan aku lupa ngebalikinnya. Ini, kartunya sekarang ada di aku, mau aku kasih. If you let me in.”

Akhirnya, Reza mengijinkan Karen masuk.

“Oke, kamu bisa masuk.”

Reza membuka pintu apartemennya dan Karen muncul dari balik pintu dengan pakaian jogging-nya yang lumayan terbuka.

“Apa pakaianmu itu tidak berlebihan?”

“Ini berlebihan? Ya ampun, Reza, aku kira kamu anak yang suka nongkrong di kelab malam setiap hari. Masa kaget lihat pakaian begini? Kamu pasti sudah terbiasa dengan pakaian yang jauh lebih terbuka daripada ini.”

Reza hanya mengangkat punggungnya dengan cuek.

“Duduk saja dulu, saya mau mandi.”

“Gak mau ajak aku? Mungkin kita bisa pemanasan dulu sebelum jogging.”

Reza langsung menyeringai.

“Kamu pikir saya cowok gampangan?”

“Aku dengar-dengar, dulu kamu itu cowok gampangan yang sukanya bermain dengan banyak wanita. Banyak wanita menangis karenamu.”

“Darimana kamu dengar soal itu, Karen?” tanyanya hati-hati.

Karen tertawa renyah.

“Rumor soal kamu paling terkenal di kampus, Kang, meski masih kalah dengan rumor soal Bu Ratna, ketua prodi PKN yang terkenal galak itu.”

Reza mengangkat alisnya yang sebelah kanan.

“Kamu percaya dengan rumor itu?”

Karen mengabaikan pertanyaan Reza.

“Oh ya, aku juga dengar tentang rumor kamu dan Bu Ratna, kalau kamu ini simpanannya Bu Ratna. Aku gak percaya kalau itu. Mana mungkin, bukan? Kamu ‘kan kasep, masih muda juga, dan keren lagi. Tidak mungkin menjalin hubungan terlarang dengan dosen seperti Bu Ratna. Memang, beliau cantik. Aku aja yang cewek suka sama kecantikannya, tapi dia ‘kan dosen pembimbingmu. Dia juga sudah lumayan tua.”

Reza langsung menegang. Dia baru tahu, kalau ternyata dia dan Ratna menjadi bahan gosip di kampus. Bukankah mereka sudah cukup berhati-hati selama ini? Apakah mereka masih kurang teliti dengan orang-orang di sekitar mereka?

“Simpanan apanya? Bu Ratna itu seorang janda,” katanya berusaha untuk terlihat tenang dan santai.

“Wah, iya? Punya anak gak?”

“Punya, satu. Usianya sudah mau delapan tahun kayaknya.”

“Cerai mati atau-”

“Mantan suaminya belum meninggal.”

Ekspresi wajah Karen langsung berubah menjadi iba.

“Wah, sayang banget wanita secantik beliau sudah menjadi janda di usia yang masih muda. Memang cinta tidak semudah itu,” katanya dengan nada pelan. “Sekarang, aku jadi semakin yakin kalau kalian tidak menjalin hubungan.”

“Loh, kenapa? Beliau ‘kan cantik, pintar, berwibawa.”

“Memang, tapi mana mungkin kamu mau dengan seorang janda. Udah punya anak lagi. Seleramu ‘kan lebih keren dari itu.”

Reza tidak menjawab lagi dan lebih memilih pergi meninggalkan Karen ke kamar mandi.

Apa yang lu tahu soal selera gua, sialan? umpatnya dalam hati. Kalau gak karena gua gak mau gosip tentang gua dan Ratna meluas, udah gua usir dia dari sini. Seenaknya aja merendahkan Ratna di depan gua.

***

Kasus Korupsi yang Melibatkan Beberapa Pejabat Negara Terungkap

Seorang Rektor Ditangkap Sebagai Tersangka Utama Kasus Korupsi

Adhi Pratama, CEO dari Pratama Group Sekaligus Rektor dari Universitas X, Telah Melakukan KKN Selama Lima Tahun

Kali Ini, Giliran Pejabat J yang Tertangkap Karena Kasus Korupsi

Pejabat C Menyusul Dua Pelaku Sebelumnya ke Sel Penjara

Masih Banyak Pejabat yang Belum Terungkap di Kasus KKN 300 Miliyar

KPK Masih Berupaya Membongkar Kasus 300 Miliyar Sampai Tuntas

Inilah Potret Keluarga Adhi Pratama, Tersangka Kasus 300 Miliyar

Dosen Universitas X Menjadi Pahlawan Kali Ini

Mirza Ratna Yustika, Salah Satu Dosen yang Terlibat dalam Pembongkaran Kasus Korupsi 300 Milyar, Menolak Untuk Diwawancarai

Reza membaca semua berita yang berkaitan dengan kasus korupsi ayahnya di handphone. Sudah satu bulan berlalu semenjak ayahnya tertangkap oleh KPK karena telah melakukan korupsi, tapi kasus ini masih berada di urutan paling atas. Semua media terus-terusan membahas kasus ini.

Saat ini, ayahnya dan beberapa pejabat yang juga terlibat benar-benar menjadi topik paling hangat di Indonesia. Wajah ayahnya tersebar di mana-mana, dengan hujatan dan makian dari para netizen di kolom komentar.

Parahnya, bukan hanya ayahnya saja yang kena imbasnya, Reza dan ibunya pun ikut muncul di media. Banyak yang memujinya tampan, banyak yang memberikan informasi palsu bahwa dia juga terlibat dalam kasus korupsi ayahnya. Banyak yang menghujatnya karena telah menggunakan uang hasil korupsi ayahnya.

Bahkan, dia dipanggil oleh pihak universitas tempatnya belajar sekarang perihal kasus yang melibatkan ayahnya, meski pun akhirnya mereka hanya bertanya beberapa hal saja.

Reza sendiri tidak mengerti mengapa pihak sana tidak mengeluarkannya dari kampus dan sedikit salut karena keprofesionalan mereka.

Sedangkan Ratna, wajah dia paling populer di media sosial ketimbang dosen lain yang juga ikut membongkar kasus ini. Hal itu sangat mengkhawatirkan bagi Reza karena keselamatan Ratna benar-benar di ujung tanduk. Dia menjadi tokoh utama dan pahlawan di kasus ini.

Padahal, setahu Reza, wanita itu tidak pernah suka dengan popularitas. Dia adalah wanita rumahan yang simple dan tidak suka diusik. Sekarang, dengan keadaan seperti ini, semua orang pasti mengenalnya. Reza khawatir kalau itu akan membuatnya terganggu atau ada orang lain yang ingin menjahatinya. Apalagi pelaku-pelaku kasus ini belum semuanya tertangkap oleh polisi dan KPK.

Dia mencoba mengirim surat untuk Ratna berkali-kali, tapi wanita itu tidak pernah membalasnya. Apa surat-surat darinya belum sampai? Seberapa lama sebenarnya pengiriman dari Jerman ke Indonesia? Padahal, dia sudah memakai jasa pengiriman yang paling bagus. Memang, bukan dia langsung yang mengirimnya, tapi Karen, karena dia sendiri yang menawarkan diri. Sekalian, katanya. Dia juga ingin mengirim barang ke Indonesia.

Wanita itu bilang dengan sungguh-sungguh kalau dia sudah mengirim surat-surat tersebut, dan Reza percaya dengannya. Sejauh ini, wanita itu bisa diandalkan dalam banyak hal. Karen sudah menjadi teman terdekatnya di Jerman, meski pun dia masih belum jera juga merayunya.

Jadi, mengapa Ratna belum membalas suratnya? Apa dia sengaja? Padahal, dia mengirim surat-surat tersebut ke alamat rumah Linda. Khawatir kalau Ratna tidak ada di rumah. Apalagi, setelah pembicaraannya dengan Gilang beberapa saat lalu via telepon.

Saat bertanya dengan Gilang, dia akhirnya mengaku kalau dia sudah lama tidak menemui Ratna, bahwa anak buahnya telah kehilangan jejak Ratna dan Fian. Mereka sudah tidak tinggal di rumah itu. Gilang juga bersumpah kalau dia sudah menghukum anak buah tersebut karena keteledorannya, dia bahkan memecat mereka.

Selain itu, dia juga mengatakan kalau dia masih berusaha mencari jejak mereka berdua, meski belum berhasil. Nomor telepon Ratna pun sudah tidak aktif, jadi pencarian menjadi semakin sulit. Linda pun sepertinya enggan memberitahu keberadaan Ratna dan Fian sekarang.

Awalnya, Reza sangat murka dan kecewa dengan Gilang, dia bahkan tidak ingin bicara lagi dengannya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Mau semarah apa pun dia dengan Gilang, pria berambut mohawk itu adalah sahabatnya dan dia tidak bisa dikatakan salah sepenuhnya.

Karena itu, Reza benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Dia sedang di Jerman sekarang, sebenarnya untuk apa? Dia sudah kehilangan sosok Ratna seutuhnya. Tidak ada kabar darinya, tidak punya nomornya, tidak ada balasan darinya.

Mengapa semuanya menjadi kacau saat dia di luar negeri? Mungkin, Tuhan memang mengharuskan dia untuk tinggal di Indonesia dan menjaga Ratna dari dekat, bukan melalui teman-temannya. Jujur saja, dia sangat menyesal. Niatnya ingin menyelamatkan Ratna dan Fian dari penderitaan, tapi sekarang dia malah kehilangan jejak ibu dan anak itu.

“Kamu masih merhatiin kasus itu?” tanya Karen yang tiba-tiba sudah ada di depannya, berdiri dengan tangan terlipat.

“Gak bosan?”

Karen punya akses penuh dengan apartemennya. Dia tahu password apartemennya, beberapa kali menginap di kamarnya, dan juga menyimpan beberapa barang di sana. Namun, meski mereka terlihat sangat dekat, Reza tidak pernah melihatnya dengan cara romantis.

Bagi dia, Karen bagaikan seorang adik yang ia tidak pernah punya. Mau bagaimana pun wanita itu menggodanya, Karen hanya akan dia anggap sebagai saudara. Kebebasan Karen di apartemennya adalah sebagai bentuk tali persaudaraan itu.

“Ini ‘kan melibatkan Papahku, tentu saja aku harus selalu update,” jawab Reza dengan mata masih menatap layar handphone-nya.

“Masih belum ketangkep semua pelakunya?”

Reza mendesah pelan.

“Belum, ternyata banyak juga yang terlibat.”

Karen duduk di sampingnya dan menyalakan TV.

“Ngomong-ngomong, kamu juga jadi terkenal di media sosial, Za. Semuanya membahas betapa kerennya kamu dan menyesal karena baru tahu kalau kamu itu ada. Bahkan, ada yang heran kenapa kamu tidak jadi artis saja.”

Reza langsung terkekeh geli.

“Aku emang seganteng itu.”

“Langsung deh, pede tingkat tinggi.”

“Itu ‘kan kenyataan,” katanya dengan santai.

“Ngomong-ngomong, aku buat surat lagi, bisa tolong kirimkan?”

Karen langsung menoleh ke arahnya dengan cepat.

“Lagi? Memangnya udah dibalas yang kemarin?”

Reza menggeleng lemah.

“Belum, karena itu aku mau coba kirim lagi.”

Karen langsung mengabaikan TV di hadapannya dan duduk menghadapi Reza.

“Aku selalu penasaran, orang yang kamu kirimin surat itu siapa? Kenapa gak langsung via chat aja?”

“Aku tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Nomornya sudah tidak aktif dan dia tidak punya media sosial.”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku yang pertama, siapa sih dia ini?”

“Hanya seseorang yang aku kenal.”

“Aku gak suka jawaban itu.”

“Dia orang yang spesial.”

Karen tidak menjawab beberapa saat.

“Kamu punya pacar di Indonesia?”

“Mantan, lebih tepatnya.”

“Wah, aku tidak pernah tahu soal itu. Aku tidak pernah melihatmu menjalin hubungan yang serius dengan seseorang.”

“Aku memang sengaja merahasiakannya, demi privasi orang itu.”

“Terus, kenapa masih ngurus?”

“Karena aku masih mencintainya.”

Karen langsung berdiri dan melihat ke arah lain.

“Baik, aku akan kirimkan suratmu untuk siapa pun dia. Mana suratnya?”

Reza mengambil surat tersebut dari laci dan memberikannya ke Karen dengan penuh harap.

“Kali ini, semoga surat ini dibalasnya.”

Karen hanya mengangguk dan meninggalkan apartemen tersebut tanpa berkata apa-apa lagi.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat