Bu Ratna Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 20

“Apa yang kamu ingin bicarakan?” tanya Reza setelah melihat Ratna di hadapannya.

Wajah wanita itu terlihat dingin, kaku, dan sedikit kacau. Sepertinya, Ratna sedang mengalami suatu masalah.

Sebetulnya, Reza pun sedang dalam kondisi yang sama. Semenjak pembicaraannya dengan ayahnya seminggu yang lalu, dia merasa gelisah. Sepertinya, ayahnya akan melakukan sesuatu yang jahat terkait hubungannya dengan Ratna. Pasalnya, Ratna hampir celaka kemarin oleh sebuah mobil berwarna hitam yang terus mengikutinya kemana-mana.

Dia sudah menduga kalau ayahnya pasti menemui Ratna juga. Toh, mereka bekerja di lingkungan yang sama. Pasti tidak sulit bagi ayahnya untuk bertemu Ratna. Apalagi, dia adalah atasannya Ratna.

Tadi siang, Ratna memintanya untuk bertemu di restoran tempat mereka biasa makan bersama. Tidak di rumah atau pun di kantor. Pasti ini karena Ratna sudah tidak tahan dengan kehidupannya yang selalu terancam. Pasti ini tentang mereka yang ayahnya bilang sebagai affair.

Affair, lucu sekali. Bagaimana bisa hubungan ini disebut affair? Hubungan ini adalah hubungan paling tulus dan serius dari semua hubungan dia selama ini. Seenaknya saja menyebut ini affair.

Mereka bahkan tidak lagi bertukar kabar semenjak dari Inggris. Hilang kontak begitu saja. Ratna seperti enggan untuk membalas pesannya. Mungkin dia tidak ingin Reza tahu apa yang sudah terjadi padanya beberapa hari ini, meski percuma saja karena Reza selalu menjaganya di mana-mana.

“Duduk dulu,” balas Ratna singkat, menghentikan semua umpatan yang sedari tadi dia sudah sebut-sebut untuk ayahnya dalam hati.

Reza pun duduk dengan tenang. Kali ini, suasana di antara mereka benar-benar tidak baik. Reza merasa tidak nyaman.

“Lalu, ada apa?” tanyanya lagi dengan nada mendesak. Dia tidak ingin lama-lama terjebak dalam kondisi ini.

“Seminggu yang lalu, ayahmu menemuiku.”

“Oh.”

“Aku pikir ada benarnya juga apa yang dia bicarakan denganku.”

“Oke.”

“Mungkin, sebaiknya kita hentikan hubungan ini demi kebaikan bersama.”

“Oh.”

“Hanya begitu responmu?” tanya Ratna tidak percaya.

Sesungguhnya, Reza tidak bermaksud untuk bersikap datar soal ini. Dia hanya berusaha untuk bersikap tenang, tidak dikuasai oleh emosi yang dia rasakan sejak dua hari yang lalu.

“Apa hanya itu yang ingin kamu sampaikan padaku?”

“Apa maksudmu?”

“Tidak ada lagi yang mau kamu bicarakan selain kamu bertemu dengan Papah?”

Ratna langsung membuang muka. Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu.

“Tidak ada,” katanya pada akhirnya.

Reza terdiam lagi. Ekspresinya sulit digambarkan.

“Papah juga bicara denganku.”

“Oh, ya?”

“Ya, dia bilang hal yang sama.”

“Lalu, apa pendapatmu soal ini?”

Reza menghembuskan napasnya dengan kasar.

“Aku tidak tahu.”

“Tidak tahu?”

Reza diam. Dia benar-benar tidak ingin berada di posisi ini. Bagaimana caranya melanjutkan hubungan ini tanpa membahayakan Ratna dan Fian? Dia bahkan tidak begitu peduli dengan nasibnya lagi. Biarlah hidupnya ada di tangan ayahnya, asalkan jangan ibu dan anak itu.

Sial, air matanya memaksa untuk keluar kalau mengingat bagaimana kemarin wanita yang dicintainya hampir celaka.

“Aku tidak ingin membahayakan hidupmu. Papah bilang dia akan membuat hidupmu berantakan kalau kita masih bersama. Aku tahu kalau itu bukan cuma gertakan. A-ku juga tidak ingin menghentikan hubungan kita. Aku sangat mencintaimu, Ratna. A-apa hal itu adalah sebuah kesalahan? Mengapa hidupmu selalu dalam bahaya semenjak aku datang?”

Ratna terpaku. Di hadapannya sekarang, Reza sedang menangis seperti anak kecil. Seorang Reza menangis, lelaki yang selama ini dikenal sebagai manusia tak punya hati menangis karena dia.

“R-reza, jangan menangis,” katanya dengan panik. Untuk restoran di sana cukup sepi karena sudah larut malam. Restoran itu memang buka 24 jam.

“A-aku, selama hidupku, hanya ingin memperlakukanmu dengan baik. Aku hanya ingin bersamamu sampai kapan pun, bersama Fian. Aku ingin menjadi pelindungmu sampai akhir, tapi bagaimana bisa kalau aku menjadi penyebab yang membuat hidupmu dalam bahaya? Karena Papah. Karena lelaki tua yang tidak pantas disebut Papah. Mengapa dia sampai tega begitu? Di mana Papahku yang dulu, saat Kakek masih ada? Apa yang harus aku lakukan agar Papah kembali seperti dulu lagi?”

Ratna terdiam mendengar penuturan Reza yang dibarengi oleh air matanya yang berjatuhan. Sangat jarang melihatnya seperti ini. Reza jarang sekali membahas rasa sedih yang diakibatkan orang tuanya. Dia selalu membalas dengan candaan saat Ratna bertanya mengenai hubungan dia dengan orang tuanya. Cuek dan benar-benar tidak peduli, itulah Reza ke orang tuanya.

Bahkan, ketika anak itu akhirnya menceritakan orang tuanya, Reza hanya bersikap biasa saja. Tidak ada guratan kesedihan di wajahnya. Semuanya terlihat biasa saja. Kadang Ratna berpikir, apakah dia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan orang tuanya?

Kalau Gilang tidak bercerita, tentu Ratna tidak akan tahu kalau Reza sering bertengkar dengan orang tuanya di rumah. Rasa sedihnya yang tidak pernah ia tunjukan, membuatnya merasa malu sekaligus kesal. Ratna dikenal sebagai orang yang tidak gampang menunjukan sisi lemahnya, termasuk cerita masa lalunya.

Namun, di hadapan Reza, dia sudah meruntuhkan semua dinding agar pria itu bisa masuk dan melihat semua hal tentang dirinya. Dia sudah menunjukan semua emosinya ke Reza, tidak ada lagi yang disembunyikan. Bagaimana bisa Reza tidak melakukan hal yang sama?

Reza yang dihadapannya sekarang benar-benar seorang anak yang tumbuh tanpa orang tua di sisinya. Nakal, seenaknya, kurang ajar, tapi menyimpan rasa kesepian yang begitu mendalam di hatinya. Dia adalah Reza Nikola Pratama, bukan Si Cassanova Bandung Punya.

“Reza, tenanglah,” kata Ratna. Dia mendekati lelaki itu dan membawanya ke pelukannya.

Selama ini, Reza selalu memeluknya duluan. Saat dia bersedih, saat dia marah, saat dia kehabisan akal. Kali ini, biarkan dia yang memeluknya duluan.

Reza membenamkan kepalanya di dada Ratna. Dia masih menangis tersedu-sedu, sambil sesekali bergumam: Aku hanya ingin memperlakukanmu dengan baik. Apakah itu suatu yang ilegal?

***

“Sudah tenang?” tanyanya setelah merasakan kalau Reza sudah berhenti menangis.

Laki-laki itu mengangguk pelan, lalu melepaskan pelukannya dengan canggung.

“Maaf, aku sudah membuat bajumu basah,” katanya pelan.

Wajahnya sedikit memerah karena malu. Sementara matanya bengkak karena menangis.

Ratna tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa. Kamu selalu memberikanku dadamu saat aku bersedih, kali ini biarkan aku melakukan hal yang sama.”

Reza hanya terdiam. Dia masih tidak berani menatap balik Ratna. Gerak-geriknya menjadi sangat canggung.

“Kamu kenapa jadi begitu? Apa pelukanku kurang nyaman?” tanya Ratna khawatir.

Jangan-jangan, badanku bau makanya dia bersikap begitu, pikirnya dalam hati.

Reza ingin membalasnya, namun masih terlihat ragu. Dia pun kembali mengurungkan niatnya.

“Hey, kenapa kamu begitu? Bener ya kalau pelukanku gak nyaman? Aku bau, ya?”

“Bukan begitu,” sanggahnya dengan cepat.

“A-ku hanya malu,” tambahnya lagi dengan tergagap.

Ekspresi wajah Ratna yang sebelumnya khawatir, kini menjadi bingung.

“Kenapa harus malu?”

“Aku tidak pernah menangis lagi semenjak Papah menamparku saat SMP, karena aku berkelahi demi mendapatkan perhatian Papah.”

“Untuk apa kamu begitu? Tidak ada yang salah dengan menangis.”

Reza mendesah.

“Papah bilang, lelaki mana boleh menangis. Nanti akan terlihat seperti pecundang. Papah benci dengan pecundang. Dulu, aku tidak ingin dibenci Papah. Itu sudah menjadi kebiasaan sampai sekarang meski aku sudah tidak peduli lagi kalau Papah membenci aku atau tidak.”

“Hey,” kata Ratna tidak terima.

“Mau lelaki atau bukan, semua makhluk hidup diberi hak untuk menangis. Kamu juga sama, boleh menangis. Menangis itu bikin kamu lebih lega, benar ‘kan? Berarti ayahmu memiliki pikiran yang sempit. Percuma dapat gelar profesor.”

“Dia memang begitu,” balas Reza menyetujui.

“Dia memang selalu begitu, tapi entah apa yang merasukiku sehingga percaya kalau dia masih memiliki sisi baik di dirinya,” katanya dengan nada lirih.

“Jangan begitu, tidak ada manusia yang sepenuhnya jahat, loh.”

“Sudah lama aku tidak melihat sisi baiknya.”

“Nanti, saat itu akan tiba.”

Mereka terdiam lagi selama beberapa saat, sibuk berkutat dengan pikiran mereka masing-masing.

“Aku pikir, aku akan setuju denganmu kali ini,” kata Reza tiba-tiba. Pandangannya lurus menatap Ratna.

“Tentang?”

Dia mengambil napasnya perlahan, lalu menghembuskannya.

“Mungkin memang sebaiknya kita selesai dulu, demi kebaikanmu dan Fian. Kamu sudah melewati banyak hal selama ini. Aku tidak ingin membuatmu menderita lagi, apalagi karena aku. Aku tahu persis bagaimana kelakuan Papah. Dia akan melakukan apa saja agar keinginannya bisa terwujudkan.”

“Demi kebaikan kita bertiga,” Ratna mengkoreksi. “Aku juga tidak mau hidup kamu menderita karena aku.”

“Tidak pernah sekali pun kamu membuatku menderita. Kamu itu seperti oasis di kehidupanku yang gersang.”

Ratna tertawa tak percaya.

“Lagi kayak gini juga kamu masih bisa menggombal?”

“Itu sudah menjadi bagian dari diriku, susah dihilangkannya,” balas Reza sambil tersenyum lebar.

Ratna kembali tertawa dan menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Aku akan pergi ke Jerman untuk kuliah. Sepertinya, aku juga harus melanjutkan perusahaan Papah setelahnya. Mungkin, kalau aku melakukan apa yang dia mau, dia akan mengijinkan kita bersama. Mungkin dia tidak akan mengganggumu lagi. Maukah kamu menungguku?”

Ratna terdiam. Dia melihat ke arah lain dengan wajah sendu.

“Entahlah,” jawabnya dan membuat Reza menatapnya kecewa.

“Mungkin kamu nanti sudah menemukan pacar baru. Pacar yang lebih cantik, lebih muda, dan lebih pantas berada di sisimu.”

Reza langsung menggenggam tangan kekasihnya yang sedang berada di atas meja.

“Kamu itu wanita yang paling pantas di sisiku, Ratna. Kamu itu cantik, pintar dan rajin, sayang keluarga. Aku tidak butuh yang lain selama kamu masih di dunia ini.”

“Kita tidak bisa menentukan segala hal, Za. Gak ada yang tahu pasti soal masa depan. Gak ada yang tahu soal takdir kita nanti. Kalau ternyata kita tidak ditakdirkan bersama, mau bagaimana lagi?”

“Kalau- Kalau nanti kita bertemu lagi dalam keadaan masih saling mencintai, apakah kamu mau bersamaku lagi?”

“Mungkin saja.”

Reza tersenyum puas.

“Aku pasti akan merindukanmu, Ratna.”

“Aku juga, akan sangat merindukanmu.”

“Jangan lupa datang ke wisudaku nanti.”

“Lihat saja, kalau jadwalku tidak padat.”

“Kamu masih saja memikirkan pekerjaan, padahal itu bisa jadi saat terakhir kita bertemu.”

“Bukannya lebih bagus itu? Kalau aku melihat kamu untuk yang terakhir kalinya, semakin terasa sulit untuk melepaskanmu pergi.”

Reza mendesah pasrah.

“Kalau gitu, hari ini aku mau menghabiskan malam denganmu.”

“Iya, ayo kita bersama malam ini. Aku juga mau memelukmu lagi.”

“Benarkah tidak ada lagi yang ingin kamu ceritakan? Khususnya, kejadian dua hari yang lalu. Kamu baik-baik saja?”

“…. tidak ada, Reza. Jangan khawatir. Lihat, aku baik-baik saja.”

***

“Jadi, kalian berpisah?” tanya seseorang di sebrang sana. Nadanya terdengar jengkel.

“Iya.”

“Hanya karena ayahmu tidak menyetujui hubungan kalian?”

“Masalahnya tidak sesederhana itu, Nadda.”

“Kamu menunggu dia selama ini, bersamanya meski dia terus mengabaikan cintamu, melakukan segalanya untuk dia, dan ketika akhirnya kalian bersama, hubungan kalian cuma seumur jagung?”

“Saya juga ingin kita berakhir selamanya, tapi mau bagaimana lagi? Saya tidak ingin membahayakan hidupnya.”

“Kamu tidak seharusnya menyerah semudah itu. Mungkin ayahmu hanya menggertak.”

“Saya tahu dia orang yang bagaimana!” bentak Reza marah.

“……”

“Oke, maaf karena sudah membentakmu. Tapi saya dan Ratna sudah memutuskan kalau ini adalah cara terbaik.”

“Kalian bahkan baru pacaran sebulan.”

“Memang, tapi kenangannya sudah tidak terhitung.”

“Lalu, kenapa kamu melepaskannya?”

“Sudah saya bilang, saya harus melakukannya, Nad, kehidupan Ratna dan Fian menjadi terancam karena saya!”

“Ayahmu hanya menggertak saja. Aku yakin itu.”

“Siapa bilang? Kamu pikir saya bicara tanpa bukti? Sejak beberapa hari yang lalu, semenjak kami pulang dari Inggris, setelah Papah datang ke saya, saya melihat ada satu mobil yang terus mengikuti mereka kemana-mana. Mobil itu bahkan tidak pergi saat malam tiba. Ratna menyadari hal itu, karena itulah dia memanggil saya kemarin. Apa kamu tahu? Dua hari yang lalu, Ratna hampir tertabrak saat sedang berjalan ke pasar. Untungnya, dari semenjak Reynaldi masih berkeliaran, saya sudah meminta Gilang untuk meminjamkan dua anak buahnya agar bisa menjaga mereka berdua kemana-mana. Ratna bisa selamat karena itu. Sepertinya, anak buah Gilang merasa bersalah karena keteledorannya waktu itu sehingga membuat Fian diculik. Itu membuatnya jadi lebih sigap.”

“…. kamu memang berbeda, Za.”

“Saya harus memastikan kalau Ratna baik-baik saja meski tanpa saya di sisinya. Dan saya tahu betul kelakuan Papah.”

“Apa kamu yakin, dengan kamu melepaskannya, dia bisa selamat begitu saja?”

“Tidak ada salahnya mencoba.”

“Kamu sudah tidak ada di sisinya, Za.”

“Saya akan terus meminta Gilang untuk mengawasinya dan melaporkan ke saya kalau terjadi sesuatu.”

“Beruntung, teman-temanmu begitu peduli.”

“Ratna itu tantenya Gilang, wajar kalau dia peduli.”

“Sebentar lagi, kita tidak akan bertemu lagi? Pertemanan kita cukup sampai sini?”

“Tentu, Nadda. Maka dari itu, hiduplah dengan benar. Jangan merebut suami orang lagi.”

“Kamu juga hati-hati, Za. Aku akan merindukanmu. Terima kasih sudah memperbaiki hubunganku dengan Bu Ratna.”

“Ya, sama-sama.”

Piip.

***

“Selamat, Reza! Akhirnya lo wisuda juga!” seru Gilang dengan antusias setelah melihat kawannya keluar dari gedung tempat upacara wisuda berlangsung.

Kawannya itu sekarang terlihat sangat tampan dan menawan dengan toga di kepalanya. Karena perasaan yang luar biasa bahagia itulah, ia pun memeluk sahabat karibnya dengan sayang.

“Bangga gue sama lo, Za. Setelah penantian lama lo, akhirnya bisa jadi sarjana juga,” ucapnya lagi, kali ini lebih pelan.

Reza hanya tersenyum dan menepok punggung temannya dengan sayang, sebelum kemudian melepaskan pelukan tersebut.

“Jangan peluk-peluk, gua bukan maho,” balasnya dengan nada bercanda. Dia langsung tertawa renyah ketika melihat Gilang memutar bola matanya dengan malas.

“Gue juga bukan maho kali!”

Masih tertawa, Reza mengajak Gilang untuk mengambil beberapa foto bersama sambil menunggu yang lain datang. Gaya-gaya aneh mereka keluarkan ketika berpose di kamera canggih milik adik tingkat Reza yang kebetulan menjadi fotografer di acara wisuda.

Tak lama kemudian, Mike, Lingga, dan Rangga datang menghampiri mereka berdua.

“Parah lu, Za. Foto gak ajak-ajak kita!” seru Mike tak terima.

Sementara, Rangga, tanpa banyak bicara, langsung memasang aksi absurd-nya di samping Gilang, sambil meminta si fotografer untuk mengambil beberapa foto mereka. Di sisi lain, Lingga mengambil pose paling depan dan membuat keempat temannya yang lain tidak terlihat di kamera.

“Jangan ngalangin kita, woy!” seru teman-temannya kompak.

Akhirnya, lima sahabat itu kembali berkumpul setelah kejadian Reynaldi waktu itu. Mereka tertawa bersama sambil sesekali menjadikan Reza sebagai bahan ledekan karena dia adalah peran utamanya hari ini.

Sesekali, mereka bisa merasakan orang-orang di sekitar melihat mereka dengan pandangan bermacam-macam. Kaum perempuan melihat mereka dengan pandangan terpesona, sementara kaum lelaki melihat mereka dengan pandangan kesal dan iri.

“Kang Reza!” teriak seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah adik tingkatnya Reza yang juga sedang wisuda seperti Reza. Adik tingkat itu sudah berusaha mendekatinya semenjak masuk kuliah.

“Ya, ada apa, Karen?” sahut Reza sambil tersenyum. Dia memang selalu ramah dengan semua perempuan, tipikal playboy.

“Selamat ya, Kang, akhirnya wisuda juga!”

“Selamat juga, Karen, akhirnya kamu wisuda tepat waktu. Gak kayak saya, telat dua tahun.”

Sontak kawan-kawannya langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkataannya. Reza hanya bisa melihat mereka dengan tampang pura-pura sebal.

“Iya, Kang. Saya gak nyangka bisa lulus barengan sama Kang Reza. Kayaknya, kita jodoh deh, Kang.”

Tawa kawan-kawannya Reza semakin kencang setelah mendengar perkataan Karen. Mereka tidak menyangka kalau gadis yang kelihatannya lugu dan lucu seperti Karen bisa menggoda juga.
Mereka memang sudah tahu soal Karen, karena Reza beberapa kali mengungkapkan kerisihannya yang terus-terusan dikejar oleh adik-adik tingkatnya, terutama Karen.

Mereka mengakui kalau perempuan ini cukup cantik, meski masih kalah dari Bu Ratna. Sebenarnya, mereka ingin Reza menjalin hubungan dengan Karen, tapi sayangnya, temannya itu malah kepincut dengan dosen pembimbingnya sendiri.

“Ah, haha, iya, terima kasih, Karen, tapi kalau menikah kayaknya gak mungkin, ya? Saya mau langsung ke luar negeri setelah wisuda,” jawab Reza canggung sambil sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Setelah berpacaran dengan Ratna, dia memang sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membalas godaan para wanita yang menggodanya. Sepertinya, kemampuannya sebagai seorang Cassanova sudah hilang.

Raut wajah Karen menjadi sedih. “Loh, mau ngapain ke luar negeri, Kang?” tanyanya saat tahu kalau orang yang ditaksirnya semakin jauh digapai.

“Mau kuliah lagi, lanjut S2,” jawab Reza sambil tersenyum.

“Udah dulu ya, Karen? Teman-teman saya sudah pada pergi. Sampai jumpa lagi di lain waktu,” katanya lagi lalu pergi meninggalkan Karen dan menghampiri teman-temannya.

“Bros, main tinggalin gua aja!” gerutu Reza setelah akhirnya berhasil menyusul langkah kaki mereka

Lingga melihatnya dengan pandangan dingin, Rangga dan Mike bahkan enggan menatapnya, mereka lebih memilih fokus dengan keadaan sekitar.

“Loh, kenapa kalian tiba-tiba begini? Gua salah apa?” tanya Reza heran saat melihat teman-temannya yang mendadak memperlakukannya dengan dingin.

Sementara, kawan-kawannya masih mengabaikannya.

Dia mencoba bertanya ke Gilang yang terlihat paling mendingan. Meski ekspresi kawannya itu juga tidak terlalu enak. Namun, Gilang hanya menjawabnya dengan, “tanya aja sendiri.”

“Lang? Mike? Lingga? Rangga?” panggilnya lagi dengan hati-hati.

“Kuliah di luar negeri?”

Akhirnya, Rangga mengeluarkan suaranya dan melihat ke arah Reza setelah sedari tadi melihat ke arah lain.

“S2?” Kali ini, Lingga mengeluarkan suaranya juga, tatapannya masih dingin.

“Kenapa lu gak cerita apa-apa soal itu, Za?” tanya Rangga kali ini.

Reza terdiam setelah mendengar pertanyaan dari ketiga sahabatnya itu. Memang salahnya, dia tidak pernah menceritakan apa-apa soal itu. Hanya Gilang yang tahu.

“Sebenarnya, gua juga gak ingin pergi, tapi ini perintah bokap gua,” jawabnya pelan setelah menghelakan napasnya sejenak.

“Gilang, lu tahu soal ini?” tanya Mike ke Gilang yang sedari tadi hanya diam dan sedikit menundukkan kepalanya. Gilang melihatnya sekilas lalu mengangguk.

“Reza, Gilang tahu soal ini dan kita bertiga engga?” tanya Rangga tak percaya lalu mulai menyalakan rokoknya. Tanda kalau dia sudah kesal.

“Dan lucunya, kita tahu karena lu kasih tahu Karen. Kalau lu gak ngobrol ama dia, kita gak akan tahu!”

“Gue juga tahu dari Mamahnya, Ngga. Dia gak akan cerita kalau gue gak nanya langsung ke dia,” jawab Gilang berusaha menjelaskan.

“Za, lu mau sampai kapan kayak gini? Kita sohib lu! Gila, kita gak dianggap apa selama ini?” Lingga melipatkan tangannya di dadanya.

“Bukan gitu, Lang, terlalu berat untuk diceritain. Gua gak mau pisah sama kalian sebenarnya.”

“Lu pergi kapan?”

“Hari ini.”

“Apa?!” teriak mereka berempat bersamaan.

“Sumpah, gue baru tahu yang ini,” kata Gilang tak percaya.

“Za, lu pergi hari ini dan kita baru tahu sekarang?!” teriak Rangga frustasi.

“Gila lo, Za. Gila.”

“Lagian, ngapain sih lu pakai acara kuliah lagi? Lu mau sampai kapan anjir kuliah? Kapan kerjanya? Katanya lu mau nikahin Ratna!” Kali ini, Mike yang mendampratnya dengan emosi.

Reza terdiam lagi saat mendengar nama Ratna. Apa kabar wanita itu ya? Apakah dia tidak akan datang ke wisudanya? Padahal, Ratna lah yang paling antusias dengan wisudanya. Padahal, dia sudah memohon-mohon supaya wanita itu bisa datang ke wisudaannya saat malam terakhir mereka bersama.

“Ngomong-ngomong, mana pacar lu? Kok gak kelihatan?” tanya Lingga bingung.

“Gua… udah putus dengan Ratna,” jawab Reza lirih.

“Apa?”

“Gua udah putus dengan Ratna. Ya, ini semua keputusan kita berdua sih. Bokap gua udah ikut campur, dan gua takut hidup Ratna gak tenang kalau masih sama gua sekarang. Ratna juga gak mau menjadi beban buat hidup gua, dia bilang begitu. Kita terpaksa mengakhirinya. Semua karena Bapak Tua sialan itu!” bentak Reza lalu mendenguskan napasnya kasar.

“Hubungan gua udah berakhir. Gua harus berangkat ke luar negeri untuk membuat bokap gua berhenti menaruh perhatiannya ke Ratna. Dia hampir membunuh pacar gua, brengsek!”

“Sialan juga bapak lo! Dia tante gue!” seru Gilang tak terima.

Dia langsung merasa bersalah karena tidak terlalu memerhatikan tantenya dengan benar. Meski Om Rey dan Tante Ratna sudah cerai, tapi dia selalu menganggap kalau Tante Ratna ini adalah tantenya yang dia sayang.

“Karena itu, Lang, gua minta tolong banget sama lu, tolong jaga Ratna baik-baik selama gua di luar negeri. Kalian juga, tolong jaga Ratna. Gua gak mau dia kenapa-kenapa. Fian dan Linda juga. Gua ke luar negeri buat melindungi Ratna.”

Mereka berempat menganggukkan kepalanya dengan pelan.

“Iya, kita bakal lindungi dia. Kita janji,” kata Mike dengan tenang.

“Tenang, Za. Gue bakal mengerahkan semua anak buah gue buat jagain Tante Ratna. Bagaimana pun dia tante gue, dia masih gue anggap bagian dari keluarga,” kata Gilang dengan menggebu-gebu.

“Terima kasih, kalian semua. Gua banyak hutang banget, ya, ke kalian, terutama setelah ketemu Ratna.”

“Hey,” sanggah Rangga dengan cepat. “Kita kan sohib.”

“Jijik tapi bener,” balas Lingga dengan tampang geli.

“Lo kuliah di mana emang, Za?”

“Jerman,” jawab Reza pelan.

“Stuttgart.”

“Jauh banget anjir,” keluh Rangga tidak suka.

“Jangan lupa balik, Sob.”

“Iya, tenang aja. Tanah air gua cuma Indonesia kok.”

Setelahnya, mereka berusaha melupakan kepergian Reza dan fokus dengan kegiatan bersenang-senang mereka sampai kepergiannya tiba, yaitu pada pukul 11 malam.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat