Bu Ratna Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 19

Sekarang mereka sedang berada di Portobello Road Market, pusat penjualan barang antik di London. Kalau kalian belum tahu, Reza dan Ratna adalah pecinta barang antik, meski belum sampai ke tahap penggila barang antik, tapi mereka mempunyai beberapa koleksi barang antik di rumahnya.

Sepanjang jalan, kita bisa melihat para pedagang saling berjejer dan menjajakan dagangannya. Kondisi pasar itu tidak kumuh dan banyak sampah, benar-benar sangat dijaga kebersihannya, meski agak sesak karena banyak sekali orang yang ke sana. Kalian bisa melihat warga London dan turis dari berbagai belahan dunia sibuk bertransaksi dan bernegoisasi seperti layaknya pasar tradisional pada umumnya.

Di sana, naluri Ratna sebagai wanita mulai mengambil alih. Entah sudah keberapa kalinya dia meninggalkan Reza dan sibuk mencari barang yang bisa ia beli (serta menawarnya agar lebih murah). Ketika dalam satu jam Reza hanya mendapatkan dua barang, Ratna sudah mendapatkan sekitar 10 barang.

Sekarang yang Reza khawatirkan adalah saat pulang. Mereka baru dua hari di sini dan Ratna sudah berniat untuk memenuhi bagasi pesawat dengan barang-barang antiknya.

Ngomong-ngomong, Pasar Portobello ini adalah pasar yang sering Reza dan kakeknya kunjungi dahulu. Meski banyak yang berubah di sana, tapi dia masih bisa merasakan kebahagiaan bersama kakeknya di pasar itu.

Bagaimana dulu kakeknya membelikan barang-barang yang bagus, bagaimana dulu kakeknya selalu bersikap ramah kepada setiap penjual sampai membuatnya dikenal oleh penjual-penjual di sana, bagaimana kakeknya memperkenalkan dirinya ke teman-teman penjualnya dengan bangga. Mungkin mereka tidak akan mengingat Reza lagi karena dia sudah sangat jarang ke sini.

“Hoi, kenapa melamun?” tanya Ratna tiba-tiba dan membuyarkan pikiran Reza.

“Aku habis flashback, dulu sering ke sini dengan kakek,” jawab Reza.

“Sudah selesai belanjanya?”

“Sudah. Gimana ini ya dibawa ke Indonesianya. Pasti nombok nih buat bagasinya. Kenapa juga aku beli semua in?” keluh Ratna karena kesalahannya sendiri.

Reza pun tertawa terbahak-bahak saat mendengar keluhan kekasihnya sampai membuat Ratna menginjak kakinya karena kesal.

“Aduh!” teriak Reza kesakitan dan terpaksa menghentikan kegiatan tawanya.

“Itulah sebabnya kalau menertawakan orang,” sahut Ratna dingin.

“Tapi ‘kan itu salahmu yang belanja sebanyak ini!” omel pria itu kesal.

“Ya, tapi kamu juga gak usah sampai menertawakan aku!” balas Ratna tak mau kalah.

“Lagian kamu kocak banget, kamu yang belanja kamu yang ngeluh. Dasar wanita!”

“Aku tuh minta dikasih saran bukannya diketawain! Dasar gak peka!”

Ratna pun meninggalkan Reza sendirian dan membuat Reza geleng-geleng kepala sendiri. Wanita memang sulit dimengerti.

***

Seperti belum lelah, malam harinya mereka kembali jalan-jalan. Mood Ratna sudah kembali bagus, wanita itu memang tidak pernah lama kalau kesal. London di waktu malam benar-benar indah, cahaya lampu menambah keromantisan kota ini, ditambah lagi dengan udaranya yang dingin.

Di hadapan mereka sekarang berdiri dengan kokoh sebuah kincir raksasa yang sangat besar. Orang biasa memanggilnya London Eye. Kalau kalian ke London, jangan lupa naik wahana ini agar kalian bisa melihat kota London yang cantik secara keseluruhan.

Setelah membayar tiket, mereka pun langsung menaiki wahana tersebut dan mulai menikmati perjalanan mereka di atas Sungai Thames. Dari London Eye, mereka bisa melihat kemegahan Big Ben, House of Parliament, Buckingham Palace dan St. Paul’s Cathedral.

Di dalam kincir tersebut cukup luas, mereka bisa berdiri sambil menikmati pemandangan dari jendela. Cahaya lampu kota London semakin terlihat mempesona dari ketinggian 40 km. Sungai Thames pun juga terlihat semakin terlihat indah.

Ratna menatap jendela dengan perasaan tidak karuan. Dia tidak menyangka kalau pemandangan dari London Eye akan terlihat begitu cantik. Ada rasa penyesalan di hatinya karena tidak mengajak Fian, pasti anak itu akan sangat antusias jika berada di sini.

Aku akan mengajaknya ke sini suatu saat nanti, janjinya dalam hati.

Sementara Reza, dia lebih memilih mengagumi wanita di depannya itu ketimbang melihat pemandangan sekitarnya. Dia tahu betul apa yang dipikirkan oleh kekasihnya, pasti Ratna sedang membayangkan kalau Fian ada di sini. Meski tidak mengakuinya, dia tahu kalau Ratna sangat merindukan anaknya meski mereka baru dua hari pergi.

“Kamu terlihat kagum dengan pemandangan di balik jendela itu, Bu Ratna,” katanya lalu menyentuh tangan Ratna yang terasa cukup dingin.

Ratna hanya tersenyum saat mendengar perkataan Reza, dia terlalu sibuk memperhatikan Big Ben yang berada di seberang mereka. Dia juga sibuk mengagumi kemegahan St. Paul’s Cathedral dengan gaya arsitektur Baroque-nya.

“Sekarang aku tahu alasan kamu begitu mencintai Inggris,” katanya tiba-tiba setelah terdiam cukup lama.

Reza yang mendengarnya pun langsung tersenyum.

“Ini baru London dan kamu sudah terkagum-kagum begini, gimana kalau kuajak ke kota lain yang tidak kalah cantik dari London?” ledeknya.

“Aku siap kamu ajak ke mana aja, mau ke pelosok-pelosok Inggris pun. Aku sangat suka Inggris,” balas Ratna.

“Lain kali, kita akan pergi dengan Fian, oke?” tawar Reza.

Ratna langsung menatap kekasih di sampingnya itu dengan berbagai emosi. Sampai sekarang, dia tidak mengerti mengapa Reza memilihnya yang sudah berumur dan punya anak satu ini. Bahkan, dia juga dekat dengan anaknya dan menyayanginya seperti anaknya sendiri. Dia merasa tidak berhak. Reza terlalu baik untuknya.

“Jangan berpikir macam-macam. Nikmati saja perjalanan ini dan kesampingkan perasaan-perasaan gelisahmu. Kalau Tuhan mengijinkan, kita akan pergi bertiga, atau berempat dengan Linda ke Inggris. Biarkan Inggris menjadi kota kenangan kita seperti antara aku dan mendiang kakekku,” ucap Reza dengan hangat.

“Aku akan mengajakmu ke Inggris setiap tahun supaya kita bisa menjelajahi semua daerah Inggris, baik yang sering didatangi oleh turis sampai yang paling jarang didatangi oleh turis. Inggris akan menjadi negara kedua kita setelah Indonesia,” tambahnya lagi, kali ini membalas tatapannya Ratna yang sedari tadi memperhatikannya.

“Kamu tahu ‘kan kalau aku cinta kamu?” tanya Ratna tiba-tiba sampai membuat Reza sedikit membelalakkan matanya.

Dia sangat jarang mendengar kata-kata itu keluar dari bibir mungil Ratna. Karena itulah, saat dia mendengar Ratna mengucapkannya secara sukarela, Reza sedikit tidak percaya.

“Tumben kamu ngucapin duluan,” balasnya setelah beberapa lama.

“Berbahagialah, jarang-jarang aku ngucapin duluan.”

“Iya, aku bahagia sekali. Aku cinta kamu juga, Ratna. You have no idea. Aku tidak bisa lagi mencintai orang selain kamu,” ucap Reza menggebu-gebu.

“Terima kasih sudah membuat aku percaya dengan cinta lagi, Reza.”

“Aku tidak akan pernah lelah membuat kamu percaya dengan cinta, Ratna.”

***

Seminggu sudah berlalu. Sudah waktunya untuk Reza dan Ratna kembali ke Indonesia dan rutinitasnya. Terutama Ratna. Pekerjaannya sudah menumpuk di kantor. Entah sudah berapa orang yang memintanya pulang dan kembali bekerja.

Maka, dengan berat hati, mereka kembali setelah menghabiskan hari di London, Bath, Gaslow, dan Birmingham. Semuanya hanya menjadi kenangan yang tersimpan di kamera handphone masing-masing.

Setelah sampai di Bandung, Ratna tidak langsung ke rumah. Pak Saeful, wakil dekan fakultas tempatnya bekerja, memintanya untuk ke kampus karena ada meeting yang harus dihadiri olehnya.

Ratna merasa sedih tentunya, dia ingin bertemu dengan Fian yang masih menginap di rumah Linda. Dia ingin memberikan oleh-oleh dari Inggris untuk anak sematawayangnya. Sayangnya, itu harus ditunda dahulu.

Sementara Reza, dia kembali ke rumahnya. Ada perasaan kosong saat dia memasuki rumah itu. Seperti ada yang kurang. Mengapa hari-hari terasa singkat di Inggris? Reza masih belum merasa puas. Seandainya mereka tinggal di sana selama sebulan, tidak, selamanya.

Mungkin semuanya akan terasa lebih indah. Rumahnya memang besar dan indah, tapi tidak terasa nyaman. Entahlah, mungkin karena sepi.

Dengan langkah gontai, Reza berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Namun, sebelum dia membuka pintu kamarnya, tiba-tiba seseorang memanggilnya.

“Reza, Papah ingin bicara.”

Reza tidak menoleh. Dia hanya berdiam diri di depan kamarnya selama beberapa saat.

“Tentang?” tanyanya pada akhirnya.

“Soal kamu dan pacarmu.”

Kaget dan bingung, itulah yang sedang Reza rasakan. Mengapa Papah tiba-tiba membicarakan pacarnya? Apa dia tahu kalau selama ini Reza menjalin hubungan dengan Ratna?

“Pacar saya?”

“Ya, pacarmu, Bu Ratna. Kamu pikir Papah tidak tahu? Lucu sekali kamu menjalin hubungan dengan dosenmu sendiri.”

Reza menoleh dengan cepat. Dia menatap ayahnya dengan tatapan khawatir, ketakutan, dan marah.

“Mengapa Papah mau membicarakan Ratna?” tanyanya berusaha tenang.

“Sebaiknya kita duduk dulu.”

“Saya tanya, mengapa Papah mau membicarakan Ratna?” tanyanya lagi, kali ini penuh penekanan, seolah-olah berkata: Mau kau apakan Ratnaku? Jangan macam-macam dengan dia!

“Kamu penasaran?” balas Pak Pratama sambil tersenyum simpul. Dia mendekati Reza dengan langkah pelan.

“Suaramu seperti berusaha menahan amarah. Bukannya saya yang seharusnya marah dengan kelakuanmu? Bagaimana bisa kamu menjalin hubungan dengan dosenmu sendiri?”

“Itu sama sekali bukan urusan Papah.”

“Oh, tentu saja itu urusan saya!” suara ayahnya mulai menggelegar.

“Apa kau lupa kalau saya ini seorang rektor di tempat kamu belajar? Apa kamu lupa kalau Bu Ratna itu mengajar di sana? Secara teknis, dia adalah karyawan saya. Dan kamu, anak saya, memilih untuk menjalin hubungan terlarang dengan karyawan saya sendiri. Oh, pasti ini akan menjadi skandal yang menghebohkan, bukan? Wartawan tentu akan senang datang ke kampus! Seperti waktu itu!”

“Antara saya dan Ratna itu bukan hubungan terlarang.”

“Lalu, apa? Affair? Reza, apa kamu pernah menggunakan otakmu sedikit saja? Kalau sampai orang tahu kamu menjalin hubungan dengan dosenmu, tentu mereka akan menghujat kalian berdua. Saya tidak tahu kalau Bu Ratna suka anak muda, tapi pasti citranya sebagai dosen terhormat akan tercoret setelah skandal ini keluar. Apa kamu mau seperti itu?”

Reza diam, meski di dalam hatinya mulai bergejolak dengan hasrat ingin memukul ayahnya sendiri.

“Saya tidak peduli apakah kamu benar-benar mencintai dia atau hanya penasaran saja, tapi saya bilang hentikan sekarang. Saya ingin kamu berhenti menjalin hubungan dengannya. Kamu sudah membuat saya malu! Wanita itu, terlepas dari bagaimana dia mengajar, sudah membuatmu tertangkap polisi dua kali. Dia hanya membawa pengaruh buruk!”

“Jangan merendahkan Ratna di depan saya!” balas Reza tak terima. Napasnya mulai memburu.

“Dengarkan Papah, Reza, kalau kamu mau Ratna tidak mendapatkan cemooh dari orang-orang, sebaiknya kamu selesaikan hubungan ilegalmu. Sebentar lagi kamu wisuda, dan setelah itu kamu akan saya bawa ke Jerman untuk melanjutkan S2.”

“Hubungan kami tidak ilegal! Saya memang lebih muda dari Ratna, tapi saya bukan anak di bawah umur. Tidak ada yang salah dengan hubungan kami! Dan saya tidak ingin pergi ke Jerman, berhenti mengatur hidup saya!”

“Hubungan kalian salah, karena Ratna adalah dosen kamu dan dia adalah seorang janda!” bentak Pak Pratama.

“Lalu, kamu tidak mau sekolah di Jerman? Lucu sekali, memangnya kamu bisa apa? Jaman sekarang, sarjana tidak terlalu dibutuhkan. Mereka semua jadi pengangguran!”

Pak Pratma mengacak pinggangnya dan menatap Reza dengan tatapan merendahkan. “Kamu mau jadi pengangguran ketika berpacaran dengan Ratna? Bukannya dia sudah punya anak? Memangnya kamu tidak malu?”

“Saya akan mencari kerja. Saya sebentar lagi lulus.”

Pak Pratama langsung tertawa terbahak-bahak.

“Loh, kamu pikir gampang mencari kerja di jaman sekarang? Pikiranmu naif sekali, padahal gayanya sok dewasa.”

“Hidup saya itu urusan saya. Papah tidak bisa memaksa saya untuk pergi ke Jerman. Saya tahu kalau Papah bermaksud membuat saya tidak berhubungan lagi dengan Ratna, bukan? Itu rencana Papah yang sebenarnya.”

“Dengarkan apa kata saya, jangan banyak membantah!”

“Berhenti mengatur hidup saya!” bentak Reza tak mau kalah.

“Kamu tahu sendiri apa yang akan saya lakukan kalau kamu tidak melakukan apa yang saya katakan.”

“Apa? Mencoret saya dari daftar warisanmu? Saya gak peduli. Ambil saja semuanya. Saya lebih memilih menjadi miskin ketimbang harus diatur terus oleh Papah.”

“Kamu pikir saya hanya akan membuat hidupmu berantakan?” tantang Pak Pratama dengan senyum menyeringai.

“Saya bisa membuat hidup pacarmu dua kali lebih berantakan daripada kamu.”

Bibir Reza langsung terkatup rapat.

“Jangan ganggu dia,” geramnya.

“Oh tidak, saya tidak akan ganggu dia dan anaknya, selama kamu menuruti apa kata saya.”

Reza menggertak bibirnya. Tangannya terkepal dengan kuat.

Pak Pratama membalikkan badannya dan pergi meninggalkannya.

“Hentikan hubungan sialanmu itu dan pergi ke Jerman,” katanya untuk terakhir kalinya.

***

“Bu Ratna.”

Ratna menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum saat melihat siapa yang memanggilnya.

“Pak Norman,” sapanya dengan ramah.

Pak Norman memang ditolak cintanya oleh Ratna, tapi itu tidak membuat sikapnya ke Ratna berubah. Bahkan, Pak Norman sudah begitu baik mau merahasiakan hubungannya dengan Reza.
Pak Norman menghampirinya sambil tersenyum.

“Sudah lama tidak melihat Ibu, bagaimana suasana Inggris? Nyaman kah?”

“Jauh lebih bersih ketimbang Bandung, tapi lebih lembab,” balas Ratna bercanda. Mereka pun tertawa bersama.

“Apa tidak ada oleh-oleh untuk saya?”

“Oh, ada!” seru Ratna bersemangat.

“Sayangnya, saya tinggalkan di rumah. Besok akan saya bawa.”

Senyuman di bibir Pak Norman makin melebar.

“Wah, terima kasih, Bu.”

“Sama-sama, Pak.”

Mereka terdiam beberapa saat karena Ratna membuka handphone-nya yang berbunyi.

“Ngomong-ngomong, saya kesini mau ngasih tahu kalau Ibu diminta ke rektorat sekarang,” kata Pak Norman.

Ratna yang sedang menatap handphone-nya dengan wajah bingung, kini mengalihkan pandangannya ke Pak Norman dengan wajah semakin bingung.

“Aneh,” jawabnya.

“Pak Asep juga meminta saya untuk ke rektorat. Ada apa ya?”

“Saya juga kurang tahu. Katanya Pak Pratama mau bicara dengan Ibu. Apa ada masalah di antara kalian?”

Ratna mengerutkan keningnya bingung.

“Saya tidak membuat masalah. Pekerjaan juga tidak saya tinggalkan begitu saja hanya karena pergi ke Inggris. Hari ini, saya sudah sibuk sekali karena pekerjaan.”

“Mungkin masalah Reza? Pak Pratama kan orang tua anak itu.”

“Memangnya kenapa dengan Reza? Dia sebentar lagi wisuda, kan? Lagian, kalau anak itu memang membuat masalah, saya pasti yang tahu duluan.”

“Wah, saya kurang tahu, Bu, sebaiknya Ibu langsung tanya ke dia ada apa.”

Ratna terdiam, dia berpikir selama beberapa saat, kemudian mengangguk.

“Baik, saya akan bicara dengannya.”

***

“Selamat siang, Pak Pratama.”

“Selamat siang, Bu Ratna. Silahkan duduk.”

Ratna pun duduk di tempat yang telah disediakan. Ruangan milik pimpinan universitas itu cukup besar. Lumayan berbeda dengan ruangan miliknya yang sederhana. Sofanya pun begitu empuk, sepertinya harganya mahal. Di dindingnya terdapat berbagai macam penghargaan dan foto-foto dokumentasi.

Di ujung ruangan terdapat lemari yang berisi buku-buku yang cukup banyak dengan ketebalan yang lumayan. Sepertinya, kebanyakan buku-buku di sana menggunakan bahasa Inggris.

Pak Pratama duduk di singgasananya yang terletak di dekat jendela. Di depannya ada komputer yang cukup mahal harganya. Sementara, di mejanya terdapat banyak sekali laporan yang harus ia tandatangani.

“Ada yang Bapak ingin bicarakan dengan saya?” tanya Ratna hati-hati ketika melihat Pak Pratama bangun dari tempat duduknya dan meminta OB di sana untuk membuatkan teh untuk dia dan Ratna.

“Saya dengar, Ibu ini tetangga saya, ya?” tanya Pak Pratama mencoba berbasa-basi.

Ratna semakin bingung dengan arah pembicaraan ini. Mengapa tiba-tiba Pak Rektor memberikan pertanyaan yang bersifat pribadi?
Meski ragu, tapi akhirnya Ratna menjawabnya.

“Ah, iya, Pak. Saya memang belum pindah lama. Maaf, kalau saya tidak pernah mampir ke rumah Bapak, saya cukup sibuk dan saya tahu Bapak pun sibuk.”

“Kita tetanggaan, tapi saya tidak pernah bertemu dengan Anda. Saya merasa tidak enak, sepertinya saya memang bukan tetangga yang baik,” balas Pak Pratama lalu tersenyum dan berhasil membuat jantung Ratna makin ketar-ketir memikirkan apa yang sebenarnya bapak ini ingin sampaikan.

“Jangan khawatir, Pak, lagipula saya juga jarang di rumah karena sibuk dengan pekerjaan saya di kampus dan sibuk mengurus anak saya. Mohon maaf sekali lagi.”

“Tidak apa-apa, saya maklum kalau Anda sibuk. Menjadi dosen tidak mudah, apalagi menjadi single parent dan mengurus anak yang masih kecil sendirian.”

Ratna hanya bisa tersenyum canggung saat mendengar perkataan dari ayahnya Reza.

Ada apa ini? Mengapa Pak Pratama memberikan pertanyaan personal begini? pikirnya dengan gelisah.

“Mengenai anak saya, Reza,” ucap Pak Pratama lagi.

“Saya tahu kalau Ibu sedang menjalin suatu hubungan dengan dia.”

Tenggorokan Ratna langsung mendadak kering.

“Sejujurnya, Anda lebih baik mencari calon suami yang lebih kompeten ketimbang anak saya. Dia wisuda saja belum, setelah wisuda belum tentu dapat pekerjaan. Usianya masih terlalu muda untuk hal-hal yang serius seperti itu. Sedangkan Ibu sudah dewasa dan matang, Ibu juga sudah punya anak. Pasti tidak lagi menjalin hubungan yang hanya bersifat main-main.”

“Jadi, apa yang ingin Bapak sampaikan sebenarnya?” tanya Ratna sedikit tidak sabar karena tidak ingin lagi mendengar basa-basi di saat dia sudah sangat lelah dengan pekerjaannya seharian ini.

“Apa yang saya ingin sampaikan adalah intinya, sebaiknya Anda mengakhiri hubungan Anda dengan anak saya. Anda pasti lebih mengerti mana yang baik dan mana yang tidak ketimbang Reza. Anda sudah dewasa. Sedangkan Reza, ia masih muda. Bukankah menyakitkan kalau misalnya nanti dia meninggalkan Anda karena cintanya telah habis? Biasanya mereka cepat bosan.”

Ratna langsung tersenyum kecut.

“Maaf, Pak, saya tidak bisa. Saya sudah berjanji ke Reza untuk tidak menyerah begitu saja dan tetap berada di sisinya,” jawabnya setelah itu. “Jika hanya itu yang ingin Bapak sampaikan, maka sebaiknya saya pamit saja,” tambahnya lagi dengan nada dingin seperti es.

“Apa Anda yakin, Bu Ratna? Jangan membuat keputusan tanpa berpikir dulu.”

Dingin dan mengancam. Itulah sorot mata yang diberikan Pak Pratama untuknya. Sebelum bertemu Reza, dia hampir tidak mengenal pemimpin universitas itu. Banyak yang memanggilnya sebagai rektor licik, culas, dan seorang maling. Namun, entah kenapa, Pak Pratama masih bertahan di posisinya sebagai rektor meski dengan pamor yang buruk.

“Apa yang Bapak harapkan dari saya?”

“Saya sudah curiga dengan Anda dari awal, saat Reza terlibat masalah karena menyelamatkan Anda dan anak Anda. Dua kali. Dia bahkan masuk ke penjara karena menyelamatkan Anda dari siapa pun itu saya tidak peduli. Saya juga sudah meminta Anda untuk tidak lagi berurusan dengannya, kalau perlu berhenti menjadi dosen pembimbingnya karena Anda hanya akan membawa pengaruh buruk untuk anak saya. Tapi Anda malah mengabaikan permintaan saya dan menjalin hubungan dengannya.”

Pak Pratama berdiri dan berjalan ke jendela. Dia menatap pemandangan di luar sana dengan serius.

“Apa Anda pernah memikirkan apa yang akan orang-orang bilang soal hubungan kalian? Kehebatan Anda selama ini bisa hancur begitu saja karena affair yang kalian sebut cinta. Sebegitu pentingnyakah cinta untuk Anda sampai rela mengorbankan semua yang Anda gapai dengan susah payah selama ini? Harga diri yang sudah Anda bentuk selama bertahun-tahun untuk menghindari bajingan-bajingan yang merendahkan Anda. Mantan suami Anda, contohnya. Saya selama ini kagum dengan Ibu, tapi kali ini saya kecewa sekali.”

“Bagaimana Bapak bisa tahu soal mantan suami saya?” tanya Ratna berusaha untuk mengkontrol emosinya.

“Itu tidak penting,” jawab Pak Pratama dengan tajam.

“Anda harus tahu, saya akan melakukan apa saja untuk memisahkan kalian berdua, termasuk memboyong dia ke luar negeri agar dia bisa studi di sana dan melupakan Anda sepenuhnya,” tambahnya lagi lalu melihat ke Ratna sambil tersenyum sinis.

Dia kembali berjalan menuju tempat duduknya dengan angkuh.

“Saya kira Anda bukan orang yang egois, Bu Ratna. Hubungan kalian hanya menahan Reza mengepakkan sayapnya lebih jauh. Reza adalah satu-satunya anak saya dan dia seorang lelaki. Tentu Anda pasti mengerti karena Anda juga orang tua. Anda juga pasti ingin melihat Reza sukses dan berhasil dengan hidupnya. Bersama dengan Anda, anak itu hanya memikirkan bagaimana caranya menikah dengan Anda. Bukankah itu menyedihkan?”

Ratna terdiam setelah mendengar perkataan dari atasannya itu. Sejujurnya, dia sangat setuju dengan perkataannya, bahwa dia hanya sebagai penghalang Reza dalam menggapai mimpinya. Dia bahkan tidak tahu apa yang dicita-citakan oleh Reza, pekerjaan apa yang dia mau, apa tujuan hidupnya. Yang dia dengar selama ini hanyalah bagaimana Reza ingin dapat kerja agar bisa menikahinya.

“Saya yakin sebagian dari diri Anda setuju dengan saya. Coba pikirkan baik-baik, Bu. Perkataan saya ini demi kebaikan Anda dan Reza. Anda juga harus tahu, saya akan melakukan apa saja untuk mengembalikan Reza ke jalan yang benar, termasuk mengambil semua yang menjadi miliknya. Saya juga bisa menghancurkan masa depannya. Dia tidak bisa apa-apa tanpa saya. Saya akan merusak semua koneksinya dan membuat dirinya hidup di jalanan. Pikirlah, kalau Anda memang mencintai anak saya, lepaskan dia.”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat