Bu Ratna Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 1

Hari-hari selanjutnya, Reza harus menjalani hari-harinya bersama dosen pembimbingnya yang temperamental itu. Entah sudah berapa kali dirinya disiksa oleh Bu Ratna, baik secara fisik maupun secara mental. Entah sudah berapa kali juga Reza harus menahan amarahnya karena kelakuan ibu-ibu satu itu yang menurutnya absurd.

Misalnya….

“Reza, saya tidak suka dengan draft Anda yang ini. Ulang!”

“Tapi Bu… Saya sudah merevisinya selama sembilan kali dan mengikuti semua yang Ibu inginkan! Saya juga sudah baca semua buku yang Ibu perintahkan!”

“Saya tidak mau tahu, ulang. Deadline malam ini.”

Anjir!

Atau….

Bletak!

“Aduh, Bu?! Kenapa saya dijitak?!”

“Karena Anda tidak paham juga dengan penjelasan saya. Anda tahu tidak fungsi Bab 2 ini apa? Jangan hanya menjiplak dari buku yang Anda baca. Bab 2 ini yang akan menjadi landasan berpikir Anda di Bab 4! Anda sudah kuliah hampir enam tahun tapi masih belum paham juga! Bodoh sekali! Dasar otak udang!”

Hah?!

Bahkan kadang…

“Selamat siang, Bu. Saya sudah di depan ruangan Ibu untuk bimbingan. Tapi kok pintunya dikunci ya?”

“Oh ya, saya lupa beri tahu Anda. Saya sedang ada rapat di Surabaya, bimbingan dibatalkan.”

“Terus, kapan lagi bimbingan, Bu?”

“Tidak tahu. Sudah, saya sibuk.”

What the?!!1

Bagaimana bisa ada dosen yang kelakuannya benar-benar bikin pusing kepala? Kalau pembunuhan itu tidak dosa dan tidak melanggar hukum, mungkin Reza akan melakukannya. Ini sudah hampir satu bulan dan mereka masih stucked di Bab 2!

Mengapa dosen pembimbing tunggalnya itu harus memiliki sifat perfeksionis dan keras kepala?! Sok sibuk pula! Gara-gara bimbingan skripsi, penampilannya yang biasanya charming kini menjadi seperti gembel.

Jarang mandi, jarang makan, jarang tidur. Bahkan dia pun yang biasanya tiap weekend meluangkan waktunya untuk berdisko di klub malam, kini mulai hampir tidak pernah.

Tapi kali ini, karena terlalu depresi, dia pun pergi ke klub malam langganannya, yaitu klub malam milik sahabatnya sendiri, Gilang.

Di depannya sudah ada minuman Vodka tapi matanya terlihat menerawang, mengamati orang-orang yang sibuk bersenang-senang di lantai dansa. Kebanyakan dari mereka sudah setengah sadar karena pengaruh alkohol di tangan mereka.

Reza mengisap rokoknya lalu mengembuskannya perlahan, seperti ingin melepaskan bebannya yang selama ini dia pendam. Reza bukan perokok akut. Dia hanya akan merokok ketika pikirannya kalut. Kali ini, semua karena Ratna! Mati saja dia! Sumpah demi apa pun, amarah Reza karena dosen pembimbingnya itu sudah mencapai puncaknya.

ARGH!

Teriakan Reza berhasil membuat beberapa pengunjung di diskotik itu menoleh ke arahnya. Reza yang menyadari itu langsung meminta maaf dan menutup wajahnya sedikit karena malu.

“Kenapa lo, Bro?” tanya Gilang, kawan sekaligus pemilik klub tersebut, saat melihat Reza begitu frustasi.

“Biasalah, skripsi,” jawab Reza singkat lalu meneguk kembali Vodka-nya.

Gilang yang melihatnya langsung duduk di sampingnya dan menepuk-nepuk pundak kawannya berusaha memberi semangat. “Gue paham kok rasanya, Za. Been there, done that.”

“Lu harus tahu gimana kelakuan dosen pembimbing gua, Lang. Pasti lu juga gak bakal kuat menghadapi nenek-nenek sihir kayak dia kalau lu ada di posisi gua!” gerutu Reza frustasi.

“Eh, dosen pembimbing gue ini kritis abis, Za. Gue harus revisi berkali-kali waktu dibimbing oleh beliau!”

“Dosen pembimbing lu ini suka nyiksa secara fisik juga gak? Kata-katanya pedas gak? Suka sok sibuk dan seenaknya gak? Demen ngehujat gak? Dingin dan kaku gak?”

Gilang berpikir sejenak berusaha mengingat-ingat masa-masa saat dia masih mengerjakan skripsi.

“Beliau memang demen ngehujat dan seenaknya sih. Tapi kayaknya kalau sampai nyiksa secara fisik sih gak. Beliau juga gak kaku.”

“Selamat! Lu lebih mending ketimbang gua!”

“Emang dosen pembimbing lo kenapa dah? Cerita coba.”

Reza menghelakan napasnya sejenak lalu meneguk kembali minumannya. Setelah itu, dia mulai menceritakan semuanya termasuk kelakuan-kelakuan dosen pembimbingnya yang menurutnya terlalu sadis.

Sementara Gilang hanya bisa menahan tawa saat mendengar cerita dari kawannya itu. Baru kali ini ada seseorang yang bisa membuat Reza frustasi karena biasanya bocah itu tidak mudah merasa terganggu dengan siapapun. Hanya orang tuanya saja yang bisa membuatnya meledak-ledak dan kali ini sepertinya bertambah satu orang, yaitu dosen pembimbingnya sendiri. Dia jadi penasaran dengan Bu Ratna, namanya mirip dengan seseorang yang dulu pernah ia kenal.

“Ya udahlah, Za,” bujuk Gilang berusaha menenangkan. “Tuh, banyak cewek-cewek cantik di lantai dansa. Ambil!!”

Reza menatap ke arah lantai dansa sejenak lalu diteguknya sekali lagi Vodka di depannya dan segera menuju lantai dansa untuk menari bersama gadis-gadis sexy seperti yang dulu ia selalu lakukan.

Masa bodo dengan dosen pembimbing sialannya itu! Biarin gua malam ini bersenang-senang! pikirnya puas.

***

Bunyi handphone yang cukup keras berhasil membangunkan Reza. Hari sudah pagi dan matahari belum sepenuhnya menunjukkan sinarnya. Reza mengerjap-ngerjap matanya beberapa kali dan berusaha bangkit tapi kepalanya terasa pusing sekali. Begitulah efek alkohol, Reza sudah hapal betul rasanya.

Matanya melirik ke sebelah kanannya. Di sana terlihat seorang wanita yang tidak dia kenal tanpa mengenakan sehelai benang sedikit pun dan hanya ditutupi dengan selimut.

Sejenak Reza berpikir apa yang telah terjadi semalam dan kemudian merutuki dirinya sendiri karena penyakit lamanya belum kambuh juga, yaitu bermain bersama wanita saat sedang mabuk. Ya, dia memang mabuk berat semalam. Mungkin karena stres berkepanjangan akibat dosen pembimbing cantiknya satu itu.

Dia pun segera berpakaian dan langsung beranjak dari ruangan tersebut, tak peduli dengan wanita yang sedang tidur di sebelahnya tadi. Saat di dalam lift, dia memeriksa handphone-nya untuk melihat semua notifikasi yang telah masuk ke handphone-nya setelah ia tinggalkan semalaman. Matanya sedikit membesar saat melihat WhatsApp dari Bu Ratna.

Datang ke rumah saya hari ini, kita bimbingan. Saya tunggu jam 10 pagi. Rumah saya di daerah Gedebage, depan Superindo, gang Sindang Sari. – Bu Ratna.

Dengan reflek dia pun melihat jam dan makin terbelalak karena jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Saat pintu lift terbuka, dia langsung berlari ke arah parkiran dan menuju motornya dengan sangat cepat.

MAMPUS, GUE TELAT DAH!

Setelah lari-larian seperti orang gila, numpang mandi di pom bensin dan sarapan gorengan di jalan, akhirnya Reza sampai di depan rumahnya Bu Ratna. Rumah itu tidak terlalu besar tapi sangat bersih.

Di halamannya terdapat taman yang makin dipercantik dengan adanya air terjun kecil buatan dan kolom ikan yang tidak terlalu besar. Selain itu, terdapat pohon mangga yang cukup besar sehingga membuat rumah Bu Ratna terasa rindang.

Matanya melihat sebuah dua sepeda yang terparkir dengan sangat rapi di depan terasnya, yang satu besar dan yang satunya lagi kecil.

Berarti Bu Ratna ini sudah punya anak? pikir Reza.

Setelah sampai di depan pintu rumahnya Bu Ratna, dia pun langsung memencet bel yang menempel di dinding dekat pintunya.

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan keluarlah seorang wanita yang meski wajahnya terlihat polos tanpa make up dan rambutnya diikat asal tapi malah terlihat makin cantik. Ya, dia adalah Bu Ratna.

“Reza, Anda telat tiga menit.”

Reza yang sedari tadi terpana melihat kecantikan wanita di depannya ini langsung terkesiap saat mendengar suaranya.

“Oh iya Bu, macet di jalan. Maafkan saya.” Tentu saja bohong. Jalanan hari ini lancar jaya begitu. Beruntung si Reza, dia hanya telat tiga menit. Coba kalau jalanan sedang macet, bisa satu jam.

“Ya sudah, masuk.”

Bu Ratna membimbing Reza masuk ke rumahnya dan memintanya untuk duduk di ruang tamu.

“Saya buatkan minum dulu, tunggu.”

“Eh Bu, gak usah. Jadi merepotkan…”

“Halah, bilang saja Anda sebenarnya ingin.” Tanpa menunggu balasan dari Reza, Bu Ratna langsung pergi ke dapur.

Reza sedikit canggung di sana sendirian. Untuk mengurangi perasaan canggungnya, akhirnya dia melihat-lihat keadaan di ruang tamu tersebut. Tidak terlalu besar memang, tapi sekali lagi, sangat rapih dan bersih.

Di dinding-dindingnya terdapat beberapa lukisan serta hiasan-hiasan antik yang makin memperindah ruangan itu. Bahkan di mejanya pun terdapat pajangan-pajangan yang terlihat antik. Sepertinya Bu Ratna suka barang antik.

Matanya tak sengaja menangkap sebuah foto yang terletak di tengah-tengah meja. Foto tersebut berisi seorang lelaki dan seorang perempuan yang sedang menggendong bayi. Mereka terlihat sangat bahagia.

Wanita itu sudah pasti Bu Ratna, tapi pria itu siapa? Apa suaminya? Jadi, Bu Ratna sudah tidak sendiri lagi? Ya tentu sajalah, orang secantik Bu Ratna tidak mungkin masih single.

Mampus, jadi waktu itu gua nyium istri orang! batinnya dalam hati.

Tapi kok gak ada foto pernikahan mereka ya? tambahnya.

“Sedang apa Anda?” Suara Bu Ratna berhasil mengejutkan Reza sedikit. Dia kemudian menoleh ke arah sumber suara, terlihat di sana Bu Ratna sedang memperhatikan Reza dengan pandangan penuh selidik.

“Ah, tidak, Bu. Saya sedang melihat-lihat saja. Ibu punya banyak pajangan dan lukisan yang bagus.”

“Jangan membuang-buang waktu Anda untuk melihat-lihat barang-barang saya. Lekas duduk,” perintah Bu Ratna lalu meletakkan segelas kopi dan toples yang berisi kue di meja.

“Iya, Bu…”

Reza pun segera duduk di sofa lagi dan meminum kopi di depannya. Dia juga tak lupa mengambil kue. Memang dasar tukang makan.

“Jangan makan terus. Mana draft Bab 3 nya?”

“Oh ya, bentar, Bu.”

Reza membuka tasnya dan mengambil draft miliknya, lalu memberikannya ke wanita di depannya. Bu Ratna mengambil draft itu dengan cekatan dan membacanya. Wajahnya terlihat serius dan selalu anggun seperti biasanya.

“Anda sudah berhasil menyelesaikan Bab 2,” katanya setelah membaca draft-nya Reza. “Selanjutnya berikan saya draft Bab 3 yang waktu itu sudah saya corat-coret di pertemuan pertama kita. Setelah Bab 3 selesai, Anda bisa mengikuti Prasidang,” tambahnya.

“Baik, Bu.”

Tiba-tiba, telepon di rumah Bu Ratna berbunyi.

“Sebentar, saya angkat telepon dulu. Nanti Anda makan di sini saja, tunggu saja dulu. Anak saya sebentar lagi pulang.”

Setelah itu, dia pun lekas menuju ke tempat teleponnya berada.

Reza akhirnya, mau tak mau, menunggu lagi di ruangan tersebut sambil memainkan handphone-nya. Sesekali dia mengambil kue yang berada di atas meja. Tiba-tiba, seorang anak kecil muncul dari balik pintu. Umurnya mungkin sekitar enam tahunan. Laki-laki dan tampan, wajahnya persis dengan wajah Bu Ratna.

“Mamah, Ian pulang!” teriak anak tersebut sambil membuka sepatunya. Untuk anak sekecil itu, dia sudah cukup mandiri.

Setelah selesai membuka sepatunya, dia langsung masuk ke ruang tengah untuk menemui ibunya. Tapi sebelumnya dia menoleh ke arah Reza yang juga sedang memperhatikannya. Wajahnya yang polos terlihat penuh tanda tanya.

“Loh, Kakak siapa?”

***

“Loh, Kakak siapa?”

Anak tersebut melihat Reza dengan tanda tanya, yang berhasil membuat pemuda itu sedikit salah tingkah.

“Nama kakak Reza, kamu siapa?”

“Nama aku Ian. Kakak ngapain di lumah Ian?”

Saat ingin menjawab pertanyaan anak tersebut, Bu Ratna datang menghampiri mereka.

“Loh, Ian sudah pulang? Bisa pulang tanpa Mamah kan? Tante Linda jemput gak?” tanya Bu Ratna dengan penuh perhatian sambil mengambil tas anaknya yang sedari tadi menempel di punggung anaknya dengan hati-hati.

“Iya! Tadi Ian diantelin sama bundanya Laka soalnya Tante Linda lama datengnya! Ian naik motol! Ian duduk di depan dong! Takut jatoh ih, ngeli…” jawab anak itu dengan penuh semangat dan sedikit bergidik ngeri di akhir perkataannya.

“Hahaha… Yang penting gak jatoh kan Ian nya? Kan anak Mamah jagoan!”

“Iya dong, Ian kan Hulk! Mamah, Ian lapel…”

“Hulk-nya Mamah laper? Ya udah, sana ganti baju dulu. Mamah udah masak makanan kesukaan kamu, Sayang. Bakwan jagung!”

“Wah, benel, Mah? Yey! Oke! Ian ganti baju dulu… Oh ya, salim dulu dong, Mah!”

Setelah salim, anak itu pun lekas pergi ke kamarnya sambil bernyanyi-nyanyi dengan riangnya. Bu Ratna yang melihat itu hanya bisa tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.

Reza tertegun melihat tawa Bu Ratna. Sumpah demi apa pun, bahkan tawanya Bu Ratna begitu indah. Baru kali ini dia melihat sosok Bu Ratna yang hangat dan keibuan, karena selama ini yang dilihat dari wanita itu hanyalah kebengisan dan kesadisan yang tiada tara.

Ternyata ibu-ibu tua itu memiliki sisi yang seperti ini juga.

Tanpa sadar, hatinya Reza juga sedikit menghangat.
Bu Ratna yang merasa diperhatikan oleh Reza, langsung menghentikan tawanya dan menoleh ke arah pria itu. Tatapannya kembali tajam.

“Maaf kalau berisik, dia anak saya. Namanya Fian. Dia memang begitu, sangat ceria. Namanya juga anak kecil,” katanya berusaha menjelaskan situasi mereka sekarang.

“Oh ya, gak apa-apa, Bu. Saya malah senang melihat anak itu. Lucu dan ganteng. Jadi ingat waktu saya kecil, lucu dan ganteng juga. Hehehe…” balas Reza dengan pedenya.
Cengiran Reza berhasil membuat Bu Ratna melempar bantal di sampingnya.

“Gak usah cengar-cengir, jelek. Lagian, masih lucuan anak saya lah daripada Anda,” cibir Bu Ratna setelah memutar bola matanya dengan malas.

“Loh kok begitu sih, Bu? Lihat deh, saya ini tampan begini loh, Bu. Banyak wanita suka sama saya. Saya ini Cassanova-nya kampus! Masa Ibu gak setuju, sih?”

“Maaf, Anda bukan tipe saya.”

Perkataan terakhir Bu Ratna berhasil membuat Reza memanyunkan bibirnya ke depan seperti bebek. Bu Ratna yang melihatnya pun hampir ingin tertawa. Tapi tidak jadi, harus berwibawa.

“Mamah, Ian udah selesai!” teriak anak kecil itu lagi dari arah ruang tengah.

“Iya, Sayang! Ayo, Nak Reza. Kita makan bersama.”

Selama acara makan berlangsung, Fian tak henti-hentinya bercerita tentang sekolahnya, teman-temannya, guru-gurunya, dan lain-lain. Dia menceritakannya dengan penuh antusias. Memang enak jadi anak kecil, hidupnya bahagia terus.2

Setelah lelah bercerita, mata Fian melihat ke arah Reza yang sedari tadi fokus dengan makanannya karena tidak tahu harus bicara apa.

Bayangkan saja kalian kalau harus makan bersama dengan dosen pembimbing killer yang selama ini sudah menyiksa kalian secara fisik dan secara mental! Bersama dengan anaknya pula! Mengapa dia tiba-tiba di posisi ini ketika sebelumnya Bu Ratna mengatakan kalau dia tidak suka jika Reza masuk ke kehidupannya?!

“Kak Eja ya?” tanya Fian yang berhasil membuat Reza hampir tersedak karena kaget.

“Iya, ada apa, Fian?” balas Reza setelah minum dan meredakan keinginan batuknya.

“Kak Eja suka makanan Mamah ya? Mamah emang kalo masak enak-enak! Kakak seling main ya ke lumah Ian? Bial makin lame! Bosen makan beldua sama Mamah mulu…” keluh Fian dengan tampang sok disedih-sedihkan.

Perkataan Fian langsung membuat Bu Ratna menatap anaknya itu dengan tatapan tajam yang dibuat-buat dan akhirnya menggelitik pinggang anak sematawayangnya itu. Fian tertawa lepas sambil berusaha menghindari kelitikan ibunya itu.

Sungguh pemandangan yang indah, pikir Reza. Dia benar-benar tidak terbiasa melihat dosen pembimbing bengisnya itu begitu hangat seperti ini. Ini merupakan pemandangan baru untuk matanya yang terbiasa melihat wajah dingin yang selalu diberikan Bu Ratna setiap menatapnya.

“Kak Eja umulnya belapa? Kalo Ian umulnya 6 tahun!”

“Umur kakak 24 tahun, Ian. Kenapa?”

“Oh ya? Kalau gitu, Kak Eja udah gede ya? Gimana kalau Kak Eja nikah aja sama Mamah? Jadi papahnya Ian!” pinta Fian dengan antusias.

Perkataan itu berhasil membuat Reza dan Bu Ratna tersedak bersamaan.

“Ian!” teriak Bu Ratna setelah batuknya reda. “Mana mungkin Mamah dan Kak Reza menikah? Masih tuaan juga Mamah…”

“Tapi, Mamah masih tellihat muda tuh!” jawab Ian mantap.
Benar.

“Telus Mamah juga masih cantik. Teman-temanku aja pada kalah!”

Sekali lagi, sangat benar. Tapi masa iya Bu Ratna dibandingkan dengan anak-anak seumuran Fian. Dasar anak kecil.

“Tapi tetap aja, Ian sayang… Mamah masa nikah sama murid Mamah sendiri? Kamu jangan aneh-aneh dong…” kata Bu Ratna berusaha memberi pengertian ke anaknya.

“Tapi kan Kak Eja ganteng? Emang Mamah gak mau sama Kak Eja?”

“Ya enggak lah, Ian sayang…”

“Bohong tuh, Ian. Buktinya Mamah kamu balas ciuman Kakak waktu Kakak menciumnya…”3

Tiba-tiba, Reza pun ikut nimbrung karena tidak tahan harus diam terlalu lama dan pembicaraan itu menarik menurutnya. Dia ingin mengerjai Bu Ratna sekali saja.

“Reza?!” bentak Bu Ratna sengit. “Anda sedang bicara dengan anak saya! Jangan merusak pikirannya! Dia masih berumur 6 tahun! Fian sayang, jangan dengarkan kata-kata Kak Reza ya…”

“Loh, Mamah udah ciuman sama Kak Eja? Wah…. Kalau gitu langsung nikah aja! Ian udah gak sabal pengen punya papah balu!”

“Emang kamu mengerti apa itu ciuman, Fian?” tanya Reza dengan hati-hati.

“Tahu lah! Ciuman itu yang bibilnya nempel kan? Mamah seling nonton tiap malem pas Ian udah bobo! Ian gak sengaja lihat pas mau pipis!” jawab Fian dengan riang sampai membuat Reza menatap wanita di hadapannya tidak percaya dan membuat Bu Ratna membelalakkan matanya karena kaget dan malu.

“Fian!” teriak Bu Ratna lagi.

***

Reza belum juga pulang dari rumah Bu Ratna karena Fian melarangnya habis-habisan. Entahlah, mungkin Fian merasa nyaman dengan Reza.

“Ian sedang apa?” tanya Reza saat melihat anak itu sedari tadi sibuk melihat-lihat sebuah foto album.

“Ian kangen papah… Di sini gak ada foto Papah…” jawabnya sendu. Matanya terlihat berkaca-kaca.

Reza yang melihatnya langsung mengangkat badan Fian dan mendudukannya di pangkuan Reza.

“Papah kamu kemana?” tanya Reza lagi.

“Gak tahu. Kata Mamah, Papah pelgi sama Mamah lain. Ian gak pelnah ketemu Papah padahal…”
Fian menatap ke langit-langit rumahnya, seolah-olah menerawang.

“Mamah bilang, Papah sama Mamah udah gak belsama, apa itu kalena Ian? Papah milih Mamah lain dan ninggalin Ian dan Mamah sebelum Ian lahil, apa kalena Papah membenci Ian dan gak mau Ian lahil?” tanyanya sedih. Air matanya mulai mengalir di pipi tembemnya. “Satu-satumya kenangan dali Papah yang Ian masih punya adalah foto kita beltiga. Ian, Mamah, dan Papah. Itu juga waktu Ian masih bayi.”

Reza yang melihatnya langsung terpukul hatinya. Kasihan sekali anak ini, di usianya yang masih belia harus kehilangan sosok ayahnya. Dasar lelaki kurang ajar, melepaskan tanggung jawab begitu saja.

“Jangan sedih lagi, Ian. Sekarang kamu bahagia aja sama Mamah kamu. Jangan nakal juga, kamu harus jadi pelindung Mamah kamu. Pahlawan.”

Raut kesedihan di wajah Fian sedikit berkurang, diganti oleh ekspresi penasaran. Bahkan air matanya sudah tak mengalir lagi.

“Pahlawan? Kayak Kapten Amelica gitu, Kak?” tanyanya penasaran.

“Iya dong! Atau gak Avengers tuh, kan keren.”

“Wah! Wah! Ian mau jadi Hulk! Soalnya gede kayak laksasa! Kesukaan Ian!”

Dengan penuh antusias, Fian menirukan gaya Hulk, bahkan wajahnya dibuat sangar khas Hulk. Kelakuan dia berhasil membuat Reza tidak bisa menahan tawanya. Mereka pun tertawa bersama.

Tanpa sadar, di dekat dapur, Bu Ratna sedang melihat mereka berdua dengan penuh perhatian.

***

“Ian mana?” tanya Bu Ratna kepada Reza yang sedang menikmati acara televisi.

“Tidur, Bu. Ngantuk dia saya ajak main seharian,” jawab Reza santai.

“Anda belum pulang?”

“Iya, Bu, sebentar lagi. Saya capek habis main-main sama anak Ibu.”

“Sudah lama tidak ada yang mengajak dia main seperti itu. Salah saya karena kadang bisa terlalu sibuk sampai jarang memperhatikannya. Bahkan datang saat bagi rapot saja saya tidak bisa…” kata Bu Ratna pelan.

Reza langsung menatap wanita di sampingnya dengan pandangan simpati. Hari ini, dia telah melihat berbagai sisi dari Bu Ratna dan itu membuatnya merasa bersalah karena sudah mencap dosen pembimbingnya itu tidak punya hati. Bahkan, dia bisa mendengar kesedihan di suaranya!

“Saya janji akan rajin-rajin ke sini dan main sama dia, Bu. Biar dia, meskipun tidak punya sosok ayah, tapi masih punya sosok kakak laki-laki.” Sambil bicara begitu, Reza menyentuh tangannya Bu Ratna dengan lembut. Bu Ratna terkejut, langsung ditariknya kembali tangannya dengan cepat.

“Anda tahu darimana kalau dia sudah tak mempunyai ayah?” tanyanya penuh selidik.

“Dari Fian, Bu. Dia menceritakannya ke saya tadi.”

“Kalian baru bertemu pertama kali tapi anak saya sudah menceritakan hal-hal yang tak penting itu ke Anda. Maafkan Fian, Nak Reza. Lain kali, saya akan mengajarkan dia supaya tidak memberitahu hal-hal seperti itu ke sembarang orang.”

Reza menatapnya tidak suka. Dia merasa jengkel melihat Bu Ratna masih saja menganggap dia hanya sebatas kenalan saja ketika Tuhan terus berusaha mendekatkan mereka berdua meskipun Bu Ratna begitu mati-matian menaruh jarak di antara mereka.

“Saya bukan sembarang orang, Bu. Saya ini mahasiswa bimbingan Ibu! Anak bimbing Ibu! Saya siap jadi kakak laki-laki untuk anak Ibu karena secara teknis saya juga bisa disebut anak Ibu.”

“Memang, tapi bukan berarti Anda bisa seenaknya masuk ke dalam kehidupan pribadi saya seperti itu. Anda harus sadar diri kalau Anda ini hanya sebatas anak bimbing saya, tidak bisa lebih,” balas Bu Ratna dengan tegas dan dingin.

“Ibu sadar tidak dengan Ibu membawa saya ke rumah Ibu itu sama saja dengan Ibu mengijinkan saya untuk masuk ke dalam kehidupan Ibu. Masih mau pura-pura menolak juga ketika Ibu sendiri juga menginginkan sesosok teman?”

“Jangan salah paham. Saya membawa Anda ke rumah karena saya tidak bisa meninggalkan anak saya saat weekend. Selama hari kerja saya sudah sibuk dengan pekerjaan saya sampai jarang ada waktu untuk anak saya sendiri. Bukan berarti saya menerima Anda masuk ke kehidupan saya! Itu di luar kemampuan saya kalau Fian menyukai Anda!”

Wanita itu berdiri dan melihat Reza dengan tatapan tajamnya kembali.

“Anda pulang sana, ini sudah sore. Bimbingan sudah selesai dari tadi. Jangan lupa tutup pintunya.” Lalu, Bu Ratna pun masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Reza sendirian di ruang tengah.

Reza diam sambil menatap punggung wanita tersebut. Tak bisa dipungkiri, kalau dia semakin penasaran dengan wanita cantik merangkap dosen pembimbingnya itu. Mengapa dia begitu galak? Mengapa dia begitu susah didekati? Mengapa dia tidak ingin menerimanya masuk ke kehidupannya? Mengapa suaminya bajingan? Lalu, mengapa dia seperti tak ingin memulai kehidupan yang baru?

Berbagai pertanyaan terus memenuhi kepala Reza. Akhirnya, dia segera beranjak dari kursi dan keluar dari rumah itu. Ditatapnya lagi rumah itu sejenak, kemudian dia langsung melajukan motornya meninggalkan rumah tersebut.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat