Bu Ratna Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 18

“Lu keren hari ini, Za. Jangan malu-maluin Ratna di ruang sidang. Ingat, lu harus lulus dan wisuda biar bisa dapet kerja secepatnya dan melamar Ratna,” ujar Reza yang sedang berusaha menyemangati dirinya di depan kaca.

Iya, hari ini adalah hari di mana Reza akhirnya melakukan sidang skripsi. Setelah sekian lama menjadi mahasiswa abadi, akhirnya dia berada di tahap akhir kehidupan kuliahnya. Setelah menghadapi banyak drama dalam pengerjaan skripsinya, akhirnya Reza bisa melaporkan hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan di depan dosen penguji dan dosen pembimbing.

Dia terlihat berbeda sekali hari ini. Biasanya, gaya berpakaian Reza adalah model yang aneh-aneh dan berbeda dari yang lain. Ketika dikritik oleh orang lain, dia selalu menjawab bahwa fashion itu seni dan seni itu bebas dan itu memang sesuai dengan gaya hidupnya.

Reza adalah orang yang bebas. Kebebasannya ini dia dapat karena peran orang tua yang hampir tidak ada di kehidupannya. Dia sangat bebas sampai kehidupan malamnya pun begitu bebas. Untung saja, dia bertemu Ratna di akhir kuliahnya. Coba kalau tidak, mungkin dia masih melakukan kegiatan buruknya itu dan berakhir mengidap penyakit kelamin.

Semenjak bertemu dan mencintai Ratna, akhirnya Reza menyadari bahwa kehidupannya sangat berharga. Reza yang sekarang adalah Reza yang mempunyai tujuan hidup. Ratna telah menyelamatkan hidupnya dalam berbagai hal. Ratna memberikannya cahaya di kehidupannya yang begitu gelap dan dingin.

Karena itulah dia sangat mencintai dan menyayangi Ratna. Dia tidak akan pernah melepaskan wanita itu, mau bagaimana pun kata orang, sebesar apa pun hambatannya.

Entah sudah berapa kali dia disebut sebagai pencinta janda oleh teman-temannya, tapi dia selalu balas dengan gayanya yang khas, santai dan nyeleneh.

“Bodo amat janda yang penting oke dan pastinya gak mudah dibegoin. Sorry, gua janda aja ada yang mau, lah elu cewek yang belum pernah nikah aja gak dapet. Malu-maluin.”
Kata-kata itu selalu berhasil membuat teman-temannya terdiam.

Oke, jadi kemana-mana. Sekarang, Reza memakai baju formal dengan kemeja biru muda dan celana panjang bahan berwarna hitam. Tidak lupa dasi berwarna hitam dan sepatu pantofel hitam sebagai pelengkap dan makin menambah kesan formal di dirinya.

Rambutnya yang biasanya gak beraturan, kini disisir rapih. Dia terlihat seperti karyawan bank. Dengan penampilan seperti itu, imej Si Brengsek Reza sedikit berkurang. Mungkin kalau disandingkan dengan Ratna, orang tidak akan terlalu memerdulikan hubungan di antara mereka.

“Reza, kamu tampan sekali hari ini. Semoga sukses ya sidangnya, Nak,” kata ibunya Reza yang sedang bersender di tembok kamar anak sematawayangnya dengan senyum lebar di bibirnya.

Jika kamu berpikir kalau Reza akan tersenyum dan bilang terima kasih ke ibunya, maka kamu salah. Dia mengabaikannya dan bertingkah seperti tidak mendengar perkataan ibunya. Memang tipikal Reza.

“Reza, Mamah sudah siapkan sarapan. Ayo, makan dulu sebelum berangkat sidang?” tawar ibunya. Kali ini nada suaranya lebih lembut, penuh keibuan.

Reza hanya menatap ibunya sekilas lalu kembali mengagumi dirinya di depan cermin. Dia seperti tidak menganggap keberadaan ibunya yang sedari tadi berusaha menunjukkan eksistensinya.

“Reza, ayo?” ajak ibunya lagi.

“Tidak perlu. Saya mau berangkat. Saya pamit,” jawabnya dingin. Ketika dirasa sudah siap, dia pun berangkat dan meninggalkan ibunya yang menatap anaknya dengan tatapan sedih, begitu saja.

***

Jika kamu pikir kalau Reza akan merasa gugup ketika berhadapan dengan sidang, maka kamu salah. Dia malah terlihat begitu santai, duduk di kursi dan main handphone sambil menunggu gilirannya. Ketika mahasiswa lain sibuk komat-kamit menghapal materi skripsi mereka dan berdoa habis-habisan, pemuda itu lebih tertarik dengan push rank.

“Reza Nicola Pratama.”

Namanya dipanggil. Reza segera menoleh ke arah sumber suara dan melihat mahasiswa yang sidang sebelum dirinya keluar dari ruangan tempat mereka sidang. Sekarang gilirannya, pikirnya. Akhirnya, dia pun mematikan handphone-nya dan merapihkan penampilannya sebentar, kemudian masuk ke ruangan tersebut.

“Selamat siang, nama saya Reza Nicola Pratama,” ujarnya dengan tenang.

Di depannya, dia bisa melihat wajah Ratna yang menatapnya dengan intens, setengah khawatir setengah mengancam sampai membuat Reza hampir tertawa. Untungnya tidak.

Dan akhirnya, sidang skripsi Reza pun dimulai.

***

“Akhirnya, lulus kuliah juga anak bimbing saya,” ledek Ratna.

Mereka sedang menikmati makan siang mereka yang terlambat di sebuah restoran yang agak jauh dari kampus karena tidak ingin menimbulkan gosip.

Seandainya mereka nekat makan di kampus, entah bagaimana pandangan orang terhadap mereka, terutama pandangan orang terhadap Ratna. Pasti akan ada banyak gosip tentangnya. Dia akan dicap sebagai penyuka brondong atau pedofil.

Martabatnya sebagai dosen akan menurun tajam dan Reza tidak mau melihat Ratna menanggung malu. Makanya, dia setuju ketika Ratna meminta mereka untuk makan di luar arena kampus.

“Tinggal wisuda nih, habis itu dapat kerja. Setelah uang terkumpul langsung nikahin kamu tanpa mikir-mikir lagi!” seru Reza antusias.

“Kamu yakin mau nikahin aku? Aku udah tua loh, Za. Kamu berhak mendapatkan wanita yang seumuran kamu,” kata Ratna merendah.

Reza menatap wanita itu tidak suka. Kemudian, dia menggegam tangannya dengan erat dan menatap matanya dalam-dalam.

“Mau udah tua atau masih muda, sama aja. Yang penting aku cinta kamu dan kamu cinta aku. Aku cuma mau nikahin kamu, Ratna. Gak mau nikahin yang lain. Kamu mengerti, ‘kan?”

Dia menghelakan napasnya sebentar lalu mengecup punggung tangan kekasihnya.

“Aku sayangnya sama kamu, Ratna, bukan yang lain,” tambahnya mantap.

Ratna hanya bisa bersemu merah seperti biasanya ketika mendengar kata-kata romantis dari pemuda di hadapannya ini. Dia masih belum paham, mengapa Reza yang tampan dan perhatian ini mau menyukai dia, seorang janda yang sudah mempunyai anak.

“Lucu rasanya kalau ingat dulu betapa kejamnya kamu ke aku dan membuatku begadang setiap malam, selalu menyambutku dengan tatapan sangar dan dingin, selalu menghujatku seenaknya tanpa disaring terlebih dulu sampai membuatku hampir meledak. Dan sekarang, di sini kamu, di depanku, tersipu malu karena perkataanku,” ledek Reza setelah menyadari pipi putih Ratna yang berganti menjadi warna merah.

“Diam kamu. Ah, jadi rindu masa-masa itu. Aku ingin menyiksamu lagi. Bimbingan adalah hal yang paling menyenangkan karena aku bisa dengan seenaknya mengata-ngataimu yang bodoh,” balas Ratna santai.

“Bodoh…” kata Reza pura-pura terluka.

“Kenapa kamu bilang aku bodoh?”

“Ya, itu kebenaran. Aku mengucapkan fakta.”

Reza menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Kamu memang tega ke aku. Nanti aku cium nih di depan umum.”

“Kalau kamu berani, nanti aku tempeleng. Siap-siap aja.”

Reza langsung mengurungkan niatnya setelah Ratna berkata begitu. Dia takut ditempeleng oleh wanita itu. Tempelengan Ratna pasti sangat sakit, bagaimana pun dulu dia pernah menjadi korban KDRT-nya. Entah berapa banyak bekas memar di tubuhnya karena disiksa oleh tangan ganas Ratna.

Mungkin kalian sedang berpikir, kenapa tidak dilaporkan saja? Tenang saja, Reza tidak semanja itu. Dia tidak akan melaporkan dosennya sendiri, apalagi ini juga karena kesalahan dan kebodohan dia.

Sekarang, Ratna sudah tidak lagi bersikap kasar ke dia. Dia mulai melunak, meski kadang masih suka jutek. Meski ekspresinya masih kaku dan dingin. Reza ingin sekali membuat wajah angkuh itu menjadi melembut. Bagaimana caranya, ya? Ah, apakah dia harus mengajak Ratna liburan? Dia sepertinya tidak pernah melihat wanita itu liburan.

Di akun Instagram-nya saja hanya berisi acara-acara formal yang dia datangi atau rekomendasi buku-buku yang dia telah baca, tentu saja semuanya buku non fiksi. Tipikal Ratna.

“Ratna,” panggil laki-laki itu tiba-tiba.

“Apa?” jawab wanita itu sambil mengunyah makan siangnya dengan khidmat.

“Aku punya satu penawaran.”

Ratna menatapnya dengan ekspresi tanda tanya.

“Penawaran apa?”

“Gimana kalau kita jalan-jalan ke Inggris?” tawar Reza dengan hati-hati.

Ratna terdiam. Dia hentikan kegiatan makannya sambil masih menatap Reza yang sedang memasang tampang berharap.

“Jalan-jalan ke Inggris? Kapan?”

“Hm, kapan saja kamu bisa sih. Gimana kalau sebelum aku wisuda? ‘Kan, wisuda gelombang III masih lumayan lama tuh. Sebelum wisuda, aku mau jalan-jalan denganmu di negara kesukaanku, Inggris.”

“Sama siapa aja?”

“Berdua saja.”

“Bagaimana dengan Fian?”

“Oh ya!” Demi apa pun, Reza hampir lupa soal Fian. Di sisi lain, dia juga tidak ingin mengajak Fian.

Dia ingin berdua saja dengan Ratna. Entah mengapa, hatinya ingin dia pergi berdua saja dengan Ratna.

“Kamu benar-benar ingin ke Inggris berdua denganku?” tanya Ratna lagi ketika melihat Reza yang terlihat lemas setelah dia menyebut nama Fian.

Sebenarnya, dia suka mendengar ajakan Reza. Dia ingin jalan-jalan hanya berdua dengan Reza. Sudah lama dia tidak melakukan itu. Kehidupannya selama ini hanya untuk anak semata wayangnya. Apakah dia egois kalau dia juga ingin menikmati perjalanan berdua dengan kekasihnya? Toh, dia sudah lama tidak merasakan cinta.

“Iya,” jawab Reza masih dengan nada lesu.

Kandas sudah harapannya, pikir Reza dalam hati.
Ratna lalu menghembuskan napasnya setelah beberapa saat berpikir.

“Oke, kita pergi,” katanya pada akhirnya.

Reza menatapnya tak percaya.

“Benarkah? Bagaimana dengan Fian?” tanyanya dengan antusias.

“Paling aku titipkan lagi ke Linda. Duh, kasihan adikku. Kamu harusnya beruntung punya kekasih sepengertian aku. Aku ini orang sibuk tahu,” jawab Ratna setengah bercanda.

“Iya, aku beruntung banget punya kamu. Karena itulah aku mau ajak kamu ke tempat-tempat yang indah. Tenang aja, semua biaya dan perjalanan aku yang urus. Kamu tinggal nikmatin perjalanan aja,” ucap Reza senang.

Ratna langsung menatapnya tak suka.

“Aku tahu ayahmu seorang rektor dan direktur, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya membiayai semua perjalanan kita. Biarkan aku membantumu!”

“Tapi, Ratna, aku yang mengusulkan liburan ini.”

“Tetap saja, aku ‘kan juga peserta liburan ini, biarkan aku berkontribusi dong. Aku juga punya uang kok. Kalau kamu menolak, aku batalkan liburan ini.”

“Ya, jangan dong!” kata Reza tak terima.

“Makanya, biarkan aku ikut membayar!”

Reza menghela napas panjang. Ratna dan gengsinya benar-benar tidak bisa dipisahkan.

“Oke-oke, kamu juga ikut bayar.”

“Bagus!”

“Iya, sayang, tapi jadi, ‘kan? Jangan dibatalin, ya.”

“Iya.” Ratna langsung tersenyum ketika melihat Reza yang begitu bahagia merencanakan perjalanannya.

Mungkin ini akan menjadi date terjauh pertama mereka setelah sebelumnya hanya berada di sekitaran Bandung. Semoga ini bukan yang terakhir, pikirnya.

“Yaudah, makan dulu mending. Tunda dulu sebentar,” katanya lalu menyodorkan makanan Reza yang sedari tadi tidak disentuh olehnya.

“Terima kasih, sayang,” kata Reza sambil tersenyum lebar.

****

Setelah seminggu merencakan keberangkatan dan seminggu menyelesaikan segala urusan masing-masing, akhirnya hari keberangkatan mereka pun tiba. Tanpa Fian, tanpa Linda, tanpa teman-teman Reza, hanya mereka berdua saja. Seperti honeymoon, meski mereka belum menikah.

Mengapa harus Inggris? Alasannya adalah karena Inggris menjadi saksi kenangan Reza dengan orang tuanya. Jauh sebelum ayahnya Reza, Pak Pratama, gila uang dan kedudukan. Jauh sebelum ibunya frustasi karena kelakuan suaminya. Selain itu, Inggris juga menyimpan kenangan dirinya dengan kakek tersayang.

Inggris adalah tempat lahirnya Reza. Namun, meski begitu, dia dan orang tuanya hanya tinggal selama lima tahun di sana sebelum kakek meninggal. Mau tak mau, akhirnya mereka pun pulang ke tanah air dan tinggal bersama orang tua dari Mamah.

Lalu, Papah melanjutkan kuliah S3 sembari meneruskan usaha ayah dari Mamah di bidang percetakan dan ternyata usahanya berjalan lancar. Usaha itu kemudian menjadi besar dan menjadi perusahaan yang cukup bergengsi. Selain itu, Papah berhasil menyelesaikan S3-nya.

Reza sangat senang, pada awalnya, karena ketika di Inggris, kehidupan mereka menyedihkan.

Waktu itu, Papah masih sibuk menyelesaikan kuliah S2 di Inggris. Sialnya, dia bertemu Mamah di sana. Waktu itu, Mamah juga tinggal di sana, ikut dengan pamannya untuk bersekolah. Mereka saling jatuh cinta, tapi cinta mereka membawa kesalahan.

Akibat kejadian di suatu malam, Mamah pun hamil. Mau tak mau, Papah menikahinya meski kehidupannya sedang susah. Dibantu oleh orang tuanya, Papah mati-matian membiayai keluarga kecilnya sekaligus menyelesaikan tesisnya.

Namun, meski penuh kesusahan, mereka saling mencintai dan saling membantu satu sama lain. Bahkan ketika Reza lahir, perkawinan mereka semakin erat. Reza kecil sangat menyayangi keluarganya saat di Inggris, apalagi di sana ada kakeknya.

Kakeknya lah yang selalu ada untuknya di saat Papah dan Mamah sibuk bekerja. Kakeknya membawa dia ke tempat-tempat yang bagus dan mengajarkan dia banyak hal. Dia bahkan menjadi pencinta Sherlock Holmes karena kakeknya.

Karena itulah, saat kakeknya meninggal dan dia harus pulang ke tanah air, Reza sangat sedih. Terlebih lagi, di Indonesia, dia diejek karena tidak mengerti Bahasa Indonesia. Kesedihannya diperparah ketika ayahnya mulai jarang berada di rumah karena sibuk mengurus usaha dan kuliahnya.

Di situlah dia mulai paham situasi apa yang sedang terjadi di keluarganya. Mengapa Papah jarang pulang, mengapa Mamah menangis setiap malam, mengapa Mamah kemudian semakin jarang di rumah, dan mengapa dia selalu sendirian di rumah.

Dia merindukan kakeknya, tentu saja.

Mungkin, kalau dia masih di Inggris dan kakeknya masih hidup, mereka akan menjelajahi tempat-tempat baru yang indah di sana. Dia rindu masa-masa ketika mereka jalan-jalan dan bercengkrama dengan kakeknya di Buckingham Palace. Dia juga rindu duduk di samping Sungai Thames sambil sesekali main air. Dia ingin mengajak kakeknya menaiki London Eye. Pasti kakeknya sangat senang, toh kakeknya ini memang punya suka dengan ketinggian.

Kenangannya bersama orang tuanya juga banyak di sana, di mana mereka setiap weekend selalu menyempatkan diri untuk family time di luar, terutama saat musim gugur. Meski pun hanya sekedar piknik gratis dengan makanan sederhana, dia juga sudah bahagia. Taman di sana indah dan tertata. Banyak keluarga dan pasangan yang juga menyempatkan diri untuk menyenangkan hatinya di taman.

Inggris, terutama London, selalu menjadi tempat istimewanya. Karena di Indonesia, kehidupannya begitu menyedihkan dan sendirian. Bukan berarti dia tidak mencintai Indonesia. Bagaimana pun, di Indonesia, dia bisa bertemu dengan teman-temannya yang berharga dan dia juga bisa bertemu dengan cinta pertamanya, Ratna.

Karena itulah, karena Ratna itu penting, dia ingin memperkenalkan Inggris ke Ratna. Dia ingin memperlihatkan tempat di mana dia dulu melalui hari-hari yang bahagia. Dengan Ratna, dia ingin mengulang hari-hari yang bahagia itu lagi. Di Inggris. Di London. Biarlah kali ini Inggris kembali menjadi saksi kebahagiaannya. Semoga Inggris tidak sungkan menyimpan kenangannya bersama cintanya, Ratna. Dan semoga di masa depan nanti, dia bisa kembali mengulang kenangan itu dengan Ratna dan keluarga kecil mereka.

Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan untuk mereka.

***

8 September 2018

Setelah menempuh perjalanan sekitar 14 jam, kedua sejoli tersebut, Reza dan Ratna, akhirnya tiba di London. Udara sedikit lebih dingin jika dibandingkan dengan Indonesia, tapi tidak terlalu dingin sampai membuat diri mereka harus memakai jaket tebal dan baju berlapis-lapis. Bahkan, mereka masih bisa merasakan hangatnya matahari. Musim salju belum menyelimuti ibukota Inggris ini.

Mereka terlihat kelelahan, bahasa kerennya adalah jetlag. Wajar saja, perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh dan menghabiskan waktu yang lama. Ditambah lagi mereka harus menggunakan pesawat kelas ekonomi demi menghemat biaya. Tentu bisa dibayangkan bukan rasa lelahnya bagaimana?

Setelah mengurus berbagai urusan penting, seperti visa, luggage, passport, dan lain-lain, mereka pun segera beranjak keluar dari bandara dan mencari taksi yang bisa mengantar mereka ke hotel yang akan menjadi tempat tinggal sementara mereka selama liburan, yaitu selama seminggu.

Tidak terlalu lama, memang. Bagaimana pun Ratna adalah orang yang cukup sibuk. Ya, setidaknya, esensi perjalanan mereka bisa tercapai di kota yang tidak kalah romantisnya dengan Paris.

Perjalanan dari bandara ke hotel tidak terlalu memakan waktu yang cukup lama, kira-kira 15 menit lah. Yang mengejutkan adalah supir taksi yang mengantar mereka cukup ramah, meski masih kalah dengan orang Indonesia. Namun, untuk warga kota dengan tingkat individualitas yang tinggi, hal ini tentu saja menjadi fenomena yang tidak terlalu sering.

“Pardon, Sir, but we’re going to Ramada Hounslow – Heathrow East, am I right?” tanya supir itu dengan aksen British-nya yang kental. Usianya kira-kira 45 tahunan.

“Yes. Just drive safely, we’re not in a hurry,” jawab Reza sambil tersenyum.

“Sure,” balas supir tersebut sambil membalas senyumannya Reza.

“You look cute together. Are you having your honeymoon?” tanyanya lagi saat mereka sedang dalam perjalanan.

Reza tergelak.

“No, no. We’re not married, yet. But yes, you can say we’re having our honeymoon now,” jawab Reza yang langsung dihadiahi geplakan oleh Ratna yang sedari tadi sibuk memperhatikan jalan.

“Wow, that’s too bad. When are you going to propose her?”

Reza menatap Ratna sebentar. Sementara, wanita itu tidak berani membalas tatapannya karena malu.

“Soon, Sir. I’ll marry her soon,” jawab Reza mantap lalu menggenggam tangan Ratna dengan mesra.

Wanita itu masih enggan menoleh, wajahnya pasti sangat merah karena mendengar jawaban Reza yang terlihat yakin.

Setelah menaruh barang di hotel dan melepas lelah sejenak, pada malam harinya mereka pun keluar dari hotel dan menikmati suasana malam Kota London yang dingin dan penuh cahaya. Sambil berpegangan tangan, kedua sejoli itu berjalan menelusuri trotoar London yang sangat ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Sesekali mereka mampir ke toko-toko aksesoris lalu membeli beberapa barang yang sekiranya bagus bagi mereka.

“Aku senang,” kata Reza tiba-tiba, tangannya masih menggenggam tangan Ratna.

“Senang kenapa? Karena akhirnya kembali lagi ke Inggris, kenangan masa kecilmu?” balas Ratna sambil tersenyum.

“Iya, itu pertama. Yang kedua adalah aku senang bisa jalan berdua begini hanya denganmu. Tak akan ada yang mengenal kita di sini, yang ada hanyalah aku dan kamu. Inggris memang tidak pernah lelah membuatku bahagia,” jawab Reza sumringah lalu menghentikan langkah kecil mereka.

“Bagus kalau kamu bahagia,” sahut Ratna. Tangannya mengelus kedua pipi Reza dengan penuh sayang.

“Kamu harus bahagia juga di sini, ya?”

“Tentu. Aku bahagia kalau kamu bahagia.”

Reza mengecup tangan kekasihnya itu beberapa kali, lalu merangkul pinggang rampingnya dengan hati-hati.

“I was being serious though.”

Ratna mengernyitkan jidatnya seperti tidak mengerti dengan arah pembicaraannya Reza.

“What do you mean?” tanyanya.

“I’ll marry you. Soon,” jawab Reza pelan.

Saat mendengar jawaban Reza, Ratna pun langsung tertawa pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Really?”

“Yah, kamu gak percaya,” ujar Reza sambil sedikit cemberut.

“Percaya denganmu itu musyrik, ‘kan,” balas Ratna sambil terkekeh.

“Percaya denganku, dong.”

Reza langsung menggelitik pinggang kecilnya Ratna sampai membuat wanita itu menggeliat karena kegelian.

“Iya, iya! Percaya deh! Ya ampun, suka banget gelitikin orang.”

“Itu akibatnya, tapi kamu percaya sama kata-kataku, ‘kan?”

“Yes, I trust you with all my heart.”

“Buktikan dong.”

“Banyak maunya!”

Reza menatapnya dengan wajah memelas.

“Masa di sini? Malu dong,” kata Ratna sambil malu-malu.

“Buat apa? Di sini mah sudah wajar hal seperti itu.”

Ratna terlihat ragu-ragu saat mendengar permintaan Reza. Dia tahu betul apa yang Reza inginkan. Dia juga tahu kalau di London atau di Eropa hal-hal seperti itu bukanlah hal aneh lagi dan sudah dianggap wajar oleh masyarakatnya. Namun, tetap saja dia adalah orang asli Indonesia yang terbiasa dengan budayanya.

Mana bisa dia melakukan hal-hal seperti itu di publik. Namun, saat melihat wajah Reza yang tampan itu sedang menunggu dengan senyuman menghias di wajahnya yang menambah ketampanannya, Ratna tidak ingin membuatnya kecewa.

“Okay…” katanya dengan pasrah pada akhirnya.

Lalu, dia pun memejamkan matanya dan memperpendek jarak di antara mereka hingga tak ada jarak lagi. Tak lama kemudian, bibir mereka saling bertemu dan berpagutan dengan penuh cinta, tak terburu-buru. Ciuman yang bisa membuat jantung berdetak lebih kencang karena begitu pelan dan penuh emosi yang meluap-luap. Ciuman yang hanya bisa dilakukan oleh pasangan yang sedang jatuh cinta.

Setelah beberapa menit saling mengambil napas satu sama lain, mereka pun menghentikan aktivitas mereka. Ratna langsung menoleh ke sekitarnya untuk memastikan bahwa tidak ada yang menyaksikan aksi mereka tadi. Untungnya, tidak ada. Orang-orang sana sudah terlalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

“Benar ‘kan tidak ada satu pun yang memerhatikan?” tanya Reza setelah melihat Ratna yang sudah tidak terlalu waspada lagi.

“Iya. Baguslah. Aku tidak ingin masuk internet karena melakukan hal seperti itu.”

“Melakukan apa? Kita cuma ciuman,” kata Reza sambil mengangkat salah satu alisnya.

“Tetap saja insting dosenku tidak bisa dihentikan. Kalau kita melakukan hal seperti tadi di Indonesia, bisa-bisa aku masuk koran dan dicap sebagai dosen mesum,” jawab Ratna gemas.
Reza yang mendengarnya hanya bisa tertawa lalu mengusap-usap kepala kekasihnya dengan gemas, kemudian tangannya menggenggam tangan Ratna lagi.

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita,” ajaknya sambil tersenyum entah yang sudah keberapa kalinya.

“Ayo!” balas Ratna dengan semangat.

***

Sama seperti kemarin, udara di London tidak bisa dibilang bersahabat, dan tidak bisa juga dibilang tidak bersahabat hari ini. Matahari masih tetap segan menunjukkan dirinya sepenuhnya dan lebih memilih sembunyi-bunyi, entah malu dengan siapa.

Cukup dingin kalau untuk ukuran orang Indonesia, tapi bagi warga London, suhu kali ini bisa dikatakan mendingan ketimbang saat musim salju berlangsung.

Kali ini, Reza dan Ratna berencana untuk pergi ziarah ke makam kakeknya di Pemakaman Highgate yang terletak di luar kota London, tepatnya di Highgate, London Utara, Inggris. Pemakaman ini merupakan pemakaman tua dan dikabarkan sangat seram karena banyak hantu.

Di pemakaman ini juga beredar legenda Vampir, si penghisap darah manusia. Pemakaman ini juga menjadi tempat istirahat terakhir Karl Marx, seorang ilmuwan yang terkenal dengan teori Marxisme-nya.

Tampilan makam itu memang lumayan menyeramkan sampai membuat Ratna mau tak mau berjalan agak sedikit lebih mendekat dengan Reza karena takut. Sementara Reza? Dia sudah beberapa kali ke sini sendirian, jadi wajar saja kalau dia merasa biasa saja saat masuk ke area makam ini.

“Ini kakekmu dikubur di sini?” tanya Ratna berusaha untuk mengalihkan ketakutannya ke hal lain.

“Iya. Bagus, ya, makamnya?” balas Reza santai.

Dia sepertinya paham kalau Ratna sedang ketakutan meski tidak mau mengakuinya, karena itulah dia merangkul pinggang kekasihnya agar wanita itu merasa terlindungi olehnya.

“Gak ada pemakaman lain apa selain di sini?” gerutu Ratna. Tentu saja dia jengkel, apakah London tidak punya pemakaman lain sampai membuat Reza dan keluarganya memilih tempat ini untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir kakeknya?

“Ada sebenarnya di kota, tapi pasti nanti bising. Aku ingin kakek pergi ke dunia selanjutnya benar-benar dalam keadaan damai karena beliau menyukai ketenangan. Makam ini berada di luar kota dan jauh dari hiruk pikuk jalan raya. Pasti kakek senang,” jawab Reza lalu tersenyum manis. “Kamu pasti takut ya?” tanyanya menggoda.

“Siapa bilang aku takut? Oh, jangan bercanda,” elak Ratna tidak suka lalu sedikit menambahkan jarak di antara mereka agar dia tidak disangka takut lagi.

“Aku tahu kamu bohong. Gak nyangka dosen galak sepertimu ini bisa takut sama makam tua.”

“Jangan tertawa di makam, bodoh!” gerutu wanita itu lalu berjalan menjauhi Reza yang masih tertawa.

Setelah mengendalikan dirinya agar tidak tertawa lagi, Reza pun langsung menghampiri Ratna dan kembali merangkulnya.

“Maaf maaf, habis wajah kamu lucu begitu. Untung Fian tidak ikut, mungkin kita tidak akan pernah bisa datang ke sini kalau dia ikut.”

“Iya, mungkin dia akan menangis histeris,” jawab Ratna menyetujui.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di makam kakeknya Reza. Mungkin makam kakeknya itu satu-satunya makam orang Muslim di sana karena selama mereka jalan tadi, mereka hanya menemui makam yang ada tanda salibnya, kecuali makam kakek Reza.

Reza mendekati makam itu perlahan lalu jongkok di sampingnya. Ratna mengikutinya. Meski dia tidak mengenal sosok kakeknya Reza, tapi dia sadar kalau kakeknya Reza ini merupakan orang yang sangat berharga dalam kehidupan kekasihnya. Matanya menatap nama yang terukir di batu nisan yang kelihatannya sudah cukup lama.

Muchtar Prawira Pratama

Birth: September 9th, 1930

Death: September 9th, 1998

Akhirnya Ratna mengerti alasan mengapa Reza begitu antusias pergi ke London dan menyiapkan semuanya dengan cepat. Pasti dia tidak ingin melewatkan hari ulang tahun dan hari kematian kakeknya. Sudah 20 tahun berlalu.

Dia juga melihat ke sebelah makam kakeknya Reza, yaitu makam neneknya. Nenek Reza telah lebih dahulu meninggalkan dunia dan suaminya karena penyakit tumor otak. Kakek Reza harus menunggu 20 tahun lamanya untuk bisa bertemu kembali dengan istri tercintanya. Sungguh kisah cinta yang indah.

Ratna memerhatikan wajah Reza yang terlihat serius dan khusyuk saat berdoa. Dia selama ini terlihat begitu santai dan cuek. Baru kali ini dia melihat ekspresi wajah Reza yang seperti ini. Sepertinya, pria itu benar-benar merindukan kakeknya.

“Aku merindukan kakek,” katanya setelah selesai berdoa.

“Sudah lama tidak menjelajahi kota London bersamanya,” tambahnya lagi sambil mengelus-elus batu nisan kakeknya dengan sayang.

Ratna merasa simpati melihat Reza seperti itu. Dia paham betul rasanya karena dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, bahkan sebelum bertemu dengan Reza.

“Aku tahu,” jawab Ratna lalu tersenyum.

“Wajar kalau kamu merindukannya.”

“Apakah kamu tidak merindukan orang tuamu?”

Ratna mengalihkan pandangannya ke sekitar. Diamatinya semua makam yang ada di sana dengan seksama.

“Aku rindu mereka. Sangat,” balasnya tenang.

“Mereka sudah tenang di sana. Kalau aku bersedih justru akan membuat mereka bersedih juga, bukan?”

Reza hanya terdiam saat mendengar jawaban wanita yang lebih tua darinya itu. Dalam hati dia berkata, inilah mengapa dia sangat mencintai wanita itu. Bukan karena kecantikannya atau karena kepintarannya, tapi karena ketenangannya dalam bersikap.

“Kamu memang tidak pernah tidak berhasil membuatku terpukau.”

Ratna menatap Reza lagi dan mengernyitkan matanya tidak mengerti.

“Maksudnya?”

“Aku suka dengan bagaimana kamu berpikir.”

Saat mendengar jawaban dari Reza, Ratna pun mau tak mau merasa tersipu. Kemudian, dia tertawa untuk menyembunyikan rasa malu dan gugupnya.

“Aku cuma ngomong begitu dan kamu udah terpukau, gimana aku berpidato?” goda Ratna setelah selesai tertawa.

“Mungkin aku akan pingsan di tempat kalau kamu berpidato. Pasti kamu terlihat cantik, anggun, dan sexy di saat yang bersamaan,” kata Reza membalas godaan kekasihnya.

Ratna pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum dan kembali mengalihkan dirinya ke makam di hadapannya. Dia ingin memberikan doa untuk meramaikan kuburan kakek dan neneknya Reza agar mereka tidak merasa kesepian.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat