Bu Ratna Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 17

“Ian pulang! Mamah, macih cakit?” teriak Fian lalu segera berlari menghampiri Ratna saat melihat ibunya sedang mengerjakan sesuatu di laptop.

Sementara, Reza mengekorinya dari belakang dan langsung menatap Ratna tidak suka saat mengetahui apa yang sedang wanita itu lakukan selama dia pergi.

“Ratna, kamu lagi sakit, malah buka laptop,” omel Reza tak suka. Ratna langsung mengalihkan perhatiannya ke Reza.

“Aku harus kerja, Reza.”

“Tapi, kamu sedang sakit.”

“Ini tenggat waktunya sebentar lagi.”

“Ratna-”

“Reza, meski aku sakit tapi aku masih bisa mengerjakan ini semua,” kata Ratna akhirnya. Kemudian, dia melihat ke arah Fian lagi.

“Sedikit, sayang, tapi Mamah sudah minum obat kok, tenang! Ngomong-ngomong Reza, Fian tidak nakal ‘kan selama perjalanan pulang?” tanya Ratna sambil berpelukan dengan Fian.

Reza hanya bisa terkekeh melihat pemandangan di depannya. Hatinya terasa hangat.

“Enggak, sayang. Fian is being a good boy today,” jawab Reza sambil membuka jaket yang sedari tadi melekat di tubuhnya.

“Anak pintar,” kata Ratna lalu mengacak-ngacak rambut Fian dengan gemas dan mencium pipi gembulnya.

“Ih, Mamah, geli tahu! Bacah nih pipi Ian, Mamah jolok,” kata Fian kesal sambil berusaha mengelap pipinya yang sedikit basah dengan tangannya.

“Fian, makan, yuk?” ajak Reza tiba-tiba. Tangannya sibuk mencari channel yang menarik.

“Enggak ah, Ian ngantuk. Nanti aja makannya! Ian tidul dulu ya, Mah dan Papah Eja! Dadah!” katanya lalu berlari menuju kamarnya.

Setelah Fian menghilang, sekarang hanya tinggal mereka berdua lagi di ruang keluarga.

“Sini,” kata Reza sambil menepuk-nepuk tempat di sampingnya.

Ratna pun menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Reza lalu meletakkan kepalanya di bahu Reza yang lebar dan memeluk leher pria itu dengan mesra, sementara Reza merangkul pinggang Ratna dan memastikan kalau kekasihnya merasa nyaman.

“Kamu wangi,” kata Ratna tiba-tiba, sementara kepalanya dibenamkan di ceruk leher milik Reza.

“Kamu bau,” jawab Reza singkat.

“Sialan kamu.”

“Yang penting kamu sayang.”

“Untung engga.”

“Terus, ngapain kamu gelendotan manja gini?”

“Gak tahu, lagi pengen dimanja aja.”

“Kamu Siti Badriah?”

Ratna menatap Reza sekilas dengan pandangan kesal lalu kembali membenamkan wajahnya di leher Reza.

“Selamat, ya, akhirnya skripsimu kelar. Gak kerasa, ya? Mana banyak dramanya lagi. Besok kamu langsung daftar buat sidang, ‘kan?” tanya Ratna.

“Iya, Bu Dosen, aku pengen cepet-cepet sidang lagian. Mau cepet-cepet wisuda biar bisa kerja lalu nikahin kamu,” kata Reza sambil menaruh kepalanya di atas kepalanya Ratna.

“Kamu punya apa mau nikahin aku?”

“Cinta yang besar.”

“Gombal banget, aku sampai mau muntah.”

“Serius loh aku?”

“Iya-iya, aku percaya.”

Ratna mengangkat kepalanya agar bisa melihat mata Reza dari dekat.

“Terima kasih, ya?” kata Ratna tiba-tiba. Senyuman menghiasi bibirnya.

“Untuk?”

“Sudah ada di sampingku. Terima kasih sudah mau mencintaiku dan masa laluku yang kelam. Terima kasih sudah menjadi anak bimbingku. Terima kasih sudah mencintai Fian. Terima kasih, karena kamu aku bisa merasakan apa rasanya dicintai oleh seseorang,” jawab Ratna panjang lebar.

Reza langsung tersenyum saat mendengar perkataan dari kekasihnya. Hatinya kembali menghangat dan jantungnya berdebar. Ratna jarang sekali seperti ini karena biasanya dia selalu bersikap galak, tapi sekalinya romantis, dia benar-benar bisa membuat Reza tersipu. Dan ini pertama kalinya dia tersipu!

“Terima kasih juga sudah mau berani mencintaiku. Terima kasih sudah menerimaku. Terima kasih sudah membimbingku dalam banyak hal. Terkadang aku ingin berterima kasih ke Pak Rektor, ayahku, meski dia tidak suka kalau aku dibimbing oleh kamu, karena dia lah aku bisa bertemu denganmu!” kata Reza lalu mengecup kening Ratna sekilas.

“Aku mencintaimu, Ratna.”

“Aku mencintaimu juga, Reza.”

Lalu mereka pun berciuman. Kali ini tidak buru-buru, tidak tergesa-gesa. Ciuman mereka sangat lembut dan penuh cinta. Seolah-olah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka saling mencintai dan tidak ada satupun yang bisa menghalangi.

***

“Ya, Tuhan! Akhirnya anakku sidang juga!” teriak ibunya Reza, Ibu Pratama, ketika mendengar kabar bahwa putra satu-satunya akan segera sidang dua minggu lagi.

“Baguslah, akhirnya kamu sidang juga. Sudah sangat puas Papah menanggung malu selama ini melihat kamu berkeliaran terus di kampus, tidak lulus-lulus,” sahut ayahnya Reza, Pak Pratama, dengan dingin.

“Ngomong-ngomong, Reza, setelah wisuda, apa rencanamu?” tanyanya kali ini, masih dengan nada dingin, sementara matanya sibuk membaca beberapa berita di koran.

Iya, sekarang Reza sedang berada di ruang keluarga bersama orang tuanya. Bukan, hubungan mereka masih belum baik. Dia hanya terpaksa berada di sana karena mereka memintanya untuk ngobrol bersama, khususnya mengenai kelanjutan kuliahnya Reza.

“Bukan urusan Papah,” jawab Reza dingin.

“Jadi, Papah juga gak boleh tahu soal kelanjutan hidupmu?” Kali ini, Pak Pratama menatap anaknya dengan tajam.

Reza langsung mencibir.

“Buat apa? Selama ini Papah tidak pernah peduli.”

“Reza, Papah dan Mamah sadar kalau kami banyak salah ke kamu. Kami hanya ingin membayar kesalahan yang sudah terjadi di masa lalu,” kata Ibu Pratama dengan lembut. Dia berusaha memegang tangan anaknya, meski langsung ditepis oleh Reza.

“Sudah terlambat sekarang, jadi berhentilah bersikap peduli. Setelah wisuda, saya akan segera kerja dan pergi dari rumah ini, dari kalian. Jadi, jangan pura-pura khawatir lagi,” jawab Reza lagi masih dengan nada yang dingin.

Pak Pratama mengangkat sebelah alisnya penasaran.

“Papah kira kamu mau melanjutkan usaha Papah? Papah tidak mungkin pegang perusahaan itu seutuhnya, kerjaan Papah sebagai rektor sangat banyak.”

“Jangan harap, Pah. Saya gak mau jadi mengikuti jalur Papah. Saya bisa berdiri sendiri, jangan khawatir.”

Pak Pratama menaruh koran di atas meja dan melipatkan tangannya di depan dada.

“Reza, Papah gak mau tahu. Kamu satu-satunya anak Papah, itu artinya kamu satu-satunya yang bisa meneruskan usaha Papah. Karena itu, kamu lah yang harus melanjutkan usaha Papah!” bentaknya dengan keras.

“Tidak mau! Berhentilah sok mengatur hidup saya! Kehidupan saya ini milik saya, Papah gak bisa mengaturnya seperti yang Papah selalu lakukan ke orang-orang yang Papah tidak suka!” balas Reza tak mau kalah.

“Pokoknya, setelah wisuda, Papah akan mengirimmu kuliah di luar negeri dan melanjutkan usaha Papah. Titik!”

“Saya ga mau kuliah lagi! Saya mau langsung kerja! Mau menikahi pacar saya!”

“Kamu punya pacar?” Kali ini, Ibu Pratama mengeluarkan suara setelah terdiam beberapa saat dan hanya mengamati percecokan antara bapak dan anak di depannya.

“Iya, lebih tepatnya calon istri saya.”

“Anak mana dia? Perkenalkan ke Mamah, ya.”

Reza menunjukkan sedikit senyumannya. “Nanti saya akan kenalkan kalau waktunya sudah tepat.”

“Punya apa kamu sok-sokan mau menikah? Emang kamu sudah bisa menghasilkan apa? Hidup masih numpang dengan orang tuamu, wisuda saja belum. Anak mana yang kamu kasih janji palsu? Kamu pikir, pernikahan itu hal yang gampang?” Pak Pratama kembali mencibir.

“Kalau kamu mau menikah dengan siapa pun itu, maka kamu harus kuliah lagi dan melanjutkan usaha Papah. Mau dikasih makan apa nanti anak-anakmu?”

Reza menyeringai.

“Tidak masalah jika kami melarat, asalkan bahagia. Buat apa jadi orang kaya seperti Papah kalau pada akhirnya malah menelantarkan anak dan istrinya?” cibirnya tak mau kalah lalu pergi meninggalkan mereka berdua dan menuju ke kamarnya.

“Reza!” panggil Pak Pratama dengan wajah bersungut-sungut tanda tidak terima dengan kata-kata Reza.

***

Hari ini, Reza pergi ke kampus lagi karena harus mengantar Fian ke sekolah dan Ratna ke kampus. Ini sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari dan Reza sama sekali tidak berniat untuk berhenti meski pun Ratna selalu memarahinya karena hal itu.

“Sampai kapan kamu mau kayak gini terus? Kok senang banget jadi supir pribadiku?” tanya Ratna jengkel.

Tentu saja dia jengkel, dia khawatir kalau orang-orang di kampus mulai mencium hubungan di antara mereka berdua.

Kalau mereka sampai ketahuan, tentu saja semua orang akan menertawai dan menghujat mereka. Selain itu, hal yang jauh lebih menakutkan adalah ketika kabar itu sudah sampai ke rektor kampus, Pak Pratama alias ayahnya Reza, dan Ratna tidak ingin membayangkan apa yang akan Pak Pratama lakukan selanjutnya jika sampai dia tahu soal hubungan mereka berdua.

Hubungan mereka ini cukup terlarang dan berbahaya. Bayangkan saja, bagaimana bisa seorang dosen dan ketua prodi serta seorang janda yang sudah mempunyai anak menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa yang baru mau sidang?

Konyol!

Mahasiswa-mahasiswa pasti akan mencibirnya. Belum lagi dosen-dosen lain yang tidak suka dengannya.

Ratna tidak akan menampiknya, sampai sekarang dia masih takut soal itu, mau sebesar apa pun cintanya. Karena itulah dia meminta, atau lebih tepatnya memaksa Reza, untuk menyembunyikan hubungan mereka, setidaknya sampai laki-laki itu wisuda.

“Iya, mau jadi supir pribadimu. Sekalian latihan juga, biar nanti kalau kita menikah aku udah terbiasa,” jawab Reza santai sambil cengengesan.

“Ngomong mau menikah mulu. Emang kita yakin bakal menikah? Anak muda sepertimu memangnya punya apa?

“Aku memang belum punya apa-apa sekarang, karena itulah aku harus lekas kerja agar bisa melamarmu!”

Ratna yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menyembunyikan wajahnya yang sedang tersipu-sipu.

Tentu saja dia tidak percaya. Bagaimana dia bisa percaya dengan kata-kata itu? Di hubungan ini, dia tidak menaruh harapan apa pun mengenai pernikahan. Ratna sadar, Reza masih mempunyai jalan yang panjang untuk hidupnya. Masih banyak yang dia harus lakukan di usianya yang masih muda. Ratna tidak ingin menjadi penghalang untuk masa depan kekasihnya.

“Ngawur saja kamu bisanya,” katanya sebal, berusaha menyembunyikan kekecewaannya karena tidak bisa melangkah lebih jauh dengan Reza. Sementara, pemuda itu membalasnya dengan tawanya yang keras.

“Cieee… malu, ya?” ledeknya.

“Berisik!”

***

“Terus, kamu ngapain di sini? Di ruanganku? Bimbingan kita sudah selesai,” kata Ratna sambil melihat pria yang lebih tinggi darinya itu dengan tatapan malas.

“Hm, aku bosan, jadi aku main aja ke sini?” jawab Reza sambil menggaruk-garuk dagunya yang mendadak gatal.

“Hari ini aku ada meeting dan urusan di luar kampus, mending kamu pulang aja.”

“Yah… Jadi, kamu bakal ninggalin aku?” tanya Reza tak terima, wajahnya sok disedih-sedihkan.

“Iya, salah sendiri ngintil. Aku tuh orang sibuk.”

“Iya, deh, emang susah punya pacar ketua prodi sekaligus dosen mah.”

“Nyesel?”

“Enggak!” jawab Reza lalu tertawa terbahak-bahak.

“Gak apa-apa, aku di sini aja sampai kamu kelar urusannya,” katanya lagi setelah tawanya reda. Dia menampilkan senyumnya yang cukup menarik dan berhasil membuat Ratna kembali terpesona.

“Y-ya udah kalau itu yang kamu mau. Jangan ngacak-ngacak barangku loh!” omelnya dengan rasa gugup yang dia berusaha sembunyikan.

“Paling aku habiskan persediaan kopimu,” jawab Reza santai.

Ratna langsung menatapnya marah. “Itu kopi mahal! Kamu ganti y-”

Belum selesai Ratna berbicara, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.

“Siapa?” tanya Ratna hati-hati.

Apakah orang itu mendengar pembicaraan mereka? pikirnya. Gak ada yang aneh ‘kan dengan pembicaraan mereka tadi?

“Ini saya, Pak Norman,” sahut orang di luar sana.

Reza langsung mendengus kasar ketika mendengar suara dari orang yang paling dia tidak suka setelah orang tuanya dan Reynaldi.

“Ngapain dia di sini?” bisiknya kasar ke Ratna.

“Mana aku tahu!” balas Ratna dengan nada berbisik juga.

“Oh ya, Pak Norman. Masuk saja!” kata Ratna lagi, kali ini ke Pak Norman.

“Ngapain biarin dia masuk?!” bisik Reza lagi, masih tidak terima.

“Berisik! Udah, kamu duduk aja di situ. Nanti kita ketahuan!”

“Kamu malu pacaran denganku?!”

“Reza-”

Cklek!

Pintu pun dibuka dan memperlihatkan seseorang dengan perawakan tinggi dan berpenampilan perlente. Pak Norman memang salah satu dosen yang punya tubuh bak model dan digemari banyak wanita di kampus. Kecuali Ratna, tentu saja.

“Bu Ratna,” sapanya dengan sopan dan wajah penuh senyuman.

“Iya, ada apa, Pak Norman?” balas Ratna berusaha ramah.

“Anu, saya sedang berpikir apa Ibu mau makan siang nanti dengan saya? Saya tahu restoran yang bagus.”

“Duh, gimana, ya,” jawab Ratna ragu-ragu.

Matanya langsung melihat ke arah Reza yang sedang duduk di sofa dengan tatapan yang sulit diartikan, laki-laki itu menatap ke arah Ratna dan Pak Norman.

“Jangan!” ancam Reza tanpa mengeluarkan suaranya.

“Saya yang traktir deh, Bu. Sekalian ada yang ingin saya katakana,” kata Pak Norman lagi saat melihat Ratna tidak segera menjawab tawarannya.

“Apakah itu penting?” tanya Ratna hati-hati.

“Tentu saja penting.”

“Hm, oke, baiklah,” jawab Ratna setelah berpikir beberapa saat.

Mata Pak Norman langsung berbinar.

“Benarkah? Baik, nanti saya datang lagi ke sini untuk menjemput Ibu. Kalau gitu, saya permisi! Selamat bekerja,” kata Pak Norman dengan antusias lalu meninggalkan ruangan tersebut.

“Kenapa kamu menerima tawarannya?!” bentak Reza setelah melihat Pak Norman sudah keluar dari ruangan Ratna.

“Aku gak punya pilihan lain! Dia bilang dia punya sesuatu yang penting untuk disampaikan!” jawab Ratna gusar.

Dia tahu kalau dia baru saja memancing amarahnya Reza. Meski sejujurnya, sampai sekarang dia masih tidak mengerti mengapa Reza selalu kesal setiap melihatnya berinteraksi dengan Pak Norman. Mereka hanya berteman, tidak lebih.

Beginilah kalau terlalu fokus dengan pekerjaan, bahkan dengan hal sesederhana itu, Ratna tidak peka.

“Kamu bilang, kamu sibuk hari ini!”

“Memang aku sibuk! Habis ini aku mau langsung meeting. Waktu luangku cuma saat makan siang!”

“Dan kamu malah menghabiskan waktu luangmu dengan orang itu? Bukan denganku?”

“Dia ingin menyampaikan sesuatu yang penting, Reza.”

“Dia tuh bohong tahu! Mana gak sadar dengan keberadaanku lagi. Padahal, aku duduk di situ! Dekat dengan dia berdiri tadi!” omel Reza.
“Kamu mau kehadiranmu disadari Pak Norman? Za, jangan bilang kamu…”

“Bukan!” bantah Reza frustasi ketika mengetahui apa yang baru saja Ratna ingin katakan.

“Ya sudahlah, aku kesal! Senang-senang lah dengan Pak Norman!” katanya lagi lalu pergi meninggalkan Ratna sendirian di ruangannya.

“Reza!”

***

Pada akhirnya, Reza pun mengikuti mereka berdua secara diam-diam.

Bukan, tentu saja dia percaya Ratna dengan seluruh jiwa dan raganya, tapi sayangnya, dia tidak percaya dengan Si Norman sialan itu! Dia tahu apa yang bapak-bapak itu rasakan ke Ratna!

Mana katanya dia mau menyampaikan sesuatu, hatinya terasa tidak nyaman. Dia khawatir dengan apa yang ingin Pak Norman sampaikan, meski pun dia tidak seharusnya merasakan itu. Ratna miliknya, apa lagi yang harus dia khawatirkan?

Tapi, Pak Norman itu tampan, bahkan Reza mengakui itu. Dia memiliki segala hal. Dia jauh lebih pantas berdiri di samping Ratna ketimbang Reza. Usianya juga lebih tua dari Ratna, dan itulah poin tambahan yang Reza tidak miliki.

Jadi, di sinilah dia, tepatnya di samping mejanya Ratna dan Pak Norman duduk, dengan alat penyamaran seadanya, yaitu kacamata hitam dan beannie hitamnya.

“Bu Ratna, silahkan pilih saja makanannya. Jangan khawatir soal biaya, saya yang traktir Ibu,” kata Pak Norman dengan ramah.

Gak usah sok ramah lu, Norman sialan! umpat Reza dalam hati.

“Oh ya, Pak, padahal gak usah repot-repot,” kali ini, dia mendengar Ratna berbicara. Dia tahu kalau Ratna sedang merasa tidak nyaman. Tak bisakah Pak Norman sadar kalau Ratna tidak menyukainya?

That should be me, duduk di depanmu dan makan bersamamu, Ratna! pikirnya gusar.

“Ngomong-ngomong, apa yang mau Bapak sampaikan?” tanya Ratna setelah terjebak dalam kondisi canggung selama beberapa saat, terdiam tanpa saling berbicara.

“Hm, nanti saja setelah makan. Oh ya, jangan panggil saya Bapak, panggil saja Norman. Saya merasa tua, Ratna.”

“Tapi saya tidak nyaman kalau harus manggil Bapak dengan sebutan itu. Saya merasa tidak sopan, Pak.”

Reza bisa melihat Ratna tersenyum sopan ke arah Pak Norman dan membuat rekan kerjanya itu salah tingkah.

Siapa yang suruh kamu tersenyum gitu ke orang lain selain aku?! bentak Reza kasar, dalam hati.

“Oh, baiklah, Bu, jika itu yang Ibu mau. Oh! Makanannya sudah datang, silahkan dinikmati.”

“Baik, Pak, terima kasih. Bapak juga.”

***

Setelah selesai makan, Ratna pun kembali bertanya ke Pak Norman.

“Jadi, apa yang ingin Bapak sampaikan sebenarnya? Saya harus bertemu dengan seseorang, dia sudah menunggu saya.”

Reza langsung tersenyum saat mendengar itu. Ratna masih memikirkannya, bahkan ketika duduk dengan pria tampan seperti Pak Norman.

“Hm, anu, Bu,” jawab Pak Norman ragu-ragu.

“Anu?” tanya Ratna curiga.

“Katakan saja apa yang Bapak ingin sampaikan, saya tidak suka sesuatu yang bertele-tele.”

Hati Pak Norman langsung mengkerut. Dia takut dengan sisi Ratna yang seperti ini.

“Itu- Bu Ratna, apakah Ibu berkenan untuk menjadi pacar saya? Saya sudah tertarik dengan Ibu sejak lama,” kata Pak Norman akhirnya setelah tergagap-gagap beberapa kali.

Tuh, ‘kan, benar dugaan gua. Dia mau nyatain cinta ke Ratna! umpat Reza tak teriuma.

Ratna terlihat bingung. “Eh?”

Pak Norman langsung memegang tangan Ratna dengan hati-hati. Reza yang melihatnya hampir membanting meja di depannya.

“Saya lihat Ibu mungkin kesusahan merawat anak Ibu sendirian, apalagi dia masih kecil. Dia tentu memerlukan seorang ayah untuk mendidiknya. Bagaimana kalau kita berdua menjalin hubungan? Kali saja berhasil. Lagian saya juga sudah menduda sejak lama,” ujar Pak Norman panjang lebar.

Ratna hanya bisa terkejut dan terdiam saat mendengar pengakuan dari rekan kerjanya. Akhirnya, dia mengerti mengapa Reza begitu kesal setiap melihat ketua prodinya itu berinteraksi dengannya.

“Bagaimana, Bu? Apa Ibu mau?” tanya Pak Norman lagi.

“Saya berjanji akan membahagiakanmu dan anakmu,” tambahnya lagi.

“Aduh, bagaimana, ya, Pak? Saya kira Bapak mau bahas soal pekerjaan, soalnya Bapak bilang penting,” jawab Ratna setelah bisa mengendalikan rasa terkejutnya.

“Ternyata Bapak mau menyatakan perasaan Bapak, saya benar-benar tidak siap.”

Bilang aja kamu gak mau, Ratna! Jangan banyak basa-basi. Aku sudah diambang kesabaranku, nih! omel Reza (masih) dalam hati.

“Oh, maaf, Bu. Saya memang tidak menjelaskan lebih detail soal itu.”

“Begini, Pak, mohon maaf yang sebesar-besarnya, tapi saya sudah punya kekasih,” ujar Ratna sambil tersenyum.

Amarah Reza yang sedari tadi sudah di ujung batas, kini langsung hilang, diganti dengan rasa bahagia karena akhirnya, Ratna mengakuinya sebagai kekasih.

“Eh? Bukannya Ibu sudah lama cerai?” tanya Pak Norman bingung.

“Iya, Pak, dan sekarang saya sudah punya seseorang yang saya anggap bisa menjaga saya dan anak saya. Dia juga sangat dekat dengan anak saya.”

“Wah, benarkah? Ibu sedang tidak bercanda ‘kan? Saya pikir Ibu jomblo karena Ibu terlalu sibuk dengan pekerjaan Ibu. Saya juga tidak pernah melihat Ibu berinteraksi dengan pria lain, kecuali Reza, mungkin, tapi dia hanyalah seorang bocah yang Ibu bimbing.”

Ya, bocah yang dia lagi bimbing itu pacarnya, Norman bego! Gua ini pacarnya Ratna, si Reza Nikola! sahut Reza dalam hati.

“Ah, kita baru pacaran belum lama ini sih, tapi dia sudah membuktikan cintanya ke saya dari sejak lama, dan saya pikir hal itu cukup untuk menerimanya masuk ke dalam hidup saya.”1

Pak Norman mengangguk-angguk mengerti, meski hatinya sedikit mencelos. “Siapa, Bu, kalau boleh tahu? Mungkin, saya kenal.”

Kepo banget emang om-om satu ini, gerutu Reza pelan lalu berdiri dari tempat duduknya. Dia ingin membuat Norman satu itu melihatnya dan menyadari kalau dia adalah pacar Ratna, tidak peduli bagaimana respon Ratna.

“Selamat siang, Pak Norman, Bu Ratna,” katanya setelah mengambil kursi di samping Ratna. Wajahnya datar.

Pak Norman mengalihkan perhatiannya ke Reza, sementara Ratna langsung memandang tajam laki-laki di sampingnya. Sebenarnya, dia sudah menyadari kehadiran pemuda itu sejak tadi, tapi dia berusaha menghiraukannya.

“Reza, sedang apa kamu di sini? Ada perlu dengan Bu Ratna?” tanya Pak Norman ramah.

Reza hanya mengangkat alisnya sebelah, lalu tersenyum simpul.

“Sayang sekali, Pak Norman.”

“Maksudnya?”

“Saya mendengar pembicaraan kalian tadi, kalau Bapak menyukai dosen pembimbing saya dan berharap bisa menjadi pacarnya.”

Pak Norman langsung tersentak kaget, semburat merah menghiasi pipinya yang tirus.

“Saya tahu, siapa pacarnya Bu Ratna,” kata Reza lagi, kali ini menampilkan senyum penuh kemenangan.

“Saya kenal baik dengannya.”

Ratna langsung mencubit pinggang Reza, berharap bisa menghentikan apa pun yang pria itu ingin lakukan. Dia tidak ingin Reza terus-terusan mencari gara-gara ke ketua prodinya sendiri.

Namun, pemuda itu tidak terlihat jera sedikit pun. Dia masih asyik dengan senyum puasnya melihat Pak Norman yang sedikit linglung.

“Memangnya siapa, pacarnya Ratna?” tanya Pak Norman setengah mengiba. Dia benar-benar ingin tahu siapa yang berhasil mengambil hati si wanita dingin macam Ratna.

“Bapak benar-benar mau tahu?” ledek Reza sambil berusaha menahan tawanya.

Pak Norman mengangguk cepat, matanya menunjukkan ekspresi memelas.

Seperti anjing, pikir Reza gemas. Seandainya gua bisa mengabadikan momen ini.

“Saya,” katanya mantap, sementara tangannya merangkul pundak Ratna dengan posesif.

“Saya pacarnya Ratna. Anak bimbing yang Bapak sebut tadi itu pacarnya Ratna, yaitu saya.”

Pak Norman makin terbelalak. Dia menatap Reza tidak percaya. “Apa?!” bentaknya sambil berusaha mencerna apa yang baru saja Reza katakan.

Sementara, Ratna hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah.

“Jangan bercanda, Reza. Berhentilah bermain-main! Setidaknya, carilah wanita lain yang bisa menjadi pelampiasan hasratmu. Jangan Ratna! Dia terlalu berharga untuk kamu jadikan permainanmu!”

“Maaf sekali, Pak Norman, tapi saya tidak membutuhkan kepercayaan dari Bapak. Satu hal yang pasti adalah saya ini kekasihnya Ratna, dan tidak pernah berniat untuk melepaskannya. Benar ‘kan, Ratna?” balas Reza sambil melihat Ratna dengan serius.

Ratna, mau tak mau, kembali mengangguk pasrah. Dia tidak mungkin mengelak lagi. Toh, sepertinya, Pak Norman bisa dipercaya.

“Maaf, Pak Norman, tapi itu memang benar adanya. Reza kekasih saya,” jawab Ratna pelan.

“Kalian ‘kan dosen dan mahasiswa! Bagaimana bisa?!” tanya Pak Norman masih tak percaya.

Jujur saja, harga dirinya sedikit terluka ketika mengetahui bahwa dia baru saja kalah telak dari mahasiswanya. Pak Norman sudah menyukai Ratna sejak lama, berusaha mendekati dan merayunya sejak lama, tapi wanita itu selalu mengacuhkannya. Bagaimana bisa Reza mendapatkan hati Ratna dengan mudah?

“Panjang ceritanya dan tentu saja tidak mudah, tapi ya sudah. Apa yang terjadi, terjadilah,” jawab Reza cuek.

“Bu Ratna, apa Anda yakin mau menjalin hubungan dengan playboy tengik ini?! Ibu sendiri ‘kan tahu bagaimana kelakuannya, berapa banyak perempuan yang telah ia sakiti?”

“Iya, Pak. Saya tahu betul bagaimana kelakuannya, tapi dia juga sudah membuktikan cintanya berkali-kali, menyelamatkan hidup saya dan anak saya berkali-kali,” jawab Ratna tetap tenang.

“Mantan suami saya adalah orang jahat. Entah berapa kali dia berusaha mencelakakan saya dan anak saya. Reza ada di saat saya membutuhkan seseorang. Dia tidak pernah pergi meninggalkan saya, bahkan ketika saya terus menyakitinya.”

Reza menatap Ratna dengan terpana. Hatinya terasa hangat ketika mendengar Ratna berbicara tentang mereka sambil tersenyum malu-malu.

Semetara, Pak Norman hanya bisa melihat mereka berdua dengan lemas. Tidak bisa pungkiri, dua sejoli di depannya ini terlihat berbunga-bunga. Mereka cocok bersama. Ratna yang kaku, dingin, dan sesuai aturan membutuhkan Reza yang seenaknya, cuek, dan banyak bicara untuk membuatnya lebih terbuka ke orang lain. Hatinya langsung mencelos ketika menyadarinya.

“Yah, mau bagaimana lagi? Sepertinya, saya sudah kecolongan,” katanya lesu.

“Kalian harus berterimakasih ke saya karena saya lah yang membuat kalian bertemu dan berinteraksi. Tenang saja, saya tidak akan membeberkannya ke orang lain. Pantas saja saya sering melihat anak ini di ruangan Bu Ratna. Saya pikir, dia memang ada jadwal bimbingan,” katanya lagi, kali ini nadanya normal kembali.

“Kalau bisa, kamu jangan terlalu sering datang ke ruangannya Bu Ratna, Za. Ingat, dia itu dosen dan kamu mahasiswa. Saya tidak mau Bu Ratna terkena imbasnya. Saya juga tidak mau kalau prodi kita jadi jelek gara-gara kelakuanmu yang seenaknya.” Pak Norman berdiri dari kursinya dan memakai kembali jasnya.

“Saya pamit. Reza, jangan jadikan Bu Ratna permainanmu. Saya akan mengawasimu. Ingat, kalau kau menyakiti hati Bu Ratna, maka dia akan menjadi milik saya. Ingat baik-baik soal itu, Reza. Lalu, kalian berbahagialah. Sampai jumpa,” katanya lagi lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Katanya kamu gak mau kasih tahu orang lain kalau kamu sudah punya pacar,” kata Reza tiba-tiba.

Ratna mengangkat bahunya.

“Aku tidak tahu bagaimana cara menolaknya.”

“Tapi kamu sering menolakku dulu.”

“Itu karena aku menganggapmu lebih muda dariku, jadi aku bisa seenaknya.”

“Kamu memang selalu tega denganku, Ratna.”

“Gak usah dramatis.”

“Untung kamu Ratnaku, Ratna yang aku puja setiap hari.”

“Berisik, geli tahu dengernya. Kamu pacaran dengan seorang dosen, bukan dengan remaja alay.”

“Tapi kamu sayang, ‘kan?”

“Enggak.”

“Loh, kok begitu?!”

“Udah ah, sana! Dasar penguntit!”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat