Bu Ratna Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 16

Reza tertegun selama beberapa saat, sebelum akhirnya membalas ciuman Ratna dengan gairah yang sama. Dia mengesampingkan segala pertanyaan yang terus berputar-putar di pikirannya dan lebih memilih melakukan sesuatu dengan bibir merah Ratna di bibirnya. Pertanyaan itu bisa ditanyakan kapan saja, tapi ciuman ini tidak segampang itu dia dapatkan.

Entah apa yang terjadi dengan wanita itu sampai memutuskan untuk menciumnya seperti ini, dia sama sekali tidak tahu. Mungkin ada hubungannya dengan Nadda, mungkin Nadda mengatakan sesuatu soal dia, atau mungkin karena hal lain. Yang pasti, apa pun alasannya, dia ingin berterima kasih sebesar-sebesarnya.

Selama beberapa saat, bibir mereka saling berpagutan. Bahkan, mereka sudah tidak peduli jika ada orang yang melihat mereka karena ketika bibir mereka mulai bersentuhan, seolah-olah hanya tinggal mereka berdua di dunia ini. Baru ketika Ratna mulai kehabisan napas, dia menghentikan kegiatan mereka dengan menggigit bibir bawah Reza.

“Wow,” kata Reza sambil terengah-engah, sorot matanya penuh tanda tanya.

“Kenapa kamu tiba-tiba menciumku?”

Ratna tidak langsung menjawab, ia masih sibuk mengatur napasnya agar normal kembali. Dia juga masih berusaha mencari jawaban untuk pertanyaan Reza. Ciuman itu benar-benar di atas kendalinya. Kalau boleh jujur, dia melakukannya tanpa sadar karena terpesona dengan bibir tipis Reza yang tersenyum ke arahnya. Dia ingin merasakan bibirnya lagi, sudah lama sekali bibir itu tidak bersentuhan dengannya.

“Jawab aku, Ratna,” desak Reza saat melihat Ratna yang sibuk dengan pikirannya.

“Mengapa kamu menciumku?”

“Aku juga gak tahu,” jawab Ratna ogah-ogahan seperti menolak untuk memberikan penjelasan ke Reza.

Mengapa aku seperti ini? Mengapa aku masih saja berdebar karena bocah tengil satu ini? Tidak seharusnya aku merasakan ini! gerutunya dalam hati.

“Berhentilah membuatku bingung!” sahut Reza dengan kesal.

“Jangan mempermainkan perasaanku seperti ini, rasanya sakit. Kalau kamu tidak berniat memberi penjelasan kepadaku, tolong berhentilah!”

“Reza…”

Reza memalingkan wajahnya ke arah lain, cangkir di tangannya ia pegang dengan erat seperti berusaha menyalurkan segala emosinya ke cangkir itu. Ratna hanya bisa menatapnya dengan rasa bersalah.

“Sudahlah!” kata laki-laki itu kemudian.

“Kamu sudah selesai ‘kan urusannya dengan Nadda? Ayo, kita pulang. Fian sebentar lagi pulang, bukan?” Reza meletakkan cangkir yang masih penuh itu di meja dan pergi dari hadapan Ratna.

Namun, Ratna langsung memegangnya. “Kopinya gak kamu habiskan?”

“Aku udah gak haus lagi.”

“Rez-”

“Ayo, pulang.”

Ratna hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar dan pergi mengikuti laki-laki itu.

***

Selama perjalanan pulang, suasana di antara mereka sangat berbeda dengan perjalanan pergi. Tidak ada lagi candaan dari Reza dan komentar-komentar pedas dari Ratna. Reza memutuskan untuk menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan meski Ratna berusaha mengajaknya berbicara berkali-kali.

Hal ini membuat Ratna kesal sekaligus muak, dia tidak suka diabaikan oleh siapa pun. Itu sangat tidak sopan, menurutnya.

“Kamu mau sampai kapan mendiamkan aku seperti ini?” tanyanya pada akhirnya, karena tidak sanggup menahan rasa amarahnya.
Reza masih tidak menjawab.

“Kamu marah karena aku menciummu tadi?”

Reza masih bertahan dengan diamnya.

“Kamu kesal karena aku berbuat begitu? Menciummu lalu tidak menjawab pertanyaanmu? Kamu menganggap aku ini hanya mempermainkanmu?”

“Ya, menurutmu saja lah!” Akhirnya, dia merespon juga.

“Aku tidak pernah berpikir begitu.”

“Kamu pikir aku bodoh?”

“Reza, cobalah untuk bersikap dewasa. Kamu ini masih kayak anak-anak saja.”

“Loh, bukannya aku ini masih kau anggap anakmu? Sejujurnya, mana ada ibu yang mencium anaknya sendiri? Apalagi, anaknya sudah masuk usia kepala dua. Itu incest namanya!”

“Sudahlah, aku tidak mau berdebat.”

“Aku tanya sekarang ke kamu, kenapa kamu menciumku? Senang ya membuatku bingung dan berharap lebih? Kamu menolakku dan aku mencoba mengerti keputusanmu, karena aku tidak ingin kamu sebut egois! Bukannya sekarang kamu yang egois? Mau sampai kapan kamu mengikatku seperti ini? Benar-benar toxic.”

“Reza!” bentak Ratna tak suka. Dia benar-benar marah, baru kali ini ada yang memanggilnya toxic.

“Jaga bicaramu. Hubungan kita ini rumit, Reza. Kamu anak bimbingku! Kamu jauh lebih muda dariku! 12 tahun! Kamu lebih pantas jadi anakku ketimbang jadi pacarku!”

Here we go again, batin Reza kesal. Dia sangat lelah mendengar alasan itu dari mulut Ratna. Usia dan usia lagi. Anak bimbing lagi.

Di luar sana, banyak dosen yang berakhir dengan mahasiswanya sendiri, dan mereka tidak dihukum karena itu! Jadi, apa bedanya dengan mereka? Semuanya akan menjadi mudah kalau Ratna tidak membuatnya rumit.

“Oh, come on!” geram Reza frustasi.

“Saya memang anak bimbing Ibu, saya memang jauh lebih muda daripada Ibu, tapi saya bukan anak kecil lagi! Harus bagaimana supaya Ibu bisa sadar kalau saya ini sudah besar? Tidak ada yang salah di antara kita dan kamu tahu soal itu, tapi kamu sangat penakut dan tidak berani mengambil tantangan! Hanya karena aku ini brondong!” teriaknya kesal.

Matanya menatap wanita di depannya dengan marah.

“I can pleasure women. I can kiss women. I can make them scream with pleasure every single night! Saya bukan anak kecil lagi, Bu. Tolong sadar. Saya berusaha memperlakukan Ibu dengan penuh hormat karena Ibu adalah dosen pembimbing saya, sekaligus ibu kedua saya. Saya juga menerima kenyataan kalau Ibu hanya melihat saya sebagai anak bimbing. Tapi berhentilah seperti ini! Saya merasa tidak nyaman. Ibu baru saja menginjak harga diri saya sebagai seorang lelaki dewasa!” tambahnya sambil menggebrakan setir moilnya karena amarah yang sedari tadi dia tahan.

“Saya lelah. Ibu ini sedang membimbing skripsi seorang mahasiswa, bukan sedang mengajar anak SD. Sampai kapan Ibu mau seperti ini ke saya? Benar-benar lucu.”

“Berhentilah memperlakukan saya sebagai seorang anak kecil dan mulailah belajar melihat saya sebagai seorang pria dewasa! Karena umur saya sudah mau menginjak seperempat abad. Memang masih lebih tua Ibu, tapi tetap saja saya bukan anak Ibu!”

Setelah mengatakan hal tersebut, Reza kembali mengabaikan Ratna lagi dan lebih memilih konsentrasi dengan jalanan di depannya. Sementara, Ratna juga tidak berani mengganggu Reza lagi. Dia tidak ingin membuatnya makin emosi.

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumahnya, tapi Ratna masih belum beranjak dari mobil Reza.

“Kita sudah sampai,” kata Reza dingin setelah melihat Ratna yang masih duduk di sampingnya. “Mau sampai kapan duduk di situ? Saya harus pulang.”

Ratna masih tetap bertahan dengan posisinya. Matanya lurus ke depan dengan punggung menempel di jok mobil Reza.

“Bu Ratna?” tanya Reza bingung.

Nada dinginnya mulai lenyap ketika melihat tingkah laku wanita di sampingnya itu.

“Reza, aku melihatmu sebagai pria. Aku selalu melihatmu sebagai pria sejak lama,” kata wanita itu lirih. Hatinya benar-benar sakit saat melihat pria di hadapannya itu membentaknya. Baru kali ini Reza terlihat sangat marah. Selama ini, pria itu selalu memperlihatkan senyumnya setiap berbicara dengannya.

“Apa maksudmu?” tanya Reza lagi. Dia masih tidak mengerti mengapa tiba-tiba Ratna seperti ini.

“Aku selalu melihatmu sebagai pria, Reza. Ketika kau menatapku, ketika kau memelukku, ketika kau mencoba menghiburku, ketika kau menjagaku, ketika kau bermain dengan Fian, ketika kau menciumku, ketika kau melindungiku habis-habisan. Aku selalu melihatmu dan mencintaimu sebagai pria,” jawab Ratna lalu mulai terisak.

Entah apa yang sudah terjadi dengan Reza, dia mematung saat mendengar kata-kata itu. Ratna hanya pernah mengatakannya sekali, tapi saat itu keadaannya sangat buruk karena Ratna memutuskan untuk menolak cintanya. Tiba-tiba, dia bisa mendengarkan alunan lagu yang indah dan romantis menemani mereka berdua, seolah-olah mewakili perasaannya sekarang, dan mewakili keadaan mereka sekarang.

“Tapi kamu bilang waktu itu-”

“Aku takut, sangat takut. Mungkin benar aku ini pecundang. Aku takut Pak Rektor melakukan hal yang buruk padamu, meski pun dia ayahmu sendiri. Aku tidak ingin menjadi penyebab kamu tidak lulus kuliah. Aku tidak ingin menjadi benalu di kehidupan-”

“Kamu tahu hal itu tidak akan pernah terjadi dan kamu tidak akan pernah menjadi benalu buatku,” potong Reza cepat.

“Terus, apa yang membuat kamu berubah pikiran sekarang? Kamu sudah membuat keputusanmu, ‘kan?”

“Entahlah,” Ratna mengusap matanya yang penuh air mata. “Mungkin karena kata-kata Nadda tadi, bahwa aku ini berhak bahagia, bahwa aku harus lebih memperhatikan kebahagiaanku sendiri ketimbang pendapat orang lain.”

Reza tersenyum lebar, lalu mengusap-usap rambut Ratna dengan gemas.

“Aku sudah berapa kali bilang begitu sampai capek dan kamu gak pernah mendengarkan, tapi kamu mendengarkan perkataan Nadda?” tanyanya tak percaya, meski senyuman masih menempel di bibirnya.

“Wah, aku benar-benar tak percaya.”

“Nadda lebih bisa dipercaya daripada kamu,” balas Ratna meledek.

“Kemarin kamu membenci Nadda sampai ke ubun-ubun, sekarang kamu bilang dia lebih bisa dipercaya? Wah, gila memang.”

“Apaan sih!” kata Ratna sambil tertawa kencang. Hal itu membuat Reza juga ikut tertawa.

“Akhir-akhir ini kamu terlalu sering menangis. Senang rasanya melihat kamu tertawa seperti ini,” katanya sambil mengusap pipi dan dagu Ratna dengan sayang. “Apa kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan tadi, bahwa kamu mencintaiku?”

“Menurutmu bagaimana?” tanya Ratna sambil memegang tangan Reza yang sedang mengusapnya.

“Benar-benar,” omel Reza dan membuat Ratna tertawa lagi.

“Katakan padaku, Ratna. Kau serius?” tanyanya dengan hati-hati. Senyuman di bibirnya hilang.

Wanita itu hanya mengangguk karena dia masih sibuk bermain dengan jari-jari panjang Reza sampai membuat laki-laki itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

***

“Jadi, apakah yang kemarin itu benar?” tanya Reza entah sudah yang keberapa kalinya.

“Iya, Reza. Ya Tuhan, harus berapa kali aku mengatakannya?! Kamu sudah menanyakannya sejak kemarin!” bentak Ratna gemas.

Dia memang bukan ahli percintaan karena dia adalah orang yang pemalu. Sementara, Reza adalah orang yang sangat terbuka soal perasaannya. Mereka sangat bertolak belakang.

“Hehehe… hanya memastikan saja,” jawab Reza sambil tertawa geli. Dia senang menggoda Ratna.

“Sudah sejak kapan?” tanya Reza lagi.

“Entahlah, sudah sejak lama sampai aku juga tidak ingat kapan tanggal pastinya. Jadi, bisakah kita hentikan pembicaraan menjijikan ini dan fokus kembali dengan skripsimu?!” jawab Ratna hampir meledak.

“Hm? Menjijikan? Berbicara tentang perasaanmu kepadaku itu menjijikan bagimu?”

Ratna menghembuskan napasnya perlahan, mencoba untuk bersabar.

“Bukan itu maksudku, kamu tahu itu, tapi aku memang tidak biasa mengutarakan perasaanku secara gamblang. Perhatianku selama ini adalah bentuk rasa cintaku, Reza,” jelasnya sambil berusaha menahan rasa malunya.

“Tapi kamu selalu menolakku dan mengatakan kalau umur kita terlalu jauh bedanya,” bantah Reza.

“Karena memang benar. Dan aku takut, Reza. Aku cemas. Kamu tahu aku sudah tidak muda lagi. Bagaimana kalau kamu menemukan wanita yang jauh lebih muda dan cantik ketimbang aku? Banyak sekali hal yang aku cemaskan.”

“Kok kamu sampai berpikir begitu? Tak masalah soal umur, yang penting sama-sama cinta!” cetus Reza semangat.

“Kamu memang selalu seenaknya! Pemuda sepertimu tahu apa soal rasa cemasku?”

“Kalau sama aku, kamu gak usah cemas lagi lah, sayang.”

“Kayaknya ga bisa, kamu kan playboy kelas kakap. Si Brengsek Reza itu sebutanmu. Ah, tiba-tiba aku kepikiran soal perempuan-perempuan yang kamu tiduri selama ini. Apa mereka tidak apa-apa? Lebih baik kamu pilih salah satu dari mereka saja ketimbang aku. Mereka pasti masih muda dan lebih cantik, belum ada keriput juga. Seleranya juga pasti sama denganmu, selera anak muda,” kata Ratna dengan ketus.

“Mulai lagi nih ya.”

“Mau bagaimana lagi, aku cemas!”

“Cemas atau cemburu?”

“H-hanya cemas kok, tenang saja.”

“Terus, kenapa gugup begitu?”

“Berisik!”

Reza tertawa lagi. Entah sudah berapa kali ia tertawa semenjak kemarin. Mungkin, karena hatinya terasa lega dan lapang.

“Tenang saja, Ratna. Aku sudah melupakan mereka semua. Aku tidak akan bermain dengan wanita lain lagi, aku janji,” Reza berusaha menenangkan hatinya Ratna yang sedang terbakar api cemburu.

“Oh, yakin tuh? Kamu patah hati sedikit saja sudah tidur dengan banyak orang, bahkan Nadda!”

Reza langsung merasa bersalah.

“Iya, aku minta maaf ya, Ratna. Aku bersih kok, gak punya penyakit apa-apa, aku bisa jamin. Aku tidak akan melakukannya lagi,” janjinya lebih kepada dirinya sendiri.

“Kamu harus tahu, Za, aku gak akan kasih kamu kesempatan kalau kamu berani-beraninya bermain di belakangku.”

“Siap, nyonya! Cintaku hanya untukmu saja!” sahut laki-laki itu sebelum mencium pipi Ratna dengan gemas.

Ratna langsung tersentak.

“K-konyol memang kamu ini!”

“Tapi kamu suka, ‘kan?”

“Diam!”

***

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Skripsi Reza sudah dalam tahap penyelesaian dan kalau lancar, dia akan segera sidang. Hari ini adalah hari terakhir dia melakukan bimbingan dengan Ratna, dosen pembimbingnya sekaligus pacarnya.

Mengingat Ratna, mereka sudah dua minggu menjalin hubungan cinta. Memang masih sebentar, tapi perjalanan yang mereka lalui sebelumnya sudah cukup lama dan rumit.

Tidak ada yang berbeda dari mereka setelah pacaran, Reza tetap menjadi seseorang yang suka mengajak Ratna bercanda agar wanita itu tidak terlalu kaku lagi, dan Ratna tetap menjadi seseorang yang tidak pandai mengekspresikan emosinya secara gamblang.

Satu hal yang akhirnya Reza sadari setelah mereka pacaran, Ratna itu sangat suka membaca buku. Terutama buku non fiksi. Bahkan, ketika mereka kencan pun, dia selalu membawa buku dan membacanya di sela-sela waktu. Pantas saja dia memiliki pengetahuan yang cukup luas. Pantas juga kalau Fian, meski usianya masih belia, memiliki otak yang cukup cerdas.

Beberapa kali Ratna bilang kalau dia ingin mencoba menulis buku, tapi tidak pernah sempat karena kesibukannya di kampus dan mengurus Fian. Dia juga tidak punya kenalan di bidang percetakan, karena itulah keinginannya sampai sekarang belum terwujudkan.

Hari ini, mereka melakukan bimbingan di rumah Ratna karena wanita itu sedang tidak enak badan. Reza tentu saja menyetujuinya, dia tidak mau melihat Ratna memaksakan dirinya ke kampus dengan kondisi badan yang tidak fit. Lagipula, kalau bimbingan di rumah, dia juga bisa sekalian merawat Ratna dan menjaganya karena kadang wanita itu suka sok kuat.

Misalnya, saat Ratna kehujanan dan masuk angin, dia bilang dia tidak apa-apa dan menyuruh Reza pulang saja, padahal malamnya dia menggigil hebat. Kalau bukan karena Fian yang meneleponnya di tengah malam, pasti Reza tidak akan tahu. Ratna tidak akan pernah memberitahunya.

Sebelum ke rumah Ratna, dia pergi dulu ke supermarket untuk membeli beberapa makanan ringan untuk Fian dan obat untuk Ratna. Dia juga membeli bahan-bahan masakan karena dia berniat untuk memasak bubur di rumahnya.

Hidup dengan orang tua yang serba sibuk membuat Reza pandai memasak, dan kali ini dia mau menggunakan keahliannya untuk wanita yang dicintainya. Ada yang bilang jika kita memasak sesuatu dengan cinta, pasti makanan itu akan terasa lebih enak dari biasanya. Kata siapa? Tentu saja kata Reza.

Setelah urusannya di supermarket selesai, dia pun langsung ke rumah Ratna.

Ting tong!

“Iya, sebentar,” kata orang di dalam rumah Ratna, yang sudah pasti itu suara wanita itu meski agak serak dan lemah.

Pintu pun dibuka dan memperlihatkan Ratna yang terlihat sedikit kusut dan ‘terbuka’ karena hanya memakai tank top berwarna merah dan celana pendek selutut.
Reza yang melihatnya hanya bisa terdiam sambil menganga.

“Aku sudah tahu itu kamu,” sapa wanita itu saat melihat Reza masih belum mengeluarkan suaranya.

“Maaf pakaianku seperti ini, pakaianku belum sempat aku cuci dan aku lemas sekali hari ini. Ayo masuk,” tambahnya lalu meninggalkan Reza yang masih berdiri di depan pintu. Diam tak berkutik.

“Kau tidak mau masuk?” Kali ini Ratna bertanya –lebih tepatnya berteriak- dari dalam saat menyadari kalau Reza belum masuk juga–

“Oh- oh, iya!” jawab Reza tergagap-gagap. Akhirnya, dia sadar juga.

***

Sepanjang bimbingan, Reza tidak bisa berkonsentrasi sedikit pun dan dia menyalahkan semuanya ke pakaian yang Ratna gunakan! Entah sudah berapa kali dia mencoba fokus, tapi tetap saja matanya berakhir memperhatikan tubuh Ratna sambil berpikir mesum.

“Berhenti dulu sebentar,” katanya tiba-tiba, memotong penjelasan Ratna.

“Ada apa?”

“Kamu benar-benar tidak punya baju yang lebih tertutup?”

Ratna langsung melongo, mencoba mencerna pertanyaan tiba-tiba Reza. Mengapa tiba-tiba laki-laki itu bertanya seperti itu, apa dia tidak nyaman dengan pakaiannya sekarang? Tunggu, apa dia sebegitu peyotnya?

“Apakah aku sepeyot itu?” tanya Ratna hati-hati, berusaha meredam rasa insecure soal badannya.

“Bukan. Kamu sadar gak sih kalau kamu punya badan bak model?”

“Hah?” Ratna makin bingung.

“Entahlah, aku tidak pernah memperhatikannya,” jawabnya kemudian dengan nada cuek. Tiba-tiba, matanya membesar, seperti menyadari sesuatu.

“Tunggu-tunggu, apa kamu sekarang sedang tergoda karena pakaianku yang terbuka seperti ini?”

“Menurutmu siapa yang tidak akan tergoda?” tanya Reza dengan alis dinaikkan sebelah.

Ratna mencoba sekuat tenaga untuk menahan rasa geli di pikirannya.

Dasar pria, katanya dalam hati.

“Aku tidak punya baju untuk dipakai, Za. Kalau kamu lihat baju kotorku dan Fian di belakang, pasti kamu kaget,” balas Ratna kemudian dan kembali fokus mengoreksi skripsinya Reza.

“Laundry kan bisa,” cetus Reza.

“Aku tidak percaya dengan yang namanya laundry, bajuku tidak pernah dicuci dengan benar oleh mereka.”

“Kalau begitu, nanti aku yang akan mencuci baju kamu,” tawar Reza tiba-tiba sampai membuat Ratna melihatnya lagi.

“Tidak perlu, Reza.”

“Aku tidak membutuhkan pendapatmu. Lagipula, kamu suka ya kalau aku tidak fokus sepanjang bimbingan? Suka ya menyiksaku?”

“Tapi Re-”

“Sst… tidak ada tapi-tapian. Ayo, kita fokus lagi dengan bimbingan ini agar aku bisa segera mengerjakan hal lain,” tukas Reza akhirnya.

Dia tidak ingin menerima bantahan apapun dari Ratna, hari ini dia ingin meringankan pekerjaannya wanita itu.

Sedangkan, Ratna hanya bisa menghelakan napasnya panjang dan menggerutu pelan karena sampai sekarang dia tidak mengerti mengapa dia tidak bisa membantah pria yang usianya jauh lebih muda dari dia itu.

***

“Aku mau nyuci dulu, kamu makan sana. Aku sudah buatkan bubur. Kamu sadar ‘kan ada bubur di meja ruang tamu?” perintah Reza dari dapur.

Ratna, yang sedang tiduran di ruang tamu, hanya bisa mengiyakan sambil masih asyik bermain dengan handphone-nya.

“Kamu ini lagi sakit masih saja main handphone. Makan!” kata Reza tegas dengan kedua tangan dilipat di depan dadanya.

“Berisik. Katanya mau nyuci.”

“Ada yang kelupaan. Sana, cepat makan!”

Ratna pun berhenti bermain handphone dan mulai makan bubur di depannya dengan malas-malasan.

“Jangan malas-malasan gitu makannya, buburku segitu gak enaknya?”

“Jangan tanya aku. Lidahku gak berfungsi dengan benar dari kemarin karena sakit.”

Reza hanya bisa mendesah pelan. “Kapan Fian pulang?”

“Jam dua belas, kenapa memang?” tanya Ratna balik sambil berusaha menelan bubur yang menurut dia tidak ada rasanya.

“Aku mau jemput dia,” jawab Reza.

“Kamu gak usah repot-repot, Reza, aku sudah bilang berkali-kali.”

“Siapa bilang aku merasa direpotkan?” tanya Reza sambil tersenyum. “Aku senang membantumu, sayang. Ya sudah, aku nyuci dulu ya, makan yang benar. Jangan main handphone!”

“Berisik dasar, kayak emak-emak saja. Kamu jadi mengingatkan aku dengan diriku setiap Fian sakit.”

“Pasti Fian senang kalau melihatku seperti ini, dendamnya terbalaskan.”

“Heh, dia itu suka kalau aku perhatian. Makanya dia jadi manja setiap sakit!” kilah Ratna dengan bubur masih di mulutnya. Bibirnya sedikit cemberut.

Lucu sekali wanita ini, pikir Reza, Ratna menjadi sangat berbeda ketika sakit. Seperti anak kecil.

“Kalau aku sakit kamu bakal manjain aku juga gak?”

“Enggak,” jawab Ratna langsung.

Reza hanya bisa cemberut saat mendengar jawaban kekasihnya. Bibirnya manyun seperti Donald Bebek.

“Jangan manyun gitu, jelek.”

“Jadi, kalau gak manyun, aku ganteng?” tanya Reza sambil mengedip-ngedipkan mata sebelah kanannya dengan centil.

“Jelek juga,” jawab Ratna singkat sambil tetap fokus dengan makanannya.

“Kamu memang tega. Ya sudah, aku nyuci dulu, ya. Kamu habis makan langsung minum obat dan tidur ya!” kata Reza lalu mengacak-acak rambut kekasihnya itu dengan jahil.

“Hey, anak muda! Beraninya-”

Cup.

Reza mengecup bibir Ratna sekilas dan tersenyum manis di depannya.

“Enak juga ternyata buburku,” katanya sambil mengangguk-angguk lalu langsung pergi dari hadapan Ratna untuk melanjutkan pekerjaannya.

Sementara Ratna, dia diam tidak bergerak karena kaget oleh perlakuan Reza tadi. Pipinya tiba-tiba merona dan jantungnya mendadak berdebar lebih kencang dari biasanya.

Ada apa denganku? Mengapa aku seperti ini? Sialan memang anak muda itu. Berani-beraninya dia bermain dengan perasaanku! geramnya dalam hati.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat