Bu Ratna Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 15

“Fian di mana, ngomong-ngomong?” tanya Reza saat mereka sudah dalam perjalanan menuju lokasi tujuan mereka.

“Dia nginep di rumah saudaranya,” jawab Ratna datar. Matanya lurus ke arah jalan raya di hadapannya.

“Mereka berniat untuk pergi ke Farm House hari ini.”

“Aku kira saudaramu cuma Linda,” kata Reza setengah tak percaya.

“Siapa mereka?”

“Sayangnya, keluargaku tidak sekecil itu,” Ratna mengalihkan perhatiannya ke radio di depannya.

“Dia nginep di rumah anaknya kakaknya ayahku.”

Beberapa saat, Ratna sibuk memilih lagu mana yang ingin dia putar. Namun, ketika lagu This Old Heart of Mine milik Rod Stewart muncul, dia menghentikan kegiatannya dan kembali melihat ke arah jalan raya. Mulutnya ikut bernyanyi meski pelan.

Sementara, Reza memperhatikannya dengan gemas.

Lagu jadul memang cocok banget untuk wanita seusiamu, pikirnya sambil terkekeh.

“Kenapa tertawa, hah?” tanya Ratna jutek dan langsung menghentikan nyanyiannya.

“Ah, enggak,” jawab Reza sambil masih memperhatikan wanita di sampingnya itu.

“Ngomong-ngomong, kamu akrab dengan saudaramu itu? Aku kira, kamu akrab cuma ama Linda,” tanyanya setengah meledek.

“Oh, sayang sekali, anak muda. Kau selama ini salah menilaiku.”

“Aku tidak pernah melihatmu berinteraksi dengan orang lain selain aku, Linda, dan Pak Norman, loh, makanya aku gak tahu,” kata Reza. Tiba-tiba, nada suaranya menjadi serius. “Kenapa sih suka banget sendirian kayak gitu?”

Ratna langsung menutup matanya berusaha sabar.

“Sudahlah, diam saja, Reza,” jawab Ratna dengan malas.

“Pertanyaanmu gak penting. Daripada membahas hal-hal seperti itu, mending kita ngobrol tentang skripsimu yang gak selesai-selesai itu. Aku sampai capek loh ngurusinnya.”

“Ah, skripsi mah bisa nanti-nanti.”

Ratna langsung berbalik dan menatap Reza lurus-lurus.

“Kapan nantinya? Reza, kamu ingin wisuda, ‘kan?”

“Tentu saja aku mau wisuda, siapa yang gak mau wisuda?”

“Karena itu kerjakan lah skripsimu!”

“Iya, iya!” kata Reza pasrah. “Aku kerjakan nanti, Bu Ratna, setelah pulang dari sini.”

“Bagus, saya akan menunggu kabarnya besok jam satu.” Ratna kembali menatap jalan raya di depannya.

Reza langsung terbelalak.

“Harus banget besok?”

“Iya.”

“Itu terlalu singkat! Mana bisa aku mengerjakannya?”

“I don’t care.”

“Kamu memang gak menyenangkan.”

“I know that.”

Reza tidak lagi menjawab dan hanya bisa menggerutu selama perjalanan sampai membuat Ratna menahan tawanya. Wajah Reza sangat lucu kalau sedang merajuk.
Setelah perjalanan yang berlangsung selama 30 menit, mereka sampai di suatu kafe yang ternyata milik temannya Reza, si Lingga.

“Jadi, kamu mau membawaku ke sini? Ke kedai kopi ini?”

Reza mengangguk sambil membuka seatbelt-nya. “Ini punya temanku, Lingga, pasti kamu tahu nama itu.”

“Dia yang waktu itu ikut ke Banten, ‘kan?”

Reza hanya mengangguk.

“Kenapa harus ke sini?” tanya Ratna lagi. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

“Karena aku tahu kamu akan butuh privasi dan Lingga ini temanku. Dia bisa memberikanmu privasi,” jawab Reza sambil melepas seatbelt yang masih mengunci tubuh Ratna.

“Lagipula, nanti aku pasti akan bosan jadi aku butuh teman untuk ngobrol sementara kamu ngobrol dengan orang lain.”

“Orang lain? Siapa?”

“Lihat saja nanti.”

“Reza, jangan main-main, ya.”

“Berhentilah bertanya dan lihat sendiri saja. Ayo, kita keluar dari sini dan masuk ke dalam,” kata Reza berniat untuk membuka pintu mobilnya.

“Tunggu,” Ratna memegang tangan pria itu, berusaha menahannya.

“Apa itu Reynaldi?”

“Bukan, tentu saja.”

“…. Nadda?”

Reza langsung terdiam, tidak menyangka kalau Ratna bisa menebak secepat itu.

Melihat Reza yang tidak memberikan jawaban, Ratna langsung yakin.

“Reza, kenapa kamu mau aku bertemu dengan wanita sialan itu?”

“Kalian perlu bicara.”

“Aku gak mau berdamai dengannya, percuma saja usahamu.”

“Aku tidak memaksa kalian untuk berdamai, aku hanya mau kalian bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.”

“Ada. Pasti ada.”

“Kenapa kamu selalu ikut campur dengan masalahku?!” bentak Ratna kesal.

Dia bisa merasakan seluruh tubuhnya bergetar berusaha menahan amarah.
Reza langsung mendekati Ratna dan berusaha memegangnya, meski langsung ditepis oleh wanita itu.

“Aku tahu kalau kalian saling kenal dan pernah tidur bersama dan aku sudah oke dengan itu,” kata Ratna lagi.

“Maaf, kalau aku bersikap kekanak-kanakan waktu itu. Aku tahu aku tidak berhak marah, aku juga menyesal! Tapi, jangan memaksaku untuk berbicara dengannya!”

“Kamu pernah bertemu dengannya, Ratna.”

“Iya, dan aku gak betah berlama-lama dengannya!”

“Dia memberikan sebuah pernyataan yang membuatmu bingung, ‘kan?”

Ratna tidak menjawab. Otaknya kembali mengingat pembicaraan dia dan Nadda beberapa hari yang lalu. Dia masih penasaran dengan maksud dari kata-kata tersebut.
Itu karena dia masih mencintai Ibu.

Itu karena dia masih mencintai Ibu.

Itu karena dia masih mencintai I-

“Ratna!” panggil Reza dan berhasil membuyarkan lamunannya.

“Oke,” katanya pada akhirnya.

“Kita pergi menemuinya. Tapi, kalau aku sudah gak tahan, kamu harus segera membawaku pergi dari sini.”

Reza mengangguk.

“Iya, kita langsung pergi dari sini dan aku akan membawamu ke tempat yang kau sukai.”

“Memangnya apa? Pasti rumahku,” tebak Ratna sambil tersenyum kecil.

“Iya, mungkin, atau Chingu Café. Kamu ‘kan suka makanan Korea.”

“You really know me so well.”

“Of course, I do,” Reza menatapnya dengan lembut.

“Sudah siap?”

Ratna terlihat ragu-ragu sebentar, lalu mengangguk.

“Ayo.”

***

“Bu Ratna,” sapa wanita berpenampilan menarik di depan Ratna duduk sekarang.

“Nadda,” sapanya balik.

Wajahnya kaku saat melihat wanita tersebut. Dia bahkan merasa mual.

Saat Reza dan Ratna masuk ke dalam kafe tersebut, pemuda itu langsung membawanya ke tempat lain. Tempat yang lebih tertutup. VIP room.

Di sana, Nadda sudah tiba dan duduk dengan manisnya sambil memainkan handphone. Saat Ratna memasuki ruangan tersebut, Nadda langsung terperanjat dan berdiri dengan canggung. Handphone-nya dimasukkan ke dalam tas.

Sedangkan Reza lebih memilih menunggu di luar bersama Lingga. Ratna bahkan bisa mendengar gelak tawa mereka dari dalam.

“Apa yang kamu mau bicarakan, Nadda?” tanya Ratna dengan kaku. Dia berusaha mengkontrol emosinya.

“Entahlah, Reza yang menyuruh saya datang ke sini,” jawab Nadda cuek.

“Oh, rupanya dia memaksamu juga.”

Nadda hanya mengangguk, tak berani menatap balik Ratna.

Mereka terdiam lagi. Suasana jadi semakin canggung karena tidak ada yang berniat untuk membuka suaranya.

“Ibu, saya pikir saya berhutang banyak sekali penjelasan, tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana,” kata Nadda akhirnya karena tidak tahan dengan keadaan tersebut.

“Mungkin lebih baik Ibu bertanya apa yang Ibu ingin tanyakan, nanti saya akan menjawab.”

Ratna mengangguk, lalu berusaha mengatur napas dan detak jantungnya. Dia bahkan menahan air matanya agar tidak jatuh. Bagaimana pun, dia tidak ingin merasa terintimidasi dan dianggap lemah oleh lawan bicaranya.

“Kenapa?” tanyanya setelah beberapa saat.

“Kenapa kau merebutnya? Saya tidak pernah memperlakukanmu dengan buruk, kan?”

Nadda menunduk sebentar.

“Saya mencintai suami Ibu, itu masalahnya.”

“Kenapa? Kamu ‘kan tahu dia sudah menjadi suami orang.”

“We don’t get to choose who we love. Saya sedang terluka waktu itu, kecewa karena orang tua saya begitu cepat meninggalkan saya. Bu Ratna memang begitu baik, tapi Ibu tidak bisa memberikan kekosongan di hati saya. Reynaldi bisa,” jawab Nadda mulai menjelaskan, meski matanya masih enggan melihat Ratna.

***

“Saya jatuh cinta dan saya salah karena tidak bisa mengkontrolnya. Saya berusaha menggoda Pak Rey dengan semua pesona saya sampai membuat laki-laki itu berhasil saya genggam. Saya tidak akan munafik, Bu, tapi saya suka sesuatu yang susah didapat. Itu membuat saya merasa tertantang. Kondisi Rey sebagai suami Ibu itu membuat saya tertantang,” kata Nadda dengan tenang.

Ratna hanya terdiam sambil mendengarkan cerita wanita di depannya. Sesekali memberi isyarat bahwa Nadda dipersalahkan untuk terus bercerita.

“Rey itu cinta pertama saya, Bu. Saya pikir, setelah mendapatkannya, saya bisa bahagia, tapi ternyata tidak.”

“Kenapa?” tanya Ratna saat melihat Nadda tidak lagi melanjutkan ceritanya.

“Apa karena kata-katamu waktu itu? Yang kamu katakan saat kita bertemu?”

Nadda tidak segera menjawab, dia bahkan lebih memilih mencicipi kue di depannya sampai membuat Ratna sedikit kesal.

“Iya,” kata Nadda pada akhirnya.

“Karena Reynaldi masih mencintai Ibu.”

Ratna tidak menunjukkan ekspresi apa-apa selama sepuluh detik, tapi di detik kesebelas dia tertawa terbahak-bahak.

“Kamu bercanda, ya?” katanya di sela-sela tawanya.

“Mana mungkin si kampret itu masih mencintai saya? Dia selingkuh denganmu dan menjadi suamimu pada akhirnya!”

“Itu karena Ibu tidak memberikannya kesempatan lagi!” bantah Nadda.

“Dia berniat menjadikan saya isteri kedua karena dia masih mencintai Ibu, dan saya menerimanya! Asalkan bisa terus bersamanya!”

“Memangnya, kamu pikir saya mau jadi isteri tua?” tanya Ratna setelah tawanya reda.

“Ibu pikir saya mau jadi isteri muda?” tanya Nadda dengan nada menantang.

“Seumur-umur, saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi isteri kedua atau merebut suami orang, Bu. Sayangnya, saya sudah terlanjur mencintai Reynaldi, saya bahkan menerima keputusannya soal hubungan kami.”

“Lalu, kenapa kalian bercerai? Karena dia masih mencintai saya? Jadi, dia tidak mencintaimu selama ini? Kenapa menikah kalau gitu? Kenapa selingkuh dan bermain di belakang saya?” tanya Ratna setengah meledek.

“Dia juga mencintai saya. Mungkin, dia terjebak di dua cinta, entahlah.”

“Omong kosong!” kata Ratna tiba-tiba.

“Mungkin? Nadda, kamu cuma menduga-duga saja, tidak ada bukti konkretnya. Sulit dipercaya.”

“Ibu tahu, bagaimana rasanya ketika suami Ibu menyebutkan nama wanita lain saat kalian sedang bercumbu?” kata Nadda berusaha tenang.

“Dia menyebut nama Ibu, berkali-kali. Ketika dia tidur, ketika dia berada di pelukanku, dia selalu menyebut namamu. Bahkan, apa Ibu tahu siapa pelaku utama saya keguguran dan tidak bisa hamil lagi? Ya, itu karena Ibu.”

Senyum merendahkan yang sedari tadi menghias wajah Ratna mulai memudar. Dia mulai kehabisan napas saat mendengar kata-kata Nadda selanjutnya.
Dia penyebab wanita itu keguguran? Apa maksudnya?

“A-apa maksudmu, saya yang buat kamu gak bisa hamil lagi?” tanyanya sambil masih berusaha mengatur napasnya agar normal kembali.

“Saya tahu, waktu kecelakaan itu terjadi, Reynaldi sedang memikirkanmu dan anakmu itu,” jawab Nadda dengan suara serak.

“Saya selalu tahu. Dia bahkan menyebutnya di mobil itu, tapi tentu saja ia tidak sadar! Dan karena itulah, dia menerobos lampu merah, tidak melihat ada truk dari samping kiri, dan kecelakaan itu pun terjadi! Karena dia tidak sadar! Terhipnotis!”

Tangisan Nadda langsung tumpah setelah itu. Dia bahkan tidak peduli apa yang akan terjadi dengan make up-nya ketika air mata itu mulai mengalir di pipinya dengan deras.

“Beruntung sekali saya dan Reynaldi tidak mati. Beruntung sekali truk itu masih bisa menukik. Kondisi saya sangat parah waktu itu, kritis, dan tidak sadarkan diri selama beberapa minggu. Hingga ketika saya bangun dari koma, saya harus mendapat kabar bahwa anak saya sudah meninggal, bahwa saya tidak akan bisa punya anak lagi. Itu semua karena kecelakaan itu, masa depan saya hancur. Kenapa saya tidak mati saja kalau gitu? Kenapa saya harus sadar lagi?” tambahnya sambil sesenggukkan.

“Jangan salahkan saya!” bantah Ratna tak terima.

“Mana saya tahu kalau kejadiannnya jadi seperti itu, saya sibuk mengobati luka hati saya sendirian! Itu juga karena kamu.”

Akhirnya, tangisan Nadda mereda, dia kemudian mengusap air matanya dengan tissue.

“Karena itu, saya tidak menyalahkan Ibu,” kata Nadda dengan suara pelan.

“Saya menyalahkan diri saya sendiri dan Reynaldi saat mengetahui kalau anak saya, yang pertama dan terakhir, telah tiada. Saya pergi dari kehidupan Reynaldi karena setiap melihatnya, yang saya ingat hanya bagaimana kecelakaan itu terjadi dan merenggut masa depan saya karena kelalaiannya sendiri.

Saya seperti Ibu, mengobati hati saya sendiri. Menguatkan hati saya setiap hari. Itu adalah karma untuk saya.”

Mereka terdiam lagi untuk beberapa saat. Sejujurnya, ada sebagian dari diri Ratna tidak mau percaya dengan cerita Nadda, tapi ada sebagian lain yang mengatakan bahwa cerita Nadda itu benar adanya.

“Kalau Ibu tidak percaya dengan semua ini, Ibu bisa tanya Reza,” kata Nadda tiba-tiba, seperti mengetahui apa yang sedari tadi Ratna pikirkan.

“Saya sering bercerita dengannya, dari sebelum saya tahu kalau Ratna yang dia maksud adalah Ibu.”

“Dia pernah bercerita tentang saya?” tanya Ratna, mengalihkan pembicaraan. Otak dia masih berusaha mencerna semuanya, karena itu dia harus membahas hal lain.
Nadda tersenyum simpul.

“Oh, tentu saja,” katanya.

“Dia sepertinya sangat menyukai Ibu.”

“Dia bilang, kalian pernah tidur bersama, dua kali.”

Nadda langsung tertawa, kemudian menatap wanita di depannya dengan penuh rasa humor. Hilang sudah rasa sedihnya. Suasana di antara mereka sedikit mencair, sepertinya.

“Ibu cemburu?” tanyanya jahil.

Ratna langsung tersentak dan berusaha membantah, meski Nadda masih bisa lihat rona memerah di pipinya.

“K-kamu jangan kurang ajar, ya, Nadda. Saya tidak cemburu. Buat apa saya cemburu juga? Tidak penting.”

Nadda makin geli melihat ekspresi malu dan panik dari wajah Ratna. Dia berniat untuk menjahilinya lagi.

“Tenang saja, Bu Ratna, saya hanya bertanya. Gak usah panik gitu.”

Ratna semakin merona dan mengambil gelas di depannya untuk menghindari tatapan iseng dari Nadda.

“Saya tidak panik, Nadda,” katanya dengan tegas.

“Oke-oke!”

“Lalu, gimana ceritanya kamu ada di Bandung? Bukannya kalian langsung pergi ke Kalimantan setelah perceraian saya dan Reynaldi?” tanya Ratna setelah mereka terdiam lagi selama beberapa menit.

“Saya punya saudara di sini,” jawab Nadda santai.

“Mereka bersedia membayar tiket pesawat saat saya menceritakan apa yang telah terjadi. Mereka bahkan menemani saya selama proses perceraian. Akhirnya, saya menetap di sini, kerja di sini, dan bersenang-senang di sini.”

“Bahkan setelah kejadian itu, kamu masih bisa hidup seperti biasa. Kalau saya jadi kamu, mungkin saya ingin mati.”

Nadda terkekeh pelan.

“Saya pernah beberapa kali ingin bunuh diri, dan selalu dicegah oleh Rey. Saya bahkan sudah dalam tahap melukai diri saya sendiri,” ucapnya setelah itu.

“Setelah bercerai dengan Reynaldi, saya masih suka melukai tangan saya, sampai akhirnya saudara saya membawa saya ke psikiater. Saya mulai terapi kejiwaan setelah itu, sampai benar-benar sembuh total.”

Ratna benar-benar tidak menyangka kalau wanita yang sudah membuat hidupnya berantakan ini mengalami perjalanan hidup yang jauh lebih menyakitkan darinya. Jadi, karma itu benar-benar ada?

Tiba-tiba, semua amarah dan kebencian yang selama ini ia rasakan, dendam di masa lalunya, hilang perlahan-lahan.

“Saya benar-benar memohon maaf. Kalau saya harus mencium kaki Ibu di sini, maka saya akan melakukannya agar Ibu bisa memaafkan saya. Tapi, Bu Ratna, ketahuilah bahwa di antara kita bertiga, bukan hanya Ibu yang menderita. Saya juga yakin kalau Reynaldi merasakan yang sama.”

“Reynaldi sudah menculik anak saya.”

“Ibu sudah cerita.”

“Mungkin saya bisa memaafkan kejadian di masa lalu, tapi saya tidak bisa memaafkan perbuatannya atas anak saya baru-baru ini hanya karena ambisinya.”

“Saya mengerti. Dia pasti sudah menyesali perbuatannya di sel penjara.”

Mereka terdiam lagi beberapa saat, masing-masing terjebak dalam pikirannya sendiri.

“Nadda, saya menyayangi anak saya, lebih dari apa pun di dunia ini. Saya juga sadar kalau kamu menyayangi anakmu sampai memutuskan untuk pergi dari sisi Reynaldi. Karena itu, saya memaafkanmu dan masa lalu yang pernah terjadi di antara kita,” kata Ratna akhirnya.

Nadda langsung menatap Ratna tak percaya. Hatinya berdebar ketika Ratna mengatakan bahwa dia sudah dimaafkan.

“Benarkah, Bu Ratna?”

“Iya. Karena itu, saya anggap semua sudah selesai, permasalahan di antara kita. Saya harap kedepannya, masa lalu itu tidak mengikuti kita lagi setelah selama ini menyiksa hati kita berdua.”

“Saya- Sebenarnya, saya benar-benar tidak berharap akan dimaafkan oleh Ibu. Saya di sini hanya ingin menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi semenjak perceraian Ibu dan Reynaldi. S-saya hanya berpikir kalau Ibu butuh penjelasan.”

“Saya mengerti, tapi saya memutuskan untuk memaafkan kamu,” balas Ratna tenang.

“Hidup saya selama ini tidak tenang karena dendam masa lalu yang saya rasakan.”

“T-terima kasih sekali lagi, Bu Ratna. Saya sangat- Terima kasih, Bu.”

Ratna beranjak bangun.

“Kalau gitu, saya pamit duluan,” katanya.

“Saya masih harus mengerjakan banyak kerjaan.”

“Oh iya, Bu,” balas Nadda sambil berdiri juga.

“Saya harap Ibu terus bahagia. Ibu berhak mendapatkannya.”

“Kamu juga, Nad, jangan mencintai orang yang salah lagi,” Ratna tersenyum kecil. Nadda pun membalas senyumannya.

“Oh ya, kebetulan, kampus tempat saya bekerja membutuhkan staf baru di bagian advokasi,” kata Ratna lagi setelah mengambil tasnya.

“Mungkin kamu mau kerja di sana, itu kan bidangmu. Saya tahu kalau kamu sebenarnya lebih dari sekadar pelayan kafe kecil. Kamu pintar, Nadda.”

Nadda langsung merona setelah dipuji oleh dosen favorite-nya saat kuliah.

“Ah, nanti saya pikir-pikir lagi.”

“Kalau gitu, ini lowongannya,” kata Ratna sambil memberikan selembaran kertas.

“Pikirlah baik-baik. Selain gajinya besar, kamu juga bisa sering bertemu dengan Reza,” tambahnya lalu mengedipkan matanya sebelah.
Nadda melihat Ratna dengan bingung.

“Ibu tidak mengira kalau saya menyukai Reza, bukan?”

“Loh, kenapa enggak?” tanya Ratna balik. “Saya pikir kalian cocok bersama. Kalian juga sudah pernah tidur bersama, kan,” katanya lagi sambil tersenyum, meski kali ini senyuman kecut.

“Bu Ratna,” panggil Nadda tenang. “Saya dan Reza tidak ada hubungan apa-apa. Dia hanya mencintai Ibu.”

Ratna menggeleng lemah.

“Dia lebih cocok denganmu. Umur kalian tidak terlalu jauh bedanya, dan kebetulan selera Reza itu wanita yang lebih tua.”

“Ya, kalau wanita itu Ibu.”

Ratna tidak membalas.

“Saya pamit duluan,” katanya seperti tidak ingin berlama-lama membahas Reza.

“Bu Ratna,” panggil Nadda lagi.

Wanita itu mau tak mau menghentikan langkahnya.

“Berhentilah menghindar. Sama seperti saya, Ibu juga berhak bahagia. Reza bisa membuat Ibu bahagia. Tahukah Ibu apa yang terjadi saat saya dan Reza tidur bersama? Dia melakukan apa yang Reynaldi lakukan, yaitu menyebut nama Ibu ketika merangkul saya.”

Tubuh Ratna kembali menegang setelah Nadda mengatakan hal tersebut.

“Dia hanya membayangkan Ibu ketika kita melakukannya. Kali ini, saya tidak marah, justru saya malah mengerti. Saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Jadi, saya harap Ibu tidak menghindar,” kata Nadda berusaha membujuk.

“Lagipula, Reza bukan tipe saya. Dia terlalu susah diatur. Reza sering cerita tentang Ibu, meski kami baru kenal belum lama ini, dan dia selalu dalam keadaan gusar. Saran saya, Ibu sebaiknya lebih memperhatikan kebahagiaan Ibu sendiri ketimbang kata-kata orang lain.”

“Saya permisi, Nadda,” hanya itu yang keluar dari mulut Ratna sebelum kemudian keluar dari ruangan tersebut dan menemui Reza yang sudah menunggunya. Dia sedang menuangkan kopi ke dua cangkir di atas meja.

“Reza,” panggilnya lirih.

Reza langsung menoleh ke arah Ratna dan tersenyum sumringah.

“Sudah selesai? Gimana? Gak jenggut-jenggutan, ‘kan?” tanya Reza seenaknya sambil memberikan cangkir yang berisi Americano ke Ratna.

“Itu buat kamu, sebenarnya. Tadinya, aku pikir kalian masih lama di dalam, jadi aku berinisiatif untuk membuatkan kopi,” jelasnya saat Ratna melihat cangkir tersebut dengan bingung.

“Dan ini,” kata Reza lagi sambil memegang cangkir yang satunya.

“Ini buat Nadda, tapi ya sudahlah, ya. Aku haus. Jadi, aku minum saja,” tambahnya lalu minum kopi tersebut sampai habis.

“Minum dong,” celetuk Reza saat melihat Ratna masih diam saja.

“Didiemin kayak gitu gak bakal habis kopinye.”

Ratna hanya meletakkan cangkir tersebut di atas meja dan menatap Reza dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Pria itu bahkan sampai bingung.
Ibu sebaiknya lebih memperhatikan kebahagiaan Ibu sendiri ketimbang kata-kata orang lain.

Suara Nadda kembali terngiang di pikiran Ratna dan membuat wanita itu sedikit merengut. Dia semakin merengut saat tak sengaja melihat bibir Reza yang basah karena kopi yang diminumnya barusan.

“Ada ap-”

Pertanyaan Reza tiba-tiba terpotong karena Ratna membungkam mulutnya dengan bibir merahnya. Menciumnya dengan penuh perasaan.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat