Bu Ratna Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 14

“Hari ini benar-benar panas banget,” keluh Ratna saat keluar dari pasar swalayan. Kedua tangannya memegang kantong plastik besar.

“Ya udahlah, yang penting sudah beli belanjaan buat masak malam ini. Kesukaan Fian, penghargaan karena sudah menjadi anak yang baik dan pengertian,” tambahnya lalu tersenyum simpul.

“Aku harus jemput dia dulu di rumah Linda. Untung banget sih si Linda memilih buat berwirausaha, jadi anakku bisa kutitipkan selama aku kerja. Duh, kayaknya aku harus mentraktir dia makanan yang mewah kapan-kapan nih, sebagai tanda terima kasih karena sudah menjaga anakku dengan ikhlas.”

Ratna terus berjalan menuju parkiran. Karena sibuk mencari kunci mobil di tasnya, dia tidak memerhatikan keadaan di sekitarnya dan membuatnya menabrak seseorang sampai terjatuh.

Bruk!

“Aduh!”

“Aduh, sakit.”

Ratna memegangi tumitnya yang tergores karena terjatuh dari sepatu heels yang cukup tinggi. Kedua plastiknya terlepas dari tangannya dan jatuh berserakan di tanah. Sementara orang itu mengusap-usap lengannya yang sedikit lecet.

Handphone-nya tergeletak di tanah dalam keadaan tak berdaya. Ratna tidak terlalu memperhatikan orang di depannya karena sibuk membereskan barang-barangnya yang berserakan.

“Aduh, Teh, maaf ya,” kata orang itu –yang sudah berdiri sambil membersihkan debu-debu di pakaiannya- dengan nada khawatir.

“Saya yang harusnya minta maaf mah, gak lihat-lihat jalan, hampura pisan,” balas Ratna masih belum menatap balik orang itu.

“Sini, saya bantu bangun. Teteh kayaknya luka gitu tumitnya, harus segera diobati,” kata orang itu lagi lalu menjulurkan tangannya ke Ratna.

Ratna mengambil uluran tangan tersebut dan berdiri dengan susah payah.

“Ah, gak perlu, Teh, ini mah dicuci juga sem-”

Ucapannya terpotong saat matanya akhirnya bertemu dengan orang yang sudah menabraknya.

“Nadda?”

***

Ratna menatap wanita di depannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Hari ini, dia sudah cukup pusing karena memikirkan pekerjaan dan masalah Reza, belum lagi hari ini dia harus menjadi dosen penguji sidang skripsi dan tidak ada satu pun yang membuatnya senang.

Entah sudah berapa kali Ratna katakan kalau Penelitian Tindakan Kelas itu tidak bisa berhenti begitu saja hanya karena PPL sudah selesai. PTK itu harus terus dilakukan jika kelas yang diteliti masih belum sembuh dari penyakitnya.

Sayangnya, anak-anak jaman sekarang lebih suka yang instan-instan. Karena tidak ingin berlama-lama lagi di sekolah, mereka memutuskan untuk membuat jawabannya sendiri dan mencoba menipunya. Mereka pikir dia bodoh apa? Dia tidak mungkin jadi dosen penguji kalau tidak tahu soal begituan.

Dan sepertinya, alam semesta benar-benar tidak berpihak padanya. Mengapa dari sekian banyak orang dan banyak tempat di Indonesia, dia harus bertemu dengan wanita yang sudah menghancurkan rumah tangganya di kota yang sama? Mengapa juga mereka harus berpapas-papasan?

“Bu Ratna,” jawab Nadda dengan suara sedikit tercekat. “Ibu tinggal di Bandung sekarang?”

“Saya sudah tinggal di sini semenjak bercerai dengan mantan suami saya. Sedangkan kamu, bukannya kamu harusnya di Kalimantan bersama suamimu?” tanya Ratna.

Nadda sadar bahwa ada suatu hal yang menakutkan dari nada bicara Ratna. Nadda memang cuek, santai, dan penuh muslihat, tapi dia sangat menghormati Ratna sebagai dosennya di kampus beberapa tahun silam.

Sejak jaman kuliah, Ratna terkenal dengan cara mengajarnya yang tegas, bahkan cenderung galak. Dan sepertinya kali ini, Ratna jauh lebih menakutkan dari beberapa tahun yang lalu.

“Kemarin suamimu datang ke kehidupan saya, mengusik saya dan anak saya, menculiknya demi mendapatkan uang. Sekarang dia sedang di penjara. Kenapa kamu tidak ada di sampingnya?” tanya Ratna lagi saat melihat Nadda tidak menjawab pertanyaannya.

“A-apa? M-mas Rey masuk penjara?” Nadda buka suara akhirnya. Dia sudah lama tidak mendengar kabar tentang Reynaldi semenjak bercerai dengannya.

“Loh, kamu tidak tahu? Istri macam apa kamu tidak tahu keadaan suaminya sendiri? Dia sangat membutuhkan uang sampai rela menjual anaknya, apa itu untuk biaya egomu? Kenapa tidak jual saja anakmu itu?” balas Ratna dengan nada penuh sarkasme. Kali ini, dia tidak akan membiarkan Nadda merendahkannya. Cukup sekali saja.

“Mohon maaf, Bu Ratna, tapi saya sudah bercerai dengan Mas Rey sejak lama. Jadi, apa pun kejadian yang menimpa Ibu, itu tak ada hubungannya sama sekali dengan saya,” balas Nadda tenang.

“Lagi pula, saya tidak punya anak, dia sudah meninggal sebelum hadir di dunia ini.”

Ratna memasang tampang bingung.

“Loh? Kalian sudah cerai?”

“Ya, Bu Ratna. Jadi, Ibu tidak perlu lagi memasang tampang dendam seperti itu. Saya bukan lagi pemilik hati mantan suami Ibu. Semuanya sudah berakhir.”

“Kenapa kalian bercerai? Buat apa kamu mengambil suami saya kalau berakhir sama seperti saya?”

“Jawabannya gampang, Bu,” jawab Nadda lalu tersenyum miris.

“Itu karena dia masih mencintai Ibu.”

“Apa maksudmu?”

“Ibu pikir alasan mengapa saya memutuskan untuk bercerai dengan Rey adalah karena siapa?”

“S-saya masih tidak mengerti.”

“Baguslah, Bu. Gak perlu mengerti maksud dari perkataan saya biar Ibu tidak kepikiran dan saya tetap hidup dalam rasa bersalah.”

***

Apa-apaan sih hari ini? pikir Ratna kesal. Kenapa semua hal yang buruk terjadi di hari ini?

Dia berusaha mencerna kata-kata Nadda yang terakhir dengan susah payah.

Itu karena dia masih mencintai Ibu.

Apa maksudnya? Mengapa Nadda berbicara seperti itu? Sebenarnya, apa yang terjadi dengan mereka berdua sampai bercerai? Apa itu karena dia?
Biar Ibu tidak kepikiran dan saya tetap hidup dalam rasa bersalah.

Apa maksudnya?

“Mah,” panggil seseorang dari balik pintu kamarnya. Ratna menoleh dan tersenyum saat melihat siapa yang memanggilnya.

“Ada apa, Fian?”

Fian berjalan masuk ke kamar ibunya dengan ragu-ragu. Ekspresi wajahnya menyiratkan ketakutan dan Ratna melihat itu.

“Kamu kenapa, anakku?” tanya Ratna lagi dengan nada khawatir.

Dia langsung menghampiri Fian. Tangannya mengusap-usap rambut hitam Fian dengan lembut.

“Ada sesuatu yang membuatmu takut?”

Fian mengangguk pelan dengan mata sedikit berkaca-kaca.

“Ian mimpi selem, Mah. Ian mimpi dibawa ama olang-olang jahat waktu itu. Ian takut,” jawabnya sambil setengah bergidik.

Lalu, tak lama kemudian, dia menangis histeris.

Ratna memeluk anaknya dengan erat sambil berusaha menenangkannya.

“Tenang aja, anakku sayang, sekarang kamu aman dengan Mamah. Mamah gak akan biarin siapa pun ngambil kamu lagi. Mamah juga gak akan biarin siapa pun menyakitimu lagi. Jangan menangis lagi ya, anakku sayang.”

Fian hanya bisa mengangguk sambil setengah terisak. Tak bisa dipungkiri, Ratna benar-benar kagum dengan anak sematawayangnya ini. Fian adalah anak yang kuat dan dewasa di usianya yang masih sangat muda. Dia tidak pernah menuntut dan protes.

Dia selalu mengerti meski harus menghabiskan hari-harinya dengan Linda karena pekerjaan ibunya. Di usianya yang masih anak-anak, Fian sudah menjadi ksatrianya Ratna.

Sebenarnya, dia sedikit menyesal setelah meninggalkan Reza. Pasalnya, anak bimbingnya itu sangat dekat dengan Fian. Selain Linda, hanya Reza yang selalu bersedia menemani Fian. Reza lebih tahu soal Fian ketimbangnya, karena Fian selalu menceritakan banyak hal ke Reza. Semuanya, bahkan kesehariannya. Semenjak Reza tidak datang lagi ke rumah, senyuman Fian sedikit meredup.

“Gimana kalau besok kita jalan-jalan? Beli makanan kesukaan Fian, ngelakuin hal-hal yang Fian suka, beli apa saja yang Fian mau,” tawar Ratna dengan nada penuh rasa sayang.

“Sudah lama Mamah gak bareng-bareng sama kamu karena sibuk. Maafin Mamah ya,” katanya lagi, kali ini nadanya sedikit menyesal.

“Mamah kan cibuk buat Ian, jangan cedih gitu dong. Ian gak apa-apa, macih ada Tante Linda,” kata Fian berusaha menghibur.

Dia menatap ibunya setelah mengusap air matanya.

Ratna tergelak sebentar.

“Ya udah, yang penting besok kita pergi bareng ya, Fian,” balas Ratna dengan lembut.

“Oke! Udah lama gak pelgi cama Mamah!” kata Fian dengan nada riang lalu melepaskan pelukan ibunya dan naik ke atas kasur. “Ayo, kita tidul, Mah! Ian mau tidul baleng Mamah! Ian gak cabal buat besok!”

Ratna hanya bisa tertawa sebelum menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian, dia mengambil posisi di samping anaknya dan membawa Fian ke pelukannya, mengecup dahi anak laki-lakinya dengan penuh kasih sayang.

***

“Wah, Mah! Ada Kapten Amelika di cana! Ian mau!” pinta Fian sambil setengah berteriak dan menunjuk-nunjuk sesuatu di kejauhan.

“Wah, iya tuh, kesukaanmu,” jawab Ratna terengah-engah. Sekarang, mereka sedang ada di mall yang cukup besar di Bandung. Entah sudah berapa lama mereka di sana, entah sudah berapa lama juga Ratna harus mengkontrol anaknya yang hiperaktif itu agar terus berada di pengawasannya.

Fian membeli banyak sekali mainan. Mereka juga mencicipi banyak sekali makanan. Ratna dari dulu tidak pernah suka yang namanya belanja ke mall. Dia lebih suka menggunakan fasilitas online shop ketimbang harus mengelilingi mall demi membeli sesuatu. Namun, kali ini, demi menghabiskan waktu dengan Fian, dia rela melakukan ini semua.

Fian sangat suka Avengers, terutama Captain America. Dia mempunyai banyak sekali barang yang berkaitan dengan Avengers. Bahkan, dia memiliki satu lemari khusus di kamarnya hanya untuk pernak-pernik Avengers.

Baju, tas, buku tulis, semuanya bergambar Avengers. dia juga sudah membaca semua komik dan menonton film Avengers, tentu saja dalam pengawasan Ratna dan Linda. Karena itulah, bahasa Inggris-nya lumayan bagus.

“Mamah, Ian gak punya Kapten Amelika yang ini. Ian mau ya,” pinta Fian dengan wajah memelas. Tangannya memegang sebuah figure Captain America dengan erat.

“Tapi Fian, figure-mu kan udah banyak. Lemari kamu udah penuh loh,” kata Ratna berusaha membujuk. Pasalnya, harga figure itu lumayan mahal. Jiwa bundahara Ratna tidak terima.

“Ian gak punya yang sepelti ini. Catu lagi, Mah, ya. Cetelah ini, Ian gak minta-minta lagi deh. Udah beli mainannya,” kata Fian masih berusaha membujuk ibunya agar membelikan figure tersebut.

“Sekali lagi loh, ya, jangan minta-minta lagi. Kamu udah banyak barangnya.”

“Iya, Mah, Ian janji!”

Ratna, mau tak mau, mengangguk pasrah dan mengambil barang yang diinginkan anaknya. Setelah itu, dia pergi menuju kasir untuk membayar. Dia bisa mendengar suara teriakan riang Fian di belakangnya dan itu membuatnya tersenyum.

Setelah selesai membayar, pasangan ibu dan anak itu keluar toko dan mulai berkeliling lagi. Namun, tiba-tiba, Ratna melihat seseorang yang tidak asing baginya dari kejauhan, Reza. Dia berusaha memastikan kalau penglihatannya sudah mulai bermasalah, tapi suara Fian membuatnya tidak jadi meragukan ketajaman mata dan instingnya.

“Papah Eja! Ian kangen Papah!” teriak Fian sambil berlari ke arah Reza dan disambut dengan antusias olehnya.

***

“Wah, saya gak pernah bisa mengerti mengapa takdir selalu mempertemukan kita berdua, Bu Ratna,” kata Reza sambil mengangkat alisnya yang sebelah. Ratna hanya bisa melihatnya dengan tatapan bosan.

Mereka sekarang berada di sebuah restoran karena Fian bilang bahwa dia lapar, padahal mereka baru saja makan burger satu jam yang lalu. Selain itu, Fian juga ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Reza yang sudah lama ia tidak temui.

“Papah Eja, Ian beli mainan balu! Banyak banget lagi!” kata Fian dengan nada antusias sambil memainkan kancing kemejanya Reza.

“Pasti Avengers, ya?” tanya Reza, kini mengalihkan seluruh perhatiannya ke anak berumur enam tahun di pangkuannya.

“Iya dong! Ian cuka banget ama mereka. Ian mau jadi cupelhilo kayak mereka bial bica ngelindungin Mamah Latna dan Papah Eja!”

“Fian, sudah berapa kali Mamah bilang jangan panggil Kak Reza dengan sebutan Papah,” Ratna menyela pembicaraan mereka berdua dengan wajah datar.

“Iya, Mah. Maaf, ya, Pa- eh Kakak Eja,” jawab Fian dengan nada lesu.

“Padahal Ian pengen Kak Eja jadi Papah Ian,” tambahnya lagi dengan nada menggerutu.

Ratna mendengar itu. Sontak dia langsung berniat untuk memarahinya.

“Fian, kamu-”

“Sudahlah, Bu Ratna,” kata Reza tiba-tiba. Tangannya mengisyaratkan Ratna untuk tidak memarahi Fian.

“Fian, kamu main perosotan dulu ya sana,” katanya lagi, kali ini ke Fian. Fian pun mengangguk dan turun dari pangkuan Reza. Setelah itu, dia berjalan menuju tempat mainan yang ada di restoran tersebut.

“Jangan galak-galak ke Fian, kasihan dia. Saya saja tidak masalah dipanggil Papah, masa Ibu yang senewen,” sindir Reza saat mereka tinggal berdua saja.

“Saya tidak senewen,” balas Ratna tak terima. “Dan kamu gak perlu panggil saya Ibu di luar kampus. Saya juga gak masalah kalau kamu panggil saya dengan sebutan Ratna saja.”

“Ibu bilang saya harus menghargai Ibu sebagai dosen pembimbing saya.”

Ratna mendengus tak suka.

“Di luar kampus, saya bukan dospemmu, saya ini tetanggamu.”

“Baik, baik, Ratna,” kata Reza menyerah.

Suasana tiba-tiba canggung karena tidak ada satu pun yang berniat mengeluarkan suara.

“Aku bertemu dia,” kata Ratna beberapa menit kemudian.

Reza menatapnya dengan bingung, berusaha mencerna siapa si ‘dia’ ini.

“Siapa, maksudmu? Reynaldi?”

“Bukan,” jawab Ratna dengan cepat. “Tapi Nadda.”

“Nadda?”

“Kamu ingat wanita yang menghancurkan rumah tanggaku dengan Reynaldi? Ya, itu dia, Nadda, mantan mahasiswaku.”

Nadda… Sepertinya dia tidak asing dengan nama itu.

“Kamu kenapa, Za?” tanya Ratna sedikit khawatir saat menyadari bahwa Reza tidak merespon perkataannya.

“Sebentar, Ratna,” balas Reza akhirnya. Dia berusaha menelan ludahnya dengan susah payah. “Nadda yang kamu maksud ini, apakah tingginya sekitar 150-an, rambutnya pendek dan berwarna hitam, terus punya lesung pipit?”

“Iya,” Ratna mengangguk pelan.

“Kamu kenal dengan dia?”

Mati! umpat Reza dalam hati. Pantesan aja dia seperti gak asing saat mendengar ceritanya Nadda!

***

“Kamu kenal dengan dia?” tanya Ratna bingung.

Selama beberapa saat, Reza hanya terdiam karena sibuk mencerna kata-kata Ratna.

“Ya, aku kenal dengannya. Dia juga kenal denganku,” jawab Reza akhirnya, meski ragu-ragu. Sial, pantas saja wanita bernama Nadda itu kelihatan tidak asing.

Ratna langsung terbelalak.

“…. kok bisa?” tanyanya lagi, kali ini nadanya khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka bisa saling mengenal? Apa saja yang telah terjadi semenjak hubungan mereka merenggang?

“Aku bertemu dengannya di kelab malamnnya Gilang, pertama. Lalu, aku kembali bertemu dengannya di kafe dekat kampus, dia jadi karyawan. Setelah itu, kita menjadi dekat.”

“Kamu tidur dengannya?” tanya Ratna dingin.

“Ratna-”

“Jawab aku, kamu tidur dengannya?”

“Iya…” balas Reza pasrah. “Waktu itu aku patah hati dan butuh sesuatu untuk mengobati hatiku. Kami hanya tidur bersama sebanyak dua kali, tidak lebih!”
Ratna terdiam, tapi ekspresi matanya menunjukkan sebuah kekecewaan yang begitu dalam.

“Kamu benar-benar brengsek, Reza,” katanya berusaha tenang. “Sudah berapa banyak wanita yang kamu tiduri, sampai orang yang aku begitu benci juga kamu tiduri? Dan kamu tahu itu! Kamu bilang kamu cinta aku, itu semua bohong, kah?”

“Aku tidak tahu kalau dia itu orangnya!” seru Reza berusaha membela diri.

“Tetap saja kamu bermain dengannya. Dia itu orang yang sudah membuat keluarga kecilku berantakan, Za. Kamu benar-benar bajingan! Baguslah, aku tidak menerima cintamu. Apa yang bisa diharapkan dari playboy macam kamu?”

“Aku memang playboy tapi jangan pernah sekali pun meragukan cintaku,” balas Reza tak terima.

“Ratna, aku benar-benar minta maaf. Aku sudah berub-”

“Kamu belum berubah sama sekali, Za. Sudahlah. Tidak ada untungnya kita berbicara lama-lama begini. Aku dan Fian pamit duluan,” katanya akhirnya, tidak menerima bantahan apa pun dari mulut Reza.

Sementara Ratna pergi menjemput Fian dan mengajaknya pulang, Reza hanya bisa mengutuk dirinya habis-habisan. Dia semakin merasa bersalah ketika melihat Fian menatapnya dengan tatapan tanda tanya.

***

Entah sudah berapa lama, Ratna menangis di kamarnya. Bahkan, Fian hanya bisa menatapnya dengan iba dan tidak berkata apa-apa kecuali memeluk ibunya dengan sayang. Mengapa? Mengapa dari sekian banyak wanita yang ada di dunia ini, harus wanita itu? Mengapa harus Nadda?

Ratna marah, cemburu, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu. Mengapa Nadda selalu punya cara untuk mendapatkan semua yang dia punya?

Reza beberapa kali meneleponnya tapi ia tidak angkat sama sekali. Sial, padahal dia lah yang memutuskan untuk menolak Reza, tapi mengapa rasanya seperti dikhianati oleh pasangan?
Ratna tahu kalau dia tidak berhak marah atau kesal, apalagi cemburu.

Reza bukan siapa-siapanya, dia lah yang memutuskan itu semua. Mungkin, kalau Reza berhubungan dengan wanita lain, dia masih bisa menerima meski hatinya sakit, tapi wanita ini adalah Nadda, penyihir licik yang sudah memporak-porandakan keluarganya.

“Mamah, kenapa nangis lagi?” tanya Fian setelah dirasa ibunya sudah mulai tenang.

“B-bukan apa-apa, sayang, jangan k-khawatir ya. K-kamu tidur gih, kan capek s-seharian main sama M-mamah,” jawab Ratna terbata-bata.

Dia berusaha menghentikan tangisannya agar anaknya tidak khawatir lagi dengannya.

“Mamah pasti boong. Apa Kakak Eja yang buat Mamah nangis? Nanti Ian campelin Kak Eja bial dia gak bikin Mamah nangis lagi!”

Ratna langsung tertawa pelan setelah mendengar perkataan anaknya.

“Enggak kok, sayang, bukan karena Kak Eja.”

Fian menggeleng cepat. Fian menggelengkan kepalanya tidak suka.

“Mamah boong lagi ama Ian. Mamah kan cedih cetelah ketemu Kak Eja.”

“Mamah gak bohong, sayang,” balas Ratna sambil mengusap air matanya dan tersenyum.

“Bukan karena Kak Eja, kok.”

Tentu saja Ratna tidak bisa jujur ke anaknya. Fian sangat dekat dengan Reza, dia tidak mau merusak hubungan mereka berdua.

“Benelan?” Kelihatannya, Fian masih ragu-ragu.

“Iya,” jawab Ratna mantap.

“Kalau gitu telepon Kak Eja, dong. Ian kan mau celita! Tadi Mamah main pelgi aja, ninggalin Kak Eja. ‘Kan, kita belum makan.”

“Mamah gak bisa, sayang.”

“Loh, kenapa?” tanya Fian bingung. “Mamah ‘kan gak malah ama Kak Eja.”

“Tapi Mamah gak bisa telepon dia, kali aja Kak Eja sibuk.”

“Huh! Padahal kapan lagi Ian ketemu ama Kak Eja,” gerutu Fian kesal.

“Mamah cih tadi pelgi gitu aja!”

Ratna terkekeh pelan.

“Maafin Mamah ya, sayang.”

“Pokoknya Ian mau es campul!”

“Siap! Kita beli es campur!”

***

“Nadda!”

Wanita cantik bernama Nadda itu menoleh ke sumber suara dan memamerkan senyuman menggodanya saat tahu siapa yang baru saja memanggilnya.

“Hey, Reza, kangen denganku, kah?” tanya wanita itu sambil mengerlingkan matanya dengan nakal.

“Oh, jangan bercanda,” jawab Reza jutek.

Nadda tergelak.

“Juteknya, aku suka deh tipikal-tipikal cowok macam kamu,” katanya dengan suara diserak-serakan. “Lalu, kalau bukan kangen, kenapa kamu menemuiku?”

“Kamu kenal dengan Ratna?” tanya Reza tanpa basa-basi.

Nadda mengerutkan keningnya bingung. “Ratna?” katanya berusaha mengingat-ingat.

“Ratna yang mana? Aku punya banyak kenalan bernama Ratna,” tambahnya datar. Tak lama kemudian, ekspresinya berubah.

“Ah, wanita yang telah menolakmu, ya?”

“Iya,” balas Reza masih dengan nada jutek. “Dia.”

Wanita itu mengangkat bahunya tak acuh. “Aku saja gak kenal Ratna kamu itu yang kayak gimana. Kamu ‘kan tidak pernah memberitahuku wajahnya.”

“Mirza Ratna Yustika, aku yakin kamu gak asing dengan nama itu. Mantan istrinya Reynaldi Dirgantara. Dia juga pernah menjadi dosenmu waktu kuliah.”

Ekspresi wajah Nadda langsung menegang setelah mendengar nama itu. Selama beberapa saat, dia tidak memberikan respon apa pun atas perkataan Reza. Baru setelah lima menit kemudian, dia kembali mengeluarkan senyumannya, meski agak kaku.

“Ah, Ratna-mu itu ternyata dia.”

“Iya, saya yakin Ratna yang kita maksud selama ini adalah Ratna yang sama. Pantas saja saya tidak asing dengan ceritamu, itu karena saya pernah mendengarnya langsung dari Ratna.”
Nadda mengangguk-angguk mengerti. “Jadi, dia pernah cerita denganmu,” katanya.

“Berarti kalian sangat dekat, ya. Sepengetahuanku, Bu Ratna tidak gampang menceritakan kehidupan pribadinya ke sembarang orang, apalagi mahasiswanya sendiri,” tambahnya dengan senyum penuh arti.

Setelah itu, Nadda mendadak tertawa keras sampai membuat Reza bingung dan bertanya-tanya.

“Bu Ratna hebat juga berarti, bisa membuat pria ganteng sepertimu kehabisan akal,” katanya saat melihat tatapan penuh tanya dari Reza.

Raut wajah Reza kembali serius.

“Mengapa kau melakukan itu? Mengapa kau menyakiti Ratna?” tanyanya sambil menatap Nadda dengan garang.

“Aku ‘kan sudah pernah cerita kalau aku jatuh cinta, kamu lupa, ya?” jawab wanita itu dengan santai, lalu menyalakan rokoknya.

“Tapi mengapa harus Ratna? Mengapa harus menghancurkan kehidupan rumah tangganya?”

“We don’t get to choose who we love, right? Kalau aku bisa memilih, aku juga gak mau mencintai pria kacau seperti Reynaldi dan menyakiti hati Bu Ratna yang sudah begitu baik padaku selama ini.”

“Oke, tapi kamu ‘kan sadar kalau Reynaldi adalah suaminya Ratna, kenapa tetep kekeuh?”

“Aku kasih tahu sekali lagi karena kamu sepertinya lebih bodoh dari yang aku kira. I was young and naïve. Aku gak peduli hal lain selain hubunganku dengan Reynaldi. Nothing else matters.”

“Dari awal, aku sudah merasa kalau kamu ini cewek bermasalah. Ternyata, kamu benar-benar cewek murahan!”

Nadda tidak merasa tersinggung sama sekali ketika mendengar Reza menghujatnya, dia malah menghisap rokoknya dengan santai.

“Oops, lalu bagaimana denganmu? Kamu juga murahan, sakit hati sedikit langsung cari cewek lain buat diajak tidur. Murahan sekali dirimu, menjajakan badanmu ke semua wanita yang menggoyangkan pinggulnya di depanmu,” ejeknya sampai membuat Reza merah padam.

“Masalah tidak akan selesai kalau kamu nidurin anak orang, anak muda. Bu Ratna tidak akan pernah menerimamu yang cuma bisa menyelesaikan masalah dengan mencari gadis-gadis setiap malam. What a loser.”

“Siapa kamu, seenaknya berbicara seperti itu? Kamu lah yang sudah membuat hidup Ratna berantakan!” bentak Reza tanpa sadar.

“Oh iya, memang. Aku memang wanita jahanam yang cuma tahu bagaimana caranya merebut laki orang. Toh, aku sudah mendapat karmanya. Meski memilihku, hati Mas Rey masih untuk Bu Ratna, aku yakin itu dan itu adalah karmaku,” jawab Nadda cuek.

“Lagipula, bukannya bagus dia cerai dengan suaminya? Reynaldi juga suka memukulinya dan melarangnya bekerja, bukan? Suami macam apa itu? Hanya karena dia lelaki, jadi dia bisa seenaknya menyiksa istrinya? Bu Ratna bebas dari jeratan sistem patriarki ya karena aku!”

“Dan karena kamu, Ratna tidak percaya dengan cinta lagi. Dia harus menanggung semuanya sendirian, sakit hatinya, rasa kecewanya, amarahnya. Apa kamu sadar apa saja yang telah kamu perbuat sampai membuat begitu?”

“Aku sadar,” kata Nadda dengan lirih. “Kalau aku bisa memutar waktu juga aku tidak akan melakukannya. Bu Ratna tidak melakukan apa pun selain memperlakukanku dengan baik. Kamu pikir aku tidak merasa bersalah?”

Nadda mengusap wajahnya dengan kasar seolah-olah mengatakan kalau dia benar-benar tidak ingin berdebat.

“Karena itulah, aku tidak mengatakan apa-apa, tidak menuntut balas, dan tidak mengumpatnya saat aku mendengar nama Bu Ratna di mulut Rey, yang waktu itu statusnya sudah menjadi suamiku. Mungkin, Reynaldi sendiri juga gak akan ingat sama apa yang ia telah perbuat sampai membuatku pergi darinya. Aku membuat diriku terlihat seperti orang jahat, biarlah Bu Ratna dan Reynaldi mengataiku tanpa henti. Aku lah si antagonis di cerita mereka.”

“Kalau kamu memang merasa bersalah, minta maaf lah dengannya. Katakan yang sejujurnya.”

Wanita itu langsung mendengus kasar. “Mau ngomong apa? Kalau aku gak berniat buat rebut suaminya? Itu ‘kan memang kenyataan, tanpa rekayasa. Aku merebut suaminya karena aku mencintai dia!”

“Tapi, tidak ada sala-”

“Aku baru saja berpapasan dengannya, dua hari yang lalu,” sela Nadda saat Reza berusaha menasihatinya lagi.

“Dan dia melihatku dengan tatapan penuh kebencian. Dia seperti tidak suka melihatku lagi.”

“Kamu akan menyerah begitu saja?” tanya Reza sedikit meremehkan. “Tidak ada salahnya mencoba untuk yang kedua kali. Kali ini, pertemuan kalian lebih terorganisir dan tidak serba mendadak.”

“Don’t try to persuade me, young man.”

“Kalau kamu memang ingin memperbaiki semuanya, maka kamu harus mengikuti saran saya.”

***

Ratna sedang melakukan bimbingan dengan salah satu mahasiswi bimbingannya saat telepon dari Reza datang. Awalnya, dia tidak berniat untuk mengangkatnya, tapi karena handphone-nya tidak berhenti berbunyi dan mengganggu proses bimbingan, maka dia terpaksa melakukannya setelah meminta ijin keluar ke mahasiswi tersebut.

Dia tidak ingin obrolannya dengan Reza diketahui oleh orang lain, apalagi mahasiswi yang doyan sekali bergosip.

“Kenapa kamu menghubungi saya? Apa maumu? Kita tidak ada bimbingan, ‘kan”

“Bertemu? Saya tidak ingin bertemu.”

“Tidak bisa dibicarakan di sini saja?”

“Penting sekali memang?”

“Tunggu dulu, Reza. Saya belum mengiyakan!”

“Halo? Reza? Jawab!”

Seperti biasa, Reza selalu seenaknya ketika mengajak bertemu. Dia bahkan tidak menunggu persetujuannya dahulu.

Tring!

Sebuah pesan dari WhatsApp masuk ke handphone-nya. Pasti itu dari bujangan satu itu! Ratna membuka pesan tersebut dan di sana tertera alamat tempat mereka akan bertemu minggu ini. Bahkan, dia juga mengatakan kalau dia akan menjemputnya.

Anak itu benar-benar. Dia gak sadar apa kalau skripsinya masih belum selesai? Kenapa dia terus-terusan mangkir dan malah mengurusi hal-hal lain yang tidak terlalu penting? pikirnya dengan geram.

Dia hanya bisa membalas pesan tersebut dengan emoticon malas dan kembali ke ruangannya, melanjutkan proses bimbingan yang benar-benar melelahkan dan berhasil membuat darah tingginya naik.

***

“Reza, kamu lebih awal dari waktu yang dijanjikan,” katanya saat melihat pemuda itu muncul di depan rumahnya dengan ceria.

“Aku hanya memastikan kalau kamu tidak lupa dengan janji kita,” balas Reza santai. Tangannya dimasukkan ke saku celananya.

Hari ini, Reza terlihat seperti biasanya. Dia memakai jaket bomber berwarna biru dongker dengan kemeja garis-garis di baliknya. Celananya jeans berwarna biru dan robek di bagian lututnya, ciri khas Reza sekali.

“Ngomong-ngomong, selamat sore, Bu Ratna, kau terlihat cantik seperti biasa,” puji Reza sambil mengangkat kedua jempolnya dan mengangguk-anggukan kepalanya mantap.

Ratna menatapnya dengan malas lalu mempersilahkan masuk. “Gak usah sok muji deh kamu, apa yang sebenarnya mau kamu bicarakan? Emang gak bisa di sini aja? Harus banget ngobrol di tempat lain?”

“Iya, karena ini urusan yang penting banget.”

Ratna mengangkat sebelah alisnya curiga, berusaha menebak apa yang sedang direncanakan oleh pemuda di depannya ini.

“Bukannya kalau di sini justru lebih aman?”

Namun, Reza hanya menampilkan senyum terbaiknya dan mengatakan, “Sudah, jangan banyak tanya.”

“Kalau gitu, tunggu sebentar lagi. Aku belum pakai lipstick dan menguncir rambutku.”

“Jangan, digerai saja,” sela Reza tiba-tiba.

“Kamu lebih cocok digerai.”

Pipi Ratna sedikit merona, tapi dia langsung mengalihkannya dengan senyum miringnya.

“Tahu apa kamu soal apa yang cocok denganku?”

“Aku selalu memperhatikanmu, karena itu aku tahu,” jawab Reza cuek. Kemudian, dia duduk sofa milik Ratna.

“Aku akan tunggu di sini. Sudah sana siap-siap.”

Ratna hanya bisa menghembuskan napasnya kesal dan kembali ke kamarnya.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat