Bu Ratna Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 13

“Suntuk amat, bro?” tanya Gilang saat melihat Reza duduk di ruang tamunya dan tidak melakukan apa-apa selain melamun semenjak kedatangan dia satu jam yang lalu.

“Gua gak paham sama kelakuan tante lu,” jawabnya pelan. Tatapannya kosong dan terasa hampa.

“Kenapa lagi dia?”

“Dia balik lagi ke awal-awal kita bertemu, Lang. Dia pakai saya-kamu lagi sekarang. Bahkan saat bimbingan pun dia terasa dingin. Gua merasa dia kembali menutup pintunya buat gua!” bentaknya frustasi.

“Dan lu tahu? Bapak Rektor satu itu selalu memanfaatkan posisinya sebagai pimpinan, dia minta Ratna buat berhenti jadi dosen pembimbing gua. Dia dengan seenaknya ikut campur dalam hubungan gua dan Ratna. Padahal dia meluangkan waktu buat gua aja gak pernah!”

“Tawarannya yang berhenti jadi dosen pembimbing gua emang ditolak oleh Ratna, tapi permintaannya yang lain dikabulin oleh dia. Gua kembali menjadi anak bimbingnya, padahal Fian udah menganggap gua ayahnya. Naha sih aing bogoh ka jelema nu kitu? Meuni nyeri hate,” tambahnya lagi masih dengan emosi.9

Gilang yang melihatnya hanya bisa terdiam, sekali-kali menepuk pundak sahabatnya dengan pelan. Miris rasanya melihat Reza yang tidak pernah percaya dengan cinta harus diperlakukan seperti ini ketika dia menemukan cinta pertamanya, padahal dia rela mati waktu itu demi wanita pujaannya.

Namun, dia juga tidak bisa menyalahkan Tante Ratna, wanita itu sudah banyak terluka karena ulah Om-nya sendiri, Reynaldi. Wajar kalau tantenya begitu pesimis dengan cinta. Bahkan ayahnya, Naufal, sekaligus abangnya Reynaldi, merasa kecewa dengan tingkah laku adiknya. Dia tidak pernah menyangka kalau adiknya akan berbuat senekat dan sejahat itu.

“Coba lo luluhin hatinya lagi, Za,” dia mencoba memberikan saran meski tahu bahwa itu saran paling klise dan paling gak berguna bagi Reza.

“Kumaha ai sia? Seribu satu cara udah gua lakuin!” kata Reza ketus.

“Gua capek, Lang. Rasanya gua mau mundur aja, tapi gua gak bisa karena takut menyesal. Padahal, apa yang mau gua sesalin? Toh, Ratna juga gak peduli kalau gua mundur atau enggak!” teriak Reza sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar karena marah.

“Za, mending ikut gue ke bawah. Kita tuangin amarah lo ke latihan fisik aja ya. Biar emosi lo bisa reda sedikit.”

Akhirnya mereka pun turun ke bawah, ke tempat di mana Gilang biasa latihan fisik. Setelah pemanasan sebentar, mereka pun menghabiskan waktu sorenya untuk melatih badan mereka dengan alat-alat fitness, membuat badan mereka semakin kekar.

***

ali ini, mereka berdua menikmati malam di kelab milik Gilang. Sudah lama Reza tidak ke sini. Dulu, sebelum bertemu dengan Ratna, dia hampir setiap hari ke sini. Dia akan berdansa, mencoba segala jenis minuman keras, menggoda wanita, dan lain-lain.

Hampir semua pengunjung di kelab ini kenal dengannya karena Reza terkenal dengan ketampanannya dan kemahirannya dalam menyenangkan hati wanita. Sebelum bertemu dengan Ratna, dia adalah seorang playboy dan semua wanita mendambakannya, kecuali Ratna, mungkin.

“Hey Reza, udah lama ih gak ketemu,” sapa salah satu wanita di sana dengan pakaian berbahan tipis dan terbuka sambil gelendotan dengan manja di lengannya Reza yang sedang asik meneguk Gin kesukaannya.

“Za, kamu masih ganteng aja,” rayu wanita yang satu lagi dengan suara sedikit mendesah dan pakaian yang sama terbukanya dengan wanita pertama. Dia memeluk leher Reza dari belakang dengan mesra dan sengaja menempelkan bagian dadanya ke punggung pria itu, mencoba membuat Reza tergoda.

“Za, aku kangen banget loh sama kamu. Kemana aja?” kata wanita yang ketiga dan sedang duduk di sebelahnya sambil meraba bagian paha Reza dengan pelan, hampir mendekati bagian terlarangnya.

Gilang yang melihatnya hanya bisa terperangah seperti orang bodoh. Mereka baru sampai lima menit yang lalu dan Reza sudah dikerubungi oleh tiga wanita sekaligus.

“Za, lo mau yang mana tuh? Bawa aja tiga-tiganya langsung!” ledeknya sambil tertawa.

Namun, Reza hanya memberikan tatapan sedih.

“Maunya sama Ratna,” jawabnya pelan.

Mungkin memang sudah saatnya dia pensiun menjadi cowok brengsek, mungkin ini karma karena sudah memperlakukan wanita seperti barang. Dulu, dia akan sangat antusias ketika mempunyai tiga wanita di genggamannya, tapi sekarang, hanya satu wanita yang ia inginkan dan wanita itu tak menginginkannya.

“Minggir lu semua, cewek jablay! Berat!” teriaknya marah karena merasa terganggu. Akhirnya, ketiga wanita itu kabur dari hadapannya Reza dengan ketakutan.

***

Sekarang, Reza sedang sibuk menari di lantai dansa meski pun sedikit sempoyongan karena Gin yang sudah membuatnya teler. Entah sudah berapa wanita dia telah cium seenaknya, sambil menganggap bahwa Ratna lah yang sedang ia cium sekarang. Dia merasa frustasi dan membenci dirinya sendiri.

Tidak punya uang, cintanya di ujung jalan, skripsinya tidak selesai-selesai. Bukankah seharusnya cinta itu membuat hidup bahagia? Tapi, mengapa dia seperti kehilangan arah semenjak cinta itu datang? Tanpa sadar, dia menyenggol bahu seseorang dengan cukup keras sehingga membuat orang itu marah.

“Heh, lo nyari masalah sama gua?!” bentak orang itu tak terima sambil mengacak pinggang.

“Maaf, bos. Gak sengaja,” jawab Reza sambil berseri-seri karena pengaruh Gin yang mulai menguasai tubuh dan otaknya.

“Terus kenapa lo senyum, bangsat?!”

“Mabok, bos,” jawabnya lagi dengan santai sambil menari-nari dengan asal dan membuat orang itu semakin murka, dia langsung menghajar Reza sampai terjerembab ke lantai.

Reza hanya bisa terdiam saat orang itu menghajarnya habis-habisan dan membuat keributan di klub milik sahabatnya. Dia tidak melawan karena sudah terlalu teler untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Gilang yang baru saja dari ruangannya mendadak panik melihat kerusuhan di tempat usahanya. Dia mencoba mendekat dan semakin terkejut saat melihat pelaku yang membuat keributan adalah tak lain dan tak bukan sahabatnya sendiri.

“Reza, Ya Tuhan!” teriaknya panik saat melihat temannya dihajar habis-habisan oleh pria yang badannya lebih besar darinya.

Didorongnya pria yang sedang menghajar Reza tersebut dan memanggil security untuk mengusir pria itu ke luar. Lalu, dia pun langsung membawa Reza pulang ke rumahnya dan merawat lukanya.

***

Reza berdiri di depan pintu rumah Ratna lagi. Dia merindukannya. Selain itu, dia juga tidak mau diperlakukan seperti sampah lagi olehnya. Karena itu, dia harus menemui wanita itu dan berbicara tatap muka.

“Sedang apa lagi kau di sini?” tanya seseorang di belakangnya saat dia sedang mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.

Dia pun membalikkan badan dan matanya bertemu dengan wanita yang berhasil membuatnya setengah gila beberapa bulan belakangan ini.

“Papah Eja!” teriak Fian senang. Begitulah Fian, dia selalu bahagia setiap bertemu dengan Reza.

Mereka sudah terlalu dekat sampai membuat Ratna merasa resah dan berusaha untuk memberikan jarak di antara mereka. Meski pun di sisi lain, hati dia terasa hangat ketika melihat Reza dan Fian bercengkrama.

“Fian, Mamah sudah bilang berkali-kali supaya berhenti memanggil Kakak Reza dengan sebutan Papah. Dia bukan papahmu!” ucap Ratna tegas. Fian yang melihatnya hanya bisa cemberut dan menggerutu dengan wajah imutnya.

“Mamah jahat!” teriaknya. Setelah itu, dia langsung berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ratna dan Reza sendirian.

“Jangan galak-galak dengan Fian,” ucap Reza pelan.

Ratna melihat ke arahnya lagi. “Kamu tidak berhak mengatur saya, Nak Reza. Fian itu anak saya, bukan anakmu,” balas Ratna dingin sebelum berjalan melewati Reza begitu saja.1

“Mengapa kau seperti ini, Ratna?! Apa salahku?!” teriak Reza frustasi. Tangannya mencengkram pergelangan tangan Ratna dengan kuat agar wanita itu tidak bisa masuk ke dalam rumah.

“Saya tidak ingin berbicara denganmu.”

“Dan kenapa begitu?! Apa karena permintaan Papah? Dia ngasih berapa ke kamu sampai kamu malas berbicara denganku? Ratna, aku pikir kamu lebih baik dari ini!”

“Kurang ajar kamu, Reza! Kamu pikir saya orang seperti apa?!” bentak Ratna sambil membalikkan badannya agar bisa menatap Reza. “Jaga bicaramu! Saya ini dosen kamu!”

“Hah, dosenku? Dalam hati kamu juga sudah menyadari kalau ada sesuatu yang lebih di antara kita, tapi kamu terus menyangkalnya. Perbuatan kamu selama ini, perbuatan kita selama ini, apa kamu mau melupakannya begitu saja? Aku tahu kamu membutuhkanku seperti aku membutuhkanmu, tapi kamu terus-terusan mencoba menciptakan jarak di antara kita dan membuangku semakin jauh, dengan dalih kalau kamu itu dosenku dan aku ini anak bimbingmu! Apa kamu pikir aku sebercanda itu?” bentak Reza tak mau kalah.

Dia sudah tidak peduli dengan pandangan tetangga yang melihat mereka berdua. Dia hanya ingin mengutarakan semua perasaannya.

“Kamu terluka karena berurusan dengan saya. Kamu juga diusir dari rumah karena saya. Semuanya karena saya! Berhentilah peduli agar hidupmu tidak sial lagi! Toh, Reynaldi sudah dipenjara. Saya bisa mengatasinya sendiri. Jadilah anak yang diinginkan oleh orang tuamu!” balas Ratna dengan suara parau.

“Saya tidak butuh kamu, Reza. Saya tidak butuh siapa-siapa. Kejadian dengan Reynaldi cukup membuat saya sadar kalau mungkin saya memang ditakdirkan untuk tidak terlibat dengan cinta lagi. Omongan ayahmu juga benar adanya. Carilah orang lain. Saya sudah menutup pintu hati saya untuk siapapun,” tambahnya, kali ini lebih tenang.

“Ratna-”

“Saya permisi. Pulanglah ke rumahmu, orang tuamu merindukanmu. Jangan pernah kembali lagi ke sini, kecuali kalau ada urusan bimbingan.” Setelah itu dia pun membalikkan badannya lagi, tapi Reza berusaha untuk menahannya lagi.

“Aku harus apa supaya kamu percaya denganku? Aku harus apa supaya kamu biarkan aku masuk? Bisakah kau membiarkan aku masuk kali ini, Ratna? Selama ini kau selalu menahanku, tapi aku tahu kau sebenarnya ingin aku masuk. Biarkan aku masuk, Ratna. Aku mohon,” kata Reza setengah memohon.

Reza yang tidak pernah memohon sebelumnya, tidak pernah mengiba, terutama ke wanita, kini melepaskan semua harga dirinya demi wanita di depannya.

Ratna yang melihatnya hanya bisa menahan tangisannya yang sedari tadi dia tahan mati-matian ketika melihat Reza menatapnya dengan pandangan memelas.

“Tidak. Pergilah, Reza. Pulanglah.”

Raut wajah Reza berubah menjadi marah.

“Dasar munafik!” teriaknya.

Tangan yang sebelumnya memegang lengan Ratna kini dihempaskan begitu saja.

“Mengapa aku harus mencintai wanita seperti kamu?” tambahnya lagi lalu pergi dari rumah itu tanpa pamitan, meninggalkan Ratna menangis sendirian.

Di jalan menuju rumah Gilang, Reza berusaha menahan emosi dan sakit hatinya. Bahkan, dia hampir terlibat dalam pertikaian ketika seseorang hampir menyenggol motornya. Pikirannya kalut. Mengapa dia bisa terjebak dengan pesona dosen pembimbingnya dan melupakan siapa dia sebelumnya?

Dia adalah Reza Nicola, pangeran kampus yang memiliki sejuta pesona dan membuat semua wanita di kampusnya terpesona dengannya. Bahkan, hampir semua dosen wanita terpikat dengan ketampanannya, kecuali Ratna. Mungkin karena wanita itu tidak pernah melihatnya sebagai pria. Mungkin karena dia hanya melihatnya sebagai anak bimbingnya. Benar-benar memalukan.

Dan untuk merayakan hari patah hatinya, dia pun kembali ke kelab malam milik Gilang dan bersenang-senang sampai dia melupakan Ratna. Mungkin dia harus menemukan satu atau dua wanita, atau mungkin lebih, untuk membuatnya senang sepanjang malam, agar bayangan Ratna bisa hilang dari otaknya.

Seperti hari kemarin, dia kembali menyiksa dirinya dengan minuman keras. Kali ini Tequila. Tentu saja dia dapatkan dengan gratis karena Gilang tidak tega melihat Reza setengah gila begini. Dia membiarkan Reza mengobati rasa sakitnya dengan caranya sendiri.

“Tante, mengapa Tante membuang Reza?” tanya Gilang saat dia menghubungi Ratna via telepon.

“Apa maksudmu, Gilang?”

“Jawab Gilang, Tante.”

“Siapa yang membuang Reza, Gilang? Tante tidak pernah sekali pun memeliharanya,” jawab Ratna setengah bercanda. Dia tidak ingin membagi masalahnya ke keponakannya sendiri, apalagi keponakannya ini merupakan teman dekat pria yang membuat dia pusing akhir-akhir ini.

“Tante, dia sangat mencintaimu! Dia bahkan sangat panik saat Fian diculik, itu pemandangan yang tidak biasa. Dia tidak pernah peduli dengan orang lain selama ini!” bentak Gilang.

“Gilang, jaga nada bicaramu ketika berbicara dengan Tante! Bagus dong kalau begitu, berarti dia sudah berubah. Seharusnya, meski bukan karena saya, dia juga harus tetap peduli dengan orang lain,” jawab wanita itu. Nadanya langsung berubah menjadi ketus.

“Gilang benar-benar tidak mengerti pikiran Tante. Gilang tahu Tante ini trauma, tapi bukan berarti Tante mengusir semua orang yang ingin dekat dengan Tante, apa lagi orang seperti Gilang yang mencintai Tante dengan tulus.”

“Bukan masalah trauma atau tidaknya, Gilang. Tante dan temanmu itu konyol! Kita berbeda usia sebanyak 12 tahun. Tante lebih pantas menjadi tante atau ibunya ketimbang kekasihnya. Dan Tante ini dosen pembimbingnya, Tante anak buah ayahnya, tidak seharusnya Tante terlibat percintaan dengan konyol dengan anak atasan Tante sendiri.”

“Umur bukan masalah, Tante. Toh, banyak artis wanita yang menjalin kasih dengan pria yang lebih muda. Bahkan, perbedaan umur mereka sampai 20 tahun.”

“Mereka artis dan saya bukan. Tante ini dosen, Lang. Seorang pendidik. Seorang profesor. Tante harus menjadi contoh bagi orang lain. Apa jadinya kalau Tante dan Reza pacaran? Apa kata orang saat tahu kalau saya yang merupakan seorang ketua prodi PKN di universitas ternama menjalin kasih dengan anak bimbingnya sendiri? Apa kata Pak Pratama saat tahu kalau anaknya ini berpacaran dengan seorang janda anak satu? Seorang dosen di universitas tempat dia menjabat sebagai rektor.

Segala sesuatu itu harus dipikirkan tanggungan dan resikonya, Gilang. Mungkin Reza patah hati sekarang, tapi percayalah nanti dia akan menyetujui semua perkataan Tante sekarang. Dia masih muda, seperti kamu. Dia berhak untuk mendapatkan yang lebih baik dari Tante. Seseorang yang masih bisa memberikannya anak tanpa harus khawatir dengan menopause. Seseorang yang masih belum punya anak agar dia tidak harus memikirkan tanggungan anak yang bukan dari darah dagingnya.” jelas Ratna panjang lebar.

“Gilang tidak paham lagi dengan pikiran Tante.”

“Tidak usah dipikirkan, Gilang. Nanti kamu akan paham sendiri. Tante akan putuskan telepon ini ya? Jangan telepon Tante lagi kalau masih mau membahas temanmu itu.”

Tanpa menunggu jawaban dari Gilang, Ratna pun mematikan panggilan darinya.

“Za,” panggil Gilang saat melihat temannya rebahan di sofa dalam keadaan teler. Hal yang tidak menyenangkan dari alkohol adalah efek setelahnya. Kepalanya pusing karena hangover yang sedang melandanya.

“Apa?” sahut Reza dengan mata yang masih terpejam.

“Duduk,” perintah Gilang. Reza pun membuka matanya dan menatapnya dengan penuh tanda tanya, kemudian dia duduk meski harus sambil meringis karena kepalanya yang sangat sakit.

“Ada apa?” tanyanya.

Pak!

Pak!

“Apa-apaan, Gilang?!” bentak Reza marah saat melihat temannya menamparnya dengan cukup keras sebanyak dua kali.

“Gue mau lo gak kayak gini lagi, Za.” jawab Gilang dingin.

“Apa maksud lu?!” tanya Reza lagi sambil berusaha mengusap-usap pipinya yang sakit karena bekas tamparan. Kali ini, dia benar-benar tersadar dan tidak lagi teler.

“Sadar, Za! Mana Reza yang dulu begitu hebat?! Reza yang mempesona dan membuat semua wanita bergetar? Sekarang lo cuma pecundang aja! Bucin! Gue gak suka lo yang kayak gini. Siapa lo sebenernya? Kembalikan kawan gue yang dulu!” bentak Gilang dengan kasar sambil menarik kerah Reza.

“Dia mati, Lang! Mati karena tante lu yang cantik itu. Dia jatuh ke perangkapnya. Dia udah gak punya apa pun lagi karena tante lu, tapi tante lu ngebuangnya begitu aja!” balas Reza tak kalah kasarnya.

Buk!

Gilang menghajar pipi Reza sampai dia terjerembab ke sofa.

“Za, tante gue tidak pantas lo ratapin. Dia gak akan peduli! Lo berhak yang lebih, Za! Sadar! Lepasin tante gue. Move on! Tante gue udah terlalu sulit untuk lo takhlukin hatinya. Dia begitu rumit, Za, lo juga tahu itu. Hidupnya bukan cuma buat dia doing, tapi buat Fian juga!”

“Terus, gua musti apa, Gilang? Gua musti apa supaya bisa ngelupain tante lu?! Kalau gua bisa ngelupain dia, gua juga udah ngelakuin itu dari dulu!” teriak Reza frustasi. Tangannya sibuk mengusap pipinya yang kena kepalan tangan Gilang yang kuat.

“Cari cewek baru! Cari cewek sebanyak-banyaknya! Gue lebih milih lihat lo jadi playboy ketimbang galau gak karuan begini.”

“Tapi Ratna-”

“Gak usah pikirin Tante Ratna, gue bilang! Dia gak akan peduli sama apa yang lo lakuin! Saatnya tunjukin ke dia kalau lo ini lebih hebat dari apa yang dia perkirakan! Kalo lo ini jantan! Kalo lo ini seorang pria dewasa, bukan anak kecil seperti yang selama ini dia selalu lihat!”

***

Efek dari patah hati memang benar adanya. Karena patah hati, Reza kembali ke kehidupannya yang lama sebelum bertemu dengan Ratna. Dia kembali menjadi Si Brengsek Reza yang menggoda banyak wanita lalu meninggalkannya begitu saja. Dia bahkan dengan cueknya bermesra-mesraan di wilayah kampus sampai membuat mahasiswa lain merasa tidak nyaman.

Untungnya, hubungan Reza dengan orang tuanya mulai membaik. Meski pun Reza masih memperlakukan mereka dengan dingin dan masa bodo, tapi setidaknya dia tidak diusir lagi dari rumah dan kartu kreditnya kembali lagi.

Reza memutuskan untuk tidak peduli dengan semua yang telah ayahnya sampaikan ke Ratna, yang membuat wanita itu berubah dan menjauhinya, membangun kembali dinding di antara mereka yang sudah mati-matian Reza runtuhkan dengan semua yang ia miliki.

Dia memutuskan untuk tidak mau tahu lagi tentang kehidupan Ratna. Bahkan, panggilan dari Fian tidak pernah ia jawab karena tidak ingin melewati batas yang sudah Ratna buat. Dia menghargai semua keputusan Ratna dan tidak ingin membuatnya marah atau menangis lagi karena dia.

Mereka hanya bertemu pada saat bimbingan dan itu pun tidak terlalu lama karena Ratna adalah orang sibuk yang memiliki banyak urusan. Skripsi Reza sudah hampir selesai setelah direvisi entah untuk yang keberapa kalinya.

Dengan sabar Ratna menghadapi kemalasan yang dimiliki Reza dalam mengerjakan skripsi, meski beberapa kali dia kehabisan kesabaran dan memarahinya habis-habisan. Hubungan mereka hanya sebatas hubungan antara dosen pembimbing dan mahasiswa, tidak ada lagi gelak tawa di antara mereka atau pipi Ratna yang merona karena tersipu saat Reza menggodanya.

Namun, bukan berarti perasaan Reza atau pun Ratna hilang begitu saja. Reza masih menahan marah ketika Pak Norman dengan terang-terangan menggoda Ratna saat dia sedang melakukan bimbingan. Beberapa kali juga dia melihat Ratna pergi bersama ketua prodinya itu. Hatinya panas bukan main, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa mengingat status di antara mereka.

Reza juga merasa kalau Ratna merindukannya. Beberapa kali dia memergoki Ratna melihat ke arahnya dengan intens saat mereka tak sengaja bertemu di koridor kampus atau saat dia sibuk menggoda wanita dari jurusan lain.

Dia tahu kalau Ratna cemburu, meski wanita itu tidak akan pernah mau mengakuinya, dan dia merasa puas. Bukan hanya dia yang tersiksa dengan semua drama yang terjadi di antara mereka.

“Apa yang sedang Anda lakukan di kampus, Reza? Apa kita ada jadwal bimbingan?” tanya Ratna saat melihat Reza sedang duduk di salah satu kursi di lobi fakultas.

“Oh, selamat siang, Bu Ratna. Tidak, kita tidak ada bimbingan hari ini, Bu,” jawabnya santai, matanya enggan menatap Ratna karena sibuk dengan handphone-nya.

“Lalu, mengapa Anda ada di sini? Mau bertemu saya?”

“Ah, ngapain bertemu Ibu? Saya udah cukup bosan melihat Ibu terus,” balasnya dengan kurang ajar. “Bercanda kok, Bu. Saya menunggu gebetan saya,” tambahnya lagi saat melihat Ratna menatapnya dengan galak.

“Anda masih bisa memikirkan pacaran ketika skripsi Anda masih belum selesai padahal wisuda gelombang pertama sebentar lagi?”

“Soal skripsi, saya sudah menyelesaikan penelitian saya dan sudah menganalisisnya dengan metode yang Ibu sarankan. Malam ini saya akan mengetiknya di laptop. Apa besok Ibu ada jadwal kalau boleh tahu?”

“Tidak.”

“Baik, saya akan datang besok pagi untuk bimbingan. Oh, itu cewek saya! Sudah dulu ya, Bu. Permisi. Sampai jumpa besok.” Tanpa menunggu respon dari Ratna, dia pun segera menghampiri wanita yang dia tunggu dari tadi dan merangkulnya dengan erat. Dia terlihat bahagia sekarang.

Sedangkan Ratna, hatinya mencelos saat melihat Reza merangkul wanita lain yang jauh lebih cantik dan muda darinya, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Itulah yang dia inginkan selama ini. Meski pun perasaannya campur aduk, tapi dia sadar bahwa ini adalah keputusan yang paling tepat untuk mereka berdua. Reza sudah seharusnya mencintai wanita yang seumurannya, bukan wanita seperti dirinya.

***

Besoknya, mereka bertemu lagi untuk bimbingan. Sayangnya, Reza terlihat tidak fokus dengan bimbingan ini dan beberapa kali melihat handphone-nya. Hal itu sontak membuat Ratna merasa tidak dihargai.

“Anda serius tidak dengan bimbingan ini?” tanya Ratna dingin.

Matanya menyiratkan kekesalannya. Gimana tidak kesal? Dia sudah capek-capek menjabarkan pendapatnya tentang hasil penelitian Reza, memberitahu Reza apa saja yang harus direvisi, serta memberikan teknik yang lebih praktis agar Reza tidak harus pusing menganalisis hasil penelitiannya, dan Reza malah sibuk dengan handphone-nya.

“Oh, maafkan saya, Bu. Ini teman saya mengirim pesan terus jadi saya mau tak mau harus membalasnya,” jawab Reza dengan cuek seperti tidak peduli lagi dengan pendapat Ratna tentangnya.
“Kalau gitu pulanglah, saya tidak ingin membuang-buang waktu saya dengan membimbing mahasiswa yang pikirannya kemana-mana,” kata Ratna dengan ketus.

“Bimbingan ini selesai,” tambahnya lagi lalu mengalihkan perhatiannya ke komputer di sampingnya.

“Loh, tidak bisa gitu dong, Bu? Saya kan sudah capek-capek mengerjakan ini semua semalaman. Saya mau cepet-cepet wisuda.

Ibu juga capek ‘kan melihat saya terus?” protes Reza tak terima.

“Tapi Anda sendiri tidak terlihat seperti ingin cepat-cepat wisuda.”

“Baiklah, Bu. Nih, handphone-nya saya masukin ke tas. Sekarang perhatian saya hanya untuk Ibu saja. Puas gak, Bu?” tanya Reza sambil mengerlingkan matanya yang sipit.

“Jangan lancang dengan saya, Reza. Saya ini dosen pembimbing Anda!” bentak wanita itu dengan kesal meski pun pipinya sedikit merona saat melihat kerlingan mata Reza.

sudah lama Reza tidak menggoda Ratna seperti itu. Sayangnya, Reza tidak melihat apa yang terjadi dengannya karena melihat ke arah lain.

“Tentu saja, Bu Ratna, dan saya adalah anak bimbingnya Ibu. Tidak akan pernah berubah, ‘kan? Selamanya Ibu hanya akan melihat saya sebagai seorang bocah. Tidak lebih dan mungkin kurang,” sindir Reza sambil sesekali membunyikan jari-jari tangannya.

Ratna yang mendengarnya hanya bisa diam dan tidak merespon apa pun. Reza memang terlihat santai saat mengatakan hal itu, tapi dia bisa melihat sedikit kesedihan di wajahnya.
Suasana menjadi semakin canggung. Terlebih lagi, fakultas mulai sepi karena liburan semester sudah tiba.

“Fian rindu denganmu.” kata Ratna tiba-tiba setelah terdiam cukup lama.

“Oh, saya juga merindukannya. Katakan itu ke dia,” jawabnya lalu tersenyum kecil.

Reza memang merindukan bocah itu. Bocah yang menurutnya paling kuat dan paling mandiri. Ketika bersama dengan Fian, Reza mengingat kembali masa kecilnya yang penuh kebahagiaan di London bersama almarhum kakeknya.

Tiba-tiba, handphone Reza berbunyi tanda ada panggilan masuk.

“Sebentar, Bu,” katanya lalu pergi ke luar ruangan agar bisa berbicara dengan leluasa tanpa harus diperhatikan oleh Ratna.

“Hmm… mohon maaf, Bu, bisa tunda dulu bimbingannya? Saya harus menggantikan Papah saya bertemu kliennya. Saya sudah besar, sudah waktunya saya yang mengambil alih usahanya, apa lagi Papah lebih suka bekerja mengurusi kampus tercinta kita ini. Papa juga berpendapat demikian. Setidaknya, dia tidak seperti Ibu yang selalu melihat saya masih seperti anak kecil,” katanya setengah menyindir.

Ratna tidak merespon kata-katanya yang terakhir dan hanya bisa mengatakan, “Baik. Silahkan selesaikan dulu urusanmu. Kita akan lanjut bimbingan ini lusa.”

***

“Hey,” panggil seseorang tiba-tiba saat Reza sedang menghabiskan waktunya di kafe dekat kampus sambil mengerjakan skripsi.

Reza menoleh ke arah sumber suara dan matanya bertemu dengan seorang wanita yang cantik, meski usianya sepertinya lebih tua beberapa tahun darinya, tersenyum padanya.

Dia tidak mengingat siapa wanita ini, tapi hal itu bukan sesuatu yang aneh lagi karena banyak sekali wanita yang menyapanya di jalan meski pun dia tidak mengenal mereka siapa. Wanita itu mengenakan seragam kafe tersebut yang menandakan kalau dia adalah karyawati di sana.

“Oh, selamat pagi, Teh… Nadda, apa ada yang bisa saya bantu?” tanyanya setelah melihat kartu nama di dada kiri wanita bernama Nadda itu.

“Kamu pasti gak ingat aku. Wah, aku terluka loh,” jawab Nadda sambil tersenyum. Manis, Reza akui.

“Maaf, Teh, memangnya kita pernah ketemu di mana, ya?” tanya Reza lagi.

Otaknya berusaha mengingat-ingat wanita di depannya, dan hasilnya nihil.

“Kita pernah ketemu di kelab malam milik cowok ganteng berambut mohawk.”

“Gilang, maksudnya?”

“Oh ya, kamu kenal dia, ya? Wah, cowok ganteng berteman dengan cowok ganteng, pantes aja kelab malam dia selalu ramai. Ini toh, rahasianya,” kata Nadda lalu tersenyum simpul. Tanpa meminta ijin dari Reza, Nadda duduk di bangku depan Reza.

“Mohon maaf, Teh, tapi saya benar-benar tidak bisa mengingat kamu,” kata Reza mulai tak sabaran. Dia tidak suka bagaimana wanita itu mengusik harinya yang tenang secara tiba-tiba.
Nadda mendekatinya dan berbisik di telinganya. “Apa kamu lupa pada suatu malam di mana kita menghabiskan waktu bersama dengan gairah yang sama?”

Waduh, gawat nih, rutuk Reza dalam hati. Ternyata wanita ini adalah salah satu dari sekian banyak wanita yang pernah menghabiskan malam bersama dengannya. Rasanya canggung sekali, tapi dia harus tetap terlihat santai.

“Ah, saya sedikit lupa. Malam-malam saya selalu dihiasi dengan wanita-wanita cantik selain Teteh, jadi agak sulit untuk mengingatnya,” jawabnya dengan tenang.

Namun, senyum wanita itu semakin melebar.

“Sudah aku duga, kamu tipikal cowok-cowok brengsek yang tidak peduli dengan perasaan wanita.”

Dahi Reza mengkerut tidak suka. “Maksud Teteh apa ya?”

“Setelah bermain denganku, kamu meninggalkanku begitu saja. Setelah membuatku tidak bisa melupakan malam itu, kamu dengan seenaknya melupakan itu begitu saja. Bagaimana perasaan wanita lain kalau tahu kamu sebrengsek ini?”

Reza menampilkan senyum menyeringainya setelah mendengar pertanyaan dari wanita itu.

“Wah, saya gak peduli. Mereka sudah tahu kalau saya hanya menerima one-night stand, tidak lebih dari itu. Kalau pun mereka menyukai saya, ya itu urusan mereka. Saya tidak akan melakukan apa pun soal itu.”

“Apa kamu tidak takut karma? Gimana kalau kamu ketemu seorang wanita dan mencintainya begitu dalam? Lalu, kamu ditinggalkan begitu saja?”

“Saya tahu bagaimana perasaannya, karena saya pernah berada di posisi itu. Sejak saat itu, cinta bukan lagi prioritas saya. Untuk apa cinta itu ada kalau hanya menyakitkan manusia saja? Lebih baik bermain-main saja, tanpa terikat oleh komitmen dan cinta yang bikin pusing kepala.”

“Jadi, kamu ini salah satu anggota dari barisan patah hati karena cinta?”

“Iya, dan saya tidak ingin berada di posisi itu lagi.”

“Kalau begitu sama,” kata Nadda sambil mengerlingkan matanya menggoda.

“Mungkin kamu soulmate yang selama ini saya cari-cari.”

***

Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Reza bangun dengan seorang wanita tanpa busana di sampingnya pagi ini. Namun, dia tidak begitu terkejut karena itu sudah menjadi rutinitasnya akhir-akhir ini, bermain dengan wanita yang berbeda setiap harinya.

Dia berusaha mengisi kekosongan di hatinya yang telah ditinggalkan oleh Ratna begitu saja, berusaha melupakan bayang-bayang wanita itu dari benaknya dengan menghabiskan setiap malam bersama wanita.

Apa dia tidak takut terkena HIV?

Mungkin tidak. Pasalnya, Reza sepertinya memang ingin segera mati. Dia merasa hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Mungkin agak berlebihan, tapi untuk orang yang tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya, tentu ini menyiksanya.

Setelah merenung beberapa saat, dia pun bangkit dari kasurnya dan mengambil bajunya yang berserakan di lantai lalu memakainya dengan gesit. Setelah itu, dia langsung membangunkan wanita yang masih asyik meringkuk di balik selimut itu. Wanita yang tak sengaja ia temui di kafe dekat kampus kemarin. Wanita cantik bernama Nadda.

Dia tidak begitu ingat bagaimana mereka berakhir di sebuah kamar yang tidak begitu luas ini. Setelah jam kerja Nadda selesai, wanita itu mengajaknya pergi ke kelab malam yang tidak begitu jauh dari kampus. Tempat itu sangat populer di kampusnya. Mahasiswa-mahasiswa yang sudah pernah ke sana dianggap hebat dan disegani oleh yang lain.

Reza beberapa kali ke sana bersama teman-teman kampusnya, meski dia lebih menyukai kelab malamnya Gilang yang elegan, dan itulah salah satu alasan mengapa Reza terkenal di kampus selain karena ketampanan dan kegenitannya.

Balik lagi ke Reza dan Nadda, mereka berbincang-bincang beberapa saat mengenai cinta dan patah hati sambil ditemani dengan minuman keras di tangan mereka. Rupanya, Nadda baru saja mengalami kejadian yang sama sepertinya, tidak dianggap dan dibuang begitu saja oleh orang yang disukainya.

Semakin lama, kesadaran mereka semakin berkurang akibat dari pengaruh alkohol yang mengalir di tenggorokannya. Entah bagaimana caranya mereka bisa sampai ke kamar ini dengan selamat, Reza tidak tahu dan tidak mau tahu. Kepalanya pusing sekali.

“Hey, woman. Wake up,” katanya setengah memerintah, tapi Nadda hanya menggeliat sedikit dan kembali melanjutkan tidurnya.

“Wake up!” Kali ini, Reza membentaknya sampai wanita itu sedikit terlonjak.

“Good morning,” sapa Nadda sambil tersenyum menggoda.

“How about we do something dirty now? Since it’s still morning and I’m feeling a little bit cold. I want you to make me warm,” tawarnya dengan suara serak yang dibuat-buat.

“Maaf, Nad, tapi saya harus pulang,” balas Reza lalu mengambil barang-barangnya yang berceceran di lantai.

“Why though? Merasa bersalah dengan wanita yang udah bikin kamu patah hati itu?” tantang wanita itu masih dengan senyuman menggoda.
Reza menatapnya dengan geram.

“Jangan kurang ajar kamu.”

“Kamu tahu gak, kamu sama sekali gak menyebutkan namaku semalam,” kata Nadda lalu mengambil posisi duduk dan menyenderkan punggungnya ke tembok.

“Kamu manggil nama wanita lain. Ratna, kalau aku tidak salah dengar. Dia wanita itu, ‘kan?”

“B-bukan urusanmu,” jawab Reza dengan ketus.

Setelah memberikan tatapan terakhir ke Nadda, Reza langsung melenggang pergi dari kamar tersebut, sebelum ditahan oleh Nadda.

“Kalau kamu mau melupakan wanita itu, kamu harus berusaha sungguh-sungguh. Kamu harus mencintai wanita lain. Aku siap jadi wanita itu.”

Reza berhenti sejenak.

“Persetan dengan cinta,” katanya lalu meninggalkan kamar itu tanpa menoleh ke belakang lagi.

***

Sial, Reza baru sadar kalau dia ada jadwal bimbingan dengan Ratna jam sepuluh nanti dan sekarang jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang, tapi kepalanya masih terasa sakit sekarang. Salahnya juga karena menyetujui ajakan wanita bernama Nadda itu.

Entah kenapa, meski Nadda memiliki paras yang cantik, tapi Reza sedikit takut dengannya. Wanita itu memiliki kharisma yang kuat, meski tidak sebanding dengan Ratna, tapi Nadda sepertinya bukan wanita yang biasa ia temui di kelab-kelab malam yang ia pernah kunjungi sebelumnya.

Reza bertekad untuk tidak berpapasan lagi dengan Nadda agar kejadian semalam tidak terulang lagi. Mereka seharusnya tidak melakukan hal itu lagi. Reza tidak pernah bermain dengan wanita yang sama sebelumnya, itu melanggar prinsipnya.

Hal yang paling memalukan adalah sebuah kenyataan bahwa dia menyebut nama Ratna ketika bersama dengan wanita lain. Dia bahkan tidak menyadari itu, yang dia ingat hanyalah wajah Ratna tidak pernah pergi dari pikirannya, melihatnya dengan penuh cinta yang sama seperti yang ia rasakan selama ini. Sepertinya, dia memang sudah benar-benar gila karena Ratna.

Akhirnya, dia pun memaksakan diri untuk mandi dan minum obat pereda rasa mabuk. Setidaknya, dia tidak ingin memperlihatkan wajah telernya ke Ratna. Pasti wanita tua itu akan mengoceh macam-macam!

Namun, sayangnya, Ratna terlalu pintar untuk tidak menyadari keadaan Reza yang sebenarnya.

“Anda minum semalam?” tanyanya dingin saat melihat Reza duduk di depannya dengan santai.

“Eh? T-tidak. Bagaimana Ibu bisa berkata demikian?” jawab Reza setengah gugup, dia bahkan tertawa dengan canggung. Matanya melirik kesana-kemari, kebiasaannya ketika gugup atau sedang berbohong.

“Anda terbata-bata dan tatapan Anda ke sana-kemari, itu tandanya Anda bohong.”

Perkataan tersebut berhasil membuat Reza terdiam dan tidak berani membalas tatapannya Ratna yang sangat intens. Dia tahu kalau wanita itu sedang marah dengannya. Toh, dia kan anaknya Ratna! Pasti kesal lah wanita itu melihat anaknya bercumbu dengan minuman keras yang penuh racun itu!

“Jangan bilang kamu juga tidur dengan wanita tak dikenal semalam,” kata Ratna lagi, kali ini nada suaranya sedikit meninggi entah kenapa.

Reza makin tidak bisa berkutik ketika Ratna berhasil menebak apa yang dia lakukan semalam. Ratna memang tidak bisa dibohongi, terutama semenjak Reynaldi menghianatinya.
Melihat Reza yang tidak menjawab semua tuduhannya, Ratna semakin yakin kalau tebakannya benar.

Hatinya langsung mencelos ketika mengetahui kenyataan bahwa Reza tidur dengan wanita lain, yang jauh lebih cantik dan lebih muda darinya. Entah sudah berapa kali dia melakukan itu tanpa Ratna ketahui, dan karena itulah hatinya mendadak panas karena rasa cemburu dan kecewa.

“Mengapa kau melakukan itu lagi, Reza?” Ratna bersuara lagi, kali ini lebih tenang.

“Bukan urusan Ibu,” jawab Reza akhirnya, dengan dingin. “Ibu tidak berhak bertanya tentang kehidupan pribadi saya dan apa saja yang saya lakukan setelah kuliah. Ibu hanya perlu fokus dengan skripsi saya.”

“Reza, saya tidak ingin kamu terkena penyakit kelamin! Saya tidak mau kamu meninggal karena itu!”

Reza mendecak malas.

“Kenapa begitu? Toh, pada akhirnya saya akan tetap mati. Orang tua saya juga gak akan perduli kalau saya mati. Ibu juga gak akan peduli kalau saya mati!”

“Siapa bilang saya tidak perduli? Saya begitu memerdulikanmu, Reza.”

“Sebagai dosen pembimbing dan ibu kedua saya maksudnya? Gak usah, Bu, saya gak butuh cinta dari seorang ibu. Saya cuma butuh cinta dari wanita yang saya cintai. Dari Ratna, bukan dari Bu Ratna!”

“Reza, kamu tahu kalau saya gak b-”

“Karena usia kita? Karena Ibu ini dosen pembimbing saya? Karena kata-kata bapak saya? Karena masa lalumu? Persetan dengan semua itu, Bu Ratna, saya sudah muak mendengarnya.”

“Jangan paksa saya untuk memberikan sesuatu yang saya tidak bisa berikan, Reza,” kata Ratna dengan tenang.

“Brengsek! Saya malas berbicara dengan kamu, Ratna!” bentak Reza akhirnya, sebelum membereskan beberapa barangnya dengan penuh amarah dan pergi dari hadapan Ratna.

“Saya sudah tidak perduli lagi dengan wisuda selama dosen pembimbingnya masih Ibu. Mungkin memang seharusnya Ibu berhenti jadi dosen pembimbing saya untuk kebaikan kita bersama,” tambahnya lagi dengan ketus.

***

“Kamu bilang kamu tidak ingin bertemu denganku lagi, Reza,” sapa Nadda saat melihat Reza berdiri di depan kost-nya.

“Dan kamu di sini, di depan kamarku, dengan wajah kusut dan galau. Pasti karena perbuatan wanita itu, ‘kan?”

“Bukan urusanmu,” balas Reza lalu mengecup bibir Nadda dengan kasar dan tergesa-gesa, mendorong wanita itu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya dengan keras.

“Tunggu sebentar, anak muda,” kata Nadda sedikit terengah-engah. “Kamu sadar bukan kalau aku ini bukan pelampiasanmu?”

Reza melepaskan pelukannya dan menatap wanita di depannya dengan bingung.

“Kamu bilang kalau kamu mau bantu aku melupakan Ratna.”

Nadda mengangguk mantap.

“Ya, dengan mencintaiku, bukan dengan hal-hal seperti ini.”

“Kamu bilang kamu tidak percaya dengan cinta.”

“Aku tidak akan pernah percaya dengan cinta, tapi aku juga mau dicintai oleh orang kayak kamu. Tampan, kaya, dan bucin,” jawab Nadda dengan nada meledek.

Reza langsung pergi menjauh dan duduk di salah satu kursi di kamar Nadda.

“Sama saja kamu dengan wanita lainnya.”

Nadda mengambil sebatang rokok dari atas meja dan menyalakannya.

“Hanya ada aku di dunia ini, Reza. Kamu pikir aku rela menjajahkan tubuhku untuk lelaki yang masih belum bisa melupakan mantan pacarnya? Oh, aku sudah cukup muak dengan hal itu,” katanya sebelum menghisap rokok itu dengan nikmat.

“Pria yang tidak menganggapmu itu?”

“Oh, tentu saja bukan. Kisah cintaku beranekaragam, gak kayak kamu yang baru saja menemukan cinta pertamanya,” jawab wanita itu lagi masih dengan nada meledek dan menyodorkan sebatang rokok ke Reza, meski ditolak dengan sopan olehnya.

“Dia cinta pertamaku, pria yang belum bisa melupakan mantan pacarnya,” kata Nadda setelah melamun beberapa saat. “Bahkan ketika aku sudah berhasil merebutnya dari mantan pacarnya, aku bisa tahu kalau hatinya bukan untukku.”

Reza menatapnya dengan pandangan mengejek.

“Kamu jadi pelakor?”

“Iya, kenapa emang? Aku masih muda dan bebas. Cinta itu datang ketika aku membutuhkan seseorang untuk bersandar setelah kedua orang tuaku sudah tiada. Aku seharusnya merasa bahagia meski cuma jadi simpanan saja, tapi aku selalu ingin lebih. Pria itu berjanji akan menikahkanku dan menjadikanku istri kedua, tapi mantan istrinya menolak dengan keras.

Mereka pun bercerai dan aku berhasil menguasai pria itu sendirian. Namun, nyatanya rasa cintanya dengan mantan istrinya justru meningkat pasca perceraian mereka. Suamiku sering memikirkan wanita itu dan anaknya yang masih bayi, aku tahu itu.

Bahkan saat kecelakaan itu terjadi, aku tahu dia sedang memikirkan keluarga kecilnya yang telah ia tinggalkan begitu saja. Karena kecelakaan itu, anakku yang belum lahir mati dan aku divonis tidak bisa punya anak lagi.

Sialnya lagi, suamiku semakin menjadi-jadi. Dia secara diam-diam mengagumi foto mantan istrinya. Dia bahkan selalu menyebutkan nama orang itu di sela-sela kegiatan kita. Nama yang sama seperti yang kamu panggil semalam, Ratna.

Entah itu kebetulan atau tidak, aku tak tahu. Semuanya jadi begitu sulit waktu itu, aku tak tahan. Dengan berat hati, aku pergi meninggalkannya, dengan alasan yang tidak masuk akal. Butuh waktu yang lama untuk melupakannya,” Nadda bercerita setelah menghisap dan menghembuskan asap rokoknya beberapa kali.

“Kenapa kamu meninggalkan suamimu? Apa artinya pernikahan kalau orang dengan gampangnya memilih untuk bercerai ketimbang bertahan.”

Nadda langsung tergelak.

“Oh, boy, you won’t understand because you’re still young. Aku ini feminis. Bagiku, buat apa bertahan dengan lelaki yang masih mengingat masa lalunya? Aku cemburu dan kecewa berkali-kali. Aku tidak ingin terus-terusan begitu. Aku masih muda, masih banyak yang mau denganku.”

“Wow, kamu sangat berbeda dengan dia,” puji Reza sambil tersenyum.

“Siapa? Ratna-mu?”

“Ya, dia. Wanita itu sekuat kamu, tapi itu untuk menyembunyikan luka di hatinya yang masih saja menganga sampai sekarang. Luka itu membuatnya tak percaya lagi dengan cinta, bahkan cinta yang aku berikan dengan cuma-cuma.”

“Jadi, kamu, aku, dan Ratna-mu itu sama-sama tidak percaya dengan cinta. Kita ini barisan patah hati?” tanya Nadda dengan tatapan jenaka.

“Iya, benar sekali kamu, Nad.”

“Aku ingin bertemu dengannya,” katanya dengan mantap. “Sepertinya akan sangat menyenagkan jika hal itu terjadi.”

***

“Bu Ratna!” panggil Pak Norman saat melihat Ratna berjalan menuju lift dengan langkah cepat.

Ratna berhenti.

“Ya, ada apa, Pak Norman?” sahutnya setelah menoleh ke arah Pak Norman.

Raut wajahnya sedikit merengut karena merasa terganggu.

“Saya ada urusan, jadi tolong jangan membuat saya menunggu,” tambahnya lagi dengan nada tak sabaran.

Pak Norman terdiam sebentar, seperti merasa ragu untuk mengatakan sesuatu.

“Saya cuma mau kasih tahu Ibu, Reza berniat untuk cuti kuliah. Barusan dia datang ke saya dan mengatakan keinginannya,” katanya dengan ekspresi wajah yang tidak jelas. Marah, khawatir, bingung, dan stres dicampur menjadi satu.

“Apa?!” balas Ratna setengah berteriak. Matanya langsung terbelalak.

Berita apa-apaan ini? Bagaimana bisa Reza tidak mengatakan apa pun soal ini ke dia? Saya ini masih dosen pembimbingnya!

“Saya yakin dia belum ngomong ke Ibu dan saya benar-benar menyesal soal itu, sebagai ketua prodi. Saya sudah berusaha menasihatinya, tapi Ibu tahu sendiri lah bagaimana tabiat anak itu.”
Benar-benar! Anak itu makin lama makin ngelunjak! gerutunya dalam hati.

“Jadi, dia mau mengabaikan skripsinya lagi?” kata Ratna akhirnya, tangannya dilipat di dadanya seperti yang biasa ia lakukan saat merasa kesal.

“Entahlah, saya juga tidak tahu soal itu. Dia tidak menyebutkan sama sekali soal skripsi, dia bahkan tidak mengatakan alasannya untuk cuti. Apa dia ada masalah dengan Ibu?”

Ratna terdiam lagi karena tidak tahu harus jawab apa. Keputusan Reza untuk cuti pasti ada hubungannya dengan masalah rumit yang terjadi di antara mereka berdua. Masalah cinta.

“Baiklah, Pak. Saya akan langsung bertanya padanya. Anak itu benar-benar kelewatan kadang,” tukasnya pada akhirnya, mengabaikan pertanyaan dari Pak Norman.

“Terima kasih dan mohon maaf sekali lagi, Bu Ratna, atas nama jurusan Ilmu Sosial. Saya pikir, dengan menjadikan Ibu sebagai dosen pembimbingnya bisa membuat Reza sedikit jera, tapi nyatanya anak itu memang sulit diatur. Tolong jangan menyerah ya, Bu. Saya kasihan melihatnya seperti itu.”

Ratna mengangguk.

“Saya tidak akan menyerah soal Reza, Pak Norman, bahkan meski dia selalu bersikap seenaknya sendiri.”

***

Reza, temui saya sekarang di ruangan. Ada yang ingin saya tanyakan. – Bu Ratna

Ratna melihat lagi pesan WhatsApp yang dia kirim ke Reza tiga jam yang lalu, memastikan bahwa pesan itu benar-benar sudah terkirim. Reza bahkan sudah membacanya, Namun, sampai sekarang pemuda itu masih saja belum kelihatan batang hidungnya.

Dia benar-benar berusaha untuk mengkontrol dirinya agar tidak terbawa emosi, mencoba untuk berpikir positif sejak dua jam yang lalu. Dia bahkan sudah membatalkan semua janjinya, termasuk janjinya dengan Fian, agar bisa berbicara empat mata dengan anak bimbingnya yang paling tidak bisa diatur satu itu.

Bocah tetap bocah, pikirnya. Itulah mengapa ia ragu untuk menerima Reza sebagai kekasihnya. Sifanya benar-benar masih seperti anak kecil! Lucunya, anak itu tidak menyadarinya dan menyombongkan diri bahwa dia sudah dewasa. Tahu apa dia soal kedewasaan? Hanya karena masalah cinta, semangat untuk mengerjakan skripsinya mengendor.

Berlagak mau menikahi Ratna yang sudah pernah menikah sekali dan gagal. Bagaimana kalau suatu saat nanti mereka dihadapi dengan masalah rumah tangga? Apa anak itu akan bersikap menyebalkan seperti ini? Berapa banyak pertengkaran tak penting yang akan terjadi di kehidupan rumah tangga mereka kelak? Anak itu benar-benar tidak tahu soal pernikahan. Sumpah demi apa pun, kalau sampai Reza tidak datang juga, dia akan-

Tok tok tok!

“Masuk!”

Akhirnya, bocah itu datang juga dengan pakaian yang selalu seenaknya. Ratna sudah lelah memarahinya karena Reza selalu tidak pernah menggubris semua omelannya.

“Kemana saja kamu? Baru muncul sekarang? Kamu pikir saya tidak sibuk?” Ratna buka beberapa detik setelah Reza datang.

“Saya ada urusan yang penting,” jawab Reza cuek. “Ibu ada perlu apa dengan saya? Saya sudah ngomong ke Pak Norman dan saya yakin dia sudah kasih tahu Ib-”

“Duduk,” sela Ratna sambil menunjuk kursi di depannya dengan mata kucingnya yang tersembunyi di balik kacamata minusnya.

Suara Ratna memang pelan, tapi ada nada mengancam di balik kata-kata itu dan membuat Reza langsung terdiam. Tanpa banyak bicara lagi, Reza pun duduk seperti yang diinginkan oleh Ratna.

“Kamu lagi ngapain sih, Reza?” tanya Ratna, kali ini nadanya begitu dingin, sampai membuat Reza benar-benar merasa terintimidasi dengannya.

“Apa maksud Ib-”

“Saya tanya, kamu lagi ngapain?”

Reza diam seribu bahasa, tidak tahu harus jawab apa karena tidak mengerti apa yang sedang bicarakan.

“Saya tidak mengerti maksud Ibu.”

Ratna mendesah lalu melepaskan kacamata minusnya dan meletakannya di atas meja.

“Mau sampai kapan kamu begini? Cuti? Apa-apaan kamu? Gak kasih tahu saya lagi, kamu tidak menghargai saya sama sekali!”

Reza semakin bisu, meski kali ini wajahnya sedikit menunjukkan ekspresi rasa bersalah.

“Saya malas kuliah.”

“Malas lagi? Padahal skripsimu sudah mau selesai. Mau ngapain emang kamu? Ngajedog ti imah jeung imah batur? Ngagawekeun indung jeung bapak? Kamu gak malu sama teman-temanmu yang sudah lulus dan memiliki penghasilan sendiri? Mau sampai kapan kamu begini, saya tanya,” tanya Ratna bertubi-tubi. Matanya melihat Reza dengan tajam.

“Saya malas ketemu Ibu,” jawab Reza sambil enggan membalas tatapan Ratna dan memilih melihat foto Ratna dan Fian di meja kerjanya.

Ratna mendecak dan tersenyum tak percaya.

“Kenapa? Karena saya sudah menolak cintamu? Harga dirimu terluka, ya, setelah menjadi Cassanova terlalu lama? Gimana rasanya ditolak sama ibu-ibu yang sudah hampir kepala empat? Pasti malu dan sakit, kan?”

Reza menatapnya tak percaya, dia tersinggung dengan ucapan yang baru saja Ratna ucapkan.

“Sudah saya duga, kamu memang wanita yang kejam, Ratna.”

“Kejam? Saya kejam? Sekarang saya tanya sekali lagi, Reza, kamu tahu apa soal saya? Kamu bilang saya kejam, lalu bagaimana denganmu? Sudah berapa banyak perempuan yang kamu permainkan demi mengobati patah hatimu itu? Kamu benar-benar brengsek, apa kamu peduli dengan perasaan mereka? Apa kamu peduli dengan perasaan saya? Kamu cuma bisa mengatasi masalahmu dengan melakukan hal-hal seperti itu.

Kalau aku menerimamu, apa kamu akan terus seperti itu setiap saat kita bertengkar? Kamu bilang kamu mencintai saya, tapi kamu tidak menghargai keputusan saya. Sekarang kamu mau bersikap kekanak-kanakan begini karena cintamu yang saya tolak?” balas Ratna dengan pandangan penuh humor. Dia benar-benar sedang meremehkan Reza sekarang.

“Kamu selalu saja menganggapku anak-anak.”

“Karena kamu memang seperti anak-anak,” balas Ratna dengan cepat.

“Gimana saya bisa mengiyakan lamaranmu itu kalau kamu masih bersikap menyebalkan kayak gini? Kamu tidak ingin dianggap bocah, kan? Kalau gitu hiduplah sebagai lelaki dewasa. Usiamu sudah mau seperempat abad, tapi untuk hal begini saja kamu masih harus saya kasih tahu. Malu, Reza, kamu harusnya malu. Fian jauh lebih dewasa daripada kamu, dan kamu ingin menjadi ayahnya. Kamu main-main dengan saya, ya?”

Reza mulai tenggelam dalam pikirannya. Dia mulai menyadari sikapnya yang seperti anak-anak, dengan gampangnya mengajukan cuti hanya karena tidak ingin bertemu dengan dosen pembimbing sekaligus cintanya yang kandas. Dia mulai menyadari keegoisannya yang sudah memaksa Ratna menerima sesuatu yang telah membuat hatinya terluka. Cinta yang sebenarnya tidak boleh seegois ini. Jika dia benar-benar mencintai Ratna, maka dia harus bisa melepaskannya dengan ikhlas.

Ratna berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke pintu, membukanya lebar-lebar.

“Saya tidak merasa rugi jika kamu tetap mau bersikap seperti ini, menunjukkan aksi protesmu dengan mengabaikan kewajibanmu. Nama dan kehormatan saya masih aman, tidak seperti kamu,” ujarnya dengan wajah datar.

“Saran saya, sebelum ayahmu yang kau benci sekaligus kau takuti itu mengetahui niatmu, lebih baik kamu hentikan saja niatmu. Kamu tahu lebih baik ketimbang saya soal perangai ayahmu itu. Tenang saja, saya tidak akan menyerah untuk membantumu. Kalau kamu ingin lepas dari cengkramannya, maka jalan satu-satunya adalah dengan wisuda dan dapat kerja di kota lain. Kamu harus bersikap rasional, Reza, cinta bukan segalanya. Pertemuan kali ini sampai sini dulu saja. Pikirkan kembali kata-kata saya. Saya ngomong gini karena saya sangat peduli dengan kamu dan masa depan kamu.”

“Apa benar-benar tidak ada kesempatan untukku, Ratna? Bahkan, meski sikapku sudah tidak kekanak-kanakan lagi?” tanya Reza dengan lirih, tanpa berniat untuk menoleh ke arah Ratna.

“Saya tidak tahu dengan masa depan, mungkin akan ada perubahan nantinya, mungkin saya yang akan menyesal nantinya. Namun, untuk sekarang, saya sudah membuat keputusan saya. Aku mencintaimu, Reza. Aku peduli denganmu, tapi cinta saja tidak cukup bagiku. Untuk sekarang, lebih baik kita selesaikan apa yang harus diselesaikan. Kamu dengan studimu, aku dengan luka di hatiku.”

Reza tertegun saat mendengar bahwa Ratna mencintainya. Itu adalah kata-kata yang selalu ia idam-idamkan semenjak jatuh hati dengannya. Namun, kata-kata itu terasa begitu menyakitkan sekarang. Dia harus melepaskan Ratna dengan lapang dada, setidaknya sampai dia bisa menjadi sesuatu yang diinginkan oleh Ratna.

Dia harus bisa mengatasi sikapnya yang kekanak-kanakan, yang tidak mengetahui cara lain selain tidur dengan banyak wanita. Dia benar-benar bukan calon pasangan yang baik untuknya.

“Baiklah, Bu Ratna,” katanya pada akhirnya sambil bangkit dari tempat duduknya

“Saya tidak akan mengecewakan Ibu lagi,” tambahnya lalu tersenyum.

Ratna membalas senyuman itu sambil berkata, “Bagus, Reza, itu adalah yang saya butuhkan sekarang darimu.”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat