Bu Ratna Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 12

Mike memerintahkan semua anak buahnya yang berada di Pulau Jawa untuk mencari tahu keberadaan Dragon-nail karena dia yakin kalau komplotan itu belum bisa keluar dari Pulau Jawa. Mereka harus menunggu satu sampai dua hari dahulu sebelum akhirnya menyebrang pulau dengan kapal yang mereka sewa secara rahasia.

Si bos besar, Antonius atau Anton, tidak mungkin hanya membawa satu anak saja untuk dia jual ke negara lain. Pria itu tidak pernah mau rugi. Lagi pula, kalau pun misalnya mereka sudah pergi ke luar Pulau Jawa, Mike masih punya banyak kenalan di sana, terutama di Batam.

Bos-bos mafia di wilayah lain sangat menaruh respek ke Mike yang mereka anggap tak tersentuh dan tak terkalahkan. Jadi, kalau dijelaskan secara gamblang, Mike ini penguasa seluruh Indonesia, meski secara underground, karena anteknya ada dimana-mana.

Sementara, Gilang meminta tolong salah satu anak buahnya untuk menyelidiki keberadaan Reynaldi yang lolos begitu saja dari penjara. Tak ada kabar lagi mengenai pamannya setelah keluar dari penjara.

Entah pria itu ikut atau tidak dengan Dragon-nail, atau lebih memilih melarikan diri ke daerah lain sambil membawa uang hasil menjual anaknya sendiri, Gilang perlu memastikannya sendiri. Meski tidak bisa sehebat Mike, tapi Gilang mempunyai caranya sendiri dalam melacak orang. Anak-anak buah yang dia miliki bukanlah orang-orang yang bisa dianggap remeh.

Setelah menunggu waktu yang lumayan lama, salah satu anak buah Mike yang bernama Rudi atau biasa disebut anjing pelacak karena kemampuannya dalam melacak yang sangat mengagumkan, menghubunginya dan mengatakan kalau dia sudah menemukan keberadaan target.

Dragon-nail menunda perjalanan selama dua hari di daerah Banten, tidak jauh dari Kampung Baduy, karena Anton mempunyai urusan bisnis di sana.

Rudi tidak menjelaskan secara spesifik urusan apa itu, dia hanya mengatakan, “Naga menemukan emas di tanah kosong itu.”

“Allen, kabari yang lain untuk segera berangkat menuju tempat yang saya kirim ke kamu via WhatsApp. Sekarang juga. Saya mau berangkat juga soalnya. Jangan ada yang kabur dalam misi ini, ya? Kita akan menghadapi lawan yang cukup keras kepala soalnya,” perintah Mike kepada seseorang -yang ternyata asistennya- via telepon.

“Mereka ada di Banten. Ayo, siap-siap.” kata Mike saat masuk ke dalam rumah Ratna lagi setelah menunggu kabar dari anak buahnya di teras rumah.

“Kita pakai dua mobil, yang satu mobil gue, yang satu mobil Gilang. Lang, lo gak apa-apa kan? Si Reza gak akan mungkin bawa mobil dia. Ada orang tuanya di rumahnya dan lo tahu seberapa gak sukanya mereka ke kita,” kata Mike lagi.

“Selow aja, bro. Gue demen kok ngajak mobil gue berpetualang,” jawab Gilang santai. Matanya masih menatap layar handphone-nya, menunggu kabar dari anak buahnya.

“Oke, kalau gitu gua, Linda, dan Ratna naik mobil Mike, ya? Karena Mike yang tahu lokasi Dragon-nail sekarang. Lingga dan Rangga sama Gilang, ya,” perintah Reza tegas.

“Siap, komandan,” jawab Lingga dan Rangga serempak.

Setelah bersiap-siap selama 30 menit, mereka pun segera memasuki mobil dan bersiap untuk berangkat. Di mobilnya Mike, Reza dan Mike duduk di kursi depan. Mereka sudah sepakat kalau Reza yang akan mengambil alih kemudi selama setengah perjalanan awal, sedangkan Mike akan menyetir selama setengah perjalanan akhir karena perjalanan dari Bandung ke Banten merupakan perjalanan yang cukup jauh. Sementara Linda dan Ratna duduk di kursi tengah.

“Ratna, tenang, oke? Nanti kamu capek,” pinta Reza saat melihat Ratna tidak berhenti menangis di pundak adiknya.

Sementara Linda hanya bisa mengusap-usap rambut kakaknya dengan sayang karena tidak tahu harus melakukan apa lagi setelah gagal melindungi Fian sebelumnya.

“Kita pasti akan menemukan Fian,” tambah Reza lagi. Dia masih merasa tidak tenang melihat Ratna bersedih seperti itu. Pikirannya tidak bisa fokus.

“Udah, berangkat aja langsung, Za.” sahut Mike tiba-tiba.

Reza pun membenarkan posisinya sebelum menyalakan mesin mobil. “Oke, kita berangkat. Semoga Tuhan selalu bersama kita dan Fian.”

Setelah itu, Reza menekan pedal gas dan membawa mereka ke luar komplek rumahnya dan Ratna, membawa mereka ke luar Bandung.

***

Setelah perjalanan yang menghabiskan waktu hampir 10 jam, mereka pun sampai di tempat tujuan. Tempat itu berada lumayan jauh dari kota dan dikelilingi oleh hutan-hutan yang cukup menyeramkan. Tidak ada kendaraan sama sekali selain mereka. Terlebih lagi karena hari sudah sangat larut, sehingga suasana menjadi gelap gulita. Hanya ada lampu mobil yang menerangi mereka.

“T-tempat apa ini?” tanya Linda saat melihat keadaan sekitar dari dalam mobil. Dia terlihat ketakutan, bulu kuduknya berdiri.

“Tunggu di sini dulu, jangan ke luar dulu. Nanti rencana kita gagal,” perintah Mike ketika melihat Ratna bersiap untuk membuka pintu mobil.

Tangannya sibuk menghubungi anak-anak buahnya. Sepertinya, Ratna sudah tidak sabar untuk menghajar siapa pun yang berani menculik Fian. Dia mendengus dengan gemas karena Mike memergokinya.

“Ratna, jangan bertindak gegabah. Nanti kita malah kehilangan Fian. Terus parahnya lagi aku malah kehilangan kamu. Tenang, Ratna. Biasanya kamu selalu tenang. Mana Ratna yang terkendali dan bisa mengkontrol emosinya?” kata Reza tiba-tiba dan mengkagetkan Ratna. Wanita itu pun langsung menunduk antara malu dan kesal karena baru saja dinasihati oleh anak bimbingnya sendiri.

“Gimana, Mike? Pasukan lu udah datang belum?” tanya Reza kali ini ke Mike yang masih sibuk dengan handphone-nya.

Sebenarnya, dia juga tidak sabar karena khawatir akan terjadi apa-apa ke Fian. Hari sudah semakin larut.

Tidak ada jawaban.

“Mike?”

“Tuh, mereka datang juga akhirnya,” jawab Mike setelah beberapa belas menit tidak menjawab pertanyaan Reza. Dia menunjuk ke 5 mobil yang berada cukup jauh dari mereka.

“Cuma lima mobil aja, Mike?” tanya Reza bingung.

Anggota Dragon-nail pasti sangat banyak. Apa mereka sanggup menghadapi komplotan itu hanya dengan jumlah yang sedikit? Bukankah pertarungan ini akan menjadi tidak seimbang?

“Iya. Mereka ini anggota-anggota terbaik gue, Za. Orang-orang yang gue percaya dengan seluruh jiwa raga dan gue bisa pastikan kehebatannya. Gak mungkin kan kalau gue bawa semua anak buah gue ke sini? Yang ada kita malah ketahuan,” jawab Mike panjang lebar sebelum memberikan senyum tipis ke Reza.

“Salah satu anggotanya, yang sekaligus menjadi ketuanya, adalah Jaime. Kalau di kerajaan, dia seperti panglima, Za. Pemimpin perang, itulah dia,” tambahnya lagi dengan bangga.

“Jadi, apa rencana lu?” tanya Reza karena lelah dengan penjelasan Mike tentang anak buahnya yang menurut dia tidak terlalu penting ketimbang menyelamatkan Fian.

“Gampang aja, tangkap mereka semua. Kalau ada yang lawan, bunuh. Nanti lo sama gua dan Gilang masuk ke markas itu secara sembunyi-bunyi. Lo bisa lihat markasnya, kan? Sedangkan Ratna dan Linda…. Biarkan Lingga dan Rangga yang akan menjaga kalian. Tunggu aja di sini, mereka sebentar lagi datang. Mbak Ratna, tunggu saja yang benar ya kalau mau Fian selamat dan jangan buat suara terlalu keras.”

Ratna pun hanya bisa mengangguk pasrah saat mendengarkan perkataan Mike. Dia juga ingin menyelematkan Fian, tapi apa daya, dia tidak punya kemampuan di bidang bela diri. Yang dia bisa lakukan hanyalah belajar dan belajar, sedangkan olahraga bukalah bidangnya. Kecuali Yoga dan Zumba.

Tidak lama kemudian, Rangga dan Lingga datang dan masuk ke mobilnya Mike dengan mengendap-ngendap. Mereka duduk di bangku depan. Mike dan Reza sudah pergi menemui Gilang dan mulai melaksanakan misinya.

“Baru kali ini melihat Reza sepeduli itu,” celetuk Rangga berusaha memecahkan suasana yang sangat tegang itu.

“Iya, dulu mah mana peduli dia sama beginian,” sahut Lingga kali ini sambil terkekeh pelan.

“Dulu mah kata dia, daripada mencelakakan dirinya, mending gak usah peduli saja sekalian. Bahkan dengan orang tuanya sekali pun. Gak pernah gua sangka kalau dia rela mati demi cewek gebetannya.”

Mereka berdua pun tertawa bersama karena masih belum terbiasa dengan sisi barunya Reza.

“Emang… Dia gimana dulu?” tanya Ratna tiba-tiba setelah dari tadi hanya mendengarkan celotehan Rangga dan Lingga. Selama ini, dia merasa belum mengenal Reza sepenuhnya. Mungkin dia bisa tahu banyak hal dari teman-temannya.

“Reza? Dulu dia suka sekali menghabiskan banyak waktunya di kelab malam dan hotel bersama wanita lalu meninggalkannya besok pagi. Tipikal-tipikal cowok brengsek,” jawab Lingga sambil menatap Ratna.

“Saya sudah bisa menduga itu,” ucap Ratna sambil tersenyum, lalu tertawa bersama Lingga.

“Terima kasih ya, Teh,” kata Rangga dengan senyuman tulus.

“Untuk apa? Saya saja tidak pernah yakin kalau dia serius dengan saya atau cuma main-main saja. Saya tahu betul tabiat anak muda sepertinya, pasti hanya main-main,” jawab Ratna, tatapan matanya masih ke arah tempat Fian berada. Kali ini bukan hanya Fian yang dia khawatirkan, tapi juga Reza yang sedang mati-matian menolong anaknya.

“Teteh, kita ini sudah punya istri yang kita cintai. Kita tahu benar arti tatapannya Reza ke Teteh. Dia juga teman kami selama bertahun-tahun. Gak mungkin kalau kita salah,” jawab Rangga yang dibalas dengan anggukan oleh Lingga. Seperti biasa, dalam keadaan segenting apa pun dia tetap meluangkan waktunya untuk main game.

Ratna hanya diam saat mendengar perkataan dari Rangga dan Lingga. Dia merasa tidak pantas mendapatkan cinta dari Reza, terlebih lagi sekarang pria itu sudah sangat mengenalnya luar dan dalam. Dia merasa malu kepada dirinya sendiri. Seandainya Reza lahir 12 tahun lebih cepat, mungkin dia tidak harus menikah dan menderita dengan Reynaldi.

Sementara, di sisi lain, trio tampan ini masih berusaha mencari lokasi di mana Fian berada.

“Bro, lu yakin ini jalannya?” tanya Reza entah sudah yang keberapa kalinya.

“Gak tahu gue juga, pakai insting aja lah!” jawab Gilang gemas karena lelah dengan pertanyaan sahabatnya itu.

“Diam, lo berdua. Nanti kita ket-”

Gubrak!

Brak!

Pak!

“Apaan itu?” tanya Gilang dan Reza secara bersamaan.

“Anak buah gua udah mulai beraksi. Kita harus segera masuk ke dalam!” kata Mike sambil berjalan dengan kecepatan yang cukup cepat, di belakangnya ada Gilang dan Reza.

“Akhirnya, itu pintu masuknya. Ayo!” katanya lagi sambil menunjuk ke arah sebuah pintu berwarna merah.

Mereka masuk ke dalam dengan sembunyi-sembunyi, tanpa membuat suara sedikit pun. Raut wajah mereka sangat serius dan penuh ketegangan, terutama Reza yang tidak terlalu terbiasa dengan suasana seperti ini.

Setelah beberapa kali melangkah, mereka akhirnya bisa mendengar suara-suara dari dalam.

“Bos, ada kekacauan di luar.”

“Bos, anak buah kita semuanya pingsan tidak sadarkan diri.”

“Maksudnya bagaimana?” tanya seseorang yang sepertinya pemimpin mereka. Suara itu cukup berat dan rendah.

“Ada beberapa pria bertubuh besar yang menghajar mereka, Bos.”

“Dan kalian tahu siapa itu?”

“Anu, Bos… Sepertinya, mereka adalah anggota dari Black On Black, Bos…”

“Apa?! Mengapa orang itu berurusan dengan kita?”

“Saya tidak tahu juga, Bos. Masalahnya mereka adalah anggota terbaiknya orang itu.”

“Sial! Perintah semua orang yang ada di sini untuk melawan mereka!”

“Lalu, Bos bagaimana? Sendirian begitu?”

“Tenang. Selama kalian bisa menghajar balik mereka, mereka tidak akan bisa menyentuh saya. Cepat laksanakan tugas saya!”

“Siap, Bos!”

Setelah itu terdengar suara beberapa langkah kaki yang sepertinya berlari ke arah luar, lalu tak lama kemudian sepi kembali.

“Jangan khawatir, Anton. Bos mereka pasti tidak ada di sini. Mau sekuat apapun mereka tidak akan bisa melawan pasukan gua yang banyak. Sebenernya, apa urusan mereka? Padahal, selama ini gua selalu berusaha untuk tidak membuat masalah dengan mereka.”

Suara itu terdengar lagi. Kali ini, sepertinya dia hanya sendirian. Dia sedang berbicara sendirian sampai Reza mulai berpikir kalau orang ini sedikit tidak waras.

Drrrt.

Handphone Gilang bergetar lemah. Dia langsung merogoh ke dalam sakunya untuk mengambil benda berbentuk segi panjang tersebut. Dia baru saja mendapat notifikasi dari anak buahnya yang sebelumnya ia minta untuk mencari keberadaan pamannya, Reynaldi.

Orang yang lo cari-cari lagi ada di Banten, bersama dengan Dragon-nail. Gua gak tahu urusan lo apa sama dia, tapi gua saranin mending mundur aja. Lawan kita Dragon-nail, bro. kita gak sebanding sama mereka. – Will

“Kenapa, Lang?” tanya Reza saat melihat Gilang terdiam sambil menatap handphone-nya.

“Za, Om Reynaldi ada di si-”

“Ada apa, Anton?”

Kali ini, mereka mendengar suara lain. Suara ini lebih berat ketimbang suara sebelumnya dan Reza maupun Gilang sangat tidak asing dengan suara ini. Suara si brengsek itu. Reza pun mencoba bangun dari tempat persembunyiannya, tapi langsung ditahan oleh Mike dan Gilang.

“Sabar!” bisik Gilang.

“Si Rey ada di dalam, Lang!” gerutu Reza dengan kesal. Dia mencoba melepaskan pegangan kedua sahabatnya.

“Iya, tapi lo harus sabar! Semua ini harus berjalan sesuai rencana! Sekarang lo duduk lagi!” perintah Mike dengan suara mendesis dan membuat Reza duduk lagi dengan kesal.

“Ada keributan di luar, Rey. Ngomong-ngomong, di mana anak itu?”

“Disekap di gudang dan pingsan sekarang. Kapan kita akan pergi dari sini?”

“Sehari lagi.”

“What? Lama sekali, Anton! Bagaimana kalau Ratna berhasil menemukan kita? Saya yakin dia sudah meminta polisi untuk mencari Fian. Belum lagi peliharaannya itu, Reza.”

“Mereka gak akan berhasil, Rey, tenang saja! Ini tempat yang gak terjangkau sama siapa pun, kecuali Black On Black, mungkin. Lagi pula, saya masih punya urusan di sini. Di tempat yang kelihatan sepi ini, pundi-pundi uang tersimpan rapih. Kalau kamu mau gabung dengan saya, saya pastikan uang tidak akan berhenti mengalir di ATM-mu,” jawab pria bernama Anton itu lalu tertawa lebar.

Mike menoleh ke arah dua sahabatnya seperti ingin menyampaikan sesuatu.

“Reza, lo selamatkan Fian ya? Gilang, ayo ikut gue dan serang pemimpinnya.”

“Oke!” jawab mereka mantap.

***

Setelah itu, Reza meninggalkan Mike dan Gilang di tempat yang cukup sempit itu. Dia melanjutkan perjalanannya mencari gudang dimana Fian berada. Dari kejauhan, dia bisa menduga bahwa Mike dan Gilang sudah memperlihatkan batang hidung mereka ke musuh karena dia bisa mendengar secara samar-samar suara dari kegiatan baku hantam mereka.

Dengan sigap dan tanpa menimbulkan suara, Reza terus mencari di mana gudang tersebut. Dia menyusuri pohon-pohon yang tinggi menjulang itu tanpa kenal takut, meski suasana begitu seram dan gelap tanpa ada penerangan sedikit pun kecuali dari bulan di atas sana.

Dia tidak berani menyalakan senter karena bisa membuatnya tertangkap, jadi dia hanya bisa mengendap-ngendap di kegelapan malam. Sepuluh menit kemudian, dia bisa melihat pintu gudang yang sepertinya tidak dijaga oleh siapa pun.

Dengan hati-hati, Reza menghampiri gudang tersebut dan berniat untuk membukanya. Namun, tiba-tiba ada tiga orang muncul dan berusaha menggagalkan rencananya Reza.

“Siapa kamu?! Apa yang sedang kamu lakukan?!”

“Kamu mau mengambil sandera kami, ya?! Langkahi dulu mayat kami bertiga!”

Lalu, tiga orang itu berusaha menghajar Reza yang langsung ditangkis olehnya. Mereka pun terlibat dalam pergulatan yang cukup sengit selama beberapa saat. Lawan Reza cukup hebat, tapi sayangnya Reza masih lebih hebat daripada mereka bertiga sehingga membuat mereka pada akhirnya pun kalah, tergeletak tak berdaya.

Setelah berusaha mengatur napasnya yang sedikit tersengal-sengal, Reza membuka pintu gudang yang berwarna putih itu. Gudang itu sepertinya sudah cukup berumur, terlihat dari kondisinya yang sudah hampir mau ambruk.

“Fian?” panggilnya pelan, khawatir ada anggota Dragon-nail lain yang berada di dalam. Matanya terus menyapu sekeliling untuk memastikan bahwa gudang tersebut benar-benar tidak terjaga.

Tak butuh selang waktu beberapa lama, dia pun menemukan seorang anak kecil yang sedang duduk tak berdaya di sudut gudang. Tangannya diikat dan bibirnya disumpal oleh lakban.

“Fian!” katanya setengah berteriak.

Dia langsung berlari ke tempat Fian berada dan membuka ikatan yang mengunci tangannya. Setelah itu, dia membuka lakban di bibirnya dengan hati-hati karena tidak ingin melukainya.

Hatinya miris melihat seorang anak kecil yang masih berumur enam tahun harus berada di posisi seperti ini dan tersiksa seperti ini, dan hal ini bisa terjadi karena perbuatan ayahnya sendiri. Digendongnya anak itu oleh Reza dengan hati-hati dan mereka pun seegera pergi ke luar gudang, menuju ke tempat mobilnya berada. Ke tempat Ratna berada.

Karena anak buah Dragon-nail sepertinya sedang sibuk melawan pasukannya Mike yang menyerang mereka secara mendadak, sementara pemimpinnya juga sedang sibuk melawan Mike dan Gilang, maka tidak sulit bagi Reza untuk membawa Fian ke mobil. Tidak ada satu orang pun yang menghalangi jalan mereka.

“Fian!” teriak Ratna lega saat melihat Reza masuk ke dalam mobil sambil menggendong anak sematawayangnya.

“Dia tidak apa-apa. Hanya tidak sadarkan diri saj- oh! Dia terluka akibat pukulan di beberapa bagian tubuhnya. Harus segera diobati, nanti infeksi,” kata Rangga sambil mengeluarkan kotak P3K yang selalu tersedia di tasnya. Dia adalah seorang dokter.

“Mana Mike dan Gilang?” tanya Lingga ke Reza dengan cemas.

“Masih di dalam kayaknya, tadi kita berpisah jalan. Gua nyari Fian, mereka berurusan sama bos Dragon-nail dan Reynaldi.”

“Reynaldi ada di sana juga?” tanya Ratna kali ini setelah mendengar nama mantan suaminya itu dari mulut Reza. Dia menatap Reza dengan kaku.

Reza menatap balik Ratna dengan mulut terkatup, lalu tersenyum seolah berusaha menenangkan wanita itu.

“Iya, tapi tenang aja, aku yakin Gilang sudah menghukumnya.”

Tak lama kemudian, Gilang dan Mike datang sambil menyeret dua orang pria bertubuh besar dan menghempaskan mereka ke tanah dengan kasar. Dua orang itu adalah Anton dan Reynaldi. Mereka sudah diikat tangan dan kakinya agar tidak bisa macam-macam lagi.

Perbuatan Gilang dan Mike dilihat oleh anak buahnya Anton yang masih berusaha menangkis serangan dari Black On Black. Mereka langsung terbelalak ketika melihat bosnya tergeletak di tanah dengan tangan dan kaki diikat, tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena kondisi mereka yang sedang terdesak. Namun, salah satu anak buahnya Anton yang bernama Dyon memukul mundur musuhnya dan menghampiri bosnya dengan tergesa-gesa.

“Bos Anton! Apa yang sudah kau lakukan kepada Bos?!” bentaknya dengan marah.

Dia mengeluarkan dua pisau dari sakunya dan memasang kuda-kuda.

“Ayo, kita selesaikan hari ini.”

Tiba-tiba, dari kejauhan muncul sekumpulan anggota Dragon-nail yang sebelumnya tidak terlihat batang hidungnya, berlari ke arah mereka seolah-olah mengajak mereka berperang sehingga mau tak mau Mike dan Gilang pun memasang kembali kuda-kuda mereka.

Akhirnya, pergulatan kembali terjadi dan kali ini lebih dahsyat. Reza dan Lingga yang melihat itu langsung ke luar, meski sebelumnya ditahan dulu oleh Ratna karena dia tidak mau melihat Reza terluka, tapi Reza sangat menjunjung tinggi persahabatan yang dia miliki.

Dia tidak bisa melihat Mike dan Gilang kelimpungan melawan pasukannya Anton sementara dia diam saja di dalam mobil tanpa bisa melakukan apa-apa. Sedangkan Rangga tidak ikut turun karena sibuk merawat Fian yang terluka dan menjaga Ratna serta Linda, takut-takut kalau anggota Dragon-nail menyadari kehadiran mereka di sini.

***

Karena tidak sanggup menyaksikan pemandangan mengerikan di luar sana, Linda pun memanggil polisi dan setelah menunggu waktu cukup lama karena malam sudah larut dan lokasi mereka yang berada jauh dari dari kota, mereka pun datang dan menghentikan pertikaian itu dengan ancaman tembakan.

Dragon-nail ditangkap, termasuk Reynaldi, dan dibawa oleh mereka ke penjara. Black On Black hampir ditangkap, tapi Mike selalu mempunyai caranya sendiri untuk menghindar dari sel penjara sehingga mereka tidak jadi tertangkap. Sedangkan Reza, Gilang, Lingga, dan anggota Black On Black yang terluka menerima pengobatan dari Rangga, Ratna, dan Linda.

Reza yang mendapatkan luka tusukan di bagian perutnya, Gilang yang terluka karena terbentur batu di bagian pelipisnya, Lingga yang tertusuk di pahanya. Sementara, Mike menolak semua pengobatan karena dia sudah sangat terbiasa. Toh, dia juga tidak terluka begitu parah, paling hanya lecet sedikit.

“Kan sudah aku bilang, kamu gak usah turun!” omel Ratna dengan kesal sambil masih berusaha mengobati luka tusukan di perutnya Reza. Dia pernah menjadi anggota PMR dan belajar tentang pertolongan pertama, jadi wajar saja kalau dia tahu bagaimana cara membalut luka tusukan di perut.

“Aku kan gak bisa melihat Mike dan Gilang diserang dan terluka begitu,” jawab Reza pelan. Dia pasrah menerima omelan dari Ratna.

“Tapi buktinya kamu dan Lingga terluka hebat begini! Pokoknya kamu harus ke rumah sakit! Aku mau kamu diobati dengan benar!”

“Kamu udah mengobati lukaku, kan, buat apa diobati lagi?”

“Reza,” panggil Ratna dengan suara mengancam. “Jangan banyak membantah.”

“Iya, iya….” jawab Reza pasrah setelah merasa sedikit ngeri melihat tatapan dari Ratna.

Di sudut hatinya yang paling dalam, Reza bahagia melihat Ratna yang begitu peduli dengan keadaannya sekarang. Dia bisa merasakan cinta dan kehangatannya Ratna yang sangat jarang wanita itu tunjukkan padanya.

“Terima kasih ya,” kata Reza lagi. Ratna tidak menjawab dan hanya mengangguk sambil sedikit merona karena malu, membuat Reza semakin gemas dengan tingkah laku dosen pembimbingnya itu.

***

Mereka bertujuh langsung pergi ke rumah sakit karena melihat Fian yang tidak kunjung sadar. Dokter mengatakan bahwa dia harus dirawat selama beberapa hari karena luka di tubuhnya dan rasa trauma akibat kejadian yang telah menimpanya.

Sementara, Reza dan Lingga harus menerima beberapa jahitan di bagian lukanya. Setelah selesai, mereka berdua pun kembali ke kamarnya Fian yang cukup sesak karena diisi tujuh orang sekaligus.

“Sehat kan, bro?” tanya Mike sambil tersenyum simpul.

Tangannya dilipat di depan dadanya. Mike benar-benar petarung yang kuat, wajar jika banyak mafia takut padanya. Meski pun dia yang paling banyak menjatuhkan lawan di pertarungan mereka tadi, tapi dia lah yang paling terlihat baik-baik saja dan tak mengalami cedera sedikit pun.

“Akhirnya kemampuan nonjok lo digunakan untuk kebaikan juga.,” kali ini Gilang yang meledek Reza. Di kepalanya terdapat lilitan perban yang menutupi jidat lebarnya.

“Berisik aja lu berdua. Jadi, gimana kabar Dragon-nail dan si brengsek Reynaldi?” tanya Reza ke Mike.

Reza tidak memperhatikan mereka lagi setelah melihat polisi datang dan menghentikan pertikaian mereka. Dia langsung jatuh karena darah yang terus mengucur dari perutnya, sampai membuat Ratna panik dan langsung berlari menghampiri Reza.

“Tenang aja, bro. Mereka beserta anggotanya udah ditangkap karena Dragon-nail ini emang buronannya polisi,” jawab Mike santai.

“Komplotan lu gak ditangkap juga, kan?”

“Enggak lah. Sejak kapan gue pernah ketangkap polisi? Gue mah mainnya rapih, coy,” jawab Mike lagi dengan sombong.

“Gua kadang heran lu tuh sebenarnya ngapain sih, Mike, ditakutin banyak orang tapi gak pernah ketangkep.”

Mike langsung tergelak. Setelah tawanya berhenti, dia menepuk-nepuk pundak sahabatnya dengan riang.

“Gue gak melakukan kejahatan kok, Za,” jawabnya sebelum mengerlingkan matanya dengan jahil. Setelah itu, dia pergi dari kamar Fian sambil tersenyum bahagia.

“Bro, kita pulang, ya? Jaga baik-baik ya cewek lo dan calon anak lo,” kata Gilang setengah menggoda. Dia bisa melihat wajah Reza dan Ratna memerah karena perkataannya.

“Iya, iya. Sana gih pulang. Diskotik lu ntar bangkrut!”

“Gak akan lah. Ayo, kita tinggalin nih monyet satu ini. Tante Linda dan Tante Ratna, kita pamit dulu,” kata Gilang lagi dengan ramah.

“Iya, Lang. Hati-hati ya, kalian bertiga. Biar saya antarkan sampai ke depan rumah sakit,” balas Linda.

“Hati-hati, woy. Kalau jatoh jangan update,” ledek Reza sambil mengantar teman-temannya sampai luar kamar.

“Gak janji.” Akhirnya, Mike, Gilang, Rangga, dan Lingga pergi diantar oleh Linda.

Sekarang hanya tinggal Ratna dan Reza yang berada di kamar itu, bersama Fian yang masih tak sadarkan diri.

Tangan Ratna sibuk memegangi tangan anaknya dan berdoa agar anaknya cepat siuman. Reza pun menghampirnya dan memeluknya dengan sayang dari belakang.

“Tenang, dia akan sadar,” katanya lembut, berusaha menenangkan pujaan hatinya.

Benar saja, tak lama kemudian, Fian pun membuka matanya perlahan. Jari-jari tangannya juga berusaha untuk bergerak. Ratna yang melihat itu langsung bahagia dan menggenggamnya makin erat.

“Fian, anakku! Mama rindu kamu.,” ujarnya terbata-bata. Tangisannya pecah.

“M-mamah? K-enapa m-menangis? Ap-apa Om Ley bikin Mama sedih l-lagi?” tanya Fian terbata-bata. Sorot matanya yang polos terlihat sedikit sayu karena kondisinya sekarang.

“Tidak, Sayang. Ini tangisan bahagia karena Ian akhirnya sadar,” jawab Ratna lalu mengusap air matanya.

“Ian suka kalau Mamah bahagia. Mama jangan sedih-sedih lagi, ya? Gak capek apa?”

Ratna yang mendengarnya hanya bisa tertawa pelan sambil mengusap-usap rambut anaknya dengan sayang.

“Mah,” panggil Fian saat melihat Ratna tidak menjawab.

“Iya, Sayang?”

“Mana Papah Eja?”

“Papah Eja?”

***

Sebulan semenjak kejadian yang telah menimpa Fian, Ratna menjadi semakin protektif dengannya. Selain karena tidak ingin Fian lepas dari pengawasannya dan membuat anak satu-satunya itu mengalami kejadian buruk lagi, ada hal lain yang membuatnya melindungi Fian dengan ketat.

Anak umur enam tahun itu mengalami trauma yang cukup berat pasca kejadian itu, dia menjadi semakin tertutup dengan orang asing, bahkan menangis dan sesak napas ketika ada orang yang ia tak kenal berbicara dengannya. Orang yang bisa menenangkannya hanyalah Ratna, Reza, dan Linda. Pertemanannya di sekolah mulai terganggu karena kondisi psikologisnya.

Ratna selalu berusaha membawa anaknya kemana pun dia pergi, dan jika keadaan tidak mengijinkan dia membawa Fian, maka dia akan meminta Reza untuk menemaninya sehingga membuat hubungan Reza dan Fian semakin akrab. Bahkan, Fian mulai memanggilnya Papah dan membuat Ratna pusing.

Pasalnya, dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan anak bimbingnya itu, walaupun Reza sudah berkali-kali menyatakan cintanya. Mereka bukan pasangan suami istri, Fian bukan anaknya Reza. Dia merasa panggilan Fian ke Reza terlalu berat. Reza lebih pantas menjadi kakaknya Fian ketimbang jadi ayah, usianya masih terlalu muda.

Namun, sepertinya hal itu tidak terlintas di pikiran Reza karena dia sangat senang ketika Fian memanggilnya Papah. Bahkan, dia menganggap serius panggilan itu dan mulai menjalani perannya sebagai sesosok ayah yang baik untuk Fian.

Berbicara soal Reynaldi dan Anton, serta anggota Dragon-nail lainnya, mereka sebentar lagi akan mengikuti persidangan untuk kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. Reza, Ratna, Linda, dan Fian akan menjadi saksi di persidangan tersebut, ditemani oleh Gilang, Rangga, dan Lingga.

Sedangkan Mike tidak mau datang, dia merasa bahwa perannya bukan di meja hijau, melainkan di bawah tanah. Dia tidak ingin namanya terlalu terekspos karena kasus perdagangan anak yang dilakukan oleh Dragon-nail, apalagi kasus ini mulai terkenal di media.

Saat menemui Reynaldi di penjara beberapa hari yang lalu, Ratna menatapnya dengan penuh kebencian. Reza masih ingat saat wanita itu menamparnya dengan sangat keras ketika mereka diijinkan untuk berbicara dengan terdakwa.

Sementara Reynaldi, dia hanya bisa menangis dan meminta maaf ke Ratna berkali-kali dan tidak digubris sama sekali olehnya. Bahkan, Ratna langsung pergi meninggalkan Reynaldi tanpa menoleh ke arahnya lagi.

Reza sadar, Ratna semakin dingin. Dia memang selalu begitu, tapi kali ini sepertinya kadar kedinginannya semakin bertambah. Reza merasa usahanya selama ini untuk meleburkan hati Ratna yang seperti es batu itu sia-sia. Hati Ratna kembali membeku, dan kali ini sangat keras.

Bahkan, saat mereka melakukan bimbingan pun, Ratna hanya meresponnya dengan dingin. Dia memperlakukan Reza layaknya dia memperlakukan anak bimbingnya yang lain, dingin dan angkuh. Sepertinya, Reza harus memanggilnya dengan sebutan Bu Ratna lagi.

Berbicara soal orang tuanya Reza, tentu saja mereka sangat murka saat mengetahui bahwa anaknya terlibat dalam kasus Dragon-nail yang akhir-akhir ini dibahas oleh media. Ayahnya merasa dipermalukan oleh perbuatan anaknya.

Entah sudah berapa kali orang-orang di kampus membahas kasus itu dengannya dan bertanya seberapa jauh Reza terlibat dengan kasus itu. Entah sudah berapa kali juga media televisi dan koran mengunjungi kampus hanya untuk bertanya soal kasus yang telah menimpa mahasiswa dan dosennya.

Pihak kepolisian dan dinas pendidikan pun mendatanginya untuk meminta keterangan lebih lanjut mengenai kasus tersebut. Hal itu benar-benar membuatnya geram.

Dia memanggil Ratna ke ruangannya dan menanyakan hubungan wanita itu dengan anak semata wayangnya. Dia bahkan memohon dengan sangat ke Ratna agar wanita itu tidak melibatkan Reza lagi ke masalah hidupnya yang cukup pelik. Dia juga memberi Ratna tawaran untuk berhenti menjadi dosen pembimbing Reza dengan alasan bahwa anak itu sangat sulit diatur dan malas.

Namun, tawaran itu langsung ditolak oleh Ratna karena dia merasa progres skripsi Reza sudah lebih dari setengahnya. Dia sudah mengatakan bahwa ia sanggup ketika tugas untuk membimbing skripsi Reza diberikan kepadanya. Reza adalah tanggung jawabnya sampai anak itu wisuda dan itu takkan berubah meski rektor sekali pun yang meminta.

Sialnya, Reza mengetahui tawaran tersebut sehingga membuat dia benar-benar marah ke ayahnya dan memilih untuk pergi dari rumah, meski resiko yang ia dapatkan adalah menjadi gelandangan yang tak punya uang.

Ting tong!

Ting tong!

Ting tong!

“Sedang apa kamu?” tanya Ratna saat melihat Reza berdiri di depan pintu rumahnya dengan koper besar di sampingnya.

“Bolehkan aku tinggal di rumahmu? Aku kabur dari rumah,” jawab Reza memelas. Ekspresi wajahnya sok disedih-sedihkan agar si pemilik rumah merasa iba dan mau memberikan kamar gratis untuknya.

“Kamu pikir rumah saya ini tempat penampungan?” tanya Ratna lagi, tidak menggubris sedikit pun ekspresi yang diberikan oleh laki-laki di depannya.

“Tolonglah, Ratna,” Reza memohon lagi sambil memegang tangan Ratna dengan lembut dan mengusap-usapnya pelan.

“Kenapa kamu kabur dari rumah?”

Reza langsung melepaskan genggamannya ketika mendengar pertanyaan tersebut. Ekspresinya berubah menjadi kaku. “Aku tahu apa yang kalian bicarakan di belakangku dan aku sangat kecewa dengan Papah,” katanya pelan. Matanya enggan menatap balik tatapan Ratna yang tanpa ekspresi itu.

“Beliau memang benar, Reza.”

“Jadi, kamu menyesal sudah membimbing skripsiku, si pemalas yang seumur hidupnya hanya tahu cara menghambur-hamburkan uang orang tuanya? Kamu menyesal sudah akrab denganku?”

Ratna terdiam sebentar.

“Akan ada gosip yang tidak menyenangkan kalau kita tinggal bersama, Reza. Lebih baik kau tinggal dengan temanmu. Kau ‘kan punya banyak teman,” kata Ratna lalu menutup pintunya tanpa menunggu jawaban dari Reza.

“Ratna! Mengapa kau seperti ini?!” teriak Reza frustasi. Dia menggedor-gedorkan pintu rumah Ratna dengan keras.

“Pergilah, Reza! Saya itu dosenmu, bukan temanmu!” balas Ratna dengan dingin dari dalam.

Reza marah dan kecewa. Dia menendang pintu rumah Ratna dengan penuh emosi dan memanggil supir online untuk membawanya pergi dari rumah itu, pergi ke rumah sahabatnya, Gilang.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat