Bu Ratna Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 11

Reza tidak pernah memberitahu Ratna soal dirinya yang dikurung oleh orang tuanya karena tidak mau membuat wanita itu merasa bersalah. Dia juga tidak mau Ratna tahu kalau dia sampai masuk penjara karena membela wanita itu. Dari dulu Ratna memang selalu begitu, tidak mau menjadi boomerang buat orang-orang di sekitarnya.

Reza khawatir Ratna akan menjauhi dia nantinya, kalau sampai dia tahu apa yang telah terjadi dengan Reza ketika dia menginap di rumah sakit.

Ketika bertemu dengan Ratna, hatinya senang bukan kepalang. Ratna terlihat baik-baik saja, masih tetap galak tentu saja. Fian pun sudah pulih dari luka dan traumanya, anak itu memang benar-benar kuat, sekuat ibunya.

Ketika melihat mereka berdua tertawa bersama, Reza tahu kalau dia akan melakukan apa saja, bahkan mengorbankan nyawanya hanya untuk melindungi ibu dan anak itu. Dia akan terus memastikan kalau senyum di wajah mereka tidak hilang dan digantikan oleh ekspresi takut atau sedih.

Cinta memang sesuatu yang gila karena bisa membuat seseorang yang sebelumnya tidak percaya dengan kekuatannya, kini menjadi seseorang yang begitu menghargai cinta.

Hari ini, dia baru saja menyelesaikan penelitiannya di salah satu perusahaan ternama, tentu saja itu semua karena koneksi dan bantuan dari dosen pembimbingnya. Bibirnya tersenyum ketika melihat Ratna yang sedang berdiri menunggu lift sambil berbicara dengan seseorang di telepon.

“Selamat pagi, Bu Ratna,” sapanya ketika melihat Ratna sudah selesai berbicara di telepon. Sementara, yang dipanggil hanya menjawab seadanya tanpa menoleh ke arah Reza.

“Sore-sore begini masih sibuk ya, sayang?” tanya Reza lagi, kali ini Ratna langsung melihat ke arahnya dengan tatapan garang.

“Sudah saya bilang, kamu jangan seenaknya panggil saya dengan sebutan itu di kampus!” bisik Ratna dengan gemas. Matanya sibuk melihat ke sana-kemari, takut-takut ada yang mendengarkan obrolan mereka berdua.

“Ibu baru mau merespon saya kalau saya panggil Ibu begitu, jadi saya harus gimana lagi dong?” tanya Reza dengan tatapan sok dipolos-poloskan.

“Sudahlah! Bagaimana proses penelitiannya? Lancar? Kamu lakukan tidak yang saya kasih tahu waktu bimbingan kemarin?”

“Sudah selesai dong, Bu, tenang aja.”

“Bagus. Selanjutnya, analisis hasil penelitianmu ya. Temui saya kalau kamu menemui kendala.”

“Kalau saya mau temui Ibu di luar bimbingan, apakah boleh?”

Ratna melangkah masuk ke dalam lift tanpa menjawab pertanyaan dari Reza. Sebelum lift ditutup, matanya tak sengaja bertemu dengan pemuda itu, namun dia segera melihat ke arah lain dengan pipi yang sedikit merona.

Reza hanya bisa tersenyum lebar melihat kelakuan wanita yang usianya jauh lebih tua darinya itu. Ratna sedang salting dan itu hanya karena mereka saling bertatapan. Imut sekali memang dia.

***

Menurut informasi dari polisi, Reynaldi sudah bebas. Entah bagaimana dia bisa bebas, padahal harusnya dia masih di penjara. Ketika dia bertanya ke polisi yang sudah mengabarkan berita itu, polisi tersebut hanya mengabaikannya dan bahkan memutuskan panggilan darinya.

Dia merasa ada yang tidak beres dengan Reynaldi. Bukan hanya karena dia mantan suaminya Ratna yang telah menyakiti hati wanita yang dicintainya, tapi dia merasa kalau pria itu sudah tidak waras lagi otaknya. Mungkin sudah mendekati gila. Ada niat jahat yang tersembunyi di dirinya. Ada orang-orang jahat di belakang Reynaldi.

Karena itulah, dia pun meminta tolong salah satu kawan dekatnya, Gilang. Pria itu memang terlihat santai dan tidak memiliki tampang preman, tapi pasukannya ada dimana-mana.

Dia meminta tolong kepada temannya itu untuk meminjamkan dua orang yang paling kuat untuk menjaga Ratna dan Fian, serta Linda juga, dari jarak jauh karena dia tidak mau membuat Ratna merasa tidak nyaman. Reza tidak bisa terus-terusan berada di sekitar Ratna dan Fian. Setidaknya, dengan cara itu, dia masih bisa mengawasi Ratna meski dari jauh.

Selain mengandalkan Gilang, dia juga masih mempunyai opsi lain, yaitu salah satu temannya, Mike. Kalau kalian merupakan seorang kriminal, atau mafia, atau bahkan pembunuh bayaran, kalian pasti akan tahu nama itu. Mike adalah pemimpin seluruh mafia yang ada di Pulau Jawa dan mafia yang paling ditakuti di beberapa negara.

Kalian tidak perlu tahu apa yang membuatnya demikian, yang pasti Mike ini bukan orang sembarangan. Lalu, mengapa Reza bisa mengenal Mike? Karena Mike akrab dengan Gilang dan sering datang ke kelabnya. Mike dan Gilang merupakan mitra bisnis. Dia men-supply bir-bir mahal dan bagus ke kelab malamnya Gilang.

Karena itulah, mau tidak mau, Mike dan Reza sering bertemu dan berakhir menjalin tali pertemanan yang baik.

Tentu saja Reza tidak bisa disebut anak baik-baik karena pergaulannya cukup keras, dikelilingi oleh para mafia dan orang-orang yang bisa disebut kriminal. Namun, bukan berarti Reza mengikuti jejak teman-temannya. Dia berteman dengan mereka murni karena mereka bisa membuatnya nyaman dan bahagia, bukan karena mereka kuat dan berpengaruh. Lagi pula, teman-temannya tidak pernah mencoba menjerumuskannya ke hal-hal jahat.

“Lang, gimana laporan dari anak buah lu itu? Gak ada yang aneh-aneh kan di sekitar Ratna dan Fian?” tanyanya ketika mereka berlima sedang berkumpul di kafe milik Lingga.

“Iya, tenang aja. Si Arnold bilang kalau sejauh ini gak ada yang mengganggu mereka berdua,” jawab Gilang sambil mengisap sebatang rokok di tangannya, lalu menghembuskannya perlahan.

Selain di tempat usahanya Gilang, mereka berlima memang sering bertemu dan bertukar cerita di kafe milik Lingga karena tempatnya yang comfy dan jauh dari kata bising. Selain itu, kafe tersebut dikelilingi oleh pohon-pohon rindang, sehingga membuat suasana di kafe tersebut semakin nyaman.

“Ratna?” Lingga menatap mereka berdua dengan bingung, tidak mengerti siapa yang sedang mereka bahas. Mereka sudah lama tidak bertemu karena disibukkan oleh kehidupan mereka masing-masing.

“Siapa Ratna, Za? Lang?” Mike penasaran juga, meski matanya masih fokus dengan handphone-nya.

“Tuh, calon istri teman lo, si Reza,” jawab Gilang santai, lalu cekikan sendiri ketika melihat ekspresi garang dari Reza saat mata mereka tidak sengaja bertemu.

“Bangsat emang si Gilang kampret,” umpat Reza dengan kesal.

“Hah, calon istri?” tanya Lingga semakin bingung.

“Wah, lu gak pernah cerita ke gua, Lingga, dan Mike, bangke!” Kali ini, Rangga ikutan nimbrung setelah sedari tadi sibuk mabar dengan teman-teman online-nya.

“Iya, Ratna ini gebetan gua sekaligus dosen pembimbing gua sekaligus calon istri gua. Puas lu pada?” jawab Reza ketus, lalu melempar kertas berisi struk harga ke Gilang yang sedari tadi masih saja cengengesan.

“Bentar-bentar, lu Reza kan?” Pertanyaan tersebut terucap begitu saja dari mulut Mike, Lingga, dan Rangga secara bersamaan.

“Hahahahahaha…” Gilang yang mendengar pertanyaan itu tak bisa menahan rasa gelinya lebih lama lagi dan langsung tertawa terbahak-bahak. Itulah pertanyaan yang dia tanyakan saat mendengar cerita Reza untuk pertama kalinya.

“Bukan, gua Donald Trump. Ya iyalah, bego. Gua Reza,” jawab Reza kesal.

“Baru kali ini gua mendengar lu seserius ini sama cewek, nyet. Sampai dijadiin calon istri, gila gak tuh?” kata Lingga. Dia tahu betul sifatnya Reza. Pria itu tidak pernah serius dengan wanita, dia tidak pernah jatuh cinta, mau secantik apa pun wanita itu.

“Gua jadi penasaran siapa cewek yang bikin Si Brengsek Reza bertekuk lutut. Siapa, Za?” tambah Mike.

“Dosen pembimbingnya, Mike. Tante gua juga. Dia janda,” jawab Gilang menggantikan Reza.

“Apa?! Jadi, lo jatuh cinta sama cewek yang lebih tua? Sama janda? Sama tante-tante berumur 50 tahun dan tantenya Gilang?!” tanya Rangga bertubi-tubi.

“Gak sampai 50 tahun juga, bego. Dosen muda kok, masih berumur 36 tahun,” jawab Reza santai.

“Anjir ya, nyet. Udah mau 40 tahun itu cewek, bego! Beda 12 tahun! Pasti udah gak rapet lagi. Bentar lagi juga menopause,” celetuk Lingga dengan kurang ajar.

“Sok tahu bangat lu ya. Kayak udah pernah nyobain aja.”

“Dia udah punya anak atau janda tanpa anak?”

“Udah, namanya Fian. Masih berumur 6 tahun.”

“Anjir, udah punya anak lagi. Lu pikir lu bisa beri dia apa, nyet? Lulus aja belum lu. Kayak bisa aja lu jadi seorang bapak. Kelakuan aja masih kayak bocah!” sindir Mike asal. Di antara mereka berlima, Mike dan Reza merupakan dua orang yang sangat ceplas-ceplos, bahkan cenderung savage. Terutama Mike.

“Makanya ini juga gua berjuang nyusun skripsi supaya bisa lulus, wisuda, kerja, dapat uang, nikahin Ratna.”

“Lo beneran seserius itu sama tante gue?” tanya Gilang sambil menatap Reza tidak percaya.

“Iya, Lang. Iya,” jawab Reza dengan mantap.

“Terus, kenapa tadi lu nanya kalau si Gilang udah jaga baik-baik gebetan lu, si R- siapa? Retno? Ratno? Ratni? Siapa anjir gua lupa.”

Salah satu kelemahan Mike adalah, dia sangat pelupa. Sehebat apa pun dia, kalau sifat pelupanya sudah muncul, hilang sudah kerennya. Seperti sekarang.

“Ratna, Mike bego!” teriak mereka berempat dengan kompak.

“Iya lah, itu pokoknya!” jawab Mike dengan malas.

“Gua khawatir, Mike. Mantan suaminya datang lagi.”

“Emang kenapa sama mantan suaminya? Dan kenapa lu harus khawatir?”

Akhirnya, hari ini Reza menceritakan semuanya ke empat temannya sekaligus meminta bantuan jika suatu saat nanti dia terlibat bahaya karena menyelamatkan Ratna.

***

“Fian! Mama pulang!” teriak Ratna sambil berjalan masuk ke dalam rumah, tapi yang dipanggil tidak juga kunjung menjawab.

Aneh, biasanya Fian langsung menyambutnya. Apa dia tidur? Linda juga kemana lagi?

“Fian?” teriaknya lagi, kali ini lebih keras.

“Fian! Linda!” teriaknya entah yang keberapa kalinya.

Khawatir, dia pun segera menuju ke kamarnya Fian. Namun, yang dia lihat hanyalah Linda yang sedang tergeletak di lantai. Tak bergerak, tapi masih bernafas.

“Linda?!” teriaknya panik. Dia langsung menghampiri adiknya itu -yang sepertinya pingsan- lalu membawanya ke atas kasur Fian dan mencoba membangunkannya. Setelah beberapa kali usaha, akhirnya adiknya itu sadar.

“Teh Ratna?” tanya Linda saat melihat Ratna dengan wajah paniknya di depan matanya.

“Linda, kamu tidak apa-apa? Mana Fian?”

“Fian…?” tanyanya lagi seperti orang ling-lung.

“Fian! Teh, Fian, teh!” Linda akhirnya tersadar sepenuhnya. Raut wajahnya sangat ketakutan dan panik. Dia bahkan langsung menangis dengan kencang.

“K-kenapa Fian?!” tanya Ratna mulai panik. Tangannya gemetar dan dadanya mulai terasa sesak.

“D-dia… Dia diculik teh! S-sama lima pria bertubuh besar! Linda dihajar saat b-berusaha melindungi F-fian, makanya p-pingsan!”

“A-apa…? Fian…?” kata Ratna terbata-bata.

Ratna langsung terjatuh setelah mendengar berita yang begitu mengejutkan untuknya. Seluruh tubuhnya terasa lemas, pandangannya mulai kabur, jantungnya makin berdegup dengan kencang. Selanjutnya, dia tidak bisa mengingat apa-apa lagi.

“Teh Ratna!”

***

Triing!
Triing!
Triing!

“Za, ada telepon masuk tuh!” kata Gilang saat melihat Reza yang baru saja dari toilet. Dia masih menghisap rokoknya, sementara Rangga dan Mike masih sibuk dengan game di handphone-nya, dan Lingga sibuk di dapur, memarahi karyawannya yang dinilai tidak becus dalam bekerja.

“Oh ya? Bentar,” Reza pun segera meletakkan pesanan kopinya di atas meja, lalu mengambil handphone yang sedari tadi ia tinggalkan di saku jaketnya.

Ratna? Kenapa dia telepon? Tumben, pikirnya dalam hati.

“Kenapa gak diangkat, Za? Berisik, bego,” kata Rangga dengan kesal karena mengganggu konsentrasinya bermain game.

“Oh ya, ini mau diangkat,” jawab Reza lalu mengangkat teleponnya dengan ragu.

“Ada apa, Ratna?”

“Oh… Linda. Salam kenal, ya. Kenapa telepon?”

“Apa?! Ratna pingsan?! Kok bisa?!”

Gilang, Mike, dan Rangga menghentikan aktivitas mereka dan mendengarkan obrolan kawannya dengan seksama. Sementara, Lingga yang baru saja datang sedikit bingung melihat atmosfer yang sedikit berubah di antara kawan-kawannya itu, cuma dia memilih untuk diam dan menunggu. Apalagi setelah melihat Reza yang sedang berbicara di telepon dengan serius.

“Siapa?”

“Fian hilang?! Kok bisa?!”

“Diculik sama siapa?!”

“Oke, saya akan segera kesana. Tenang dulu ya, Linda. Jangan panik.”

Tiit… telepon ditutup.

“Ada ap-”

Buk!

Setelah selesai menerima panggilan, Reza langsung memukul Gilang dengan penuh emosi.

“Za! Lo kenapa?!” tanya Gilang sambil meringis karena baru saja dihajar secara tiba-tiba dengan cukup keras oleh kawan masa kecilnya itu. Dia mengusap-usap pipinya perlahan, berusaha mengerti kondisi temannya yang tanpa aling-aling memukulnya. Apa dia baru saja melakukan kesalahan?

“Za! Tenang!” kata Rangga berusaha menenangkan. Sementara, Lingga sibuk meminta maaf ke pelanggannya yang sepertinya sedikit terganggu dengan perbuatan Reza.

“Lu bilang lu bakal menjaga Ratna dan Fian!” bentak Reza emosi. Matanya mengkilap karena marah. “Terus kenapa Fian hilang?! Anak buah lu becus gak menjaganya?!”

“Apa?!” balas Gilang sedikit terkejut. Sementara, kawan-kawannya yang lain masih berusaha menenangkan Reza yang sedang kalap.

“Sekarang tante lu pingsan karena kabar itu! Ratna pingsan! Lu niat gak menjaga mereka berdua?!” teriak Reza sekali lagi. Dia langsung menepis dengan kasar tangannya Rangga yang sedari tadi memegangnya.

“Gua tinggal dulu. Ada sesuatu yang urgent!” katanya lalu pergi meninggalkan mereka berempat tanpa menoleh ke belakang lagi.

***

“Reza, tunggu,” Mike memanggilnya tiba-tiba dan membuat Reza menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.

“Tenangin diri dulu. Lo lagi panik, gua gak akan biarin lo mengemudi,” lanjut Mike setelah menghampirinya.

“Gua gak ada waktu buat itu, Mike. Ratna butuh gua,” balas Reza dengan dingin.

Raut wajahnya terlihat kacau dan gelisah. Dia bahkan tidak mampu menatap balik tatapannya Mike ketika temannya itu berdiri di depannya.

“I know, tapi lo harus nenangin diri dulu atau lo berakhir mengalami kecelakaan dan gak bisa menyelamatkan mereka berdua.”

Reza kembali duduk di bangku dengan lunglai. Tangannya yang menutupi wajah tampannya bertumpu ke lutut.

“Fian udah gua anggap adik gua sendiri. Enggak, bahkan gua udah anggap dia anak gua sendiri meski Ratna bilang gua lebih cocok jadi kakaknya ketimbang jadi ayahnya.”

“Kita bakal bantuin lo kok, Za,” sahut Rangga yang sedari tadi hanya diam mengamati Reza.

“Lo pasti bisa menyelamatkan Fian.”

“Kalian gak perlu melakukan hal itu,” keluh Reza dengan suara pelan.

“Gua gak mau membawa kalian ke dalam bahaya. Reynaldi ini orang berbahaya, gua bisa merasakannya sejak pertama kali bertemu. Ratna terlalu naif untuk menyadari hal itu.”

Gilang menghampirinya dan mengambil kursi untuk duduk di sampingnya.

“Za, gue merasa bersalah karena udah mengecewakan lo, padahal gue udah berjanji kalau gue akan melindungi mereka. Gue bakal bantuin lo, Za, gimana pun Ratna itu tante gue dan Fian itu keponakan gue,” katanya lalu menepuk pundak Reza dengan pelan.

“Reynaldi itu om lu, Lang. Dia keluarga lu. Kalau lu terlibat, bukankah nanti akan terjadi perang saudara?”

Gilang mendecak acuh.

“Peduli apa soal keluarga? Toh, gue udah lama gak ketemu dia. Meski pun dia adik kesayangan bokap gue, tapi apa yang dia lakukan itu salah. Gue emang bajingan, tapi gue tahu mana yang salah dan mana yang tidak. Lagi pula, gue lebih sayang sama lo kok. No homo ya.”

Reza hanya bisa menatap Gilang dengan berbagai ekspresi. Namun, ekspresi yang paling terlihat di wajahnya adalah ekspresi terharu.

“Makasih, Lang.”

“No probs,” jawab Gilang santai.

“Iya, Za kita semua bakal bantuin lu kok. Lu gak sendiri, ada temen-temen lu yang peduli sama lu,” tambah Lingga sambil tersenyum simpul.

Reza menatap teman-temannya satu-satu sebelum berdiri dan memeluk mereka dengan erat secara bergiliran sambil mengucapkan kata terima kasih yang mungkin paling tulus dari yang pernah diucapkannya.

“Sekarang, ayo kita berangkat ke rumah Ratna kesayangan lo, mungkin kita bakal nemu petunjuk di sana,” kata Lingga lagi. Dia memang suka bermain detektif-detektifan seperti itu, kemampuan otaknya juga di atas teman-temannya.

Setelah mendapat anggukan dari teman-temannya yang lain, Reza memimpin perjalanan dengan perasaan lega sekaligus terharu di hatinya. Dia tidak akan pernah melupakan kebaikan mereka, tak peduli bagaimana orang lain melihat teman-temannya dengan pandangan sebelah mata hanya karena mereka bukan anak baik-baik yang selalu pulang ke rumah sebelum jam 10 malam. Teman-temannya ini peduli dengan cara mereka sendiri, dan dia senang bisa mengetahui sisi itu dari teman-temannya.

***

“Ratna! Linda!” panggil Reza saat mereka berlima sudah masuk ke dalam rumahnya Ratna yang sederhana tapi bersih itu. Tak ada jawaban.

“Linda?! Dimana?” teriaknya lagi sambil berusaha menenangkan hati bahwa Ratna dan Linda baik-baik saja, mereka ada di rumah.

“Di sini, Reza!” Sebuah suara dari arah kamar Fian menjawab teriakannya Reza.

Tanpa sadar, napas yang sedari tadi ditahannya kini ia bisa keluarkan dengan lega Dia pun langsung bergegas menuju kamarnya Fian yang terletak di sebelah kamar mandi.

Saat masuk ke dalam kamarnya Fian, dia melihat dua orang wanita di atas kasur.

“Reza! Maaf, kamu saya telepon. Kamu ada di speed dial-nya Teh Ratna jadi tanpa berpikir lebih panjang lagi langsung saya hubungi,” kata Linda setelah berdiri saat melihat Reza dan empat pria asing masuk ke kamarnya Fian.

Dia sangat mirip dengan Ratna, meskipun lebih manis dengan gingsul di gusinya. Umurnya mungkin sekitar 32 sampai 33-an.

Reza ingin bersorak kegirangan ketika mendengar bahwa nomornya berada di speed dial-nya Ratna. Hatinya menghangat, tapi dia langsung sadar bahwa itu bukan waktu yang tepat untuk merasakan hal seperti itu. Apalagi melihat wanita yang dicintainya itu tergeletak tak sadar di kasur begitu.

“Siapa mereka, Za?” tanya Linda lagi, kali ini tatapan matanya berubah menjadi penuh selidik. Dia tampak tak senang melihat keberadaan kawan-kawannya Reza di rumah kakaknya.

Reza menoleh sebentar ke arah teman-temannya, lalu mentap Linda kembali.

“Mereka teman-teman saya, Gilang, Mike, Rangga, dan Lingga. Mereka di sini akan membantu kita mencari keberadaan Fian,” jawabnya berusaha meyakinkan karena dia bisa merasakan bahwa Linda tidak menyukai teman-temannya.

Gilang mengambil dua langkah ke depan dan tersenyum kecil.

“Tante Linda, mungkin Tante tidak mengenal saya karena sebelumnya kita tidak pernah bertemu, tapi saya keponakan Tante. Bapak saya, Naufal, merupakan kakaknya Om Reynaldi, mantan suami Tante Ratna,” sapanya dengan ramah.

“Tante Ratna adalah orang yang sangat perhatian. Dia menemani saya saat saya masih remaja dan tak punya teman. Dia sudah seperti ibu kedua saya,” tambahnya lagi.

“Jadi, kamu keponakan si keparat Reynaldi itu?” tanya Linda lagi, kali ini wajahnya seperti menahan amarah.

“Kamu mata-mata dia, ya?”

Suasana di ruangan itu semakin kaku setelah Linda bertanya seperti itu. Reza berusaha mencairkan suasana dan menjelaskan semuanya, namun Gilang dengan cepat mengambil alih bicara.

“Om Reynaldi memang om saya, dia adik kesayangan Bapak. Tapi bukan berarti saya dekat dengan dia. Bahkan, saya jauh lebih dekat dengan Tante Ratna ketimbang dengan Om Reynaldi,” jawabnya dengan tenang karena dia tahu kalau Linda hanya berusaha melindungi kakaknya dari seorang anggota keluarga yang sudah merusak hidupnya.

“Saya benar-benar menyayangi Tante Ratna. Saya sangat murka dengan Om Rey ketika mengetahui apa yang sudah ia lakukan kepadanya. Jadi, biarkan saya membantu Reza dan Tante karena Fian diculik itu juga merupakan kesalahan saya. Orang yang saya minta untuk melindungi mereka tidak mengerjakan tugasnya dengan benar. Saya benar-benar merasa bersalah. Saya minta maaf.”

Tameng yang sedari tadi dipasang oleh Linda mulai melunak setelah mendengar kata-kata Fian, meski pun masih ada sedikit keraguan di wajahnya, dan Reza sadar akan hal itu.

“Teh Linda gak usah khawatir. Saya mencintai Ratna dan saya menyayangi Fian, saya tidak akan pernah sekali pun menyakitinya. Saya juga percaya dengan teman-teman saya. Mereka adalah teman terbaik yang pernah saya miliki.”

“Baiklah,” jawab Linda pelan.

“Maafkan saya ya, Gilang, saya tidak mengenalmu. Saat pernikahan Teh Ratna dan Reynaldi berlangsung, saya harus pergi ke Australia selama satu tahun. Ketika saya balik ke Indonesia, Teh Ratna sudah hamil besar. Dan tak lama kemudian, Teh Ratna datang ke saya dengan koper di sampingnya, mengatakan bahwa dia ingin bercerai dengan suaminya. Teh Ratna tidak pernah menceritakan soal hubungan kamu dan dia.”

“Tidak apa-apa,” balas Gilang lalu senyum di bibirnya semakin mengembang. Dia merasa lega setelah merasa tegang selama beberapa saat.

“Jadi, ada apa, Teh Linda? Apa yang terjadi?” tanya Reza kembali gelisah.

Ketika Gilang dan Linda berdebat, hal yang dia pikirkan hanyalah keselamatan Fian dan keadaan Ratna. Matanya tak henti-hentinya melihat Ratna yang masih terbaring lemah di kasur. Dia masih belum siuman.

Ketika mendengar pertanyaan Reza, Linda fokus kembali dengan masalah utama yang sedang mereka hadapi sekarang. Bayangan bagaimana kejadian saat Fian diculik itu berlangsung muncul kembali di otaknya. Tanpa sadar, air matanya turun lagi.

“F-fian diculik… oleh lima p-pria bertubuh besar tadi siang. S-saat saya berusaha buat m-melindunginya, saya dihajar di b-bagian perut oleh s-salah satu dari mereka. Lalu saya p-pingsan. Bangun-bangun Teh Ratna sudah a-ada di depan saya dan Fian sudah t-tidak ada,” jelas Linda panjang lebar sambil terisak-isak.

Hatinya benar-benar terluka. Fian yang gagal ia lindungi mungkin sedang ketakutan sekarang.

“Bagaimana ciri-ciri mereka?” tanya Lingga kali ini. Dia mengambil catatan kecil yang selalu ia bawa kemana-mana dari saku jaketnya, bersiap-siap untuk mencatat semua yang Linda katakan.

“S-saya kurang ingat juga karena mereka menggunakan pakaian serba hitam…”

“Coba ingat-ingat lagi!” perintah Reza dengan tegas.

Linda kembali berusaha mengingat-ingat lagi apa yang terjadi tadi siang, termasuk ciri-ciri mereka.

“Ah! Mereka punya tato di leher mereka! Saya tidak sengaja melihatnya saat mereka menyerang saya!” teriak Linda ketika akhirnya dia mengingat sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.

“Tato? Tato apa?” tanya Lingga masih berkutat dengan catatan di hadapannya.

“Entahlah, kalau tidak salah sebuah paku dengan naga yang melilitinya.”

“Dragon-nail,” tiba-tiba, Mike berbicara setelah sedari tadi hanya duduk sambil merokok di pojok ruangan.

“Dragon-nail?” tanya Reza. Dia seperti tidak asing dengan nama itu. Dia seperti mendengar nama itu entah darimana.

“Dragon-nail, salah satu organisasi yang cukup diperhitungkan di Indonesia. Pekerjaan mereka banyak, entah membuat uang palsu, menjual narkoba, membuat racun, membuat bom. Namun, baru-baru ini komplotan itu membuka usaha baru, yaitu perdagangan anak,” jelas Mike panjang lebar setelah menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya keluar.

“Apa? Jadi maksud lu, Fian mau dijual oleh mereka?” teriak Reza tak percaya. Dia tidak pernah tahu kalau masalah Reynaldi akan sampai seperti ini. Bapak macam apa yang tega menjual anaknya demi kekayaan?

“Iya, kemungkinan besar begitu. Dan mungkin Om Rey terlibat hutang dengan Dragon-nail, makanya sampai melakukan hal seperti ini. Organisasi itu terdengar cukup kejam, mereka tidak mentolerir apapun.” Kali ini, Gilang membantu menjawab pertanyaannya Reza.

Dia memang mengenal nama organisasi itu. Kerjaannya sebagai pemilik bar membuat dia harus menerima customer dari kalangan mana pun, termasuk mafia-mafia kelas kakap. Apalagi, bar yang Gilang miliki ini sangat terkenal dimana-mana.

Beberapa kali, pihak Dragon-nail menawarkan kerjasama dengannya, tapi tentu saja ia tolak dengan tegas karena dia tidak tertarik berurusan dengan orang-orang seperti mereka.

“Bagaimana ini? Bagaimana bisa kita menghadapi orang-orang seperti itu?” tanya Linda semakin panik. Tangisannya semakin kencang sampai Rangga yang sedari tadi tidak mengatakan apa-apa mau tak mau berusaha menenangkannya.

Linda merasa bersalah karena tidak menjaga rumah ini dengan benar sampai membuat Fian diambil oleh orang-orang jahat yang berniat untuk mencelakakannya.

“Jangan berwajah begitu. Beruntunglah Anda bertemu saya,” kata Mike dengan senyuman yang begitu misterius di bibirnya.

Di tangannya masih terdapat batang rokok yang semakin pendek.

Reza menatap Mike seolah bertanya-tanya, memang apa yang bisa dilakukan oleh kawannya itu? Dia tahu kalau Mike ini adalah orang yang sangat berpengaruh di dunia bawah tanah alias kejahatan, tapi apa bisa dia melawan sebuah organisasi yang kelihatannya sangat kejam dan penuh rahasia?

“Hah… Sebenarnya saya ini tidak pernah mau menyentuh mereka karena tidak penting dan tidak menguntungkan, tapi kali ini sepertinya saya harus menyentil mereka,” kata Mike lagi kali ini dengan tampang acuh tak acuh.

Ketika Reza ingin bertanya lebih lanjut ke Mike, tiba-tiba Ratna tersadar dan berteriak.

“Fian?! Di mana Fian?! Linda, ayo cari Fian! Cepat! Ay- Loh… kenapa Reza ada di sini… Dan kenapa tiba-tiba ada banyak orang begini?”

“Ratna, kamu tidak apa-apa?” tanya Reza khawatir.

Sorot matanya yang sebelumnya menegang kini melembut setelah melihat wanita yang dicintainya itu dalam keadaan kacau. Dia menghampiri Ratna lalu memeluknya dengan erat, seolah-olah berusaha mengatakan bahwa dia tidak akan pernah meninggalkannya.

Tubuh Ratna langsung melemah setelah merasakan pelukan yang hangat dari Reza. Meski dia tidak mau mengakuinya, tapi inilah yang ia butuhkan sekarang.

“Reza, jangan pedulikan aku. Aku baik-baik saja. Yang harus kita pedulikan sekarang Fian, anak sematawayang-” jawaban Ratna terputus karena menangis dengan hebat di pelukan Reza.

“Kita akan cari bersama, Ratna. Aku akan membantumu,” kata Reza lagi dengan suara pelan sambil mengusap-usap rambut Ratna dengan lembut, berusaha menenangkannya.

“Benar, Mbak Ratna. Kami akan membantumu. Teman saya, Mike, bilang kalau dia bisa mengatasinya,”

Lingga yang sedari tadi sibuk mencatat ikut bersuara untuk menenangkan Ratna karena tidak tega melihat kondisinya. Dia selalu penasaran dengan wanita yang berhasil membuat Reza Si Buaya Darat bertekuk lutut. Reza selalu menceritakan bagaimana Ratna itu merupakan sosok yang tegas dan kuat. Sayangnya, pertemuan pertama mereka harus seperti ini.

“Iya, hm… Mbak Ratna? Saya bingung harus panggil apa,” Mike menimpali.

“Tante, jangan khawatir ya? Kita pasti akan menemukannya. Percaya sama Gilang ya? Tante masih ingat sama Gilang, kan?”

Sudah sangat lama Ratna tidak bertemu keponakannya, anaknya kakak Reynaldi, Gilang. Anak itu sudah besar dan terlihat dewasa, sangat berbeda dengan seorang remaja culun dan penakut yang selalu menemaninya beberapa tahun yang lalu.

“Gilang… Kamu benar Gilang? Anaknya Aa Naufal?” tanya Ratna setelah menyadari kehadiran Gilang di depan matanya.

“Iya, Tante. Maafin Gilang ya atas apa yang terjadi karena Om Reynaldi. Gilang bener-bener gak tahu apa-apa, Gilang gak pernah lagi berjumpa dengan Om Rey semenjak dia pergi ke Kalimantan enam tahun yang lalu,” jawab Gilang sambil tersenyum bersalah.

“Tenang aja, Gilang. Kamu gak salah kok, Tante tahu kamu anak baik. Long time no see, Lang. Aunty missed you,” kata Ratna lalu tersenyum balik ke arah Gilang.

“I missed you too, Aunty. Maaf gak pernah datang ke rumah. Gilang gak tahu harus menghubungi siapa buat bisa berjumpa dengan Tante. Dari Reza lah, Gilang akhirnya mengetahui keberadaan Tante.”

Ratna hanya bisa tersenyum lalu mengalihkan matanya ke Reza yang sedang duduk di sampingnya sambil merangkul bahunya dan berbicara dengan Mike. Ratna tidak pernah senang jika ada orang yang merangkulnya, tapi kali ini entah mengapa, dia merasa nyaman.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat