Bu Ratna Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 10

Ting tong!

Ting tong!

“Oh, pasti itu Fian!” seru Ratna dengan semangat lalu beranjak dari kasurnya dan berlari kecil ke arah pintu depan.

“Mamah, Ian pulang!” teriak Fian dengan semangat ketika melihat kalau ibunya yang membukakan pintu. Anak itu langsung memeluknya dengan sayang.

“Gimana jalan-jalannya? Senang gak?” tanya Ratna sambil sedikit merendahkan tubuhnya agar bisa ngobrol lebih nyaman dengan Fian.

“Ian senang tapi Mamah gak ada di sana jadi belkulang senangnya,” jawab Fian lalu sedikit cemberut.

“Kan ada Papah Rey,” balas wanita itu berusaha menghibur anak semata wayangnya.

“Tapi Ian kangen ama Mamah.”

“Mamah juga kangen Ian.”

Reynaldi hanya bisa tersenyum melihat pemandangan di depannya itu.

“Ratna, bolehkah saya mampir dulu sebentar di rumahmu? Saya perlu ke toilet,” tanya pria itu dengan sopan.

Ratna langsung melepaskan pelukan Fian dan menegakkan badannya kembali.

“Oh, silahkan, Reynaldi. Saya tidak masalah,” jawabnya dengan nada ramah lalu menuntun tangan Fian dan membimbing Reynaldi ke dalam rumahnya.

Tak lama kemudian, Reza keluar dari kamar Ratna, tepat saat Reynaldi habis dari kamar mandi. Kebetulan, kamar mandi dan kamarnya Ratna bersebelahan.

“Fian sudah pulang?” tanyanya masih setengah mengantuk. Reza masih belum sadar kalau Reynaldi ada di rumah Ratna.

“Kak Eja!” seru Fian dengan semangat. Anak itu langsung berlari menghampiri Reza dan merengek minta digendong.

“Jagoan Kak Eja! Kemana aja?” sapa Reza sambil mengangkat Fian ke bahunya.

“Ian abis jalan-jalan ke Farm House baleng Om Ley! Ian kangen Kak Eja! Ayo kita ke sana kapan-kapan sama Mamah!”

“Kan baru kemarin kita video call-an, masa udah kangen aja.”

“Ian mau ketemu setiap hali dengan Kak Eja!”

“Permintaan dikabulkan!”

Reynaldi yang melihat itu langsung mendidih. Dia tidak bisa terima kalau anaknya jauh lebih dekat dengan Reza ketimbang dirinya. Terlebih lagi, Fian memanggilnya dengan sebutan Om, bukan Papah. Padahal dia adalah ayah kandungnya.

“Maaf, Reza. Anak saya jangan diperlakukan seperti itu,” katanya dengan nada dingin. Reza yang sedari tadi sibuk berbicara dengan Fian, langsung berhenti dan membalas tatapan Reynaldi.

“Oh, ada Pak Reynaldi rupanya,” balas Reza tak kalah dinginnya.

“Saya lihat kamu tadi habis keluar dari kamar Ratna. Kamu benar-benar lancang sekali ya berani masuk seenaknya tanpa seijin Ratna?”

“Mohon maaf, Pak Reynaldi, tapi saya pikir sebelum Bapak menuduh saya begitu, Bapak perlu selidiki dahulu kronologisnya bagaimana. Saya masuk ke kamar Ratna dengan seijinnya dia. Kami tidur siang bersama sembari menunggu kalian.”

“Kak Eja dan Mamah tidul baleng? Jadi, Kak Eja bental lagi jadi papah barunya Ian? Yeay!” teriak Fian dengan gembira dan memecahkan ketegangan di rumah itu. Reza hanya tertawa melihat kelakuan Fian, sementara Ratna yang sedari tadi bungkam langsung melotot karena malu dan takut.

Namun, tidak dengan Reynaldi. Dia merasa marah ketika mendengar kalau Reza dan Ratna tidur siang bersama di kasur yang sama dan ketika mendengar kalau Fian, anaknya, bahagia ketika mengatakan kalau sebentar lagi Reza akan menjadi ayah barunya Fian, di saat ayah kandungnya ada di hadapannya, masih hidup dan sehat.

“Fian, papahmu itu Om Rey!” omel Ratna saat menyadari kalau Reynaldi sudah mulai terbakar emosi.

“Ian gak bisa punya papah dua, Mah?” tanya Fian dengan sedih.

“Tidak bisa, sayang. Lagipula, Kak Reza lebih cocok jadi kakakmu ketimbang papahmu. Dia masih terlalu muda.”

“Tapi Ian juga mau Kak Eja jadi Papah-”

“Diam kau, anak sial!” teriak Reynaldi dengan marah sampai membuat Fian kaget dan menangis. Hal itu membuat Reza sontak melihat Reynaldi dengan tajam.

“Apa-apaan kau, Rey?!” balas Ratna setengah berteriak karena tak terima anaknya disebut anak sial.

Reynaldi tidak menggubrisnya dan lebih memilih mendekati anaknya. Reza yang melihatnya langsung menjaga anak itu di belakangnya.

“Minggir kau, brengsek. Kau tidak ada urusannya dengan keluarga gua! Pergi sana dari rumah mantan istri gua!” bentak Reynaldi sambil berusaha sekuat tenaga menyingkirkan Reza dari hadapannya.

“Mohon maaf, Pak Reynaldi, tapi sebaiknya Bapak yang pergi,” jawab Reza berusaha tenang meski di hatinya sudah bergejolak ingin memberikan satu pukulan karena sudah membuat Fian menangis. Anak itu melihat. Dia tidak mau menjadi contoh yang buruk untuk Fian.

“Fian, selama ini Mamah kamu ngajarin apa? Kenapa dia gak becus begini ngajarin kamunya? Bagaimana bisa anakku memperlakukan ayahnya sendiri seperti ini? Tanpa Papah, kamu gak akan ada! Dasar anak keparat!” Reynaldi sudah dikuasai oleh amarah, dan itulah yang menahan Ratna untuk menerima dia masuk ke kehidupannya lagi. Sifat pemarahnya benar-benar menakutkan.

“Reynaldi, jaga kata-katamu ke anakmu sendiri!” balas Ratna tak mau kalah.

“Fian, masuk dulu sana. Reza, tolong bawa masuk Fian ke kamarnya dan temani dia. Biar aku yang bicara dengan Rey,” pinta Ratna dengan lirih, dia tidak ingin Fian diperlakukan seperti ini. Dia tidak terima melihat anaknya menangis seperti itu.

“Diam lu, wanita murahan! Jalang! Tidur dengan siapa saja, dasar pelacur!”

Reza langsung melangkah maju ketika Reynaldi menghina Ratna seperti itu. Tanpa banyak bicara, dia langsung melayangkan satu pukulan di pipi Reynaldi.

“Gua kasih tahu ya ke lu, jangan pernah sekali pun menghina Ratna! Baik di depan gua mau pun di belakang gua, atau gua habisin lu!” ancam Reza sambil menarik kerah baju Reynaldi dengan penuh amarah. “Mendingan lu minggat dari rumah ini atau gua laporin ke polisi!”

Bukan Reynaldi namanya kalau merasa takut. Dia hanya meludah lalu membalas tatapan Reza dengan tampang mengejek. Sama seperti Reza, tanpa banyak bicara, dia langsung menunrukkan kepalanya ke kepala Reza sangat keras sampai membuat anak muda itu melepaskan cengkramannya dan meringis kesakitan.

“Kalau mau berantem, lu harus sadar dulu siapa lawannya!” tantang Reynaldi dengan berani.

Dia menyingkirkan Reza yang sedang kesakitan sampai terjerembab ke lantai dan menghampiri anak semata wayangnya itu dengan senyum mengejek.

“Anak sialan gak tahu diri,” katanya dan membuat Fian bergidik ketakutan dan makin keras tangisannya. “Berisik, bangsat!”
Plak!

Reynaldi menampar Fian dengan keras, sampai membuat anak itu terjatuh ke lantai dan memegangi pipinya sambil menangis keras. Dia merasa takut yang amat dahsyat melihat seorang pria yang katanya ayahnya. Sementara, Reynaldi sudah gelap mata dan tidak bisa berpikir sehat lagi, dia sudah terbutakan oleh rasa marah.

“Fian!” teriak Ratna. Dia menghampiri anaknya yang terjatuh di lantai sambil menangis melihat anaknya yang tak berdosa menangis kesakitan seperti itu.

“Diam kau, wanita murahan!” bentak Reynaldi kasar lalu mencengkram lengan Ratna dengan kasar sampai membuat wanita itu kesakitan. Setelah itu, dia langsung memberikan satu pukulan yang cukup kuat ke Ratna.

“Mamah!” teriak Fian tak terima. Dia berusaha bangkit meski pipinya masih terasa sangat perih agar bisa melindungi ibunya.

“Jangan sakiti Mamah Ian!”

“Berisik, bocah sialan!” Tanpa ada rasa kasihan, Reynaldi mendorong Fian dengan tenaga yang cukup besar sampai membuat kepala anak itu menyentuh lantai.

“Fian, jangan sakiti Fian,” pinta Ratna meski pipinya sudah mulai membiru karena pukulan Reynaldi.

Hilang sudah hati nurani Reynaldi, dia menyiksa Ratna seperti binatang. Wanita itu bahkan sudah tidak bisa melawan lagi karena dia tenaganya sudah habis, dia juga khawatir dengan anaknya. Dia takut kalau Reynaldi akan menyiksa anaknya juga.

“Dasar kau, mantan istri tidak tahu diri! Aku beri kau anak! Kau bisa punya anak karena aku! Kalau tidak, kau akan jadi perawan tua selamanya!” bentak Reynaldi sambil menyiksa tubuh Ratna.

“Kak Eja, tolong Mamah!” teriak Fian sambil menangis saat melihat ibunya dipukul habis-habisan di depan matanya.

Dia berusaha menghentikannya meski kepalanya sangat sakit, tapi apa daya, tubuhnya terlalu kecil untuk melindungi ibunya.

“Diam kau, bocah sialan!” bentak Reynaldi lalu mendorong Fian cukup keras hingga kepalanya terbentur tembok. Fian pingsan.

“Fian!” jerit Ratna ketika melihat Fian tidak sadarkan diri. Tangisannya makin menjadi. “Apa yang kau lakukan ke Fian, bajingan?!” teriaknya berusaha melawan mantan suaminya dan menyelamatkan Fian.

“Dia perlu diajari sedikit supaya tidak belagu lagi di depan ayahnya!”

“Dia bukan anakmu! Kamu sudah berjanji waktu itu untuk tidak mengganggu kami lagi! Hak asuh atas dirinya sudah sepenuhnya milikku!”

Reynaldi semakin meradang saat mendengar perkataan Ratna. Dia mencengkeram baju Ratna dan kembali memukulnya dengan keras sampai membuat Ratna hampir tidak sadarkan diri.

‘Tolong aku, Reza…’ bisiknya pelan.

Sementara, Reza yang sebelumnya pingsan karena kepalanya dipukul, langsung tersadar setelah mendengar teriakan Ratna. Dia berdiri dan melihat wanita yang dicintainya itu dihajar habis-habisan dan melihat anak kesayangannya pingsan dengan darah yang mulai keluar dari kepalanya.

“Apa yang sedang kau lakukan, bajingan?!” teriaknya penuh amarah.

“Ratna! Bertahanlah!” teriaknya lagi.

Ratna yang sudah mulai kehilangan kesadarannya, kini hanya bisa berkata lirih.

“Reza, tolong aku…”

Lalu, semuanya gelap gulita.

***

“Reza, tolong aku…” ujar Ratna lirih.

Wanita itu bahkan berusaha menggenggam tangannya Reza. Namun, sayangnya, sebelum tangan itu berhasil digenggam, Ratna sudah tidak sadarkan diri.

“Ratna!” teriak Reza panik.

“Sialan kau, brengsek!”

Ditatapnya Reynaldi yang sedari tadi melihatnya tanpa tanpa perasaan bersalah dengan penuh kebencian. Dia langsung menghampiri pria itu dan menyeretnya keluar dengan paksa.

“Ayo berantem sama gua, bangsat!”

“Lu emang sejago apa, bocah? Berani ngajak gua duel? Tadi aja gua pukul langsung pingsan!” tanya Reynaldi dengan pandangan meremehkan.

Secara fisik, tubuh Reynaldi memang jauh lebih kekar ketimbang Reza, tapi Reza memiliki tekniknya sendiri yang membuat dirinya selalu menang setiap berkelahi, kecuali dengan Mike dan Gilang.

“Gua bisa bikin lu diam untuk selama-lamanya. Sekarang, ayo kita bertarung yang sesungguhnya.”

Reynaldi sedikit merasa takut melihat aura Reza yang mendadak begitu gelap karena kemarahan yang tengah ia rasakan, tapi dia tidak akan takut dengan anak muda di depannya ini. Usia mereka terpisah cukup jauh. Kalau dia kalah, itu akan menghancurkan harga dirinya juga.

“Jangan sombong dulu, bocah. Ingat gua ini jauh lebih tua dari lu.”

“Berhenti bicara, bangsat. Gua gak mau ngobrol sama lu!”

Setelah itu, terjadilah baku hantam yang begitu hebatnya di halaman rumah Bu Ratna sehingga membuat orang-orang yang kebetulan lewat langsung terkejut melihat aksi yang dilakukan oleh kedua pria itu. Tak lama kemudian, mereka sudah dikerumuni orang.

***

Brak!

“Kalian ini ngapain sih?!” bentak seorang polisi sambil menggebrakan meja di depannya.

Polisi itu kelihatannya tak habis pikir dengan kelakuan dua pria yang sedang duduk di depannya dengan memasang wajah tak bersalah. Sekarang, Reynaldi dan Reza memang sedang diinterogasi di kantor polisi.

“Kalian sudah besar tapi malah berkelahi seperti anak kecil. Terutama Pak Reynaldi, coba ingat umur. Bapak sudah berusia 40 tahun!” bentaknya lagi.
Flashback.

Seperti tidak ingin memisahkan Reynaldi dan Reza yang masih asyik beradu tojos sampai berdarah-darah, warga yang mengerumuni mereka hanya menyaksikan perkelahian itu tanpa berniat memisahkan mereka berdua dan bahkan merekamnya.

Mereka terlalu takut untuk memisahkan Reza dan Reynaldi yang sepertinya saling menaruh dendam antara satu sama lain. Terutama Reza. Terlihat sekali kalau dia benar-benar berniat untuk membunuh pria di depannya itu.

“Apa-apaan ini?!” teriak seseorang, yang ternyata ibunya Reza, saat melihat keributan di halaman rumah tetangganya. Kebetulan, dia berniat untuk pergi mengunjungi temannya.

“Reza, sedang apa kamu?!” Dia makin terkejut saat tahu kalau Rezalah yang membuat keributan di rumah orang.

Anak itu berani-beraninya berkelahi dan merusak martabat keluarga mereka yang paling terhormat di antara tetangga-tetangganya yang lain! Penghuni rumah itu kemana lagi? Mengapa dia tidak menghentikan pertikaian ini?!

“Reza, berhenti!” teriaknya lagi, mencoba menyadarkan anaknya kembali.

Namun, sayangnya, Reza tidak mendengar teriakan penuh kemarahan dari ibunya karena terlalu murka sekarang, dia sudah dibutakan oleh amarahnya dan tidak memperdulikan lagi keadaan di sekitarnya.

“Benar-benar!” geram ibu Reza dengan gemas. Mau tak mau, ibunya pun memanggil polisi agar mereka bisa menghentikan keributan ini dan mungkin memberi pelajaran ke mereka berdua.

Tidak lama kemudian, tiga mobil polisi berdatangan dan beberapa anggota polisi turun dari mobilnya lalu menghampiri mereka dan menghentikan pertikaian di antara mereka dengan paksa.

“Pak, saya masih ingin membunuhnya! Lepas dulu, Pak! Saya belum puas, Pak!” teriak Reza penuh kebencian sambil berusaha melepaskan dirinya dari para polisi yang mati-matian menahannya agar tidak bisa kabur. Sementara, Reynaldi hanya melihat Reza sambil tertawa-tawa layaknya orang gila.

Akhirnya, tak lama kemudian, Reza dan Reynaldi berhenti berulah dan langsung menurut saat digiring ke dalam mobil polisi.

“Pak…” panggil Reza pelan ke seorang polisi yang kini tengah menggiringnya.

“Ada apa?” tanya polisi itu.

“Bisa bantu saya?”

“Bantu apa? Saya tidak akan membebaskan kamu!” jawab polisi itu dengan tegas.

“Bukan, Pak. Tapi bisa tolong panggilkan ambulans? Ada dua orang yang terluka dan tidak sadarkan di dalam rumah itu. Seorang ibu dan seorang anak.”

“Kamu apakan mereka?!” bentak polisi itu.

“Bukan saya, Pak. Pria itu yang melakukannya. Saya yang melindungi mereka habis-habisan. Kalau Bapak tidak percaya, silahkan tanyakan langsung ke mereka berdua setelah mereka sadar.”

Polisi itu menghelakan napasnya dengan gemas, lalu langsung memanggil ambulans.

Flashback selesai.

“Korban sudah dibawa ke rumah sakit dan ditangani. Kalian akan ditahan di sini untuk sementara!” kata polisi itu dengan tegas.

“Tapi Pak, saya khawatir dengan mereka berdua, Pak! Mereka membutuhkan saya!” bantah Reza.

“Tidak ada tapi-tapian. Saya akan mengabari kamu bagaimana perkembangan mereka selanjutnya. Samuel dan Adri, bawa mereka ke tahanan!”

Reza hanya bisa mendengus pasrah ketika digiring ke ruang sel. Dia sangat khawatir dengan keadaan Ratna dan Fian. Dia takut terjadi apa-apa dengan mereka berdua.
Pakai acara pingsan segala sih lu, bego! Lemah! geramnya dalam hati, mengutuki kebodohannya sendiri.

***

Seminggu kemudian…

Reza akhirnya dikeluarkan dari ruang sel karena korban sudah sadar dan menyetujui kalau bukan Reza yang membuat mereka terluka, melainkan Reynaldi. Sedangkan Reynaldi harus bertahan lebih lama di tahanan karena perbuatannya.

Namun, sayangnya, Reza tidak bisa langsung menjenguk Fian dan Ratna karena dikurung di rumahnya oleh orang tuanya gara-gara perbuatannya yang dianggap menghancurkan nama ayahnya.

Pak Pratama sangat marah saat tahu kalau Reza berkelahi dan bahkan sampai masuk kantor polisi segala. Dia memblokir semua kartu kreditnya dan menjaga anaknya dengan ketat agar tidak berani macam-macam lagi, bahkan handphone dan gadget-nya pun disita.

Seminggu tanpa melihat wajah Ratna dan mendengar suaranya, batin Reza tersiksa.

Fian dan Ratna memang masih di rumah sakit karena meski sudah sadar, mereka belum bisa dikatakan sudah sembuh total.

“Aku rindu kamu…” ujarnya lirih sambil menatap ke langit-langit kamar. Ini sudah berhari-hari dan dia masih tidak diberi kesempatan untuk menjenguk mereka berdua.

“Apakah kamu sudah baik-baik saja, Ratna?”

“Aku harap aku bisa memutarbalikkan waktu dan menyelamatkanmu lebih cepat. Seandainya aku lebih cepat dan lebih kuat, kamu gak akan terluka begitu… Fian juga.”

“Maafkan aku, Ratna. Aku benar-benar tidak berguna.”

“Akhirnya, Ian pulang juga!” Sebuah suara berhasil membuat Reza dengan reflek terbangun dan berlari ke dekat jendela kamarnya yang mengarah langsung ke rumah Ratna.

Di sana, dia bisa melihat wanita itu sedang tertawa bersama seorang wanita muda yang mirip dengannya, mungkin adiknya. Dia juga bisa melihat Fian yang berjalan dengan penuh semangat ke dalam rumahnya.

Sepertinya mereka sudah tidak apa-apa, pikir Reza.

Hatinya yang sedari tadi bergemuruh karena perasaan cemas dan rasa bersalah kini mendadak merasa tenang.

Tiba-tiba Fian berhenti. Matanya bertemu dengan Reza yang sedari tadi memperhatikannya.

“Kak Eja!” teriaknya antusias sambil melambai-lambaikan tangannya penuh semangat.

Ratna pun juga ikut berhenti saat mendengar Fian memanggil nama Reza sambil melihat ke arah rumah anak bimbingnya itu. Tanpa sadar, dia melihat ke arah Reza juga dan di sana dia bisa melihat lelaki itu sedang memerhatikan mereka. Tatapan matanya terlihat bersalah dan penuh kerinduan.

Sementara, Reza yang menyadari kalau Ratna melihatnya juga semakin merasa bersalah karena tidak bisa menjenguk mereka bahkan sampai saat mereka pulang. Dia hanya bisa tersenyum sedih ke arah mereka berdua sambil melambai-lambaikan tangannya juga, membalas lambaian Fian.

“Kak Eja, Ian lindu Kakak! Ayo main, Kak!” teriak Fian lagi. Namun, Reza hanya bisa menggelengkan kepalanya seolah-olah menolak, membuat Fian tertunduk lesu dan melanjutkan langkah kecilnya ke dalam rumahnya dengan gontai.

Ratna masih menatap Reza dengan intens dan membuat Reza semakin salah tingkah ditatap seperti itu.
Mungkin dia marah… pikirnya.

Namun, tiba-tiba, mulut Ratna bergerak seolah-olah mengatakan sesuatu. Sesuatu yang berhasil membuat jantung Reza berdegap lebih kencang dari biasanya.

“Aku rindu,” katanya.

***

Setelah dikurung selama dua minggu, akhirnya ayahnya Reza membebaskan anaknya setelah mendengar bujukan ibunya yang mengatakan kalau Reza perlu ke kampus untuk bimbingan, skripsinya tidak akan selesai kalau dia dikurung seperti itu. Dia dibebaskan dengan syarat tidak boleh membuat masalah yang bisa mencoreng nama ayahnya lagi.

Setelah terbebas, besoknya Reza langsung mengunjungi rumah Ratna pagi-pagi buta. Dia tidak perlu takut penghuni rumah itu masih tidur karena dia tahu kalau Ratna pasti sudah bangun dan mempersiapkan keperluan sekolahnya Fian dan keperluannya.

Tok! Tok!

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan menampilkan sosok Ratna yang masih mengenakan kaos dan celana pendek, sementara rambutnya dicepol.

“Selamat pagi, Ratna,” sapa Reza dengan lembut. Dia senang. Setelah tiga minggu tidak bertemu dengan wanita itu, akhirnya dia bisa melihatnya.

“Sedang apa kau di sini pagi-pagi begini? Mau numpang sarapan?” tanya Ratna dengan kesal. Bukan Ratna namanya kalau tidak bersikap galak ke Reza.

“Kamu gak kangen aku?”

Ratna hanya menatapnya dengan malas. Tanpa memberikan jawaban apa pun, dia meninggalkan Reza yang masih menunggu jawaban darinya begitu saja.

“Tunggu, Ratna! Jawab aku!” teriak lelaki itu sambil mengekori wanita itu ke dalam rumah.

“Ini masih pagi, jam setengah 6, dan kau sudah membuat keributan di rumah orang!” omel Ratna dengan gemas.

“Jadi, kau kangen aku tidak?” tanya Reza lagi, kali ini lebih menuntut.

“Iya iya, aku kangen! Kenapa sih kau selalu memaksaku untuk mengatakan hal-hal seperti itu?”

Reza tertawa terbahak-bahak. “Aku senang saja kalau kau bersikap jujur dengan perasaanmu,” jawabnya sampai membuat Ratna menatap Reza tajam.

“Ya sudahlah, berbuat sesukamu sajalah. Aku sedang memasak.”

Ratna pergi ke dapur untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda karena Reza, sedangkan Reza kembali mengintilinya.

“Ngapain coba ngikutin aku?”

“Bagaimana dengan lukamu? Apa masih ada yang sakit?”

Reza menghampiri wanita itu dan memeriksa wajahnya dengan seksama. Matanya sedikit membesar ketika melihat luka memar yang masih belum hilang juga di pipinya Ratna. “Ini belum hilang?”
Ratna langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

“Sulit menghilangkan luka-luka ini, Reza, tapi lukaku tidak seberapa. Fian lah yang terluka paling parah. Dia tidak sadarkan diri selama tiga hari dan harus menerima beberapa jahitan di kepalanya,” ujarnya dengan sedih. “Tolong katakan padaku, apakah Reynaldi masih di dalam penjara?”

Reza mengangguk lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

“Tentu saja dia masih di penjara, sayang. Tidak akan kubiarkan dia keluar dengan mudah.”

***

Mungkin dari kalian banyak yang bertanya-tanya mengapa Reynaldi kembali lagi ke kehidupan mantan istrinya ketika mereka sudah sepakat untuk tidak saling mengganggu lagi. Dia bahkan sudah menyanggupi syarat yang diberikan Ratna tentang dirinya yang tidak boleh menyentuh Fian lagi karena hak asuh sudah dimenangkan oleh Ratna.

Mungkin juga kalian menganggap kalau Reynaldi adalah orang yang jahat di cerita ini. Memang benar, dia jahat. Sangat jahat. Pemarah dan suka melukai orang. Namun, tidak ada orang jahat yang dari lahir berhati jahat, pasti ada alasannya.

Sejak kecil, kehidupan Rey tidak bisa dikatakan bahagia. Dia hidup di keluarga tidak mampu dan tidak pernah mempunyai figur bapak sejak lahir. Setiap hari, bersama abangnya yaitu Naufal, dia harus mati-matian menopang hidupnya dengan bekerja keras supaya bisa makan dan tidak putus sekolah.

Ibu mereka seperti sudah tidak ingin lagi mengasuh anak-anaknya karena kondisi melarat yang ia harus jalani. Dia sangat kasar, suka main pukul sembarangan kalau Naufal dan Reynaldi pulang tanpa uang sepersen pun. Dari sanalah sifat kasar Reyanldi muncul. Suaminya meninggalkan istrinya sendirian di dunia ini dengan dua anak dan tanpa meninggalkan uang sepersen pun.

Suaminya hanya mewariskan sebuah rumah sepetak yang menjadi tempat berlindung untuk mereka bertiga. Akhirnya, karena tak tahan dengan semua itu, sang ibu lebih memilih meninggalkan kedua anaknya dan menikah dengan lelaki lain yang kaya raya. Dia lebih memilih menjadi istri ketiga ketimbang membesarkan anak-anaknya.

Kehidupan Rey yang tanpa sosok ayah dan membenci sosok ibu membuat dirinya menjadi lelaki yang keras dan temperamental. Berbeda dengan Naufal yang memilih mendekatkan diri ke Tuhan dan menjadi orang baik, Rey masuk ke lingkungan yang salah.

Karena tidak punya orang tua untuk menjaga dan mengayomi mereka yang usianya terbilang masih remaja, Reynaldi dan Naufal pun memutuskan untuk pergi ke Bandung dan tinggal di rumah saudara ayahnya yang bersedia merawat serta mengasuh mereka. Di Bandung lah, dia mulai melakukan banyak hal terlarang.

Dia bahkan sudah menjadi bandar narkoba saat masih duduk di bangku SMA karena harus mencari uang tambahan. Hidupnya habis di jalanan dan bersama para preman, demi menopang kehidupannya karena hidup di kota orang itu tidak mudah.

Karena itulah, dia diusir dari rumah oleh bibinya. Hidupnya pun makin tidak jelas. Dia pun tinggal bersama temannya yang juga merupakan seorang bandar narkoba di daerah Bandung pinggiran.

Di saat dia sudah menikmati kehidupannya yang kacau balau, dia harus bertemu dengan Pak Supriatna yang menjabat sebagai Ketua RT di daerah rumah mereka sekaligus ayahnya Ratna, mantan istrinya.

Pak Supriatna sering mendengar keluh kesah warga soal Rey dan temannya, terutama Rey, kalau mereka ini sering berkeliaran di tengah malam dalam keadaan mabuk, kalau mereka ini sering membawa teman-temannya yang berpakaian seram, kalau mereka ini sering terlihat sakaw karena obat-obatan.

Pak Supriatna mulai mendekati Rey dan mengajak dia berbicara empat mata. Tentu awalnya Rey marah dan menolak untuk ditolong. Dia bahkan mengancam Pak Supriatna kalau dia akan menghabisi bapak itu jika Pak Supriatna masih berusaha untuk menolongnya.

Dia merasa tidak sakit, dia juga mencintai kehidupannya bersama teman-temannya. Namun, seiring berjalannya waktu, Pak Supriatna pun berhasil mendekatinya dan bahkan menolongnya ketika Rey dikejar-kejar oleh polisi dan para mafia yang memiliki masalah dengannya.

Singkat cerita, mereka berteman akrab. Rey merasakan figur bapak dari diri Pak Supriatna yang dia kira tak akan pernah dia rasakan sampai kapan pun. Pak Supriatna begitu menyayanginya dan membantu dia dalam keadaan apa pun, dia bahkan dengan senang hati membantu Rey ketika pria itu mengatakan dia ingin berwirausaha di bidang interior dan meninggalkan kehidupan lamanya.

Semenjak itulah kehidupannya mulai berubah, dia meninggalkan kehidupan gelapnya dan mulai fokus dengan usahanya. Ada satu kelebihan yang Reynaldi miliki, yaitu ketekunan. Karena ketekunannya itulah, usahanya berbuah hasil. Dia menjadi salah satu pengusaha baru di bidang interior yang cukup diperhitungkan. Tak lama kemudian, setelah berpisah cukup lama, akhirnya dia dan kakaknya bisa kembali bertemu dan hidup bersama lagi.

Reynaldi merasa kehidupannya sudah sempurna. Punya usaha yang stabil, punya seorang sahabat sekaligus sosok ayah di sampingnya, kakaknya berhasil di bidang pelayaran dan menjadi nahkoda handal serta punya keluarga.

Dia tidak ingin apa pun lagi, bahkan dia tidak berniat untuk memiliki keluarga seperti yang kakaknya lakukan karena dia tidak menyukai wanita. Itu semua karena ibunya yang meninggalkannya begitu saja.

Namun, Pak Supriatna mulai berusaha memperkenalkan anaknya ke Rey. Awalnya memang tidak terang-terangan, dia hanya bercerita sedikit-sedikit soal keluarganya, tapi lama kelamaan mulai terlihat maksud tersembunyi Pak Supriatna. Bahkan dia mengatakan keinginannya secara langsung ke Rey, kalau dia ingin Rey menikah dengan anaknya, Ratna.

Rey merasa tidak membutuhkan seorang istri. Apalah arti istri kalau nyatanya nanti tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya dan menelantarkan anak-anaknya seperti yang ibunya lakukan dulu. Namun, setelah melihat Pak Supriatna yang memohon agar dia bersedia bertemu dengan anaknya, mau tak mau dia menyetujuinya.

Pertemuannya dengan Ratna memang berjalan mulus. Ratna sangat cantik, terlihat berkompeten, dan penuh wibawa, tapi dia adalah wanita karir. Rey khawatir kalau saat mereka menikah nanti, anak-anaknya tidak akan diurus dengan benar oleh Ratna karena terlalu peduli dengan karirnya.

Namun, apa daya, Pak Supriatna begitu menginginkan mereka berdua menikah, jadi mau tak mau mereka melaksanakan pernikahan setelah pacaran beberapa bulan. Dan seperti sudah direncanakan oleh Tuhan, tak lama kemudian Pak Supriatna, sahabatnya sekaligus ayahnya, meninggal dunia.

Rey sangat sedih saat melihat sahabat satu-satunya itu telah tiada. Dia seperti tidak punya semangat untuk hidup. Parahnya lagi, Ratna tidak begitu memperhatikannya dan lebih fokus dengan pekerjaannya sebagai dosen. Karena itulah dia jarang tinggal di rumah, istrinya jarang ada di sana.

Setelah pertengkaran mereka yang pertama, Ratna akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan mulai memperhatikan suaminya. Tentu saja Rey bahagia, dia senang karena istrinya mendengarkan apa yang dia inginkan. Terlebih lagi setelah mengetahui kalau terdapat bayi hasil buah hati mereka di kandungan istrinya.

Untuk pertama kalinnya, dia merasa pernikahannya dengan Ratna merupakan keberkahan yang diberikan oleh Tuhan. Dia bahkan mulai memperlakukan Ratna dengan sangat baik, memastikan kalau istrinya itu tidak kelelahan atau membiarkan istrinya melakukan semua pekerjaan rumah.

Rey memang jarang di rumah, tapi dia tidak pernah sekali pun menelantarkan Ratna. Salah satunya adalah dengan meminta bantuan ke salah satu penghuni kost di rumahnya dan mantan mahasiswa istrinya, Nadda.

Awal pertama mereka bertemu, Reynaldi tidak pernah punya pikiran macam-macam soal anak itu. Menurutnya, Nadda seperti keponakannya sendiri. Cantik, ceria, dan bisa diandalkan. Dia berhasil membuat Reynaldi yang kaku bersikap ramah ke padanya.

Akhirnya, karena tak ingin istrinya tidak terpantau olehnya saat dia sedang tidak ada di rumah, dia pun meminta bantuan ke Nadda untuk menjaga Ratna ketika dia sibuk di kantor, apalagi istrinya juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan perempuan itu. Dan sebagai imbalannya, Reynaldi sering membantu Nadda ketika kesusahan, tentu saja tanpa sepengetahuan Ratna.

Ketika kedua orang tua Nadda meninggal, Reynaldi merasa iba. Seperti Ratna, dia mencoba untuk menghibur perempuan yang sudah dia anggap sebagai keponakannya sendiri dengan caranya. Kisah hidup mereka yang serupa membuat mereka semakin akrab. Dia ingin menjadi om yang baik, karena itu dia selalu berusaha memberikan perhatian yang baik ke Nadda.

Sayangnya, perempuan itu salah mengartikan perlakuan Reynaldi ke padanya. Dia mengira kalau Reynaldi memiliki perasaan terhadapnya sehingga dia mulai menaruh hati ke suami mantan dosennya sendiri.

Semenjak itu, Nadda selalu berusaha menggoda Reynaldi agar bisa jujur dengan perasaannya. Awalnya hanya sebatas ucapan, tapi lama-lama tindakan pun bermain. Reynaldi berusaha menolak karena dia tidak ingin mengkhianati istrinya yang sedang mengandung, tapi Nadda semakin menjadi-jadi.

Reynaldi pun luluh juga. Bagaimana pun dia tidak bisa dikatakan pria baik-baik. Mereka bermain di belakang Ratna sampai berbulan-bulan dan buruknya, perasaan Reynaldi mulai terlibat.

Reynaldi tidak pernah jatuh cinta, bahkan dengan istrinya. Namun, wanita simpanannya itu berhasil membuat perasaannya teraduk-aduk. Apalagi setelah Nadda juga mengandung anaknya, makin kuatlah perasaannya.

Permasalahannya di sini adalah dia masih terikat oleh pernikahan dengan istri sahnya yang tengah hamil besar. Dia tidak mungkin menceraikan istrinya, dia juga tidak sudi melakukan itu.

Namun, Nadda juga terus-terusan memohon untuk dinikahkan, bahkan dia rela menjadi istri kedua. Rey mau saja karena itu tidak dilarang oleh agama, tapi bagaimana dengan Ratna? Apa dia mau dimadu? Apa sudi? Dia tahu benar bagaimana sifat istrinya itu. Wanita itu sangat menjunjung tinggi emansipasi wanita.

Untuk menutupi perselingkuhannya, Reynaldi semakin sering cemburu buta. Dia sering menuduh Ratna selingkuh meski pun pada kenyataannya dia yang selingkuh. Di dalam hatinya, dia juga ketakutan dan tidak mau kalau istrinya melakukan hal yang sama dengannya.

Nadda sepertinya menyadari itu, karena itulah dia memanfaatkan emosi Reynaldi yang mudah terbakar. Seolah lupa dengan kebaikan Ratna di masa lalu, dia sering menghasut Reynaldi kalau sebenarnya istrinya itu juga bermain di belakang seperti dirinya. Kalau ditanya apa alasan dia melakukan itu, jawabannya adalah karena dia mencintai Reynaldi dan dia menginginkan pria itu menjadi suaminya.

Reynaldi pun akhirnya meledak. Dia menjadi gelap mata dan memukuli Ratna habis-habisan tanpa memikirkan janin yang ada di rahimnya. Ketika sadar, Ratna sudah pingsan di lantai. Dia langsung menangis dan buru-buru membawa istrinya ke rumah sakit.

Tuhan memang adil. Reynaldi dan Nadda tidak bisa selamanya menyembunyikan hubungan perselingkuhan mereka di belakang Ratna. Dan parahnya lagi, wanita itu memergoki mereka ketika mereka sedang melakukan hal yang tak pantas dilakukan. Reynaldi mencoba memberi pengertian ke Ratna dan membujuknya agar dia mau dimadu, tapi tentu saja Ratna tidak mau.

Dia bahkan meminta cerai dan menghujatnya. Reza yang temperamental dan mudah marah, akhirnya menyetujui perceraian itu. Sayangnya, dia tidak memenangkan hak asuh untuk anaknya. Setidaknya, dia masih diberi kesempatan untuk memberikan nama untuk anaknya sendiri. Alfiandi Putra Dirgantara. Jagoan pertamanya yang harus dia lepaskan karena kesalahan dan keegoisannya.

Dia pikir, setelah perceraian mereka, dia akan berakhir bahagia. Dia memang akhirnya bisa menikahi wanita yang dicintainya selama ini dan yang menjadi penyebab utama hancurnya rumah tangga dia dan Ratna.

Dia bahkan tidak masalah meski sudah kehilangan Fian, toh istri barunya sedang mengandung juga. Namun, layaknya karma, semua rencana hilang begitu saja dengan cepat.

Nadda keguguran karena kecelakaan mobil yang menimpa mereka waktu itu. Mereka memang selamat, tapi tidak dengan bayi mereka. Mereka harus dengan berat hati menerima kenyataan kalau anak mereka sudah meninggal sebelum lahir. Bahkan, karena kecelakaan itu, Nadda divonis tidak bisa lagi hamil. Rahimnya rusak.

Nadda benar-benar depresi setelah itu. Dia bahkan beberapa kali ingin bunuh diri, tapi selalu digagalkan oleh Reynaldi. Sementara, Reynaldi setiap hari semakin sedih karena melihat kondisi istrinya yang semakin mengkhawatirkan.

Dia hanya bisa pasrah ketika Nadda menyalahkan semuanya ke dia. Karena cintanya ke istrinya sangat besar, dia hanya diam saja dan pendam semuanya sendiri. Hal itu berimbas ke dirinya dan usahanya. Tak berapa lama sejak kejadian itu, perusahaannya bangkrut.

Demi menyelamatkan karyawannya dan keluarganya, mau tak mau dia harus hutang kesana-kemari. Bahkan meskipun dia harus meminjam ke orang-orang jahat, dia tidak peduli. Perusahaan itu adalah satu-satunya kenangan dari sesosok ayah sekaligus sahabatnya. Tidak akan dia biarkan hancur begitu saja.

Ketika dia sedang dalam keterpurukan, Nadda pergi dari rumah karena mulai tak tahan dengan kehidupannya yang tak punya uang. Persis seperti Ibu Reynaldi dahulu. Beberapa bulan kemudian, dia mendapat surat gugatan cerai dari istrinya dan itu makin membuka kembali luka lama yang selama ini bersarang di hatinya.

Perusahaannya memang berhasil diselamatkan, tapi sayangnya tidak memberikan keuntungan apa-apa karena di Kalimantan jarang ada yang tertarik untuk membeli interior atau bekerja sama dengan perusahaan mereka. Dia kembali masuk ke jalur yang salah, dikejar-kejar oleh mafia dan rentenir karena belum bisa bayar hutang selama bertahun-tahun.

Hampir saja dia bunuh diri kalau tidak bertemu dengan teman lamanya. Temannya itu mau membantunya, memberikannya uang dan tidak masalah jika dia tidak membayarnya lagi dengan uang. Reynaldi bisa membayarnya dengan cara lain, yaitu seorang anak.

Iya, temannya itu adalah seorang bos perdagangan anak. Anak-anak usia 5-10 tahun diculik dan dijual ke luar negeri untuk dijadikan budak. Perdangan itu sangat kejam dan tersembunyi, karena tidak ada yang berani melaporkannya.

Rey yang sudah kehilangan akal, berakhir berubah menjadi orang jahat lagi. Akhirnya, dia menyetujui syarat itu selama dia bisa membayar hutang-hutangnya. Namun, masalahnya, anak siapa yang akan dia jual?

Tiba-tiba dia teringat Fian, anaknya dari mantan istri pertamanya, Ratna. Seperti sudah kehilangan jiwa kekeluargaan dan kemanusiaannya, dia memutuskan untuk merebut anaknya sendiri dari Ratna dan menjualnya ke temannya itu. Setelah pencarian selama satu tahun, dia pun berhasil mendapatkan informasi soal Ratna.

Dia pun pergi dari Kalimantan menuju Jawa Barat demi melaksanakan misinya. Karena terbiasa bergaul dengan preman, dia juga berhasil mendapatkan alamat kantor Ratna dan nomor teleponnya tanpa susah payah.

Sekarang dia sudah ada di Bandung, dia bahkan sudah bertemu dengan targetnya. Dia menggunakan sejumlah strategi agar bisa melakukan aksinya, salah satunya yaitu melalui Ratna. Kalau dia sudah bisa mendapatkan hati mantan istrinya, tentu dia bisa dengan mudah mendapatkan anaknya.

Namun, sebenarnya, ketika bertemu dengan Fian pertama kali, hati dia mendadak melembut, tekad dia mendadak melemah. Beberapa kali dia berdiskusi dengan dirinya sendiri. Apakah dia harus menjual Fian ke temannya? Dia anak satu-satunya yang Reynaldi miliki. Dia juga masih kecil dan masa depannya masih panjang.

Apakah dia tega melakukan itu? Namun, ketika Fian tidak terlalu menghiraukannya dan lebih memilih seorang pemuda bernama Reza, tekadnya untuk menjual anaknya kembali kuat.

Sayangnya, dia harus ditahan di penjara karena perkelahiannya dengan Reza. Dia mulai merasa putus asa lagi, tidak tahu bagaimana caranya keluar dari sel ini.

“Saudara Reynaldi, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda!” kata polisi yang menjaganya. Dibukanya pintu sel tersebut oleh polisi itu dan Reynaldi pun pergi ke ruang berkunjung sambil digiring oleh polisi itu.

“Benar dugaan saya, kamu tidak bisa melakukannya sendiri.” Sebuah suara menyambutnya saat Reynaldi tiba di sana. Suara yang sangat dia kenal. Suara temannya.

“Anton!” seru Rey terkejut. Anton ini adalah teman sekaligus bos perdagangan anak di Kalimantan, yang bersedia memberinya uang asalkan Rey memberinya seorang anak untuk dijual.

“Saya bisa membantumu lagi, kawan lama, sebagai tanda terima kasih karena sudah membela saya dahulu. Saya tahu apa yang kamu rencanakan dan anak siapa yang ingin kamu berikan ke saya.

Kamu harusnya memberitahu saya sebelumnya supaya saya bisa membantumu mendapatkannya tanpa harus dipenjara seperti ini,” ujar Anton setengah berbisik karena dia tahu kalau mereka sedang diawasi oleh seorang polisi.

“Bagaimana caranya?” tanya Reynaldi berusaha sepelan mungkin. “Saya bahkan tidak tahu bagaimana cara keluar dari penjara ini!”

“Oh, tenang saja, kawan. Ini perkara gampang. Saya adalah orang yang sangat berpengalaman di bidang ini. Besok kau akan bebas, percayalah.”

“Benarkah?”

Iya, kawan lama. Jangan meragukan kekuasaan saya di bidang kriminal,” jawab Anton sambil tersenyum nenyeringai.

“Lalu selanjutnya bagaimana?”

“Itu akan diberitahu setelah kau bebas dari penjara, kawan. Tenanglah.”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat