Bu Ratna Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Bu Ratna Part 9

“Jadi, kenapa Ibu membawa saya ke sini? Ruanganmu?” tanya Reza lalu duduk di sofa yang menjadi tempat langganannya setiap berkunjung ke ruangan Ratna.

“Mendiskusikan soal kelanjutan skripsimu,” jawabnya santai sambil menyeduh teh kesukaannya. “Kau mau?” tanyanya yang dibalas dengan gelengan malas oleh Reza.

“Kalau hanya itu lebih baik saya pergi saja dari ruangan ini,” balas Reza dingin sambil bersiap-siap untuk pergi dari ruangan itu.

Ratna duduk di depan Reza, lalu memperbaiki posisi kacamatanya.

“Reza, kamu harus memikirkan skripsimu. Sekarang waktunya kamu mempersiapkan dirimu untuk penelitian.”

“Saya sudah buat instrumennya.”

“Bawa?”

Reza tidak menjawab dan lebih memilih mengambil sesuatu di tasnya. Setelah dia berhasil mendapatkannya, langsung dia serahkan ke Ratna.

“Ini instrumennya?”

“Iya.”

Ratna mengangguk-angguk sambil merasa sedikit kagum dengan Reza karena dia mengerjakan instrumen itu tanpa harus diperintah dahulu oleh dia. Namun, setelah melihat isi instrumen tersebut, sisi perfeksionisnya muncul. Dahinya langsung mengkerut.

“Sejak kapan di survey ada pertanyaan bagaimana?” tanyanya dingin.
Reza bisa merasakan tanda bahaya di kepalanya ketika melihat Ratna menatapnya dengan tatapan ala Bu Ratna.

“A-anu, itu, Bu,” Reza berusaha menjawab pertanyaan Ratna dengan terbata-bata.

“Saya tanya sekali lagi, Reza. Sejak kapan survey ada pertanyaan bagaimana? Kamu baca buku tidak? Atau hanya skripsi orang saja?”

“S-skripsi orang, Bu…”

Ratna membantingkan instrumen milik Reza ke meja dengan cukup keras, sampai membuat pria itu terlonjak karena kaget.

“Coba ya Anda itu mengerjakan sesuatu jangan seenaknya. Apa susahnya Anda pergi ke perpustakaan dan membaca buku-buku tentang metodologi penelitian di sana? Bego boleh, sok tahu jangan!” bentak Ratna cukup keras. Inilah wujud Ratna yang selama ini ditakuti oleh semua orang di kampus, bahkan rektor sendiri pun kadang tidak ingin berurusan dengan Ratna yang seperti ini.

“Saya sudah lelah memarahi Anda soal ini, Reza. Pokoknya saya tidak mau tahu lagi, Anda harus membuat ulang instrumen Anda ini! Anak bimbing saya yang lain masih jauh lebih baik dari Anda, padahal Anda adalah anak bimbing yang paling saya perhatikan ketimbang yang lain!”

Ratna berdiri lalu menghampiri kursi singgasananya.

“Keluar saja kamu, saya sudah malas melihatmu,” tukasnya pada akhirnya.

***

“Saya kan sudah menyuruhmu keluar tadi, kenapa balik lagi?” tanya Ratna dengan bosan. Dia benar-benar sedang malas menghadapi pemuda di depannya itu.

“Saya tidak suka kalau Ibu marah dengan saya,” jawab Reza dengan sungguh-sungguh. Tangannya yang sepertinya sedang memegang sesuatu yang dia sembunyikan di balik punggungnya.

“Jadi, kalau saya sudah merasa kesal denganmu, baru kamu tidak mengabaikan saya?”

“Maaf sudah bertingkah seperti anak-anak dari kemarin.”

Ratna menyadari kalau Reza sedang menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Di tempat duduk singgasananya, dia menatap Reza dengan tajam. “Apa itu yang sedang kau pegang?”

“Eh? Oh, ini sebuket bunga untukmu, Bu Ratna,” kata Reza lalu memberikan bunga tersebut ke Ratna dengan hati-hati dan berdebar-debar. Bunga itu adalah bunga mawar berwarna biru.

“Bunga untuk apa?”

“Tidak ada alasan khusus. Itu adalah hadiah,” Reza menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengengesan seperti orang bodoh.

“Terima kasih,” balas Ratna kikuk lalu menaruh bunga tersebut di atas mejanya.

“Maukah kau mak-”

Saat Reza sedang berbicara, tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan sesosok yang paling tidak ingin Reza temui selamanya, Reynaldi.

“Hai, Ratna. Oh, hai juga, Reza,” sapanya dengan ramah.

“Reynaldi, ada urusan apa kau ke sini?” tanya Ratna dengan serius.

Sebenarnya, dia juga sudah lelah bertemu dengan mantan suaminya itu hampir setiap hari. Kalau bukan karena dia ayahnya Fian dan dia berhak tahu soal Fian, mungkin dia tidak akan pernah sudi menemuinya lagi.

Reynaldi selalu berhasil membuatnya mengalah dan menerimanya ketika dia mengajak untuk berbicara mengenai Fian. Dia menunjukkan sosok yang berbeda dengan Reynaldi beberapa tahun silam hingga membuat Ratna mau tak mau merasa iba.

“Hanya ingin mampir saja, sekalian mengingatkanmu kalau kita akan makan malam bersama nanti. Aku akan jemput, jangan lupa bawa Fian,” jawab Reynaldi lalu memberikan sebuket bunga berwarna merah ke Ratna. Wanita itu sedikit canggung saat melihat buket itu, terlebih saat melihat Reza menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.

“Ah, kali ini, pemuda itu tidak perlu ikut. Dia kan bukan anakmu, masa dia ngintilin kamu terus.” Reynaldi melihat Reza dengan senyum kemenangan.

“Kalian punya jadwal kencan bersama?” tanya Reza setelah beberapa saat terdiam.

Matanya menatap Ratna seolah-olah berharap kalau wanita itu akan membantah perkataan Reynaldi soal makan malam mereka berdua. Namun, ekspetasi tidak sesuai realita. Dia bisa melihat, meski samar-samar, Ratna mengangguk dan menyetujui perkataan Reynaldi.

“Tuh, lihat kan? Saya tidak mengada-ada, Dek Reza,” ledek Reynaldi sambil tersenyum puas.

Tangannya melingkari pinggang Ratna dengan posesif, seperti berusaha membuat Reza semakin merasa kalah. Sementara Ratna yang terlalu kaget tak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menatap tangan Reynaldi di pinggangnya dengan bodoh.

“Oke, kalau gitu saya gak akan ganggu kalian lagi,” balas Reza akhirnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua dengan pikiran kacau lagi.

Saat melihat Reza pergi, Ratna baru tersadar kalau Reynaldi dengan seenaknya memeluk pinggang dia. Wanita itu dengan refleks langsung melepaskannya, tapi pelukan Reynaldi terlalu kuat.

“Rey, apaan sih? Lepas!” teriaknya berusaha meronta. Sementara Reynaldi hanya menatapnya dengan senyum menyeringai.

“Sudah aku bilang berkali-kali, jangan pernah lagi menemui pemuda itu,” katanya dengan penuh ancaman.

“Kau tidak berhak mengatur hidup saya lagi, Rey. Saya suka bertemu dengannya. Da selalu membuat saya merasa aman!”

“Tapi dia masih muda, Ratna, dan dia anak bimbingmu. Sadarlah!”

“Saya tahu soal itu!” balas Ratna terengah-engah karena menahan emosi. “Saya hanya ingin dekat dengannya sebagai teman.”

“Tapi-”

Tok! Tok! Tok!

Mereka berdua langsung menoleh ke arah pintu. Ratna langsung menepis tangan Reynaldi dari pinggangnya dengan kasar.

“Masuk saja!”

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan menampilkan sesosok pria tampan dan tinggi, siapa lagi kalau bukan Norman.

“Maaf, Bu Ratna, apakah saya sudah mengganggu?” tanyanya sedikit hati-hati, apalagi setelah melihat seorang pria yang sedang berdiri di samping Ratna dengan gagahnya.

“Oh! Tidak, Pak Norman. Dia hanya tamu saya dan sebentar lagi akan pulang. Apa ada yang ingin Bapak bicarakan?”

Dia menoleh ke arah Reynaldi lalu memberikan isyarat agar pria itu segera pergi. Mau tak mau, akhirnya Reynaldi dengan berat hati meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan dengan Ratna dan Norman.

“Jangan lupa kencan kita nanti malam,” bisiknya sebelum meninggalkan ruangan mantan istrinya. “Atau kau akan tahu akibatnya.”

Dengan itu, Reynaldi benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua sambil bersiul-siul ceria.

“Apa yang ingin Bapak bicarakan?” tanya Ratna akhirnya.

***

Di kelab malam lagi. Seperti tempat di mana dia bisa menghibur diri, Reza mengunjungi tempat penuh maksiat itu lagi. Di tangannya sudah terdapat alkohol kesayangannya dan dia sudah setengah mabuk.

Hari ini Gilang tidak ada di sana karena dia sedang ada urusan di luar kota, jadi tidak ada yang mengawasi kelakuan Reza di usaha miliknya. Sehingga, ketika Reza adu tojos dengan salah satu pengunjung diskotik tersebut, Gilang tidak bisa membantu apa-apa.

Akhirnya, mereka berhasil dipisahkan setelah diancam akan diseret ke luar. Reza masih mau merusak dirinya dengan alkohol.

“Kau yang tadi berantem kan?” tanya seorang wanita yang usianya sepertinya lebih tua beberapa tahun dari Reza.

Reza menoleh ke arah wanita itu sambil menilai penampilannya yang cukup sexy. Wanita itu benar-benar sesuai tipenya. Cantik dan anggun, meski agak nakal sedikit. Jiwa playboy-nya yang selama ini telah ia kubur dalam-dalam, kini mendadak muncul kembali.

Terlebih lagi, dia sedang galau karena memikirkan kemungkinan kalau Reza dan Reynaldi akan rujuk kembali itu akan terjadi. Dia butuh pelarian.

“Iya. Siapa namamu?” Reza merapatkan diri ke wanita tersebut sampai hanya tersisa sedikit jarak di antara mereka.

“Aku Nadda,” jawab wanita itu dengan nada menggoda.

“Kamu siapa?”

“Panggil saja Reza,” jawab Reza dengan mantap.

“Bagaimana kalau kita pergi ke lantai dansa dan menari bersama?” tawarnya.

Bukan Reza namanya kalau ditolak oleh seorang wanita. Dengan keterampilannya dalam menggoda, dia berhasil mengajak wanita cantik itu menari bersamanya sambil ditemani dengan alkohol.

“Sedang apa kau di sini, Nadda?” tanya Reza di sela-sela tarian mereka yang cukup menarik perhatian orang.

“Menghibur diri. Kamu?”

“Aku juga sama.” Reza semakin mempersempit jarak di antara mereka berdua lalu berbisik dengan lembut di telinga Nadda. “Bagaimana kalau kita saling menghibur diri di tempat lain yang lebih tertutup dan lebih sepi?”

Nadda tersenyum simpul. “Hm… ide yang cukup menarik.”

***

“Kau terlambat, Ratna,” kata Reynaldi saat melihat mantan istrinya itu menghampiri mejanya. Dia bersama seorang anak laki-laki, siapa lagi kalau bukan Fian.

“Maaf, tadi aku terjebak macet,” jawab Ratna sambil duduk di kursi yang tersedia. Sementara Fian duduk di sampingnya.

“Kamu naik apa ke sini?”

“Mobil online.”

Reynaldi mengalihkan perhatiannya ke anak laki-laki yang memiliki wajah yang cukup tampan di depannya.

“Hey, Fian,” sapanya dengan ramah, tapi anak itu seperti merasa tidak nyaman.

“O-om siapa?” tanya Fian dengan hati-hati.

“Aku Papahmu, Fian. Papah yang selama ini kamu tunggu-tunggu.”

“Papah?” Fian menoleh ke arah Ratna dengan tatapan bingungnya. “Mamah, Om ini Papahnya Ian?”

Ratna mengelus-elus rambut Fian dengan sayang. “Iya, sayang. Itu Papahmu.”

“Telus Kak Eja gak akan jadi Papah Ian lagi?” tanyanya lagi ke Ratna sampai membuat wanita itu melebarkan bola matanya karena terkejut.

“Kak Reza terlalu muda untuk menjadi Papahmu, Fian. Dia lebih cocok jadi Kakakmu,” jawab Ratna berusaha memberi pengertian ke anak semata wayangnya.

“Ian maunya Kak Eja jadi Papah Ian,” ujar Fian dengan sedih. Sementara, Reynaldi mati-matian menahan amarah yang sedari tadi sudah menggerogoti hatinya. Dia harus menahan emosinya agar bisa mengambil hati anaknya.

“Papah kenal dengan Kak Reza,” kata Reynaldi berusaha mengambil alih pembicaraan.

“Oh iya? Om juga? Kok bisa?” tanya Fian dengan antusias dan membuat Reynaldi makin mengepalkan jarinya setelah mendengar Fian memanggilnya dengan sebutan ‘Om’.

“Papah, Fian, bukan Om,” Ratna berusaha menasihati anaknya. Dia takut kalau perilaku Fian akan menyinggung Reynaldi. Hal terakhir yang dia inginkan adalah membuat mantan suaminya itu marah.

“Tidak apa-apa, Ratna. Dia masih belum terbiasa,” balas Reynaldi sambil tersenyum dengan susah payah. “Lebih baik kita pesan makanan saja. Kalian mau makan apa?”

“Ian mau chicken stick!” seru Fian dengan antusias sampai membuat Reynaldi mau tak mau mengusap rambutnya dengan gemas.

“Yakin? Emang bisa makannya?”

Fian mengangguk mantap.

“Ian diajalin sama Kak Eja makanya bisa!” jawab anak itu sambil membentangkan tangannya dengan riang.

Reynaldi hanya tersenyum pahit saat mendengarnya.

“Kalau kamu mau apa, Ratna?”

“Saya pesan Tenderloin saja,” kata Ratna lalu menutup buku menu di genggamannya.

“Oke, kalau gitu aku pesan Sirloin.”

Sambil menunggu makanan mereka datang, mereka saling berbincang-bincang mengenai banyak hal. Reynaldi juga terus-terusan berusaha mengakrabkan dirinya ke Fian agar anak itu tidak merasa tidak nyaman lagi dengan kehadirannya.

***

Reza terbangun setelah mendengar suara alarm yang begitu asing di telinganya. Tunggu, sejak kapan dia memasang alarm?

Dia bangun dengan grogi. Matanya berusaha membiasakan diri dengan cahaya yang kurang di ruangan itu. Tunggu, sejak kapan dia tidur dalam keadaan lampu mati?

Asing sekali rasanya ruangan itu. Setelah mengerjap-ngerjapkan matannya beberapa kali, dia menoleh ke samping kanannya lalu sedikit terperanjat melihat seorang wanita yang sedang tidur di sampingnya tanpa mengenakan sehelai benang sedikit pun dan hanya ditutupi oleh selimut.

Mampus, gua tidur sama cewek gak dikenal lagi! umpatnya dalam hati.

Dia berdiri dengan hati-hati karena tidak ingin membangunkan wanita tak dikenal itu, lalu memakai bajunya dengan terburu-buru.
Saat dia sedang memakai kaosnya, wanita itu bangun dari tidurnya.

“Hm? Kau sudah rapih? Mau kemana?” tanyanya dengan grogi karena baru bangun tidur. “Semalam benar-benar hebat, haruskah kita melakukannya lagi?” tambahnya lalu menatap Reza dengan tatapan menggoda.

Wanita itu memang cantik, Reza akui, tapi dia bukan Ratna.

“Dengar, apa yang terjadi semalam itu adalah kesalahan, oke? Maafkan saya karena terlalu mabuk. Saya harap kita tidak bertemu lagi setelah ini,” ujar Reza dengan dingin sambil merapihkan barang-barangnya.

Ekspresi wanita itu langsung bingung. Dia langsung berdiri tanpa menghiraukan kondisinya yang sedang tidak memakai apa-apa.

“Pakai bajumu!” perintah Reza dengan marah.

“Kau pikir kau bisa membuangku begitu saja? Semalam itu benar-benar tak terlupakan, apa kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?” tanya wanita itu sambil mendekati Reza yang enggan melihat ke arahnya.

“Maaf, Mbak yang saya lupa namanya, apa yang kita lakukan semalam hanya sebatas one-night stand. Tidak boleh lebih dari itu. Saya pamit dahulu,” jawab Reza lalu segera beranjak ke luar dari ruangan itu.

“Namaku Nadda!” teriak wanita yang bernama Nadda itu ketika Reza sudah sampai di depan pintu. “Aku akan melakukan segalanya untuk mendapatkanmu, Reza!”

Reza hanya mengabaikannya dan lebih memilih meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.

***

Tok! Tok!

Tok! Tok!

“Ya, sebentar!”

Ratna menuju ke arah ruang tamu dengan malas. Dia ingin sekali memarahi siapa pun yang bertamu ke rumahnya di weekend seperti ini.

Saat sudah sampai di depan pintu, dia membuka pintu tersebut dengan sedikit kesal.

“Ya, ada yang bisa saya ban- Reza? Sedang apa kau di sini? Darimana kau?” tanya Ratna setelah melihat pemuda itu berdiri di depannya dengan tampang belum mandi tapi masih pakai baju pergi.

“Bolehkah aku masuk?” pinta Reza dengan suara pelan.

Dia merasa bersalah karena sudah main perempuan di belakang Ratna, meski pun pada dasarnya mereka tidak memiliki hubungan apa pun.

Ratna mempersilahkan Reza masuk sambil menatap pria itu dengan ekspresi curiga. Bahkan saat dia berjalan di belakang pemuda itu, ekspresinya masih tetap sama.

“Jawab aku, Reza, kau habis darimana?” tanyanya setelah melihat Reza duduk di sofa di ruang TV-nya.

“Apa maksudmu?” Bohong. Reza berbohong entah karena apa.

Ratna menghampiri anak muda itu agar bisa lebih mudah menginterogasinya, tapi saat jarak mereka sudah tidak begitu jauh, hidung Ratna mencium sesuatu yang menyengat dari tubuh Reza.

“Ke kelab malam lagi?” tanyanya sambil menatap Reza dengan tajam.

“Kamu ke kelab malam lagi? Untuk apa?”

“Aku tidak ingin berdebat denganmu.”

“Kamu baru pulang sekarang, jangan bilang kamu tidur dengan wanita lain semalam?”

Reza tidak menjawab. Ratna terlalu pintar untuk Reza bohongi. Dia terlalu pandai menebak.

“Reza!”

“Aku bilang aku tidak ingin berdebat denganmu!” balas Reza dengan malas lalu berpaling dari hadapan Ratna.

“Terus buat apa kamu ke sini? Mau pamer denganku kalau kamu baru saja menggauli anak orang?”

“Bukan itu tujuanku! Jangan asal menuduh!”

“Kenapa, Reza?” tanya Ratna tidak percaya.

“Kenapa kau melakukan hal itu?”

“Kamu sendiri kenapa makan malam dengan pria itu?”

“Itu beda urusannya. Kita hanya makan malam!”

“Mau makan malam atau tidak, tetap saja kau sudah kencan dengannya!”

“Kamu tidak berhak mengaturku, anak muda!”

“Kalau gitu kamu juga tidak berhak memarahiku, Ibu Ratna yang terhormat.”

Ekspresi Ratna langsung berubah menjadi dingin.

“Lalu, untuk apa kau ke sini, saya tanya? Kita tidak ada jadwal bimbingan.”

“Aku hanya kangen,” balas Reza lirih.

Semenjak mantan suaminya datang, Ratna memang semakin jauh sampai membuat Reza sangat merindukannya. Mereka memang sering bertemu, tapi selalu diganggu oleh Reynaldi.

“Setelah kamu main dengan wanita lain, kamu bisa ngomong kangen?” tanya Ratna sinis lalu melipatkan kedua tangannya di atas dadanya. “Dasar lelaki!”

“Kamu cemburu?”

“Siapa bilang?!” Ratna spontan melihat Reza dengan kesal dan gugup secara bersamaan.

“Aku tidak cemburu! Buat apa?”

Reza langsung terkekeh dan menghampiri wanita yang usianya lebih tua darinya itu dengan senyum lebar di wajahnya. “Jawab aku, kamu cemburu?”

“Aku kasih tahu ya, aku tidak akan cemburu dengan lelaki yang begitu murah memberikan dirinya ke sembarang wanita!”

Reza mengangguk-angguk mengerti. “Jadi, diriku hanya milikmu seorang?”

“Iya! Eh, maksudku, tidak! U-untuk apa juga?” balas Ratna tergagap-gagap.

Dia malu setengah mati karena sudah mengatakan sesuatu yang bisa menjatuhkan harga dirinya. Sementara, Reza makin tersenyum lebar setelah mendengar jawaban dari wanita yang dicintainya itu.

“Oke, diriku hanya milikmu, tapi apakah dirimu hanya milikku juga?”

“Apaan sih, Za? Kalau cuma mau membahas hal yang tidak jelas, lebih baik kamu pulang saja. Rumahmu di sebelah bukan di sini!” bentak Ratna lalu pergi meninggalkan laki-laki itu dengan kesal dan masuk ke kamar.

Reza hanya tertawa lalu menyusul Ratna dengan riang.

“Siapa yang menyuruh kamu ke kamarku?” Ratna semakin kesal saat melihat Reza seenaknya masuk ke kamarnya dan berdiri dengan gagahnya di depan dia.

“Sepertinya kamu butuh perhatian dariku,” jawab Reza santai. Dia duduk di samping Ratna dan menatapnya dengan lembut.

“Aku mau tidur, pulanglah.”

“Gak mau aku kelonin?”

“Apaan sih? Gak usah!”

“Aku mau kelonin kamu, sini,” kata Reza tanpa penolakan lalu merebahkan Ratna di atas kasur dengan lembut.

Setelah itu, dia naik ke atas kasur dan tiduran di samping Ratna. “Sini,” katanya sambil membawa Ratna ke pelukannya.

“Aku bisa mencium parfurm wanita lain di bajumu,” gerutu Ratna dengan sebal.

Dia masih kesal saat mengetahui kalau Reza tidur dengan wanita lain semalam, meski dia tidak mengerti mengapa dia harus merasa kesal.

“Dan aku sudah lupa namanya. Makanya kamu aku peluk biar parfurm wanita itu hilang dan diganti dengan aromamu.”

Ratna menatap bola mata milik Reza dalam-dalam.

“Kita tidak seharusnya melakukan ini, Za.”

“Peduli apa? Sekarang kita sedang tidak di kampus. Aku bukan anak bimbingmu di sini. Aku pria yang mencintaimu, jadi jangan memikirkan hal yang lain.”

Akhirnya, mau tak mau, Ratna menerima perlakuan romantis dari Reza dengan menyembunyikan wajahnya ke dada Reza yang bidang. Tangan Reza yang tidak henti-hentinya mengusap kepala Ratna dengan lembut membuat wanita itu makin terbuai dan makin tidak ingin melepaskan dirinya dari pelukan tersebut.

Reza memberi jarak sedikit di antara mereka berdua agar dia bisa melihat wajah Ratna dari dekat. Cantik, sungguh cantik. Matanya tanpa sadar menatap bibir ranum milik wanita itu tanpa berkedip. Ratna pun demikian. Tanpa sadar, matanya menuju ke arah bibir tipisnya Reza yang begitu menggoda.

Sudah lama dia tidak merasakan bibir itu. Akhirnya, Reza lah yang mengambil kendali semuanya. Dia mendekatkan wajahnya ke Ratna sampai hidung mereka saling bersentuhan. Seperti insting, tak sampai sedetik, bibir mereka saling bertemu dengan penuh kerinduan.

Mereka melakukan hal tersebut selama beberapa saat, tangan Ratna melingkar di lehernya Reza, sambil sesekali mengusap-usap rambutnya, dan tangan Reza mengusap-usap punggungnya Ratna dengan pelan. Mereka baru berhenti setelah kehabisan napas. Ratna tersenyum sambil berusaha mengatur napasnya.

Reza mengakhiri kegiatan mereka dengan memberikan wanita itu kecupan di bibirnya beberapa saat, sebelum kemudian Ratna kembali menenggelamkan wajahnya di dada Reza, bersiap-siap untuk tidur.

“Tolong bangunkan aku jam 3, Reza. Fian pulang jam segitu,” katanya setengah berbisik.

“Oh iya, memangnya dia ke mana?”

“Jalan-jalan dengan Reynaldi.”

Dahi Reza terlihat sedikit mengkerut.

“Kamu sudah mulai membiarkan lelaki itu hanya berdua dengan Fian?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Dia berhak. Aku tidak bisa melarangnya.”

“Maafkan aku, Ratna, tapi aku curiga dengan lelaki itu.”

“Jangan berpikiran buruk dulu tentang orang. Dia mulai berubah, Reza.”

“Aku hanya berpendapat saja.”

Ratna makin mempererat pelukannya.

“Sudahlah, lebih baik kita tidur saja.”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat