Bu Ratna Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Bu Ratna Part 1

Reza Nicola Pratama, lelaki buaya darat merangkap mahasiswa abadi di kampusnya ini, akhirnya memulai skripsi juga dan maju selangkah lebih dekat dengan wisuda. Ya, semalas-malasnya dia jadi manusia, dia juga mendambakan wisuda yang seharusnya sudah dilakukannya sejak dua tahun lalu.

Namun, kemalasannya telah menghambat apa yang ia dambakan sampai dua tahun karena harus mengulang hampir setengah mata kuliah.

Reza tidak bodoh, dia memiliki otak yang lumayan tapi terlalu malas menggunakannya dan lebih memilih menghabiskan seluruh waktunya untuk bermain dan menghambur-hamburkan uang ayahnya. Akibatnya, kuliahnya pun menjadi berantakan karena terlalu sering bolos.

Orang tuanya yang biasanya tak peduli kini mulai lelah dengan kelakuan anak sematawayangnya itu. Mereka pun mengancamnya agar segera lulus dalam waktu setahun karena kalau tidak, maka mereka tidak akan segan-segan memblokir semua kartu debit dan kredit yang dia punya serta mengusirnya dari rumah.

Dan di sinilah Reza, tepatnya di dalam ruangan program studi (prodi) jurusannya, sedang mendiskusikan soal dosen pembimbing yang akan membimbingnya selama pengerjaan skripsi, bersama ketua prodinya. Reza memang selalu diperlakukan istimewa oleh ketua prodinya meskipun selalu dibalas dengan sikap kurang ajar darinya.

“Akhirnya kamu ngerjain skripsi juga, Za. Capek ya jadi mahasiswa abadi?” ledek Pak Norman, ketua prodi jurusannya, saat mengetahui bahwa Reza sudah mengajukan judul skripsinya ke bagian lab penelitian dan sudah di-acc.

Reza hanya menatap ketua jurusannya sekilas, lalu kembali melihat ke arah lain. Lebih tepatnya ke arah wanita-wanita yang sedang ngobrol dengan salah satu dosen di ruangan yang sama saat itu. Bahkan, sesekali dia mengerlingkan matanya nakal ketika wanita-wanita itu tak sengaja menatapnya balik dan berhasil membuat pipi mereka merona hebat.

“Sebenarnya saya gak masalah jadi mahasiswa abadi, Pak. Toh, kalau sudah lulus juga mau jadi apa? Pengangguran paling. Ini karena saya diancam saja sama orang tua saya,” jawab Reza cuek. Ya, pembawaan Reza memang selalu santai dan malah kadang sedikit kurang ajar.

Pak Norman hanya menggelengkan kepalanya saja, sudah terlalu paham dengan kelakuan mahasiswanya satu ini. Bagaimanapun, dia sudah hampir enam tahun berhadapan dengan Reza dan segala perilakunya. Dia sudah terlalu terbiasa dengan Reza.

“Ya sudah. Saya lihat judul kamu berat juga ya, bahas-bahas soal politik. Sesuai dengan SK yang ke luar dan pengumuman di website kemarin, karena saya tahu kalau kamu pasti belum memeriksanya, Bu Ratna dari prodi PKN akan menjadi dosen pembimbingmu selama skripsi dan kamu akan memiliki pembimbing skripsi tunggal karena saya paham dengan kelakuanmu bagaimana dan beliau pun sudah menyanggupi. Beliau adalah dosen yang paling ahli dalam bidang yang kamu ingin teliti di skripsimu itu,” kata Pak Norman berusaha menjelaskan.

“Ya sudah Bu Ratna saja, saya juga tidak masalah. Lagi pula, saya tidak mau punya dosen pembimbing banyak-banyak. Dan yang penting persoalan ini selesai.” Sepertinya, Reza sudah tidak betah lama-lama di prodi, terlihat dari bagaimana dia malas merespon semua perkataan ketua prodinya itu.

“Sebelumnya, saya ingin kamu tahu kalau Bu Ratna itu tidak semudah itu didekati. Beliau memang dosen yang bagus dan memiliki kualitas tinggi, tapi sangat galak dan perfeksionis. Saya kasih tahu soal ini biar kamu tidak menyesal nantinya. Bagaimana? Kamu sanggup menghadapi Bu Ratna?”

“Iya, Pak. Saya sanggup. Paling juga kayaknya Bu Ratna yang gak sanggup menghadapi saya. Bapak saja yang terkenal dengan kekakuan dan kedinginannya serta sikap temperamentalnya tidak sanggup menghadapi saya,” jawab Reza sekenanya dan berhasil membuat Pak Norman menghelakan napasnya berusaha sabar.

“Kamu ini memang selalu santai. Baguslah Bu Ratna yang membimbing skripsimu. Dengan kamu dibimbing oleh Bu Ratna, kali aja bisa memperbaiki sikapmu yang seenaknya ini. Sekarang, kamu temui beliau di ruangannya, di lantai tiga di gedung sebelah. Jangan lupa bawa surat pengajuan dosen pembimbingnya, biar bisa ditandatangani oleh beliau.” Akhirnya, Pak Norman mengatakan sesuatu yang ingin didengar oleh Reza sedari tadi.

“Baik, Pak, terima kasih. Selamat siang.” Tanpa banyak basa-basi lagi, Reza pun segera beranjak dari tempat duduknya dan ke luar dari ruangan tersebut.

Reza memang agak kurang suka dengan Pak Norman karena dianggap terlalu mencampuri urusannya dari dulu, terutama saat bapaknya Reza menjabat sebagai rektor universitas dan saat dia tahu kalau bapaknya Reza juga merupakan direktur dari sebuah penerbit terkenal.

Entah apa motifnya, tapi yang pasti Reza bisa merasa bahwa Pak Norman hanya berusaha ingin mengambil hatinya dengan memperlakukannya secara istimewa. Karena itulah, dia malas harus berlama-lama berada dalam satu ruangan dengan ketua prodi yang dia anggap palsu itu.

***

Reza pun tiba di depan ruangan Bu Ratna, dosen pembimbingnya itu. Ruangan itu dalam keadaan tertutup dengan jendela kecil yang memperlihatkan sedikit keadaan di dalamnya. Tidak terlalu besar, namun terlihat rapih dan bersih. Terlihat sekali kalau pemilik ruangan tersebut adalah seseorang yang clean-freak.

Mana nih katanya Bu Ratna ada di sini, kok pintunya terkunci? Si Norman emang gak bisa dipercaya! keluhnya dalam hati.

“Anda siapa? Sedang apa di depan ruangan saya?” Sebuah suara yang tegas tapi enak didengar berhasil membuat Reza sedikit terlonjak. Dia pun menoleh ke sumber suara yang ternyata berada di belakangnya.

Dia bertemu sesosok wanita yang tidak terlalu jangkung tapi memiliki tubuh sexy dengan paras cantik dan bibir merah yang menambah kesensualannya. Matanya yang seperti mata kucing menatapnya tajam dan sangat mengintimidasi, terlihat sekali kalau wanita itu sedikit terganggu dengan kehadiran Reza. Umurnya mungkin sekitar 30-an.

“Halo? Anda bisa mendengar saya?” tanya wanita itu lagi dan berhasil membuyarkan pikirannya Reza yang sedari tadi terpana oleh aura wanita di depannya tersebut.

“M-maaf, apa Ibu ini Bu Ratna?” akhirnya, Reza mengeluarkan suaranya setelah melamun beberapa saat meski agak tergagap.

“Ya, ada yang bisa saya bantu?”

“Saya Reza dari jurusan Ilmu Sosial, mahasiswa yang akan dibimbing Ibu skripsinya.”

Wanita itu mengangkat alisnya yang sebelah kanan lalu melihat Reza dari atas ke bawah seperti sedang mengkoreksi penampilan Reza. “Anda menemui saya dengan pakaian seperti ini?” tanyanya dingin.

Reza memang memiliki selera yang unik dalam berpakaian, bahkan cenderung nyeleneh dan kadang terlihat seperti gembel, bukan seperti mahasiswa. Hari ini saja dia memakai kaos belel dengan jaket denim yang entah mengapa banyak sekali tambalannya dan celana jeans yang robek-robek terutama di bagian lututnya.

Meskipun begitu, Reza adalah pemuda yang sangat tampan jadi mau bagaimanapun gaya berpakaiannya, para wanita tetap mengidolakannya.

“Iya, Bu. Gaya berpakaian saya memang seperti ini. Saya lebih nyaman dengan pakaian begini ketimbang harus memakai baju formal seperti yang mahasiswa biasanya pakai,” jawab Reza sambil sedikit melihat ke bawah untuk menatap balik tatapan dosen pembimbingnya itu. Dia memang memiliki tubuh yang tinggi.

“Anda pikir Anda ini mahasiswa seni atau mahasiswa sastra yang bisa seenaknya dalam berpakaian? Lalu, Anda pikir saya ini dosen seni yang tidak masalah melihat mahasiswa bimbingannya berpakaian seperti ini? Anda ini jurusan ilmu sosial dan saya ini dosen PKN, bukan orang seni.”

Belum juga bimbingan mereka dimulai, Bu Ratna sudah mulai menunjukkan sikap perfeksionisnya.

“Kali ini Anda saya maklumi karena sepertinya ini baru pertama kali kita bertatap muka. Saya ingatkan sekali lagi ke Anda, Nak Reza, saya tidak mau melihat Anda berpakaian seperti ini lagi di pertemuan selanjutnya. Jika Anda seperti ini lagi, jangan harap saya akan menerima Anda di ruangan saya,” tukas Bu Ratna dengan tegas dan tajam. Tatapan matanya masih tetap garang.

Baru kali ini ada seseorang yang berhasil membuat Reza sedikit ciut. Biasanya dia tidak takut dengan siapapun, bahkan dengan ayahnya yang selama ini terkenal dengan kegalakannya di antara karyawan-karyawannya. Dia juga tidak takut dengan Pak Norman dan malah memperlakukannya seperti musuhnya.

Dia mungkin juga tidak takut dengan Pak Rektor universitasnya. Iya lah, itu merupakan bapaknya. Namun, dengan Bu Ratna yang memiliki paras cantik tapi dingin dan sulit didekati ini, Reza malah tidak bisa membalas perkataannya. Padahal, biasanya dia selalu bisa membalas perkataan semua orang dengan celetukannya yang kurang ajar dan santai.

“Anda paham tidak apa yang tadi saya bilang? Diam saja dari tadi, Anda ini bisu atau memang patung?” tanya Bu Ratna lagi tidak sabaran.

“Iya, Bu Ratna, saya mengerti,” balas Reza akhirnya. Baru kali ini Reza menjawab dengan pasrah begitu, biasanya tidak mau kalah.

“Oke, bagus. Ayo masuk.”

***

“Ayo masuk.”

Kata-kata itu berhasil menyihir Reza. Sekarang dia malah berdiri di dalam ruangan dosen pembimbing cantiknya itu dengan sedikit canggung. Sedikit aneh memang, mengingat biasanya Reza ini terlihat percaya diri dan kurang ajar dengan siapapun, bahkan dengan dosen killer di kelasnya. Tapi kali ini, dia seperti bingung harus melakukan apa.

“Ngapain Anda diam di situ macam patung? Duduk!” perintah wanita itu dengan tegas sambil menatap Reza dengan tatapan yang sama, tajam dan garang.

“O-oh iya, Bu.” Dengan sedikit gugup, Reza pun duduk di sebuah sofa yang lumayan empuk.

Wanita itu masih menatapnya selama beberapa saat dan membuat Reza yang sedari tadi bingung mau ngomong apa hampir mati karena serangan panik.

“Jadi, Anda tadi bilang kalau saya ini dosen pembimbing untuk skripsi Anda?” tanya wanita itu memecahkan kesunyian.

“Iya, Bu. Ibu pembimbing skripsi tunggal saya.”

“Oke, saya sudah tahu itu. Anda membahas tentang apa memangnya? Saya sedikit lupa karena bukan Anda saja yang dibimbing oleh saya.”

“Politik, Bu.”

“Mana draft proposal Bab 1-3 nya?”

“Belum saya buat, Bu.” Demi apa pun, Reza merasa seperti sedang diinterograsi.

Wanita itu langsung menyipitkan matanya seperti tidak suka. Lalu, dia melipatkan tangannya di depan perutnya yang rata dan mendecak seolah-olah meremehkan Reza.

“Anda itu berani benar datang ke saya tanpa memberikan bahan apapun,” ujar Bu Ratna tanpa ada nada keramahan sedikit pun di setiap kata-katanya.

“Anda sepertinya belum mengenal saya, saya ini paling tidak suka dengan mahasiswa yang minta bimbingan tapi tidak memberikan saya bahannya! Bagimana saya bisa membimbing Anda kalau begitu? Otak Anda ini di mana? Atau Anda ini memang tidak punya otak sama sekali?” tambahnya lagi yang sedikit berhasil melukai harga diri Reza.

“Maaf, Bu. Pertama, saya baru diberitahu soal dosen pembimbing ini hari ini jadi saya tidak membawa apapun. Kedua, saya memang tidak berniat untuk dibimbing hari ini. Saya ingin berkenalan dengan Ibu dan membicarakan soal waktu yang tepat untuk bimbingan agar kita berdua sama-sama enak, Bu. Ketiga, saya punya otak, Bu. Otak saya ya ada di kepala saya.” Akhirnya Reza pun membuka mulutnya dan mulai memperlihatkan siapa dia sebenarnya.

Wanita itu terlihat sedikit kaget saat mendengar balasan dari Reza, kemudian menatap lelaki di depannya itu dengan pandangan yang sangat menyeramkan.

“Oh! Anda berani juga dengan saya, sungguh luar biasa. Kalau begitu, baiklah kita kenalan dulu dan ngobrol-ngobrol biasa dulu. Apa perlu saya buatkan kopi? Oke, sebentar,” balas wanita itu dengan sinis dan membuat Reza mulai sedikit khawatir.

Mati tadi gue ngomong apaan ya, memang dasar lidah tak bertulang! pikirnya.1

“Nih kopinya, nak Reza. Seperti yang Anda ketahui, nama saya Ratna. Mirza Ratna Yustika. Seorang dosen yang mengajar Ilmu Politik dan juga menjabat sebagai ketua prodi di jurusan PKN. Saya sudah tahu nama Anda, jadi tak perlu lagi menyebutkannya lagi. Anda dari jurusan mana tadi? Saya lupa.”

“Ilmu Sosial, Bu…”

“Oh ya, Ilmu Sosial. Saya beberapa kali mengajar di sana karena biasanya selalu digantikan oleh asisten dosen saya dan yang paling menyenangkan adalah semester kemarin karena Anda tahu? Mereka semua tidak ada yang sanggup menghadapi saya. Salah mereka sendiri, kuliahnya main-main. Jadi, saya gagalkan mereka semua dan membuat mereka mengulang kembali mata kuliah yang saya ajarkan di semester pendek. Bertemu dengan saya lagi deh. Memalukan!” ejek wanita itu sambil melihat ke arah Reza seolah-olah dia juga sedang mengejek Reza.

“Saya dengar, Anda ini harusnya lulus dua tahun yang lalu ya? Tapi kenapa baru mau mulai skripsinya? Tidak malu dengan teman-teman Anda yang lain? Terutama yang sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang bagus. Ah, Anda juga tidak malu dengan Pak Rektor, ayahmu sendiri? Pasti dia malu mempunyai anak sepertimu.”

Bu Ratna akhirnya menyinggung masalah sensitif yang sangat dibenci oleh Reza, yaitu soal statusnya sebagai mahasiswa abadi yang tidak kunjung lulus dan soal jabatan ayahnya sebagai penguasa tertinggi di kampusnya.

Rahang Reza mulai mengeras dan sepertinya Bu Ratna sadar akan hal itu. Seolah-olah tidak takut, dia malah terus memancing kemarahannya Reza.

“Kenapa? Tertohok ya? Ya iyalah, saya mengucapkan fakta. Anda pikir saya tidak bisa menghadapi mahasiswa seperti Anda yang sok-sokan terlihat superior tapi sebenarnya otaknya otak udang? Anda pikir saya tidak akan sanggup dengan kelakuan Anda yang kurang ajar dan seenaknya seperti yang saya dengar selama ini? Anda lah yang akan saya buat frustasi! Baguslah, skripsi Anda ini dibimbing oleh saya. Saya akan membuat Anda sadar kalau kuliah itu tidak semain-main itu,” tambahnya lagi dengan senyuman puas menghiasi bibirnya.

Reza menatap tajam wanita itu yang langsung dibalas dengan tatapan tidak kalah tajamnya dari wanita itu. Cukup lama mereka melakukan kontes adu mata sampai kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.

“Permisi, Bu Ratna,” panggil seseorang dari luar.
Bu Ratna pun memutuskan kontak mata di antara mereka dan menoleh ke arah pintu. “Masuk saja!”

Seseorang yang ternyata Pak Norman itu masuk ke ruangan Bu Ratna dan terlihat terkejut melihat Reza yang kelihatan menahan amarahnya.

Tiba-tiba, Reza berdiri dan mengagetkan Pak Norman. Setelah melihat Bu Ratna dengan tatapan penuh kebencian, Reza segera beranjak dari ruangan tersebut. Tapi sebelum pergi, Bu Ratna memberitahunya kalau dia harus datang besok jam satu siang jika berniat untuk bimbingan dan tidak lupa membawa draft skripsinya.

***

Besoknya, Reza kembali ke ruangan tempat Bu Ratna berada. Sebenarnya kalau boleh jujur, dia tidak ingin bertemu dengan dosen pembimbingnya itu. Pertama, dia masih kesal karena Bu Ratna sudah menyinggung soal dia yang jadi mahasiswa abadi.

Kedua, dia marah karena Bu Ratna telah menyinggung soal ayahnya yang sebenarnya dia tak ingin akui sebagai ayah. Ketiga, dia kesal karena Bu Ratna telah membuat dia begadang semalaman demi mengerjakan draft proposal dari Bab 1 sampai Bab 3, sehingga matanya menjadi berakhir seperti mata panda begini.

Dia pun merapikan baju dan rambutnya karena bagaimana pun dia adalah mahasiswa yang cukup eksis di kalangan adik-adik tingkatnya, terutama kaum perempuan. Dia tidak bisa membiarkan penggemarnya kecewa dengan tampilannya yang berantakan.

Selain itu, dia juga akan bertemu dengan Bu Ratna, dosen yang notabennnya paling cantik se-universitas. Reza tidak boleh kalah saing!

“Kang Reza…” sapa dua wanita centil yang entah siapa namanya Reza tidak tahu membuatnya harus menyembunyikan wajah kesalnya dan mulai memasang wajah Cassanova-nya yang cukup terkenal.

“Wah, siang-siang gini langsung disambut oleh dua wanita geulis,” jawab Reza tak kalah centilnya lalu memamerkan senyuman manisnya yang berhasil membuat dua wanita di depannya ini hampir pingsan di tempat. “Ada apa, cantik?”

“Ya ampun, Kang Reza… Hari ini ganteng banget! Harum lagi, duh jadi makin suka…” ujar salah satu dari mereka dengan baju yang seperti kekurangan bahan sambil merangkulkan tangannya ke lengan Reza yang tidak sedang memegang draft proposalnya.

Seolah-olah tidak mau kalah dengan temannya, wanita yang satu lagi ini -dengan make up yang terlihat agak berlebihan- berusaha untuk memeluk pinggangnya Reza. “Kang Reza, rambutnya hari ini keren banget loh… Kelihatan gentleman abis! Aduduh… boleh gak aku jadi pacar Akang?”

Kelakuan dua wanita tersebut membuat Reza terlihat bingung dan sedikit risih, tapi cuma sedikit saja karena dia memang selalu suka ketika menjadi pusat perhatian para wanita.

“Aduh, adik-adikku yang cantik… Akang lagi mau bimbingan dulu nih. Lepas dulu ya?” bujuk Reza dengan hati-hati.

“Gak mau! Soalnya nanti susah lagi ketemu Kang Reza…” Bukannya melepaskan rangkulan mereka dari tangan dan pinggangnya Reza, mereka malah makin mempererat rangkulannya seolah-olah tak ingin melepaskan pria yang memiliki senyum yang manis ini. Reza pun makin kebingungan. Dia sudah telat.

Tiba-tiba pintu ruangan Bu Ratna terbuka dan menampilkan sosok perempuan yang anggun dan cantik itu. Mata Bu Ratna tak sengaja melihat ke arah Reza dan gadis-gadis di sekelilingnya. Alis kanannya terangkat dan tangannya terlipat di dadanya.

“Kalian bertiga sedang apa? Mau berbuat mesum di depan ruangan saya?” tanyanya datar.

Dua gadis itu terkejut bukan main lalu melepaskan rangkulan mereka dari Reza serta meminta maaf kemudian pamit pergi. Meskipun Bu Ratna memiliki wajah yang cantik, dia memang terkenal sebagai dosen paling killer di kampus. Si Naga Cantik, itulah sebutannya oleh hampir semua mahasiswa di seluruh penjuru kampus.

“Anda bukannya bimbingan malah mesra-mesraan di depan ruangan saya. Padahal saya sudah capek-capek menunggu! Anda kira mahasiswa bimbingan saya ini Anda saja? Anda kira saya tidak sibuk?” bentaknya lagi sambil melihat Reza dengan tatapan tajam.

Reza memutar bola matanya dengan malas saat melihat dosen pembimbingnya ini mulai memancing perdebatan di antara mereka. “Sudahlah, Bu. Saya tidak ingin berdebat dengan Ibu, saya mau bimbingan.”

Kening Bu Ratna makin mengkerut ketika mendengar celotehan kurang ajar dari mahasiswa bimbingannya itu.

“Anda kurang ajar sekali dengan saya. Bimbingan ini dibatalkan.” Tanpa basa-basi, Bu Ratna pun meninggalkan Reza sendirian. Reza yang melihatnya hanya bisa mengutuk dirinya yang mempunyai lidah tak bertulang dan mengumpat dosen pembimbingnya yang terlalu baperan.

***

“Anda sedang apa masih di sini? Jangan tidur di sini!” Sebuah suara berhasil membangunkan Reza dari tidurnya. Dia sedikit kaget dan merapihkan rambut serta bajunya, kemudian berdiri menghadap sumber suara tersebut, yang ternyata Bu Ratna.

“Saya menunggu Ibu,” jawab Reza dengan sedikit gemetar karena baru bangun tidur.

“Kan saya sudah bilang, bimbingan dibatalkan!” ujar wanita itu lagi lalu langsung masuk ke ruangannya. Saat ingin menutup pintu, kaki Reza berusaha menahannya.

“Apa-apaan, Nak Reza?!” bentak Bu Ratna dengan sengit.

“Ibu! Saya sudah begadang demi bimbingan hari ini. Saya juga sudah menunggu Ibu selama tiga jam! Tolong lihat perjuangan saya lah, Bu…” ujar Reza sedikit memelas.

“Loh, tapi Anda tadi malah mesra-mesraan di depan ruangan saya!”

“Itu mereka duluan yang gelendotan di tangan saya, Bu. Saya sudah berusaha buat melepaskan tangan mereka tapi mereka malah makin erat pelukannya. Saya mana bisa menyakiti perempuan, Bu. Itu bukan keahlian saya. Lagian, Ibu kalau cemburu bilang saja nanti saya rangkul Ibu juga deh,” balas Reza dengan centil.

Kalimat terakhir Reza sukses membuat Bu Ratna makin membelalakkan matanya.

“Anda kurang ajar sekali. Buat apa saya cemburu?” sahut Bu Ratna gemas.

“Ya sudah kalau begitu biarkan saya masuk.”

“Bimbingan sudah saya batalkan!”

Reza tidak menjawab dan hanya diam menatap wanita yang lebih pendek tapi lebih tua darinya itu. Diamnya Reza membuat Bu Ratna makin mengernyit karena sedikit khawatir. Tiba-tiba, pintu yang sedari tadi ditahan habis-habisan oleh Bu Ratna berhasil dibuka oleh Reza dengan mudahnya. Reza pun mendorong wanita itu ke tembok setelah sebelumnya mengunci pintu ruangan tersebut.

Bu Ratna terlihat panik, dia langsung memasang sikap defensif saat melihat Reza berdiri di depannya sambil memperlihatkan senyuman mesumnya. Tanpa aba-aba, Reza mendekati wajahnya ke Bu Ratna dan menempelkan bibirnya ke wanita cantik itu, yang berhasil membuat Bu Ratna membelalakkan matanya.1

Reza tidak hanya menempelkan bibirnya, dia juga bermain dengan bibir wanita itu dengan mesra, membuat si empunya bibir mulai terhanyut dan akhirnya membalas permainannya. Reza sedikit terkejut memang. Dia tidak menyangka kalau ibu-ibu galak itu akan membalas ciumannya.

Mereka saling berpagutan selama beberapa detik sebelum akhirnya Bu Ratna tersadar. Dia langsung menendang tulang kering Reza dengan heels-nya, yang berhasil membuat Reza teriak kesakitan, lalu kemudian menampar pipinya. Double combo.

“Wadaw!” Reza mengusap-ngusap tulang kering dan pipinya secara bersamaan karena menjadi korban kekerasan wanita galak di depannya. Rasanya perih.

“Mahasiswa kurang ajar! Berani sekali Anda mencium saya?! Anda mau saya laporkan ke rektorat karena telah melakukan tindakan asusila ke dosen pembimbingnya sendiri?! Anda mau saya laporkan ke ayah Anda sendiri, hah?!” bentak Bu Ratna murka. Wajahnya terlihat sedikit memerah, entah karena marah atau karena malu.

“Loh, tapi Ibu kan juga membalasnya. Lagian ciuman tadi enak loh, Bu. Boleh lah kapan-kapan kita coba lagi. Hehehe…” sahut Reza dengan kurang ajarnya sambil nyengir kuda.

Bletak!!!

“Wadaw! Sakit!” Kali ini Reza mengusap-ngusap kepalanya yang jadi korban jitakan Bu Ratna. “Bu, lama-lama saya laporkan ke Dinas Pendidikan nih!”

“Laporkan saja, saya tidak takut. Anda itu ya, jangan macam-macam dengan saya! Anda pikir saya ini wanita seperti apa?!” balas Bu Ratna sengit lalu duduk di bangkunya. “Ayo mulai bimbingannya. Saya tidak ingin melihat Anda lama-lama!” tambahnya.

Saya juga gak mau lihat Ibu lama-lama, pikir Reza.

Akhirnya, Reza pun duduk di tempat yang telah disediakan sembari mengeluarkan draft proposalnya dan memberikannya ke Bu Ratna. Wanita itu langsung mengambilnya dan memerhatikannya dengan penuh perhatian sambil sesekali mengoreksi mana yang harus direvisi.

Cantik, pikir Reza lagi.

Memang, dalam keadaan serius pun, Bu Ratna tetap terlihat cantik. Dia jadi penasaran dengan senyumnya Bu Ratna, pasti sangat indah.

“Reza, jangan melamun!” omelan Bu Ratna berhasil membuyarkan pikiran Reza yang sedari tadi kemana-mana dan tidak fokus dengan bimbingannya.

“Eh iya, Bu. Maaf…” balasnya sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.

“Niat bimbingan tidak sih? Nih, saya sudah memeriksa draft Anda dan saya akui tema Anda ini menarik dan judulnya sudah sesuai. Pembahasannya juga menarik. Tapi, ada banyak sekali yang harus direvisi. Untuk memudahkan Anda, lebih baik bimbingan selanjutnya kita hanya membahas setiap bab saja, jangan sekaligus. Jadi, hari ini saya hanya akan membahas Bab 1 saja dan saya ingin Anda merevisi yang saya coret-coret ini dengan cermat supaya nanti tidak terlalu banyak revisian,” jelas Bu Ratna panjang lebar.

Kalau Bu Ratna mengira bahwa Reza mendengarkan semua penjelasannya, maka dia salah. Reza malah sibuk menatap ibu-ibu di depannya itu dengan pandangan terpana. Dosen pembimbingnya itu memang sudah terlihat cukup berumur jika dilihat dari kerutan-kerutan di wajahnya yang samar-samar.

Tubuhnya juga mencerminkan seorang ibu-ibu yang sudah melahirkan karena meski cukup ramping tapi pinggulnya cukup lebar. Reza jadi penasaran dengan umur wanita itu. Biasanya dia bisa menebak umur seseorang dengan tepat tapi karena Bu Ratna memiliki wajah yang bisa dibilang awet muda, dia jadi kesulitan menebaknya. Dia hanya bisa menebak kalau umur Bu Ratna berada di angka 30-an.

“Ibu Ratna umurnya berapa sih?” tanyanya tiba-tiba saat melihat Bu Ratna sibuk menyeduh kopi di coffee maker yang terletak di atas meja di sudut ruangannya.

“Mengapa tiba-tiba bertanya soal umur? Anda mau menyantet saya?” balas Bu Ratna setelah menyicipi kopinya. “Anda mau kopi? Buat sendiri,” tawarnya ke Reza yang dibalas dengan gelengan dari Reza.

“Ibu terlihat masih muda untuk ukuran ketua prodi. Saya tebak… umur Ibu sekitar 33. Betul atau tidak?” tebak Reza asal.

“Salah. Tapi mau apa Anda bertanya soal umur? Kita tidak sedekat itu sampai Anda bisa seenaknya bertanya soal umur saya,” jawab Bu Ratna dengan dingin dan kaku.

“Ah, masa umur saja rahasia-rahasiaan sih, Bu? Lagian saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya penasaran.”

“Anak-anak seumur Anda memang selalu penasaran.” Bu Ratna kembali ke tempat duduknya dengan anggun. “Dan saya tidak suka dengan orang yang penasaran dengan informasi pribadi saya. Yang pasti saya ini lebih tua dari Anda.”

“Apa salahnya sih memberitahu umur Ibu?” desak Reza tak sabaran. “Saya tidak akan menyantet Ibu.”

“Anda sendiri mengapa penasaran sekali dengan umur saya? Itu tidak penting! Yang penting sekarang adalah skripsi Anda. Saya ragu dari tadi Anda ini menyimak apa yang saya katakan atau tidak.”

Reza mendenguskan napasnya kesal. “Saya mencoba untuk bersikap ramah dengan Ibu tapi Ibu malah tidak mau diperlakukan dengan ramah! Saya ingin mengenal Ibu lebih dalam dan menjadi teman Ibu karena Ibu terlihat kesepian!”

Bu Ratna menyipitkan matanya seolah-olah tidak suka dengan perkataan dari pemuda di hadapannya.

“Saya tidak menginginkan Anda menjadi teman saya, anak muda. Anda harus tahu posisi Anda sebagai anak bimbing saya, jangan mengharapkan lebih. Saya tidak pernah berniat untuk akrab dengan Anda,” balas Bu Ratna datar, matanya mulai fokus kembali ke kertas-kertas di hadapannya.

“Karena saya lebih muda?”

“Ya, anak-anak seperti Anda itu hanya mengganggu orang-orang seperti saya. Menuntut terlalu banyak dan berakhir mengambil segalanya.”

“Bahkan meski kita baru saja berciuman tadi?”

Bu Ratna langsung menatapnya dengan sengit.

“Saya menganggap kejadian itu tidak ada!”

“Tapi Ibu membalas ciuman saya dengan gairah yang sama.”

“Saya terlalu terkejut!”

“Tapi saya menyukai ciuman itu. Saya ingin mengulangnya.”

“Saya bukan objek penasaran Anda, Nak Reza,” balas Bu Ratna dengan gemas. “Jangan harap saya bersedia untuk mengulangnya lagi bersama anak ingusan seperti Anda.”

“Mengapa Ibu benci sekali dengan anak-anak seumuran saya?” Reza semakin penasaran dengan wanita di depannya itu. Apa yang terjadi di masa lalunya sampai membuat Bu Ratna tidak menaruh respek ke orang-orang seumuran Reza?

“Itu bukan urusan Anda,” jawab Bu Ratna bosan. “Kalau Anda ke sini cuma karena penasaran dengan kehidupan saya, lebih baik Anda keluar.”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat