Boss Prolog

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat
Prolog​

Nia-

Roda kehidupan memang benar adanya, dan aku mengalaminya sekarang. Berada di titik paling bawah saat ini.

Dan baru satu minggu kami tinggal disini, setelah tiga kali pindah tempat, dan sekaligus ini pertama kalinya aku tinggal kontrakan agak lebih besar di banding kemarin,

Aku masih benci sama papa, karena kesalahannya menjadi kami seperti ini. Alasannya tak mau aku ungkap sekarang karena aku masih belum terbiasa seperti ini, walau sudah berjalan enam bulan lamanya.

Tapi saat ini papa bekerja di teman lamanya sebagai driver juga selama enam bulan ini, terkadang mama juga ikut.

“Sarapan san..,” ucap mama

“Nanti ma, aku udah telat” aku bohong ke mama, karena di meja cuman ada satu piring, aku sengaja gak makan itu karena buat mama, pasti dia belum sarapan.

“Kamu mau kemana?”

“ada panggilan kerja, “ kataku dengan wajah datar karena aku mendapat lowongan kerja dari temannya papa juga. Gak ada salahnya aku coba.

“Ya udah, jangan lupa makan yahh” aku senyum ke mama, karena itu jawaban terbaik saat ini. Dan langsung sarapan di luar, yaitu bubur ayam.

Bubur ayam yang selalu ada di pinggiran gang. Aku suka makan bubur sekarang, selain murah itu bikin kenyang. Perutku mulai agak terbiasa makan makanan murah seperti ini.

“Bang satuuu”

“yah neng, habiss.. “ jawab abang buburnya,

“ohhhh, “ aku harap di depan selama perjalanan ada makanan yang membuat kenyang seharga lima ribu.

“Bang, buburnya lebih satu” ucap cowok di sebelahku,

“Buat kamu aja, bayarin” lanjutnya, hal itu membuat aku menoleh, perawakannya tinggi, rambutnya panjang, kumis tipis dan kulit sawo matang atau tepatnya lengannya agak belang, tampilannya seperti kuli pada umumnya.

“seriusan?” angguknya kasih plastiknya, dia langsung pergi gitu aja, dan aku langsung makan bubur dalam sekejap habis. Jujur aku menahan lapar sejak malam.

Yang jelas hari ini aku gak akan hilangin kesempatan buat interview di salah satu perusahaan besar. Aku akuin ini karena bantuan papa juga. Katanya ini perusahaan temannya,

Aku memang belum pernah interview, karena memang baru saja lulus dari universitas di Australia. Terdengarnya memang keren, tapi kenyataan tak seperti ini.

***​

Salah duga, aku kira perjalanan akan lancar saat berangkat pagi. Macet ada dimana-mana, aku telat karena sekarang sudah jam delapan. Dan interview jam segitu juga.

Dengan sedikit panic aku langsung Tanya tempat interview berada. Tapi tak hanya sampai situ, karena gedung ini sangat luas.

Terdapaat empat gedung dengan sepuluh lantai setiap gedung, itu kurang lebih. Dan sekarang aku di lantai dua.

Sesampainya ada empat orang itu pun sudah keluar dari ruangan, tapi tak ada panggilan dengan namaku, gak mungkin kalau salah hari, karena memang isi emailnya hari ini.

“Bu maaf” kata aku saat ada perempuan keluar dari ruangan itu,

“Iah?”

“Saya ada panggilan interview, tapi nama saya tidak ada yah?”

“nama?”

“santi ” jawabku, dia langsung lihat berkas yang di bawahnya.

“Tidak ada, adanya nama Nia putri” ucapnya langsung kasih tunjuk CV, itu benar CV yang aku kirim tapi namanya beda.

“Tapi ini cv saya bu, ini sesuai KTP,” aku kasih tunjuk, tapi namaku berbubah menjadi Nia. Sejak kapan berubah,

“Haaaa” lenguh panjang perempuan itu,

“Bilang aja kalau kamu telat, sayangnya saya gak bisa interview kamu, karena posisi yang kosong sudah ada.” senyumnya melangkah pergi.

“Bu , mba, please, Saya lulusan salah satu universitas di Australia, lihat aja CV nya” kataku gak mau kehilangan kesempatan ini, dan itu pun berhasil. Dia langsung cek kembali CV ku,

“Yakin?” ucapnya saat aku mendekatinya.

“Lulusan SMA, bilang lulusan luar negeri?” tunjuknya ke bagian riwayat pendidikan, dan kembali benar. Hanya lulusan SMA. Apa ini karena papa, dia yang mengubah semua indentitas aku.

“kamu pikir, berbohong soal sekecil itu bisa dapat pekerjaan?” lanjutnya.

“Tapi saya butuh perkejaan bu, berikan kesempatan sekali ini” kataku memaksa, tapi memang harus dapat hari ini. Karena aku buktiin aku bisa dapat kerja.

“Ada, untuk sekarang, sebagai Office Girl, barusan aja ada resign, kalau mau hari ini saya terima kerja,” ucapnya sedikit jengkel.

“Untuk gajinya?”

“UMR, dua juta rupiah” aku terkejut gajinya, seperti uang jajan aku harian, tapi itu dulu. Sekarang sangat berbeda.

“Saya mau, “ kataku pelan, karena kemungkinan dengan CV yang udah di ubah papa atau siapa itu, gak mungkin bisa setara ijazah kuliah aku.

“Baik, ikut saya “ perempuan itu masuk kembali keruangannya,

“Ini seragamnya, jam tujuh tepat harus ada di kantor.”

“Iah baik, “ kataku langsung buka seragamnya yang kekecilan.

“Maaf bu ayu, gak ada yang lebih besar?” kataku udah tau namanya karena di mejanya ada tag name dia.

“Itu paling besar, kenapa?”

“ini saya pasti agak sesak” tunjuk aku kearah buah dada aku sendiri, tapi memang benar kalau pakai ini seragam pasti terlalu ketat dan menonjol.

“Jahit sendiri, kalau mau sesuai ukuran kamu” ucapnya sambal senyum sinis, aku cuman bisa menghela nafas. Aku sadar aku sekarang bukan apa-apa.

Aku langsung keluar membawa seragam yang udah di masukan ke kantong plastic hitam, karena aku malu kalau orang melihat aku bawa seragam ini.

***​

Selama perjalanan pulang aku terus berpikir, apa yang aku lakuin salah ambil keputusan. Di lain sisi aku sangat butuh perkejaan.

Rasanya malas pulang ke rumah, sesekali aku lihat gedung ini. Rasanya berbeda jauh dari namanya dengan gaji yang aku akan terima.

Aku memilih jalan terlebih dahulu, karena ongkos cuman cukup naik angkutan umum ke arah rumah, mau gak mau harus aku lakuin.

Arah pulang memang melewati pasar tradisional, pergi pun lewatin tapi berbeda gang saja. Dari jauh pun sudah tercium bau yang tak sedap,

Aku terpaksa lewat sini karena angkutan yang aku naikin mau putar balik, aku hanya bayar setengah harga untuk itu, jadinya aku mau aja di turunin disini.

Jalan perlahan melewati samping pasar, becek dan bau. Air genangan yang menghitam, di tambah banyak abang-abang yang bolak balik membawa barang.

“ahh” jerit aku saat aku melangkah ke tempat yang basah, jeritan aku membuat orang sekitar melihatku aneh, terpaksa aku jalan dengan sepatu aku yang agak basah. Melangkah secepat mungkin.

Lebih cepat dari lewat gang sebelumnya, tapi bau nya aku gak tahan. Di halaman rumah ada sebuah mobil sedan mercy, gak mungkin itu punya papa.

“Aku pulang” kataku langsung buka sepatu yang agak basah.

“Bagaimana hasilnya?” Tanya mama yang bersama papa di ruangan tamu, melihat papa rasanya kesal.

“Udah keterima, “ jawabku agak ketus karena melihat papa dan aku melangkah masuk kamar.

Tak lama suara ketukan pelan di ikuti suara papa panggil namaku, aku gak jawab. “san” ucap papa lagi.

“aku capek mau tidur!” aku langsung rebahin ke Kasur yang lumayan empuk, aku masih kesal pasti ini kerjaan papa mengubah semua identitas aku.

Suara pintu terbuka, aku langsung menutup wajahku dengan bantal, seolah aku benar-benar tertidur. “san,” ternyata suara mama, tapi aku terus pura-pura tidur.

“Kamu bohong soal udah terima kerja?” Tanya papa,

“gak kok,” jawabku dengan wajah tertutup bantal.

“Kamu harus tau papa lakuin ini demi mama, kamu dan albert. Papa sengaja membuat indentitas baru buat kamu dan albert, maaf untuk itu” suara papa.

“Papa gak mau, mama, kamu dan albert ke seret masalah yang papa kamu hadapi” lanjut mama buat aku mau nangis. Nangis kesal karena kenapa harus seperti ini, tapi aku bisa tahan.

“Aku udah kerja kok, besok udah masuk kerja” potong aku yang masih tutupin wajah dengan bantal sampai suasana hati aku membaik.

Setelah mama keluar kamar, aku langsung buka seragam tadi, seragam berwarna biru dengan logo perusahaan yang papa kasih tau. Andai tidak macet mungkin aku tak terpaksa mengambil perkejaan seperti ini.

Aku langsung pakai, dugaan aku benar. Terlalu ketat sampai buah dadaku sangat menonjol. Tapi mau bagaimana lagi, dari cetakan sananya aku seperti ini.

Walau aku tak tinggi dan berisi, tapi isinya bukan lemak. Memang tubuh aku sekal seperti ini, karena keturunan dari mama juga mempunyai tubuh sekal seperti itu.

Aku langsung lepas lagi dan sembunyiin di bawah tempat tidur, ini tempat aman kalau mama beresin kamar aku.

Dari luar pembicaraan mama sama papa, soal papa akan pulangnya gak tentu karena rumah teman papa memang jauh dari sini, tepatnya beda kota.

Besok paginya, aku bangun lebih awal. Aku langsung masukin seragam ke tas yang agak lebih besar. Mama gak curiga hal itu, karena aku pakai tas adikku sendiri.

Gak lupa aku beli bubur ayam disana, tapi kali ini aku gak kehabisan, dalam waktu kurang lima menit bubur sudah habis.

“cowok itu kan” gumamku melihat cowok yang memberikan bubur lagi, tapi gak sempat untuk berterima kasih karena mengejar waktu.

Kalau tak macet seperti rasanya bahagia, sudah di kantor tepat waktu. Aku langsung ke arah ruangan khusus OB,

Tempatnya belakang kantor, tempatnya tak terlalu luas. Dan di bagi dua ruangan cewek, cowok. Banyak yang melihat

“Anak baru?” suara cewek pas aku masuk untuk ganti pakaian.

“iah”

“Wah.. liat penampilannya, kayak orang kantoran hahaa” tawa salah satu dari mereka lagi. Tapi kali ini yang datang. Wajahnya seperti udah lama disini, karena kebanyakan memang tak pakai make up seperti aku.

“Masuk aja, ganti pakaian” kata salah satu, tapi bedanya dia lebih lembut, aku langsung masuk ke kamar ganti.

Selesai, cewek itu ada di depanku, “anak baru?” tanyanya pelan, aku angguk pelan.

“Sherly, kamu?”

“santy, panggil aja sansan, maksudnya nia hehe” kataku jabat tangannya,

“Heeee! anak baru, gedung empat sana!!,” pekik salah satu lagi, atau tepatnya orang yang sama meledek aku tadi.

“Dia siapa?” tanyaku ikutin sherly ke gedung yang sama denganku.

“Dia itu ajeng, kepala OB disini, dia gak suka karena ada yang saingin dia kalau soal make up” kata shrely.

“hehe, maaf” kataku senyum.

“Lebih baik gak usah make up, percuma bakalan hilang kena keringat nanti” lanjutnya sesekali menoleh ke belakang, ajeng juga di gedung ini.

***​

Ucapan Sherly benar, aku harus tampil seperti biasa. Tapi bukan aku tak mau, rasanya beda kalau tak make up. Tepatnya tak percaya diri

Aku berangkat dengan pakaian biasa, pekerjaan kemarin lumayan untuk aku lakukan. Karena hampir sama seperti pekerjaan di pembantu di rumah.

Ada satu yang aneh di kantor gedung empat ini, semua yang bersih-bersih harus cewek semua, tak ada cowok pun di gedung ini. Termasuk ajeng.

Selain itu itu, aku harus terbiasa orang lihatin ke arah dada saat mereka melihat ke arahku, kalau sudah gajian aku buat pakaian yang agak besar.

“Anak baru, bersihin lantai delapan sana!” ucap ajeng, saat aku baru saja selesai membersihkan lantai tiga.

“Tapi saya baru selesai” kataku,

“Gak ada orang lagi, kaki gue lagi sakit” ucapnya

“iah,” aku langsung turutin permintaannya, karena aku gak mau buat masalah. Dengan perlengkapan lengkap aku langsung naik ke lantai delapan.

Ruangannya berbeda dengan lainnya, hanya ada satu ruangan di tengah-tengah. Dengan bagian kaca sebagai dindingnya.

Aku gak bisa lihat karena sepertinya ini kaca tak tembus pandang, dan yang jelas disini sepi sekaligus dingin.

Dari pinggiran ruangan aku langsung bersihin, karena sudah waktu makan siang. Kini tinggal sekitar ruangan itu.

Pintunya tak tertutup rapat, aku mencoba menutupnya. Tetapi aku tak sengaja melihat seseorang berdiri jendela sambil memainkan penisnya ke arah luar.

“pletakk” ujung sapu terbentur pinggiran pintu, aku langsung segera turun ke bawah. Aku gak tau dia siapa, yang jelas aku panik sekarang.

“Nia, heeii kenapa?” terpukan pundak sherly saat aku duduk terdiam di depan ruangan ganti. Aku gak mungkin bilang ke sherly soal tadi, karena aku masih takut kalau ini akan menjadi masalah.

“Ruangan paling atas ruangan siapa yah?” Tanyaku.

“Lantai delapan?” anggukan aku pelan.

“Boss kita, anak yang punya perusahaan ini, kenapa?”

“Kamu gak suruh bersihin lantai atas kan?” pertanyaan sherly buat aku terdiam.

“Ajeng suruh aku bersihin lantai itu heheehe, ternyata masih ada orangnya” kataku pelan, sherly langsung melotot saat aku bilang seperti itu. Seolah ini masalah akan besar.

“Serius?, Boss harsa paling gak suka kalau di ruangannya ada orang kecuali memang suruh bersih-bersih!” dan aku tahu ajeng sengaja membuat aku dalam masalah.

“Terus gimana?” sherly cuman menggelengkan kepala, rasanya benar-benar ini masalah besar. Gak lucu kalau aku di pecat gara-gara tak sengaja melihat dirinya sedang seperti itu. apa lagi ini belum satu minggu aku masuk kerja,

Bersambung