Boss Part 9

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23

Harsa-

Andai di hari kedua tak ada nia, mungkin aku meninggal di tempat dengan tubuh yang tak karuan.

Nia yang melihat kondisi bertamabah dengan sigap panggil ambulance, walau orang ambulan sempat kira gue over dosis karena obat kuat.

Kebetulan saat itu memang mulutku agak berbusah, dan cuman pakai celana kolor. Untungnya nia tak memperdulikan omongan itu.

Aku benar-benar keracunan makan, tak hanya sakit perut, melainkan ke muntah-muntah sampai harus di rawat intensif seperti ini selama dua hari.

Selama itu juga tubuhku drop sampai tak nafsu untuk apa-apa termasuk memikirkan buah dada nia.

Kedatangnya kemarin membawa hal postif, termasuk hari ini aku boleh pulang ke rumah. Mama sama papa udah urus adminitrasinya. Jadinya tunggu dokter boleh pulang aku bisa pulang.

“Gimana kondisi kamu har??” tanya kak yua Bersama calon tunangannya, kak yua sendiri adalah kakak ke dua dari ku. Yang beberapa bulan lagi akan menikah.

“baik kok, kak yua berdua doang? Papa mama?”

“lagi cek restoran yang mau buka beberapa minggu lagi” jawabnya santai.

“gue kesini buat urusin admistrasinya, sekalian jengguk adikku tercinta ini udah sembuh apa belum” ledek kak yua.

“restoran kak yua, Satu daerah kan sama kliniknya budi?” angguk kak yua, kalau dari sini lumayan jauh sekitar empat jam. Aku sendiri gak tau percis lokasinya kliniknya. Hanya tau dari omongan aja.

Obrolan sampai dokter datang untuk aku pulang, dan ujung-ujungnya sore aku di perbolehkan pulang.

***​

Aku memilih gak bedrest di rumah, melainkan di apartment, masih ada sedikit rasa lemes, tapi kata dokter hanya butuh beberapa hari memulihkan stamina yang terkuras karena buang air besar terus menerus.

Untungnya kak yua bisa di ajak kerjsama gak paksa aku pulang kerumah, aku juga udah bilang ke nia kalau aku udah di apartement,

itu pun aku bilang setelah satu hari sesudahnya, aku sengaja agar nia bisa istirahat sejenak karena nia benar-benar menjadi seketaris sungguhan selama aku di rawat.

“ting tong” suara bel berbunyi, aku yang masih pakai pakian tidur langsung cek siapa yang datang.

“nia?’ aku langsung buka pintu, itu benar nia dengan pakian kantornya dan juga membawa berkas.

‘siang pak’ katanya langsung masuk begitu saja, kalau orang luar pasti aku bentak karena tak sopan.

‘kamu kok gak kabarin?’

“hehe, ssengaja, takut ada yang curiga’ katanya,

“kondisi pak harsa gimana?’ lanjutnya duduk sambil menarik nafas panjang,

“sudah mulai, kemungkinan besok saya sudah kerja,’ kataku ikut duduk berhadapan.

‘ini saya membawa berkas buat tanda tangan, saya sudah susun sesuai jadwal yang udah pak harsa kasih’ lanjutnya.

‘ok, kerja bagus’

‘oh ia nia, saya penasaran reward apa yang bakal kamu kasih?’ nia langsung terkejut dan terdiam sesaat.

‘ituuuu’

‘udah enam hari loh’ kataku, sepertinya nia masih ragu apa yang mau di ucapkan, pasti si budi yang suruh nia aneh-aneh.

‘soal reward, kata dokter budi, tunggu kondisi tubuh pak harsa fit sampai dua hari berikutnya’ jelasnya.

‘kalau begitu kalau saya gak onani, bakal kasih rewardnya?

‘iah pak besok, andai pak harsa bisa tahan sampai besok, ada rewardnya.’ Lanjutnya.

“ok, saya paham’ aku langsung tanda tangan berkas yang cukup banyak, nia juga info kalau pendapatan perusahan menurun.

Nia datang ke sini seperti jam kerja, jam tujuh sudah ada di sini dan pulang jam empat. Dengan seragam lengkap. Sesusai jadwal kantor

“ting tong” suara bel pintu kembali berbunyi.

“Saya yang lihat pak harsa” ucap nia yang langsung berdiri, dan sedikit ada goyangan yang membuat mataku teralihkan. Ada rasa kedutan di selangkanganin ku melihatnya.

“Siapa?” nia menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku lihat dari lubang pintu,

“Itu papa sama mama, “ aku langsung bukain pintunya,

“paaa maaa’ sapa ku, nia kembali ke tempat duduknya.

“Gimana kondisi kamu, udah lebih baikan?” tanya mama pegang pipi aku cukup kencang sampai bibirku maju.

“ahh mama ah, ada orang gak enak di liat” kataku,

“Siapa itu? Pacar kamu?” tanya papa.

“Haa? Bukan, dia seketaris harsa pa, hehe”

“sejak kapan kamu butuh seketaris??”

“sejak kemarin-kemarin, gak enak ternyata kerjain sendirian” alasanku, karena aku belum sama sekali bilang soal treathment yang aku jalanin. Mama terus perhatiin nia yang menundukan kepalanya setelah tau ini kedua orang tuaku.

“Saya siapkan minumannya” katanya tiba-tiba langusng ke dalam.

“Oh ya har, kamu dapat seketaris dari siapa?”

“ehh? Itu, datang sendirinya, kenal dari budi, kenapa ma?” aku berbohong lagi.

“Kayaknya mama pernah liat dia, tapi ya sudahlah,” ucap mama, seperti biasa papa sibuk menerima telepon,

Baru kali ini mama senyum ke orang yang baru dia kenal, saat nia tersenyum memberikan sirup seadanya, Biasanya mama, terlihat judes ke orang yang baru kenal.

Intinya mama sama papa kesini cuman liat kondisi aku, dan alasan kenapa aku gak milih pulang kerumah.

Dan untungnya tidak tanya mendalam asal usulnya nia, karena aku benar-benar tak tau dia orang mana dan sebagainya.

“Oh ia ma, gimana kabar hara?” pertanyaanku penasaran dengan saudaraku satu lagi yang pergi dari rumah.

“Seperti biasa, dia keras kepala,”

“Terus kak yua nikah dia gak datang?”

“Mungkin, mama berharap dia datang harsa, tapi keras kepalanya melebihi papa kamu,” ucap mama sambil senyum, aku tau senyumnya itu senyum kekecewaaan.

Dan posisi aku sekarang sebenarnya bukan aku yang mau, kalau dalam film drama Namanya menempati tahta yang kosong.

Memang hara yang cocok, kalau aku memilih aku memilih ke bisnis kuliner seperti yua, dan mama.

Jujur jabatan seperti ini menjadi beban tersendiri, apa lagi masalah yang aku alami sekarang. Aku sungguh-sunguh tertekan,

“Oh ia, tadi siapa nama kamu?” tanya mama ke dia yang berdiri cukup jauh sambil tundukin kepala.

“Nia, bu” jawabnya sambil mengangguk.

“ok, umur kamu?”

“sekarang 24 bu, saya baru lulus di…”

“di mana?”

“lulus kuliah di sini, bu ambil D3” jawabnya seperti gugup sama pas pertama aku kenal.

“wah umurnya sama dengan harsa, it’s ok, sama-sama masih muda, harus banyak pengalamn dan masih labil” ucap mama sedikit menyindir dengan melirik matanya kearahku.

Setelah itu nia izin pulang karena tugas hari ini selesai, dan mulai besok aku kembali kerja. Lirikan mama benar-benar seolah dia pernah bertemu nia sebelumnya, pasti mama salah orang aku yakin.

***​

Mada-

Beruntung atau tidak, yang jelas ada dengan adanya klinik dekat sini. Cukup banyak membantu

Jarak rumah sakit dari sini sangat jauh, dan orang-orang sini belum berani kesini karena biaya untuk berobat pasti mahal. Itu paradigma tentang klinik dari masyarakat sini tentang adanya klinik.

Kalau Namanya puskesmas pasti mereka mau, tapi fasilitasnya tak selengkap klinik, jadi mau gak mau mereka berdua harus bekerja ekstra untuk merubah paradigma tentang klinik itu mahal,

Bisa di hitung pasien mereka setelah buka, tidak ada duapuluh orang termasuk gue pasien perdana mereka, dan sisanya orang yang gue sengaja bawa kesana, sekaligus kesempatan mereka berdua berkembang biak saat sepi

“oeee,, mattt.. “ panggil bang acong, dia tukang daging disini, gak biasa-biasa dia panggil gue.

“Uitt bang,” gue cuman lambaian tangan.

“mantab lah, orang macam kao” ucapnya khas orang medan sana.

“Kenapa emang?”

“Bah,,, pala kau sudah tua ternyata.. “

“Seriusan bang, tentang apa?”

“Kemarin manusia tertimpa karung, ingat?” gue baru paham maksudnya, tentang kemarin.

“Kalau tak ada kau, mungkin kakinya putar keatas. haha” tawa khasnya yang sekaligus menyeramkan kalau pertama kali lihat bang acong ketawa

“hehe, biasa aja kok, gak usah di besar-besarkan, “

“Tapi kau mirip pahlawan di pasar sini mat,” nada suaranya berubah seperti orang-orang sini, tak ada nada seperti orang medan sana.

“Bah, lancar kali kau, tak ada logat batak sanaa” balas gue, bang acong cuman ketawa keras, dia kasih tau kalau dia besar disini, jadi logat medan sana tak terlalu kental.

“Cuma kasih tau ke kau, kalau orang kemarin kamu tolong, suruh abang ucapin terima kasih” tepukan beberapa kali di bahu gue.

“Kalau tak cepat-cepat, mungkin kakinya gak bakalan normal,” lanjutnya langsung kembali ke masuk pasar.

Gue cuman senyum lega, karena gue bisa berguna juga disini selain jadi kuli. Ada rasa senang tersendiri saat membantu orang.

***

Gue balik ke klinik itu buat tebus obat, karena orang yang kemarin itu ternyata layak di bantu.

Dan seperti biasa bagian apoteknya sepi, biasanya rena ada disini. Gue tekan terus bell nya sampai satu ruangan berisik sama bel nya sendiri

“Oi ha raa, sorry, gue habis buang-buang aer” ucap rena.

“mau tebus obat yang kemarin,”

“ok, sebentar,” gak pakai lama rena langsung bawain beberapa obat.,

“budi kemana?”

“Pergi kerja lagi, dia cuti buat bantuin sini, mungkin minggu baru balik lagi, kenapa har?”

“gak kok, kwahtir aja kalau lo sendirian dsini, gak ada yang jagain”

“ohh,, itu, ada nyokap kok, lagian tutup gak malam-malam, haha, thanks udah ingetin” senyum dengan gigi gingsulnya. Manis memang senyumnya rena, makanya si budi kebelet mau nikah kalau dah lulus kuliah.

Lihat rena ingat mantan gue yang entah kemana sekarang, mulai menghilang semenjak gue putusin tinggalin semuanya.

“har,, ini obatnya, lo mikirin apa?” ucap rena saat tau gue lagi melamun sejenak.

“gak kok, ok gue mau kasih dulu ya,”

“ok salam yah, ‘ ucap rena kembali masuk ke dalam,

Gue langusng pergi ke belakangan pasar, untuk temuin babeh resin. Jalannya masuk lagi ke gang, dan sampai gue bekas kios.

“beh, ini obat sesak nafasnya, di minum kalau udah kerasa sesak ya,” kata gue.

“eh lo mat, kok tau gue gk narik?, oh ia makasih ya,” ucapnya langsung duduk,

“ya tau lah, kagak narik. Pasti obatnya habis” jawab gue senyum kecil.

babeh resin sendiri tak punya rumah, dia tinggal di bekas kios seperti ini, usianya udah enam puluh tahunan, dia sendiri yang bilang.

Soal anaknya entah kemana, anaknya kerja di luar kota sebagai buruh lepas, di tambah babeh resin kerjaanya jadi pengayuh becak.

Yang gue salut sama dia, walau punya asma akut, tapi tetap kuat bawa sayuran penuh di becaknya.

“oh ini juga, bubur ayam, sama teh hangat, habis itu minum obatnya” kata gue lagi,

“Besok mada cariin kontrakan murah ya” ucap gue pas babeh resin pas makan,

“gak usalah, biaya nambah lagi, urusin diri aja udah bagus, malah pikirin gue.” jawabnya sambil melambaikan tangan menolak,

Liat kondisi sekarang gue cuman bisa bantuin kasih obat, tapi sekarang lebih terbantu semenjak rena bantu secara gratis obatnya,

Awalnya babeh resin gak mau di periksa, dengan bujukan rena akhirnya babeh resin ketahuan punya asma akut. Kebetulan gue gak bisa nimbus obatnya karena belum gajian.

Rena bilang kegue “kasih bayarnya dengan keikhlasan buat babeh resin” dan dari situ dia selalu kasih obat asma kalau udah habis secara gratis.

Dan balasannya gue bantuin dia untuk orang-orang sini berobat ke klinik.

Andai kehidupan kembali normal, babeh resin orang yang pertama gue bantu sampai dia sembuh dan nemuin keluarga suatu saat nanti.

Dia orang yang terpenting sekarang beberap tahun ini, mungkin gak ada dia entah gue jadi kayak apa.

‘sehat yah beh, mada pulang’

‘iah,, jangan terlalu pikiran gue, ‘ ucapnya selesai makan dan langsung makan obatnya. Gue senyum kecil pas lihat babeh resin minum obat seperti itu.

Bersambung