Boss Part 8

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Nia-

Hari ini aku di suruh ke kantor untuk mengambil berkas untuk di tanda tangani langsung oleh pak harsa.

Dan pulangnya aku ke rumah sakit, karena sakit perutnya belum juga membaik, dan juga ia sering muntah saat menelan makanan.

Tapi setelah dua hari di rawat intensif kondisi membaik, keracunan makanannya cukup parah karena kerang yang di makannya tidak matang dan benar-benar mentah, itu kata dokter yang aku dengar.

Aku menerima telepon dari boss harsa kalau ada managernya bernama rudy akan jemput aku sekaligus membawa berkasnya. Dia tak kasih tau orang seperti apa dan hanya bilang dia bakalan temuin aku di loby.

“upss sorry” ucap seseorang yang menabrakku saat dia masuk masuk ke lift buru-buru, Bersama orang yang aku kenal yaitu sherly.

“iah gpp” jawab gue pelan sambil masuk ke dalam membawa tumpukan berkas. Sherly hanya terdiam seolah kami tak saling kenal, mungkin ini karena ada orang ini sherly jadi jaga jarak.

“seketarisnya pak harsa?” tanyanya saat sherly keluar di lantai dua

“Iah”

“oh, saya rudy, pak harsa sudah kasih informasi soal saya?” gue cuman angguk-anguk aja, dan ternyata orang yang kemarin Bersama sherly bernama rudy.

“ok baiklah, kita langsung ke rumah sakit, “

“saya bantuin bawa” ucapnya langsung meraih berkasnya, tapi tangannya seperti sengaja menyetuh buah dadaku sebelum mengambil berkasnya.

Aku langsung masuk ke mobilnya, duduk paling depan. Sedangkan berkasnya di bangku belakang.

“Kondisi pak harsa gimana? Saya belum sempat jengguk” tanyanya buka pembicaraan saat perjalanan.

“Udah lebih baik, hehe” jawabku, aku tau matanya terus melirik ke arah buah dadaku, untungnya aku memakai blazer agak besar jadinya tak terlalu menonjol saat duduk.

“Udah enak dong jadi seketarisnya?” tanyanya lagi.

“Enaknya?”

“Yah, setau saya pak harsa tidak butuh seketaris, kecuali buat ada ituunya dah” lanjutnya cengegesan. Aku terdiam sejenak, jangan-jangan pak rudy tau soal itu.

“Berapa sekali main?” tanya lagi, pas saat parkiran

“haa?”

“maaf saya tak serendah itu,” senyumku.

“ahh jangan gitulah, tapi saya senang sama orang munafik,’ senyumnya, aku cuman buang muka dan menghiraukan pertanyaannya.

“biasanya orang munafik itu, bisa pasrah juga kalau di gempur loh’ kupingnya semakin terasa panas, untungnya sudah masuk ke halaman parkir rumah sakit. aku bisa menahannya

“terima kasih, sudah antar’ kataku langsung buka pintu dan buka pintu belakang buat ambil berkasnya.

“sama-sama awas jatuh, gunungnya” ucapnya lagi pas aku menutup pintu.

“cihh” aku gumam sendiri, ternnyata seorang manager seperti dia menatap rendah seseorang dari penampilannya. Dan jelas sherly hanya menjadi tempat melepas nafsunya dengan iming-iming uang,aku yakin itu.

***​

“Selamat siang pak harsa” ucapku masuk perlahan, pak harsa terlihat masih berbaring sambil menelpon seseorang.

“Kamu sendirian?” tanyanya

“Tadi di antar sama pak rudy” jawabku sambil menaruh berkas-berkasnya.

“Terus dia dimana sekarang?” aku cuman terdiam karena aku tidak tau dia dimana, aku tinggal dia karena terbawa emosi.

“hehe tadi sih di parkiran pak, tapi saya duluan “ kataku,

“ya sudah, siapain dokumennya” pintanya, aku langsung menyiapkan meja kecil yang biasa buat makan, tetapi kali ini mejanya buat tatakan dokumen-dokumennya.

Pak harsa terlihat serius saat membaca sebelum ia mendatangani dokumennya. Serius seperti itu ternyata terlihat tampan,

“Kamu lihat apa?” tanyanya buat aku tersadar lamunanku,

“Eh anuuu, ngak pak” aku langsung menundukan kepalaku, karena kali ini menatapnya dari sudut ke sudut wajahnya cukup lama.

“kondisi pak harsa selama dua hari apa merasa libidonya naik?’

“haaaaa~ pasti ini budi yang suruh tanya kan?’ angguk aku, memang dokter budi yang suruh menanyakannya.

“selama di rawat dua hari jujur gak ada rasa ingin ekresi atau semacamnya, saya benar-benar lemas,”

“oh ok, saya catat’ lanjutku.

“Kalau pak harsa sudah sembuh, baru lanjutkan threatment nya/” ucapku. Pak harsa harus menoleh ke arahku.

“lanjut? bearti ada kemajuan?’ tannyanya, aku sendiri gak tau soal itu.

“bisa jadi , tapi selama pak harsa di rawat disini, dokter budi lagi pulang kampunng katanya, nemuin istrinya” lanjut aku, di tambah aku baru tau kalau dia sudah menikah muda.

“ok, kalau itu saya tau.”

“dan satu lagi, ada reward selama pak harsa tak ekresi selama dua hari” senyumku, entah kenapa aku berani berbicara seperti ini. Yang jelas aku berharap pak harsa menaikan gajiku. ini hanya ide aku.

“dokter budi?’ angguk aku berbohong.

“wah, saya harus nambah biaya lagi sepertinya” ucapnya tanpa ekpresi, atau pak harsa tau kalau aku ada maunya dengan bilang seperti ini.

‘oh ia, tagihan credit card saya ada dua puluh lima juta loh, isinya belanja pakaian’ ucapnya datar, aku langsung ingat soal belanja waktu kemarin, apa mungkin sampai segitu.

‘maaf pak, saya khilaf’

‘sudah lupakan, anggap aja bonus selama saya gak ekresi dua hari’ lanjut sambil terus tanda tangan setiap lembar demi lembar, rsanya seperti kena tampar dengan ucapan aku sendiri.

“saya seriusan loh,” lanjut tatap aku cukup lama, aku sendiri gak berani menatapnya.

“serius pak?’ angguknya seoalh meyakinkan aku kalau itu benar-benar bonus.

“yeeyyyy terima kasih pak” ucapku kegirangan sampai boss harsa menatap tajam ke arahku lagi, seolah aku suruh diam.

“Siang pak harsa, maaf saya telat, karena ada urusan mendadak” suara pak rudy membuat mood aku langsung turun, aku pilih menjauh dari boss harsa.

“Selesai, besok serahkan semua berkas, saya sudah tanda tangani” ucap pak harsa ke pak rudy.

“Siap pak, “

“Kira-kira kapan pak harsa kembali ke kantor?”

“Secepatnya, nanti saya kabari lewat nia, saya sudah membaik sekarang. “

“Baik pak, saya informasi ke lainnya, saya permisi untuk pamit.”

“Kamu boleh pulang nia, ikut rudy sekalian pulang” senyum pelan boss harsa, begitu juga rudy ternseyum aneh ke arahku.

“saya bisa naik taksi’ jawabku dan lagi boss harsa melihatku seperti itu.

“baik pak” aku menerima pulang Bersama pak rudy,

***​

Aku hanya terdiam karena konflik dengan pak rudy tadi, tapi dia terus sedikit melirik aku, seolah penasaran denganku.

“sepertinya takdi kita satu mobil lagi” ucapnya cengengesan saat aku baru masuk ke mobil.

“Oh ia, kamu bukannya jadi Office girl ya, saya seperti melihat kamu di Gedung itu,” lanjutnya tanya saat aku diemin dia.

“iah,”

“Ohh ya ya, tapi lebih cantikkan sekarang, gimana kita ke café minum sebentar?” ajaknya

“gak usah saya, mau ke mall dulu beli perlengkapan make up” kataku berusaha pak rudy menyudahi pembicaraan ini.

“Kebetulan, aku beliin peralatannya, tapi kita nge date hari ini gimana?” senyumnya mesumnya semakin tertera, kalau dia seorang buaya darat.

“gak usah terima kasih pak, lagi pula tidak enak dengan sherly, pacar pak rudy” celetuk begitu saja.

“Kamu kenal dia?, dia cerita ke kamu?” tanya dengan nada serius.

“hee??, maaf, saya cuman lihat pak rudy sama sherly seperti saling pandang, kadang berjalan berdua entah kemana” kataku seadanya.

“Di depan sana saja saya berhenti,” kataku bersiap-siap turun, dari sini gak jauh dari mall, padahal aku gak berniat kesana.

“lagi pula dia bukan pacar saya, hanya sebatas teman saja, “ senyumnya pas aku membuka pintu.

“dia teman melepas Lelah “ lanjutnya di ikuti senyuman mesumnya,

‘Astaagaaaaaa” gumamku merasa gerah, karena bertemu dengan orang semacam dia, tak malu-malu untuk mengucamkan sesuatu, tak seperti bossnya.

“terima kasih antarnya,’ saat lihat mall udah tak jauh dari sini.

‘kalau berubah pikiran buat ngedate call me,’ ucapnya tepat depan mall,

‘dan jaga gunungnya jangan sampai meletus’ tawanya antar mengoda atau meledek, dia pun langsung pergi,

Aku memilih ke starbuck, untuk istirahat sejenak sambil melihat social media, menghilangakan pengat dari orang bernama rudy. aku senjenak melihat teman-temanku yang entah kemana sekarang dan susah di hubungi.

Sepertinya mereka tak kehilangan teman untuk kumpul, semenjak aku berada di bawah. Rasanya sedikit sesak di dada. Dan mereka baik-baik saja tanpa ada aku.

Setidaknya masih ada yang perduli sama aku, yaitu cowoku ares,

aku pacaran sama dia belum terlalu lama, karena dia teman bisnis papa, tapi selama ada di bawah dia mulai susah di hubungi sampai sekarang, yang terakhir aku dengar di udah bekerja di posisi cukup tinggi di perusahaan yang entah dimana.

“ayooo san… berpikir positif, kamu haya sekedear membantu, tak lebih, jangan menganggap kamu rendah” gumam aku ke diri aku sendiri. Menilai apa yang aku lakuin ke bos harsa sekarang.

Aku langsung cek saldo rekening, ternyata ada uang cukup untuk membeli AC, aku harus pentingin yang lain, habis itu baru aku beli make up sisanya.

Selesai istirahat aku naik taksi untuk pulang, tapi sebelum itu aku ke toko elektronik buat beli AC, aku juga udah minta tolong ke mada untuk bawa ke rumah,

Aku pulang bersama mada yang membawa satu set AC, di motornya aku jalan kaki karena gak muat berboncengan di motornya.

“Kamu di antar siapa?” tanya mama

“oh itu.. dia mada, panggilannya mamat, orang yang baik bantu aku pagi-pagi berangkat kerja” aku belum cerita ke mama kalau aku punya teman disini. Mama cuman senyum kecil seolah senang aku punya teman di sini.

“oh aku udah beli AC, nanti hari minggu bakalan di pasang, ehhe..”

“DI kamar kamu aja ya, sama albert, mama sama papa pakai hexos sudah cukup”

“tapi kenapa gak pindah ke kamar sebelah?,”

“Itu kan Gudang,” aku lupa samping kamarku Gudang yang terlalu besar, tapi cukup menyiman perabotan lainnya.

Mama terus lihatin mada, seperti lihatin copet. ” dari luar penampilan dia baik kok ma, orang pasar banyak kena;’ kataku ke mama.

“bukan itu san, sepertinya mama pernah ketemu di pasar,’

“ya wajarlah dia familiar di pasar, hehe’

“makasih mada,, ini buat bensin’ kataku kasih duapuluh ribu saat mada udah bawain ke dalam rumah,

“okeh, makasih banyak, ‘ mada langsung pulang, tapi mama terus perhatiin dia seperti penuh curiga, pasti curiga aku lumayan akrab sama mada, orang yang belum mama kenal sama sekali. dan aku juga entah kenapa bisa lumayan akrab sama dia.

Bersambung