Boss Part 7

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Harsa-

Semalaman aku benar-benar tak bisa tidur, bukan karena libido aku naik lagi tetapi, pertama kalinya aku merasakan sakit perut seperti ini. Hampir 2 jam sekali buang air besar. Rasanya badanku terasa lemas hari ini,

Dan sianganya aku langsung info ke nia kalau aku tak kantor, membatalkan meeting termasuk janji sama client dan dia boleh masuk apa tidak. Aku memilih menunggu budi di sini sambil membawa obat sakit perut.

Aku harap nia bisa membantu karena kembali mengundur jadwalnya,

Hampir satu jam, budi akhirnya datang, aku hanya tergeletak lemas sambil pegang perut.

“gue periksa dulu har…” aku cuman meringis pasrah.

“keracunan makanan lo ini, makan dimana?”

“makan makanan sushi gitu’ jawabku.

“bisa jadi itu penyebabnya, dan lo minum ini, jangan minum obat treatment dulu selama sakit perut lo sembuh.”

“kalau belum membaik, gue panggil ambulans dan harus di rawat inap”

“seserius itu kah?”

“iahlah, jangan anggap remeh keracunan makanan. Dan lo beruntung gak mual-mual, mungkin tahap berikutnya seperti itu. ”

“dan?” tanya gue.

“Efek lo lemes aja, dan mungkin kesempatan bagus lo test liat tubuhnya nia bisa ekresi apa ngak” gue tau maksudnya budi.

“Kalau hasilnya ekresi?”

“berarti belum ada kemajuan sama sekali, karena orang normal sakit seperti ini susah buat untuk ekresi, andai lo gak pengaruh, pertanda belum ada kemajuan”

“paham?”

“iah gue paham”

“gue beli makanan buat lo, biar gak kosong oke” aku langsung ambil bantal guling menahan sakit perut.

***​

Obat yang di makan sebelum makan membuat gue tertidur, mungkin efek tadi semalam tak tidur juga makanya aku langsung pulas.

“Pak harsa, ini makanannya” suara nia terdengar samar-samar. Dan suara itu semakin nyata, aku langsung membuka mata perlahan,

Benar itu nia, tetapi tubuhku masih terasa lemas.

“Kamu ngapain?” tanyaku pelan.

“ini makanannya, nasi hainam, di makan dulu” kata nia yang sudah menyiapkan di piring.

“Budi yang kasih tau ini?”

“iah pak, “

“kenapa kamu gak pulang aja?”

“Ini masih dalam masa kerja pak, jadinya gak enak kalau saya pulang, dan saya juga ubah jadwal meeting di ubah sampai pak harsa lebih baik’ jawabnya,

Aku cuman tersenyum liat nia yang bisa bekerja dengan baik sebagai seketaris, dan partner. Keduanya bisa ia lakukan dengan baik.

‘saya lemas tak bisa pegang sendok’ ucapku setelah nia menyiapkan nasi hainam yang di belinya.

“saya harus suapin pak?” anggukku, padahalaku bisa makan sendiri tapi kesempatan buat tes apakah ada kemajuan apa ngak.

‘kamu di antar sama budi?” tanyaku di sela-sela makan.

‘iah dokter budi jemput aku di kantor, katanya pak harsa sakit’

Walau sakit perut nafsu makan gue masih stabil, nasi hainam ludes tanpa sisa. Dan masih terasa nyeri di perut. Tapi tak terlalu parah seperti tadi.

‘ini minumnya’ aku sengaja menyenggolnya sampai tumpah tepat di celanaku.

‘maaf pak,’ terasa tangan nia menyentuh penisku yang setengah ekresi, aku sengaja tak memakai celana dalam karena efek buang air besar tadi malam.

Selesai mengelap celanaku, Nia membawakan obat setelah makan, dia sudah di beri tahu semua dari budi. Hari ini beruntung karena tak perlu susah-susah minta bantuan orang lain.

“ahh siall mules lagii’ gumam gue, berusaha bangun,

“Saya bantuu pak” ucap nia tiba-tiba pegang tanganku, rasanya seperti orang lansia kalau seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, rasanya memang lemas kalau berjalan.

“braatttttt… breettt brotttttt’ suara yang keluar, tak ada ampas lagi yang keluar, sisanya rasa lemas yang melanda

“Niaa,kamu ada di depan?”

“iah pak”

“tolongg saya,, gak bisa bangun’ nia masuk dan menuntun aku lagi ke tempat tidur.

“Maaf repotin” kataku rebahan di tempat tidur. Jujur andai gak ada nia disini aku udah buang air besasr di celana.

“ini obatnya gak di minum juga?” tanya nia saat membawa obat yang ada di samping tempt tidur

“bukan, itu bukan obat untuk sakit perut, itu untuk treatment”

“seserius itu kah masalah itu harus pakai obatt?” tanya nia terkejut, aku cuman mengangguk dan menjelaskan berapa kali harus aku minum agar bisa menahan untuk tidak gampang ekresi.

“saya harap kamu bisa membantu sampai akhir ya’ kataku pelan.

‘iah, pak’ wajahnya seperti merasa kasian terhadapku,

‘sudah dua puluh empat jam, pak harsa merasa mau onani?’ katanya tiba-tiba, ini pasti tujuan utama si budi, bukan untuk membantu aku, melainkan mau test sampai mana hasil terapi bersama nia.

‘saya tidak terlalu nafsu’ ucapku berbeda dengan kondisi penis yang tiba-tiba menegang, nia tiba-tiba ketawa geli melihat benda tumpul muncul di celanaku.

Nia langsung membuka pakaiannya menyisakan rok seperti biasanya, dia langsung naik ke tempat tidur membuka perlahan celanaku.

‘”bisa-bisanya tegang kondisi kayak gini” gerutuku agak kesal, terasa perlahan tangannya yang terasa halus mengocok penis perlahan naik turun,

Dari raut wajahnya berbeda seperti yang kemarin, kali ini dia melakukan tanpa di suruh.

“ohh” penisku keluar masuk di mulutnya dengan perlahan, ini membuat rasa nyeri di perut menghilang sesaat di gantikan rasa nyeri di kepala penisku.

Nia tiba-tiba menjepit penisku dengan kedua buah dadanya,di gerakannya naik turun beberapa kali, sambil terkadang melumat kepala penisku.

Dari sini aku bisa melihat posisinya dia agak menungging. Sampai tak sengaja ujung jempol kaki mengeenai selangkangannya, tepat di vaginanya.

Nia tak menghiraukannya, aku kembali sengaja mengenainya dengan jempol kaki dan mengelusnya perlahan.

“enggh” lenguhnya langsung menjepitkan kedua kakinya saat jempol kaki aku menekan tepat belahan vaginanya,

“kenapa?”

“kaget aja hehe, maaf pak” ucapnya langsung kembali melumat lagi. Yang sudah cukup lama dia memainkan penisku.

“aaahhh niaaaaaa..” desah langsung klimaks di buah dadanya,

“crattttttttt” wajahnya terkena semportan spermaku. Walau sambil tiduran aku bisa melihat wajahnya berceceran spermaku. Termasuk buah dadanya.

Nia langsung berdiri pergi ke kamar mandi sambil membawa pakiannya, sekarang tinggal aku yang tergeletak semakin lemas.

***​

Hara-

Udah beberapa hari ini gue gak anterin pulang si nia, dia bilang pulangnya telat karena harus menunggu bossnya pulang baru dia boleh pulang.

Otak di kepala sama otak di selangkananya bertolak belakang,

“Oii matttt bengong aja lo, udah sore kagak pulang ?” tanya bang kumis yang baru aja kirim pesanan sayuran.

“ini mau, emang mau anterin?”

“dih, ogaahh., kalau cewek sih anterin, lah lo batang, ogaahh” celetuknya sambil ketawa lepas. Pedes memang celetukanya bang kumis. Tapi itu yang bikin gue care juga terhadap bang kumis.

Gue menanggap celetukannya adalah sesuatu kejujuran yang keluar dari mulut. Gue putusin siap-siap mau pulang, hari ini juga gue gak anter si nia pulang.

***

“Brak” suara yang langsung di ikuti teriakan, suara itu berasal dari truk yang lagi bongkar terigu.

Gue langsung taro motor, langsung kearah sana. sesuatu jatuh dari truk bongkar muat terigu.

“minggir” kata gue pas lihat seseorang menjerit kesakitan, dan ternyata kakinya seperti patah tertindih tumpukan terigu.

“Jangan di angkat!!” teriak gue saat mereka tak mengetahui kakinya patah. Gue langsung ambil papan panjang bekas keranjang buah,

“Tali atau tambang cepetaannnnnn!?” pinta gue setelah pegang tulang lututnya tertekan ke dalam, dan dia meringis kesakitan saat gue coba ikat kakinya dengan papan lagi.

“jangan sampai geser, tulangnya tertekan ke dalam.” Kata gue pas dia di angkat ke mobil, dan di larikan ke klinik terdekat. Gue lebih duluan ke klinik.

“Pasieeeeennnnnn!” teriak gue dari depan parkiran yang sepi.

“oii Budiiii, Renaaa” teriak gue lagi lagi.

Gak lama mereka berdua keluar sambil merapihkan pakaiannya, “settt dah, mentang-mentang pengantin baru, ngentottt terussss” mereka cuman menyeringai,

“mana pasiennya?” tanya budi, dan rena.

“mau kesini, patah kaki” budi sama rena langsung siapin perlengkapannya,

Mereka berdua pemilik klinik ini, karena mereka berdua seorang lulusan dokter. setelah itu mereka berdua nikah tahun kemarin. Dan klinik ini juga baru buka belum lama, makanya masih sepi.

Gak lama mobilnya datang,

“tulang lututnya tertekan ke dalam gara-gara ketimpa tumpukan karung terigu, “ kata gue pas rena mau periksa,

“Mau kemana har?” tanya budi.

“Pulang lah, tugas gue dah selesai, gatel kena tepung badan gue, “ jawab gue.

“Oh ia, jangan lupa nama gue disini mada atau mamat okehh” kata gue senyum dikit., mereka berdua juga tahu masalah gue.

Tapi mereka gak tahu kalau gue tinggal daerah sini udah lama, sampai beberapa bulan lalu gue gak sengaja kesini karena sakit perut gara-gara salah makan.

Rena kebetulan yang jaga klinik, dan mengenali gue pas lagi periksa, walau tampang gue berubah dia masih tau gue dari ciri-ciri bau nya. itu yang dia bilang pertama kali ketemu gue.

Kalau budi, pastinya rena bilang ke dia. Tapi mereka gak ikut campur dan merahasiakan kalau gue tinggal disini.

Gak seperti iwan yang selalu kabarin soal kondisi gue,

Tak lama mobil yang angkut pasien patah kaki pun datang, budi sigap membawa tandu agar kakinya tak geser.

Dari belakang pintu gue perhatin budi sama rena kompak memberi pertolongan, kalau telat dikit atau geser dikit pasti masalahnya semakin tambah, semoga tak separah apa yang gue lihat.

Saat perjalan pulang, tanpa sengaja sampai pertigaan gang, gue liat ibu-ibu yang kemarin gue bantuin belanjaannya, dia berjalan ke salah satu rumah, rumah yang dimana gue pernah antar nia kesana.

Atau jangan-jangan dia mama nya nia, “Pantes aja gede, “ celetuk gue tanpa sadar. Tapi biasanya kalau cetakan dari sana gak bisa di ubah.

Bersambung