Boss Part 6

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

-Nia

Rasanya masih ada yang menganjal di tenggorkanku, Pertama kalinya aku menelan sperma.

“san kamu kenapa,? tanya mama pas aku habisin satu jus jambu karena untuk membuang rasa yang aneh di tenggorokanku.

“hehe iah mah, panas dalam“ kataku tutup kulkas.

“gimana hari ini?”

“lancar ko mah, tapi aku belum terbiasa aja kali yah,”

“tapi mama jangan kwahtirin aku yah, aku udah kerja dan semoga aku betah dengan pekerjaan aku sekarang” lanjutku.

“iah, makan dulu, mama tadi belanja ke pasar buat irit jangan beli makanan terus” aku cuman senyum aja,

‘kamu beli apa lagi?’

“pecel ayam, hehe katanya enak’

‘beli empat?’

‘iah, buat mama albert aku,’ kataku

‘papa?’

‘kan gak pulang, jadinya aku makan dua’ awal sih ia, tapi seperti keadaan belum bisa memperbaiki hubungan aku sama papa saat ini.

Aku langsung menuju kamar buat mandi, albert sedang di kamar juga karena baru selesai mandi juga.

“Ahhh segerrrrrr” rasanya semua masalah rontok untuk sementara, saat satu dua gayung penuh air membasahi tubuhku.

Aku langsung memperhatikan wajahku di cermin kamar mandi, sambil memejam kan mata sejenak, teringat kembali siang tadi.

Aku iseng meramas buah dada aku karena kembali tercium aroma seperti sperma di hidungku, padahal aku udah minum banyak untung menghilangkannya, tapi lama kelamaan baunya juga gak buruk ada sensasi tersendiri.

“Siapa itu” jerit aku kaget saat terdengar denyit pintu seperti terbuka, tapi pintu kamar mandinya masih tertutup rapat, aku langsung cepat-cepat keluar kamar mandi.

Gak mungkin albert, dia sedang makan malam sama mama pas aku udah selesai berpakaian. Sepertinya aku halusinasi.

“kamu gak di gigit nyamuk san? Pakai celana hotpants gitu?” tanya mama.

“panas ma habisnya, nanti gajian aku beli ac yah, eheh” kataku langsung duduk makan malam bertiga.

Albert seperti terlihat beda, dia pendiam saat melihat aku. Mungkin dia ada masalah di kampusnya.

Malam ini hawanya memang panas, aku sudah pakai tangtop pun masih terasa gerah. Kipas angin juga tak terasa.

Suaraa pesan masuk, ternyata dari bos harsa.

“Nia, sorry saya ganggu, untuk besok kamu bilang untuk undur jadwal rapat dan info ke seluruh staff, terima kasih”

Isi pesan yang buat aku terkejut, ini sesuatu yang baru aku belum lakukan, bos harsa langsung kasih kontak para staff perusahaan membuat aku langsung menelan ludah.

‘iah siap’ kataku balas,

Hawa panas tiba-tiba hilang karena aku harus merangkai kata-kata untuk memberi tahun para staf lainnya.

Di tambah informasi ini melalui email, aku harus memasikan nama -namanya tak ada yang terlewat karena hampir dua puluh orang.

Selesainya boss harsa meminta mengatur ulang jadal yang di tunda ke hari berikutnya, bearti email yang tadi aku kirim ke semua staf sia-sia.

“kenapa gak bilang dari awal , kalau jadwal di undur jadi besok~~, simpleee!!~~’ gumamku agak kesal,

Terpaksa aku menulis ulang..

Seperti hari biasanya aku menunggu boss harsa di depan ruangan, gak boleh masuk sampai dia datang.

“Pagi pak boss” sapa aku, saat dia datang,

‘panggil saja pak, jangan pak boss oke’ senyumnya kecil kearahku membuat aku sedikit salah tinggkah.

“Nia,” panggilnya buat aku berdiri dari mejaku.

“ya pak”

“Untuk kemarin maaf ya, saya sangat tidak bisa mengontrol diri sendiri kalau sudah seperti itu.” ucapnya blak blakan,

“hmm itu” wajah aku langsung memerah mengingat itu kembali.

“Dan rasanya aku gak tahan lagi, apa kita bias lakukan lagi?” lanjutnya.

“Haa ?”

“tapi menurut dokter budi kalau keinginan pak boss harus tahan sampai minimal dua puluh empat jam”

‘bearti belum dua puluh empat jam sekarang’ gumamnya menggaruk dagunya.

‘iah pak,’

‘tapi nanti siang saya ada makan siang sama orang tua saya, baiklah kalau gitu’ senyumnya,

Aku kembali ke tempat duduk, dan secara gak langsung alasan jadwal harus di ubah karena hanya ingin makan siang bersama keluarganya, sedikit salut sama pak boss harsa.

Jam makan siang pun tiba, bos harsa langsung keluar ruangan, tapi dia berhenti di depan pintu. Aku berharap tidak di ajak makan siang.

“haaaaa” aku bernafas lega bos harsa memang tak mengajak aku, tapi aku terlalu percaya diri untuk di ajak makan siang Bersama keluarganya.

Aku memilih ke kantin bawah,

“Ahh iseng banget ini orang pencet lantai” gerutu aku kesal karena lift berhenti di setiap lantai, tepat di lantai empat, aku melihat sherly membawa perlengkapannya melangkah ke ujung ruangan.

Aku langsung keluar hanya ingin menyapa, tapi sayang aku melihat serly sedang berciuman dengan seseorang dengan berpakaian rapih,

Perawakannya tinggi, putih dan sedikit mempunyai bewok, sherly sepertinya menikmatinya berciuman dekat jendela.

Memang lantai empat di jadikan sebagai Gudang, tapi bukan Gudang kumuh, melainkan Gudang yang sangat rapih.

Mereka tak menyadari aku sedang memperhatikannya, sekarang serly melakukan hal yang sama seperti aku kemarin, yaitu blow job sambil berlutut.

Seragam serly pun di copot satu persatu sampai serly benar-benar telanjang bulat, begitupun cowok itu, mereka berdua telanjang bulat.

‘ouuhhhh’ desahnya cukup keras tapi tertahan oleh mulut pria itu, aku memilih bersembunyi di tembok.

Serly berpegangan di kursi sambil sedikit menungging. Perlahan cowok itu memasukan penisnya dari belakangan. Dengan satu hentakan serly menjerit pelan,

‘aggh aghh aghh agghh’ hanya desahan nikmat yang keluar dari sherly, sesekali pria itu menamoar pantat sherly.

Tak hanya sampai itu, dari belakang buah dada sherly di remas sambil mereka berciuman lagi, sambil kakinya di angkat satu, penis pria itu keluar masuk dengan posisi seperti itu.

“Ahh” aku kaget saat ponselku berbunyi lumayan kerasa sampai serly dan cowok itu terkejut juga.

Aku langsung buka lift dan naik lagi ke lantai atas, jantung aku langsung berdebar keras dan kembali ponsel aku berbunyi, yang ternyata bos harsa.

“halo pak”

“kamu dimana?”

“di lift pak mau naik ke ruangan, ada apa ya pak?”

“tolong ambil paket di lantai bawah, di ibu ayu, apa sudah sampai belum”

“baik pak” aku langsung pencet kembali ke lantai bawah dan entah kenapa berhenti di lantai empat.

Pintu kembali terbuka, dan sherly masuk membawa perlatannya. Yang tadi aku lihat.

“Niaaa hiiii” sapa sherly. Senyum lebar.

“hii “ jawabku, seolah tak terjadi apa-apa.

“ih jarang ketemu udah jadi seketaris bos harsa” bisiknya, tetapi saat pintu lift mau tertutup, ada seseorang masuk, dan cowok itu mirip dengan yang tadi aku intip bersama sherly.

Tetapi mereka tak saling sapa, aku juga langsung terdiam sampai cowok itu keluar di lantai dua.

“itu siapa?” tanyaku ke serly,

“tadi?”

“bawahan bos harsa, bisa di bilang salah satu manager di divisi saatunya, aku lupa hehe” jawab sherly santai. Nafas lega karena sherly seperti tak curiga kepadaku

“aku duluan, lain kali kita ngobrol ya’ anggukku saat dia keluar, jujur dia yang paling baik sama aku di kantor ini.

Entah barang apaa yang di beli bos harsa, kotaknya lumayan besar, tapi tak berat. Dan kenapa harus aku yang bawa barangnya.

Atau ini barang penting, atau juga berkas penting, atau obat terapinya, yang jelas aku taruh di mejanya,

***

Jam sudah menunjukan pukul satu siang, yang harusnya para karyawan sudah makan siang, tetapi aku belum.

Karena melihat kejadian sherly sedang bermain kuda-kudaan, di tambah harus mengambil paket yang di titip sama ibu ayu.

“Selesai” gumamku duduk di tempatku berada sambil tunggu bos harsa datang. Aku langsung teringat untung membantunya untuk klimaks lagi, ini sudah dua puluh empat jam dari kejadian kemarin.

Suara pintu terbuka, aku langsung duduk tegap berpura-pura sedang mengecek sesuatu, tapi langkahnya semakin dekat.

“Sedang apa?” tanya bos harsa.

“Cek jadwal pak,” tedengar suara ketawa kecil,

“Kalau gak ada kerjaan, gak usah pura-pura kerja, masa buku kosong kamu cek” ucapnya langsung melangkah pergi. Aku hanya menghela nafas panjang, sekaligus tersipu malu.

“Kamu tolong bukain paketnya, “ pintanya dari tempat duduknya. Aku langsung membuka dekat meja kerjanya. Karena bos harsa menyuruhku membuka paketnya disini.

“ini kan pakian wanita?”

“iah, kamu suka?”

“heee? Saya pak?”

“iah baju untuk sehari-hari, anggap saja hadiah buat kemarin” ucapnya.

“uhmm, tapi pak” ucapku ragu karena bukannya aku gak mau terima, tetapi ukurannya terlalu kecil, aku pakai pasti langsung ketat.

Walau hanya pakian sehari-hari tapi ini barang cukup bagus sekitar satu sampai dua juta.Aku bisa tahu dari bahannya, sayangnya label harganya hilang, kalau ada pasti benar harganya seperti itu.

“saya terima pak”

“Dan sekarang, sudah dua puluh empat jam kan? Sesuai ucapan kamu?” aku menangguk setelah merapihkan paket yang di kasih boss harsa

Aku langsung melangkah ke tempatnya, boss harsa yang sudah siap. Duduk dengan celana yang sudah di buka dari sini aku bisa lihat penisnya yang sudah berdiri tegak.

Dan dia langsung membuka tirai sampai aku bisa melihat Gedung – Gedung dari sini, termasuk jalan raya. Di tambah jendelanya yang benar-benar besar, bisa di sebut dinding kaca.

Bos harsa memutar tempat duduknya sampai aku membelakangi jendelanya, sesekali aku menoleh ke luar, rasanya mengerikan sekaligus merinding saat melihat ke bawah.

‘pakai ini,’ pintanya kasih hand sanitizer,

‘aku mau pakai tangan dan mulut kamu bersamaan’ lanjutnya, aku diam sejenak.

‘tak melanggar perjanjian kan?’ tanyanya saat aku memakai hand sanitizer, aku mengangguk karena memang taka da perjanjian sedetail itu,

Aku langsung gengam penisnya dengan pelan sambil mengocoknya perlahan, warna kepala penisnya terlihat masih cerah, seolah ini penis belum pernah di mainin atau semacamnya.

Gak lama aku langsung memasukan penisnya ke mulutku, “slrruuuuppppsssss’ aku coba hisap kepala penisnya dengan menahan nafas,

‘ogghhhh’ aku merasa boss harsa menekannya sampai terasa masuk ke tenggorokannku,

Aku kembali mencoba melumatnya sambil mengocok penisnya, aku lakukan sebisaku, menjilatnya.

“Laporannya sudah saya terima, ambil di ruangan saya sekarang” ucap bos harsa, buat aku menghentikan kegiatanku sambil menoleh kearahnya dengan mulut penuh penisnya.

”lanjutin aja, enjoy aja” pintanya, menutup tirai ruangannya, dan memutar tempat duduknya.

Terdengar suara ketukan pintu, dan bos harsa meminta ku masuk ke dalam kolong mejanya, dan aku kembali melanjut blow jobku,

“Silahkan,” ucapnya saat seperti ada dua orang masuk ke dalam ruangannya, membuat aku menghentikan gerakan mulutku.

“buka atasnya’ ucapnya sambil menyentuh buah dadaku dengan jempol kakinya, aku pun menurutnya membuka kemeja dan bra.

“iayah begitu” lenguh bos harsa di sela-sela di berbincang-bincang dengan seseorang, tapi jari-jari kakinya tak mau diam menyentuh putingku beberapa kali.

“Saya pamit pak harsa, terima kasih banyak,” ucap dua orang tamunya yang entah membahas apa karena aku sedang sibuk berusaha membuatnya klimaks.

“kamu boleh keluar’ pintanya, aku berjalan merangkat keluar dari kolong meja,

“yeah, good girl, tekan yang dalam” lanjutnya lagi, bos harsa menekan penisnya dalam-dalam. Erangannnya di ikuti sesuatu yang masuk ke kerongkonganku lagi.

Hal itu membuat aku kembali tersedak, di ikuti semburan yang keluar dari penisnya langsung masuk ke kerongkonganku, entah berapa banyak tapi yang jelas ini lebih banyak dari yang kemarin.

‘gleggg.. gleggggg’ aku menelannya seperti meminum jelly di gelas,

“plop” suara penisnya lepas dari mulutku, aku jatuh terduduk sambil mengambil nafas banyak-banyak.

“kamu gak apa-apa?” tanyanya membantu aku bangun, bos harsa memberikan tissue basah untuk memberishkan mulutku.

“maaf nia, di luat control lagi, ‘ gumamnya menggaruk kepalanya, aku angguk pelan sambil mebersihkan mulutku dengan meludah di tissue, sayangnya hanya sedikit, sisanya tertelan lagi. dan lanjut merapihkan kemejaku.

bersambung….