Boss Part 5

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Harsa-

Beberapa Hari ini yang membuat pikiran aku campur aduk, Antara takut, bingung karena apa yang aku ambil sekarang keputusan bena atau tidak menjadikan nia partner.

Tak ada yang tau masalahku, kalau aku kasih tau masalah yang aku hadapi sekarang bisa-bisa mereka akan berpikir macam-macam,

“lo bengong pikiran apa?” tanya budi.

“Campur aduk,”

“Pasti horny lo ya liat buah dadanya si nia pas kemarin di kantor bokap gue?” aku langsung noleh, tapi ucapannya betul, itu terlintas di pikirannku saat ini.

“ia” jawab gue karena memang kepikiran buah dadanya yang terlabut tangktop putih saat putih, apa lagi gak sengaja aku memegangnya saat itu,.

“gue penasaran ukuran berapa ya itu buahdada nya, gue rasa 36D, tangktopnya aja kayak gak muat” gue setuju sama budi,

Tapi daya tarik nia bukan dari situ saja tapi pinggulnya juga, walau lebih berisi dari wanita lain, tapi dia masih bisa di bilang langsing. Karena pinggangnya terlihat melengkung tak tetutup lemak.

“ tapi ideal menurut gue harsa, bodynya seimbang, atau orang bilang sekel lah, terus pinggulnya bagus, pas sama bodynya”

“gue gak mau bahas itu, terus test yang di kasih bokap lo ke nia itu apa?” ini yang menjadi pertanyaan besar buatku juga,

“ohh, itu, cuman test kepribadian. Bokap gue bisa lihat karakter orang kok, dia cocok jadi partner lo atau hanya mau duit aja” lanjut budi, yang bearti nia belum serratus persen bias di percaya.

“Hasilnya?”

“besok udah muncul, bokap gue jago soal gituan,”

“dan lo gak boleh onani selama waktu tertentu, dan nia yang bakalan atur waktunya, setelah hasi tes nya keluar”

“Ini obatnya buat ngurangin hormon seksual sementara?” aku gak paham soal obat-obat seperti ini,

“betul!!!, selama lo minum obat teratur dan onani yang udah di atur niscaya lo bisa control libido lo, itu kata bokap gue, tapi sementara di anjurkan selama terapi,”

‘kalau hasilnya nia di bawah kepercayaan kita?’

‘kita mau gak mau suruh dia mundur perlahan dengan kontrak yang sudah di tanda tangani’

‘opsi terakhirnya, informasi ini harus terdengar ke bokap nyokap lo, demi lo dan perusahaan’ lanjut budi, gue angguk setuju, dan menunggu hasilnya.

Gue berharap hasilnya memuaskan, sehingga nia jadi partner ku sampai sembuh, itu harapanku sekarang.

***​

Aku pulang tak kerumah, melainkan ke apartement aku sendiri. Karena pulang kerumah cukup jauh dan memakan waktu.

Rasanya memang tenang sendirian seperti ini, tetapi saat mempunyai masalah lumayan berat itu tak di anjurkan.

Beban pikiran terasa bertambah dua kali lipat karena libido gue sendiri,

“halo, malam bos harsa, maaf ganggu, “ ucapnya.

“ada apa?”

“Ini ada yang ketinggalan, satu buah handphone di salah satu belanjaanku kemarin, maaf telat kasih infonya ” Aku tersenyum pelan.

“Itu buat kamu, dengan catatan kamu harus standby saat bekerja”

“buat saya?”

“iah, ambil saja, dan jangan lupa jadwal untuk besok” sebenarnya, aku susun semuanya, dan nia hanya me repeat apa yang sudah aku susun.

“baik pak, terima kasih untuk handphone nya pak”, dari nada suaranya aku tau nia begitu senang mendapatkan handphone itu, nia langsung tutup teleponnya.

Tak lama telepon kembali berbunyi, ternyata dari nia.” Ya kenapa?”

“Untuk terapinya kapan pak?”

“Secepatnya, kamu tunggu dokter budi infromasi ke kamu“ jawabku,

“baik pak, maaf mengganggu” Aku merasakan penis tak begitu menengang saat membayangkan buah dadanya.

Bearti obat itu cukup membantu meredam libidoku untuk saat ini,

Aku harus tahan untuk tidak onani, sampai hasil test nia keluar, apa dia orang dapat di percaya atau tidak.

“Harussss!!!!”

Pagi harinya..

Aku berangkat lebih awal karena penasaran dengan penampilan nia, terutama buah dadanya, apa terlihat jelas atau tak terlalu jelas. Dan aku memilih membuka email yang budi kirim karena hasilnya sudah keluar.

Inti dari emailnya singkat, yaitu isi kepribadian dari nia. Dan secara singkat aku jelasnya.

Kepribadian nia, berbeda dari penampilannya sebelumnya, hasilnya mengakatakan. Dia orangnya ambisius, teliti, terbuka dengan sesuatu yang baru, keras kepala, suka menyendiri, dan yang penting dia dapat di percaya.

Hal yang terakhir yang aku butuhkan dari nia sudah ada, yaitu dapat di percaya itu sudah cukup. Aku percaya dengan hasil test dari papanya budi.

“pagi pak, permisi pak harsa” ucapnya masuk dengan menggunakan blazer, aku sedikit terpukau penampilannya, andai bajunya lebih ketat pasti buah dadanya akan lebih menonjol.

Nia langsung duduk di tempat kemarin, tepatnya di ujung ruangan. Karena dari sana aku gak bisa lihat dia secara langsung.

Aku memilih mengecek arsip yang sudah jadi, dan memastikan bulan ini tak ada masalah besar.

“Saatnya makan siang pak” katanya sudah berdiri di depan meja.

“Baik, kamu pesan makanan pizza hut saja, dan satu cup capucino middle size, jangan dingin” lanjut ku. Masih sibuk cek berkas-berkas di meja kerja ku.

“Baik pak, saya sudah pesan, pizza hut, dan starbuck, “ ucapnya masih berdiri di depanku.\

“ada apa?”

“Anu, pak, dokter budi, menyuruh saya, apakah tadi malam pak harsa sudah onani?” ucap terbata-bata,

“untuk?”

“itu, kalau belum, dokter budi kasih tau saya kalau pak harsa di persilahkan onani” katanya malu-malu,

“Baik, pintu kunci, dan kembali kesini” dengan sigap nia kembali,

“saya harus apa pak?’ tanyanya, aku juga bingung harus apa,

‘singkap kemeja kamu, biarkan saya lihat buah dada kamu’ nia awalnya ragu akhirnya membuka satu persatu kancingnya sampai menunjuka buah dada terbalut Bra,

Sialnya saat penis aku keluarkan langsung tengang seolah gak kuat lihat melihat buah dadanya.

‘buka lagi’ nia langsung singkap bra nya, kini terlihat jelas putting kecil di antar buah dadanya yang besar. Aku langsung onani di hadapannya. Tetapi masih kurang,

‘coba nia pakai mulut kamu, agar lebih cepat’ pintaku. Nia menuruti langsung menedekat kea rahku sambil berlutut.

‘anggap aja ice cream, ingat sebentar lagi makanan datang’ ucapku,

Hampir lima menit nia memberanikan diri, bibirnya terasa di kepala penisku, dan semakin dalam.

“awh, jangan kena gigi, ok, keluar masukin seperti makan ice cream, paham?” kataku lagi, nia menangguk pelan. Dan kembali melakukannya, kali ini lebih nikmat.

“ouh yaaaahhh oohhh ” reflek tanganku meremas buah dadanya, dan telapak tanganku tak cukup penuh menggenggamnya, nia sepertinya terkejut tapi terus melanjukan lumatannya

“ouhh,, yah sedikit lagi, good girl” aku langsung pegang kepalanya dan menekan penisku dalam-dalam, dan sampai terasa beberapa semprotan keluar di dalam mulutnya.

Nia langsung menepuk keras pahaku beberapa kali, aku langsung melepaskan penisku, nia langsung terbatuk-batuk dengan sperma yang menetes dari sela-sela bibirnya.

‘uhuuukk uhuukkkkk’ dia benar-benar tersedak spermaku, tapi rasanya benar-benar nikmat,

“Kamu baik-baik aja?” tanyaku kasih selembar tissue basah,. Nia masih mencoba bernafas normal,

‘sudah selesai pak,’ ucapnya setelah membersihkan mulutnya dan juga memakai kembali pakaiannya,

Begitu pun aku langsung duduk menikmati sisa-sisa klimaks, rasanya benar-benar amazing, pertama kalinya aku di blow job,

Tapi sepertinya nia juga pertama kali melakukan hal itu, karena sering terkena giginya.

***​

Mada-

Kenapa gue jadi kayak tukang ojek beneran, tungguin dia di gang pas masuk pasar, kenapa gue gak minta dia pas di pasar aja, harusnya itu.

Serba salah jadinya, harusnya gue gak deal sama dia soal ojek mengojek. Dan harusnya juga gue minta no teleponnya, tapi takutnya dia bakalan modus.

Otak gue jadi bego kayak gini, gue jadi plin plan pikirin dia. mendingan gue tiduran aja di jok motor sambil tunggu.

“Haiiiii, madaaa” ucap nia udah ada di depan gue, sejak kapan tapi

“hei, hehe,”

“Udah lama nungggu ya?” tanyanya

“ouh, gak kok, barusan sampai, “ yah begitulah, bohong buat liatin buah dadanya terlihat lebih kencang di banding sebelumnya.

tapi gue lihat ada mobil yang berhenti dan gak lama langsung jalan, mobilnya jenis bmw seri i8,

‘kamu liatin apa?’ tanya nia pas gue mau lihat plat nomornya, tapi keburu ke tutup sama badannya yang siap-siap naik ke belakang, saat nia udah naik, itu mobil udah gak kelihatan,

“Oh nia, aku boleh tau, kamu kerja apa ?”

“hmm, seketaris, dan tadi boss aku yang antar aku” jelasnya blak-blakan, pantes aja nia berpakian sangat rapih, dan jangan-jangan tadi itu mobil bossnya.

“aku turun agak jauh dari pasar, dan minta kamu tunggu disini hehee, maaf ya” jelasnya. bearti benar tadi mobil bossnya

“Kenapa gak turun dekat pasar? Lebih dekat kan?” tanya gue jadi penasaran.

“Takut boss aku tau kalau aku tinggal di tempat kumuh, dan itu bisa pengaruh ke karir aku” ucapnya bikin gue mau elus dadanya, eh maksdnya elus dada gue sendiri.

Gue cuman senyum sambil ketawa kecil, yang jelas gue tau dia memang dari kalangan kelas atas yang mungkin roda kehidupannya sedang berputar, gue gak mau men-judge nia apa yang terjadi dengan keluarganya,

“madaa stop dulu, aku mau beli makan dulu, pecel ayam enak gak ya?” tanyanya ke gue. sambil tunjuk ke arah tukang pecel ayam di pinggir jalan.

“Enak kok, aku sering beli disini juga” nia langsung turun dan beli pecel, hampir sepuluh menitan akhirnya selesai, nia beli lima bungkus.

“Banyak banget?” tanyaku iseng.

“hmmm.. hehe buat kamu satu, ini” nia kasih kantong plastic yang udah di pisah.

“ok terima kasih ya” anggukan kecil nia pas gue senyum. lumayan pecel jadi duitnya bisa buat sarapan sama makan siang. rejeki gak boleh di tolak.

***​

Besoknya paginya gue ketemu nia di tukang bubur, tampilannya sekarang lebih cocok di kantoran, make up tipis bikin cantik, mungkin make upnya lebih tebal daripada kemarin, padahal lebih cantikan kemarin, lebih natural.

‘yuk langsung berangkat’ ucapku, setelah beberapa ibu-ibu ngerumpi soal itu, si anak baru yang menor,

“yuk” nia langsung naik tanpa aba-aba, itu membuat gue hampir kehilangan keimbangan. Di tambah tangannya pegang baju gue sekarang dan sedikit mepet ke punggung gue. Tapi masih batas aman.

Nia kembali ke tempat yang kemarin, dari sini dia langsung naik angkutan umum lebih cepat di banding tunggu dekat pasar.

“oh ia aku minta no telepon kamu, nanti aku kabarin ya, biar kamu gak tunggu” ucapnya sebelum pergi. Gue kasih nomor gue

“oke masuk ini nomornya?” gue tunjukin ponsel butut gue, dia menangguk pelan dan sepertinya dia bekerja keras memencet tombol ponsel gue yang keras keras.

Kalau begini kan enak, gak kayak kambing gue tungguin orang gak jelas,. Entah gue bikin senyum senyum sendiri lihat nia dari belakang, sambil stop angkutan umum.

“parahhh parah,” gue milih langsung ke pasar. Biar pikiran kotor gue kesaring.

Tapi kayaknya pasar gak seramai sebelumnya, gak ada bongkaran bearti sekarang, yah mungkin suruh gue istirahat sebentar. Karena gak selamanya usaha itu ramai terus.

“bang, angkutin ke becak dong bisa?” tanya ibu-ibu, yang gue rasa baru umur empat puluhan, dan pemandangan yang hampir sama, buah dadanya mirip si nia, terlihat besar saat pakai kaos.

“iah bu, bisaaa “ gue langsung bawa belanjaannya ke keluar pasar, dari tampilannya dia orang baru, apa mungkin dia ibu nya si nia.

Otak gue di penuhin buah dada nia terus hari ini, bisa-bisa bakalan onani nanti malam gue,.

Gue langsung di kasih duit dua puluh ribuan, dan menurut gue duit segitu terlalu gede. “bu maaf ini kelebihan, sepuluh ribu aja cukup kok” kata gue,

“Gak apa-apa ambil aja, rejeki kamu” ucapnya,

‘terima kasih banyak bu,’ jawab gue menyeringai, Tapi menurut gue sendiri harusnya sepuluh ribu lebih dari cukup karena bawaan cuman satu kali angkat kebawa semua.

Jarang ada model ibu-ibu baik kayak gini. Biasanya sepuluh ribu aja suruh bawa barang banyak banget sampai empat kali balik angkut.

Dan akhir-akhir ini makin banyak orang baru yang gue liat, atau emang gue gak ada pergaulan makanya jarang ketemu orang. Pasar kontrakan kerjaan setiap hari gak lebih dari itu.

bersambung…..