Boss Part 4

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Nia-

Antara senang, takut, kaget, semua menjadi satu. Tepatnya aku bingung kenapa aku mau menerimanya, apa mungkin karena gajinya akan terus bertambah.

“Aku pulanggg”

“Kamu bawa apa lagi?, mama masak hari ini, papa kamu pulang tadi siang, kasih uang buat makan kita satu bulan ke depan” ucap mama,

“Aku udah kerja kok ma, jadi papa juga gak perlu bolak balik kesini” kataku

“San,, kamu jangan gitu terus dong”

“Aku nia disini ma, bukan santi” kataku sedikit emosi, rasanya aku gak mau cerita kerjaan aku. Dan aku putusin ceritanya nanti kalau suasana lebih tenang,

Aku gak akan cerita tentang perjanjian itu, aku cerita soal jadi seketaris aja gak lebih dari itu.

Selesai mandi, di meja makan masih ada masakan mama, aku gak tega juga rasanya kalau gak makan buatan mama,

Sepertinya cuman aku yang belum makan, albert juga belum pulang, aku pilih masakan mama yaitu capcay,

Makanan yang paling aku suka dari kecil sampai sekarang, aku langsung habisin tanpa sisa. Nasi uduk yang aku beli, aku pisah buat albert kalau sudah pulang, Dia chat aku kalau jam delapan dia sampai,

Rasa masakan mama masih sama, bedanya kondisinya. Aku terus meratapi nasib seperti ini karena aku benar-benar belum siap.

Tapi besok aku mulai bangkit dari titik terendah aku sekarang, pekerjaan yang tak lazim tapi dengan perjanjian dan gaji begitu besar, aku gak boleh sia-siain kesempatan ini.

“kak” suara albert pas gue cuci piring, mama sepertinya lagi telepon sama papa, makanya aku yang lanjutin cuci piringnya.

Sebelumnya aku gak pernah namanya cuci piring, jadi sekarang udah lumayan terbiasa.

“makan sana, ada nasi uduk” kataku pas albert di belakangku,

“Kakak gak makan?” tanyanya lagi,

“Udah kok, “ aku mendongak sedikit karena albert memang tinggi, sama seperti my boss harsa.

***​

Pagi ini kayak pagi sebelumnya, aku terpaksa pakai baju putih sama rok hitam atau lebih mirip seorang mahasiswa baru. Memang tak ada lagi selain ini.

Aku lepas handuk dan cepat-cepat pakai pakiaannya, karena di kamar masih ada albert yang masih tertidur. Aku noleh sebentar seolah ada yang memperhatikan, tapi tak ada.

“Kamu lamar kerja lagi?”

“ngak ma, ini hari pertama aku kerja , doain hari pertama aku lancar ya” kataku.

“iah, kamu gak sarapan?”

“gak usah ma, nanti makan bubur aja di luar, soalnya gak mau telat” kataku langsung cium pipi mama. Jarang memang aku melakukan hal itu, tepatnya selepas SMA.

Rasanya ada yang hilang kembali lagi, masa kedekatan sama mama, mungkin papa juga nanti.

Mada gak ada sini, biasanya tiap pagi dia sarapan disini, aku berharap ketemu. Karena aku mau numpang lagi.

Dari sini ke pasar kalau jalan kaki bisa lima belas menitan, kalau bareng mada lima menit kurang sudah sampai.

“mamattt” teriaku pas dia sampai di depan pasar, dia bilang Namanya mada tapi panggilan dia mamat. Jadi aku panggil dia mamat.

“uiittt” jawabnya lambaikan tangannya.

“aku minta tolong boleh?”

“Nebeng?” celetuknya buat aku menyeringai pelan.

“kalau gak, setiap pagi kamu antar aku ke pangkalan, aku bayar per bulan gimana?”

“Berapa?”

“dua ratus ribu, gimana?” mada diam sambil mengelus dagunya,

“boleh, deal?

“Deal!” aku jabat tanganya sebagai tanda jadi, untung ada orang baik kayak mamat. Aku yang awal curiga, kini aku percaya masih ada orang baik disini.

aku langsung minta agak langsung pergi, baunya semakin menyengat sepertinya ini pasar tak pernah non stop setiap hari. Mada antar aku sampai pangkalan angkutan umum yang cukup jauh dari pasar, aku agak mengerikan karena tak pakai helm sejenisnya saat di jalan raya. dan itu pertama kalinya aku naik motor di jalan raya.

***​

Tepat jam tujuh kurang dikit, mobil bos harsa juga belum terlihat aku pilih tunggu sherly di tempat biasanya.

“Eh,, ada anak yang udah di pecat nongol lagi” suara ajeng pas aku duduk. Aku cuman diam karena gak mau cari masalah. Tapi dia hebat tau aku udah di pecat, atau dia asal tebak karena aku pakai pakaian seperti ini.

“Lamar jadi jongos atau jadi perek?” bisiknya buat aku tatap tajam ke matanya.

“plakkk!” tamparan keras mendarat di pipiku.

“Gue gak suka liatin gitu, lo siapa disini haaa?” teriaknya di depan mukaku, aku cuman terdiam sambil pegang pipiku yang terasa nyeri.

“EHemm!” suara berdehem seseorang, buat aku sama ajeng langsung noleh. Ternyata itu boss harsa. Aku langsung berdiri tegap.

“Ini kantor bukan pasar, paham?” lirikannya tajam ke arah aku dan ajeng, benar-benar tajam. Seolah memang tak suka melihat hal seperti itu.

Ajeng langsung mundur perlahan masuk ke dalam, aku masih beridri di depannya.” Kamu kerja disini hanya untuk berdiri?” tanyanya langsung berjalan masuk ke dalam.

Aku tau maksudnya, dia tak membayar aku untuk berdiam saja. aku langsung ikuti ke ruangannya.

“untuk sementara, kamu di dalam dulu, sampai meja seketaris di depan selesai” ucapnya. Langsung lepas jas nya sambil menggulung lengan bajunya.

Terlihat sangat elegan karena di tambah matahari pagi masuk ke dalam ruangannya menerpa tubuhnya, seolah bos harsa terlihat baru turun dari langit

“Baik pak, tapi saya belum pernah sebagai seketaris, dan semua pekerjaannya.” Jawab aku terpukau dengannya.

“intinya kamu siapkan semua jadwal saya, di mulai dari pakaian, jam, tangan, dan ketika saya butuh kamu sudah siap. ”

“tapi saya jujur, lebih nyaman sendiri melakukannya. Dan gak yakin kamu bisa melakukannya” ucapnya berdiri di depanku.

“Saya akan berusaha” jawabku tanpa tatap wajahnya.

“good”

Bos harsa langsung duduk di meja kerjanya, terlihat sangat sibuk. Tapi aku cuman duduk sambil baca-baca berkas yang dia kasih.

Benar-benar orang sangat menjunjung kesempurnaan, semua dia atur sendiri sesuai yang di bilang tadi.

Aku kurang suka pria seperti itu, karena bisa di bilang aku aja kalah melakukannya setiap hari. Dia lebih detail daripada aku.

Beberapa jam menunggu, tepatnya jam sebelas pagi. Pintu ruanganya terbuka, aku langsung berdiri.

Bisa aja itu tamu pentingnya, dan bisa saja aku yang harus berbicara sampai bos harsa selesai melakukan pekerjaannya.

Dugaan aku salah, ternyata itu dokter budi.

“sorry, gue ganggu kah?” ucapnya saat melihat ke arahku. Aku cuman menyeringai sebagai jawabannya.

“Yuk berangkat” ucap bos harsa langsung mengenakan jas nya kembali.

“Kamu juga ikut,” pintanya pas aku mau duduk lagi. Sedangkan dokter budi sudah turun terlebih dahulu.

“Kita mau kemana? Ada jadwal kah?” Tanya aku pas di dalam lift.

“Cari pakaian buat kamu, yang lebih formal di banding pakaian yang kamu pakai sekarang, kayak mau lamar kerja” jawabnya.

“Ini ambil, struk belanja nanti saya potong gaji kamu bulanan” lanjutnya kasih credit card, aku gak bisa berkata apa-apa, aku menerima dengan senang hati. tapi aku lupa itu di potong gaji. aku berharap dengan baik hati di bayarin.

Aku langsung masuk ke dalam mobil fortuner milik dokter budi, aku duduk di belakang. Gak mungkin di depan.

“Oh ia nia, kita terapi boss kamu mulai besok yah, soalnya hari ini semua hasilnya keluar, termasuk jadwal, makanan, semua sudah di atur. Jadi jangan sampai bos kamu terlewat” ucap dokter budi sambil lirik dari spion tengah sambil kedipin satu matanya.

“Iah saya mengerti” aku tau pekerjaanya memang seperti itu, di lain sisi aku penasaran apa yang aku harus lakukan selama terapi bos harsa. itu yang belum aku tau

Selama perjalanan bos harsa cuman terdiam, tak ada obrolan. Dan yang aku tau mereka adalah teman satu angkatan saat SMA sampai sekarang.

***​

Aku sampai di salah satu mall terbesar disini, kalau liburan kuliah aku sering jalan kesini kumpul sama teman-teman SMA yang entah kemana setelah kehidupanku berputar seperti ini.

“Baru pertama kali ke mall?” suara bos harsa buat aku berhenti melamun memikirkan masa lalu.

“ah? Ngak hehe,” aku cuman senyum ikutin mereka berdua dari belakang dan sampai di toko pakaian yang cukup mahal untuk kondisi aku sekarang.

“Kita ketemu di steak21, satu jam lagi, saya tunggu disana, kalau tidak tahu Tanya satpam aja” ucapnya langsung ng tinggalin aku di toko pakaian.

Sebenarnya waktunya kalau satu jam untuk mencari pakaian, dulu aja aku seharian baru ketemu beberapa pakaian. Karena ukurannya yang berbeda.

tapi hari ini juga gak jauh beda. Insting belanja aku datang begitu saja, aku membeli pakaian kerja. Dan juga beberapa pakian biasa, karena modelnya di tambah sizenya cocok untukku.

Dan selesainya aku langsung ke arah restoran steak21, mereka berdua sedang berbicara santai di dalam. Bos harsa yang melihatku langsung lambaikan tangannya langsung suruh aku masuk.

“Serius itu kebutuhan kamu?” Tanya dokter budi, saat aku membawa belanjaan aku tadi. Bos harsa seperti tak berkedip melihat belanjaanku. padahal ini termasuk dikit.

“iah” jawabku taruh di bagian dalam meja. dan langsung pesan makanan.

Rasanya kangen juga gak makan steak seperti ini, tapi ada perasaan yang tak enak, mereka melihatku seperti aneh.

Aku rasa mereka lihat aku karena seperti terbiasa makan seperti ini, tak sebanding dengan perkerjaanku sebelumnya.

“Kamu yakin kuat bawa barang bawaanya sebanyak itu?” Tanya bos harsa, saat selesai makan.

“Heheeh, lumayan, kita langsung pulang kan?”

“Siapa bilang?”

“kita mau ke tempat psikiater, gak jauh kok dari mall” aku cuman terdiam sambil melihat barang belanjaanku sendiri, karena biasanya aku langsung suruh supir bawain ke mobil.

“haa.. merepotkan saja , kita ke mobil,” bos harsa langsung ke arah parkiran, sedangkan dokter budi langsung ke gedung dimana psikiater berada.

“Maaf boss” kataku karena tak enak hati, aku langsung masukan semua barang belanjaanku.

“boss awas!!” kataku langsung Tarik tangannya saat ada salah satu mobil mundur dan tak melihat ada boss harsa yang sedang menerima telepon.

Bos harsa langsung terkejut langsung mendorongku sampai aku terhimpit di belakang mobil yang belum tertutup, untungnya tubuhku tertahan jok belakang.

Tapi tangannnya terasa menekan buah dadaku sampai baju aku tersingkap dan juga bagian bawah perutku terasa tertekan.

“sorry” ucapnya langsung bangun sambil julurin tangannya buat bantu aku bangun.

“Iah” aku langsung rapihkan bagian atasku yang tersingkap, ada yang hilang yaitu kancing atasku.

“Ayoo” aku mengangguk pelan sambil pegang kancing yang terlepas, kalau aku lepas tanganku, tangktop aku sebagian akan menonjol terlihat , aku memilih memegangnya sampai di gedung sebelah mall, dan di lantai 8.

Aku baru tahu, kalau bukan dokter budi yang menyusun terapi bos harsa. Melainkan ada dokter lainnya.

***​

“silahkan duduk” ucap pria separuh baya itu, rambut putih dengan botak di ujung kepalanya. Aku kira umurnya sudah enam puluh tahunan.

“ini pah, patner terapi harsa” ucap dokter budi, bearti dia adalah papa dari dokter budi. Aku cuman senyum saat dia melihat arahku, pasti aneh lihat aku terus pegang kerah bajuku terus.

“Ok kita langsung lakukan tes” ucapnya.

“hee tes apa?” tanyaku terkejut sampai aku lupa pegang kerah bajuku, mereka bertiga pun pasti terfokus dengan buah dadaku, tapi berpura-pura tak melihat.

“Pakai ini” ucap bos harsa kasih jas nya untuk tutupin dadaku. Aku senyum pelan karena sikapnya.

“Tes tulis kok, kamu isi sesuai dengan hati kamu,” ucap dokter itu. Aku mengangguk setuju dan langsung menuju meja.

Aku seperti pernah kenal alat tes seperti ini seperti alat tes psikologi, aku yakin seperti ini alat tes nya. Tak hanya satu, tapi empat sekaligus. Dan aku di berikan waktu selesainya, itu membuat aku sedikit tenang,

“sudah dok,”kataku langsung menghampiri mereka bertiga yang sedang membicarakan sesuatu dan langsung memberikan semua alat tes nya.

“itu buat apa boleh tau?” kataku pelan.

“buat syarat aja, peraturan memang begitu” sambung dokter budi.

Hampir dua jam disana akhirnya selesai juga, aku mengikuti mereka berdua dari belakang sampai di mobil.

“Rumah kamu jauh?” tanya boss harsa

“Lumayan boss satu jam lebih dari sini, tapi saya turun di kantor aja gak apa-apa”

“yakin? Dengan semua belanjaan kamu itu?”

“slow nia, kita anterin kok.Bos harsa baik kok, ya gak?” bos harsa cuman menggelengkan kepalanya, sedangkan aku hanya bias menyeringai tak enak hati lagi.

Aku langsung kasih tau alamat rumah, tapi tak langsung di rumahnya. Tepatnya persimpangan arah ke pasar, dari sana bisa sewa tukang becak buat bawa barang aku, dan bisa lewat jalan lain memutar tak melewati pasar.

Bersambung….