Boss Part 2

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Nia

Sampai rumah juga, untung ada tukang ojek. Jadinya gak terlalu malam, pasti mama udah tungguin.

“Aku pulang” ucapku

“Ma… aku bawa makanan” kataku, pas mama lagi buka kulkas.

“Apa itu?”

“Nasi goreng, sama sate, aku dapat tips karena kerjaan aku” kataku setengah berbohong, karena uang aku terima berasal dari boss aku.

Dia bilang itu uang ganti rugi, dan nilainya cukup besar. Hampir dua juta rupih, karena lima ratus ribunya di potong sama bu ayu.

“albert pulang hari ini ma?” Tanya gue selesai makan malam, tapi belum mandi.

“Iah, dia lagi di jalan, dia lagi libur semester” aku angguk pelan aja, karena albert lebih mandiri dari aku, jadi gak kwahtir dia kesasar pulang kesini.

Hawanya memang beda dari rumah, hawa panas masih menyengat kalau udah malam hari. Karena gak ada AC sekarang, cuman kipas angin.

Dan papa pulang satu minggu satu kali, bahkan lebih.

Selesai mandi aku langsung ke kamar, kamar aku tak terlalu luas cukup taruh lemari, meja kecil, dan satu tempat tidur susun. Albert tidur di Kasur bawah, aku Kasur atas.

Suasana memang agak panas, aku sengaja pakai tangtop dan hotpants. Di rumah dulu sering pakai seperti ini, lebih nyaman tak termasuk tak memakai bra sama CD.

“kreekk” suara pintu kamar terbuka,

“albert” kataku pas adikku masuk, wajahnya begitu tak bersemangat. Dia masih tersenyum pelan ke arahku tanpa sepatah kata.

Albert langsung keluar kamar, dan gak lama kembali ke kamar langsung tidur di Kasur bawah, aku juga bingung kenapa wajah albert seperti itu.

***​

Dipikir rasanya seperti mimpi, kejadian tadi di kantor benar-benar seperti mimpi. Seorang boss melakukan onani di depanku. apa dia memang sudah gila atau sejenisnya.

Kalau dia melakukannya lagi, pasti aku dapat uang lagi. Pikiran ku sekarang soal uang, karena banyak kebutuhan yang aku penuhin, termasuk make up.

Walau kerja seperti itu tanpa harus make up, tapi rasanya tanganku gatal kalau tak make up, seolah aku tak percaya diri kalau tidak make up

Dan tadi juga aku make up tipis, untungnya pada gak sadar aku make up,terutama ajeng. Dia masih sensi kalau lihat aku.

Gayanya juga kecentilan, kayak cewek murahan yang bisa jual diri. Itu kesan beberapa kali aku bertemu dengannya.

Aku gak mau memikirkan ajeng, rugi rasanya lihat sikapnya ke aku.

Tapi semua ini gara-gara ajeng, tapi aku dapat uang tips juga gara-gara dia. Entah harus senang atau kesal.

Putingku tiba-tiba mengeras terbayang penis boss harsa yang bersih dan cukup besar dari standar cowok asia, aku bisa tebak panjangnya dua puluh cm, diameternya lima cm. warna kulitnya juga sama dengan warna kulit tubuhnya. kenapa aku sedetail itu menebaknya.

Itu hanya tebakan aku saja, tanpa sadar aku remas buah dadaku sendiri. Jarang-jarang aku bias terangsang karena melihat langsung penis laki-laki secara dekat

“kak” suara albert dari bawah, pas aku lagi elus vagina aku dari luar hotpants. Aku tak berniat melakukan manstrubasi. Hanya saja rasanya ingin melakukannya sebentar.

“iah?” jawabku terus memainkan vaginaku.

“Kakak bakalan betah tinggal disini?”

“ehh?”

“Mungkin, kalau kakak udah dapat kerjaan yang lebih baik, kita pindah dari sini.” Kataku langsung berhenti memainkan vaginaku. Secara gak langsung libido langsung menurun.

“kamu kuliah aja yang benar, okeeh” kataku menghela nafas. Aku masih setengah beradaptasi di lingkungan ini. Dan albert juga gak boleh tau aku kerja sebagai office girl.

“Iah, “ jawabnya mengakhiri pembicaraan malam ini.

***​

Paginya aku bangun lebih awal seperti biasanya, karena aku mau beli bubur buat mama sama albert.

Aku rasa jam enam masih banyak, karena kesiangan dikit seperti kemarin.

“lelaki itu” gumamku melihat lelaki gondrong dengan tubuh tak terlalu kurus, dan juga kumis tipis, aku yakin dia yang kemarin bayarin buburnya.

“empat bang, bang sama dia “ kataku membuat lelaki itu menoleh ke arahku.

“Ini untuk kemarin, jadi impas” kataku lagi, dia cuman ketawa kecil.

“oke, terima kasih” lambai tangannya dengan senyum kecil langsung keluar dari tenda.

“Hei tunggu” teriakku pas dia naik motor,

“Aku belum ucapin terima kasih” kataku pas di sampingnya,

“Cuman bubur, gak masalah kok, mau naik ojek lagi?” tanyanya buat aku lihat motornya, yang sama percis dengan kemarin sore.

“kamu tukang ojek?”

“Bukan, kamu yang maksa aku jadi tukang ojek, ayo kalau mau ojek lagi, gratis sampai pasar” ucapnya, ternyata orang yang kemarin aku paksa jadi tukang ojek dia.

“Aku bayar, tapi antar aku dulu ke rumah, bawa pesanan bubur dulu,” dia mendongak sebentar dan langsung mengangguk.

Sedikit keraguan di hatiku, karena sepertinya ini orang ada maunya. Sesampainya aku langsung kasih bubur buat mama sama albert. Dan langsung ikut dia ke pasar, karena dari situ aku bisa naik angkutan umum.

“Pindahan baru?”

“Iah, belum ada satu minggu” aku pegang bahunya karena jalanannya agak rusak, makanya aku malas lewatin pasar, di tambah bau juga.

“oke sampai, turun” pintanya, dia langsung jalan lagi ke dalam pasar, dia benar-benar tak minta bayaran. Semoga memang dia punya niat baik. Dan lagi aku belum ucapin terima kasih.

Sampai di kantor lebih cepat dari biasanya, karena hari ini kepagian. Sherly pun belum terlihat pagi ini.

Aku langsung ganti pakaian dan tunggu perintah ajeng. Karena dia yang menentukan aku bagian lantai berapa.

Gak lama ajeng masuk dengan rambut kusut, tak seperti biasanya, “aku bagian lantai berapa?” tanyaku ke ajeng yang menyenderkan kepalanya di tembok.

“Seterah lo, ngapain Tanya gue!!” teriaknya, mulutnya juga bau minuman. Entah kenapa pikiranku menjadi-jadi, jangan-jangan dia habis jajan sama om-om atau sejenisnya.

Lebih baik aku tunggu sherly, dan tunggu di luar ruangan.

***​

Suasana sudah seperti biasa, dan bersiap. Termasuk sherly, aku ikutin dia ke lantai dasar. Karena masih banyak sampah yang belum terangkut kemarin.

“Enak ya, jadi kepala Office Girl” kataku saat sapu dekat bagian lobi kantor.

“Enaknya?” Tanya sherly.

“Ia, tiduran di dalam dan suruh semau dia aja” kataku,

“Habis jalan, sama manager dia, biasa habis gini” tunjuknya melipat jempol antara jari telunjuk dengan jari tengah. Aku belum paham maksudnya.

“Maksudnya?”

“ML, making love, dia kan peliharaan manager siniiii” bisiknya.

“Kalian di bayar buat bersih-bersih bukan buat merumpi!” suara bentakan boss harsa, buat gue langsung berdiri tegak sempurna.

Sikapnya seperti biasa tak acuh, seolah dia lupa kejadian kemarin. Walau matanya melirik ke arahku pas aku coba meliriknya.

“ya udah, kita misah dulu, kamu bagian kanan, aku kiri” sherly langsung melangkah cepat, seolah dia ketakutan dengar bentakan boss harsa. Aku sedikit bergetar kalau ingat kejadian itu.

Setelah bersih, aku balik ke ruangan buat ambil minum, karena semua Office Boy atau Office Girl, gak boleh minum di gedung ini, karena sudah punya jatah sendiri.

“Brakkk!” suara pintu tertutup, buat aku langsung lompat. Ternyata ajeng yang tutup pintunya, dia lebih segar setelah tidur. Aku cuman terdiam pas dia dekatin aku.

“Lo jangan banyak tingkah disini,!” ucapnya.

“Maksudnya?”

“Jangan pura-pura bego dah, lo jual diri lo ke boss harsa buat lo tetap kerja?” ucapan ajeng buat gue terdiam, apa dia tau soal kejadian kemarin.

“Gak kok, mana berani sama boss” jawabku seadanya.

“Buktinya? Duit apa yang Lo terima dari bu ayu?” ajeng melihat hal itu, pasti dia berpikiran macam-macam.

“Itu uang tutup mulut, “ jawabku,

“Buat?” tanyanya lagi.

“kamu udah tau kan, sengaja jebak aku dan biar aku di omelin boss harsa dan di pecat?” ajeng terdiam, pasti dia juga pernah lihat boss harsa lagi onani. Tapi dia beruntung karena tidak ketahuan.

“cih…” gumam ajeng kesal, langsung keluar ruangan setelah aku jawab seperti itu, bearti dugaan aku benar dia sering mengintip boss harsa di ruangannya. Kalau kedudukan aku lebih tinggi pasti aku damprat balik itu ajeng.

***​

Satu minggu berlalu, sikap boss harsa seperti biasanya. Karena bersihin ruangannya ganti-gantian, dan selama itu juga aku gak dapat giliran bersihin ruangannya.

Termasuk ajeng, dia bersikap tak acuh ke aku, itu buat keuntungan aku sendiri. Dia gak akan jahil sementara waktu.

Tapi dia jarang terlihat, termasuk hari ini.

“Niaaaa” teriak sherly.

“Kenapa?”

“Lo mau bersihin lantai atas?”

“Tempat boss harsa?” tanyaku pelan, sherly angguk pelan.

“soalnya, harusnya ajeng, tapi dia gak bersihin. Kalau boss harsa tau, kita kena omel lagi”

“Terus kenapa aku?” jujur aku masih ragu, karena takut ada kejadian lagi menimpaku.

“Soalnya aku suruh ke gedung sebelah, ada acara gathering kantor. Jadinya semua lagi sibuk disana”

“Boss harsa gak bakalan marah kok, asal kamu gak sentuh barang apapun, karena ingatan dia tajam.”

“Pindah posisi dikit aja dia tau,” bisik sherly membuat aku semakin tegang,

“Tapi tenang, hari ini dia datangnya jam sepuluh pagi, masih ada satu jam setengah niaa” ucapan sherly benar. Waktu masih panjang, aku langsung menyetujuinya.

Dengan perlengkapan khusus buat lantai atas, di mulai dari sarung tangan, hand wash, obat nyamuk semprot, aku langsung naik ke lantai atas, darah aku berdesir pas masuk ke dalam ruangannya.

Teringat kencang kejadian saat itu, selintas aku berharap dia datang dan melakukannya lagi di depanku. Dan uang kembali aku dapatkan.

“Gak boleh…” gumamku, langsung bersihkan dari pojokan,

Benar-benar kotor, banyak tissue yang di buang tak bearaturan di sekitar mejanya. Tapi ada yang aneh di tissuenya.

Sedikit basah, dan kenyal….

“ihh,” aku merasa itu cairan hidung alias hingus, karena mirip seperti itu. Gak hanya satu tapi beberapa lembar tissue.

Wajar aja, dia boss jadinya sesuka dia mau berbuat apa, atau ini sperma bekas dia.

“issh” reflek aku langsung lempar ke tong sampah yang udah di siapin. Penasaran aku sedikit mencium bau nya yang tersisa di jari.

“benar, ini sperma” gumamku lagi langsung bersihkan tangan pakai handwash.

Yang aku kurang suka yaitu ini, kerja sendirian di satu lantai, beda di lantai lainnya, kalau ada ajeng aku pasti di suruh dua lantai sendirian.

Semoga bulan ada panggilan kerja lagi, aku mau cari yang lebih baik dari sini.

“Selesaiiii” keringet udah mulai keluar di punggung aku, termasuk tangan aku yang masih terasa pegal karena belum terbiasa menyapu terus tiap hari.

Aku penasaran ke meja kecil di ujung ruangan, meja itu yang belum aku bersihin. Satu hal banyak kertas yang bertebaran di atasnya.

Satu persatu lembar kertas aku rapihkan, “Ini kan jadwal konsultasi” gumamku, tapi ini bukan rumah sakit, tapi salah satu psikiater. Dan aku langsung baca isinya setelah di rapihkan sesuai urutan.

“Good!!!” suara seseorang di ikuti tepuk tangan pelan, reflek aku langsung melespaskan lembaran kertas, hasilnya berantakan di lantai.

“Kamu lagi, kamu lagi , kenapa selalu kamu yang berani sentuh apapun di ruangan saya??” ucapnya dari pintu. Dia menutupnya perlahan dan menguncinya.

“Kamu mata-mata dari perusahaan lain kah?” tanyanya semakin dekat ke arahku.

“Maaf, saya cuman berniat rapih-rapih, sumpah” kataku gak berani menatapnya, tindakan bodoh kedua kalinya. karena hanya rasa penasaran.

“Rapih-rapih?” tanyanya dengan nada tinggi, dan kini dia tepat di hadapanku,

“engh” pekikku kaget pas jari dia angkat daguku sampai bertatapan wajah,

“Heeiii, jawab!”

“maaf pak, aku benar-benar ingin bersih-bersih aja” jawabku gak berani tatap wajahnya. Tanganya langsung dorong tubuhku ke tembok, dan wajahnya hanya beberapa centi dari wajahku, hal itu bikin darah aku berdesir.

“Apa yang kamu lihat?” Tanyanya bikin nafas aku berhenti sejenak.

“Su,, suraatt.. surattt itu.. “ kataku benar-benar lebih gemetar di banding kemarin. Gak mungkin dia bakalan onani di depan aku lagi kalau seperti ini, dan aku gak akan dapat uang lagi.

“Surat konsultasi ke dokter” kataku pejamin mata. Gak lama tubuhnya serassa menjauh, aku langsung buka mata perlahan.

“Kamu tau resikonya?”

“Saya paham pak, tapi kalau mau pecat saya. Tunggu saya dapat panggilan kerja, saya benar-benar butuh perkejaan” kataku mulai terisak, tapi aku berusahan tahan air mataku, karena gak bisa bayangin kalau benar-benar di pecat.

“Baik, tapi saya masih curiga kamu bukan benar-benar bekerja sebagai Office Girl paham?” aku mengangguk pelan. Bos harsa pun gak berpendapat aku terlalu mencolok sebagai Office Girl.

“good, saya ingin berbicara dengan kamu jam empat sore nanti, termasuk soal masalah tadi” ucapnya bukain pintu yang terkunci. Kaki aku masih terasa gemetar, apa ini namanya kesempatan lagi.

Aku yakin ucapannya kali ini gak main-main, jawabannya ada di nanti sore jam empat. Atau itu bukan jawaban, yang jelas aku hampir nangis di buatnya.

“Ayooo, pasti bisaaa beradaptasi, harus kuat!!” gerutuku ke diri aku sendiri. di tambah apa selalu berpikiran boss harsa melakukannya dan aku dapat uang lagi, pikiran gila di kepalaku bercampur aduk saat ini.

Bersambung…