Boss Part 10

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23

Nia-

Rasa berdebar masih belum hilang, karena pertama kalinya aku langsung ketemu orang tua boss harsa. Aku takut mereka berpikir macam-macam tentang aku yang berada di apartement boss harsa.

Yang bikin aku terkejut, umurnya sama dengan usiaku. Sedikit kagum rasanya melihat kesuksesannya di usia sangat muda, memegang tanggung jawab yang cukup besar.

Di tambah wajahnya seolah tak asing, aku seperti pernah melihatnya, mungkin di artikel atau sejenisnya.hanya kebetulan saja aku seperti mengenalnya.

“aku pulanggggg!”

“Tumben san pulang masih siang?”

“iah ma, lagi gak ada kerjaan, “ aku langsung rebahan di sofa yang gak terlalu empuk,

“besok aku suruh orang tambahin daya ya ma, mati terus listriknya hehe, sekalian punya mama akua da duit lebih kok ” kataku pelan.

“gak usah, kamar kamu sama albert aja, mama udah biasa kok, “ mama langsung ke dapur membuat sesuatu.

Aku langsung mandi, memandang wajahku sebentar sambil menghapus make up. aku merasakan tak terlalu senang seperti dulu saat make up, rasanya sekarang bukan seperti aku yang dulu.

Selesainya aku penasaran dengan bungkusan pemberian pak harsa kasih sebelum boss hara di rawat.“haa pakian dalam?” gumamku terkejut.

Tapi modelnya berbeda, pengait talinya dari depan, bahanya juga lembut. Itu satu juga satu set dengan celana dalam, yang sedikit tipis di pinggirnya seperti menutupi bagian tengah saja.

“G cup?” itu tulisan di bagian dalam bra nya, aku langsung mencobanya, dan memang terasa pas tak terlalu ketat. Sejak kapan pak harsa tau ukuran bra.

Aku harap soal aku berbohong soal reward boss harsa tak curiga, yang dokter budi sampaikan jika boss harsa berhasil tahan selama dua hari, besoknya di lanjutkan dengan jadwal dua hari sekali.

“besok jadwalnya terapi, apa aku pakai ini aja buat reward yang udah aku janjiin’ tapi sepertinya masuk akal juga,

“kreekk “ bunyi pintu kamar terbuka, aku yang masih telanjang langsung melilitkan handukku.

“ih kebiasaan, ketuk pintu dulu kenapa kalau masuk” gerutuku saat albert masuk tiba-tiba.

“maaf kak, aku capek banget soalnya” jawabnya sedikit memelas. Aku langsung membereskan bra dan cd yang terhampar di tempat tidurku, karena aku takut albert melihatnya, dan langsung aku taruh di bawah tempat tidur.

“ehh” pekikku saat terasa ada sesuatu yang mengelus vaginaku, saat aku berjalan keluar untuk berpakaian di kamar mandi.

Gak mungkin albert sengaja melakukannya, pasti efek kelelahan juga, dan juga salah aku juga cuman pakai handuk aja

***​

Pagi ini aku di antar mada agak jauh lagi dari biasanya, tepatnya perempatan jalan raya, dari sini aku bisa langsung naik angutan umum lebih awal.

Soalnya ini meeting yang tertunda di hari-hari sebelumnya, jadinya aku harus memastikan semuanya sudah siap.

“wah wah, hebat ya sekarang, anak bau kencur” suara yang tak asing pas aku masuk ke loby kantor. Siapa lagi kalau bukan ajeng.

“tenang gue gak ganggu lo kok, dsini cuman mau sampaikan sesuatu” bisiknya sambil pegang Pundak.

“open BO gak?, yang mau boss besar loh, berani tinggi” senyum sinisnya.

“alahh, jangan pura-pura. Kita tau kok disini kalau lo jual daging mentah ke boss harsa yak an??”

“dan pastinya ada nilai lebih dari lo sampai tiba-tiba jadi seketaris boss harsa?” tawanya sambil senyum-senyum, aku gak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan ajeng.

“berani dua digit buat semalaman loh, dan kalau mau contact gue aja,”

“gue lupa satu hal lagi, boss besar gitu tititnya gak terlalu gede, jadi gak masalah lah tuh memek” tawanya seeenaknya

“kalau ngomong di jaga yah” ucapku setelah ajeng tak memberikan aku berbicara, tapi ajeng tak perduli dia hanya tertawa sambil meninggalakan ku yang masih berdiri.

Kaki ku gemetaran karena aku takut rumor yang ajeng katakan menyebar di kantor ini, kabar burung tentang aku yang dari office girl langsung naik menjadi seketaris boss harsa

“hei, kamu kenapa nia?” tanya pak harsa saat persaipan untuk meeting, aku sedikit melamun tentang ucapan ajeng.

“gak kok pak, hehe, “ jawabku tepat di hadapannya.

“oke, dan ituu rapihkan, gak enak di liat lainnya” ucapnya sambil tunjuk kea rah kancing aku yang terbuka satu.

“maaf pak” aku tersenyum kecil, di lain sisi ada yang berbeda dari pak harsa, yang mulai lebih gentle dari sebelum sakit.

Acara meeting di mulai aku hanya duduk di pojokan mendengar setiap orang mengutarakan opininya masing-masing.

Aku kagum karena semua bawahan pak harsa semua aktif dalam mengutarakan opini, seolah tak ada perbedaan umur kalau lagi meeting kayak gini.

Di lain sisi, aku terasa risih saat pak rudy melirik aku cukup lama saat di sela-sela rapat. Aku memilih seolah tak melihatnya.

Hampir dua jam, meeting di tunda untuk istirahat, ajeng masuk membawa beberapa bungkusan untuk parah anggota meeting,

Pak harsa memberiku kode agar aku yang membawakannya, ajeng kembali senyum kecil. Senyum yang mengingatkanku soal tadi pagi.

Satu persatu aku memberikanya dari ujung ke ujung,”ehh” pekikku pelan saat pak rudy sengaja mengelus bagian betis belakangaku.

Aku langsung menoleh kearahnya, tapi ekpresinya seperti tak berdosa.

***​

Meeting akhirnya selesai jam dua sore, aku sendiri tak paham apa yang di bicarakan. Yang jelas itu project yang sangat penting.

Sherly masuk untuk membersihkan ruangnya yang di pakai untuk meeting, dia lambaikan tangan saat aku melihatnya.

Aku juga mau menyapanya tapi aku harus membereskan susunan berkas untuk di berikan ke pak harsa.

“saya sudah bereskan” kataku saat masuk ke ruanganya membawakan semua berkas yang tadi buat meeting, tetapi pak harsa lagi melihat ke luar jendela

“terima kasih,” jawabnya langsung menoleh kearah dan semakin dekat.

“oh ia, nia” ucapnya lagi, aku sedikit canggung kalau berhadapa seperti ini, karena aku merasa terlalu pendek di hadapannya.

“kamu udah buka box yang saya kasih kemarin-kemarin?’

“ia pak, saya memakainya hari ini, buat reward yang saya janjikan”ucapku senyum. Sekaligus ragu.

‘oh ia?’ reflek kedua tanganya meremas pelan buah dadaku,

“eeh” pekikku kaget,

‘pas kan sama ukuran ini?”

“iah pak, ngghh” pakai bra seperti ini remasanya lebih terasa termasuk saat putting ku di elusnya dengan lembut.

“tapi pak harsa tau darimana?’ jawabku sambil menahan desah.

“hanya menebak, besok saya membelikan sesuatu lagi,” tanganya membuka satu persatu kancingku baju, tanpa melepaskan blazer yang aku pakai.

Dengan mudah pak harsa membuka kaitan bra yang memang di desain di depan. “engghh” lenguhku saat lidahnya melumat putting kanan, aku hanya mengigit bibirku sendiri menahan rasa geli.

“ohhhh” lenguhku, kali ini lidanya memutar di pinggir putting, rasa gelinya sampai ke selangkanganku.

“horny?” bisiknya, sambil terus meremas lembut buah dadaku, walau sesekali tangannya mengelus putingku.

“iah” jawabku benar-benar vaginaku seperti ada yang basah.

“tidak melanggar perjanjian kan ?” tanyanya menyudahi remasannya dan lumatannya, aku menangguk pelan, karena memang tak ada perjanjian tidak untuk menyentuh satu lama lain.

Pak harsa langsung membuka celananya sampai terlihat penisnya yang sudah berdiri tegak, dia langsung duduk di bangkunya. Posisi yang sama sebelumnya,

Aku langusng mengambil tissue basah untuk mengosok penisnya yang sangat terawat, selesainya aku berlutut sambil memainkan penisnya seperti biasanya.

Tanganku satunya masuk ke dalam rok aku sendiri, mengelus vaginaku dari luar celanda dalam. Itu aku lakukan karena terbawa suasana. Aku merasakan libido ku ikut meninggi saat mencium aroma penisnya.

Pak harsa memintaku membuka rok juga, tapi aku masih mengenakan blazernya. Dan duduk di atas meja, yang telah dia rapihkan terlebih dahulu.

“paaakk untuk apa?’ tanyaku saat aku berbaring di meja kerjanya. Boss harsa tak banyak bicara aku hanya menurutinya,

Posisi aku rebahan di meja, dan tak lama boss harsa memasukan penisnya ke dalam mulut dengan posisi seperti ini.

‘nggh ngh ng” suara penisnya keluar masuk di mulutku, tangannya juga mereas pelan kedua buah dadaku,

‘oogghh pgghhh o” racauku penis kini keluar masuk dengan cepat, di ikuti pilinan di putingku, tanganya benar-benar bertumpu di buah dadaku.

Tanganku diam-diam memainkan vaginaku yang terasa basah dari luar celana dalamku

“plop’ penisnya di cabut dari mulutku,

‘boobs job oke’ pintanya, aku langsung jepit penisnya sebisanya seperti di apartement kemarin, kali ini boss harsa yang menggerakannya,

‘ohh yahh, kenyaall banget ‘ gumamnya, menggerakanya semakin cepat dan kembali memasukan penisnya ke mulutku

‘ohhhhhhhhhhhhhhh’ tiba-tiba dia mencabutnya, di ikut cairan sperma yang tersembur kencang ke wajahku, buah dada, dan perutku yang masih posisi rebahan di meja

Spermanya lebih kental di banding kemarin, boss harsa menyodorkan penisnya, aku langsung melumatnya sampai bersih. Termasuk sisa-sisa di mulutku.

‘ohhh shitt, nikmat banget’ gumam bos harsa langsung duduk di bangkunya menikmati sisa-sisa klimaksnya, aku bangun dari mejanya bersihin sisa sperma dengan tissue basah.

“udah selesai pak terapinya’ kataku merapihan pakaianku.

“tunggu nia “ ucapnya saat aku sudah merapihkan pakaiannya, kembali aku berdiri di depannya.

“ia pak” tangannya langsung masuk ke dalam rok, dan juga celana dalamku, tanganmus terasa mengelus bulu vaginaku yang memang aku tak pernah cukur.

Pak harsa langsung melepaskan tangannya. Pasti merasa jijik karena banyak bulu vaginaku.

“ini nomor klinik ke cantikan, jangan sia-siakan. Ini hanya berlaku sampai threatmment selesai., “ ucapnya tiba-tiba memberikan kartu nama,

“besok kamu kesana ok, ini hadiah kerja keras kamu selama saya sakit.” aku sedikit ragu mengambilnya. Karena apa mungkin pak harsa memberikan ini agar aku menjaga penampilanku. Atau hanya ingin memberinya sebagai hadiah

“tanpa bulu lebih menarik” bisiknya sebelum aku melangkah keluar, dugaan aku benar boss harsa ingin bulu vaginaku di cukur habis,

 

***​

Selama perjalanan aku langsung cek website kliniknya, agar aku tak terlalu kaget soal ambil paket apa.

“murah sih,,” hanya sepuluh juta dua kali pertemuan, tapi kalau posisi aku sekarang itu sangat mahal,

“ini apa kak di kolong tempat tidur,” suara albert mengambil kotak yang berisi pakaian-pakaian yang di berikan pak harsa dari kolong tempat tidur.

“Itu pakaian dalam kakak, ihh kamu!” omelku, langsung berlari untuk mengambilnya.

“ohh” jawab albert langsung menempatkan kotaknya ke kolong tempat tidur.

“Nanti kakak tidur di bawah ya, kamu di atas, ACnya dingin banget disini” kataku saat albert mau tidur.

“ya udah”

“ oh ia kak, aku juga udah gak kost, bulanannnya kemahalan sekarang” katanya naik keatas.

“mama tau?”

“tau kok, nanti aku berangkat pagi-pagi ke kampus. Dari sini”

“yakin bisa??”

“Bisa doang, emang kakak, butuh waktu lama beradaptasi,” ucapnya membuat aku melemparkan bantal guling ke atas.

“Aku kangen liat kakak yang dulu, rewel” lanjutnya membuat aku terdiam

Tapi memang benar ucapan albert, aku butuh waktu lama beradaptasi. Sedangkan albert menerima semua ini. Dia lebih kuat di banding kakak seperti aku. Dan juga lebih mandiri di banding aku sampai aku menjadi setengah pendiam seperti ini.

Besoknya…

Aku menerima tawaran yang di kasih boss harsa, libur yang dia kasih gak akan aku sia-siain, dengan di antar mada.

tapi dia berhenti untuk mampir ke klinik yang masih terlihat sangat baru. Mungkin belum lama di bangun. Dan tempatnya gak terlalu jauh dari pasar sekitar sepuluh menit dari pasar.

Mada keluar sambil membawa obat di plasik,

“obat buat kamu?” tanyaku penasaran.

“Oh ngak, buat orang titipan kok, “ jawabnya langsung ajak aku kembali naik.

“hari ini kamu gak pakai pakian kantor?’ tanyanya saat di tengah perjalanan.

“ngak kok, ada urusan aja, emang gak liat aku pakai pakaian biasa?” tanyaku rangkul pinggangnya karena lewatin jalan rusak.

“ohh iaa ehehe”

“sampai sini aja ya, di sana banyak polisi” ucapnya membuat aku langsung lepas rangkulan di pinggangnya.

“hehee, makasih yah.” Mada langsung gas motornya putar balik, karena kdia gak punya SIM, KTP, dan STNK. Mada langsung tancap gas secepat mungkin saat ada polisi yang melihat kearah sini,

Aku memilih naik taksi angkutan umum, daripada aku ikut di stop polisi karena berboncengan sama mada.

***​

Sampai di klinik aku langsung register member baru, tak lupa dengan pak harsa aku menuliskan nama lengkapnya di samping nama ku, Harsa singgih phoeyjaya

Mbak-mbak melihat kea rah ku sambil melihat berkas yang selesai aku tulis, tak lama dia menelpon seseorang.

“Silahkan tunggu, dokter nya bentar lagi sampai” ucapnya beberbeda setelah menelpon.

“terima kasih mbak” aku duduk paling pojok sambil bersandar, mencoba menghubungi ares. Tapi tak pernah di angkat. Aku kembali melihat sosmedku.

Rasa sesak di dadaku langsung terasa saat melihat isi postingan mereka, tak ada fotoku sama sekali. Semua terhapus dan lebih parahnnya mereka berlima unfollow social mediaku.

Tanpa sadar mataku sedikit menggenang sedikit di mata, aku merasa semua mulai menjauh saat aku seperti ini. Tanganku terasa bergetar memenga ponselku,

“ayoo san.. kamu gak boleh gini” aku langsung menutup ponselku pas dengan panggilan namaku.

Sebelum masuk aku menyeka mataku dan melangkah pasti masuk ke dalam ruangan. Seolah tak terjadi apa-apa/

“Silahkan duduk” sambutan hangat dokter wanita, umurnya masih muda mungkin empat tahun di atas aku, yang jelas masih muda.

“Terima kasih”

“Nia putri? Benar Namanya?” aku mengangguk pelan sambil matanya melihat ke layar computer.

“iah”

“oke, sebelum itu, sejak kapan kamu kenal sama harsa?” ucapnya memanggil namanya, yang bearti dia sepantaran dengan pak harsa, dan juga aku.

“saya hanya, seketarisnya saja, dan disuruh untuk kesini” aku sedikit gugup.

“oh baik, lupakan saja yang tadi, masalah pribadi tak boleh di bahas saat kerja” gumamnya

“langsung mulai, kamu mau konsultasi apa?” tanyanya dengan raut wajah yang ramah. Berbeda dengan menayakan kedekatan aku dengan pak harsa.

“ituu..” aku sendiri ragu mengucapkannya, dengan pelan tapi pasti aku menjelaskan untuk mencukur bulu vaginaku karena terasa risih dan menjadi sedikit bau” padahal tidak sama sekali.

“ Saya paham,” Suasana mencair saat dokter itu ketawa kecil sambil mengangguk-angguk kepalanya.

“baiklah, kita mulai “ aku langsung di ajak ke dalam ruangan satunya lagi. untuk proses mencukur dan mencukur.

Bersambung